Bab 1

Saat kota Etin tampak hidup di bawah langit senja, Ella Karyana sedang melakukan penerbangan pulang setelah menjalani tiga bulan syuting yang melelahkan.

Perjalanan empat jam itu terasa seperti selamanya sebelum akhirnya pesawat mendarat.

Setelah mengambil koper, dia berjalan menuju pintu keluar sambil berharap akan ada mobil perusahaan yang menjemputnya. Namun begitu pintu terbuka, dia melihat seseorang yang dikenalnya, yaitu Esau Robani, sopir lama Keluarga Juanda. Menunggu kedatangannya, pria itu berdiri di samping sebuah Rolls-Royce hitam mewah dengan postur tubuh kaku dan penuh hormat.

Sambil menyeret koper, dia mendekat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Esau segera membawakan kopernya dan membukakan pintu mobil untuknya.

Di dalam, ada seorang pria duduk dalam diam. Kehadirannya, yang dingin dan berwibawa, terbungkus dalam setelan hitam yang dirancang sempurna. Dengan wajah yang tajam dan tanpa menunjukkan ekspresi apa pun, dia tidak mendongak ataupun melirik ke arah Ella.

Pria itu adalah Regan Juanda, yang telah menjadi suami Ella selama dua tahun. Kemunculannya yang tidak terduga membuat Ella lengah, meskipun dia segera ingat kenapa Regan ada di sini. Kesepakatan mereka berakhir hari ini, jadi tentu saja pria itu akan muncul.

Masuk ke dalam mobil, Ella menjaga jarak dengan Regan, di mana ruang di antara mereka tetap sunyi dan tegang seperti sebelumnya.

Selama dua tahun, Regan sudah menegaskan bahwa dia tidak ingin dekat-dekat dengan Ella. Malam ini adalah pertama kalinya mereka duduk begitu dekat.

Ella bisa mencium aroma samar dari parfum yang dikenakan Regan, yang tidak asing tetapi terasa begitu jauh.

Setelah memasukkan koper Ella ke dalam bagasi, Esau kembali duduk di belakang kemudi. Saat mobil bergerak meninggalkan bandara, keheningan di dalam terasa menyesakkan.

Ekspresi Regan tetap dingin dan jauh seperti biasanya, di mana ini menciptakan ketegangan di udara yang begitu mencekik sehingga membuat Ella gugup. Jantungnya berdebar kencang dan setiap tarikan napas terasa begitu dangkal dan tidak nyaman.

Dua puluh menit kemudian, Rolls-Royce itu berhenti di depan kediaman Keluarga Juanda. Sebelum Ella bisa menenangkan pikiran, sang kepala pelayan bergegas keluar dan cepat-cepat membuka pintu. Regan melangkah keluar terlebih dahulu dengan langkah yang panjang menuju rumah tanpa melirik ke arah Ella sedikit pun. "Ayo kita ke ruang kerja," gumamnya dengan tegas, bahkan tidak repot-repot memperlambat langkahnya.

Mengetahui apa yang akan terjadi, saraf Ella tegang sepanjang perjalanan. Memasuki ruang kerja, dia melihat Regan mengeluarkan setumpuk kertas dari laci meja dan melemparkannya ke hadapannya.

"Mari kita bercerai," ucap Regan.

Setelah tiga bulan tidak bertemu dengan Regan, kata-kata pertama yang diucapkan pria itu begitu dingin dan cuek seperti pisau yang menusuk jauh ke dalam hati Ella.

Ella telah mencintai Regan selama sepuluh tahun, tetapi bahkan dengan menjadi istrinya belum cukup untuk mendekatkan dirinya dengan pria itu. Tidak satu pun dari diri Regan, baik jiwa dan raga, pernah menjadi miliknya.

"Niken sudah cukup umur untuk menikah sekarang, kan?" ucap Ella dengan suara bergetar, meskipun dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang.

Alis Regan berkedut sedikit dan secercah ketidaksabaran tampak di wajahnya yang tajam. Dia tidak repot-repot menanggapi komentar Ella. Sebaliknya, dia segera mengulurkan sebuah pulpen ke arah wanita itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Ella mengangkat sudut bibir dengan paksa, memberikan senyuman yang sama sekali tidak tampak alami. Tanpa riasan yang biasa dia kenakan, bibirnya tampak pucat dan wajahnya tampak kuyu. Kelelahannya tidak dapat disangkal.

"Tanda tangani saja," ucap Regan dengan tegas tanpa menunjukkan emosi sedikit pun.

Ella menerima pulpen yang disodorkan padanya. Tanpa melirik sedikit pun isi kontrak, dia langsung membalik halaman ke halaman terakhir dan menandatangani namanya. Tindakan ini terasa final, tetapi hampa.

Ella meletakkan pulpen dan melirik ke arah Regan. Tatapan mata yang masih tajam itu menatap balik ke arahnya dengan sikap dingin yang membuat sekujur tubuhnya merinding, seolah-olah pria itu sedang melihat orang asing, bukan istri.

"Sekarang sudah larut malam. Apa tidak apa-apa jika aku pindah besok? tanya Ella dengan suara rapuh sambil tersenyum tegang saat dia berusaha mencari secercah kehangatan di wajah Regan. Namun, tanggapan Regan yang cepat dan tajam membuat harapannya pupus seketika. "Esau akan mengantarmu ke hotel."

Apakah Regan benar-benar mengusirnya sekarang juga? Dia bahkan tidak diizinkan untuk menghabiskan satu malam terakhir di bawah atap ini?

Senyum yang dipaksakan memudar seketika dan keheningan di antara mereka terasa semakin berat. Tatapan mereka bertemu sesaat sebelum dia berbalik dan hatinya semakin mengeras seiring setiap langkah yang dia ambil saat meninggalkan ruangan.

Di kamar, Ella mengambil koper yang bahkan belum sempat dia buka. Ketika dia menyeret kopernya turun ke lantai bawah, para pelayan bergegas untuk membantu, tetapi dia melambaikan tangan menolak mereka dan berkata sambil tersenyum lelah, "Terima kasih, tapi aku bisa membawanya sendiri."

Para pelayan saling bertukar pandang tanpa daya dan berdiri berjajar tanpa mengucapkan sepatah kata pun sembari menyaksikan Ella berjalan menuju pintu keluar.

Selama dua tahun tinggal di rumah ini, Ella mulai menumbuhkan kepedulian pada orang-orang di sini. Semua orang, kecuali Regan, sangat baik padanya. Walaupun sangat sedih, setelah menjalani dua tahun pernikahan yang dingin, dia tidak memiliki kekuatan lagi untuk berjuang.

Sekarang, semuanya sudah berakhir. Saatnya dia bergerak maju dan melepaskan masa lalu.

Meski merasakan sakit yang membakar di dadanya, Ella tetap tidak menangis. Dia telah belajar cara menyembunyikan emosinya dengan baik. Duduk di kursi belakang mobil, dia memaksakan diri untuk terlihat tenang. Setelah Esau menurunkannya di sebuah hotel berbintang di pusat kota, dia langsung keluar dengan membawa kopernya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Setelah masuk ke dalam kamar, Ella menyalakan ponselnya, yang telah mati selama berjam-jam. Terdapat panggilan tidak terjawab dari ayahnya, Kurnia Karyana.

Ella menarik napas dalam-dalam dan mempersiapkan diri sebelum menghubungi nomor Kurnia, yang segera diangkat olehnya.

"Ella, kondisi Niken makin memburuk," ucap Kurnia dengan suara serak karena terbebani oleh rasa lelah dan khawatir.

Terkejut, Ella bertanya dengan jantung berdebar kencang, "Apa? Kapan ini terjadi?"

"Sekitar seminggu yang lalu."

"Kenapa Ayah tidak memberitahuku lebih awal?" tanya Ella.

"Kamu sedang sibuk syuting, jadi aku tidak ingin membebanimu," jawab Kurnia.

Ella terdiam sejenak, keheningan di antara mereka terasa berat. Pikirannya teringat kembali ke dua tahun lalu, saat dia mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk menyelamatkan nyawa Niken Karyana. Tiba-tiba, dia mengerti kenapa ayahnya menelepon. "Apa yang perlu kulakukan?" tanyanya dengan suaranya tenang tetapi pasrah.

"Tidak, tidak ada yang perlu kamu lakukan. Regan sudah mengurus semuanya. Dia mendatangkan dokter-dokter terbaik dan pihak rumah sakit juga telah menemukan donor sumsum tulang belakang yang cocok untuk Niken. Kamu hanya perlu berkunjung jika kamu sempat," ucap Kurnia.

Ella tetap terdiam, dadanya terasa sesak. Merasakan keraguan Ella, Kurnia memberikan nomor bangsal Niken dan mendesaknya untuk segera datang sambil menyebutkan betapa Niken merindukannya.

Rasa sakit yang tajam mencengkeram hati Ella. Dia berhasil mengiakan permintaan itu dengan lemah sebelum buru-buru mengakhiri panggilan telepon itu karena tidak sanggup mendengar lebih banyak lagi.

Malam ini terasa tidak berujung. Dia berguling-guling di tempat tidur hotel yang asing dengan pikiran berkecamuk. Pada pukul 2 dini hari, akhirnya dia menyerah dan memesan sebotol anggur merah. Setelah menghabiskan anggur tersebut separuh botol lebih, akhirnya dia berhasil tertidur walaupun masih gelisah.

Keesokan paginya, mendekati tengah hari, Ella terbangun karena ponselnya berdering. Itu adalah panggilan telepon dari manajernya, yang mengajukan gagasan untuk bergabung dengan acara realitas di pedesaan yang populer, di mana acara ini menjanjikan batu loncatan dalam dunia hiburan bagi semua para peserta yang berpartisipasi.

"Aku tidak tertarik. Aku butuh istirahat," jawab Ella dengan suara serak karena kelelahan.

Merasa jengkel, manajernya membentak, "Istirahat? Apa menurutmu kamu bisa beristirahat kapan pun kamu mau? Lihat, kamu sudah berkecimpung di industri ini selama tiga tahun. Kamu telah menolak adegan intim dan acara realitas, serta menghindari aksi publisitas dengan selebriti pria. Perusahaan telah berusaha sekuat tenaga untuk mengakomodasi kamu! Apa lagi yang kamu inginkan?" Suaranya menjadi lebih tajam saat melanjutkan, "Setelah meniti karier di dunia hiburan tiga tahun, kamu tetap tidak memiliki ambisi. Jika kamu seperti ini terus, kariermu akan tamat."

"Kalau begitu, biarlah itu terjadi," sahut Ella.

"Ella, kamu ...."

Suara manajernya terputus saat Ella mengakhiri panggilan telepon itu tanpa ragu. Rasa jengkel menggelegak dalam dirinya, tetapi dia tidak membiarkan dirinya berlarut-larut dalam kejengkelan ini. Dia langsung menuju kamar mandi dan mengabaikan suara ponselnya yang tak henti-hentinya berdering.

Setelah mandi cukup lama, dia merasa sedikit lebih jernih dan memutuskan untuk menghubungi Jenny Hanafi, sahabat karibnya yang sudah lama tidak dia temui. Ella bertanya apakah dia bisa tinggal di tempat Jenny selama beberapa hari. Jenny dengan senang hati langsung menyetujuinya dan segera datang menjemputnya.

Sesampainya di rumah Jenny, Ella membongkar barang bawaannya dan makan siang bersama Jenny. Kemudian, dia berangkat ke Rumah Sakit Umum Etin.

Dari balik kaca bangsal Niken, Ella melihatnya sedang disuapi makanan oleh seorang pengasuh. Niken, yang lemah dan pucat, hanya berhasil makan beberapa suap sebelum dia memuntahkan semuanya. Pemandangan ini membuat dada Ella terasa sesak dengan kesedihan.

Niken adalah adik tirinya yang berusia lima tahun lebih muda darinya dan kini menginjak usia dua puluh tahun. Mereka tidak terpisahkan sejak kanak-kanak. Sebagai adik, Niken selalu mengagumi Ella dan mengikutinya ke mana pun. Namun, semuanya berubah ketika mereka berdua jatuh cinta pada Regan.

Dua tahun yang lalu, ketika Niken pertama kali didiagnosis menderita leukemia, Regan sangat khawatir. Pada saat inilah Ella menyadari bahwa orang yang dicintai Regan bukanlah dirinya, melainkan Niken.

Bab 2

Dulu, hasil tes darah Ella menunjukkan hasilnya bersih dan tidak ada tanda-tanda penolakan pada penerima, sehingga dia layak menjadi donor dan bisa menyelamatkan Niken.

Sebenarnya, Ella tidak akan ragu untuk mendonorkan sumsum tulangnya pada orang asing, apa lagi adik sendiri.

Namun, sebelum dia sempat menyuarakan keputusannya, Regan telah menarik kesimpulan sendiri bahwa dia adalah wanita yang dingin dan kejam sehingga dia tidak akan sudi menyelamatkan Niken. Saking putus asanya, pria itu bahkan sampai berlutut di hadapannya dan memohon pertolongannya, sebuah pemandangan yang menghancurkan hati Ella.

Tidak pernah dalam hidupnya dia melihat Regan merendahkan diri di hadapan orang lain seperti ini.

Dia telah mengenal Regan sejak mereka masih anak-anak. Dari SD sampai SMA, mereka tidak terpisahkan. Mereka bisa dibilang kekasih masa kecil. Regan biasa berkelahi dengan anak laki-laki lain hanya untuk membelanya dan dia akan begadang sampai larut malam untuk membantu Ella mempersiapkan ujian.

Dengan naif, Ella percaya bahwa setelah bertahun-tahun berada di sisi Regan, akhirnya dia akan mendapatkan cintanya. Namun, dia salah.

Dia baru mengerti bahwa perasaan tidak pernah bisa dimenangkan oleh logika atau waktu.

Ella tidak pandai bertingkah manja seperti Niken atau mengetahui cara menyenangkan hati Regan. Meskipun peduli pada mereka berdua, cara Regan memperlakukan Niken selalu lebih hangat dan perhatian.

Pria itu pasti sangat mencintai Niken.

Pikiran itu menusuk hati Ella sehingga matanya terasa perih karena air mata yang tak terbendung.

Yang paling menyakitkan bukanlah sekadar cinta Regan pada Niken, tetapi kenyataan bahwa Regan telah menarik kesimpulan sendiri bahwa dia cukup kejam untuk membiarkan adiknya meregang nyawa. Dia merasa tidak terima dengan kesimpulan yang dangkal dan sesat itu. Karena dibutakan oleh kemarahan, dia menuntut agar Regan menikahinya.

Dia ingin menjadi istri Regan.

Meskipun pernikahan mereka hanya bertahan dua tahun, dia dengan bodohnya percaya bahwa ini cukup untuk menaklukkan hati Regan. Namun, kenyataan yang tajam dan tidak kenal ampun telah menghancurkan harapan ini.

Dia telah kalah. Telak.

"Kamu masih berani menunjukkan wajahmu di sini?"

Sebuah suara yang menggigit menyadarkan Ella dari lamunannya.

Ella segera menyeka air matanya dan berbalik. Melihat Vena Sandira berdiri di belakangnya, ekspresinya langsung berubah menjadi dingin.

Vena, ibu tirinya, berusia empat puluh tahun, tetapi penampilannya tampak sepuluh tahun lebih muda. Dalam balutan pakaian desainer yang apik serta rambut yang ditata sempurna, dia tampak sangat modis dan elegan.

Ketika Ella masih berduka atas kehilangan ibunya, Vena, yang bekerja sebagai pelayan keluarga, hamil.

Ayah bayi itu adalah Kurnia.

"Jangan meneteskan air mata buaya!" bentak Vena sambil mencibir dan melewati Ella sebelum memasuki bangsal.

Menelan kekesalannya, Ella mengikuti di belakang sambil memaksa dirinya untuk tetap tenang.

Ketika Niken melihat Ella, cahaya redup berkedip di matanya yang lelah. "Kak Ella," ucapnya dengan lembut dan ada sedikit kehangatan dalam suaranya.

Ella tersenyum, lalu berjalan mendekat dan menggenggam tangan Niken dengan lembut sambil berkata, "Kudengar kamu merindukanku."

Niken mengangguk dan menjawab dengan ekspresi lembut, "Aku tidak melihatmu selama tiga bulan. Aku sungguh merindukanmu."

Hati Ella terasa nyeri. Niken, dengan kepolosan dan kebaikannya, membuat segalanya jauh lebih sulit.

Bagaimana mungkin adiknya sendiri, sosok yang selama ini dia sayangi, justru menjadi penghalang antara dirinya dan pria yang dia cintai? Ketika Niken jatuh sakit, Ella telah memanfaatkan kesempatan ini untuk mengamankan posisi sebagai istri Regan.

Dia mengira Niken akan membencinya karena perbuatannya itu, bahkan mungkin akan menyimpan dendam terhadap dirinya. Dalam benaknya, dia membayangkan pertemuan mereka akan terasa jauh, dingin, dan penuh kebencian. Namun, Niken masih peduli padanya seolah-olah tidak ada yang berubah.

Inilah bagian tersulit dari semuanya. Setiap kali Ella menatap adiknya, rasa bersalahnya menjadi tidak tertahankan.

"Kebetulan aku sedang rehat, jadi aku memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersamamu," ucap Ella dengan mata yang masih merah karena emosi sambil memaksakan diri untuk tersenyum.

Niken membalas dengan wajah berseri-seri, "Asyik! Aku ingin kamu menjengukku setiap hari sampai aku dipulangkan, oke?"

"Tentu saja, aku akan ada di sini setiap hari," jawab Ella dengan hangat.

Di samping, Vena memutar mata ke atas dan menatap Ella dengan penuh kebencian.

Dia menahan lidah demi Niken, tetapi setiap kali dia menatap Ella, amarahnya berkobar. Dia tidak bisa melupakan bagaimana Niken tampak seperti mayat berjalan ketika Regan menikahi Ella.

Berusaha menahan kebenciannya terhadap Ella, Vena membujuk Niken untuk tidur. Saat Niken tertidur, dia menoleh ke arah Ella dan berkata dengan dingin, "Sebentar lagi, Regan akan datang ke sini untuk menemui Niken. Kalau kamu tidak mau merasa canggung, cepat angkat kaki dari ini."

Mencerna kata-kata Vena, Ella berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Setelah melirik Niken sekali lagi, yang kini sudah tertidur lelap, dia berbalik dan berjalan menuju pintu.

Tepat saat dia mencapai ambang pintu, suara Vena kembali terdengar memecah udara. "Jangan datang ke sini lagi. Setelah semua yang kamu lakukan padanya, kamu tidak pantas berada di dekat Niken."

Ella tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas.

Dia berjalan keluar dengan langkah yang terasa berat karena beban dari sebuah kebenaran yang telah lama dia pikul.

Ella menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati sebelum menjatuhkan diri ke bangku yang berada di koridor. Ketika air matanya mulai mengalir tidak terkendali, dia membenamkan wajah di antara kedua tangannya dengan tubuh gemetar.

Telah menunggu di dalam mobil terlalu lama, tumbuh rasa khawatir di dalam hati Jenny sehingga dia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah sakit dan memeriksa Ella. Memasuki koridor, Jenny melihat Ella, yang tampak begitu putus asa, sedang membungkuk di bangku dengan wajah terkubur di kedua telapak tangan. Namun, ketika hendak menghampiri sahabatnya, tiba-tiba dia melihat Regan keluar dari lift. Pria itu tertegun sejenak ketika melihat Ella sebelum berjalan ke arahnya.

Ella telah mengikuti Regan ke mana-mana sejak kecil, jadi dia bisa mengenali keberadaannya hanya dari suara langkah kakinya. Mendengar irama yang tidak asing itu, dia segera menyeka wajahnya dan mencoba menenangkan diri, meski usahanya terasa sia-sia.

"Apa kamu datang ke sini untuk menjenguk Niken?" tanya Ella sambil menatap Regan dan memaksakan diri untuk tersenyum.

Matanya bengkak karena habis menangis dan riasan di wajahnya sudah luntur oleh air mata, sehingga dia tampak rapuh dan berantakan.

Regan menggumam dengan cuek sebelum balik bertanya, "Apa kamu sudah menjenguknya?"

"Ya," jawab Ella dengan suara lirih.

Sepertinya, ada sesuatu dalam penampilan Ella yang telah menggugah hati Regan, karena pria itu membalas dengan lembut tidak seperti biasanya, "Jangan khawatir. Niken akan segera menjalani transplantasi sumsum tulang belakang. Dia akan segera membaik."

"Aku tahu."

Hanya dengan kata-kata itu, Regan langsung berbalik untuk mendorong pintu bangsal Niken. Namun sebelum Regan melangkah masuk ke dalam bangsal, Ella tidak kuasa menahan diri untuk memanggilnya dan berkata, "Tolong jaga dia baik-baik."

Jika dia tidak bisa memiliki Regan, mungkin sudah waktunya melepaskan dan mengembalikan pria itu pada Niken, wanita yang benar-benar dicintainya.

Regan berhenti sejenak dengan tangan di pintu. Tanpa menoleh ke arah Ella, dia menjawab dengan suara yang dibumbui amarah yang tertahan, "Tanpa perlu kamu ingatkan, aku akan menjaganya."

Kata-katanya tajam dan setiap suku kata penuh dengan rasa jengkel. Ella tersentak.

Dia telah menandatangani surat perjanjian perceraian untuk membebaskan Regan dari pernikahan mereka yang hampa dan memberinya kesempatan untuk kembali ke Niken. Bukankah ini yang selalu diinginkan Regan?

Jadi kenapa Regan masih tampak begitu marah padanya?

Apakah pria itu begitu ingin menyingkirkannya dan membencinya?

Regan sudah masuk ke dalam bangsal, tetapi Ella tetap terpaku di bangku dengan mata terpaku pada pintu yang tertutup. Dia merasa hampa dan tersesat dalam kekosongan ini.

Jenny, yang sedari tadi menyaksikan kejadian ini dari kejauhan, tidak kuasa untuk menahannya lagi. Dia bergegas menghampiri dan menarik Ella dengan lembut agar berdiri dan menyeretnya menjauh dari bangsal rumah sakit.

Pada hari-hari berikutnya, Ella terus mengunjungi rumah sakit, tetapi dia tidak lagi masuk ke dalam bangsal Niken. Dia hanya berdiri di dekat pintu dan melihat adiknya sekilas lewat kaca.

Terkadang, dia melihat Regan mengajak Niken jalan-jalan keluar dan kedekatan mereka sangat jelas terlihat. Sementara itu, dia hanya menonton kehidupan yang tidak ada hubungannya dengan dirinya dari kejauhan.

Sikap dingin Regan terhadap Ella sangat kontras dengan perhatiannya yang lembut pada Niken, di mana perbedaan ini menorehkan luka yang dalam di hati Ella dan tampaknya sulit untuk disembuhkan.

Sebulan kemudian, Niken berhasil menjalani transplantasi sumsum tulang belakang. Tidak ada tanda-tanda penolakan atau komplikasi, pemulihannya berjalan lancar.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ella merasa sangat lega.

Dalam sebulan terakhir, Regan menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah sakit untuk mendampingi Niken sampai sepertinya dia lupa pergi ke Kantor Catatan Sipil bersama Ella untuk menyelesaikan perceraian.

Sudah cukup menyaksikan kasih sayang Regan terhadap Niken, Ella siap untuk melupakan dan membuka lembaran baru dalam kehidupannya.

Hari ini, Ella memutuskan untuk menelepon Regan. Telepon berdering lama sekali sebelum akhirnya Regan mengangkat panggilan itu.

"Ada apa?" tanya Regan dengan suara dingin dan cuek seperti biasanya.

Ella bertanya tanpa ragu, "Kapan kita akan menyelesaikan perceraian?"

Ada jeda panjang di ujung telepon. Ketika akhirnya Regan berbicara lagi, suaranya terdengar jauh, tetapi kata-katanya membuat Ella terkejut. "Aku belum menandatangani surat perjanjian perceraian."

Jantung Ella berdebar kencang. Setelah sekian lama, Regan masih belum menandatangani surat perjanjian perceraian?

Bab 3

Termenung sejenak, pikiran Ella berpacu.

Kenapa Regan belum menandatangani surat perjanjian perceraian?

Mungkinkah pria itu berubah pikiran? Apakah mungkin Regan menyesal dan tidak ingin bercerai?

Merasa pikiran ini tidak masuk akal, Ella segera menepisnya.

Regan selalu ingin melepaskan diri darinya. Sekarang Niken sudah pulih dan cukup umur untuk menikah, jadi tidak ada alasan bagi pria itu untuk bertahan. Penundaan ini tidak mungkin berarti sesuatu yang lain.

"Temui aku di Kantor Catatan Sipil besok jam sembilan," ucap Ella dengan tajam tanpa memberi ruang untuk diskusi lebih lanjut sebelum menutup panggilan telepon.

Malam harinya, Ella tidak dapat tidur. Dia duduk diam di tepi tempat tidur dengan tatapan kosong di tengah kegelapan. Menjelang pagi, tubuhnya lelah, tetapi dia memaksakan diri untuk bergerak. Dia segera mandi, berganti pakaian, dan berdandan tipis. Tidak peduli apa pun yang terjadi hari ini, dia harus terlihat tenang meskipun hatinya hancur. Tiba di Kantor Catatan Sipil, dia menarik napas dalam-dalam dan menunggu kedatangan Regan.

Menit demi menit berganti jam, tetapi Regan tidak kunjung terlihat batang hidungnya.

Rasa gelisah membanjiri hatinya, Ella mencoba menghubungi Regan, tetapi pria itu tidak kunjung mengangkat panggilan telepon.

Merasa jengkel, Ella keluar dari Kantor Catatan Sipil dan langsung menuju Grup Juanda. Tanpa menghiraukan protes sang resepsionis, dia langsung menerobos masuk ke dalam lift dan naik ke lantai tempat kantor Regan berada.

Ketika kembali ke kantor setelah rapat, Regan mendapati Ella sedang duduk di sofa. Wajahnya pucat tetapi dilapisi dengan kejengkelan.

"Kapan kamu sampai di sini?" tanya Regan dengan santai seolah-olah dia sudah memprediksi Ella akan muncul. Dengan tenang, dia berjalan ke belakang meja kerjanya, lalu membuka sebuah berkas dan mulai memeriksanya tanpa melirik ke arah Ella sedikit pun.

"Sekitar setengah jam yang lalu," jawab Ella sambil berusaha meredam rasa jengkel.

"Kalau begitu, silakan tunggu sebentar lagi," ucap Regan dengan cuek.

Suara Regan terdengar cuek saat dia menundukkan kepala di atas tumpukan dokumennya, sepenuhnya tenggelam dalam pekerjaannya, menegaskan bahwa wanita itu bukanlah prioritas baginya.

Merasa diabaikan, Ella dapat merasakan kemarahan membubung dalam dadanya dan bisa meluap sewaktu-waktu.

"Regan, apa maksudmu?"

Dia telah menunggu Regan di Kantor Catatan Sipil selama satu jam dan berharap mendapat penyelesaian. Sekarang, saat dia duduk berhadapan dengan Regan di kantor, pria itu masih membuatnya menunggu.

Apakah dia sebegitu tidak berarti bagi pria itu? Apakah dia kurang berharga dibandingkan dengan kertas-kertas yang sedang dipelajarinya?

Rasa jengkelnya menggelegak ke permukaan, akhirnya Ella bertanya dengan suara meninggi, "Apa yang kamu inginkan, Regan?"

Regan mendongak dengan ekspresinya tidak terbaca seperti biasanya dan berkata, "Sudah kubilang padamu untuk menunggu sebentar lagi."

Sudah tidak tahan lagi dengan sikap Regan, Ella membentak, "Aku sudah selesai menunggu! Aku ingin perceraian diselesaikan hari ini!"

"Tidak bisa."

Ella membeku dan pikirannya kosong saat kata-kata itu menghantamnya bagai sebuah tamparan.

Regan tampaknya tidak peduli dengan reaksi Ella. Dia terus menyelesaikan pekerjaannya dengan tenang sebelum mengeluarkan dokumen perceraian dari laci meja dan berjalan menghampiri Ella.

Tanpa sepatah kata pun, dia mencabik-cabik surat itu tepat di hadapannya.

"Kamu tetap menjadi istriku. Bukankah ini yang kamu inginkan? Kamu mencintaiku, kan? Kamu telah berjuang untuk berada di posisi ini, kan? Kalau begitu, posisi ini milikmu dan tidak ada yang bisa mengambilnya," ucap Regan dengan mata menyala-nyala penuh amarah.

Ella tidak habis pikir. Dia sudah menandatangani surat perjanjian perceraian dan kondisi Niken sudah membaik. Jadi, kenapa sekarang Regan berbuat demikian?

Selama dua tahun, Regan telah bertingkah seolah-olah sangat ingin menendang Ella keluar dari hidupnya. Sekarang, ketika kesempatan ini muncul dengan sendirinya, kenapa pria itu menolak untuk melakukannya?

"Tapi kenapa? Bukankah kamu yang ingin bercerai?" Aku mengembalikanmu pada Niken. Aku tidak akan menghalangi lagi. Kumohon, lepaskan aku," ucap Ella dengan putus asa. Dia meletakkan semua kesombongannya dan memohon pada Regan dengan rendah hati.

Dia telah berdamai dengan keputusan tersulit dalam hidupnya, yaitu mundur demi kepentingan semua orang, bahkan jika itu menghancurkan dirinya.

Ini tidaklah mudah, tetapi dia telah mempersiapkan diri untuk momen ini.

Bibir Regan melengkung membentuk senyum mengejek saat bertanya, "Melepaskanmu? Tidak sesederhana itu."

Merasa semakin jengkel, Ella bertanya, "Kenapa kamu tiba-tiba tidak mau bercerai?"

"Inilah yang Niken inginkan."

"Apa?" Ella membelalak tidak percaya dan bertanya, "Apa maksudmu, Niken menginginkan ini?"

"Dia ingin kita tetap bersama dan hidup bahagia."

Naik pitam, Ella bertanya dengan sengit, "Tetap bersama dan hidup bahagia? Apa maksudmu?"

"Dia ingin kita mempertahankan pernikahan kita," jawab Regan.

Senyum dingin di wajah Regan segera memudar dan dia kembali menunjukkan ekspresi cuek seperti biasanya.

Namun di balik permukaan, pikirannya sama sekali tidak tenang. Dia bukan barang dagangan yang bisa diserahkan bolak-balik oleh kedua wanita ini. Keputusan yang dia ambil adalah keputusannya sendiri dan tidak ada orang lain yang berhak mengambil keputusan untuknya.

Ella berusaha keras untuk memahami jalan pikiran Regan. Dia mengira Regan melakukan ini hanya demi memenuhi janjinya pada Niken, tetapi semua ini tidak masuk akal.

"Bagaimana denganmu? Apa kamu tidak ingin bersama Niken?"

Pertanyaan itu tampaknya menyentuh saraf Regan. Ketenangannya hancur, ekspresinya langsung menjadi suram. "Cepat kemasi barang-barangmu," perintahnya dengan dingin.

Ella berkedip karena bingung. Apakah Regan memintanya untuk pindah kembali ke rumahnya? Pria yang sama yang telah mengusirnya sebulan yang lalu dengan penuh tekad?

"Regan ...."

Namun, sebelum Ella dapat berkata lebih banyak lagi, mata Regan menyala-nyala dengan amarah saat menegur, "Kenapa kamu malah diam saja? Cepat pergi."

Melihat Regan seperti ini, Ella membuka mulut, tetapi tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. Dia tidak dapat mengerti apa yang tengah terjadi, tetapi dia menyadari bahwa protes apa pun hanya akan memperburuk keadaan.

Regan berbalik, lalu berjalan menuju jendela yang menyerupai dinding kaca dan menyalakan sebatang rokok. Dengan satu tangan di saku dan punggung menghadap Ella, dia menikmati pemandangan kota sambil mengisap rokok dalam-dalam. Asap mengepul di sekelilingnya dalam keheningan.

Ketika rokoknya habis, dia berbalik dan mendapati Ella sudah pergi.

Wanita itu telah menyelinap keluar diam-diam tanpa meninggalkan apa pun, kecuali secangkir kopi dingin yang setengah kosong di atas meja dan sobekan-sobekan dokumen perceraian yang berceceran di lantai.

Selama dua tahun, Regan telah menunggu momen ini, yaitu akhir dari pernikahan mereka.

Dokumen perceraian telah disusun beberapa bulan lalu oleh asistennya dan siap untuk ditandatangani yang akan memutus hubungan mereka untuk selamanya. Dia mengira saat menandatangani dokumen tersebut, dia akan merasa bebas seperti burung yang baru saja lepas dari sangkar. Namun, setelah Ella benar-benar menandatangani surat perjanjian perceraian, ada sesuatu yang menggerogoti dirinya. Entah kenapa, dia merasa kesal dan gelisah.

Apakah ini benar-benar karena Niken ingin mereka tetap bersama? Atau ada sesuatu yang lain? Regan sendiri bahkan tidak merasa yakin.

———

Angin akhir musim gugur menyelubungi Ella dengan hawa dingin yang hampir tidak dia sadari saat dia berjalan tanpa tujuan di jalanan.

Dia berjalan dengan pikiran mengembara entah ke mana sampai dia mendapati diri berdiri lagi di depan Rumah Sakit Umum Etin.

Dia tidak dapat mengingat berapa kali dia berakhir di sini karena didorong oleh keinginan untuk menemui Niken, tetapi selalu berhenti sampai di sini. Setelah berdiri di luar pintu masuk yang rasanya seperti berjam-jam sambil menyaksikan orang-orang berlalu lalang dan lalu lintas yang padat, akhirnya dia mengumpulkan cukup tekad untuk melangkah masuk dan langsung menuju Departemen Rawat Inap.

Naik lift ke lantai di mana Niken dirawat, Ella berhenti tepat di luar pintu bangsal Niken dan mengintip melalui jendela kaca seperti biasa.

Hari ini, Niken tampak sangat bersemangat dan dia menyantap makanan yang disuguhkan oleh pengasuhnya dengan lahap.

Setelah makan, sambil berbaring di atas tempat tidur dan asyik dengan ponselnya, tangan dan wajahnya diseka dengan handuk hangat oleh sang pengasuh.

Berdiri di dekat Niken, Vena terus mendesaknya untuk menyimpan ponselnya dan lebih banyak beristirahat.

Niken tersenyum lembut dan berkata, "Aku sedang menonton sinetron yang dibintangi Kak Ella, sebentar lagi selesai."

Mendengar nama Ella disebut, ekspresi wajah Vena berubah menjadi masam dan dia berkata dengan nada mencibir, "Ella lagi? Dia bahkan tidak mau mengunjungimu, tapi kamu masih saja membicarakannya."

"Dia adalah seorang aktris, jadi wajar jika dia sibuk. Begitu aku keluar dari rumah sakit, aku akan mengunjunginya. Kalau bisa, aku ingin pergi ke lokasi syuting untuk melihatnya sedang syuting," ucap Niken dengan penuh harap.

Vena mendengus jengkel dan berkata dengan tegas, "Sama sekali tidak. Kamu tidak boleh menemuinya. Kenapa kamu repot-repot menemui orang egois seperti Ella? Dia tidak peduli padamu dan bahkan mencuri pujaan hatimu. Mulai sekarang, lupakan dia. Kamu akan menikah dengan Regan setelah kamu keluar dari rumah sakit."

Seketika, kehangatan memudar dari senyum di wajah Niken. Dia menggelengkan kepala dengan pelan tetapi penuh tekad saat membalas, "Aku tidak akan menikah dengan Regan. Dia sudah menjadi milik Ella."

"Mereka akan segera bercerai. Sudah dua tahun," ucap Vena dengan tajam karena rasa jengkel yang hampir tidak terbendung.

"Aku tahu, tapi Regan belum menyebutkannya. Sepertinya ... dia tidak ingin bercerai," jawab Niken dengan suara lirih.

Kesabarannya habis, Vena menegur, "Dasar anak bodoh. Kenapa kamu selalu memikirkan orang lain kecuali dirimu sendiri? Jika dia tidak ingin menceraikan Ella, bujuk dia untuk melakukannya! Orang yang dia cintai adalah kamu, bukan Ella!"

Niken menundukkan kepala dan berkata dengan pasrah, "Bu, kesehatanku tidak stabil. Dokter bilang masih ada kemungkinan penyakitku kambuh. Dengan kondisi fisik seperti sekarang ini, aku mungkin tidak dapat menerima transplantasi sumsum tulang lagi. Kemoterapi mungkin satu-satunya pilihanku, tapi ... aku takut aku tidak akan bisa bertahan."

Merasa takut sekaligus jengkel, kemarahan Vena mereda saat dia berkata, "Dokter bilang itu hanya kemungkinan, jadi jangan sampai kamu kehilangan harapan."

Niken berbisik dengan suara sedikit bergetar, "Aku mengerti maksud Ibu. Tapi jika Regan tidak ingin bercerai, apa yang bisa kulakukan? Aku tidak bisa memaksanya untuk meninggalkan Ella. Aku tidak ingin memaksa siapa pun."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED