Bab 1

Hari ini kedua kalinya Dania merasa dunianya sungguh hancur. Bagaimana tidak, setelah kepergian kedua orang tuanya dalam kecelakaan yang membuatnya harus tinggal di panti asuhan yang tak jauh dari rumahnya, kini Dia harus merasakan hancur hatinya sekali lagi.

Mas Fathur calon imamnya meninggal dalam sebuah kecelakaan tunggal, tiga hari sebelum akad nikah digelar.

Semua rencana dan persiapan sudah selesai semua, namun semuanya terpaksa harus dibatalkan begitu saja. Pernikahan impiannya kini pupus sudah.

Beberapa hari Dania mengurung diri dan sesekali menangis dikamarnya. Bu deh sekaligus pemilik panti asuhan tempat Dania tinggal selama ini, selalu mencoba menenangkan hatinya namun Dania terus menyalahkan dirinya yang tak pernah beruntung dalam kehidupannya. Bahkan sebulan sebelum pernikahan yang sudah direncanakan, Dania harus rela dipecat diperusahaan tempat Dia bekerja.

Malam ini Bu deh mencoba mengajak Dania bicara, beliau menyuruhnya untuk berjualan diruko milik Bu deh yang kemaren baru saja ditinggalkan oleh orang yang mengontrak selama ini.

Bu deh memang sengaja menyuruh Dania untuk berjualan di ruko kecil itu agar Dia bisa melupakan masalah yang dihadapinya saat ini.

Dania menangis mendengar wejangan dari Bu deh. Setelah perdebatan panjang akhirnya Dania menyetujuinya. Bu deh mengambilkan beberapa uang untuk modal Dania berjualan. Beliau menyarankan agar untuk sementara Dania berjualan jus dan salad buah, karena lebih simpel dan peralatannya sudah ada semuanya.

Air matanya terus menetes, Dania mencoba kuat didepan Bu dehnya. Namun disaat Bu deh pergi Dania menangis terisak-isak.

Tuhan mengapa Aku tak pernah beruntung

Masih adakah sisa keajaiban untukku

Aku sudah lelah, tak tahu harus bagaimana

Jiwaku terasa tak kuat lagi untuk bangkit

Kisahku telah pergi sebelum ku tulis.........

Dania menutup wajahnya dengan bantal agar suara tangisannya tak terdengar.

Malam semakin larut, Dania masih tak bisa untuk memejamkan matanya. Hingga kumandang adzan terdengar dan meluluhkan hatinya.

Dania bangun dan bergegas mengambil wudhu, Dia segera berangkat sholat di mushola di depan Panti.

Setelah sholat Dania ingin melanjutkan tidur namun tiba-tiba Bu deh datang dan menyuruhnya untuk pergi ke pasar membeli bahan-bahan untuk persiapan jualan.

Meskipun berat namun Dania tetap mengikuti wejangan dari Bu dehnya karena dia memang sudah pasrah dengan hidupnya yang tak berarti.

Perlahan Dia mulai berjalan menuju ke pasar dengan wajah yang kusut akibat terlalu banyak menangis.

Setelah selesai belanja Dania langsung menuju ke ruko milik Bu dehnya. Dia menatap langit-langit rukonya yang banyak sekali debu yang menempel.

Dania menghela nafas panjang dan mulai membersihkan seluruh ruko itu. Dania juga membeli beberapa cat tembok. Dia ingin melukis semua dinding diruko itu. Dia memang hobi sekali melukis, namun hari ini dia memutuskan untuk membersihkan rukonya saja, agar Dia sekalian bisa tinggal disana.

Malam ini pertama kalinya Dania tidur di Ruko. Beruntung beberapa anak Panti mau menemaninya tidur diruko. Setelah sebagian anak tertidur, Dania menyiapkan beberapa buah untuk dicuci dan ditata dietalase. Besok pagi adalah pembukaan kedai jus dan salad buah. Dania sudah tak sabar untuk menjalani hari esok.

Setelah adzan subuh berkumandang, Dania lekas sholat berjamaah bersama anak-anak panti karena setelah ini Bu deh akan menjemput karena mereka harus bersekolah.

Saat matahari mulai bersinar, Dania mulai membuka kedai jus dan salad buah di depan rukonya.

"Bismillahirrahmanirrahim, semoga ada rejekiku disini", ucap Dania saat mulai membuka rukonya.

