Bab 1

Sesampainya di Bandara Soekarno Hatta, Bitna menghirup dalam udara segar dari negara yang baru pertama kali dikunjunginya itu. Tatapannya langsung mengarah pada segerombolan orang-orang yang menjeritkan namanya dengan tatapan penuh puja. 

"Nana!"

"Kami mencintaimu!"

"Kamu sangat cantik!"

"Saranghae, Nana Eonni!

Bodyguard yang sudah siap menjaganya, dengan sigap segera menghadang para fans dari aktris terkenal asal negeri ginseng tersebut. Bitna lantas memakai kacamata hitamnya dan mulai melanjutkan langkahnya. Diikuti oleh manajer dan timnya yang lain. Sesekali ia melambaikan tangannya dan menundukkan kepalanya untuk membalas sapaan dari para fansnya. 

“Aku tidak menduga jika aku seterkenal ini di mancanegara,” bisik Bitna pada Dalmi, manajernya, dengan rasa bangga.

Dalmi tertawa kecil mendengarnya dan berkata, “Lebih seringlah membuka akun media sosialmu dan sapa fansmu, agar kamu mengetahuinya. Ini berkat film yang kamu bintangi terakhir kali.”

“Ternyata tidak hanya idol,” balas Bitna dengan gumaman. 

Netra Bitna menangkap segerombolan orang berpakaian jas berwarna hitam rapi dari kejauhan yang berlawanan arah darinya. Atensinya langsung jatuh pada seorang pria yang memimpin mereka di depannya. Ia memang tampan dan terlihat memiliki aura yang sama dengan yang dimiliki oleh CEO perusahaannya. Hanya dengan menatapnya dari kejauhan, entah untuk alasan apa, membuat jantung Bitna berdetak dua kali lebih cepat. Bitna menatapnya hingga ia bahkan melepas kacamatanya untuk bisa menatap pria itu langsung.

Ketika gerombolan pria tersebut sudah ada tepat di depannya, Bitna tanpa sadar mengatakan sesuatu sambil menghentikan langkahnya. “Tampan,“ gumam Bitna yang ditunjukkan pada pria tersebut.

“Ada apa denganmu?” Dalmi bertanya pada Bitna yang tiba-tiba saja berhenti.

Bitna segera tersadar dan menatap Dalmi yang sudah ada beberapa langkah di depannya. Untuk terakhir kalinya ia menatap pria tersebut dari belakang.

“Tidak ada,” jawab Bitna seraya melanjutkan langkahnya menyusul Dalmi.

“Permisi.” Tiba-tiba suara seorang pria terdengar dari belakang mereka yang membuat Bitna beserta rombongannya berhenti dan berbalik.

Dia adalah pria yang diperhatikan Bitna secara diam-diam sejak tadi. Dibalik sikap tenangnya, diam-diam Bitna mengutuk dirinya sendiri yang membuat kesalahan.

“Ya? Ada urusan apa, Tuan?” tanya Dalmi.

“Aku melihatnya terjatuh dari tanganmu,” ucap pria tersebut sembari mengulurkan sebuah gelang pada Bitna.

“Ah, ya, benar. Itu milik saya.” Bitna bahkan tidak menyadari jika gelang berharga miliknya itu sudah terjatuh dari tangannya karena terlalu fokus memperhatikan pria ini.

Pria tersebut meletakkan gelang yang ia pegang di telapak tangan Bitna yang terbuka. Sensasi aneh dirasakan Bitna ketika mereka bersentuhan secara tak sengaja.

“Terima kasih,” ucap Bitna setelah pria tersebut menarik tangannya kembali.

Ia segera berbalik dan melanjutkan langkahnya bersama rombongannya. Bitna menatap punggung tegapnya sampai tertutupi oleh orang-orang dibelakangnya. Jantungnya semakin berdegup dengan kencang setelah interaksi mereka.

“Ayo kita pergi, Bitna,” ajak Dalmi seraya berbalik dan melanjutkan langkahnya.

“Ayo, Eonni,” sahut Bitna yang segera mengikuti Dalmi.

Bitna, Dalmi, dan rombongan mereka melanjutkan perjalanan dengan mobil yang sudah menunggu mereka. Sebuah apartemen sudah dipersiapkan oleh perusahaan, sementara mereka menetap di Indonesia.

“Apa kita tidak tinggal di hotel?” tanya Bitna setelah sampai dan melihat-lihat seisi ruangan.

“Tuan CEO sudah menjelaskan padaku bahwa kita akan menetap cukup lama di Indonesia yang berpotensi selama bertahun-tahun. Semua keperluan kita sudah diurus oleh perusahaan," sahut Dalmi. 

“Selama itu?” tanya Bitna terkejut.

Dalmi tidak lagi menjawab karena sudah sibuk dengan barang-barangnya dan pikirannya yang lagi-lagi melamun. Semua ini seakan sudah dipersiapkan dengan matang dan dari jauh-jauh hari. CEO mereka benar-benar seolah berniat membuang mereka jauh dari Korea.

“Eonni … “ Bitna memanggilnya untuk bertanya lebih banyak.

“Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Hal yang terpenting adalah kita selesaikan pekerjaan ini sampai selesai. Acara pertamamu adalah besok malam, persiapkan dirimu saja. Di sana ada banyak orang-orang yang penting di negara ini,” jelas Dalmi seraya membawa kopernya ke dalam salah satu kamar.

Keesokan malamnya

Bitna melangkah masuk ke dalam ruangan yang sudah di dekor sempurna dengan langkah percaya diri. Hal pertama yang ia lakukan adalah mengambil minuman dan memperhatikan sekelilingnya. Dalmi mengatakan bahwa dirinya hanya harus mengobrol seperti biasanya tanpa membuat masalah.

Suara seseorang yang terdengar lewat microphone, mengalihkan atensi para tamu secara serempak. Tak terkecuali dengan Bitna, yang saat itu juga tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Melihat pria yang dilihatnya di bandara kemarin saat ini berdiri di atas panggung.

"Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan semua yang sudah hadir di acara saya." Suara bariton khasnya mulai terdengar.

Bitna semakin terpesona padanya, meskipun pria itu mengucapkan kalimat-kalimat yang menurutnya sangat membosankan dalam pidato. Sampai setelah ia menutup pidato singkatnya dan mendapatkan banyak tepuk tangan, Bitna masih terhipnotis dengan pesonanya. Hingga pria tersebut turun dari panggung, Bitna baru tersadar.

“Dia terlihat luar biasa,” ucap Bitna bergumam. ‘Tentu saja dengan status keluarganya dia sudah terbiasa melakukannya.’ Bitna menambahkan di dalam batinnya.

Setelah kalimat singkat pidato yang diucapkan olehnya selesai, pesta membosankan ini pun akhirnya berjalan kembali. Bitna mulai mendekati gerombolan orang-orang berkelas ini untuk sekedar bercengkrama demi membangun citranya. Tentu saja dengan beberapa kali minum, yang entah sudah keberapa kalinya.

“Nona Bitna, apa saya benar?” sapa seorang pria yang tiba-tiba saja sudah ada di dekatnya.

“Ya, benar, Tuan pengembali gelang?” Bitna bertanya secara tidak langsung nama dari pria yang ia temui di bandara kemarin.

Pria di depannya tertawa dan mengulurkan tangannya seraya memperkenalkan dirinya, “Nama saya Kenzo.”

“Senang bertemu dengan Anda, Nona Bitna.” Bitna membalas uluran tangan tersebut. 

Melihat sekali lagi dari dekat wajah pria yang diam-diam ia kagumi ini memang membuat Bitna semakin mengakui ketampanannya. Sikapnya yang kini Bitna lihat juga terasa sangat berbeda dengan saat pertemuan pertama mereka atau saat ia berpidato di atas panggung tadi. 

“Saya juga senang, Tuan Kenzo.” Setelah cukup lama berjabat tangan, Bitna melepaskan jabatan tangan mereka. 

“Maafkan saya,” ucap Kenzo terlihat canggung.

“Saya dengar, Anda yang mengadakan pesta indah ini? Terima kasih sudah mengundang saya, Tuan Kenzo.” Bitna segera kembali berbicara untuk menghilangkan kecanggungan Kenzo dalam Bahasa Indonesia. 

“Terima kasih juga atas pujiannya, Nona Bitna. Ngomong-ngomong, Bahasa Indonesia Anda cukup fasih, apa Anda berasal dari negara ini?” tanya Kenzo mengalihkan pembicaraan.

“Tidak, manajer saya yang memiliki darah Indonesia. Jadi, dia yang mengajari saya,” jawab Bitna yang diangguki Kenzo.

“Kalau begitu, saya pamit untuk menyapa tamu yang lainnya. Selamat menikmati pestanya.” Kenzo mulai berpamitan setelah berbincang sebentar dengan Bitna.

“Dengan senang hati,” sahut Bitna dengan senyum manis formalitasnyanya mengiringi kepergian Kenzo. 

Setelah Kenzo pergi, Bitna melepaskan senyum manis di wajahnya. Efek samping dari alkohol yang sejak tadi ia minum mulai terasa. Sesegera mungkin ia keluar dari ruangan, meninggalkan pesta tanpa diketahui siapapun.

Berjalan sempoyongan dalam keadaan yang sudah setengah sadar, Bitna masuk ke dalam lift dan menekan tombol lift terbawah. Ketika suara lift berbunyi menandakan jika lantai yang dituju oleh Bitna telah sampai, ia keluar dengan langkah yang masih sempoyongan. 

Matanya yang buram sama sekali tidak melihat meja resepsionis yang tadi ia lihat saat masuk ke dalam hotel. Yang dilihatnya hanya sebuah lorong panjang dan pintu-pintu kamar. Merasa jika ia salah menekan tombol, Bitna berbalik untuk kembali ke dalam lift.

Pandangannya kembali menangkap seseorang yang berjalan dari arah berlawanan ke arahnya. Ia menundukkan kepala, berharap tidak dikenali. Namun, tiba-tiba saja pria tersebut berhenti tepat di sampingnya dan menghentikan langkah Bitna dengan menahan tangannya.

Bitna yang berdiri tak seimbang memegang dinding di sampingnya untuk menahan tubuhnya. Ia lantas mendongak untuk menatap pria yang lebih tinggi darinya ini. Namun, belum sempat Bitna melihat, tanpa aba-aba, ia mencium bibir Bitna. Bahkan tangannya entah sejak kapan menarik pinggang Bitna membuat tubuh keduanya menempel sempurna.

Bitna masih belum bereaksi dengan apa yang baru saja terjadi. Entah karena rasa mabuk atau karena permainannya yang membuai, ia mulai terbawa oleh suasana dan perlahan membalas ciuman pria tersebut. Kepalanya kosong, tidak memikirkan apa akibat yang bisa terjadi dengan perbuatannya ini.

“Aku merindukanmu, Ariana.” Ditengah ciuman mereka, Bitna samar-samar mendengar suara pria tersebut.

‘Aku sepertinya pernah mendengar nama Ariana di suatu tempat?’

-

-

-

To be continued

Bab 2

Kenzo berbaring di atas kasur sambil menatap layar ponselnya. Ibu jarinya menyentuh layar ponsel mahal nan canggih miliknya untuk terus menggulirnya ke bawah. Setelah habis berita yang dibacanya, ia mematikan ponsel miliknya dan menyimpannya ke atas meja nakas di sisi kasur. Tidak ada ekspresi apapun yang terlihat menggambarkan suasana hatinya setelah ia selesai membaca berita terheboh pagi ini. 

Tatapannya lantas mengarah pada seorang gadis yang masih terlelap nyenyak di sisinya, menggunakan selimut yang sama dengannya. Ia menatap wajah cantik yang tengah tertidur itu. Namanya dan nama dari gadis ini, dalam waktu singkat sudah menjadi urutan pertama dalam daftar pencarian di berbagai negara. Terutama Indonesia dan Korea. 

Di tengah lamunannya, ia menyadari kedua netra gadis ini bergerak pelan dengan alis yang mulai berkerut. Perlahan kedua mata indah itu mulai terbuka sempurna dan langsung menatap langit-langit ruangan. Sepertinya ia merasakan sakit di kepalanya karena ia langsung memeganginya. Disusul dengan suara erangan serak yang keluar dari mulutnya. Semua yang dilakukan olehnya tak lepas dari tatapan Kenzo yang belum disadarinya. Kenzo mengambil inisiatif untuk mengambil gelas di atas meja nakas. 

"Minumlah ini dulu," ucapnya sambil menyodorkan gelas. 

Tanpa mengatakan apapun, gadis tersebut mengambil gelas yang diberikan dan meneguk isinya hingga tandas. Helaan napas penuh kelegaan akhirnya keluar dari mulut gadis itu yang masih belum menyadari situasinya. 

“Selamat pagi, Nona Bitna.” Suara seorang pria yang sama dengan yang memberikan ia minum membuat Bitna mengalihkan atensinya.  

Begitu Bitna bersitatap dengan pria di sampingnya selama beberapa detik, suara jeritan miliknya terdengar cukup keras di dalam kamar hotel ini. Bitna melompat turun dari atas tempat tidur. Namun, rasa sakit dan pegal di sekujur tubuhnya membuat kaki untuk menopang tubuhnya begitu lemas dan tidak dapat menahan keseimbangan. Al hasil, ia jatuh terduduk dan mengeluarkan suara erangan kesakitan. Tak lama ia menyadari sesuatu lagi. 

Tubuhnya yang tidak mengenakan apapun, terpampang jelas di depan pria tersebut. Segera Bitna menarik selimut di atas kasur untuk menutupi tubuh polosnya. Meski ingatannya masih samar-samar, ia tidak sepolos itu untuk tidak mengetahui apa yang sudah terjadi. Suasana menjadi canggung dan Bitna dengan pipi memerah tidak dapat menatap mata pria yang sudah menjadi teman tidurnya. 

'Tidak mungkin! Apa yang sudah kamu lakukan Bitna? Apa yang akan kamu lakukan sekarang? Semuanya sudah terlambat! Kenapa harus pria ini?' Pikiran Bitna mulai berkecamuk memikirkan cara apa yang harus ia lakukan untuk membereskan semua kekacauan yang telah dibuatnya. 

"Nona Bitna.” Suara Kenzo kembali terdengar membuat Bitna mendongak. Wajahnya tiba-tiba saja sudah ada di depannya. 

"Menjauh dariku, Brengsek!" bentak Bitna sambil mendorong tubuh Kenzo dan menggeser tubuhnya menjauh secara reflek. 

Perkataan kasar yang ditunjukkan pada pria yang sudah ia akui ketampanan dan kharismanya ini, keluar dari mulut Bitna. Ia tidak percaya jika pria yang dikaguminya ini adalah seorang pria brengsek yang mengambil kesempatan dari gadis yang mabuk. 

Wajah Kenzo yang sejak tadi tidak menampilkan ekspresi apapun, mengeluarkan seringaian. “Saya masih mengingat dengan jelas suara desahan itu.” Tanpa diperintah, pipi Bitna semakin memerah. 

"Itu karena saya mabuk berat semalam! Namun, Anda, pria brengsek yang benar-benar mengambil kesempatan dari saya yang mabuk berat!" hardik Bitna dan dengan berani menunjuk Kenzo. 

"Bukankah justru Nona Bitna yang bertindak agresif dengan mencium saya lebih dulu?” tanya Kenzo berbohong. 

“A-apa? Saya tidak-” Bitna tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena ingatannya yang samar tidak bisa memastikan. 

Suara dering ponsel milik salah satu dari mereka terdengar. Bitna mengalihkan atensinya pada tas miliknya yang ternyata mengeluarkan bunyi itu. Ia mengambil ponsel miliknya dan menatap layarnya. Tubuhnya menjadi kaku ketika melihat nama manajernya yang terpampang di layar ponsel. 

'Apa kak Dalmi sudah mengetahuinya?' tanya Bitna dalam batinnya. Dengan tangan gemetar ia mengangkat telepon dari manajernya itu.

Setelah mengangkat telepon, Bitna segera menjauhkan ponselnya dari telinganya, mendengar suara Dalmi yang berteriak. Meski Bitna sudah menjauhkan ponselnya, suara Dalmi masih terdengar. Dirasa Dalmi selesai  memarahinya, Bitna barulah kembali menempelkan ponselnya ke telinga.

"Maafkan aku, ponselku kehabisan baterai semalam. Aku baik-baik saja, Eonni." Bitna menjawab Dalmi berbohong. Mendengar kekhawatiran Dalmi yang memarahinya tanpa menyinggung apa yang terjadi padanya, sepertinya dirinya masih belum ketahuan.

"..." 

"A-apa maksudmu?" tanya Bitna ketika mendengar kalimat selanjutnya yang dikatakan oleh manajernya itu.

"..."

"Apa?! Secepat ini?!" teriak Bitna yang langsung dibalas teriakkan tak kalah kencang dari Dalmi. Bitna lagi-lagi menjauhkan ponselnya dari telinganya. 

"..."

"Eonni, aku bisa menjelaskan semuanya. Itu bukan kesalahanku," ucap Bitna setelah kembali mengendalikan dirinya.

"..."

Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Dalmi, Bitna membuka salah satu situs berita gosip tanpa menutup telpon dari Dalmi. Tubuh Bitna semakin lemas setelah selesai membaca berita dan melihat foto serta menonton video perbuatan dirinya dan Kenzo. 

"E-eonni, aku benar-benar tidak sadar karena mabuk dan pria ini yang mengambil kesempatan. Aku berani bersumpah demi nama dan karirku! Apa yang harus aku lakukan?" Bitna mulai frustasi dan merengek pada Dalmi.

"..." Suara Dalmi yang juga terdengar frustasi membuat jantung Bitna benar-benar mencelos.

Setelah lama memperhatikan ekspresi wajah Bitna, Kenzo lebih memilih bangun dari kasur dan berjalan ke arah kamar mandi. Memperkirakan bahwa pembicaraan Bitna dan manajernya akan menghabiskan waktu.

Pembicaraan panjang lebar dengan Dalmi di telpon itu berakhir dengan Bitna yang menutup telpon dengan ekspresi wajah penuh penyesalan. Jika sejak awal ia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dalmi, ini semua tidak akan pernah terjadi. 

"Anda sudah selesai?" Suara Kenzo terdengar bertanya membuat perasaan marah yang tadinya pudar kembali dirasakan Bitna. Saat menatapnya, Kenzo sudah kembali berpakaian jasnya dengan rapi bekas semalam. 

"Sebaiknya, Anda segera mandi dan keluar dari sini." Ucapannya seolah-olah ia tidak merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya. Ekspresi wajahnya bahkan menunjukkan seolah ini semua adalah sesuatu yang normal terjadi baginya. 

Ia terlihat tidak mengetahui bahwa perbuatan mereka itu menimbulkan sesuatu yang fatal bagi Bitna. Atau ia memang tidak pernah peduli pada hal-hal seperti ini. 

"Apa Anda tidak menyadari dengan apa yang Anda lakukan pada karir saya?" tanya Bitna yang kali ini dengan nada yang terdengar lelah menghadapi Kenzo.  

"Saya memiliki pekerjaan setelah ini. Jadi, saya akan memberikan kartu nama saya bersama Anda. Sebaiknya Anda juga segera pergi jika tidak ingin wartawan di bawah semakin banyak." Bukannya menjawab, ia menyimpan sebuah kartu nama di atas meja. 

"Sampai jumpa, Nona Bitna." Belum selesai terkejut, pria itu sudah berpamitan dan keluar dari kamar, meninggalkan Bitna seorang diri.

Bitna yang masih duduk di lantai, menatap pintu kamar yang baru saja tertutup dengan tatapan tidak percaya. Ia lantas mengacak rambutnya frustasi. Dengan susah payah Bitna berdiri dan melangkah ke arah jendela besar yang menjadi jalan masuk sinar matahari. Ketika ia melihat ke bawah, kerumunan orang-orang yang membawa kamera membuat Bitna menelan ludah. 

“Bagaimana caranya aku bisa lolos dari para wartawan itu?”

-

-

-

To be continued

Bab 3

"Apa kamu sudah mengetahui apa kesalahanmu?" tanya Dalmi yang saat ini tengah menyidang Bitna yang sudah duduk berlutut di bawahnya. Bitna menunduk dalam dan mengangguk sekali tanpa berani menjawab atau menatapnya. 

"Aku sudah memberitahumu dan menasehatimu ribuan kali, Bitna." Dalmi menyandarkan punggungnya dan menghela napas berat 

"A-aku …"

"Tidak usah berbicara," potong Dalmi ketika Bitna baru saja mengatakan satu kata.

Semua kantor berita gosip sibuk menayangkan Bitna dan pria pengusaha itu. Foto dan video itu sudah menyebar sejak semalam membuat hotel tempat pesta diadakan semakin penuh dengan wartawan yang sudah menunggu keduanya. Kemunculan dirinya yang keluar dari hotel pagi tadi seolah membenarkan berita yang tengah panas. 

"Apa kamu mengenal pria itu?" tanya Dalmi tiba-tiba.

“Dia pria yang tidak sengaja berpapasan dengan kita di bandara dan pria yang sama dengan yang mengadakan pesta semalam. Hanya itu yang aku tau.” Bitna menjawab masih sambil menundukkan kepalanya. 

"Siapa dia memangnya?" tanya Bitna kemudian mendongak menatap Dalmi. 

"Ini akan menjadi mudah jika ia hanya pengusaha biasa. Tetapi semua ini menjadi sulit karena bisa dikatakan, dia adalah orang penting nomor 2 setelah presiden di negara ini." Dalmi menjelaskan membuat Bitna melotot terkejut. 

"Orang nomor 2 setelah presiden?! Sepenting itukah?" tanya Bitna dengan nada terkejut tidak percaya. Dalmi hanya mengangguk tanpa bersuara kembali.

Dalmi menyerah untuk mengatasi hal ini, setelah mengetahui siapa sebenarnya pria tersebut. Ini sudah dipastikan tidak akan mudah untuk menyuapnya sebab kekuasaannya yang melebihi Bitna atau perusahaan mereka sendiri. Dalmi berpikir mungkin ini menjadi salah satu alasan CEO nya belum menghubungi mereka sama sekali. Dalmi akhirnya mau tak mau lebih dulu menghubunginya untuk meminta solusi akan masalah ini. Hasilnya adalah sama dengan apa yang dipikirkan olehnya. Bitna harus berbicara dengan pria itu untuk mengadakan konferensi. 

"Apa yang akan terjadi setelah ini, Eonni? Bagaimana dengan karirku?" tanya Bitna mulai cemas. 

"Agensi sudah bertindak lebih cepat untuk meredam publik dengan permintaan maaf di media sosial," jawab Dalmi. Ekspresi wajah Bitna masih belum membaik meski sudah mendengar apa yang dikatakan dirinya. 

"Tidak ada pilihan lain selain berbicara padanya untuk memberikan kejelasan yang sebenarnya pada media. Tentu saja ini tidak akan mudah. Namun, itu adalah pilihan terbaik saat ini. Mungkin kamu akan kesulitan mendapatkan kepercayaan lagi dari para fans setelah ini. Atau lebih buruk, kamu akan kehilangan segalanya. Semua pilihan tetap akan merugikan dirimu, meski kamu tidak salah sekalipun." Lagi-lagi penjelasan Dalmi tidak membuat Bitna merasa lebih baik. 

"Aku akan mencari cara agar bisa bertemu dengannya," ujar Dalmi mencoba menghibur Bitna. 

"Bersihkan dirimu dan beristirahatlah," perintah Dalmi kemudian.

"Tu-tunggu, Eonni." Ketika Bitna hendak menuruti apa yang dikatakan oleh Dalmi, ia mengingat apa yang dikatakan oleh Kenzo sebelum pergi meninggalkannya.

"Ada apa?" tanya Dalmi yang tidak dijawab oleh Bitna. Ia justru segera membuka tasnya. 

"Ada!" seru Bitna tiba-tiba.

"Ada apa?" tanya Dalmi sekali lagi. 

"Kenzo Abrissam Gandara?" Bitna bergumam yang masih dapat didengar oleh Dalmi.

"Ya, nama pria itu adalah Kenzo Abrissam Gandara, Ketua Direktur dari Perusahaan Haritala Group yang menjadi penyumbang besar kenaikan perekonomian di Indonesia. Sepertinya ia memiliki usia yang tak jauh denganmu." Jawaban Dalmi kali ini mendapat respon keterkejutan dari Bitna. 

Ia memang sudah menduga jika pria itu bukan pria sembarangan, tetapi ia tidak mengira jika Kenzo seluar biasa itu. Kalau saja ia bukan pria brengsek. Memikirkan itu membuat Bitna berhenti mengaguminya. 

"Lalu apa yang kamu katakan tadi? Apa yang ada?" tanya Dalmi kembali. 

"Ada kartu namanya," jawab Bitna sambil memberikan kartu nama yang dipegangnya. 

"Bagus!” seru Dalmi seraya mengambil kartu nama tersebut. 

"Te-tetapi …" Suara Bitna terdengar ragu. 

"Tidak ada pilihan lain, jika kamu benar-benar ingin menyelamatkan karirmu." Dalmi menjawab sebelum Bitna membantah.

"Baiklah," timpal Bitna yang akhirnya pasrah.

Keesokan harinya

"Apa? Se-sekarang juga?!" tanya Dalmi terkejut dan menaikkan nada suaranya, mendengar jawaban dari pria di depannya yang terlihat lebih muda darinya ini, selesai dirinya mengutarakan maksud kedatangannya. 

Bitna yang sejak tadi hanya menunduk dan meremas jarinya yang berkeringat, seketika mengangkat kepalanya dan langsung bersitatap dengan kedua netra Kenzo yang juga tengah menatapnya. Ia tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejutnya lagi. Padahal ia sudah mempersiapkan diri untuk berlutut dan memohon sekaligus melakukan permintaan maaf pada pria di depannya. 

"Tu-tuan Kenzo, kami memang ingin menyelesaikan ini dengan segera, tetapi apa Anda benar-benar akan melakukannya sekarang? Maksud saya, kami tidak apa jika harus menunggu karena kami mengerti bahwa Anda sangat sibuk." Dalmi segera memperjelas apa yang ia maksud untuk tidak menimbulkan kesalahpahaman. 

"Sekretaris saya sudah mengurus semuanya. Saya juga ingin segera menyelesaikan ini karena saya tidak memiliki banyak waktu. Bukankah lebih cepat akan lebih baik?" Kenzo memutar pertanyaan pada Dalmi yang terlihat masih tidak percaya padanya yang akan melakukan konferensi pers sekarang juga. 

"Kalau begitu, mari kita pergi sekarang karena kita tidak memiliki waktu lagi." Belum selesai dengan itu, Kenzo kembali mengejutkan kedua wanita yang baru saja sampai di depannya ini. 

"Ba-baiklah, itu bagus." Dalmi benar-benar tidak menduga bahwa ini semua akan begitu mudahnya. 

"Ayo, Nona Bitna,” ajak Kenzo seraya menarik pinggang Bitna untuk mendekat padanya yang membuat gadis itu serta manajernya semakin terkejut. Namun, mereka tidak memiliki kesempatan untuk bertanya apapun. 

Begitu sampai di dalam ruang konferensi, kedatangan Bitna dan Kenzo membuat suasana semakin riuh. Mereka dengan sigap segera menghujani keduanya dengan cahaya flash, melihat kedatangan Kenzo dan Bitna yang terlihat mesra. Seakan menunjukkan jika diantara mereka memang ada suatu hubungan khusus. 

Kenzo menarik kursi untuk Bitna yang terlihat jelas jika ia tengah kebingungan dengan sikap pria itu padanya. Namun, ia tetap tak bisa bertanya padanya di situasi seperti ini. Ia hanya bisa menerima semuanya, meski mengetahui jika ini akan mempersulit klarifikasi. 

“Santai saja, kendalikan ekspresi wajahmu,” bisik Kenzo setelah pria itu duduk di sampingnya. Tanpa diperintah, Bitna sudah melakukan apa yang dikatakan Kenzo. 

"Tuan Kenzo, apa foto dan video Anda dengan Nona Bitna yang tersebar adalah benar?" 

"Apa hubungan Anda dengan Nona Bitna?"

"Nona Bitna, apa benar jika Anda hanya memanfaatkan situasi dan status Tuan Kenzo untuk kesuksesan karir Anda?"

"Di Korea, rumor mengenai CEO perusahaan Anda yang membantu Anda untuk sukses itu, apa rumor tersebut benar?"

Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pada Bitna mulai terasa tak nyaman baginya. Perasaan tenang sebelumnya itu tampaknya hanya sebentar karena setelah mendengar apa yang ditanyakan oleh wartawan membuat nyali Bitna menciut. Namun, bagaimanapun, dirinya harus tetap tegak dan menghadapi ini semua. Bitna berdehem sebentar, sebelum akhirnya duduk mendekati microphone untuk mulai menjawab pertanyaan. 

"Foto dan video yang beredar adalah benar kami berdua." Kenzo lebih dulu memulai sebelum Bitna sempat angkat suara. 

"Karena ini semua sudah tersebar, saya kira semuanya tidak perlu lagi disembunyikan," lanjut Kenzo. 

Bitna mulai merasa aneh dengan apa yang dikatakan oleh pria di sampingnya. Namun, ia masih menutupinya dengan senyumnya yang alami. 

"Saya dan Nona Bitna memang memiliki hubungan yang spesial." Perkataan Kenzo semakin membuat dahi Bitna menyerngit. Ia lantas menoleh pada Kenzo. 

“Kami sebenarnya belum meresmikan hubungan pertunangan kami karena satu dan dua hal masalah. Namun, saya sudah melamarnya. Kami sudah sejak lama menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih." Selesai dengan klarifikasi Kenzo, rentetan pertanyaan semakin terdengar. Cahaya flash semakin brutal menyorot ke arah keduanya. 

Bitna mendekat ke arah wajah Kenzo. Sambil tetap mempertahankan senyumnya, ia berbisik pelan, “Apa semua omong kosong yang Anda katakan ini?”

-

-

-

To be continued

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED