Bab 1

Setiap wanita yang berpikiran terbuka tentu sangat menginginkan dirinya dapat mengenyam pendidikan yang lebih baik, syukur-syukur bisa sampai tingkat sarjana. Begitupun dengan Sindi, gadis yang cerdas ini dulunya memiliki ambisi yang besar untuk dapat menata hari depannya kelak. Cita-citanya ingin menjadi seorang dokter agar dapat menolong orang-orang sakit yang tidak memiliki cukup biaya.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Sindi memang selalu menunjukkan keseriusannya dalam menekuni setiap mata pelajaran. Dia termasuk siswi berprestasi, tiap akhir caturwulan kegiatan belajar di sekolah, Sindi selalu meraih peringkat lima besar di kelasnya. Terkadang namanya berada pada urutan kedua atau ketiga, begitu seterusnya hingga dirinya dapat mempertahankan prestasi itu sampai di kelas enam sekolah dasar.

Mengenyam pendidikan di kota besar seperti Jakarta bukan hal yang sulit bagi Sindi. Selain memiliki kecerdasan dan prestasi, dia pun memiliki kedua orang tua yang masih aktif bekerja pada perusahaan swasta. Sehingga urusan biaya tentu tidak menjadi masalah bagi Sindi. Dia juga memiliki seorang kakak lelaki yang sama cerdasnya dengan dia. Fahri, kakak Sindi yang berusia tiga tahun lebih tua darinya.

Dengan prestasi yang dibawa Sindi dari sekolah dasar, dia dapat dengan mudah untuk diterima masuk sebagai siswi di sekolah menengah pertama negeri. Bahkan saat penerimaan calon siswa siswi tahun ajaran baru, jika didata berdasarkan nilai rata-rata ujian akhir sekolah, namanya termasuk dalam daftar sepuluh teratas dari seluruh siswa siswi satu angkatan. Begitupun ketika Sindi akan masuk ke sekolah menengah atas, lagi-lagi dia sangat mudah untuk diterima di sekolah negeri.

Namun orang tuanya ingin Sindi bersekolah di sekolah swasta. Dengan harapan di sekolah swasta, nantinya Sindi dapat terus mengembangkan kecerdasan serta bakat yang dimilikinya dengan ditunjang oleh fasilitas serta sarana sekolah yang lebih mendukung. Tetapi bagi Sindi pribadi, bersekolah di sekolah negeri saja sudah cukup. Dia berjanji akan tetap berusaha mempertahankan bahkan meningkatkan prestasinya.

Perjalanan hidup semua anak manusia di dunia tidak selalu berjalan mulus, sesuai rencana dan harapan. Berawal dari satu peristiwa memilukan, dimana ketika sang kakak, Fahri menjemput Ibunya pulang dari kantor. Mobil mereka ditabrak oleh bus kota yang ugal-ugalan. Mobil mereka hancur lebur, Fahri dan Ibunya tewas di tempat. Hanya berselang dua bulan dari kejadian naas itu, ayah Sindi mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya. Beliau tidak dapat beraktivitas ke kantor lagi seperti semula.

Usai sudah semua mimpi Sindi untuk meraih cita-cita dan angannya. Siang hari yang terik itu usai menerima kabar kelulusan dari sekolahnya, Sindi bergegas pulang ke rumah namun sesampainya di rumah dia justru mendapati sang ayah telah terjatuh di depan pintu kamar mandi. Dan sejak hari itulah ayahnya dikatakan oleh dokter mengalami kelumpuhan karena ada cedera saraf di tulang belakangnya. Tabungan keluarga mereka perlahan mulai menipis untuk membiayai terapi pengobatan yang harus dilakukan ayah Sindi setiap bulan.

Sindi yang masih awam untuk masuk ke dunia kerja, merasa sangat kebingungan untuk mulai mencari pekerjaan. Meski dulu prestasinya bagus, namun dia hanya lulusan SMA. Di kota besar ini cukup sulit untuk bisa mendapatkan pekerjaan dengan posisi selevel karyawan kantor atau pekerja administrasi. Rata-rata perusahaan sekarang memasang standar D3 atau S1 untuk posisi administrasi. Sindi juga tidak memiliki sanak saudara yang dapat dimintai informasi untuknya mendapat lowongan pekerjaan.

Namun akhirnya keberuntungan berada di pihaknya. Berkat doa dan usahanya mencari pekerjaan lewat iklan di media cetak dan internet, dia berhasil mendapat pekerjaan sebagai penjaga toko keramik yang terdapat di salah satu pusat perbelanjaan grosir di Jakarta. Karena kecerdasan yang dimiliki Sindi, dia dapat dengan mudah dan cepat menguasai bidang pekerjaan tersebut. Sehingga si pemilik toko sangat terkesan padanya dan tidak segan-segan memberikannya bonus tambahan.

Namun pergolakan terjadi dalam pihak intern toko, si pemilik toko berseteru dengan sang kakak mengenai hak waris keluarga. Dengan berat hati, pemilik toko keramik itu terpaksa menutup usahanya. Padahal saat itu Sindi telah bekerja selama kurang lebih lima tahun. Tentu hal ini menjadi pukulan yang sangat besar bagi Sindi.

Ayahnya terus memberi semangat, dukungan serta doa untuknya agar dia bisa segera mendapatkan pekerjaan kembali. Sindi pun selalu menanamkan prinsip untuk mau bekerja apa saja selama itu pekerjaan halal. Setelah menganggur selama satu minggu, ketika Sindi sedang membeli keperluan dapur di tukang sayur sekitar rumahnya, dia ditawari pekerjaan oleh seorang tetangganya yang bernama Bu Mirna.

Bu Mirna memiliki seorang anak gadis yang telah bekerja pada salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang penyaluran tenaga kerja. Mereka akan menyalurkan para tenaga kerja baru ke perusahaan-perusahaan swasta besar di Jakarta. Tanpa berpikir lama, setelah kembali dari tukang sayur, Sindi menceritakan hal itu kepada ayahnya. Ayahnya pun memberikan saran agar Sindi mau mencobanya lebih dulu.

Mengikuti arahan dari Bu Mirna, malam harinya Sindi datang ke rumah Bu Mirna untuk menemui Winda, anak Bu Mirna. Kebetulan malam itu Winda juga sudah berada di rumah. Setelah berbincang panjang lebar, Sindi memutuskan untuk langsung datang keesokan harinya ke kantor Winda untuk membawa berkas lamaran serta dokumen pendukung yang dibutuhkan.

Pagi ini Sindi berangkat bersama dengan Winda, karena sehari-hari Winda berangkat ke kantor mengendarai motornya sendiri. Selama di perjalanan, mereka tidak cukup banyak mengobrol. Hanya sekali-sekali saja Winda memberi saran atau pengarahan kepada Sindi tentang bagaimana dia harus menjawab ketika nanti pihak seleksi karyawan memberikan pertanyaan langsung atau tes tertulis.

Akhirnya Sindi memasuki ruangan dimana dia akan diwawancarai oleh salah satu pihak seleksi karyawan baru. Setelah melihat latar belakang serta pengalaman kerja yang dimiliki Sindi, beliau mengatakan bahwa untuk saat ini pekerjaan yang serupa dengan pengalaman Sindi belum ada permintaan tenaga baru dari perusahaan rekanan mereka. Namun jika memang Sindi ingin secepatnya mendapatkan pekerjaan, mereka dapat merekomendasikan Sindi kepada perusahaan rekanan yang lainnya. Dan tentu bidang pekerjaannya pun berbeda dari pengalaman kerja yang Sindi miliki.

Mereka menawarkan Sindi untuk bekerja sebagai seorang office girl pada sebuah perusahaan yang cukup besar di pusat kota Jakarta. Mendengar tawaran itu, Sindi sempat terdiam beberapa saat. Dia sedang berpikir sejenak, terkadang pekerjaan sebagai office girl atau office boy dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Bahkan terkadang tidak jarang posisi itu juga direndahkan, tapi akhirnya Sindi merasa tidak perlu memusingkan hal itu. Dia tidak akan mempedulikan apa pendapat orang lain. Kini yang sangat dibutuhkannya hanyalah pekerjaan yang halal.

Bab 2

Sindi mengambil keputusan untuk langsung menerima tawaran mereka saat itu juga. Sindi diminta keluar lebih dulu dari ruang seleksi karyawan dan diminta agar menunggu di ruang tunggu, karena pihak penyeleksi akan menghubungi terlebih dulu tim rekrut karyawan di perusahaan rekanan mereka. Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, Sindi diminta masuk kembali ke ruang sebelumnya dan juga diminta mengisikan form biodata serta mengisikan jawaban pada sebuah tes tertulis. Sindi juga diberitahu informasi soal gaji seorang office girl jika nanti dirinya diterima bekerja.

Lalu Sindi dipersilahkan pulang dan akan segera dikabari secepatnya oleh mereka. Keluar dari ruangan itu, Sindi tidak bertemu lagi dengan Winda. Dia memutuskan untuk pamit duluan dengan mengirim pesan singkat. Sindi lantas beranjak pergi dari kantor Winda. Setibanya di rumah, Sindi menceritakan kepada ayahnya tentang hasil wawancara kerjanya pagi tadi. Tentu ayahnya sedikit kecewa mendengar posisi yang ditawarkan mereka kepada anak gadisnya tersebut, namun untuk memberi semangat kepada Sindi, sang ayah berusaha tetap tersenyum dan juga mendukung segala keputusan yang akan Sindi ambil. Ayahnya sangat mengenal sifat Sindi, jika menurut Sindi sesuatu hal itu baik bagi dirinya, maka ayahnya yakin memang itulah yang terbaik.

Tak perlu menunggu waktu lebih lama lagi, keesokan harinya Sindi dihubungi oleh pihak penyalur, yaitu seorang wanita setengah baya yang mewawancarainya kemarin. Beliau memberi kabar bahwa mulai besok Sindi bisa langsung datang untuk bekerja sebagai office girl di perusahaan rekanan mereka yang bernama PT. Tri Intan Selaras. Beliau pun meminta Sindi untuk mencatat alamat lengkap yang didiktekannya lewat telepon, serta Sindi diminta untuk menemui bagian perekrutan yang bernama Ibu Rina di perusahaan tersebut.

Sindi tentu sangat bersyukur dan membagikan kabar gembira itu kepada ayahnya.

“Besok pagi Sindi mulai kerja Yah, di daerah Thamrin. Tapi maaf ya Yah, kalau saat ini Sindi cuma bisa kerja sebagai office girl.”, nada suara yang awalnya ceria perlahan melemah ketika kalimat kedua diucapkan oleh Sindi.

“Iya Sin, ngga apa-apa. Ayah tetap bangga sama Sindi. Sindi mau kerja apapun untuk menyambung hidup kita, itu saja sudah cukup Sin. Maafin ayah ya.. Karena kondisi ayah yang masih seperti ini, ayah belum bisa bantu kamu mencari nafkah.”

“Ngga apa-apa Yah. Ini kan tanggung jawab Sindi sebagai anak Ayah.”

Dan tibalah hari yang dinanti oleh Sindi. Pagi itu dia telah mempersiapkan hari pertamanya bekerja di tempat yang baru. Sindi memiliki bentuk tubuh yang mungil, namun dia memang sangat gesit. Tingginya sekitar seratus lima puluh lima sentimeter, berambut hitam lurus panjang sebahu dan kulitnya sawo matang. Jika amati lebih dekat, Sindi memiliki susunan gigi yang rapi, serta putih bersih. Dia memiliki senyum yang sangat manis. Hidungnya sedang, tidak mancung tapi juga tidak pesek.

Hari ini Sindi mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru langit lengkap dengan celana panjang bahan berwarna hitam. Kemejanya sangat rapi dimasukkan ke bagian dalam celana panjangnya dengan tambahan gesper tipis berwarna cokelat tua. Rambutnya diikat rapi, kuncir kuda. Sejak dulu Sindi tidak suka memiliki poni di rambutnya. Dia selalu menampakkan dengan jelas bentuk dahinya yang cukup lebar.

Tepat pukul setengah sembilan pagi, Sindi telah tiba di lokasi sesuai alamat yang diberikan oleh pihak penyalur. Di hadapannya kini terlihat sebuah gedung pencakar langit yang kaca-kacanya cukup menyilaukan mata, memantulkan sinar matahari pagi. Dengan langkah yang pasti Sindi bergegas masuk ke dalam gedung itu dan melangkah mendekati seorang lelaki tinggi besar berpakaian seragam sekuriti.

“Pagi Pak, PT. Tri Intan Selaras ada di lantai berapa ya Pak?”

“Oh, Tri Intan di lantai lima Mba. Mohon maaf keperluannya apa Mba?”

“Ini Pak, Saya baru mulai bekerja hari ini di PT. Tri Intan.”

“Oh silahkan Mba, ke resepsionis dulu. Nanti tanda pengenalnya ditahan dulu ya supaya diizinkan naik ke atas.”, seraya menunjukkan meja resepsionis yang berada di pojok kanan gedung.

Setelah mengucapkan terima kasih pada bapak sekuriti, Sindi pun melangkah menuju meja resepsionis.

“Permisi, Saya mau ke lantai lima Mba. PT. Tri Intan Selaras.”

“Keperluannya Mba?”

“Saya baru mulai bekerja hari ini.”

“Boleh Saya lihat tanda pengenalnya ?”

Sindi mengangguk dan mengeluarkan tanda pengenal kependudukannya dari dalam dompetnya. Lalu memberikannya ke tangan resepsionis itu.

“Saya tahan dulu ya Mba tanda pengenalnya. Nanti sore silahkan diambil kesini. Sekarang Mba bawa kartu ini untuk tap di pintu itu”, seraya menyerahkan sebuah kartu berwarna putih sebagai akses untuk membuka palang pintu menuju lift.

“Oh.. Oke Mba.”, Sindi menerima kartu itu dan membolak balik memperhatikannya.

“Nanti Mba akan dapat kartu pengenal khusus dari perusahaan, untuk dapat akses keluar masuk gedung ini.”

“Oh gitu Mba. Makasih infonya ya.”, seraya tersenyum Sindi meninggalkan meja resepsionis.

Sindi berjalan menuju lift, dia pun melesat naik ke lantai lima. Begitu pintu lift terbuka, di depan mata Sindi terhampar luas sebuah ruangan dengan pencahayaan yang sangat terang, berpintu kaca tembus pandang. Dari luar tampak jelas tertulis PT. Tri Intan Selaras menempel pada dinding atas meja resepsionisnya. Sindi pun langsung melangkah, memasuki kantor tersebut.

“Pagi Mba.”

“Iya Pagi. Ada yang bisa Saya bantu?”, resepsionis perusahaan itu tersenyum ramah.

“Saya Sindi, mau bertemu Ibu Rina. Saya yang mau kerja buat office girl disini.”

“Oh, sebentar Saya hubungi Bu Rina dulu ya Mba. Silahkan duduk dulu.”, resepsionis itu tampak melirik wajah dan penampilan Sindi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Meski mulutnya sedang bicara dengan Bu Rina melalui telepon. Tampaknya dia kurang yakin bahwa Sindi akan bekerja sebagai office girl.

“Mba, silahkan masuk. Mari Saya antar.”

Sindi bangkit dari tempat duduknya dan melangkah membuntuti resepsionis itu ke dalam, lalu mereka memasuki salah satu ruangannya.

“Permisi, Bu ini yang mau kerja.”

“Oh iya, silahkan masuk.”, Bu Rina mempersilahkan Sindi masuk ke ruangannya. Sementara resepsionis tadi telah pergi meninggalkan mereka setelah menutup kembali pintu ruangan itu.

“Ini Sindi ya?”, tanya Bu Rina dengan senyum yang juga ramah kepada Sindi.

“Iya Bu.”

“Sudah siap kerja hari ini?”

“Ya Bu, Saya siap.”

“Jadi, kemarin soal gaji kamu sudah tahu ya.. Kalau jam kerja disini jam setengah sembilan pagi sampai jam setengah enam sore. Hari Sabtu ngga libur, pulangnya jam dua belas siang. Nah, karena kamu di office girl jadi kalau datang jam delapan pagi sudah sampai disini ya. Pulangnya disesuaikan saja.”

“Oh, iya baik Bu.”

“Soalnya terkadang kita malah perlu bantuan kamu di jam-jam terakhir.”

“Iya Bu, Saya paham.”

“Ini Saya masih ada seragam”, seraya menunduk mengambil seragam baru untuk office girl dari laci besar di bawah meja kerjanya. “Boleh langsung dipakai saja di toilet, mudah-mudahan ngga kebesaran ya Sin.”, seraya tersenyum menyerahkan sebuah plastik bening berisi seragam baru berwarna dasar biru langit dengan aksen kotak-kotak biru tua.

Sindi menerimanya dan mengucapkan terima kasih.

“Oh iya Bu, kalau kartu yang untuk bisa keluar masuk gedung ini gimana Bu?”

“Itu nanti ya, seminggu setelah kamu bekerja, nanti baru Saya kasih. Jadi selama belum dapat kartu itu, setiap pagi kamu lapor dulu ke resepsionis yang di bawah tadi.”

“Oh, baik Bu kalau gitu.”

Sindi keluar dari ruangan Bu Rina dengan membawa serta plastik berisi seragam tadi. Dia cukup bingung mencari dimana toiletnya. Dia pun memutuskan untuk bertanya saja kepada resepsionis yang mengantarnya tadi. Dan ternyata toiletnya berada di luar area kantor, tepatnya toilet tersebut dipergunakan bersama oleh seluruh penghuni gedung. Sindi pun bergegas menuju toilet dan mengganti kemeja yang dikenakannya tadi dengan seragam office girl yang baru didapatnya dari Bu Rina.

Bab 3

Situasi toilet sedang sepi saat itu. Hanya ada Sindi disana. Setelah rapi mengenakan seragamnya, Sindi mematutkan diri di depan cermin melihat penampilannya yang baru. Dia bergegas kembali ke kantor menemui Bu Rina.

Bu Rina mengajak Sindi untuk berkeliling ke dalam area kantor, untuk memperkenalkan dirinya kepada seluruh karyawan. Serta memberitahu dimana letak pantry yang akan menjadi tempat stand by bagi office girl apabila belum mendapat tugas dari para karyawan.

Pertama, Sindi diarahkan oleh Bu Rina ke ruang pantry agar dia bisa meletakkan dahulu tas yang sejak tadi masih ditentengnya di tangan. Bu Rina juga bercerita sekilas tentang office girl yang bekerja disana sebelumnya. Office girl tersebut telah mengundurkan diri karena ingin kembali ke kampung halamannya untuk merawat ibunya yang sakit-sakitan.

Kantor ini tidak begitu luas dan jumlah karyawannya juga hanya sekitar tiga puluh orang termasuk yang sering bertugas diluar kantor. Maka office girl yang dibutuhkan cukup satu orang saja. Dan perusahaan ini bergerak di bidang distribusi makanan beku. Pemimpin utamanya adalah suami Bu Rina sendiri yang bernama Pak Alex. Sedangkan Bu Rina sendiri selaku wakil dari Pak Alex yang juga menjabat sebagai personalia.

Ruangan pantry berada di pojok sebelah kiri bagian dalam ruangan. Di dalamnya terdapat kitchen set, lemari es yang berukuran cukup besar, dispenser air panas, meja makan yang cukup untuk enam orang, sebuah sofa panjang serta peralatan dapur lainnya. Pantry ini tampak sangat bersih dan harum, karena pada dua sisi dindingnya dipasangi dua buah pewangi ruangan otomatis yang akan menyemprotkan wanginya ke seluruh ruangan pantry beberapa menit sekali.

Dari pantry, Bu Rina membawa Sindi menemui satu persatu karyawan disana. Agar mereka dapat lebih akrab berkenalan, karena nantinya tenaga Sindi akan sangat dibutuhkan untuk turut mendukung pekerjaan mereka. Tentu semuanya tampak antusias, mereka senang menyambut kehadiran office girl baru di kantor mereka. Mereka juga terlihat begitu ramah memperkenalkan diri serta menyapa Sindi. Namun setelah Sindi berlalu dari salah satu meja kerja, tampak dua orang gadis yang saling mendekatkan dirinya satu sama lain. Sambil mengamati penampilan Sindi dari belakang, mereka lantas berbisik mengomentari Sindi.

“Ngga salah Mi? Lumayan lho, cakep orangnya.”

“Iya ya. Kelihatannya juga masih muda.”

Mereka berdua adalah Dita dan Mimi, yang keduanya memang sering mengomentari gerak gerik maupun penampilan orang lain di kantor itu. Namun sebenarnya mereka berdua adalah gadis-gadis yang sangat baik dan juga perhatian pada kesulitan orang lain. Mereka juga dapat bergaul dengan supel tanpa memandang posisi atau jabatan orang lain. Mereka sangat mampu berteman dengan siapa saja.

Setelah yakin bahwa Sindi telah memahami semua yang dijelaskan olehnya, Bu Rina pun beranjak meninggalkan Sindi di ruang pantry.

“Saya tinggal ya Sin. Kamu bisa sambil bersih-bersih, kalau belum ada kerjaan ya ngga apa-apa disini dulu. Nanti juga ada kok yang butuh bantuan kamu, kamu pasti dipanggil.”, Bu Rina sangat baik dan apa adanya dalam berbicara kepada Sindi, sehingga Sindi tidak terlalu tegang di hari pertamanya ini.

Setelah Bu Rina pergi meninggalkan ruang pantry, Sindi berdiri di depan kitchen set. Membuka satu persatu ruang pada kitchen set di hadapannya, mempelajari apa saja isi di dalamnya. Kemudian dia mulai memegang sebuah kain lap berwarna biru dongker. Sindi hendak mengelapi meja makan yang jaraknya hanya dua langkah dari kitchen set. Belum sempat melangkah mendekati meja, suara tuas pintu pantry terdengar ada yang membukanya dari luar.

“Sindi, sini yuk tolong bantu Saya.”, Dita menghampiri Sindi diiringi senyuman dan mengajaknya bersama-sama ke area kerja para karyawan. Sindi urungkan niatnya mengelapi meja makan, dia bergegas membuntuti di belakang Dita. Sambil melangkah menuju area kerja, Dita mengajak Sindi mengobrol.

“Sebelumnya kerja office girl juga, Sin?”

“Bukan Mba, tadinya kerja di toko. Ngelayanin pembeli.”

“Oh, toko apa?”

“Toko keramik, tapi sekarang sudah ditutup sama yang punya.”

Tampak area kerja yang luas dengan sekat partisi yang berbahan aluminium, membatasi ruang gerak masing-masing karyawan. Di pojok sana terdapat sebuah mesin foto kopi serta sebuah meja yang di atasnya terdapat mesin faximile. Masih sejajar dengan letak meja faximile, tampak dua buah pintu yang jaraknya tidak terlalu jauh. Satu ruangan adalah ruang kerja Pak Alex dan berada di sampingnya adalah ruang kerja Pak Ronald, yaitu kakak kandung Bu Rina yang menjabat sebagai manager operasional di perusahaan itu.

Saat ini Pak Alex dan Pak Ronald sedang berada diluar kota, maka mereka belum mengetahui keberadaan office girl baru di kantor mereka.

Dita membuka penutup pada mesin foto kopi seraya mulutnya terus berbicara pada Sindi. Sindi pun berdiri cukup dekat dengan tempat Dita berdiri.

“Sini Sin, dekat Saya! Nih caranya kalau mau foto kopi. Kalau kertasnya sudah ditaruh situ, ini tombolnya tinggal kamu tekan mau berapa lembar jadinya. Terus tekan start yang ini. Tungguin deh, nanti dia keluar disitu. Jangan tekan apa-apa lagi ya! Ini sudah disetting tinggal pakai.”

Sindi mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Dita sambil memperhatikan gerak gerik yang dilakukan Dita saat mencontohkannya melakukan kegiatan foto kopi. Sindi pun mengangguk sebagai tanda bahwa dirinya telah mengerti.

“Iya Mba, oke.”

Dita dan Sindi berdiri di samping mesin foto kopi menunggu hingga mesin itu selesai mengopi selembar kertas milik Dita.

“Nih hasilnya, sudah sesuai jumlah yang Saya tekan tadi.”, ucap Dita sambil kedua tangannya mengambil hasil foto kopi di bakinya dan kemudian menunjukkannya kepada Sindi. Sindi pun kembali mengiyakan apa yang ditunjukkan oleh Dita.

“Nah, sekarang Sindi ikut Saya ke meja. Nih duduk sini!”, pinta Dita kepada Sindi seraya menyeret pelan kursi plastik berwarna merah dari bawah kolong meja kerjanya. Dan meletakkan kursi itu di sisi samping kanan meja. Kini Sindi telah duduk di bangku plastik itu sedangkan Dita juga telah duduk di kursi kerjanya sendiri.

Dita meletakkan kertas hasil foto kopi tadi yang berjumlah tiga puluh lembar di ujung meja, tepat di hadapan Sindi. Dita mengeluarkan sekotak amplop putih panjang dari lemari di bawah meja kerjanya.

“Ini Sin, tolong kamu lipat surat pemberitahuan ini. Semua sampai habis. Saya kasih contoh dulu ya, biar seragam posisi kertasnya, jadi rapi.”

“Iya Mba.”, kedua mata Sindi memperhatikan dengan teliti bagaimana cara Dita melipat kertas surat itu hingga memasukkannya ke dalam amplop putih yang tadi sudah disediakan oleh Dita di samping tumpukan kertas itu.

“Nah, ini kepalanya di atas semua jangan dilipat ke dalam. Jadi pas amplopnya dibuka langsung kebaca kepala suratnya. Gampang kan? Saya kerjain yang lain dulu ya.”, ucap Dita seraya tersenyum ramah kepada Sindi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED