"Bis … aku ha-mil!" Raya menatap kekasihnya yang sedang menyantap makan siang mereka.
Bisma terlihat acuh, dia menatap Raya sekilas. "Ya, itu gampang."
"Jadi, kamu mau tanggungjawab, kan?"
"Tanggungjawab? Ngaco. Kita masih sekolah, gugurkan saja!" Bisma kembali malahap makanannya, tanpa memperdulikan Raya yang sudah menangis.
'Aku Bodoh. Aku sudah tahu kalau dia itu suka mainin wanita. Tapi … kenapa aku bisa menerima dia waktu itu?' Raya mengulas perutnya yang masih rata. Ini merupakan kesalahan terbesar yang pernah dia ambil. Desas desus itu memang sudah terdengar di telinga nya, bahwa seorang Bisma Adi Prasetyo merupakan seorang playboy ulung. Suka memainkan perasaan wanita, dan memutuskan hubungan dengan seenaknya.
Tapi, kenapa dia bisa terjebak dengan perasaannya sendiri? Dia malah menyerahkan sesuatu yang paling berharga miliknya, kepada lelaki sampah dihadapannya. Kepopuleranya di sekolah telah menutup desas desus itu. Sehingga masih banyak gadis yang sukarela dan memohon untuk menjadi kekasih dari seorang Bintang Sekolah.
"Kenapa nangis? Dari awal aku gak minta itu sama kamu. Bukannya kamu yang sukarela menyerahkan semua itu kepadaku?" Bisma menghentikan makannya. Dia mengambil sebuah rokok dan korek di saku celana, lalu menghidupkannya.
Ya, Raya bodoh. Semua perhatian yang diberikan Bisma membuat dia takut kehilangan lelaki itu. Awalnya dia berpikir dengan menyerahkan keperawanannya, Bisma tidak akan meninggalkannya. Namun dia salah, Bisma mengacuhkan dirinya. Bahkan benih yang dia tanam diperut Raya, sama sekali tidak berharga.
"A-ku, gak mau gugurin kandungan ini, Bis. Aku mau rawat dia." Raya menatap Bisma tajam, "kamu gak bisa giniin aku. Aku akan kasih tahu semua orang. Agar gak ada lagi yang jadi korban kamu kedepannya."
Bisma memandang remeh kearah Raya, dia menghisap kembali rokok ditangannya. "Kamu pikir semudah itu menghancurkan aku? Kamu lupa siapa aku? Aku bisa kapan saja menghancurkan keluarga kamu. Dan membuat semuanya menderita!"
Raya menggeleng, dia sadar tidak semudah itu bisa membalas perbuatan Bisma. "Baik! Aku gak bakal lakukan itu semua. Tapi, aku jamin Bisma. Kamu akan menyesal. Selama ini kamu menganggap wanita sebagai mainan kamu, dan mereka gak ada harganya dimata kamu.
Dan aku yakin, suatu hari nanti kamu akan menemukan orang yang berharga di hidup kamu. Aku bersumpah, kamu gak akan bahagia bersama dia. Kamu gak akan pernah bisa milikin dia! Dan kamu gak akan bisa menghapus air matanya, walaupun kamu berada didekatnya. Itu sumpah aku Bisma, kamu yang akan membuat perempuan yang kamu cintai merasakan penderitaan yang aku rasakan." Raya pergi meninggalkan Bisma dengan segala luka di dadanya. 'Walau aku berharap, aku adalah perempuan terakhir yang kamu sakiti," batin Raya.
Bisma menatap perempuan itu dengan tatapan tidak suka, sudah banyak orang menyumpahinya. Biasanya mereka menyumpahi Bisma. Namun, Raya malah menyumpahi orang yang dia cintai. 'Persetan dengan cinta. Kamu fikir jadi aku enak? Dituntut harus perfect dan harus menjaga nama baik keluarga. Padahal mereka saja tidak merawatku. Aku sangat menunggu ada orang yang bisa menceritakan keburukanku kepada daddy, dan membuat reputasinya buruk.' Bisma bergumam dalam hati, dia lalu mengambil sesuatu berbentuk pil obat dari saku celananya. 'Setidaknya dengan meminum ini, aku bisa sedikit menghilangkan stres.'
Raya berlari tanpa tujuan, dia tidak tahu kemana harus pergi. Saat ini, pasti kedua orangtuanya sangat khawatir. Beberapa kenangan indah dengan Bisma kembali muncul. Bila diingat sikap dan perhatian Bisma kepadanya sangat tulus. Bahkan lelaki itu kerap memanjakan dirinya, semua apa yang dia mau kalau itu selalu terwujud. Tapi, siapa yang tahu. Mungkin saja lelaki itu sedang tertawa sekarang, karena telah berhasil memainkan perasaannya.
"Ibu, maafin Raya. Raya bodoh ibu … ayah, hiks!" Raya menghapus air matanya. Dibawah langit sore Raya berjalan kaki ke arah sekolah, dia menuliskan suatu surat yang telah dia siapkan. Lalu menyimpannya di sebuah loker.
"A-ku, gak bakal melupakan kamu Bisma. Semua rasa sakit ini, kamu akan merasakannya. Aku harap, hanya aku yang jadi korban kamu. Dan tidak ada perempuan yang bernasib seperti Raya. Kecuali perempuan itu orang yang kamu cintai. Ya, dia harus merasakan penderitaan itu.
Bukankah ikatan seseorang itu akan semakin kuat. Ketika mereka saling merasakan rasa sakit bersamaan. Dan mereka yang mampu merasakan itu, adalah orang yang telah menganggapmu berharga dalam hidupnya."
Setelah dari sekolah, Raya pergi menyusuri jalanan. Suara khas dari kereta api membuatkan lamunannya. Diapun mempercepat langkahnya.
"Aku sangat menyedihkan."
***
Keesokan harinya, saat pertandingan basket antar sekolah hendak dilangsungkan. Tiba-tiba sebuah berita menggemparkan satu sekolah. Semua siswa berhamburan keluar, takala mereka mendengar kabar duka dari salah satu siswa SMA Bintang.
"Ya, aku gak nyangka banget." Ucap salah satu siswa.
"Sama, aku juga gak nyangka. Kok dia bisa berpikir pendek kaya gitu ya."
Bisma yang memang tidak suka dengan keramaian, memilih menghindari semua orang. Dan bergegas masuk ke ruang ganti untuk segera memakai kostum basket. Terlihat para anggota yang lain juga sedang membicarakan sesuatu yang serius. Namun, dia memilih acuh dan segera berjalan menuju loker miliknya.
"Ini …. " Bisma mengambil secarik kertas yang berada dalam loker. Dia berpikir itu adalah surat dari salah satu siswi yang mengagumi dirinya, diapun membukanya.
Bisma mengatur nafasnya, dan segera meremas kertas tersebut setelah membaca isinya.
AKU HARAP KAMU AKAN MENDENGAR BERITA HARI INI BISMA.
KONON KATA ORANG, SESEORANG AKAN LEBIH MERASAKAN SAKIT. SAAT MELIHAT ORANG YANG DIA SAYANGI MENDERITA.
ITU SUMPAH AKU BISMA. AKU TIDAK AKAN MELUPAKANNYA, BAHKAN SAMPAI AKHIR HIDUPKU
Bisma menghampiri anggota timnya yang sedang berkumpul. "Guys, ada apa sih kok orang-orang pada serius amat dari tadi?"
"Lo gak tau berita hari ini, Bis? Parah banget," tanya Alex, salah satu anggota tim basket.
"Nggak, emangnya ada apa?"
Doni menghampiri Bisma. "Raya Bis, dia bunuh diri di rel kereta api. Tubuhnya katanya hancur."
Deg.
Bagaimana ini bisa terjadi. Bisma menganggap bahwa Raya berniat membalas semua perbuatannya dengan menemui kedua orangtuanya. Tapi, gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.
'Nggak … ini pasti salah.' Bisma menggelengkan kepalanya. Ia menelan saliva nya, berusaha bersikap setenang mungkin. "Kok bisa gitu?"
"Itu dia yang buat kita bingung, setau gue dia itu orangnya baik-baik saja. Makanya tadi ada pihak kepolisian datang ke sekolah," jawab Doni.
"Ya sudahlah, mending kita siap-siap aja. Tadi gue liat orang-orang dari SMA Angkasa sudah datang kesini. Kita harus bisa bikin mereka malu. Karena sudah datang kesini." Bisma mengalihkan perhatian mereka, agar dia fokus. Bisma tidak membunuhnya, ingat itu. Raya sendiri yang memilih mengakhiri hidupnya.
"Tapi, gue kekamar mandi dulu sebentar yah guys." Bisma pergi dengan perasaan gelisah. Dia memasuki kamar mandi dan mencoba membasuh mukanya.
"Nih!" Seseorang memberikan sebotol minuman kemasan kepada Bisma.
"Thank Di." Bisma menerimanya dan tersenyum sebaik mungkin kepada sahabatnya.
"Lo pasti udah denger kabar tentang Raya. Gue harap semua ini gak ada hubungannya dengan ambisi gila Lo."
'Uhuk' Bisma yang sedang minum tersedak. Bagaimana Maudi bisa membaca isi pikirannya. Haruskah dia jujur?
"Bisma, Bisma, Bisma!" suara dukungan dari orang-orang mulai menggema di seluruh lapangan, padahal pertandingan belum dilaksanakan. Namun, para perempuan sudah berjejer. Mereka tidak ingin melewatkan ketampanan dari seorang Bisma satu detik pun.
"Aduh, duh. Kamu apa-apaan sih Sekar bawa aku kesini, aku gak suka." Seorang gadis merasa risih karena harus desak-desakan dengan siswa yang lainnya.
Sekar hanya tersenyum, dia menstabilkan nafasnya dan tersenyum memandang ke arah pemain basket. "Kamu itu Mel, ini pertandingan tim basket kita melawan SMA Favorit. Kamu masa gak mau lihat. Ini bakal jadi sejarah besar kalau kita bisa ngalahin SMA Angkasa."
Melati terlihat murung. SMA Angkasa … dulu dirinya ingin masuk ke sekolah tersebut, namun kedua orang tuanya melarang. Tapi pada kenyataannya, adiknya sendiri sekarang berada di sekolah tersebut.
"Kamu nonton aja sendiri sama yang lain. Aku mau keperpustakaan aja, lagian waktu seminggu kemarin aku sakit banyak tugas. Aku harus segera menyelesaikannya. Bye …. " Melati pergi meninggalkan Sekar, sementara Sekar hanya menoleh sedikit. Berniat mengejar Melati, tapi pertandingan sudah akan dimulai.
Sesampainya di perpustakaan, Melati langsung mencari beberapa buku yang dia perlukan untuk mengerjakan beberapa soal. Hingga Seorang lelaki mengambil buku yang hendak dia ambil.
"Yah, aku ….. " Melati menunduk dan tidak berani berbicara. Karena lelaki yang tadi mengambil buku tersebut adalah ketua OSIS di sekolahnya. Dia tidak berani menyapa kakak kelasnya.
"Ya udah, ngerjain aja dulu yang ada." Melati segera mengerjakan beberapa tugas yang telah ia dapatkan bukunya. Hingga pukul 4 sore, tinggal satu pelajaran lagi yang belum ia selesaikan. Dan bukunya masih berada ditangan lelaki dingin itu.
"Mm … apa aku nonton pertandingan basket dulu kali, ya." Melati sedikit berfikir, dia terlihat bosan menunggu orang tersebut menyelesaikan bacaannya. Bila dilihat dia sedang tidak mengerjakan tugas.
"Eh …. " Melati heran melihat lelaki itu menghampirinya.
"Lo mau buku ini?" tanyanya seolah mengerti.
"I-ya."
"Ini." Lelaki itu memberikan buku tersebut kepada Melati.
"Kak Maudi!" Melati memanggil Maudi yang ternyata adalah seorang ketua OSIS.
"Makasih." Melati tersenyum, sementara Maudi hanya mengangguk dan berlalu pergi meninggalkan perpustakaan. Dibandingkan laki-laki populer seperti Bisma, sebenarnya Melati lebih menyukai lelaki yang kalem seperti Maudi. Apalagi lelaki tersebut terkenal karena kepintarannya.
"Beruntung banget aku bisa ngobrol sama ketua OSIS yang katanya dingin kaya salju." Melati tersenyum dan segera mengerjakan tugasnya dengan cepat. Dia tidak mau ketinggalan oleh Raka, pamannya dari SMA Angkasa yang sedang melaksanakan pertandingan sekarang di sekolahnya.
Di Lapangan semua penonton terlihat tegang. Karena skor yang diperoleh 2 sekolah tersebut seri. Mereka berharap di sisa waktu yang ada, SMA Bintang akan memenangkan pertandingan.
"Puitt!" Suara peluit menghentikan pertandingan mereka. Hasil akhir dari dua babak adalah seri. Maka akan dilanjutkan pertandingan persahabatan pada bulan berikutnya
"Bisma …. " Sinta, pacar hasil taruhan Bisma segera menghampiri kekasihnya yang sedang beristirahat di dalam ruangan basket. Sementara Bisma hanya tersenyum kecut, 'malas banget, ada cewek gatel.'
Semua teman-teman Bisma hanya tertawa melihat Sinta yang mengelap keringat Bisma dan menyodorkan lelaki itu dengan berbagai minuman. Mereka tahu kalau Bisma tidak menyukai Gadis itu. Lagipula, mereka sendiri yang memberikan Bisma tantangan agar mau memacari Sinta selama satu bulan.
"Bis, 7 hari lagi." Alex meledeki Bisma. Sinta yang tidak mengerti hanya tersenyum dan segera memberikan beberapa minuman kepada teman-teman Bisma yang lain. Itulah yang mereka sukai dari Sinta, gadis itu pasti ingin selalu terlihat sempurna dihadapan semua orang. Sehingga mudah bagi mereka untuk memanfaatkannya.
"Thanks Sin, Lo emang perhatian banget sama kita." Puji Indra.
Sinta yang mendapatkan pujian, tersenyum penuh kemenangan. Dia langsung merangkul pinggang Bisma. "Iya, sama-sama. Lagian Lo semua teman-teman Bisma, berarti gue juga bisa berteman sama Lo pada."
"Ha-ha!" Mereka semua tertawa, 'dasar cewek bodoh.'
Bisma melepaskan rangkulan Sinta, lalu menatap handphone. Yang ternyata sudah ada beberapa pesan dari perempuan yang saat ini mempunyai status sama, menjadi mainan Bisma.
"Beb gue kekamar mandi dulu. Kamu sama mereka dulu." Bisma mengecup pipi Sinta sekilas, lalu segera pergi meninggalkan ruangan.
"Cie … cie." Mereka semua mulai meledak. Ini akan sangat menarik, mereka sudah sangat tidak sabar melihat bagaimana gadis itu menangis dan memohon-mohon kepada Bisma agar tidak jadi putus. Alasan klise kenapa mereka sangat ingin melihat itu, karena sebenarnya Sinta merupakan gadis yang cukup sombong. Dan selalu membuat onar kepada adik kelasnya. Bagi mereka dia sangat pantas untuk diberi sedikit peringatan.
***
Seminggu berlalu, berita duka dari Raya masih menjadi trending topik di sekolah. Sementara pihak keluarga Raya memilih menutup kasus anaknya, dia tidak ingin membuat penyelidikan lebih lanjut. Karena kondisi jasad anaknya saja sudah hancur, dia tidak ingin membuat sang anak semakin tidak tenang di alam sana.
Meski begitu, kedua orangtuanya sangat berharap bahwa ini murni kecelakaan. Dan tidak ada unsur kesengajaan yang dilakukan oleh anaknya ataupun orang lain.
Bisma menghampiri Maudi yang sedang membaca buku ditaman sekolah. Dia memberikan satu botol minuman kepada sahabatnya. "Hey, tumben banget selama seminggu ini Lo kaya ngilang gitu aja."
"Gue lagi suka di perpustakaan aja sih, Bis. Lagian lo juga tumben nyamperin gue. Emang si Sinta gak nyariin Lo," jawab Maudi tanpa menoleh sedikitpun ke arah Bisma.
"Gue sekarang udah bebas dari dia. Lagi nyari yang baru, yang lucu." Bisma senyum-senyum sendiri. Sementara Maudi hanya melirik Bisma sekilas lalu kembali membaca bukunya. Dia sudah tahu tentang kebiasaan sahabatnya yang suka berganti-ganti pasangan. Namun, dia tidak bisa melarangnya, juga Maudi sangat paham bagaimana Bisma dengan segala luka dimasa kecilnya.
"Eh, Lo lagi liatin apa sih? Dari tadi yang gue liat lo gak fokus baca buku," tanya Bisma yang memang dilihatnya Maudi sedang mencuri-curi pandang ke arah lain.
"Mmmm … perasaan Lo aja kali" Maudi kembali fokus kepada bacaannya.
"Gak asik, sama gue udah mulai ada rahasia. Gue aja paling terbuka sama Lo Di." Bisma mengambil buku yang dipegang Maudi. Ya, memang diantara mereka tidak ada satu rahasia pun. Maudi tahu semua perilaku Bisma sekarang. Tidak dengan teman-temannya yang lain.
"Gue lagi bingung aja, gimana cara minta nomor cewek."
Bisma menatap Maudi serius, setelah itu dia tertawa. "Ha-ha! Mau gue bantuin? Siapa sih cewek yang lagi Lo taksir. Gue kira … lo gak suka cewek."
"Gimana, ya. Gue takut kalau minta bantuan Lo. Takut Lo nikung gue."
Bisma tersenyum, mana mungkin dia akan tega melakukan hal itu kepada sahabatnya sendiri. "Tenang aja, gue gak bakal lah nikung Lo segala. Ayo, yang mana ceweknya?"
Maudi tersenyum, dia menunjuk ke arah kursi taman. Dimana disana ada seorang perempuan yang sedang membaca buku juga. Perempuan itu melihatnya lalu segera menunduk dan meminum minuman yang berada disampingnya. "Dia, namanya Melati."
"Ok. Lo tenang aja gue bakal cariin nomor perempuan itu buat Lo." Bisma bangkit menepuk pundak Maudi. Setelah itu dia pergi.
Sedetik kemudian, Bisma menoleh lagi kebelakang. Memperhatikan perempuan cantik nan lugu didepannya. 'Sorry Di, tapi gue udah lebih dulu ngincer dia,' batin Bisma lalu berlalu pergi.
"Kamu mau kemana Bisma?" Adi Prasetyo—ayah Bisma—menghampiri anaknya yang berniat pergi lagi dari rumah. Pemuda itu memang kerap tidak tidur dirumah, dan memilih untuk menghabiskan waktu di hotel yang memiliki fasilitas lengkap.
"Ini kan hari Sabtu, aku mau weekend-nan sama teman-teman." Bisma melemparkan tas yang dia bawa kepada salah satu pelayan. Mereka yang mengerti langsung menangkapnya dan segera memasukkan kedalam mobil sport milik Bisma.
"Kamu ini, bukannya Daddy sudah bilang. Nanti malam ada makan malam sama klien."
Bisma hanya tersenyum dan segera berbalik, "Bilang aja aku lagi sakit. Lagipula untuk apa makan malam sama klien, gak penting." Bisma segera pergi memasuki mobilnya.
"Tutup semua gerbang!" Adi berteriak kepada satpam. Satpam yang mendapatkan perintah langsung melaksanakan perintah dari Tuan Besar mereka, walau setelah ini mereka sadar. Pasti akan mendapatkan amukan dari Tuan Muda mereka.
"Anak ini, semakin hari semakin melunjak." Adi menggelengkan kepalanya, melihat Bisma yang mulai melakukan mobilnya. Siapa disangka Bisma malah melajukan mobilnya dengan cepat sehingga menabrak beberapa tanaman yang berjejer rapi di samping-samping jalan.
'BRAK' Bisma menabrakan mobilnya berkali-kali kegerbang, beruntung besi yang dibuat untuk membuat gerbang tersebut lumayan kokoh sehingga tidak terlalu mengalami kerusakan.
Adi yang melihat itu menggelengkan kepalanya, dan segera menelpon beberapa bodyguard nya yang berada di dapur untuk segera mengurus Bisma. Ya, hanya bodyguard Adi yang bisa melawan Bisma. Sementara puluhan pelayan di rumahnya masih menyimpan rasa takut.
"Lepas, lepasin gue tolol!" Bisma yang sudah tertangkap dipaksa untuk masuk ke kamarnya yang berada dilantai dua. Sementara para pelayan hanya menundukkan kepala, karena Bisma menatap mereka dengan tatapan nyalang. Sudah dipastikan nanti pasti akan ada kekacauan lagi dirumah besar ini.
'Kalau gak inget disini gajinya besar, lebih baik usep mah berhenti. Tapi da Kumaha atuh, harus sabar. Tuan Muda emang kaya gitu sifatna,' batin Usep. Salah satu pelayan yang berjaga di depan kamar Bisma.
"Maaf Tuan Muda, anda harus kami kunci dari luar. Ini tas anda," tegas salah satu Bodyguard, mereka langsung menyimpan tas Bisma dan mengunci pintu kamar dari luar.
"Sial!" Bisma mengacak rambutnya frustasi, dia membuka ponsel untuk berselancar di Ins*****m.
'Melati.' Bisma mengetik nama Melati di daftar orang yang mengikuti SMA Bintang. Dan melihat beberapa nama yang sama. "Beruntung gue inget wajahnya." Bisma tersenyum puas, karena dia berhasil menemukan akun I* dari gadis yang akan menjadi mainan barunya.
"Maudi padahal nyari sendiri gampang. Tapi Lo kan emang gak suka buka sosmed," gumam Bisma, yang memang paham betul bahwa Maudi sangat jarang memegang ponsel. Kecuali untuk hal-hal yang sangat penting saja.
Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Bisma segera mengambil sesuatu dari bawah kasur. Masih sama, sebuah pil obat yang Bisma yakini bisa menenangkan dirinya.
***
Malam harinya Bisma dengan terpaksa mengikuti kedua orangtuanya untuk mengikuti makan malam bersama salah satu klien bisnis mereka.
Didalam mobil dirinya masih terlihat acuh, dia malah sibuk membaca dan mengamati apa hobi dari gadis incarannya. Melati adalah seorang Bookstagram yang memiliki banyak followers, hobinya adalah membaca dan menanam bunga. 'Pantesan Maudi naksir ini cewek, hobi mereka sama,' batin Bisma. Saat sedang asyik membaca beberapa postingan Melati, ia dikagetkan dengan salah satu unggahan yang Melati posting. Yaitu foto Melati bersama Raya, disana tertulis caption bahwa dirinya sangat sedih telah kehilangan kakak kelas yang memiliki hobi menanam seperti Melati.
"Bis, aku bawa bunga buat kamu." Tiba-tiba bayangan Raya melintas di pikirannya, Bisma segera menggelengkan kepalanya. Bukankah dia sudah melupakan Raya?
Ingin rasanya Bisma segera meminum obat itu, namun ia harus bisa menahannya. Disampingnya saat ini adalah Fatmawati–Ibunda Bisma–dia tidak ingin melihat ibunya syok, apalagi sudah 1 Minggu ini Fatma dirawat dirumah sakit. Jikalau dulu Bisma sangat ingin ada orang yang melaporkan keburukannya kepada sang ayah, kali ini Bisma ingin menjaga semua itu. Karena, terlintas di pikirannya bayangan sang mama saat menderita .
"Silahkan tuan!" Suara supir memecahkan lamunan Bisma, dia segera beranjak mengikuti kedua orangtuanya.
"Bis itu klien Daddy, kamu nanti sapa mereka sebaik-baiknya, ya!" Adi menggandeng tangan Bisma hangat, andai saja ayah Bisma bersikap seperti ini dari dulu. Tentu Bisma yang sekarang tidak akan ada.
Bisma menuruti permintaan Adi, dan menyapa klien tersebut. Dilihatnya mereka juga membawa seorang anak laki-laki yang umurnya tidak jauh dari Bisma.
Saat sedang menunggu makanan dihidangkan, Bisma melihat ke arah samping. Alangkah terkejutnya dia melihat Melati hendak keluar dari Restoran dengan membawa beberapa paper bag.
"Dad, aku kekamar mandi dulu." Bisma segera bangkit dan mengikuti gadis itu.
"Hai!" Bisma memegang pundak Melati, membuat gadis itu menepis tangan Bisma dengan kuat. Dia menatap Bisma tajam.
"Mm sorry. Aku gak sengaja." Bisma cengengesan sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Ya, aku kira kamu tadi orang jahat." Melati segera pergi meninggalkan Bisma.
Pemuda yang belum pernah diacuhkan sebelumnya, merasa tertantang. Bisma mengejar Melati dan memegang tangannya.
Malati yang menyadari hal itu segera menulis kembali tangan Bisma.
"Sorry, ya. Aku bukannya sok akrab sama kamu. Tapi biar orang tuaku percaya, kalau aku kesini nemuin teman." Bisma kembali membuat alasan dan memasang wajah memelas.
"Aku bosen aja kalau gabung sama obrolan orangtua yang membahas bisnis. Jadi aku cari alasan mau nemuin temen." Bisma menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Melati yang faham mengangguk, dia juga terkadang suka membuat alasan yang sama jikalau diajak untuk bertemu dengan rekan bisnis orangtuanya. "Ya, gak apa-apa. Ayo, aku lagi nunggu tadi online." Melati mengajak Bisma dan duduk di salah satu kursi.
"Kamu udah kenal aku kan? Soalnya aku juga beberapa kali kayak pernah liat kamu di sekolah." Bisma mulai basa-basi.
"Iya, aku kenal kamu, kok. Siapa sih yang gak tau sama ketua tim basket SMA Bintang."
Bisma tersenyum, bisa saja gadis di depannya merupakan salah satu pemuja rahasianya. "Itu kamu bawa apa?"
"Oh, ini." Melati menunjukan paper bag. "Ini buku dari beberapa penulis, yang minta aku review buku mereka."
"Wah kamu suka baca juga, ya?" Bisma pura-pura tidak mengetahui hobi Melati.
Gadis itu mengangguk. "Ya, aku emang hobi baca sih. He-he. Kamu juga suka baca?"
"Ya, aku suka baca. Tapi aku sukanya baca buku komedi gitu. Kaya karyanya Raditya Dika, lucu-lucu." Bisma mulai berbohong lagi, padahal dia baru menghafalkan beberapa jenis buku yang sebelumnya tidak ia ketahui. Membaca adalah kegiatan paling membosankan.
"Wah aku seneng liat cowok suka baca." Melati kembali fokus kepada ponsel miliknya, memantau sudah sampai mana taxi online yang akan menjemputnya.
"Oh, ya. Boleh aku tahu alamat rumah kamu? Aku besok mau jemput kamu ke sekolah, sebagai bentuk makasih karena kamu udah bantuin aku malam ini," tawar Bisma. Dia mulai ingin merayu Gadis yang berada di depannya.
"Nggak usah, nggak apa-apa. Anggap aja kita gak sengaja ketemu," tolak Melati.
Bisma tercengang, baru kali ini ada perempuan yang berani menolaknya. Biasanya siapa saja yang Bisma ajak, pasti mereka tidak bisa menolak. "Gimana kalau pulang sekolah aku antar kamu pulang sekalian makan siang bareng. Aku orangnya gak enakan, jadi pengen aja ngebalas kebaikan orang."
Melati kembali menggelengkan kepalanya, "udah nggak apa-apa, lagipula ini gak yang biasa. Udah ya, aku harus pergi itu mobilnya sudah sampai."
Bisma yang menyadari Melati pergi menuju mobil segera mengejarnya. "Tunggu!"
Malati menoleh ke arah Bisma, "ya?"
"Nama kamu siapa?" tanya Bisma, seolah-olah tidak mengetahui nama Melati.
"Oh iya, aku lupa. Kamu mana tahu nama aku. Kenalin aku Melati." Melati menjulurkan tangannya dan segera pergi.
"Tunggu!" Bisma kembali menahan tangan Melati. Dia segera membuka jas yang dia kenakan.
"Karena kamu gak mau aku bayar dengan hak yang lain. Setidaknya pakai ini." Bisma memasangkan jasnya ke atas pundak Melati.
Melati yang menyadari itu segera menggeleng. "Ini …. "
"Udah, jangan nolak! Ini ucapan terimakasih aku. Supaya kamu gak kedinginan, karena kamu pakai baju tipis banget." Bisma segera pergi dan meninggalkan Melati.
'Beruntung tuh cewek Pake dres lengan pendek selutut, jadi bisa ada alasan buat ngiket dia.' Bisma tertawa penuh kemenangan dan segera berlalu kedalam restoran.
Setelah memasuki mobil, Melati segera melepaskan jas milik Bisma dan melipatnya. "Aku gak biasa pakai baju laki-laki. Lagi Pula udah biasa juga aku pakai baju pendek, gak pernah masuk angin.