Beberapa jam berlalu, Dania masih juga belum mendapatkan satupun pembeli. Dia merasa mulai bosan dengan rutinitasnya hari ini.

Dania malah semakin ingat dengan calon suaminya yang sudah meninggal. Rasa sepi membuat Air matanya menetes dengan sendirinya.

"Beli...... mbak.... beli," ucap seorang pembeli pertamanya.

Dania mulai menghapus air matanya saat seorang pembeli datang ke warungnya. Dia tersenyum manis kepada seorang pembeli. Dia mulai menyiapkan pesanan dari seorang pembeli dan mempersilahkannya untuk duduk.

Suasana hatinya mulai berubah ketika kedai jusnya mulai rame pembeli.

Hingga malam hari kedai jus dan salad buah Dania laris terjual. Dania menghela nafas panjang dan tersenyum karena buahnya sudah hampir habis hari ini.

Jam dinding sudah menunjukkan jam delapan malam, Dania memutuskan untuk menutup kedainya. Perlahan dia menutup pintu rolling door samping, namun ketika pintu mulai tertutup separuh, dia sungguh kaget ketika seorang pria tiba-tiba masuk dengan menggelindingkan tubuhnya yang penuh luka.

"Ahhhhhh...... siapa kamu," teriak Dania.

Pria itu menaruh telunjuk tangannya di mulutnya, seakan memberi tahu Dania agar dia bisa diam.

Tubuhnya terdapat banyak memar dan kepala pria itu terdapat luka sobek, hingga membuat sebagian rambutnya dipenuhi dengan darah. Dania begitu takut denganya, bahkan dibenaknya saat ini, pria itu adalah seorang maling.

Tok.... tok..... tok....

Dania terkaget ketika seseorang mengetok pintu dengan begitu keras. Pria itu menatap Dania dan memberi kode agar Dia tak membuka pintunya. Namun rasa penasaran dan takut, akhirnya membuat Dania memutuskan untuk membuka pintunya. Beberapa orang bertubuh kekar menatap Dania dengan tajam.

"Ada apa Pak, jus dan salad buah hari ini sudah habis, saya sudah tutup," ucap Dania dengan kaki gemetaran.

"Apa kamu lihat seorang pria, lewat sini, Dia sedang terluka?," jawab salah satu pria bertubuh kekar.

Sejenak Dania terdiam.

"Memang siapa dia Pak, Apa ada maling atau begal?."

Pria itu tak menjawab pertanyaan dari Dania. Dia hanya mulai memaksa masuk kedalam ruko milik Dania.

"Pak, kenapa masuk ruko saya tanpa ijin?"

"Kita harus mengecek dan memastikan dia tidak bersembunyi disini."

Beberapa Pria bertubuh kekar akhirnya masuk kedalam ruko milik Dania.

"Tolong keluar Pak, kalian tidak berhak masuk toko orang sembarang," ucap Dania

Beberapa pria itu tidak memperdulikan perkataan Dania. Tiba-tiba salah satu pria itu bertanya kepada Dania.

"Ini Apa mbak?," ucap Pria itu.

Dania terdiam sesaat, namun akhirnya Dania menjawab bahwa warna merah dilantai itu adalah bekas cat.

"Itu cat Pak, saya Akan melukis. itu catnya," ucap Dania sambil menunjuk beberapa cat tembok dan acrylic dengan banyak warna.

"Sudah cepat keluar Pak, atau saya akan berteriak maling."

Pria itu tak memperdulikan perkataan Dania hingga akhirnya Dania berteriak meminta tolong. Akhirnya beberapa pria itu pergi saat ada pedagang lain yang mulai berdatangan.

"Ada apa mbak?"

"Siapa Mereka."

Tanya beberapa pedagang lain yang mulai datang.

"Saya juga tidak tahu. Mereka mencari seseorang tapi dengan memaksa. Apa barusan ada maling atau begal Pak?"

"Tidak ada mbak, dari tadi aman-aman saja. Tapi disana tadi ada kecelakaan. Anehnya pengemudinya tidak ada."

"Yah sudah Pak, Mas, mbak, terima kasih bantuannya," ucap Dania.

Dania kembali masuk kedalam rukonya dan mulai menutup pintunya. Dia mencari Pria yang penuh luka tadi. Dia ternyata bersembunyi didalam kardus bekas tempat kulkas yang baru dibeli Dania.

"Hai..... Mas bangun, cepat pergilah. Orang-orang yang mengejar kamu sudah pergi", ucap Dania.

