Bab 1

"Marla!" Teriak seorang gadis dengan surai panjang berlari tergesa menghampiri gadis bersurai gelombang. Gadis itu sedang asik bermain ayunan di taman belakang.

"Ada apa, Erika?" gadis itu berkata dengan kedua tangannya menggerakan ayunan. Tetap tidak mengubah posisinya, terus bermain dengan ayunan kesayangan.

"Ibu Anya menyuruh semua untuk berkumpul di aula. Gosip yang beredar, mereka salah satu keluarga terpandang dan sedang mencari seorang pelayan. Ayo, ikut. Ini kesempatan kita ...." Erika menarik lengan gadis itu yang bergeming dengan reaksi berlebihan gadis itu.

"Nggak akan menarik buatku. Kamu saja yang pergi. Aku akan tetap disini. Menghirup udara segar pagi ini dengan aroma mawar dan gardenia yang paling kusukai." Marla tetap menggeleng dan tidak menggerakkan kakinya untuk turun dari ayunan.

"Ayolah, Marla, aku tahu, kamu memang tak menginginkan ini, tapi setidaknya kamu temani aku. Aku sudah sangat bosan terkurung disini. Mungkin saja, hari ini adalah hari keberuntunganku." Erika sedikit menunjukan wajah menyedihkan, gadis itu tahu, teman kecil terbaiknya itu tidak akan pernah sanggup menolak wajahnya. Itu adalah senjata paling ampuh untuk menghadapi teman kecilnya itu.

"Hoh, astaga, Erika. Apa itu? Stop! Jangan tunjukan wajah seperti itu. Kamu yakin nggak sedang merayuku? Wajah menyebalkanmu itu benar-benar deh ...."

Habis sudah Marla kali ini, gadis itu tidak dapat berkutik lagi. Wajah iba dari teman kecilnya itu sudah membuat frustasi.

"Ayolah, aku mohon, Marla, ini 'kan nggak ada ruginya juga buat kamu ...." Erika masih dengan pendiriannya.

"Erika, Erika, seorang pelayan? Heem, sudahlah. Jangan membujuk lagi. Ini nggak akan berhasil. Pergilah. Kamu tahu sendiri, aku nggak perlu izin itu untuk keluar. Aku punya kartu akses bebas kemanapun aku pergi ...." Ya ... Gadis itu tidak akan terkecoh oleh godaan sang teman kecil. Dia bahkan tanpa ragu menunjukkan sederet gigi putihnya.

"Oke. Aku tahu. Kamu memang yang terbaik. Paling terdepan. Paling beruntung. Paling-paling di antara kami. Kamu punya keahlian melukis dan bermain piano. Ditambah lagi, ibu Anya menyayangimu seperti anak sendiri. Paket komplit. Sedangkan aku? Hem, apapun aku nggak bisa. Nggak punya keahlian sedikitpun!"

Marla hanya bisa menghela nafas panjang. Saat mendengar si cerewet Erika menggunakan semua alibi, gadis itu sudah tidak bisa berkata apapun.

"Dasar mulut cerewet. Bisa nggak sih, kamu nggak menggunakan alasan itu. Aku juga nggak tahu kenapa aku punya dua keahlian itu. Kamu kan tahu, sejak kecil aku jarang berbicara dan sering sekali menghindari kalian." Marla tidak ingin mengalah, meskipun pada akhirnya gadis itu akan memenangkan pertarungan mulut kali ini.

"Makanya temani aku, oke? Please! Kali ini saja, aku janji. Begini saja ... jatah cemilanku saat makan siang nanti akan menjadi milikmu. Bagaimana? Ayolah, temani aku, Marla," bujuk Erika tidak akan mengalah sampai disitu saja.

"Hah, baiklah cerewet, aku temani. Jangan gunakan sogokan kecil seperti itu. Nggak mempan tahu. Tapi, aku nggak mau ikut-ikutan seperti yang lain, oke? Aku akan bersembunyi sampai nggak terlihat, deal?" Erika mengangguk cepat. Rasanya dia sudah tidak tahan untuk melompat kegirangan.

"Yes. Kamu memang teman paling baik, Marla. Ayo, pergi!" Erika mengaitkan tangannya dan membawa Marla ke aula.

