Mesjid agung Baiturrahman. Sebuah mesjid yang luas dengan nuansa modern itu terlihat begitu megah.
Mesjid dengan pintu berwarna emas itu berhasil menarik perhatian banyak orang. Masyarakat dari berbagai daerah berbondong bondong untuk bisa duduk di dalamnya.
Bukan tanpa alasan, saat ini tepat di hari minggu pihak pengurus mesjid mengadakan sebuah pengajian syukuran.
Pengajian itu bukan pengajian biasa. Seorang ustadz muda dengan segudang prestasinya hadir mengisi acara kali ini.
Namanya ustadz Zaid Al zaidany Seorang anak kyai ternama di Tasikmalaya itu begitu dikagumi banyak orang.
Bukan hanya penampilannya yang modis nan islami. Sorot matanya yang tajam dan memabukan tentu menjadi daya tarik tersendiri.
Alisnya yang tebal nan rapi membuat ketampanannya semakin gagah. Juga dengan hidung mancungnya yang membuat siapa saja akan iri kepadanya.
Ustadz Zaid. Begitulah orang lain menyebutnya. Seorang ustadz muda yang mempunyai paras dan akhlak yang mulia itu tentu menjadi buah bibir di masyakarat khususnya untuk ibu-ibu yang sibuk menawarkan anak-anaknya.
Nuansa islami terasa begitu lekat apalagi setelah pengajian dimulai. Suasana pengajian yang semula begitu ricuh riuh kini berubah total menjadi damai.
Ibu-ibu terdiam dengan kebisuannya setelah ustadz Zaid memulai dakwahnya. Bapak-bapak pun ikut memperhatikan dakwah ustadz Zaid dengan segala keirian dihati mereka.
Bukan hanya soal fisik tapi juga dari segi mengolah kata dan cara berpikir yang dewasa dan bijaksana yang semuanya dimiliki ustadz Zaid seutuhnya.
Disaat orang sedang sibuk mendengarkan ceramah di dalam mesjid dan juga yang diluar mesjid. Seorang gadis berani berbeda dengan yang lainnya. Gadis bernama Ikrimah yang bergamis syari dengan cadar hitamnya itu sibuk memberi makan kucing di luar mesjid. Dia mengelus kucing liar itu dengan begitu tulus.
"Meong, meong," suara kucing itu terdengar seperti bahagia.
Ikrimah sontak tersenyum dan semakin semangat mengelus kucing itu dengan tangan mungilnya.
"Mpus kamu terlihat lapar sekali," ujar Ikrimah sambil menuangkan Whiskas kecil yang selalu ia bawa di dalam tasnya. Ikrimah memang sesuka itu kepada hewan berbulu ini.
"Makanlah," ujar Ikrimah lagi. Semakin sering kucing itu mengeong maka Ikrimah semakin bersemangat memberinya makan.
Kucing itu berbulu lembut. Warnanya orange dengan bulu-bulu berwarna putih yang ada di beberapa bagian tubuhnya saja.
Ikrimah menemani kucing itu makan di luar mesjid. Dengan posisi duduk di teras mesjid Ikrimah terus fokus kepada kucing liar itu.
Cukup lama Ikrimah menemani kucing itu makan sampai pengajian pun ternyata sudah bubar.
"Neng, maaf anda sedang apa ya? Apa anda sedang ikut istirahat disini?" tiba-tiba suara seorang lelaki mengagetkan Ikrimah.
Ikrimah sontak menoreh ke asal suara.
"Saya sedang memberi makan kucing," jawab Ikrimah dengan polosnya.
Bapak-bapak yang sepertinya seorang penjaga mesjid itu melihat kucing yang di maksud Ikrimah dan ia pun tersenyum.
"Iya Neng bapak juga tau. Tapi Bapak mau ngasih tau aja barangkali Neng enggak sadar bahwa pengajian telah bubar."
Jleb!!
Ikrimah sontak langsung berdiri dan menatap keadaan mesjid yang sudah cukup sepi.
"Ya Allah astagfirullah!!" ujarnya dengan kaget.
"Ya Allah Pak. Saya ke-asikan memberi makan kucing sampai saya lupa tujuan saya kemari untuk mendengarkan tausiyah," lirih Ikrimah penuh penyesalan.
Bapak itu pun terkekeh geli dan memilih meninggalkan Ikrimah seorang diri.
Dibalik kebingunganya Ikrimah tiba-tiba ia melihat seorang lelaki dengan peci hitam dan sorban putih yang setia menempel di bahunya.
Ikrimah melihat lelaki itu dengan tanpa mengedipkan bulu matanya. Betapa syahdu wajah lelaki itu sampai Ikrimah lupa menundukan pandangannya.
"H-hei tunggu!" teriak Ikrimah secara spontan.
Setelah tanpa sadar berteriak, Ikrimah langsung menutup mulutnya. Dia menunduk malu seraya bingung mengapa ia memanggil lelaki itu.
"Na'am Teh. Ada apa ya?" Sungguh suara lembut lelaki itu membuat Ikrimah bergetar tidak karuan. Hatinya berdegup kencang dengan kegugupan yang luar biasa.
Lelaki itu ternyata menghampiri Ikrimah bahkan dari jarak yang tidak terlalu dekat itu.
"Teh?" Panggil lelaki itu lagi sambil tersenyum begitu tulus.
"A-a-anu sa-saya mau tanya!" ujar Ikrimah dengan kikuk.
Lelaki itu menundukan pandangannya dengan baik. Bahkan ia tidak berani menatap mata Ikrimah apalagi gadis itu mempunyai penampilan yang begitu tertutup.
"Ada apa Teh? Ada yang bisa saya bantu?" ujar lelaki itu dengan sopan.
"A-a-anu!" Dengan terbata bata Ikrimah memikirkan pertanyaan apa yang harus ia lontarkan. Dia sungguh membisu dengan segala kegugupannya.
"Ta-tadi yang dibahas ustadz Zaid apa ya? Duh saya tadi malah keasikan ngasih makan kucing jadi tidak mendengarkan tausiyahnya dengan baik bahkan saya harus berada di luar mesjid karena mesjid ini penuh. Sungguh saya tidak sadar juga kapan pengajiannya selesai. Sa-saya. Hmm sa-saya merasa kosong tidak mendapatkan ilmu apapun." Entah keberanian dari mana. Ikrimah bisa se-terbuka itu kepada orang lain yang bahkan kepada seorang lelaki yang tidak ia kenali.
Lelaki itu tersenyum dan tiba-tiba ada seorang lelaki lain yang datang menghampirinya. Dengan cepat ia memberi kode kepada orang yang baru datang itu agar tidak menyela ucapan Ikrimah.
Orang yang baru datang itu adalah santrinya namun lelaki berpeci hitam itu justru menghalangi santrinya untuk berbicara kepada gadis yang ada di depannya ini.
"Oh masyAllah tidak apa-apa. Sebenarnya yang dibahas ustadz tadi itu ada hubungannya juga dengan apa yang kamu lakukan," ujar lelaki itu.
Ikrimah seketika mengangkat wajahnya dengan semangat. Dia melihat ke arah lelaki yang sejak tadi ada di depannya itu.
"Benarkah? Apa yang dibahas ustadz Zaid?" tanya Ikrimah cukup antusias. Kemudian dia menundukan pandangannya lagi dengan begitu baik.
"Ustadz Zaid membahas bagaimana caranya kita berbuat baik untuk menjadi yang terbaik diantara gundukan emas. Ya caranya dengan menjadi berlian."
"Maksudnya?" tanya Ikrimah.
"Berbuat baik kepada manusia itu sudah cukup baik. Tetapi berbuat baik kepada binatang pun diperlukan. Dalam agama islam ada perintah untuk menyayangi binatang dan kamu telah melakukannya. Dalam sebuah hadits dikatakan "Takutlah kepada Allah dalam (memelihara) binatang-binatang yang tak dapat bicara ini, Tunggangilah mereka dengan baik dan berilah makanan dengan baik pula. Hadits riwayat Abu Dawud."
Lelaki itu kemudian tersenyum dan melanjutkan perkataannya.
Ada sebuah hadits juga yang mengatakan "
Sayangilah siapa yang ada di muka bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh siapa saja yang ada di langit. Hadits Riwayat At-Tirmidzi nomor 1924," ucap lelaki berpeci hitam itu.
Ikrimah tanpa sadar tersenyum manis dibalik Cadar hitamnya. Dia memainkan jari jemarinya dengan lucu.
"Namun lain kali lagi jikalau sedang di pengajian datanglah lebih awal agar kamu bisa mendengarkan tausiyah dengan baik."
Ikrimah mengangguk dengan malu. Tidak lama setelah itu lelaki itu pun ikut tersenyum dan berpamitan untuk pergi.
"Saya permisi Teh. Senang bisa bertemu denganmu. Assalamu'alaikum," ungkap lelaki itu dengan sopan. Dia pergi bersama lelaki yang merupakan santrinya itu.
Ikrimah mengangguk sopan dan menjawab salam lelaki itu dengan sendu "wa'alaikumsalam."
Baru saja lima langkah seketika Ikrimah pun teringat dia belum mengetahui nama lelaki itu.
"Eh siapa namamu?" Sambil sedikit berteriak Ikrimah menanyakan nama lelaki berpeci hitam itu.
Mendengar gadis itu berteriak. Lelaki berpeci hitam itu seketika membalikan tubuhnya dan ia pun membenarkan peci dengan begitu gagahnya.
"Nanti kamu pasti akan tau," ujarnya dengan suara khasnya.
"Bagaimana mengungkapkan perasaan cinta pada pandangan pertama apabila sebuah kata-kata tidak mampu mewakili keindahan yang gadis itu miliki?"
~Zaid Al Zaydani~
****
Pertemuan pertama memang cukup mengesankan. Banyak hal yang tidak terduga yang bisa saja tiba-tiba terjadi. Dua minggu sudah berlalu, sejak mengisi pengajian di masjid Baiturahman itu, Zaid mempunyai semangat yang tinggi. Hatinya begitu bergejolak seolah ada yang sedang di perjuangkan sampai seseorang yang selalu bersama ustadz Zaid pun merasakan perbedaan itu.
Matahari sudah menghilang dibalik indahnya mega. Warna jingga langit sudah berubah menjadi lebih gelap dengan symbol bintang dan bulan sebagai sebuah ketenangan.
Zaid, anak tunggal keluarga kyai Zubair itu memang sangat terkenal dengan sipatnya yang sangat ramah. Walau ayahnya adalah seorang yang terkemuka di masyarakat, ia tidak pernah sombong akan hal itu. Justru menjadi anak dari seorang yang paham agama dan di hormati banyak orang membuatnya menjadi pemuda yang sangat bijaksana. Ayahnya tidak mempunyai pesantren yang luas, hanya ada beberapa santri dan itupun hanya satu bangunan yang dapat di sebut sebagai asrama.
“Ustadz, akhir-akhir ini saya lihat ustadz berbeda, yaa tidak seperti biasanya.” Dengan memicingkan matanya Amir mengutarakan apa yang ia rasa selama dua minggu ini.
“Apa yang berbeda dari saya, Amir?” tanya Zaid sambil menyimpan gelas berisi kopi yang baru saja ia seduh itu.
Amir yang merupakan santri sekaligus pemuda yang dianggap anak oleh kyai Zubair itu memang sangat dekat dengan Zaid. Selama Zaid mengisi pengajian, dialah yang selalu menemaninya.
Amir seketika membuang napasnya dengan berat, pemuda yang hanya berbeda dua tahun lebih muda dari Zaid itu melirik Zaid dengan tatapan penuh makna.
“Kenapa, katakanlah. Apa yang berbeda dari saya?" tanya Zaid lagi sambil mengangkat gelas yang berisi kopi itu. Dia bermaksud untuk meminumnya.
“Ustadz sepertinya jatuh cinta kepada gadis bercadar si pecinta kucing itu, ya?” tanya Amir sambil menatap tajam ke arah ustadz Zaid.
Zaid yang sedang meminum kopinya itu seketika menghentikan kegiatannya, ia menyimpan gelas itu lagi.
“Atas dasar apa kamu mengatakan itu? Memang kamu tau apa itu cinta, Amir? Kamu itu masih muda, sudah sepantasnya fokus saja kepada pendidikanmu,” ujar Zaid dengan sorot mata yang terlihat tidak baik-baik saja. Matanya seolah enggan untuk menatap mata Amir.
Menyadari Zaid yang enggan menatapnya, Amir pun tersenyum lalu membuang napasnya secara kasar.
“Huhh,” Amir membuang napasnya sangat dalam seperti ada sebuah beban yang ia lepaskan.
“Tidak butuh alasan bagaimana caranya menyadari bahwa orang lain sedang jatuh cinta karena pada dasarnya cinta itu mampu terlihat dengan kedua mata. Cinta adalah sebuah pengakuan yang terjadi tanpa ketersengajaan,” oceh Amir lagi dengan begitu santai.
“Uhuk! Uhuk!” mendengar penuturan Amir, Zaid pun sampai tersed
“Dari mana kamu belajar mengatakan hal seperti itu, Amir?” dengan sedikit menahan tawa Zaid bertanya kepada Amir.
Amir pun menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal itu. Dia menatap Zaid dan keduanya pun sama-sama tertawa.
Keduanya begitu akrab, perbedaan mereka berada di garis takdir yang sangat jauh. Amir, dia adalah pemuda yang ditinggalkan orang tuanya karena sebuah perpisahan di atas kertas, sedangkan Zaid sudah ditinggal ibu tercintanya saat dirinya lahir.
Saat suasana sedang hening, suara pintu yang terbuka sontak membuat keduanya saling terdiam. Keduanya saling bertatapan tatapan kemudian secara bersamaan melihat ke arah sumber suara.