Siti Saudah, seorang wanita tua berusia 70 tahun, duduk di kursi plastik di sudut ruang praktik dokter. Tubuhnya yang ringkih sesekali menggigil, meski ruangan itu tidak ber-AC. Tangannya yang keriput menggenggam erat tas kecil di pangkuannya, seolah mencari pegangan di tengah rasa cemas yang menghantui.
Di hadapannya, seorang dokter muda dengan raut wajah penuh simpati tengah membaca hasil laporan medis yang baru saja dicetak.
"Bu Siti." suara dokter itu terdengar lembut, namun tegas, "hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi kesehatan Ibu sudah cukup serius."
Siti menatap dokter dengan mata cemas, meski ia sudah menduga kabar buruk itu, tapi hatinya tetap tak siap. "Apa penyakit saya masih bisa disembuhkan, Dok?" tanyanya dengan suara bergetar.
Dokter itu menarik napasnya dalam-dalam, berusaha mencari kata-kata yang paling tepat.
"Penyakit Ibu sudah memasuki tahap lanjut. Berdasarkan hasil medis, usia Ibu mungkin hanya tersisa sekitar enam bulan. Tapi, ini hanyalah prediksi medis. Hidup dan mati seseorang hanya Allah yang menentukan. Saya menyarankan agar Ibu mempersiapkan diri dan fokus menjalani sisa waktu dengan tenang."
Kata-kata itu menghantam Siti seperti badai. Ia terdiam. Wajahnya yang biasanya tegar kini tampak rapuh. Pandangannya mengarah ke jendela, menembus tirai tipis yang bergoyang lembut diterpa angin. Ia mencoba mencari ketenangan dalam pikirannya yang kalut.
"Terima kasih, Dok," ucap Siti akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. Dengan langkah gontai, ia meninggalkan ruang praktik.
Siti berjalan dengan langkah gontai menyusuri jalanan menuju rumah kecilnya. Langit sore di desa itu berwarna jingga keemasan, memberikan kehangatan yang kontras dengan dinginnya hati Siti. Tas kain usang yang digenggamnya terayun perlahan mengikuti langkahnya. Sepanjang perjalanan, pikirannya tak lepas dari wajah cucunya, Vanezha, gadis yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
"Bagaimana nasibmu nanti, Nezha? Tanpa Nenek, siapa yang akan menjaga dan melindungimu?" batinnya. Air matanya jatuh tanpa ia sadari, membasahi pipinya yang telah dipenuhi kerut usia.
Setelah berjalan cukup jauh, Siti tiba di halaman rumahnya yang sederhana. Rumah berdinding kayu dengan pekarangan kecil yang dipenuhi bunga liar itu adalah saksi dari perjuangan hidup mereka selama ini.
Begitu masuk ke dalam, aroma nasi yang baru matang menyambutnya. Nezha, gadis mungil berusia tiga belas tahun, tampak sibuk mengaduk lauk sederhana di atas kompor kecil.
"Nenek! Sudah pulang? Aku udah masak nasi sama goreng tahu. Tapi sayurnya cuma kangkung, nggak apa-apa, kan?" ucap Nezha ceria sambil membawa piring ke meja kayu tua mereka.
Vanezha, atau yang akrab disapa Nezha, adalah gadis belia dengan tubuh mungil dan wajah cerah yang selalu memancarkan keceriaan. Rambutnya hitam legam dan diikat rapi ke belakang. Matanya berbinar, penuh semangat hidup meskipun kondisi mereka serba pas-pasan. Dalam keterbatasan, Nezha tumbuh menjadi gadis mandiri dan tak pernah mengeluh, membuat Siti semakin menyayanginya.
Siti duduk di kursi reyot di dekat meja, memperhatikan Nezha yang sibuk menyiapkan makanan. Senyumnya muncul, meski hatinya terasa berat. Pikirannya berkecamuk, bingung mencari cara untuk memastikan masa depan cucunya sebelum ajal menjemput.
"Ya Allah, aku harus bagaimana? Aku tak sanggup membayangkan Nezha hidup tanpa aku," gumamnya pelan.
Nezha yang memperhatikan wajah neneknya tampak murung, segera menghampiri. "Nenek, kenapa? Kok sedih? Nenek lagi mikirin apa sih?" tanyanya polos sambil menatap wajah Siti.
Siti terkejut, lalu cepat-cepat menghapus air matanya. Ia tak ingin membuat Nezha khawatir. "Ah, nggak apa-apa, Sayang. Nenek cuma capek saja. Sudah, yuk kita makan. Nenek sudah lapar," ujarnya sambil tersenyum, berusaha mengalihkan perhatian Nezha.
Nezha mengangguk, meski dalam hatinya ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan neneknya. Namun, ia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.
Keduanya duduk bersama menikmati makanan sederhana di meja kecil itu. Suara sendok dan piring beradu menjadi latar suasana sunyi mereka. Siti sesekali memandang Nezha dengan mata yang basah.
"Aku tidak boleh menyerah. Sebelum waktuku habis, aku harus memastikan Nezha punya masa depan. Aku harus menemukan Winda," tekad Siti dalam hati.
Malam itu, setelah makan malam sederhana mereka, Siti duduk di ranjangnya, menatap kosong ke dinding kayu yang retak. Angin malam masuk melalui celah-celah jendela, mengantarkan hawa dingin yang menusuk tulang. Pikirannya dipenuhi kenangan lama dan rencana besar yang kini menggantung di benaknya.
Ia masih ingat kabar yang pernah didapatnya dari Pak Darjo, tetangganya yang sering bepergian ke jakarta. Lelaki itu pernah memberitahunya kalau ia sempat melihat Winda, putrinya, di kawasan Pasar Senen, Jakarta. Winda bekerja menjaga toko sembako di sana, tapi Pak Darjo tak tahu pasti di mana anaknya tinggal.
"Jakarta itu luas. Kalau ia ingin mencari Winda, tentu butuh waktu, tenaga, dan keberanian'" ucap Pak Darjo kala itu.
Namun, hatinya sudah bulat. Cepat atau lambat, ia harus berangkat untuk mencari keberadaan putrinya.
Siti menoleh ke arah Nezha yang terlelap di atas kasur tipisnya. Gadis itu tidur nyenyak, memeluk bantal lusuh yang selalu setia menemani malam-malamnya. Wajah mungilnya tampak damai, meski hidupnya jauh dari kemewahan.
Air mata Siti kembali mengalir. "Nezha, kamu gadis yang kuat. Nenek nggak akan biarkan kamu hidup sendirian. Nenek akan berjuang untukmu, sampai napas terakhir," bisiknya dengan suara serak.
Kenangan pahit tentang Winda kembali menghantui pikirannya. Ia teringat malam itu, bertahun-tahun lalu, ketika Winda berdiri di depan pintu dengan bayi mungil di pelukannya, air matanya yang tak berhenti mengalir.
Flasback on.
"Mak, aku nggak bisa. Aku nggak sanggup. Nezha... Nezha lebih baik tinggal sama Emak," ujar Winda dengan suara bergetar.
Siti menatapnya dengan tatapan tajam. "Winda! Kamu ini bicara apa? Nezha Itu anakmu! Bagaimana bisa kau meninggalkannya?"
"Enggak, Mak! Aku nggak mau mengasuh bayi haram ini. Kalau Emak nggak mau, aku akan serahkan dia ke panti asuhan!" bentak Winda dengan nada putus asa.
Siti tercekat. Kata-kata itu bagai cambuk yang menghujam hatinya. "Winda, apa kamu sadar apa yang kamu ucapkan barusan! Anak ini darah dagingmu!"
Winda menangis tersedu-sedu. "Mak, aku malu. Tetangga-tetangga sudah mencibirku. Hidupku sudah hancur, Mak. Aku nggak sanggup hidup seperti ini. Aku mau ke Jakarta. Aku mau memulai hidup baru di sana."
"Dan kau tega meninggalkan Emak sendirian?" Suara Siti melemah.
"Maafkan aku, Mak. Aku janji, setelah sukses nanti, aku akan kembali. Tolong restui aku, Mak. Aku mohon..." Winda berlutut, memohon restu dengan air mata yang terus mengalir.
Siti hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu hatinya tidak bisa menahan Winda lebih lama. "Baiklah. Kalau kamu memang mau ke Jakarta, pergilah. Tapi ingat pesan Emak, jaga dirimu baik-baik. Jangan lupakan kami di sini."
Winda mengangguk. "Iya, Mak. Insya Allah, aku nggak akan lupa."
Sejak malam itu, Winda pergi dan tak pernah kembali, Bayi kecil yang ia tinggalkan kini tumbuh menjadi gadis ceria yang mengisi hari-hari Siti. Tapi rasa rindu dan harapan untuk bertemu Winda lagi tak pernah padam.
Falsback off.
Siti menghapus air matanya. Dengan sisa tenaga dan waktu yang ia miliki, ia bertekad untuk pergi ke Jakarta, mencari Winda, dan memastikan Nezha tidak akan terlunta-lunta tanpa arahan.
"Ya Allah, beri aku kekuatan untuk melindungi cucuku. Aku hanya ingin melihat dia punya masa depan yang cerah," doanya lirih sebelum akhirnya ia merebahkan tubuh lelahnya.
Keesokan paginya, sinar matahari perlahan menyelinap melalui celah jendela rumah Siti yang sederhana. Suara ayam berkokok memecah keheningan desa. Namun, Siti sudah terjaga sejak subuh. Tangannya sibuk memasukkan pakaian ke dalam tas kecil, sementara pikirannya terus berputar memikirkan rencana yang ia susun semalaman.
Tiba-tiba, suara lembut Nezha memecah kesunyian. "Nenek, mau kemana pagi-pagi sudah rapi? Terus, kenapa baju-baju itu dimasukkan ke dalam tas?" tanyanya dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
Siti menoleh, tersenyum tipis. "Sayang, Nenek mau ke kota. Kamu di sini aja, ya? Kalau ada apa-apa, minta tolong ke Mbok Darmi."
Nezha yang sedang menyisir rambutnya menatap neneknya dengan bingung. "Ke kota, Nek? Buat apa? Jauh sekali."
Siti terdiam sejenak. Ia tidak ingin Nezha tahu tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya atau rencananya untuk mencari Winda, ibunya Nezha. Dengan suara tenang, ia berkata, "Nenek cuma mau cari sesuatu. Mungkin pulangnya agak lama. Kamu di rumah saja, jaga diri baik-baik, ya."
Mendengar itu, Nezha segera meletakkan sisirnya dan menghampiri Siti. Ia menggenggam tangan neneknya erat-erat. "Nenek, aku ikut! Aku nggak mau sendiri di rumah."
Siti menghela napas panjang, berusaha meyakinkan cucunya. "Nezha, perjalanan ini berat. Kamu masih kecil, lebih baik tinggal di rumah. Nenek nggak mau kamu capek di jalan."
Namun, tekad Nezha begitu kuat. Ia menatap neneknya dengan mata berkaca-kaca. "Tapi, Nek, kalau Nenek sakit di jalan, siapa yang bantu? Aku bisa kok jaga Nenek. Aku nggak mau Nenek sendirian."
Melihat ketulusan dan keberanian Nezha, hati Siti luluh. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya mengangguk. "Baiklah, kamu boleh ikut. Tapi ingat, kamu harus dengar apa kata Nenek."
Wajah Nezha bersinar cerah. "Iya, Nek! Aku janji aku bakal dengar kata Nenek."
Siti tersenyum, meski dalam hatinya ada keraguan. "Kalau begitu, kamu bersiap-siap sekarang. Bawa baju seperlunya saja. Kita berangkat jam tiga nanti."
"Yay! Akhirnya aku ikut!" seru Nezha dengan wajah penuh semangat, membayangkan kehidupan kota yang menurutnya penuh keindahan dan kemewahan. Namun, ia belum tahu kehidupan seperti apa yang sebenarnya menanti mereka di sana.
-------
Di dalam bus, Nezha duduk di samping Siti, menggenggam erat tangan neneknya. Matanya berbinar penuh semangat, meskipun ia belum benar-benar memahami tujuan perjalanan mereka.
"Nenek, kita ke kota mau cari apa sih?" tanyanya polos, sambil melirik wajah Siti yang tampak lelah.
Siti tersenyum kecil, menyembunyikan kegundahan hatinya. "Ada yang ingin Nenek temui," jawabnya singkat, mencoba mengalihkan perhatian cucunya.
"Siapa, Nek? Wah, aku jadi penasaran!" seru Nezha dengan antusias. Ia melanjutkan sambil membayangkan hal-hal indah yang akan ia temui di Jakarta.
"Katanya, di Jakarta itu ada mal besar banget, gedung-gedung tinggi sampai kayak nyentuh langit! Terus, aku juga mau lihat Monas, Nek. Pasti bagus banget! Kalau ada waktu, kita ke kebun binatang juga, ya. Aku mau lihat harimau sama gajah!"
Siti hanya tersenyum tipis mendengar celotehan Nezha. Di hatinya, ia merasa sedih karena tidak bisa menjanjikan apa-apa kepada cucunya. Ia sesekali terbatuk kecil, mencoba menahan rasa sakit yang menyerang dadanya.
Melihat itu, Nezha langsung khawatir. "Nenek, Nenek nggak apa-apa kan?" tanyanya dengan nada cemas.
Siti menepuk tangan cucunya dengan lembut. "Nenek nggak apa-apa, sayang. Kamu istirahat saja. Nanti kalau sudah sampai, Nenek bangunin, ya."
"Tapi, Nek, aku nggak ngantuk. Aku udah nggak sabar banget mau sampai di Jakarta. Katanya di sana lampu-lampunya terang banget, ya? Kayak siang meskipun malam!" ucap Nezha dengan mata berbinar. Ia terus berbicara tentang mimpinya akan kota besar, sampai akhirnya kelelahan dan tertidur dengan kepala bersandar di bahu Siti.
Siti menghela napas panjang, menatap wajah polos cucunya yang terlelap. "Ya Allah, berikanlah kekuatan kepada hamba. Hamba hanya ingin Nezha punya masa depan yang lebih baik," gumamnya dalam hati.
Bus melaju dengan kecepatan sedang, melewati jalan yang mulai sepi dan gelap. Para penumpang banyak yang tertidur, termasuk Nezha, yang bersandar nyaman di bahu Siti. Siti tetap terjaga, pandangannya menatap kosong ke luar jendela. Batuk-batuk kecilnya sesekali terdengar di tengah deru mesin bus.
Namun, ketenangan itu tiba-tiba berubah menjadi kepanikan. Suara rem yang berdecit panjang memecah malam. Bus oleng ke kanan, membuat penumpang yang tertidur terbangun dengan panik. "Astaghfirullah! Ada apa ini!" teriak seseorang dari belakang.
Siti memeluk erat Nezha, berusaha melindungi cucunya. "Ya Allah, lindungi kami," bisiknya dengan napas terengah.
Namun, bus semakin tak terkendali. Roda-rodanya meluncur di aspal, hingga akhirnya menabrak pembatas jalan.
BRAK!!!
Bus terguncang hebat, tubuh para penumpang terpental ke sana-sini.
Sebuah suara keras terdengar saat bus menghantam pohon besar di tepi jalan. Seluruh kaca pecah berhamburan, dan tubuh Siti terlempar ke depan. Di saat yang sama, Nezha yang duduk di sebelah jendela terpental jauh keluar dari bus, jatuh ke semak-semak gelap di sisi jalan.
Beberapa saat setelah tabrakan hebat, suasana menjadi sunyi. Asap tipis mulai keluar dari mesin bus yang hancur, bercampur dengan suara rintihan dan tangis dari penumpang yang terluka.
Nezha membuka matanya perlahan, tubuh kecilnya terasa lemah dan nyeri di beberapa bagian, kepalanya terasa berat, pandangannya kabur, "Nenek... Nenek..." panggilnya lirih, tetapi tidak ada jawaban.
Dengan tubuh gemetar, Nezha memaksakan diri untuk bangkit. Langkahnya goyang, tetapi ia tetap berusaha mencari jalan kembali ke bus yang terguling. Ditengah kegelapan malam, ia hampir tak bisa melihat apa-apa. "Nenek!" serunya lebih keras, meski suaranya terputus-putus.
Dari kejauhan, terdengar suara orang-orang berteriak, memanggil bantuan. Cahaya lampu senter sesekali memerangi lokasi kecelakaan. Nezha mengikuti arah suara itu, meski kakinya terasa berat dan langkahnya tertatih-tatih.
Setibanya di dekat bus, ia melihat kerumunan petugas dan korban. Beberapa korban terbaring ditanah, sementara yang lain dibantu oleh tim penyelamat. Nezha berlari terhuyung, matanya mencari-cari sosok neneknya diantara tubuh-tubuh tergolek.
"Nenek! Nenek dimana!" teriaknya, airmata mulai mengalir.
Langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sosok tubuh tua terbaring ditas tanah dengan genangan cairan merah di sekitarnya. Wajah itu, wajah Siti, nenek yang selalu merawat dan melindungi terlihat pucat dan tak lagi bergerak.
Nenek!!" Nezha berteriak histeris, ia berlari mendekat, tetapi seorang petugas menahan nya.
"Dek, sabar ya? Jangan kesana dulu, biar kami yang urus," ujar seorang petugas lembut sambil menahan bahunya.
"Lepaskan aku! Aku mau ke Nenek! Nenek, bangun! Aku butuh Nenek!" Tangis Nezha pecah. Ia meronta, mencoba melepaskan diri dari pegangan petugas.
"Tenang, Dek, Nenekmu sudah tenang sekarang. Dia tidak merasakan sakit lagi," ucap petugas itu, mencoba menengkan Nezha.
"Tidak! Nenek gak boleh pergi! Nenek harus bangun!" Nezha terus meronta, suaranya menggema di tengah malam yang sunyi.
Petugas yang lainnya mulai mengevakuasi para korban, termasuk tubuh Siti yang sudah kaku. Nezha hanya menangis melihat neneknya dibawa pergi tanpa bisa berbuat apa-apa.
Dengan susah payah, Nezha akhirnya dipapah oleh petugas. Ia menatap sekali lagi tubuh neneknya, tangisnya semakin deras. Mereka membawanya ke pos darurat, berusaha untuk mengamankan dan menenangkan Nezha yang masih terisak.
Di depan pos darurat, suasana kembali mencekam, salah satu petugas memberinya air mineral dan menenangkannya, namun gadis kecil itu hanya bisa menangis, menatap kosong keluar jalanan, memikirkan neneknya yang tak pernah kembali.
Nezha terbaring lemah di rumah sakit. Tubuhnya penuh dengan luka ringan akibat kecelakaan. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar, terbayang wajah neneknya, Siti, yang terakhir kali ia lihat. Dunia seolah runtuh baginya, sepi tanpa kehadiran neneknya yang selalu menjadi tempat berlindung.
"Nenek... nenek di mana? Kenapa Nenek tinggalin aku?" rintih Nezha penuh kepedihan, air matanya mengalir tanpa henti. Suaranya serak, namun ia terus memanggil nama neneknya.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter muda masuk ke kamar, ditemani oleh dua perawat. Ia tersenyum lembut, mencoba memberikan kenyamanan.
"Pagi, cantik. Apa kabar hari ini? Semoga hari ini lebih baik ya," sapa dokter itu ramah, ia mendekat ke sisi r4nj4ng. "Oiya, boleh Kakak tahu namamu siapa?"
Nezha hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku... aku Nezha," jawabnya lirih.
"Nezha ya? Nama yang cantik. Saya Dokter Andi. Gimana perasaanmu sekarang? Ada yang sakit?" tanyanya dengan nada ramah, sambil memeriksa kondisi fisiknya.
Namun, tiba-tiba Nezha menangis lagi, tak menggubris pertanyaan sang dokter. "Nenek aku... Nenek nggak boleh pergi! Aku mau sama Nenek!" ucapnya dengan isak tangis yang membuat suasana kamar terasa semakin pilu.
Dokter itu menatap Nezha dengan penuh simpati, lalu berjongkok agar matanya sejajar dengan Nezha. "Adik Nezha, Saya tahu ini berat, tapi dokter dan kakak-kakak di sini akan membantu. Kalau kamu sedih, nggak apa-apa. Nangis itu wajar. Tapi kamu juga harus kuat ya, supaya nenek kamu bangga lihat kamu."
Salah satu perawat yang berdiri di dekat ranjang Nezha mencoba menenangkan. "Adik Nezha, nggak usah takut. Kami semua di sini sayang sama kamu. Kalau kamu lapar atau haus, bilang ya. Kami akan jagain kamu."
Tangis Nezha perlahan mereda, meski matanya tetap basah. Ia hanya mengangguk kecil, lalu memalingkan wajah, seolah enggan menerima kenyataan yang begitu pahit.
----
Beberapa jam berlalu, kondisi Nezha sudah mulai tenang. Saat seorang wanita muda dari dinas sosial memasuki kamar. Rambutnya diikat rapi, dan ia mengenakan pakaian formal yang membuatnya terlihat profesional namun tetap hangat. Ia mendekati Nezha dengan senyuman lembut.
"Pagi, cantik. Apa kabar? Aku Kak Rina. Boleh Kakak ngobrol sebentar sama kamu?" tanya wanita itu dengan nada lembut.
Nezha menoleh perlahan, matanya masih merah dan sembab. "Nama aku Nezha, Kak. Aku mau ketemu Nenek. Aku nggak mau di sini," ucapnya lirih, suara kecilnya penuh kesedihan.
Rina duduk di tepi ranjang, mencoba membuat Nezha merasa nyaman. "Adik Nezha, Kakak tahu kamu kangen sama Nenek. Tapi sekarang, kamu harus istirahat dulu ya, supaya lebih sehat. Kamu hebat sekali, lho, bisa bertahan sampai sekarang," ucapnya, menenangkan.
Nezha hanya diam, menundukkan kepala. Rina mencoba mengalihkan pembicaraan. "Nezha tinggal sama Nenek ya? Ada keluarga lain yang bisa Kakak hubungi? Bapak, Ibu, Om, Tante, atau saudara yang lain?"
Nezha terdiam beberapa saat, lalu menjawab dengan suara pelan. "Nggak ada, Kak. Nenek satu-satunya keluarga aku.
Nezha terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab lirih, suaranya bergetar menahan emosi. "Nggak ada, Kak.Nenek satu-satunya keluarga aku." Ia menarik napas, mencoba menguatkan diri, tetapi suara isakannya tetap terdengar. "Kata Pak Polisi, Nenek. Nenek aku sudah nggak ada."
Rina mengangguk, merasakan dadanya sesak. Hatinya ikut teriris melihat gadis sekecil ini harus menanggung kehilangan yang begitu besar.
Dengan lembut, ia mengusap bahu Nezha, berusaha menenangkan. "Kakak ngerti, sayang. Kamu pasti sedih dan bingung sekarang." Rina menatapnya penuh kehangatan. "Untuk sementara waktu, Kakak akan bawa Nezha ke tempat yang aman, ya. Di sana ada banyak anak-anak lain sepertimu. Kakak dan teman-teman di sana akan jagain kamu."
"Tempat apa, Kak?" tanya Nezha dengan suara pelan, tatapannya dipenuhi kebingungan.
Rina tersenyum lembut, berusaha menenangkan. "Namanya panti asuhan. Di sana, Nezha bisa bermain, belajar, dan beristirahat dengan nyaman. Tapi ini cuma sementara, ya. Kakak akan cari tahu apakah masih ada keluarga lain yang bisa dihubungi. Jadi, jangan khawatir."
Nezha menunduk, mengangguk kecil. Ia tidak tahu harus berkata apa. Segala yang terjadi terasa begitu cepat, membuat pikirannya kacau.
Rina mengusap kepala gadis kecil itu dengan lembut, memberikan sedikit kehangatan di tengah kesedihannya. "Adik yang kuat ya. Kakak percaya Nezha anak yang hebat. Semua akan baik-baik saja."
Setelah berkata demikian, Rina berdiri dan meninggalkan kamar untuk mengurus administrasi lebih lanjut.
Nezha tetap diam di tempatnya. Kebingungan masih menyelimuti hatinya. Dunia yang dulu terasa hangat bersama neneknya kini berubah menjadi asing dan hampa.
Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, Nezha akhirnya dibawa oleh petugas sosial ke sebuah panti asuhan di pinggiran kota Jakarta. Meski masih dirundung kesedihan karena kehilangan neneknya, ia mulai menerima kenyataan bahwa hidupnya kini telah berbeda.
"Nezha, ini kamar kamu. Mulai sekarang, kamu akan tinggal di sini bersama teman-teman baru. Kalau ada apa-apa, bilang ke Bu Asih ya," ujar petugas sosial itu dengan senyum lembut, sambil meletakkan tas kecil berisi barang-barang Nezha di sudut kamar.
Nezha mengangguk lemah. Ia melihat sekeliling kamar sederhana itu yang dipenuhi tempat tidur bertingkat. Beberapa anak sedang bermain, sementara yang lain sibuk dengan buku pelajaran. Semua terlihat ceria, dan untuk sesaat, Nezha merasa lega.
Di hari-hari pertama, kehidupan di panti asuhan terasa baik-baik saja. Nezha mulai berkenalan dengan teman-teman sebayanya, seperti Lili yang ramah dan sering mengajaknya bermain, atau Budi yang selalu membuat lelucon lucu. Ia juga merasa nyaman dengan Bu Asih, pengasuh panti yang sabar dan perhatian.
Namun, suasana itu perlahan berubah ketika hari-hari berlalu. Nezha mulai melihat sisi lain dari kehidupan di panti asuhan.
"Ayo, cepat selesai makanmu, Nezha! Anak lain juga butuh giliran!" hardik seorang kakak pengasuh sambil mengetuk meja makan.
"Tapi Kak, aku belum kenyang," ucap Nezha pelan.
"Semua di sini makan sama rata. Kalau nggak cukup, tahan aja. Jangan manja!" bentak pengasuh itu.
Nezha menunduk, menahan lapar. Ia mulai menyadari bahwa makanan di panti sering kali tidak cukup, dan anak-anak harus berebutan jika ingin makan lebih banyak.
Selain itu, ia juga harus menghadapi perlakuan keras dari beberapa anak yang lebih besar.
"Hei, Nezha! Itu boneka milik aku! Jangan sentuh!" teriak salah satu anak perempuan sambil merebut boneka dari tangan Nezha.
"Tapi tadi aku cuma mau main sebentar..." Nezha mencoba menjelaskan, tapi anak itu mendorongnya hingga ia terjatuh.
"Di sini, kalau mau barang, harus berani rebut sendiri. Kalau nggak, ya nggak usah mainan!" ucapnya dengan nada sinis sebelum pergi.
Nezha hanya bisa duduk terdiam, menahan air mata. Ia mulai merasakan betapa kerasnya hidup di panti, terutama bagi anak-anak yang tidak punya siapa-siapa.
Di malam hari, Nezha sering menangis diam-diam di tempat tidurnya. Ia memeluk bantal, berharap bisa bertemu neneknya lagi dalam mimpi. Namun, ia tahu, hidup tidak akan lagi sama seperti dulu.
Hari-hari berikutnya di panti asuhan terasa seperti mimpi buruk yang perlahan-lahan menjadi kenyataan. Meskipun awalnya ia merasa sedikit lega karena ada tempat berlindung, Nezha mulai merasakan kenyataan yang jauh lebih keras.
Setiap pagi, ia bangun di tempat tidur yang sempit, dengan selimut tipis yang hanya cukup menutupi tubuhnya separuh. Di pagi hari, suasana panti terasa riuh, suara anak-anak lainnya berlarian, bercanda, dan terkadang berteriak. Namun, bagi Nezha, kebisingan itu lebih terasa seperti teriakan ketidakadilan.
"Kenapa semuanya jadi kayak gini?" pikir Nezha dalam hati, saat melihat panti yang lebih mirip dengan tempat penampungan sementara daripada rumah yang nyaman.