***

Di ruangan ibu Anya seorang wanita sedang berbicara dengan serius.

"Sepertinya aku tidak perlu menjelaskannya dengan detail, Anya. Nyonya hanya menginginkan gadis yang pernah datang pada pesta ulang tahun keluarga Christian bulan lalu. Dia, masih tinggal disini kan?" Sejak kedatangan wanita paruh baya itu, Anya tampak gelisah. Tidak biasanya wanita paruh baya itu akan secara khusus mendatangi tempatnya jika memang tidak ada suatu hal yang mendesak. Dan, apapun keinginannya, tetap harus terpenuhi.

Wanita itu berpenampilan sederhana, namun itu sama sekali tidak mengurangi sikap anggun dan tegasnya. Anya tidak memberikan jawaban apapun. Wanita itu hanya beranjak dari duduknya. Mencari dalam rak satu buah buku. Tepatnya satu album foto yang berisi semua penghuni di dalam kediamannya.

Lalu, meski sedikit ragu, Anya membawa album foto itu ke hadapan wanita tadi. Membukanya, mencarikan sesaat dan menunjuk salah satu foto yang terpasang di dalamnya.

"Apa benar, nyonya menginginkannya?" tidak ada jawaban lain selain anggukan cepat dari wanita itu. Satu helaan nafas lembut penuh kegelisahan mungkin saja terdengar oleh wanita itu.

"Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, Anya, nyonya tidak akan melukainya!"

"Saya mengerti, kalau begitu, ada baiknya anda melihat anak yang lainnya. Mungkin saja, masih ada anak lain yang memenuhi kriteria nyonya!" bujuk Anya. Sambil mengajak wanita tadi keluar dari ruangan dan memperlihatkan anak-anak lainnya.

"Nyonya tidak menginginkan yang lainnya, hanya gadis itu. Dimana dia sekarang?" Anya membawa wanita itu ke aula. Semua anak tampak sudah berkumpul disana.

"Aku akan langsung membawanya. Aku harap, kau bisa segera mempersiapkan. Bila perlu, tidak perlu membawa apapun, disana dia tidak akan kekurangan apapun!" tegasnya tanpa memperdulikan saat Anya mengajaknya berkeliling untuk melihat anak lainnya.

"Anda yakin tidak ingin melihat yang lainnya Madam Ester? Anak kami, mungkin bisa sekali lagi Madam lihat," sepertinya Anya sangat berusaha keras membujuk Ester. Ester tidak menjawab. Tetap berkeliling dan mencari keberadaan sosok yang dicarinya.

Erika menarik Marla diam-diam di barisan paling belakang. Marla ingin sekali bersembunyi, tapi gandengan tangan dari Erika membuatnya mau tidak mau terseret dalam barisan. Ester masih terus berkeliling. Wajah Anya semakin gelisah saat mendekati barisan paling belakang. Ingin sekali Anya menarik lengan Ester agar kembali, namun sayangnya langkah kaki Ester lebih cepat dalam meneliti satu demi satu anak dalam barisan.

"Marla, lihat, dia kemari. Huwaa, semoga saja aku yang terpilih," bisik Erika antusias dan terdengar tidak sabar. Tangannya terus menyenggol sikut gadis itu yang tidak perduli sama sekali dengan tingkah heboh teman kecilnya.

"Um, iya, iya. Semoga kamu yang terpilih. Kamu kan tahu, alasanku tetap berada disini!" sahut Marla, suara seperti bergumam dan hampir tidak terdengar.

Kini Ester tepat berdiri di hadapan dua gadis itu. Erika makin gugup dan jantungnya sudah berdebar tidak karuan. Tangannya dingin saat bersentuhan dengan Marla.

"Kau!" ucap Ester semakin membuat Erika gugup.

"Sa-saya, Nyonya?" sahut Erika, raut wajahnya terlihat sangat bahagia.

"O-oo," Ester menggelengkan kepalanya, "Bukan kau, tapi, kau!" sekali lagi Ester berkata, namun kali ini Ester menunjuk dengan jari telunjuknya tepat ke arah Marla.

"Ahh, ba-baiklah," sorot kecewa dari Erika terlihat jelas, namun itu hanya sesaat, Erika melupakan itu saat teman kecilnya yang terpilih.

"Ma-Marla, hei, Marla!" suara Erika setengah berbisik sambil menyenggol lengan gadis di sebelahnya. Marla, tidak peduli. Dia merasa ada di dalam dunianya sendiri. Tidak sadar dengan kehadiran Ester dihadapannya.

Anya kehabisan kata. Hanya bisa menghela nafas panjang sebelum tangannya menarik tangan gadis itu.

"Aw!" pekik gadis bersurai gelombang lembut itu saat tangannya tiba-tiba ditarik paksa keluar barisan.

"Bu, ada apa? Sakit sekali!"

"Bodoh! Kenapa kau ada disana?" hardik Anya setengah berbisik.

Ester mengikutinya dari belakang.

"Lho? Memangnya ada apa, Bu?" Sekali lagi Marla yang sedang bingung mengajukan pertanyaan.

"Seperti yang aku bilang tadi, Anya. Bantulah dia bersiap-siap atau aku akan membawanya sekarang?" Ester berkata dengan nada cukup penuh penekanan. Membuat Marla memutar otaknya. Mengingat kembali ucapan Erika beberapa saat lalu dan akhirnya ....

"Nggak, Bu? Ini nggak benar kan, Bu? Apa maksud ucapannya?" Wajah pias sudah tergambar dalam wajah gadis bersurai gelombang tadi.

Anya tidak menjawab apapun. Perkataan Ester sama halnya dengan perintah nyonya. Anya tidak dapat menolak atau membuat permohonan pengganti. Marla sepenuhnya sadar dengan situasinya. Wanita tadi adalah orang yang diceritakan Erika. Dia yang sedang mencari seorang pelayan dan Marla-lah yang terpilih.

"En-nggak, Bu, aku nggak mau pergi. Aku nggak menginginkan tempat ini, Bu. Aku mau tetap disini, Bu. Aku mohon, jangan aku yang pergi, Bu," pinta gadis bersurai gelombang tadi, kali ini dia sudah benar-benar memohon. Cairan bening itu mulai membasahi wajah cantiknya.

"Sayang maafkan Ibu, Ibu pun tidak menginginkan hal ini. Hanya saja, Ibu tidak bisa menolaknya. Ini permintaan langsung dari nyonya, Sayang. Ibu harap kamu mengerti!"

"Nggak, Bu. Aku mohon, a-atau, Erika saja, Bu. Biarkan Erika yang pergi. Aku benar-benar nggak mau pergi dari sini, Bu!" Tangis gadis bersurai gelombang itu pecah, baginya, ini adalah hal terburuk yang dialaminya.

"Maafkan Ibu, sayang, Ibu tidak bisa!" Anya mencoba menenangkan gadis itu, mencoba menyakinkan semua akan baik-baik saja.

"Nggak, Bu. Erika saja, Bu. Dia benar-benar menginginkan ini. Aku mohon, Bu. Biarkan Erika saja yang pergi, Bu!"

"Maafkan saya, Nyonya Anya, Madam Ester sudah menunggu, mohon segera!" Suara seorang laki-laki memecah pembicaraan mereka.

"Ba-baik, mohon ditunggu sebentar saja!" Anya berbalik dan memohon, "Ayo, Marla, Ibu mohon, jangan membantah lagi!" Anya setengah menyeret paksa tubuh gadis itu karena dia tetap menolak pergi.

"Ibu ... tolong, Bu ... aku nggak mau pergi, Bu. Aku mohon, Bu," tangis Marla mengiba. Gadis bersurai gelombang tadi bahkan rela bersujud. Tetapi, saat ini, ibu yang selalu saja bersikap baik padanya mengabaikan. Saat Anya sudah berada di kamar gadis itu. Dia mengeluarkan tas dan memasukan baju gadis itu dengan cepat.

Erika yang tidak tega ikut masuk ke kamar. Itu adalah kamar mereka berdua.

"Bu, biarkan Erika saja yang pergi, Bu. Jangan Marla. Ibu kan tahu, Marla tidak menginginkan ini. Marla tetap harus disini, Bu!" Gadis yang bernama Erika itu ikut bersujud di samping tubuh Marla. Menyaksikan teman terbaiknya menangis bukan hal yang menyenangkan. Selama ini, Marla jarang sekali menangis, bahkan hampir tidak pernah menangis meski anak lain dulu merundungnya.

"Diam, Erika! Kamu tidak berhak ikut campur. Kalau kamu ingin tetap bersujud. Bersujudlah sampai makan malam. Kamu tidak perlu makan siang. Ini adalah hukuman karena kamu mencoba membantah, Ibu!"

Marla hampir tidak percaya. Ibunya yang terkenal baik hati sampai tega menghukum. Itu bukan kebiasaannya, ibu tidak akan pernah menghukum anaknya, meskipun anaknya melakukan kesalahan yang besar. Ibu pasti akan memaafkan dan memberikan hukuman yang tidak akan membuat orang lain terlukai.

"Ayo, Marla. Jangan biarkan Madam menunggumu. Ini tidak akan baik untukmu!"

Marla kembali diseret paksa sampai depan gerbang. Dilihatnya, wanita yang bernama Ester tadi menunggunya tak sabar. Saat melihat gadis itu diseret oleh Anya, Ester segera memerintahkan salah seorang pengawal untuk menjemputnya.

"Tu-tunggu dulu, aku mohon, izinkan aku memeluk Ibuku, aku mohon!" pinta gadis bersurai gelombang tadi. Tangisannya tetap tidak berhenti saat dia memeluk Ibu yang selama ini sudah membesarkannya sebagai anak sendiri.

"Maafkan Ibu, sayang, maafkan, Ibu ...."

Lirih perkataan Anya menyayat kalbu Marla. Pertama kalinya dia berpisah dengan orang yang amat berarti. Dia, wanita itu, wanita yang sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang, kini, gadis itu harus melepaskannya.

"Aku nggak mau pergi, Bu, aku mohon ...."

Tangisannya sudah tak bisa terbendung. Ester hanya bisa memandangi sambil menyuruh dua orang pengawal menyeret paksa Marla yang tetap menolak masuk mobil. Meski berat, Anya tetap harus melepaskan gadis itu pergi.

***

Bab 2

Gadis bersurai gelombang itu hanya bisa memandangi jalan yang tidak dikenalnya. Hingga mobil tadi memasuki sebuah gerbang dengan pagar yang menjulang tinggi. Perlahan mobil tadi mulai memasuki sebuah pekarangan yang sangat luas.

Deru nafasnya mungkin saja terdengar jelas di telinga wanita disampingnya. Selama perjalanan wanita itu tidak mengatakan apapun. Seperti robot yang tetap fokus dengan perjalannya.

"Bagaimana ini? Belum apa-apa aku sudah merindukan ibu dan Erika, tanpa mereka di sisiku, apa aku akan sanggup bertahan?"

Gadis itu mulai berdiskusi dengan hatinya. Netranya mulai memindai setiap sudut saat mobil itu berhenti. Dari awal mobil itu memasuki gerbang, pertama kali yang gadis itu melihat adalah rimbunan bunga yang seolah disusun dengan sangat cantik dan rapi menyerupai taman kecil di tengahnya mengalir dengan indah air jernih mengalir bergelombang seirama. Semakin menambah indah halaman depan kediaman mereka.

Ketika mobil berhenti, netra gadis bersurai gelombang itu kembali disuguhi dengan pemandangan yang membuatnya makin gugup. Ini bukan pertama kalinya, dia disuguhi hal semacam itu, tapi saat ini berbeda dari biasanya dirinya yang menghadiri satu undangan.

Beberapa orang berbadan tegap dan berjas hitam menyambut kedatangan mereka. Tidak ada senyuman dari mereka. Membuat kesan seram dan muram semakin terasa. Beberapa kali Marla menelan salivanya sendiri. Ini kali pertama dia keluar secara paksa. Biasanya dia hanya akan diizinkan keluar untuk acara undangan, sekedarnya berjalan-jalan atau menemani Erika berbelanja ke pasar saat kebutuhan dapur mereka berkurang.

"Rumah sebesar ini? Bagaimana aku membersihkannya? Lalu, untuk apa mereka mencari pelayan tambahan? Toh aku lihat, mereka nggak kekurangan pelayan sama sekali. Ya ampun, aku nggak habis pikir. Belum apa-apa, aku sudah nggak betah. Aku nggak mau disini."

Ingin sekali gadis itu melarikan diri. Ketika hatinya terus bergemuruh tanpa henti. Tapi, saat melihat ke sekeliling, dia hanya ditinggalkan dengan beberapa pengawal yang kaku tadi, itu saja sudah membuat nyali gadis itu menciut. Marla diminta menunggu oleh wanita tadi. Gadis itu berdiri di tengah ruangan. Sekelilingnya terlihat beberapa lukisan mewah, guci, lampu kristal yang menggantung dengan indah dan lantai yang diinjaknya terbuat dari marmer.

Meski hidup Marla bersama ibunya tidak semewah itu. Keadaan seperti itu, gadis itu hanya bisa mengagumi saja tanpa banyak berbicara. Terdengar suara langkah kaki dari tangga. Marla memberanikan diri mengangkat wajahnya. Menoleh ke arah suara. Wanita yang bersamanya tadi, kini sedang menggandeng turun seorang wanita tua. Rambutnya bahkan sudah hampir memutih.

Saat gadis itu bersitatap, desiran aneh merasuk sukmanya. Wanita tua itu memicing tajam kearah Marla tanpa berkedip. Dari ujung rambut hingga kaki gadis itu ditatapnya tanpa berkata. Tubuh Marla meremang. Seperti melihat wanita tua dalam film bergenre horror. Menakutkan dan mencekam.

Tak mampu berkata, sudah terintimidasi dan membuat gadis itu menundukkan kepalanya.

"Ya ampun, seram banget sih. wajahnya saja sudah membuatku takut. Seperti akan menelanku hidup-hidup." Lagi batinnya berteriak.

"Kapan semua suratnya kuterima?"

"Paling lambat, lusa, Nyonya Margaret," jawab Ester.

"Owh, ternyata dia yang akan menjadi majikanku. Tampangnya benar-benar menyeramkan." Kata Marla lagi berbisik kembali telinganya memindai diam-diam pembicaraan mereka.

"Jika bisa, aku menginginkannya lebih cepat. Semua aku serahkan padamu. Kau beritahu aturan di keluarga ini dan jangan sampai aku tahu, dia tidak mengerti!"

"Baik, Nyonya Margareth. Akan saya laksanakan!" Setelah mendengarkan perintah yang membuat Marla semakin bingung. Wanita tua tadi yang dipanggil nyonya Margaret oleh Ester meninggalkan mereka dengan bantuan pelayan lain.

"Ayo, ikuti aku!" gadis itu masih tertegun sesaat.

"Kau tidak tuli kan? Aku paling tidak suka mengulangi perkataan," ucap Madam Ester ketus.

"Ma-maaf!" Gadis itu segera berlari mengekor dari belakang saat Ester menaiki tangga yang sama dengan nyonya Margareth tadi. Marla melewati beberapa kamar. Terasa sunyi dan senyap seperti rumah tidak berpenghuni saat gadis itu melewati kamar-kamar tersebut.

Rumah besar, bergaya eropa kuno, persis seperti gadis itu sedang berada dalam rumah hantu. Gadis itu merasa seperti terjebak di dalamnya dan kemungkinan terbesar gadis itu akan mati di dalamnya. Begitulah perkiraan yang gadis itu bayangkan.

Tepat setelah melewati dua kamar berukuran besar. Ester berhenti dan membukakan pintu.

"Ini adalah kamarmu. Maaf, aku belum memperkenalkan secara resmi padamu. Namaku, Ester. Semua pelayan dan pengawal disini memanggilku dengan sebutan Madam Ester, kau juga bisa memanggilku dengan sebutan yang sama!"

"Ba-baik, Madam Ester. Lalu apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Apa aku langsung bekerja?" Marla berkata membuat tatapan Ester memicing tajam padanya.

"Aku akan menyuruh seseorang mengantarkan makanan untukmu karena jam makan siang sudah lewat. Setelah itu, kau bisa beristirahat terlebih dahulu sebelum jam makan malam. Makan malam akan dimulai setiap pukul tujuh. Aku berharap kau sudah mempersiapkan diri dan tidak membuat kesalahan. Aku akan kembali sebelum pukul tujuh nanti. Silahkan beristirahat lebih dulu." Meski perkataannya jelas terdengar di telinga gadis itu, tetap saja Marla bingung. Belum sempat gadis itu menjawab, Ester sudah menghilang dari pandangannya.

"Haiss, Madam Ester benar-benar kaku. Persis seperti robot. Aku belum menjawab, dia sudah pergi. Orang yang aneh." Gadis itu bergerutu kembali. Marla melangkahkan kakinya memasuki kamar yang sudah dibukakan oleh madam Ester.

"Astaga ... i-ini? Serius kamarku? Apa mereka, ah madam Ester nggak salah memberikanku kamar?" Gadis bersurai gelombang itu membekap mulutnya. Takjub dengan apa yang dilihatnya.

Kamar bernuansa lembut dan didominasi dengan warna serba putih. Kamar itu lebih mirip seperti kamar seorang putri. Marla berjalan mendekat, namun saat beberapa langkah dan ingin menyentuh, suara ketukan pintu membuatnya menoleh.

"Maaf Nona, madam Ester menyuruhku mengantarkan ini. Jika, Nona sudah selesai dengan semua ini, Nona bisa meletakan kereta ini diluar kamar. Saya pergi dulu!" seorang pelayan masuk setelah dia mengetuk pintu.

Setelah memberitahu dan meletakan kereta dorong. Pandangannya jelas langsung tertuju pada kereta itu. Tanpa gadis itu sadari, perutnya makin bergenderang dengan kencang.

"Aku lupa, sarapan tadi aku hanya makan sedikit. Makan siang pun terlewatkan begitu saja. Semua karena masalah ini yang datang tiba-tiba. Baiklah, Marla, isi perutmu dulu, setelah ini baru dipikirkan lagi." Sesaat semuanya teralihkan. Marla cukup kelaparan. Energinya tadi lumayan terkuras karena menangis dan ada drama seperti dalam televisi yang main tarik paksa.

"Hah, aku masih berharap ini bukan nyata, hanya mimpiku saja. Aku berharap, aku masih bisa kembali ke tempat dimana ibuku berada. Semangat, Marla. Kumpulkan energi lalu pikirkan lagi nanti caranya!" Marla menutup pintu kamarnya. Mendorong kereta makan ke sudut ruangan dengan mini sofa yang tak berjauhan dari ranjang putrinya.

Gadis bersurai gelombang itu menghabiskan dengan cepat semua makanannya. Marla menyentuh bantal dan guling berenda dengan ranjangnya yang berkelambu putih. Memang masih sangat sulit dipercaya semua kejadian yang menimpanya hari ini. Pikirannya mendadak kosong. Tak sabar gadis itu setelah menyentuhnya, dia perlahan duduk dan tanpa sadar, tubuhnya yang terasa sangat lelah membuatnya terbaring. Terlelap dalam buaian mimpi.

Bab 3

Samar terdengar suara ketukan pintu. Gadis bersurai gelombang itu menggeliat, telinganya mulai mencari suara. Marla melompat turun dari ranjang dan menghampiri pintu. Diambang pintu, terlihat Ester sudah berdiri dan tatapannya langsung beralih pada gadis bersurai gelombang itu.

"Apa kau melupakan perkataanku tadi siang?" tepat perkataan tadi langsung menusuk jantung Marla.

"Ma-maafkan aku, Madam Ester, a-ku, tahu-tahu ketiduran dan terjadi begitu saja. Biasanya ...."

"Lima belas menit, paling lama waktumu untuk bersiap. Aku sudah bilang jangan lakukan kesalahan apapun. Tidak akan ada pengecualian khusus, kalau salah kau pasti tetap akan dihukum!"

Gluk! Rasanya gadis itu sudah sekali menelan salivanya. Ucapan bukan sekedar ucapan saja, tapi lebih dititik beratkan kalau bersalah akan tetap dihukum.

"Maaf, Madam. Aku akan bersiap. Tolong maafkan aku!" Marla membungkukkan badannya berkali-kali, "Cepatlah, aku tidak perlu maafmu sekarang, tapi jam makan malam akan segera dimulai. Aku tidak ingin yang lainnya menunggu karena keterlambatanmu," hardiknya. Suara madam Ester naik satu oktaf membuat Marla berlari terbirit ke dalam kamarnya lagi.

"Huwaaa ... belum satu hari aku sudah melakukan kesalahan. Ya ampun, apa aku akan langsung dipecat hari ini juga?" Marla tidak bisa lagi menikmati ruangan yang begitu mewah itu, dipikirannya sekarang, segera ber bersih dan mempersiapkan diri agar dirinya tak terlambat saat jam makan malam.

Gadis itu membuka pintu dan hampir saja dia melompat karena terkejut. Madam Ester tetap berdiri di depan pintunya.

"Ya ampun, Madam, bikin kaget aku saja!"

"Anak muda jaman sekarang tidak berguna. Sikapnya ceroboh dan seenaknya sendiri. Untung saja, kau tidak terlalu bodoh!" cetus madam Ester yang melirik Marla sambil berjalan.

"Apa lagi ini? Kenapa mereka semua memberi hormat dan menundukkan kepala saat melihatku. Aku kan sama seperti mereka, tapi omong-omong, kenapa kamarku terpisah dengan yang lainnya?" Batin Marla.

"Kau, cepat kesini!" dengan isyarat mata, Marla bergegas menghampiri madam Ester.

Tak berapa lama, semua pelayan tertunduk kembali. Gadis itu memberanikan diri melirik, ternyata si empu-nya rumah dengan seseorang yang menuntunnya. Namun, yang berbeda kali ini. Wanita tua itu tidak dituntun oleh seorang pelayan melainkan seorang pria. Perawakannya tinggi dan bertubuh besar. Tegap dan berisi. Marla sempat terpana sesaat, pria tadi sempat melirik ke arahnya dengan tajam.

Membuat gadis itu sadar dan menundukkan kepalanya. Wajah tampannya sedikit membuat Marla gugup. Tatapan dinginnya seperti sebuah pisau yang menghujam jantung Marla. Seolah-olah, gadis itu memiliki kesalahan padanya. Saat mereka duduk, seorang pelayan mempersilahkan Marla duduk. Gadis itu ingin menolaknya, tapi delikan madam Ester dan tatapan si nyonya rumah tak bisa membuatnya berkutik.

Suasana makan terasa canggung. Tidak ada seorangpun yang berbicara saat makan. Sepertinya, aturan seperti itu yang dipakai di keluarga ini. Berbeda dengan suasana ruang makan Marla bersama anak-anak di panti. Disini makan mencekam seperti sedang menghadapi persidangan.

"Ester, besok pergilah membeli beberapa pakaian dan barang yang pantas dikenakan di keluarga ini. Aku tidak ingin ada kesalahan sedikitpun, kau mengerti?"

Meski berkata pada madam Ester, namun tidak dapat dipungkiri perkataan tadi ditujukan untuk gadis bersurai gelombang itu.

"Baik, Nyonya, saya akan kerjakan sesuai dengan keinginan anda." Telinga Marla tetap terpasang dengan antena tinggi.

"Apa dia bilang barusan? Pakaian yang pantas? Memangnya ada yang salah dengan pakaianku? Apanya yang tidak pantas. Ini memang pakaianku." Jawab di hati Marla sedikit terkejut dengan perintahnya tadi.

Tidak berkata apapun lagi, setelah memberikan perintahnya. Wanita tua tadi kembali untuk beristirahat. Lagi, Marla merasakan desiran aneh saat dilirik oleh pria itu.

"Batrick!" suara madan Ester memanggil seorang pelayan.

"Iya, Madam, apa yang perlu saya lakukan?"

"Bawa Nona ke kamar, pastikan dia istirahat. Aku tidak ingin sampai dia terlambat lagi," dengan lirikan mata dan perkataan yang penuh tekanan, madam Ester memberikan perintah.

"Baik, Madam. Saya akan kerjakan!"

"Pergilah," madam Ester akan berbalik.

"Tu-tunggu sebentar, Madam," spontan gadis bersurai gelombang tadi mencengkram lengannya, mencegah pergi.

"Ada apa?"

"Madam, bisakah aku berjalan-jalan sebentar. Aku tadi sudah ketiduran, jadi belum terlalu mengantuk!"

"Lebih baik kau kembali ke kamar. Tidurlah. Besok aku membutuhkanmu lebih awal. Aku tidak suka keterlambatan lagi!" makin ketus jawaban yang diberikan madam Ester.

"Ta-pi, Madam, kalau jam seperti ini dipantai aku masih menghabiskan waktu dengan adik-adik. Aku masih menemani mereka sambil menjelang tidur."

"Aku sangat tidak menyukai kebiasaanmu itu. saat ini, kau sudah berada di dalam keluarga Branson Austin, aku tidak suka kau mengungkit itu. Dan dapat dipastikan nyonya tidak menyukainya. Lupakan semua, disini sekarang kamu berada dan harus bisa menyesuaikan diri!" Wajah gadis itu mendadak pias. Disuruh melupakan semua kenangan yang paling berarti dalam hidupnya adalah sesuatu hal yang tidak masuk akal. Seperti dirinya yang dibawa secara paksa keluar dari panti, meskipun gadis itu sudah menolaknya.

"Batrick!"

"Ya, Madam Ester!"

"Temani dan jaga Nona Muda berjalan-jalan. Jangan biarkan dia tidur terlalu malam!" setelah melirik ke arah Marla, lalu madam Ester berlalu dari hadapan mereka.

"Apalagi itu?Setelah tadi di panggil Nona, sekarang Nona Muda. Apa maksud madam Ester? Kenapa sampai saat ini madam belum menjelaskan pekerjaanku seperti apa. Aku belum terbiasa seperti ini. Membingungkan."

Gadis bersurai gelombang tadi hanya menghela nafasnya. Mencoba mengerti dan memahami. Dia berpikir, itu hanyalah sebuah sapaan. Yang terpenting saat ini dia masih bisa menghirup udara setelah kedatanganya siang tadi.

Pelayan bernama Batrick tadi hanya mengikuti. Saat gadis itu melewati beberapa pengawal, lagi yang membuat gadis itu bingung. Semua pengawal memberi hormat dan menunduk padanya.

"Namamu, Batrick kan? Aku, Marla Fransisca. Senang berkenalan denganmu. Kita belum sempat berkenalan kan?" Marla mengukurkan tangan untuk berkenalan, tapi pelayan tadi sedikit ragu untuk menerima uluran tangannya.

"Saya, Batrick, Nona Marla. Saya adalah yang akan membantu semua keperluan Nona selama berada disini," ucapnya.

"Haduh udah deh, jangan panggil pakai sebutan itu. telingaku gatal tahu, kita kan sama saja, bekerja disini!" Batrick menautkan kedua alisnya. Dia merasa ada yang salah dengan ucapan Marla, tapi tetap tidak berani melanggar apa yang sudah diperintahkan.

"I-iya, Nona Marla!"

"Marla saja!"

"Baik, Nona!"

"Aduh, oke, oke, terserah kamu saja, Batrick. Sesukamu saja memanggilku!" Perdebatan tidak akan selesai karena hanya membahas panggilan saja. Jadi, gadis itu tetap memutuskan mengabaikan.

Marla berjalan melewati beberapa koridor, taman dan kolam ikan yang hanya terlihat gerakannya dari pantulan cahaya lampu. Pikirannya terus menerawang hingga tak terasa gadis itu berjalan ke arah taman belakang. Netranya memindai sebuah ayunan.

"Tempat apa ini, Batrick?" Gadis itu mendudukan dirinya pada bangku ayunan.

"Ini Mansion keluarga Austin, Nona. Lebih tepatnya mirip seperti perkebunan pribadi keluarga Austin, Nona!"

"Oya? Pasti sangat besar dan kau pasti lelah mengerjakan semua. Huh, nanti tolong bantu aku ya. Aku pasti akan banyak bertanya denganmu," Batrick terlihat menggaruk kepalanya sendiri.

"Ada apa?" karena tidak mendapat jawaban darinya.

"Ti-tidak, Nona. Baik, Nona!" gagap Batrick menjawabnya. Dia takut memberikan jawaban yang salah dan diberi hukuman.

"Uhm, kalau kesana ada apa lagi?" tunjuk Marla kearah yang berkelip dengan lampu-lampu yang terlihat indah.

"Disana ada jembatan kecil, taman bunga yang luas, kandang kuda dan tempat yang bisa Nona jadikan untuk berjalan-jalan atau hanya memandangi saja sambil berjalan kaki," terang Batrick kemudian.

"Wah, ternyata cukup luas ya. Huh, heumm ...."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED