Pagi yang dingin dengan suara hujan di luar rumah semakin meninabobokan semua orang yang berlindung di bawah selimut tebal. Begitupun dengan seorang gadis cantik berkulit putih yang semakin terlelap dalam tidurnya.
"Elena," terdengar suara ketukan di luar pintu kamarnya. "Sayang, bangun! Ini sudah adzan subuh. Nanti waktu sholatnya habis. Elena!"
Tidak ada jawaban, sepi. Hanya terdengar suara hujan dari arah luar rumah.
"Sayang, bangun! Nanti waktu subuhnya habis!" Terdengar lagi suara ketukan. "Elena, bangun!"
Terlihat Elena menggeliat. Matanya yang tertutup rapat berusaha untuk dibuka.
"Elena! Bangun, cepat sholat subuh. Nanti waktunya habis."
"Dingin sekali," gumamnya pelan dengan suara serak menarik kembali selimut tebalnya.
"Bangun nak!"
"Jam berapa ini?" Matanya yang sulit dibuka melihat jam dinding Hello Kitty yang terpasang.
Terdengar lagi suara panggilan dari luar kamarnya. "Sayang bangun!"
"Iya Ma! Aku sudah bangun," teriak Elena dengan suara serak.
"Cepat sholat subuh, nanti waktunya habis," jawab Mamanya dari luar pintu kamar.
"Iya!" Dengan rasa malas yang menggelayuti dirinya, Elena menyibakkan selimut tebal yang menutupi tubuhnya. "Ahhh, dingin sekali."
Elena turun dari tempat tidur langsung masuk ke dalam kamar mandi. "Kalau bukan karena kewajibanku, aku tidak mau memegang air dingin. Aduh, mana dingin banget lagi nih air."
Elena cepat-cepat membersihkan dirinya dan segera mengambil air wudhu. Sebagai seorang muslim, sudah tentu merupakan suatu kewajiban jika dirinya harus menjalankan kewajiban lima waktu.
"Kamu sudah sholat sayang?" Tanya Mama begitu melihat putri kesayangannya datang mendekat.
"Sudah," jawab Elena menarik salah satu kursi meja makan.
"Anak pintar," puji Mama. "Mau susu putih atau susu coklat?"
"Susu coklat," jawab Elena. "Juga roti bakar isi coklat."
"Iya," Mama dengan telaten menyiapkan semua yang dipinta putrinya.
"Papa mana? Biasanya sudah duduk manis di sini menemani Mama."
"Tadi ada di sini, tapi katanya sakit perut. Mungkin Papa kedinginan, karena dari tadi malam hujan tidak berhenti," jawab Mama.
"Papa masuk angin kali Ma."
"Sepertinya begitu," jawab Mama.
Tidak lama masuk Papa masih memakai kain sarungnya. "Aduh, leganya perut Papa."
"Papa sakit perut?" Tanya Elena.
"Iya, tapi sekarang sudah tidak sakit perut lagi," jawab Papa. "Kamu sudah sholat subuh?"
"Sudah Pa."
"Bagus, anak pintar. Itu kewajiban kamu sebagai seorang muslim. Jangan pernah tinggalkan sholat karena sholat merupakan tiang agama. Ok sayang!" Ucap Papa tersenyum melihat Elena.
"Iya Pa."
"Papa mau minum apa?" Tanya Mama. "Susu atau kopi?"
"Papa mau kopi, tapi jangan terlalu manis," jawab Papa.
"Mau roti bakar juga?"
"Iya dong, masa kopi doang," jawab Papa.
"Memang si mbak ke mana Ma?" Tanya Elena baru menyadari tidak ada asisten rumah tangganya.
"Mbak lagi pulang kampung, kemarin sore minta ijin pulang karena Ibunya sakit. Tapi nanti siang katanya mau balik lagi ke sini. Pulang hanya untuk mengantar Ibunya ke Dokter," jawab Mama.
"Memangnya tidak ada orang lain yang mengantar Ibunya ke Dokter. Sampai si mbak yang harus pulang?" Tanya Papa.
"Iya, pekerjaan rumah jadi berat kalau tidak ada si mbak," sambung Elena.
"Kan ada kamu yang bantu Mama," jawab Mama.
"Nggak ah, aku mau kuliah. Terus nanti pulang juga harus bantu Papa kerja," jawab Elena.
"Dasar malas. Kerja bantuin Papa juga tidak setiap hari," jawab Papa.
"He-he-he."
"Jam berapa kamu masuk kuliah?" Tanya Papa.
"Nanti agak siangan. Dosennya hari ini kurang aku sukai."
"Masa begitu sama Dosen," ucap Papa.
"Iya, Dosennya memang begitu, bukan aku saja yang tidak menyukainya."
"Jangan begitu tidak baik," tegur Mama.
Elena terdiam, diambilnya susu coklat panas yang ada didepannya. "Enak sekali dingin-dingin begini minum susu coklat."
"Berdoa dulu sebelum minum atau makan apapun," tegur Mama.
"Sudah Ma dalam hati, memang kalau berdoa harus selalu terdengar?" Jawab Elena.
"Kamu ini selalu saja ada buat menjawab," ucap Papa sambil meniup kopi panasnya.
"Iya, dasar bandel," sambung Mama.
"Bandel juga anak Papa dan Mama," jawab Elena. "Bandel, tapi cantik dan baik hati."
Mama mencibir melihat putrinya. "Mudah-mudahan ada laki-laki yang mau sama kamu."
"Eh, Mama sembarangan saja. Begini-begini, bentukan model kayak aku ini banyak yang mau. Mama saja yang tidak tahu," jawab Elena.
"Memangnya kamu punya pacar?" Tanya Papa.
"Tidak," jawab Elena tersenyum penuh arti.
"Bohong! Melihat kamu tersenyum begitu pasti kamu punya pacar," bantah Mama.
"Apa sih Mama ini, memang aku tidak punya pacar. Tapi baru mau punya pacar. He-he-he."
"Kecil-kecil sudah ingin punya pacar!" Kata Papa.
"Kecil apaan sih Pa! Aku ini sudah kuliah, sudah besar. Temanku saja sudah berapa kali berganti pacar. Masa aku tidak boleh punya pacar."
"Jangan ikut-ikutan temanmu," kata Papa.
"Pacar itu penyemangat hidup Pa. Kuliahku bisa tambah semangat dengan punya pacar," jawab Elena tersenyum manis.
"Kamu ini selalu ngeyel kalau dikasih tahu. Laki-laki jaman sekarang sudah jarang yang benar-benar tulus mencintai wanita. Kamu harus berhati-hati. Jangan sampai termakan bujuk rayunya. Ingat kamu itu masih gadis, jangan kamu jual harga dirimu hanya karena cinta. Ingat itu ya baik-baik!" Mama mengingatkan.
"Iya Ma, tenang saja. Aku juga masih punya otak untuk dipakai berpikir."
"Bagus! Mama tidak mau kamu salah arah dalam menentukan pilihan. Jauh cinta boleh, tapi tetap harus pakai logika!" Ucap Mama lagi.
"Iya Ma. Cinta pakai logika!" Jawab Elena.
Begitulah suasana pagi di dapur keluarga Prasetyo Darmawan setiap hari sebelum memulai aktifitas rutin setiap harinya.
Suara klakson mobil yang saling bersahutan selalu mewarnai hiruk pikuknya jalan raya di Ibukota. Terlihat seorang gadis berkulit putih dengan rambut berponi serta rambut yang diikat ekor kuda baru saja turun dari bis.
"Elena!" Teriak suara cempreng dari arah belakang. "Elena!"
Yang merasa namanya dipanggil langsung menghentikan langkahnya dan melihat ke sekeliling yang terlihat banyak orang.
"Gue di sini!" Teriak seseorang melambaikan tangan dari jarak beberapa meter yang terhalang beberapa orang didepannya.
"Dewi."
"Hai, gue memanggil loe dari tadi," ucap Dewi begitu ada di depan Elena.
"Banyak orang di sini gue tidak mendengarnya," jawab Elena kembali meneruskan langkahnya.
"Gue lihat tadi loe baru turun dari bis. Memangnya loe tidak diantar bokap?" tanya Dewi.
"Kagak! Memangnya kenapa kalau gue naik bis, sah-sah saja!" jawab Elena.
"Iya sih, tapi biasanya loe selalu diantar bokap secara loe itu anak kesayangan. Putri satu-satunya yang takut tergores lecet. Ibarat berlian, loe itu jangan sampai retak rusak dan pecah."
"Jangan ngawur deh kalau ngomong. Gue biasa saja," jawab Elena terus melangkah memasuki gerbang kampusnya.
Elena dan Dewi melangkahkan kakinya menuju ke kelas, karena sebentar lagi akan ada kuis.
"Elena!" Terdengar suara memanggil dari arah sudut ruangan begitu kakinya menginjak lantai ruang kelas.
"Apa?" Tanya Elena.
"Duduk di sini," temannya yang memanggil menepuk kursi kosong yang ada disebelahnya.
"Kita duduk di sana yuuk!" Ajak Dewi.
Elena mengikuti Dewi. "Kalian berdua senang sekali duduk dipojokkan begini."
"Karena Dosennya sudah tua, jadi gue lebih senang dipojokkan. Setidaknya mataku terjaga dari polusi," jawab Dewi seenaknya.
"Hush! Jahatnya mulut kau itu!" Jawab Elena.
"Loe sudah lama di sini?" Tanya Dewi ke temannya yang tadi memanggil.
"Cukuplah bikin pantat gue karatan," jawab temannya menggeser duduknya agar cukup untuk tiga orang.
"Febri, tumben loe datang lebih awal dari kita," Elena langsung duduk.
"Gue gabut di rumah. Bokap nyokap gue lagi berantem, mending gue cabut daripada lihat mereka berantem. Pusing kepala gue," jawab Febri. "Sudah tua bukannya pada insaf, ini malah setiap hari berantem. Masalah kecil bisa jadi besar," jawab Febri.
"Masih saja mereka berantem? Kasihan banget sih loe, setiap hari lihat bonyok berantem. Yang sabar ya," Dewi memberi semangat.
"Tau dah, pusing gue," ucap Febri pelan.
"Memang hampir setiap hari bonyok loe berantem?" Tanya Elena.
"Iya, mereka berdua itu sudah seperti Tom and Jerry, Abang gue malah pernah tidak pulang berapa hari saking kesalnya melihat bonyok berantem," jawab Febri.
"Kamu sih enak Elena, bonyok loe akur-akur saja," ucap Dewi.
"Kadang bonyok gue juga berantem, tapi tidak pernah berantem gede sampai kayak perang dunia. Mereka kalau berantem juga di dalam kamar, cuma ribut-ribut kecil beda pendapat saja," jawab Elena.
"Tiap orang punya masalah sendiri-sendiri. Semoga saja suatu saat nanti, gue punya pasangan hidup yang sayang dan baik sama gue," ucap Febri.
"Aamiin," Elena dan Dewi mengaminkan temannya.
Tidak lama kemudian Dosen pembimbing masuk, suara becanda yang tadi memenuhi ruangan seketika hilang. Semuanya sekarang fokus melihat ke depan.
Waktu terus beranjak pergi, jam telah menunjukan angka di siang hari. Semua mata kuliah telah Elena lewati sampai selesai dan sekarang tiba waktunya untuk pulang.
"Loe mau pulang naik apa?" tanya Dewi.
"Naik taksi," jawab Elena. "Tapi pasti mahal, sayang duit."
"Naik bus saja," usul Febri. "Gue juga mau naik bus."
"Iya, yuk naik bus Elena. Ngapain sih naik taksi, rumah loe itu jauh. Berapa tuh argonya kalau naik taksi?"
"Iya, gue naik bus. Tapi kalau ada yang gangguin gue, kalian berdua lawan ya," jawab Elena.
Dewi dan Febri serentak mencibir. "Baik Tuan Putri Elena Marlyana Darmawan!"
"He-he-he. Good! Anak baik, gitu dong kalau menjaga temannya. Harus totalitas!"
"Totalitas Mbahmu!" Jawab Dewi.
"Ayo cabut! Kalian mau nginap di sini atau apa?" Elena langsung pergi dengan membawa tas serta buku di tangannya.
Ketiga gadis muda itupun pergi meninggalkan kampus tempat mereka menuntut ilmu. Sebuah Universitas yang cukup terkenal, selalu menghasilkan alumnus-alumnus yang hebat.
Peluh yang menghiasi kening Elena sesekali dihapusnya dengan tisu yang tidak pernah lepas dari tangannya. Kulit putihnya terlihat merah karena teriknya panas matahari dan juga cuaca yang sangat panas apalagi berada di dalam bus yang penuh sesak.
"Kita tidak kebagian tempat duduk," bisik Dewi di telinga Elena yang berada dekat dengannya.
"Tidak masalah, yang penting kita bisa ikut naik," jawab Elena. "Perutku sudah lapar ingin cepat pulang."
"Iya sama, gue juga lapar," bisik Febri disamping Elena.
"Bagaimana kalau kita cari tempat makan sebelum pulang?" Dewi memberi usul.
"Boleh juga," jawab Elena. "Sumpah! Gue lapar banget. Tadi pagi cuma makan roti bakar, setelah itu tidak makan apa-apa lagi."
"Ok deal! Kita turun dari bus cari makan. Sudah lama juga kita tidak makan di luar," jawab Febri. "Gue juga agak malas mau pulang."
"Ok!" Jawab Elena dan Dewi serempak.
Bus yang mereka tumpangi semakin lama semakin sesak sehingga Elena, Dewi dan Febri memutuskan untuk turun.
"Pak sopir stop!" Teriak Febri menghentikan bus.
"Di sini neng?" Tanya sopir.
"Iya Pak. Stop!" Jawab Febri.
Bus berhenti tepat disamping trotoar. "Cepat neng, cepat turunnya!"
"Ayo cepat turun!" Febri menarik tangan Elena, begitu juga dengan Elena yang menarik tangan Dewi.
"Terima kasih Pak," teriak mereka bertiga setelah berhasil turun dengan susah payah karena di depan mereka banyak orang yang juga berdiri.
"Sekarang kita ke mana?" Tanya Febri menghapus peluh yang ada di lehernya dengan tisu.
"Cari makan," jawab Elena dengan wajah yang merah karena teriknya panas matahari.
"Ayo, gue tahu tempat makan yang enak. Di sana juga sering ada cogan yang makan. Siapa tahu ada satu yang nyangkut," ajak Dewi.
"Ayo, gue haus banget," jawab Elena mengikuti Dewi yang jalan di depan mereka berdua.
"Gue tidak mau tempatnya yang jorok ya," kata Febri.
"Nggaklah! Gue juga tidak mau kalau tempatnya jorok," jawab Dewi berjalan di depan mereka.
"Matahari hari ini tidak bersahabat. Kalian merasa tidak sih, terik matahari rasanya pedes banget di kulit?" Tanya Elena.
"Terasa dong, loe pikir kulit kita kulit badak apa? Sampai panas terik begini tidak merasakan apa-apa," jawab Febri.
"Gue pikir kalian tidak merasakan apa-apa. He-he-he," ucap Elena terkekeh.
"Nah itu tempatnya," tunjuk Dewi pada sebuah tempat yang lebih mirip seperti sebuah cafe.
"Kelihatan nyaman tempatnya," jawab Febri melihat di depan cafe banyak meja-meja yang dipayungi payung besar.
"Memang tempatnya nyaman, makanannya juga murah meriah. Itu tempat nongkrong para mahasiswa yang bajetnya pas pasan. He-he-he. Seperti kita," jawab Dewi.
"Kita? Loe saja kali," jawab Febri.
Mereka bertiga masuk ke dalam cafe. Lebih memilih duduk di dalam, karena di luar cuacanya sangat panas.
"Kalian mau pesan apa?" Tanya Elena melihat buku menu yang sudah ada di atas meja.
"Spaghetti dan minumnya juice jeruk saja," jawab Febri.
"Aku juga sama," jawab Elena. "Kalau bisa juicenya jangan lama-lama. Aku sangat haus."
Dewi memanggil salah satu pelayan untuk memesan makanan dan minuman. "Jangan pakai lama ya. Kita sudah kelaparan dan kehausan."
"Ok siap!" Jawab pelayan yang umurnya tidak jauh berbeda dengan mereka bertiga.
"Ganteng juga dia," bisik Febri melihat pelayan itu pergi.
"Dia mahasiswa juga, anak hukum. Nyambi di sini untuk biaya kuliah," jawab Dewi.
"O ya? Boleh juga tuh," Febri tersenyum. "Siapa namanya?"
"Galang. Loe buta tidak lihat namanya yang nempel dibaju," ucap Dewi.
"Galang, lumayan juga. He-he-he," Febri terkekeh. "Lumayan buat ngemil."
"Gila loe, orang dicemilin. Ha-ha-ha," Dewi tertawa terbahak.
"Sst! Ketawa loe jangan kenceng begitu. Malu dilihatin orang!" Tegur Elena melihat ke arah kumpulan beberapa orang yang duduknya tidak jauh dari meja mereka.
Dewi dan Febri langsung melihat ke meja yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.
"Wow, ternyata di sana banyak cowok ganteng," bisik Dewi langsung berubah manis mengatur rambutnya. "Cogan ladies."
"Iya, tadi kayaknya tidak ada orang yang duduk di sana. Kapan mereka datang?" Tanya Febri sambil diam-diam merapikan bajunya.
"Waktu kita lagi pesan makanan, mereka baru masuk," jawab Elena.
"Pantas gue tadi tidak melihat mereka," bisik Febri. "Mereka ganteng-ganteng. Idaman gue banget."
Elena hanya menarik napas melihat tingkah polah kedua temannya.
"Tapi lihat," Febri berbisik pada Elena. "Di antara mereka berempat ada yang melihat ke arahmu dari tadi."
Elena mengernyitkan alisnya. "Tidak ada, jangan ngarang loe!"
"Apa?" Tanya Dewi yang tidak mengerti.
Febri berbisik pada Dewi. "Di antara mereka berempat ada yang ngelihatin si Elena dari tadi."
"Yang mana?" Tanya Dewi antusias.
"Yang rambutnya paling rapi, paling cakep," jawab Febri. "Pakai jaket coklat."
"Cakep banget," bisik Dewi setelah melihat orang tersebut.
"Elena!" Panggil Febri tersenyum. "Cieee, ada yang terjerat pesonamu. He-he-he."
"Apaan sih kalian ini. Orang cuma ngelihatin doang sudah berpikir yang aneh-aneh. Mungkin dia ngelihatin gue karena mirip emaknya," jawab Elena.
"Ha-ha-ha. Betul juga apa katamu. Mungkin saja kamu dilihatin karena mirip emaknya," jawab Dewi tertawa.
"He-he-he," Febri juga ikut terkekeh.
"Lama banget sih pesanannya. Gue haus banget," gerutu Elena.
"Itu datang," tunjuk Dewi dengan matanya pada pelayan yang sedang berjalan ke arah mereka.
Febri tersenyum manis melihat Galang yang datang membawa nampan berisi makanan dan minuman pesanan mereka.
"Terima kasih," ucap Febri melihat Galang setelah selesai mengatur semua pesanan di atas meja.
"Sama-sama," jawab Galang tidak kalah ramah. "Selamat menikmati."
"Akhirnya datang juga," ucap Elena mengambil gelas juice jeruknya.
"Jangan lupa berdoa," ucap Dewi melihat Elena.
"Haruskah gue berdoa dengan teriak-teriak? Dalam hatipun sudah cukup," jawab Elena langsung menyeruput juice jeruknya.
"Segar sekali juice jeruknya," Febri langsung menghabiskan hampir setengah gelas.
"Iya, segar sekali. Tadi rasanya gue seperti hidup dipadang pasir," jawab Elena tanpa sengaja tatapannya bertabrakan dengan pria yang dari tadi melihat dirinya. Entah perasaan apa yang terjadi, tiba-tiba jauh di dalam hatinya seperti ada perasaan berdesir ketika matanya bertemu dengan iris mata pria itu.
"Spaghetinya terlihat lezat, benar tidak Elena?" Tanya Febri melihat Elena yang terlihat gugup.
Dewi yang juga melihat Elena berubah gugup merasa heran. "Ada apa denganmu?"
"Eh, apa?" Tanya Elena berusaha mengusir kegugupannya setelah merasakan hatinya yang tiba-tiba menjadi tidak karuan.
Dewi dan Febri saling berpandangan merasa aneh dengan Elena.
"Loe baik-baik saja kan?" Tanya Dewi.
"Memangnya kenapa gue?" Tanya Elena kembali menyeruput juice jeruknya untuk mengusir rasa gugupnya.
"Aneh bin ajaib," jawab Dewi.
"Kalian berdua yang aneh, gue baik-baik saja disangka aneh," jawab Elena tidak mau kalah.
"Sudahlah! Kalian mau mengobrol atau makan?" Febri langsung mengeksekusi spagheti yang dari tadi sudah menggodanya.
"Iya, perut gue sudah lapar dari tadi." Dewi langsung mengikuti Febri mengeksekusi spagheti.
Berbeda dengan Elena, perutnya memang lapar tapi begitu sudut matanya melihat pria itu yang terus saja memperhatikan dirinya membuat selera makannya hilang. Sehingga tanpa sadar spagheti yang ada didepannya hanya dipandanginya saja.
"Elena! Itu bukan sesajen yang tidak boleh dimakan. Kenapa spaghetinya hanya loe pandangi saja?" Tanya Dewi.
"Iya, katanya tadi sangat lapar," sambung Febri. "Sekarang tidak dimakan. Aneh banget sih loe?"
"Loe baik-baik sajakan?" Tanya Dewi heran melihat Elena.
"Spaghetinya masih panas," jawab Elena beralasan.
"Panas apanya? Ini sudah dingin," jawab Febri. "Ayo makan, jangan bengong begitu. Nanti loe kemasukan setan cafe, gue nggak tanggung jawab."
Elena akhirnya makan juga spaghetinya dengan berusaha untuk tidak melihat lagi pria yang terus saja memperhatikan dirinya. Cakep sih cakep, tapi kalau dilihatin seperti itu bisa salah tingkah juga.
Setelah cukup lama duduk di cafe dan melihat matahari yang sudah tidak terlalu terik, akhirnya Elena, Dewi dan Febri memutuskan untuk pulang.
"Kita naik apa lagi ini?" Tanya Elena setelah mereka berjalan di trotoar.
"Naik angkutan umum saja. Gue males naik bus kayak tadi, bau keringat dari kiri kanan," jawab Febri.
"Iya, tadi juga gue hampir muntah karena bau keringat. Secara kaliankan tahu kalau gue tidak suka dengan yang bau-bau keringat," jawab Elena.
"Naik angkutan umum juga sama, bau keringat," ucap Dewi. "Bagaimana kalau kita naik taksi, bayarnya patungan."
"Boleh juga tuh," Elena langsung setuju.
"Iya boleh, kita bertiga juga searah. Nanti loe yang turun belakangan," Febri melihat Dewi.
"Iya, gue tahu rumah gue yang paling jauh," jawab Dewi.
"Nah itu taksinya," tunjuk Elena langsung menghentikan taksi yang lewat.
Ketiga gadis itupun segera naik taksi, tanpa mereka sadari dari jarak beberapa meter, dua orang pria yang tidak jauh berbeda umurnya sedang memperhatikan mereka.
"Hai bro, lihat apa loe?" tanya pria yang tubuhnya lebih pendek.
"Gadis itu," jawabnya tersenyum.
"Gadis yang tadi di cafe itu?" Tanyanya lagi.
"Iya, gadis itu sangat cantik," jawabnya lagi.
"Jangan-jangan loe jatuh cinta pada pandangan pertama. Ha-ha-ha. Kenapa tidak loe samperin tadi di cafe ajak kenalan?"
"Nanti gadis itu takut sama gue," jawabnya.
"Tapi sekarang loe kehilangan gadis itu. Mau dicari ke mana coba sekarang gadis itu, sudah pergi hilang entah ke mana."
"Tidak masalah, jodoh takkan ke mana. Gadis itu pergi ke kutub Utara sekalipun, tapi kalau sudah berjodoh denganku, pasti bertemu lagi," jawabnya.
"Ha-ha-ha. Bisa saja loe, emang seorang Mr. Rovaldo Bastian tidak ada duanya kalau sudah bicara kata-kata bijak. Top markotop."
"Gue dilawan!" jawab Rovaldo membuka pintu mobilnya. "Loe mau ikut pulang kagak?"
"Ikutlah, ngapain gue naik taksi kalau ada tumpangan gratis. Lumayan buat menghemat pengeluaran bulanan gue," jawab temannya langsung masuk ke dalam mobil.
Sementara itu di dalam taksi, Elena sibuk dengan ponselnya yang terus menerus mengeluarkan notif pesan. "Siapa sih ini, kirim pesan banyak banget?"
"Siapa?" tanya Dewi yang duduk disebelahnya.
"Penggemar loe kali," jawab Febri dari kursi depan.
"Penggemar apaan, memangnya gue artis ada penggemar segala," jawab Elena.
"Coba lihat siapa?" tanya Dewi penasaran.
"Kepo banget sih loe," ucap Elena membuka notif pesan yang masuk.
"Siapa?" tanya Febri.
"Dari nyokap nanyain kenapa sudah sore belum pulang," jawab Elena.
"Dasar anak Mommy, pulang telat saja ditanyain. Kalau gue boro-boro ditanyain, kayaknya kagak pulang setahun juga kagak bakalan dicariin," ucap Febri yang teringat kedua orangtuanya selalu bertengkar.
"Jangan begitu, orangtuamu juga sayang sama loe. Kalau loe hilang pasti dicariin. Tidak ada orang tua yang nggak sayang sama anaknya," jawab Elena.