"Tolong Mbak, biarkan saya istirahat disini malam ini. Besok pagi saya akan pergi. Bolehkah saya meminta minum?" ucap pria itu.

"Iyah setelah itu segera pergilah, Aku tidak mau berurusan dengan seorang maling."

"Aku bukan maling Mbak, Lukaku ini bekas ditabrak mobil, mereka juga memukul kepalaku dengan keras. Tolonglah..... Aku sudah tak kuat lagi. Ini handphone dan KTP dan semua identitas saya ada disini, silahkan mbak bawa. Nanti akan saya bayar untuk biaya menginap malam ini."

"Jika begitu, akan saya antarkan saja kamu kerumah sakit, atau kantor polisi."

"Tidak mbak, mereka pasti akan mencari saya disana. Tolong Mbak, semalam saja. Polisi tidak akan percaya jika saya tidak membawa bukti yang kuat."

Sejenak Dania terdiam. setelah melihat identitas pria itu akhirnya dia memperbolehkan pria itu untuk beristirahat dirukonya.

Dania malam ini memutuskan untuk pulang ke Panti, karena dia tidak mungkin bermalam satu ruko dengan pria tak dikenalnya itu. Namun saat perjalanan menunggu angkot, Dania melihat sebuah apotek diseberang jalan.

Pria tadi terluka parah, jika aku tinggalkan, bagaimana jika dia mati disana, pasti aku yang dituduh membunuhnya. Astaga apa aku harus menolong maling, tapi jika maling mengapa warga tidak ikut mengejarnya.

Ah sudahlah Aku harus menolongnya, Dania terus bermonolog dengan dirinya. Dania akhirnya pergi menuju ke sebuah apotek dan memutuskan kembali ke rukonya.

Bab 2

Dania membeli beberapa peralatan medis dan obat-obatan. Dia kembali menuju keruko. Perlahan dia membuka pintu rolling, namun tak ada respon dari pria itu. Dia menghampiri pria itu yang mulai menggigil. Tubuhnya mulai terasa panas.

"Hai....Mas bangun, kamu masih bisa mendengarkan aku kan," ucap Dania.

Pria itu hanya mampu menatap Dania dan sedikit menganggukan kepalanya. Tubuhnya sudah terlihat lemas. Dania tak tega melihatnya.

Perlahan Dania mulai membersihkan lukanya. Dia mulai memasukkan cairan infus ke tangan pria itu. Dania melihat luka sobek dikepalanya dan mulai membersihkan lukanya.

"Ini akan sedikit sakit, kamu tahan ya Mas," ucap Dania.

Dania mulai menjahit luka dikepalanya dengan penuh hati-hati. Pria itu tersenyum dan menatap Dania.

"Jangan menatapku seperti itu. ingat yah Mas, besok kamu harus pergi dari sini. Aku tak mau ada maling di rukoku, atau ku telepon saja polisi biar mereka yang membawamu kerumah sakit," ucap Dania.

"Aku bukan maling. Jika kamu ingin telepon polisi silahkan saja, mungkin besok kamu akan mendengar berita orang meninggal dikoran. Namaku Ilham bukan maling," jawab pria itu.

Dania yang merasa kesal, akhirnya membersihkan lukanya dengan kasar.

Ahhhhhhhh....... pelan donk, teriak Ilham.

"Sudah selesai Mas Maling, istirahat saja disini. Jika nanti kamu demam, sebaiknya kamu kerumah sakit saja atau kekantor polisi menyerahkan diri. Itu kunci cadangan rukonya, Aku pulang dulu besok pagi aku akan kesini." ucap Dania sambil berjalan keluar dan mengunci rukonya dari luar.

Beruntung Dania masih bisa mendapatkan ojek online meskipun sudah hampir jam sepuluh malam. Sesampainya di panti Dania segera beristirahat dikamarnya.

Semalaman Dania tak bisa tidur nyenyak karena memikirkan Ilham, pria tak dikenalnya yang sekarang ada didalam ruko miliknya..

Hingga tak terasa kumandang adzan subuh terdengar begitu merdu. Dania segera mandi dan mengambil air wudhu. Setelah selesai sholat Dia langsung berangkat menuju ke rukonya.

Kali ini Dania berangkat dengan menggunakan sepeda, karena ini masih terlalu pagi belum ada ojek dan angkot yang lewat.

Sesampainya diruko Dania segera mengecek kondisi Ilham yang sekarang tengah tertidur lelap.

Dania menyentuh dahi Ilham untuk memastikan kondisinya. Namun Ilham sungguh kaget dan spontan memegang tangan Dania dengan begitu erat.

Ilham menatap Dania dan mulai tersenyum. Ya Allah cantik sekali wanita ini, gumam Ilham.

"Lepaskan tanganku Mas Maling," ucap Dania.

"Berapa kali Aku bilang, Aku bukan maling," jawab Mas Ilham.

"Terserah kamu lah Mas,"

"Tunggu.... apa kamu dokter atau perawat. Mengapa kamu bisa merawatku dengan baik?"

"Aku hanya pedagang jus Mas."

"Mana mungkin? kamu terlihat sangat pandai."

"Dulu sempat, masuk di kedokteran namun karena kedua orang tuaku meninggal dalam kecelakaan, akhirnya Aku memutuskan untuk berhenti kuliah karena aku tak mampu membayarnya. Ah sudahlah...... Kamu pergi saja dari sini Mas, Aku mau ke pasar."

Dania segera beranjak pergi meninggalkan Ilham.

Sepulangnya dari pasar Dania membeli beberapa makanan untuk sarapan. Dia juga mulai membuka kedainya. Ilham sudah terlihat sedikit baikan, Dania juga sudah melepaskan infus yang menempel ditangan Ilham.

Dania mulai mengecat dan melukis dibeberapa bagian rukonya. Sementara itu Ilham yang masih berada diruko terus menatap Dania. Dia merasa kagum dengan gadis cantik didepannya.

Kamu cantik, baik pula, gumam Ilham dalam hatinya.

"Kenapa kamu melihatku seperti itu Mas Maling. Sudah cepat habiskan makananmu lalu pergilah, orang yang mengejar kamu juga sudah tak ada," ucap Dania.

"Tubuhku masih belum pulih, bolehkah sehari lagi aku menginap disini. Ini Aku ada beberapa uang untuk biaya sewa," jawab Ilham.

"Aku tidak mau uang haram Mas. Ini kaos gantilah, bajumu sudah terlalu banyak terkena darah."

Ilham akhirnya memutuskan pergi dari sini. Dia mulai berpamitan kepada Dania.

"Terimakasih kamu sudah menolongku. Aku pergi Mbak.... siapa nama kamu??"

"Dania....."

Ilham mulai berjalan dengan sedikit terpincang-pincang, namun saat baru didepan pintu, Dia tiba-tiba kembali lagi masuk kedalam.

"Hai Mas..... kenapa kamu kembali lagi," teriak Dania.

Dania melihat beberapa Pria bertubuh kekar kemaren masih berkeliaran didepan rukonya.

Dia akhirnya memperbolehkan Ilham untuk beristirahat lagi dirukonya.

Beberapa pembeli sudah mulai rame membeli jus dan salad buahnya. Dania mulai kwalahan hingga membuat buah untuk salad habis.

Ilham tiba-tiba datang dan mulai menawarkan bantuan. Ilham mencoba menelpon seseorang. Tiga puluh menit berlalu, tiba-tiba ada seorang ojek online datang dan membawa beberapa buah.

Dania sungguh kaget karena dia tak merasa memesan buah-buah segar itu. Tiba-tiba Ilham berteriak sangat keras.

"Itu Aku yang pesan. Terimalah, buah kamu kan habis."

Dania tersenyum tersipu malu.

Alhamdulillah.... lumayan semoga belinya tidak pakai uang haram, ini bisa untuk stok besok, gumam Dania.

Sudah dua hari buka, kedai jus dan salad buah Dania memang selalu laris. Hari ini Dania berjualan hanya sampai sore karena hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Dania masih membuka kedainya karena dia takut jika harus berduaan dengan Ilham.

Ditengah lamunannya tiba-tiba beberapa polisi datang.

"Sore Mbak, Apa ada Mas Ilham disini," ucap Pak Polisi sambil menunjukan foto Ilham.

Dania terperangah melihat beberapa polisi didepannya. Hingga Pak polisi mengulang pertanyaannya.

"Saya tidak tahu apa-apa Pak, saya hanya menolongnya. Dia ada didalam. Silahkan bapak tangkap saja Dia," ucap Dania dengan tubuh yang mulai gemetar.

Beberapa Polisi itu tersenyum dan mulai masuk kedalam ruko menghampiri Ilham.

Ilham akhirnya keluar, Pak Polisi memeluknya dengan erat. Dania merasa mulai bingung dengan para pria didepannya.

"Mbak, terima kasih sudah menolong keponakan saya. Dia memang sedang berada dalam masalah keluarga tapi dia bukan buronan. Sebaiknya kamu disini dulu, hingga Om berhasil menemukan bukti kejahatan mereka. Bolehkan Mbak?," ucap Pak Polisi.

Dania tersenyum malu karena sudah menganggap Ilham seorang maling.

"Tapi Pak, saya takut jika warga tahu saya tinggal dengan seorang laki-laki yang bukan muhrimnya," ucap Dania.

"Jika begitu, besok pagi Om akan carikan kamu tempat tinggal. Bolehkan Nak, jika Ilham disini semalam saja karena setelah ini saya ada tugas lagi."

Dania tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia tak berani menolak keinginan Pak Polisi.

Setelah Pak Polisi Pulang Dania kembali duduk menatap hujan yang turun.

Perutnya mulai keroncongan karena seharian dia lupa makan, kedainya begitu ramai pembeli. Dania masih menikmati derasnya hujan yang turun, suhu udara yang dingin menyejukkan hatinya. Hujan kali ini membuat Dania tak bisa pulang, karena jalanan juga sudah menjadi sepi.

"Dania..... kenapa kamu tidak masuk saja, diluar begitu dingin," teriak Ilham.

"Tidak, Aku akan menunggu hingga hujan Redah," jawab Dania.

"Masuklah biar Aku saja yang diluar."

Ilham berjalan terpincang-pincang menghampiri Dania. Dia menyuruhnya untuk masuk namun Dania tetap menolaknya.

"Istirahatlah dikamar, dan kunci pintunya jika kamu takut denganku. Aku yang akan menutup pintu rukonya."

Dania menatap Ilham dengan sangat tajam, Dia memang sebal dengan Ilham karena seharusnya dia ikut saja pulang dengan Om nya.

Dania akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam kamar namun tiba-tiba langkahnya terhenti.

"Mas, minumlah obat yang ku belikan kemarin agar lukamu lekas kering," ucap Dania.

Ilham Tersenyum dan menganggukan kepalanya.

Kamu baik, sudah mau menolongku. beruntung sekali jika bisa memiliki kamu, terima kasih Dania, gumam Ilham dalam hatinya.

Hujan masih turun begitu derasnya, tak lama Ilham mulai menutup rukonya. Sudah dua hari ini Dia beristirahat dengan beralaskan tikar.

Ilham tersenyum sambil menatap langit-langit ruko yang masih penuh dengan Debu.

Ya Allah ini pertama kalinya, Aku tidur hanya dengan beralaskan tikar, namun Aku tetap merasa bahagia. Rasanya enggan sekali Aku pergi dari ruko ini. Jika orang suruhan Mama tiriku tak mengejar ku, mungkin aku tak akan pernah bertemu dengan Dania, gumam Ilham dalam hatinya.

Ilham mulai memejamkan matanya dengan perasaan bahagia, meskipun besok pagi Dia harus segera pergi dari ruko ini.

Sementara itu Dania yang sedang berada dikamarnya, masih sibuk menatap identitas milik Ilham. Dia tak bisa tidur karena ada Ilham yang berada satu atap dengannya.

Dania mulai mencari informasi mengenai Ilham dimedsos. Setelah mencari beberapa nama Ilham, Dania akhirnya menemukan Ilham yang saat ini tinggal bersamanya.

Dania melihat profilnya namun Dia sedikit tak percaya karena Ilham yang berada dimedsos lebih tampan dan begitu banyak pria tampan dan wanita cantik yang berada didekatnya. Dia juga sering memamerkan fotonya disebuah kantor.

Siapa sebenarnya kamu Mas?, gumam Dania.

Bab 3

Setelah sholat subuh Dania segera berangkat kepasar, sementara Ilham sedang tertidur pulas. Dania berjalan keluar dan membuka penuh pintu rollingnya namun dia sungguh kaget ketika sudah ada beberapa orang diluar.

Beberapa warga mencoba mengusir Dania dan membuka penuh pintu rollingnya. Namun sebagian lainnya menunggu penjelasan darinya. Dania masih bertanya-tanya dengan perlakuan Beberapa warga yang tiba-tiba datang ke ruko miliknya.

Beberapa warga masuk dan akhirnya menemukan Mas Ilham. Mereka akhirnya membawa Mas Ilham keluar.

"Sudah nikahkan saja mereka," celetuk salah satu warga.

"Mbak, Mas ini siapa?" tanya Pak RT

"Saya juga tidak tahu Pak, saya hanya menolongnya karena kemaren ditubuhnya penuh luka," jawab Dania.

"Kan bisa dibawa kerumah sakit, daripada harus berduaan dengan pria yang bukan muhrimnya."

"Sudah Pak RT, nikahkan saja. Itu hanya alasan saja."

"Tidak..... saya tidak mau menikah dengan Dia." ucap Dania sambil menangis.

"Kita tidak berbuat zina disini Pak, Dania menolong saya," Ucap Ilham.

"Sudah Pak nikahkan saja daripada meresahkan warga disini."

"Sudahlah Pak, Dania tidak salah. Saya yang salah. Saya bersedia menikah dengan Dania."

"Hai Mas, kamu sudah gila yah. Tidak saya tidak mau Pak."

Warga dan Pak RT akhirnya tetap membawa Dania ke Masjid untuk bertemu dengan Pak Haji, imam Masjid. Warga benar-benar akan menikahkan mereka.

Dania sudah menjelaskan kebenaran didepan Pak Haji namun Mas Ilham yang menyetujui pernikahan ini akhirnya Pak Haji dan warga tetap menikahkan mereka. Dania masih tak terima, Dia mencoba menelpon Bu dehnya agar beliau bisa membantunya. Tak lama Bu deh datang, Dania mencoba menjelaskan kesalahpahaman ini kepada Bu dehnya. Bu deh percaya dengan Dania namun warga yang kesal menuntut mereka untuk dinikahkan.

"Sudahlah.... Aku akan menikahimu. Anggaplah ini hanya berpura-pura. Kita kan hanya menikah secara agama jadi kapanpun kita bisa berpisah," Ucap Mas Ilham didepan Dania dan Bu dehnya.

"Astaghfirullah sudah gila kamu Mas, menyesal aku menolongmu," jawab Dania.

Bu deh, akhirnya mengiyahkan pendapat Mas Ilham. Kini Ilham dan Dania duduk bersebelahan. Dan Pak Haji sudah duduk didepan mereka dan siap menikahkan mereka.

Pak Haji sebagai wali Dania karena dia sudah yatim piatu. Sementara Pak Dehnya juga sudah meninggal dunia.

Ilham terlihat menghafal nama panjang Dania dan nama almarhum ayahnya. Setelah sepuluh menit berlatih, kini Ilham sudah siap.

Pak haji mulai membaca ijab Qabul nya. sementara wajah Dania tak terlihat begitu bahagia dengan pernikahan paksa ini. Air matanya menetes dengan sendirinya.

"Saya terima nikahnya Dania Ramadhani binti Bapak Muzaki dengan Mas kawin uang Satu juta rupiah dibayar tunai," ucap Ilham dengan lantang.

"Bagaimana Sah.....? sah......, amin."

Pak Haji dan beberapa warga lainnya mulai membacakan doa. Setelah akad nikah selesai, Pak Haji mulai memberikan beberapa wejangan kepada mempelai berdua agar mereka segera mengesahkan pernikahannya di KUA.

Dania masih tak percaya dengan pernikahan dadakan yang harus dia lakukan.

Astaghfirullah kenapa aku bisa menikah dengan cara seperti ini, gumam Dania.

Air matanya menetes, dia sudah tak sanggup menahan air matanya lagi. Ilham mulai menc*** kening Dania. Ilham mengabadikan pernikahan ini dengan handphonenya.

Beberapa saat setelah acara selesai Pak Polisi datang. Beliau mulai mempertanyakan kejadian ini.

Pak RT menjelaskan kejadian sebenarnya namun Om Heru mulai emosi karena memang Ilham tinggal diruko atas permintaannya.

Ilham mulai meredam emosi Om Heru. Beliau akhirnya bisa menerima kenyataan ini. Dania berlari kembali keruko, Ilham yang mengetahui Dania berlari akhirnya mulai mengejarnya. Sementara itu Bu deh dan Om Heru sedang mengobrol bersama. Mereka sedang membahas pernikahan ini dan membuat beberapa kesepakatan yang akan disampaikan kepada kedua keponakannya.

