Bab 2

“Ikut aku,” ucap Tuan Deus yang langsung berbalik.

“Tapi Tuan, bagaimana dengan yang lain?” Seorang tentara menyeimbangi langkah tapi tak bermaksud menghadang Tuan Deus.

“Urus saja seperti biasanya,” ucap Tuan Deus tanpa memperlambat langkahnya. Tentara itu langsung berhenti dengan mengaruk-garuk dahinya seperti orang yang ragu. Beberapa langkah kemudian, Tuan Deus berhenti tepat sebelum memasuki teras bangunan itu.

Tuan Deus kembali berbalik, “Ikuti aku, nona bergaun biru muda.”

Navila tahu pria itu memanggil dirinya. Ia mencoba melangkah tapi kakinya sedikit gemetar. Udara malam mulai menembus pakaiannya. Lengan dan lututnya merasakan hembusan angin malam yang dingin. Kini Navila tahu mengapa para perempuan memakai mantel dan sarung tangan hangat.

“Kau cantik tapi menyebalkan, Nona. Cepat kemarilah dan ikuti aku,” ucap Tuan Deus yang menahan emosinya. Dua jarinya mengisyaratkan agar Navila segera menghampirinya. Navila tak bisa mundur lagi, ia mulai melangkah dengan menggenggam erat tangan Adeline.

“Tidak, tidak. Nona, hanya kau saja.” Jari telunjuk Tuan Deus melambai dengan cepat.

Adeline menggenggam tangan Navila dengan kedua tangganya. “Kamu harus bersabar.”

Kemudian genggaman tangan itu terlepas bersama anggukan kepala Navila. Ia mulai berjalan dengan lutut yang masih gemetar. Tangannya bersedekap di dada tapi telapak tangannya menggosok-gosok lengan yang dingin. Ia mengenakan dress yang panjang roknya di bahwa lutut tapi lengan bajunya pendek— tak sampai siku.

Navila mengikuti Tuan Deus yang berjalan dalam koridor Benteng Esthaz. Bangunan itu merupakan bekas bangunan militer milik Kerajaan Agelan, tapi sepuluh hari yang lalu tentara Kerajaan Erdan berhasil merebutnya.

Kabar mengatakan semua tentara Agelan tewas ketika bertahan di benteng itu. Beberapa mengatakan terjadi pertempuran sengit dalam mempertahankan benteng itu. Navila tahu kebenarannya, benteng itu ditinggalkan tepat sehari sebelum tentara Erdan datang.

Langkah kaki Navila terus mengikuti Tuan Deus yang menyusuri koridor bangunan. Mereka berbelok, lantai kayu yang mereka pijak berubah menjadi tanah. Terlihat sebuah bangunan megah dengan tiga tingkat. Navila tak mengenali isi dan seluk beluk bangunan di dalam benteng karena dahulunya merupakan tempat dengan akses terbatas bagi warga sipil.

Tuan Deus terus berjalan dan kemudian berhenti di depan dua orang tentara yang sedang duduk bersantai menikmati minuman hangatnya. Dua tentara itu langsung berdiri dengan sigap. Senapan laras panjang mengantung di dada mereka. Salah satu pria itu menatap dengan tatapan tajam dan waspada tapi pria lain tersenyum menjijikkan.

“Siapa kamu?” tanya pria yang memiliki tatapan tajam.

“Dia adalah Tuan Deus,” bisik pria satunya yang bermaksud menjelaskan.

“Aku datang untuk membawa hadiah kepada Jenderal,” ucap Tuan Deus dengan bangga.

Navila mendengar sebutan pangkat tinggi militer itu, perasaannya tertusuk tajam, ia tak menyangka disebut sebagai ‘hadiah untuk sang jenderal’. Sungguh buruk bila kesuciannya akan hilang di tangan seorang jenderal tua. Navila membayangkan bahwa orang yang berpangkat jenderal militer pastilah seorang pria tua seumuran ayahnya. Itu menjijikkan dan hina, tapi Navila sadar kepada siapa pun nantinya ia memberikan tubuhnya, perbuatan itu tetaplah hina.

Satu-satunya yang dia inginkan hanya obat untuk kesembuhan ayahnya, tapi bila mungkin ia harap tidak diperlakukan kasar.

Dua tentara itu tersenyum lebar seperti seorang anak kecil yang mendengar hadiah. Tatapan mereka seperti serigala yang kelaparan. Pria dengan senyum yang paling menjijikkan melangkah ke depan Tuan Deus. Ia berbisik dengan tatapan buasnya, “Meski aku merasakan bekas dari Jenderal Zhukov, aku tak keberatan.”

“Kami. Hahaha,” sahut pria satunya. Dua pria itu tertawa dan memandang Navila dengan penuh nafsu birahi. Navila semakin menundukkan kepalanya, ia terbayang perlakukan yang lebih bejat dari dua pria itu dari pada bayangan sang jenderal tua.

“Permisi, Tuan-tuan,” ucap Tuan Deus menerobos dua pria itu. Navila mengikutinya, salah satu pria mendekat dan mengendus bau parfum yang Navila gunakan, tapi ia tidak memedulikan.

“Aku bisa mencium bau apel yang manis dan segar,” ucap pria itu seperti mabuk. Perkataan itu benar karena Navila menggunakan sisa parfum apelnya. Ia merasa bodoh, harusnya ia tak memakai wewangian yang menarik perhatian.

Langkah Navila telah mencapai teras bangunan dengan lantai kayu. Tuan Deus berhenti tepat di depan pintu dan menoleh ke belakang.

“Percayalah, kamu akan mendapatkan yang lebih baik setelah melayani Jenderal. Tak perlu dengarkan dua orang itu, jika kamu mendapat perhatian Jenderal Zhukov, tak akan ada yang berani menyentuhmu,” ucap Tuan Deus.

“A-aku hanya ingin obat untuk ayah,” ucap Navila singkat.

“Kamu bisa mendapatkan lebih,” ucap Tuan Deus dengan membuka pintu.

Saat pintu terbuka, udara hangat dari perapian menerpa wajah Navila. Bau roti kayu manis tercium samar-samar. Perutnya pun langsung meraung kelaparan tapi tak begitu keras untuk didengar Tuan Deus.

Seorang laki-laki tua sedang duduk di samping perapian itu. Ia mengenakan pakaian dinas militernya, jas yang dia kenakan menandakan dia berpangkat cukup tinggi. Tangannya memegang gelas anggur dan pandangannya menoleh ke arah pintu.

" Selamat malam Mayor Nezhkov ," sapa Tuan Deus.

Sang Mayor tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar. "Kau membawa barang bagus, Tuan Deus."

"Maaf Tuan, nona ini milik Jenderal Zhukov," ucap Tuan Deus dengan sedikit membungkukkan badannya.

Mayor Nezhkov kini tersenyum dan kemudian tertawa sendiri, dia seperti orang gila. Raut wajahnya bengis, ada keriput di bawah lengkungan matanya, dan dia mungkin berumur lebih dari 45 tahunan.

"Percayalah, Jenderal Zhukov tidak tertarik dengan perempuan. Kamu lebih baik memberinya mata-mata musuh dari pada perempuan cantik ini." Mayor Zhukov mulai berdiri dengan gelas anggur di tangannya.

Ia mendekat ke Navila dengan senyum binatang buasnya.

Navila bisa merasakan aura bejat dari pria tua itu. Ia sungguh tak menyangka pria itu adalah pria yang diwanti-wanti oleh Gia. Sorot mata pria itu sungguh menjijikkan, Navila tak sedikit pun berniat menggoda pria itu.

"Apa Tuan Nezhkov tahu keberadaan Jenderal Zhukov?" tanya Tuan Deus sambil menutup pintu tanpa membelakangi Mayor Nezhkov.

Mayor Nezhkov terus berjalan dengan mabuk. Ia menunjuk ke atas, "Dia ada di lantai tiga."

Langka Mayor Nezhkov masih belum berhenti. Ia meneguk sisa angur dan kemudian membuang gelas kosong dari aluminium itu. Gelas itu jatuh memantul beberapa kali, suaranya mengiringi langkah Mayor Nezhkov yang ingin menerkam Navila.

Tuan Deus berhasil menghadang terkaman itu tapi nafas bau alkohol tercium hingga ke hidung Navila.

"Aku mau kau, meski sisa dari Zhukov," ucap Mayor Nezhkov yang sedikit mabuk.

Navila terus menunduk dan diam. Perkataan itu sama menjijikkannya dengan dua tentara tadi. Semua tentara Erdan sama saja, pikiran mereka hanya ingin memuaskan nafsu birahinya.

“Tuan, perempuan ini milik Jenderal,” ulang Tuan Deus dengan sorot mata yang serius. Kedua pria itu saling menatap sangat dekat, tatapan mereka saling menantang dan siap berkelahi.

Mayor Nezhkov mundur satu langkah tapi sorot matanya masih menatap Tuan Deus dengan sangat tajam. “Agelan busuk.”

Tuan Deus melangkah tanpa memedulikan makian itu. Navila mengikuti langka pria itu ke tangga. Ia tak berani menoleh ke Mayor Nezhkov karena merasa wajah bengis dan bejatnya masih mengawasi.

“Aku tahu ini pertama kalinya untukmu,” kata Tuan Deus saat menaiki anak tangga menuju lantai tiga.

“Saranku, jangan bersikap kaku atau menolak. Ikuti saja permainannya saat dia menyentuhmu. Aku yakin malam akan berlalu dengan cepat. Mungkin kamu akan terbiasa nantinya.” Tuan Deus kemudian berhenti di sebuah pintu kamar. Ia mengetuk pintu itu tapi setiap ketukan yang ia dengar rasanya menabuh jantung Navila.

Pintu terbuka, ketakutan menghampirinya, tapi Navila harus melayani pria itu.

Bab 3

Pintu kamar diketuk dan langsung terbuka, Andrey datang dengan nampan penuh makanan. Peter Zhukov masih berbaring terlentang di kasur dengan tangan sebagai bantalan. Setelah berminggu-minggu perjalanan, akhirnya ia mendapatkan tempat yang nyaman untuk beristirahat.

“Makan malammu, Jenderal,” ucap Andrey yang melangkah masuk.

“Ya,” jawab singkat Peter.

Kamar itu cukup bagus, ranjangnya bersih, dan ada kamar mandi dalam ruangan, tapi sayang tak ada meja kerja untuk menulis di sana.

Peter bangun dan duduk di samping ranjang. Ia menyambut Andrey yang hendak meletakan nampan yang berisi roti kayu manis dengan selai apel, semangkuk bubur gandum yang hangat, satu kentang rebus seukuran kepalan tangan, gelas kosong, dan botol anggur.

“Aku perlu meja untuk menulis,” ucap Peter.

Andrey meletakan nampan penuh makan itu di sebuah meja kecil samping ranjang. Dia melangkah mundur dengan sopan tanpa membelakangi Peter.

“Ya, Jenderal,” ucap Andrey dengan mengangguk dan pergi.

Peter kembali membaringkan tubuhnya, ia ingin beristirahat. Andai bisa, ia ingin sekali saja tidur nyenyak dalam hidupnya. Sejak setahun yang lalu, setelah kemunduran invasi Kerajaan Agelan, dirinya dan Kerajaan Erdan berbalik melakukan invasi serangan. Setiap harinya pertarungan terus terjadi tanpa henti, terlalu banyak rekan-rekannya yang telah tewas, dan bayang-bayang rekan-rekan yang gugur itulah menyebabkan Peter sering bermimpi buruk.

Pukul tujuh malam biasanya ia belum mengantuk. Akan tetapi kasur yang empuk, tubuhnya yang bersih setelah mandi, suasana ruangan yang hangat, dan bau roti kayu manis yang wangi, akhirnya membuat Peter terlelap dalam tidurnya. Mata Peter terpejam tapi dengan samar-samar ia mendengar suara truk.

Boom! Kepala Peter terasa berputar dalam kegelapan. Matanya terbuka dan ia tiba-tiba terbangun di dalam mobil yang terbalik. Kaca-kaca mobil pecah, pintu mobilnya tiba-tiba dibuka oleh seorang tentara Agelan. Ia mengenal tentara itu, prajurit tingkat kopral 1 yang sering ia suruh untuk mengantarkan surat, namanya Nestor Kostomoski.

Nestor menarik tubuh Peter dan berhasil keluar dari mobil yang terbalik.

“Apakah kamu baik-baik saja, Jenderal Zhukov?” ucap Nestor dengan panik.

Peter hanya bisa mengangguk, kemudian Nestor langsung memapah dirinya untuk menjauh dari kekacauan konvoi kendaraan. Tembak-tembakan terus terdengar dari segala arah. Suara tembakan meriam dan peluru yang meledak terus menggetarkan tanah. Suara teriakan-teriakan serdadu Erdan menggema dalam pikiran Peter.

Zleb. Peter mendengar sebuah bunyi letupan di samping telinganya. Tubuhnya yang dipapah tiba-tiba terhuyung jatuh. Ia terbaring di tanah dengan menatap wajah Nestor yang telah tertembak peluru.

“Nestor!” teriak Peter, tapi suara-suara letusan tembakan lebih keras terdengar.

Dor, dor, dor!

Peter terperanjat bangun dari tidurnya, arloji di jam tangannya menunjukkan pukul 07.45 malam. Kurang dari satu jam ia tertidur dan telah mengalami mimpi buruk. Bukan, itu kilasan nyata dari pengalamannya.

Tok, tok, tok! Peter menoleh dengan kaget ke arah pintu, suara ketukan membuatnya terbayang oleh suara tembakan dalam mimpinya tadi.

‘Andrey sialan,’ batinya dalam hati.

Tok, tok, tok! Pintu kamarnya masih diketuk, biasanya Andrey langsung masuk. Peter berdiri dengan kesal, mengapa ajudannya tak segera masuk, mengapa ia harus membukakan pintu pula?

“Ah!” Peter langsung bergegas membuka pintu, mungkin yang mengetuk pintu merupakan prajurit yang disuruh Andrey untuk membawa sebuah meja.

“Kau?” Peter membuka pintu dan langsung berbuah kecewa, tidak ada anak buah resimennya yang datang. Lagi-lagi pria menyebalkan itu datang.

“Selamat Malam, Jenderal Zhukov. Aku datang menepati janjiku,” ucap si muncikari itu.

Peter terkejut dengan ucapan si muncikari, niatnya mengiyakan tawaran siang tadi, hanya sekadar agar membuat si muncikari pergi. Peter tak menyangka bahwa omongan si muncikari itu bukanlah bualan, dia datang dengan seorang perempuan muda yang sangat cantik. Sayangnya Peter tidak tertarik untuk bercinta dengan perempuan Agelan itu. Ia hanya ingin tidur nyenyak sendiri, bila tidak, ia lebih menginginkan meja kerja untuk menulis.

“Bagaimana, Jenderal?” tanya si muncikari lagi. Dia tersenyum dengan bangga.

“Aku tidak tertarik,” ucap Peter yang langsung menutup pintu. Ia langsung melempar tubuhnya ke kasur, ia laki-laki normal yang masih menyukai wanita, tapi saat ini suasana hatinya kurang tepat. Kepalanya terasa sedikit berat, satu-satunya cara melepas beban pikiran itu dengan menulis.

Peter terbayang apa yang akan dia tulis nanti, ‘Si muncikari datang lagi, ia mengetuk pintu dan datang dengan seorang bidadari. Sekilas perempuan itu terlihat cantik dengan warna rambut pirang kecokelatan, sama seperti perempuan Agelan pada umumnya. Mungkin ia terdengar menyimpang karena menolak tawaran manis itu, tapi malam ini mimpi buruk datang lebih dahulu. Kali ini Nestor Kostomoski, si tukang surat.’

Tok, tok, tok! Pintu kembali di ketuk, Peter jelas merasa bukan Andrey yang mengetuk pintu. Ia bangkit berniat untuk mengusir si muncikari dan pelacurnya. Ia membayangkan alasan agar tidak dianggap menyimpang. Satu-satunya yang mungkin ia katakan bahwa dia tidak sudi bercinta dengan pelacur rendahan Agelan.

Peter membuka pintu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED