"Saayaaang, kenapa pulang ke Indonesia tak kasih kabar?" kata wanita itu dan tanpa ba bi bu lagi mereka langsung beradu mulut.
"Kangeennn.." kata wanita itu yang bernama Sonya, ia menggelayut manja dengan tangan melingkar di leher Adam.
"Bagaimana pemotretannya, lancar?" tanya Adam sambil mengelus pipinya Sonya.
"Hmmm," jawab Sonya.
Sonya masih menggelayut manja, dengan merebahkan kepalanya di dada bidang Adam, dan Adam beralih melihat berkas-berkas di depannya.
Sonya yang masih duduk dipangkuan Adam dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Adam, sambil sesekali mengecup leher itu.
Adam tak keberatan dengan kelakuan Sonya, ia menahan gairah dalam dadanya, kalau saja hari ini tidak ada meeting dan janji temu dengan investor, Adam pasti sudah menerkam Sonya.
Adam adalah laki laki normal, ketika dipancing, tentu saja ia akan bergairah, sekarang saja di balik celananya sudah menegang.
Bagaimana tidak menegang? Sonya yang selama duduk dipangkuan Adam terus bergerak, membuat belalainya terbangun dari tidurnya.
Sonya bukannya tidak tahu dan tidak merasa kalau di bawa ada pergerakan. Tonjolan keras itu sangat berasa, mengganjal di bokong Sonya.
Sonya membayangkan belalai panjangnya adam menembus hutan belantaranya.
Selama berpacaran dengan Adam, tak pernah sekali pun melakukan hubungan intim. Meski tak dpungkiri, kalau mereka sering bercumbu dan hanya sebatas mencumbu.
Adam selalu menolak ketika Sonya terus meminta pada Adam, untuk melakukan hal yang lebih.
Adam ingin melakukannya dengan Sonya ketika sudah halal. Adam memperlakukan Sonya dengan baik. Bahkan terlalu baik.
Kepercayaan Adam pada Sonya tak tergoyahkan, tak peduli omongan buruk apa tentang Sonya, Adam selalu mengabaikannya.
Selagi tidak melihat dengan mata kepala sendiri, Adam akan menganggap semua itu angin lalu. Dan orang yang menjelek-jelekan Sonya, ia anggap orang itu iri dengan Sonya, karena sonya mendapatkan cinta penuh dari adam.
Adam akan memberikan apapun yang diminta Sonya.
Tas, sepatu, baju, berlian, semuanya, dan itu adalah barang barang branded dan mahal.
Satu tahun yang lalu Adam menghadiahi mobil sport, ketika Sonya berulang tahun.
Tak ayal wanita itu berjingkrak kegirangan.
"Boss ..."
Tiba tiba Teo, asisten pribadi Adam, sekaligus sahabatnya nyelonong masuk tanpa mengetuk.
Teo adalah sahabatnya waktu SMA. Nasib yang memisahkan mereka, Teo yang merupakan anak dari keluarga sederhana, melanjutkan kuliahnya di Indonesia, di salah satu Universitas ternama di Jakarta dengan beasiswa, Teo memiliki otak yang encer sehingga sangat mudah baginya untuk mendapatkan beasiswa, sedangkan Adam, anak dari konglomerat, melanjutkan kuliahnya di luar negeri.
ketika Teo melamar kerja, ia tak menyangka, kalau bosnya adalah sahabatnya sewaktu SMA dulu
Sudah hal biasa bagi Teo menyerobot masuk tanpa mengetuk pintu.
Adam, menatap tajam Teo, yang ditatap kikuk salah tingkah.
"Tidak bisakah kamu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk?!?" kata Adam masih mode marah.
Sonya turun dari pangkuan Adam, melangkah ke arah sofa yang ada diruangan itu. Lalu mendaratkan bokongnya dikursi empuk itu. Tangannya dilipat diatas dada, ia menatap Teo kesal.
Teo yang ditatap Sonya, cuex.
"Masa bodo, yang bos gua kan Adam, bukan lo, lo mah apa sih, cuma mba kun-kun, yang suka bergentayangan di sekitar Adam doangan." batin Teo.
"Sorry bos ada hal penting yang harus di laporkan, hari ini kita ada janji temu sama perusahaan investor dari luar negeri di Restoran xxx, yang seharusnya jam sebelas nanti, namum mereka minta sekarang, saya hanya mau menyampaikan pesan mereka dan mereka sudah on the way menuju restoran xxx , sebelum janji temu dengan YC , ada meeting juga sekitar lima menit lagi, laporan selesai , silahkan dilanjut , saya permisi ".
Teo bersiap pergi keluar, namun langkahnya terhenti. Ketika mendengar suara Adam memerintah.
"Batalkan meetingnya, kita berangkat ke restoran xxx sekarang, semoga tidak macet." kata Adam sambil berdiri, dan merapikan bajunya, yang sedikit berantakan.
"Honey .." Adam menghampiri Sonya, tatapannya lembut penuh cinta. Sonya balas menatap Adam, binar matanya menyiratkan ketidak puasannya, dan jari-jari lentiknya merapikan dasi Adam.
Cup, Adam mengecup pucuk kepala Sonya.
"Aku akan ke Surabaya, ada jadwal pemotretan disana. Mau kah kamu mengantarku kebandara besok?" tanya Sonya
"Tidak bisa sayang, besok aku ada meeting." kata Adam.
"Aku memiliki hatimu, tapi tidak dengan waktumu," kata Sonya sambil mengerucutkan bibirnya yang merah cemberut.
"Sayang tolong mengertilah, semua ini demi masa depan kita," kata Adam membujuk kekasihnya itu.
"Aku ingin memberikanmu yang terbaik di dunia ini."
"Ohh ya, kalau kamu ingin memberikanku yang terbaik, lalu kapan akan memberikan waktumu untuk ku, hanya untukku, cukup sehari saja, kau memberiku waktumu khusus untukku."
Sonya kembali cemberut sambil melipat tangan di dadanya.
Adam melirik jam yang melingkar di tangannya, tersisa waktu empat puluh menit lagi sebelum janji temu dengan investor.Teo mengkode Adam dengan menunjuk ke arah jam tangannya.
"Ok..aku harus pergi, aku akan transfer, dan pergilah bersenang senang dengan temanmu." Adam kembali mencium bibir merah sonya.
"Transfer 200 juta, kerekening Sonya," perintah Adam kepada Teo.
"Berapa boss?" tanya Teo
"Sejak kapan kamu menjadi tuli?" kata Adam.
"Tapi boss ..., bukannya baru kemaren bos transfer 100 juta ke Sonya?" kembali Teo bertanya.
"Lakukan saja, sejak kapan kamu begitu cerewet hah?!?" perintah Adam dingin tanpa ada bantahan. Teo sang asisten Adam hanya menggeleng kan kepala, benar benar cinta buta.
"Apa bos tidak sadar kalau dirinya sedang diporotin si kun kun? Cinta sih cinta, ya kali sampe segitunya, di butakan cinta, kalau sudah kesandung rasain loh ntar sakitnya bisa melebihi seperti nyawa yang tercabut paksa dari ragamu,
Teo membatin sambil tangannya terus mengutàk-atik handphone nya.
* * *
Bugh ... !!!
Tiba tiba jidat Andara membentur benda keras, ia spontan meraba kening nya yang menggenyer, sakit.
Kertas yang di bawanya berhamburan di udara, tadi ia di minta bu Rindi untuk memfoto copy berkas, karena mesin foto copy diruangannya sedang rusak, mekanik yang memperbaiki mesin foto copyan nya belum datang.
Karena di pantry hanya ada Andara yang sedang tidak bertugas, maka ia yang pergi memfoto copy berkas tersebut.
Na'asnya Andara, ketika tiba di lorong, menabrak Adam. Dan kertas yang di pegangnya pun berserakan di lantai.
Creb ... !!!
Tiba tiba lengan Andara di cengkram keras oleh Adam.
Andara meringis menahan sakit, cengkraman laki laki itu sangat kuat. Adam mengangkat tangan satunya ke udara, untuk menampar Andara, ia melotot dan mengangkat kepalanya, Andara menatap tajam matanya, Andara mengeluarkan aura mengintimidas. Andara menatap dingin wajah Adam.
Adam menatap balik Andara, ada keterketujan di mata Adam. Andara tak peduli dengan statusnya Adam sebagai pemilik perusahaan, Andara tak akan mengalah.
Adam menurunkan tangannya.
"Minta maaf!!" kata Adam dingin.
"Aku tidak akan meminta maaf sebelum kamu meminta maaf padaku," balas Andara sengit.
'apa yang cewek ini pikirkan, kenapa begitu berani, selama ini tak ada yang berani menentang Adam, bahkan lawan bisnisnya pun takut. Dan sekarang cewek gila yang entah datang dari mana mengancamnya, gila .. benar-benar gila tuh cewek. Bosan hidup rupanya. Tapi ... keren juga sih, akhirnya bos dapat lawan yang tangguh, sama-sama garang.' batin Teo.
"Apa?!? are you crazy girl !!!"
"Tidak, aku tidak gila, hanya orang pengecut yang akan memukul cewek, dan kamu pengecut." kata Andara
"Minta maaf padaku, dan aku akan meminta maaf padamu, kalau tidak lupa kan saja." lanjutnya.
Andara berjongkok, membereskan kembali kertas-kertas yang berserakan. Tadi bu Rindi sudah berpesan, agar GPL ( gak pakai lama ). Adam mendengus kesal. Dan pergi begitu saja.
"Cari tau anak itu, dari divisi mana?" perintah Adam.
* * *
Sial, umpat Adam dengan tangan meninju udara.
janji temu dengan investor dari luar negeri gagal, gara - gara Adam telat datang lima menit.
investor itu sudah pulang ke negaranya. Dan kerjasama untuk menanam modal diperusahaaan ADIWIJAYA batal.
Adam, menyugar rambutnya kasar, raut wajahnya sudah tak terlukiskan.
"Pecat gadis itu," perintah Adam dingin.
Teo, langsung menghubungi bagian HRD untuk memecat Andara.
namun, Adam menghentikannya dengan mengangkat tangannya mengkode Teo untuk menghentikan sambungan telponnya.
Adam tersenyum menyeringai licik ...
'Gawat' batin Teo.
"Pecat gadis itu." perintah Adam dingin.
Teo, langsung menghubungi bagian HRD untuk memecat Andara. Namun, Adam menghentikannya dengan mengangkat tangannya mengkode Teo untuk menghentikan sambungan telponnya.
Adam tersenyum menyeringai licik...
'gawat..' batin Teo.
* * *
"Kenapa mukamu ditekuk begitu?" tanya Tiwi
"Kesel aku sama pak Adam, masa dia tadi mau gampar aku coba."
"Loh kok bisa? emang kenapa?" tanya Tiwi lagi.
"Tadi tuh kan aku di suruh sama bu Rini buat foto copy berkas, ehh pas balik ke kantor, aku nambrak pak Adam, dia marah terus menyengkram lenganku , sampai biru gini, liat nih, " aku menyingsingkan lengan baju ku memperlihatkan memar warna biru di lenganku.
Tiwi melihat memar biru di lenganku, ia merasa geram.
"Lain kali kalau kamu ketemu dengan monster itu sebaiknya menghindar, puter balik arah atau tunggu sampai dia lewat."
"Monster???" tanya ku bingung.
"Ya monster!!" ulang Tiwi.
"Maksudmu pak Adam monster itu??"
Tiwi mengangguk kuat sambil menutup mulutku.
"Sttts ... jangan kenceng - kenceng, nanti di dengar sama orangnya gawat. Nanti bisa - bisa, khekh...!!"tangan Tiwi memperagakan sedang menggorok leher.
" D I B U N U H !!!"
"Di bu nuh .. kataku tergagap" Tiwi mengangguk kuat, meyakinkanku.
" Siapa yang di bunuh."
"Awwh..!!!" Aku dan Tiwi memekik secara bersamaan dan terlonjak kaget, ketika tiba tiba ada suara terdengar dari arah belakang kami. Kami bersama sama menjerit kaget dan spontan langsung berpelukan.
Aku dan Tiwi menoleh kebelakang, ternyata Siska yang bertanya.
" Ngapain sih lu ngagetin kita."
"Yey siapa juga yang ngagetin, kaliannya aja yang pada serius gitu, ampe aku datang aja pada ga denger."
"Lagi pada bahas apaan sih, sampe serius gitu, terus tadi siapa yang di bunuh?"
"Owh..ahh gelap!!" jawab Tiwi ngeloyor pergi, ninggalin siska yang kebingungan.
* * *
Sudah hampir setahun Andara tinggal di tempat bu Romlah, Andara dengar anak bu Romlah sudah mau pulang dari belayar, jadi Andara memutuskan untuk pindah dari rumah bu Romlah, untuk ngontrak, tak apa meski hanya satu kamar kecil juga, yang penting bagi Andara adalah kenyamanan dan tempatnya juga aman.
Hari ini, Andara pergi di antar Tiwi berkeliling mencari kos-kosan, lokasi yang Andara cari yang deket dengan tempat kerja, demi menghemat waktu dan uang. Syukur syukur di belakang tempat kerja Andara ada kos kosan yang murah dan kosong.
Setelah seharian ngubek ngubek wilayah daerah dekat tempat kerja, ternyata, Andara nemu kontrakan yang lumayan terjangkau.
Tempatnya jauh dari jalan raya, masuk kedalam gang sempit yang hanya muat di lalui dua motor saja.
Tempatnya nyaman, dan Andara melihat sekilas warga disekitar juga ramah-ramah, cocok dengan tempatnya dan harganya, Andara membayar selama 3 bulan dulu.
Setelah berpamitan dengan bu Romlah, Andara pindah ke rumah kontrakan yang baru.
Di dalam kamar, hanya ada kasur lantai ukuran single bad, lemari plastik, dan meja kecil.
" Wi, dengar - dengar hari ini bos monster balik jakarta ya?"
"Hmmm..." jawab Tiwi singkat.
"Kemaren-kemaren aku masih aman, setelah monster kaleng balik,gimana nasib ku ya wi?"
Tiwi tidak menjawab hanya mengedikkan bahunya saja.
* * *
Pagi ini cuaca agak mendung dan berangin.seperti hati Andara yang dingin, Andara sedang merindukan ibunya, tiba tiba Andara merasa sulit bernafas, karena setiap hembus yang Andara lepaskan membuktikan pedihnya kenyataan bahwa Andara tak lagi bisa bersama ibunya.
Andara terus mencari petunjuk orang yang telah menyakiti ibunya, tapi..selama Andara ada di Jakarta, Andara tak menemukan apapun.
"Andara, gawat..!Pak Adam sudah kembali."
"Terus aku harus bilang wow gitu..atau harus aku sambut dengan menggelar karpet merah?"
"Ga gitu juga kali.. setidak nya kamu harus siap -siap "
"Maksudnya siap-siap di pecat?"
Tiwi dan siska mengangguk bersamaan.
"Makasih loh kalian udah ngekhawatirin aku," peluk Andara pada mereka.kalian memang best friend.
"Andara antar kopi keruangan bos tampan," kata bu Sinta.
Tiwi dan siska saling pandang, ada raut kekhawatiran di wajah mereka.
" Tenang, tidak akan terjadi apa-apa paling banter di pecat kan?"
Tiwi dan siska mengangguk bersamaan.
Tok! Tok! Tok!
Pintu Andara ketuk, ada rasa gugup melanda hatinya, "tenang Andara ... tenang," ia menyemangati dirinya sendiri. Udara dingin dalam ruangan yang ber ac tidak berpengaruh terhadap nya, Andara tetap berkeringat, dahinya penuh dengan keringat dan bajunya sudah mulai basah dengan keringat. Entah kemana larinya keberaniannya tempo hari, yang mampu menantang seorang CEO, jika di pikir pikir gila memang tindakannya waktu itu, ada rasa hangat menjalar dalam hatinya " aku harus berani, tak boleh ada yang menindasku." gumam Andara dalam hati. Ia menyeka keringat di dahinya dengan kasar. Dan berjalan mendekat ke arah meja monster kaleng, Andara melirik dengan sudut matanya, ternyata monster kaleng itu benar-benar tampan, tapi.. dingin, ketimbang monster kaleng sebutan manusia balok es, sepertinya lebih cocok untuknya, he..he.. he.., Ia tersenyum sendiri memikirkan panggilan baru buat CEO ganteng tapi dingin itu.
Andara tidak menyadari kalau sudah dekat, ketika ia mendongakkan kepala, matanya bersirobok dengan mata elangnya Adam, mata mereka saling mengunci, ada dendam di mata Adam, Andara pun demikian, ada api yang berkobar kobar dalam matanya, entah kenapa begitu marahnya ia melihat manusia balok es.
"Sampai kapan kamu akan terus berdiri disitu? letak kan kopinya di meja." Dingin auranya benar benar dingin, kulkas aja kalah dinginnya sama dia.
"Permisi pak.." setelah kuletakkan kopi di atas meja Andara melangkah pergi, namun belum juga melangkah jauh sudah di hentikan oleh manusia balok es.
"BERSIHKAN AQUARIUM DALAM RUANGANKU SAMPAI BERSIH!" Perintahnya dingin.
Andara melongo "bukankah biasanya ada yang bagian membersihkan aquarium, kenapa harus aku?" Pikir Andara bingung.
"KENAPA DIAM, CEPAT KERJAKAN!"
"Y..ya pak." Andara tergagap.
Ia keluar sambil mengelap keringat di dahinya dengan lengan bajunya. ketika keluar tak sengaja melirik kaca ruangan manusia balok es, dan berhenti di depan kaca, ia merapikan rambutnya dan mengurai rambutnya sebelum kemudian ia merapikannya kembali, lalu mengusap wajahnya dan menatap wajah cantik nya di kaca ternyata ada belek dimatanya, Andara mencomotnya.
Canti ... setidaknya kata ibunya, Andara memang cantik, ia tersenyum ke arah kaca.
Lalu pergi berlalu dari sana, mencari peralatan untuk membersihkan aquarium.
Andara bertanya ke Dika, teman OB nya. Dika bilang yang biasa ngebersihin aquarium itu bukan OB tapi biasa manggil dari luar khusus yang paham dengan seluk beluk per aquariuman dan ikan.
" Kamu yakin mau bersihin tuh aquarium?" tanya Dika.
Andara mengangguk pasrah.
"Mau bagaimana lagi, yang nyuruh bos."
"Emang bisa?"
"Nggak sih, tapi kan bisa di coba."
"Jangan coba-coba kalau kamu tidak yakin bisa, akibatnya bisa fatal," kata Dika menasehati.
Andara bimbang, bak makan buah simalakamah, di lakuin salah nggak di lakuin juga salah.
"Terus aku harus bagaimana?" tanya Andara.
"Terus terang aja ke pak Adam kalau kamu tidak bisa," saran Dika.
"Tapi ... pak Adam, memerintah tanpa penolakan Dik," kata Andara lesu.
"Kamu bisa bantuin aku nggak Dik, setidaknya mungkin kamu tau tentang aquarium?" kata Andara sambil menampilkan wajah memelas.
"Tau sih, sedikit. Ya udah ayo, aku bantuin deh," kata Dika pada akhirnya.
Mereka berdua mulai membersihkan aquarium besar itu, yang ternyata tidak semudah di bayangkan, ia sempat berpikir dengan sombong nya, kalau pekerjaan ini mudah, ternyata ... diluar perkiraan, para pemirsah.
Ketika kami sampai di ruangan manusia balok es, ternyata ruangan nya kosong, tapi kita tetap melakukan pekerjaan membersihkan aquarium besar itu.
Dika, bocah itu ternyata cukup banyak tau tentang aquarium, dan jenis ikan, jadi ia merasa tenang.
sambil membersihkan Dika berceloteh kalau harga, aquariumnya yang setebal dan sebesar ini bisa mencapai 35 juta, termasuk hiasan nya. Dan harga segitu tuh belum termasuk ikan nya, Dika bilang ikan jenis masked angelfish ini di pasaran di patok dengan harga 400 juta an,
"Semahal itu," katanya kaget, Dika mengangguk.
"ya semahal itu! Kamu tidak tahu kan kalau ada ikan Koi yang harganya mencapai 26 Milyar?"
Andara menggeleng, lalu menatap Aquarium sepanjang 2 meter itu, di dalamnya ada 3 jenis ikan Koi jenis masked angelfish dan pappermint angelfish dan bladeffin basslet. Kalau di hitung secara kasar semuanya hampir menyentuh angka di 1 Milyar, gila .. Andara menggeleng kasar, hobi horang kaya memang gila.
Tiba tiba PRANK !!
Andara menggeleng, lalu menatap aquarium sepanjang 2m itu, di dalamnya ada 3 jenis ikan koi jenis masked angelfish dan pappermint angelfish dan bladeffin basslet. Kalau di hitung secara kasar semuanya hampir menyentuh angka di 1M, gila..Andara menggeleng kasar, hobi horang kaya memang gila.
PRANK !!
Gawatt !!!!
Ternyata Andara menjatuhkan vas bunga manusia balok es.
Andara menatap vas bunga itu, vas itu pecah dan isinya berhamburan, lantai itu kotor dengan tanah yang berserakan dan bunga kaktus itu teronggok di lantai.
Dika menatap Andara, ia berjongkok dan memegang bahu Andara. Dika menenangkannya.
" Sebaiknya segera di bersihkan, sebelum pak Adam kembali ".
Andara mengangguk.
" Aku akan menyapu ini semua, sebaiknya kamu cari ember bekas gih sana, kalau ga salah aku lihat di gudang ada ember bekas, dipojok sebelah kanan, kamu cari aja disana ".
" Makasih ya, Dik "
Andara berdiri, beranjak pergi ke gudang
Dika sudah selesai menyapu, aku berjongkok mengumpulkan tanah dan memasukkannya ke dalam ember, Dika menanam kembali bonsai itu kedalam ember, lalu menaruhnya dipojok ruangan.
Dika mengajak Andara keluar dan membawa vas itu di kantong kresek.
" Dik, aku akan kembali ke ruangan pak Adam, aku akan menunggunya, dan mengatakan yg sejujurnya ". Kata Andara pada Dika.
Dika setuju.
Andara berdiri di luar ruangan manusia balok es, menunggunya dengan gelisah.
Satu jam sudah Andara menunggunya, manusia balok es belum juga kembali. Lelah sudah mendera Andara, tapi Andara pantang menyerah, kesalahan yang Andara perbuat harus Andara pertanggung jawabkan , apapun hasilnya.
Andara berjongkok sambil melipat tangannya diatas lutut.
Tak !! Tak!! Tak!!
Suara sepatu pantoepel nyaring terdengar di lorong yang sunyi. Andara buru buru bangkit berdiri.
Manusia balok es menatap Andara dingin, melihat Andara yang berdiri di depan ruangannya.
" Apa yang kamu lakukan disini ".
Manusia balok es melirik jam mahalnya.
Sekarang sudah jam 7 malam, anak anak OB yang lain sudah pulang dan Bahkan para staff juga sudah pulang sejak sore tadi
Andara belum pulang karena harus menunggu manusia balok es.
" Aku nungguin bapak "
" Nunggu saya ? Ada apa ? "
" Oh..apa kamu mau minta maaf, karena ga mampu bersihin aquarium kan ?". manusia es balok tersenyum sinis.
Andara mengangguk lalu menggeleng.
Dahi manusia balok es mengkerut.
" katakan dengan jelas ".
" Saya tidak suka yang bertele tele ".
Manusia balok es, melangkah masuk ke ruanganya yang di ikuti pak Teo sang asisten.
Andara juga ikut masuk, Manusia balok es duduk santai di sofa , manusia balok es melepas jas nya dan melemparnya kesembarang arah, sambil mengendorkan ikatan dasinya, dan membuka tiga buah kancing kemeja putihnya hingga dadanya yang berbulu terlihat. Andara merinding melihat bulu lebat di dadanya, hingga tanpa sadar bergidik geli.
" Cepat katakan , aku tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan omong kosong, " katanya dingin.
" Saya minta maaf pak..."
" Akhirnya kamu mengakui kesalahanmu juga.." manusia balok es tersenyum mengejek.
" Saya tidak mengakui kesalahan saya yang itu, tapi saya mengakui kesalahan saya yang baru ".
" Maksudmu ??"
" Saya baru saja memecahkan vas bunga bonsai bapak yang ada di atas meja itu.."
aku menunjuk ke arah meja.
BRAKK!!
Manusia balok es tiba tiba menggebrak meja di depannya. Pak Teo yang sedang memegang ponselnya pun terlonjak kaget dan ponselnya terjatuh, untung di bawahnya ada karpet tebal, kalau tidak tuh ponsel udah berantakan ga karu karuan.
Gila nih boss, marah kagak pake aba aba dulu, untung hp gua aman.
Andara pun terlonjak kaget.
" Sekarang mana bonsainya?? "
Andara menunjuk ke pojok ruangan, pak Adam dan pak Teo mengikuti arah telunjuk Andara.
" Kamu tau berapa harga vas dan bunga itu?? "
Andara menggeleng
" 35 juta "
Andara melongo mulutnya membentuk huruf O.
" Aku akan menggantinya "
" Kamu akan menggantinya?? Dengan apa?? tubuh mu?? ".
Andara marah, " serendah itu kah Aku dimatanya ".
" Aku akan menggantinya dengan uang gajiku, aku akan mencicilnya ", kataku enteng
" Dengan gaji mu..?!" ha ha ha..manusia balok es tertawa.
Pak Teo terkejut dan terkaget kaget melihat dan mendengar manusia balok es tertawa.
Sumpah gila, bos bisa tertawa lepas gitu. seumur umur ngikut kerja sama bos baru kali ini liat bos ketawa, padahal biasanya mah boro boro ketawa senyum aja kagak pernah.
Manusia balok es, terlihat sedang berfikir, lalu ia tersenyum licik.
" Aku tidak akan memintamu membayarnya, tapi..aku justru akan membayarmu."
Manusia balok es menatapku intens dari bawah lalu naik ke atas, lalu menatapku tajam.
" Bagaimana?? ".
" Bisa di jelaskan ? ", tanyaku.
" Aku memintamu bekerja di rumahku, ohh salah, maksudku apartemenku, kamu cukup membersihkan apartemenku dan memasak untuk ku, dan aku akan membayarmu sesuai dengan gaji yang kamu terima di sini, tapi kontrak itu selama 5 tahun bagaimana? ".
Andara diam, nampak sedang berfikir..
" Kamu tidak perlu berhenti dari sini, kamu cukup datang ke apartemenku setelah kamu selesai dari sini, hanya sampai jam 11 malam saja "
" Tapi..kenapa harus 5 tahun ? "
" Kenapa, keberatan? ",
" Tidak..tidak..tidak keberatan ", aku buru buru menjelaskan, bisa berabe kalau dia marah lagi.
" Bagus..! "
" Buatkan kontrak kerjanya, biar besok sudah bisa di tandatangani ",
" Keluar ! ", perintah nya.
manusia balok es mengusir Andara, dan
Andara keluar dengan senang hati,
" siapa juga yang mau betah berlama lama dengan balok es. dingin tau, bisa beku aku ", Batin Andara.
* * *
" Pesan penerbangan ke surabaya sekarang" ,
" Sekarang....?? "
" Apa perlu ku ulangi ? " dingin Adam.
" Ok.. sekarang ", kata Teo.
Saat Teo sedang mengutak atik hape nya, untuk menjadwalkan keberangkatan bos nya,
" Ganti, ke singapoer, Sonya pindah lokasi ke singapoer ".
Teo menghela nafas kasar.
" Bos, jam segini tuh ga ada penerbangan, adanya 2 jam lagi ".
" Ok..jadwalkan "
Lalu Adam berdiri dan pergi..
* * *
Penerbangan Jakarta - Singapoer sekitar 1 jam 50 menit, pesawat landing..
Adam di jemput, dan pergi ke hotel.
Sebelum menemui Sonya, Adam memutuskan untuk istirahat sejenak, agar tidak mengalimi jetlag..
Adam, bersiap memberikan kejutan untuk Sonya. Adam berdandan sangat rapi, hari ini Adam akan melamar Sonya, sesuai dengan janji Adam pada Sonya satu tahun lalu.
Adam sudah memesan tempat dan meminta pihak restoran untuk menatanya.
Adam pergi ke hotel tempat menginap Sonya, dengan hati yang berbunga-bunga Adam pergi menemui pujaan hatinya.
Adam mampir ke tempat penjual bunga ia membeli buket bunga lily, bunga kesukaan Sonya.
Mobil melaju membelah jalanan kota Singapoer, dua puluh menit kemudian, mobil tiba di depan hotel, seorang belboy, membantu Adam membukakan pintu, dan Adam keluar.
Adam masuk ke hotel, dengan mantap pergi menuju kamar Sonya.
Tap ! Tap ! Tap !
Sepatu patoepel Adam terdengar mantap, seperti hati Adam yang sudah mantap menentukan pilihan hatinya
Sonya, adalah seorang gadis cantik dan sexy, memiliki karier sebagai model.
Sudah sejak lalu, Adam selalu meminta Sonya untuk mau dipersuntingnya, namun Sonya selalu menolaknya dengan alasan kariernya baru di mulai.
Setahun yang lalu, Sonya meminta Adam untuk melamarnya, hari ini genap satu tahun, sesuai dengan janjinya pada Sonya, Adam akan melamar Sonya.
Sonya yang sibuk dengan kariernya dan Adam sibuk dengan pekerjaannya, membuat hubungan keduanya sempat mengalami keretakan.
Namun bukan Sonya kalau tidak bisa merayu Adam untuk berbaikan. Akhirnya hubungan yang sempat retak kembali terjalin.
Adam sangat memanjakan Sonya, apapun yang Sonya minta, Adam akan mengabulkannya.
Transferan uang ratusan juta masuk mengalir ke pundi pundi rekening Sonya.
Hanya demi menunjang gaya hidup Sonya yang glamor, Adam menggelontorkan uang ratusan juta setiap minggunya ke rekening Adam.
Bukannya Adam tak mau memberi fasilitas kartu gold, namun Teo sang asisten melarangnya, nanti saja kalau sudah jadi nyonya Adam Adiwijaya, sekarang masih belum resmi, cukup dengan transfer aja kata Teo, kala itu.
Dengan menenteng bunga di tangan kirinya dan tangan kanannya di masukan ke saku celananya, Adam melangkah pasti menyusuri lorong kamar hotel.
Kamar 325, sebuah kamar suite room.
Adam mengetuk pintu. Tak ada pergerakan, setelah tiga kali mengetuk, pintu terbuka.
Seorang laki - laki muda yang lumayan tampan, ya hanya lumayan saja, yang tampan itu ya aku, narsis sih memang tapi itu kenyataan. Orang itu melongok melihat keluar. Ditatapnya Adam dengan kesal.
Adam merasa bingung, apa aku salah kamar ??
Laki - laki itu nampak lelah, keringat masih mengucur di badannya yang hanya berbalut handuk putih. Seperti baru ber olahraga malam.
Adam, mengernyitkan dahinya, menatap laki-laki itu, apa ia salah kamar ?.
* * *