Dania masuk kedalam kamar dan menguncinya dari dalam.

"Tok... tok.... Dania keluarlah, Maafkan Aku. Jika kamu tidak menerima pernikahan ini tidak apa-apa, kita kan hanya menikah secara agama, tidak ada surat yang mengikat kita", ucap Ilham.

"Tapi Mas, secara agama pernikahan kita sah sebagai suami istri. Kita baru kenal dan akuoun tak tahu siapa kamu. Entah kamu maling, buronan atau pengedar," jawab Dania sambil menangis.

"Percayalah Aku bukan laki-laki seperti itu. Bukalah, akan aku jelaskan siapa aku kepadamu."

"Pergilah Mas, biarkan aku sendirian."

Tak lama Om Heru dan Bu deh datang menghampiri mereka. Bu deh meminta kepada Ilham agar membiarkan Dania sendiri sementara. Om Heru juga mulai mengajak Ilham untuk ikut bersamanya. Ilham sempat menolaknya, Dia tidak mau meninggalkan Dania sendirian. Namun setelah Bu deh menjelaskannya, akhirnya Ilham menyetujuinya.

Hari ini Ilham benar-benar keluar dari ruko Dania. Om Heru membawa Ilham pulang kerumahnya. Sementara Bu Deh mencoba menenangkan Dania. Sepanjang perjalanan Ilham masih memikirkan Dania. Pertemuan beberapa hari saja mampu merubah kehidupannya.

"Sudahlah Ham, kalian kan hanya menikah secara agama, tidak resmi dimata hukum. Jika kamu tinggalkan wanita itu, tak akan ada yang menuntut," Ucap Om Heru.

"Tapi Om, dihadapan Allah, Dania itu tanggung jawabku. Dia sudah menolongku, jika Dania tak merawatku mungkin Aku sudah mati," jawab Ilham.

"Apa kamu mencintai wanita itu Ham?"

Ilham terdiam dia tak tahu dengan hatinya saat ini.

Om Heru mengajak Ilham untuk tinggal dirumahnya agar Ilham bisa tetap aman. Ilham sempat menolaknya namun Om Heru menyuruh tinggal disana hingga sampai keputusan sidang ahli waris selesai.

Sesampainya dirumah Om Heru, Ilham langsung beristirahat dikamar. Pikirannya tak karuan, tubuhnya mulai terasa meriang. Dia merasa sangat bersalah dengan Dania. Dia mencoba tidur namun sangat susah sekali.

Kring.... kring..... kring.....

Dering handphone Ilham berbunyi begitu keras. Dia melihatnya, ternyata Ibu tiri Ilham yang menghubunginya.

"Assalamualaikum Nak, kamu dimana?" ucap Mama tirinya.

"Waalaikumsalam, tidak usah basa-basi Ma. Aku sudah tahu semuanya. Mama kan yang menyuruh orang untuk mencelakai Aku. Ingat Ma..... Mama tidak akan mendapatkan sedikitpun harta warisan dari Papaku."

"Ham, kamu ngomong apa Nak. Mama bukan orang yang sejahat itu."

"Sudahlah Ma, Aku sudah tahu semuanya. Aku mendengar semuanya dari orang suruhan Mama. Mas Indra dan Mama tidak akan mendapatkan apa-apa, Dia hanya saudara tiriku."

Ilham menghela nafas panjang dan menutup teleponnya. Dia membaringkan tubuhnya kembali diatas kasur. Namun tak lama dering handphonenya berbunyi lagi. Ilham langsung mengangkatnya dengan suara lantang.

"Sudahlah Ma, jangan ganggu aku lagi," ucap Ilham.

"Sayang, kamu dimana. Sudah beberapa hari Aku mencari kamu dirumah tapi tidak ada," ucap Viona mantan pacar Ilham.

"Sudah gila kamu, kemaren kamu putusin Aku tanpa sebab. sekarang bilang sayang."

"Maafkan Aku Mas, Aku menyesal. Kamu mau kan balikan sama aku?"

"Rasaku sudah mati, maaf Vi aku ingin istirahat dulu."

Ilham menutup teleponnya dan mencoba untuk beristirahat. Dia menatap langit-langit kamarnya dan mulai teringat saat dia pertama kali menginap diruko Dania yang masih penuh debu.

Ilham mulai tersenyum. Tidak, Aku tidak mungkin mencintai wanita secepat ini, gumam Ilham.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED