Seorang wanita menekukan kedua lututnya, didepan pria yang sedang duduk di bangku kebesarannya dengan muka tak perduli. Dia masih sibuk dengan pekerjaannya, tak berniat melihat wanita yang sudah lebih dari 2 jam menekuk lututnya tidak bisa dibayangkan betapa sakitnya kaki wanita itu.
"Evan! Apa kamu gak percaya sama aku? Aku gak mungkin ngelakuin hal itu," ucap wanita cantik tersebut, yang berusaha membuat pria ini perduli dan mendengarkannya, tapi percuma sejak dulu Evan dari keluarga Grayson yang begitu disegani orang sebagai pengusaha Karena bisnis juga kekayaan yang begitu besar, tak pernah sekalipun perduli padanya.
Evan menutup laptopnya, mata terpejam sebenar lalu dia menatap wanita itu dengan wajah marah, wanita ini berani datang padanya walau dia sudah menyewa bodyguard untuk menghalanginya, tapi dia tetap berusaha dan memberontak.
"Keluar dari ruanganku, Ella Madelyn! Aku tidak mau melihat mukamu lagi! Dan dengarkan aku! Polisi akan datang sebentar lagi untuk menangkapmu."
"Kapan kamu akan percaya sama aku, Evan? Sumpah demi Tuhan seluruh alam, aku tidak pernah melakukan hal itu!"
Evan menatap wanita di bawahnya dengan pandangan tajam. "Ada dua hal yang membuat aku sama sekali gak pernah sama kamu! Pertama orang tuaku menolakmu dan kedua aku membencimu."
Perkataan itu bagai pisau tajam yang menghujani hatinya bertubi-tubi, air mata menetes dia bisa menerima fitnah yang sama sekali tidak dia lakukan, tapi mendengar perkataan dari pria yang dia cintai, membuat hatinya terasa begitu perih.
"Aku sama sekali tidak membunuh orang tuamu, aku dijebak, Evan!" ucap Ella yang menangis sambil memegang baju Evan, tapi percuma pria berhati sedingin es itu hanya menatap tak perduli.
Tiba-tiba pintu terbuka, memperlihatkan polisi yang datang secara bergerombol membuat Ella ketakutan dan menggeleng sambil menatapnya. "Evan, tolong percaya padaku! Aku mohon!"
Tapi lagi-lagi Evan tak perduli, orang tuanya dibunuh dan satunya saksi mengatakan bahwa hanya ada Ella disana membuat dia langsung yakin apa yang diucapkan mereka, semua bukti terus mengarah pada Ella.
Wanita itu diborgol sambil menangis, dia tidak melakukan hal ini saat itu dia diperintahkan keduanya untuk makan malam bersama, tentu saja dengan rasa bahagia, Ella menyetujui kali saja mereka akan membuka jalan baginya untuk menikahi Evan, tapi yang terjadi dia malah melihat keduanya sudah menjadi mayat, tiba-tiba semua orang melihat hal itu dan menuduhnya kalau dia pelaku pembunuhan itu.
Ella diseret matanya tak lepas dari pria yang sama sekali tak perduli menatapnya, tangisan kesedihan tak bisa dibendung, kenapa Tuhan seakan jahat sekali padanya, jika dia memang tidak bisa bersama Evan, kenapa harus seperti ini?
Saat itu juga Ella dari marga Madelyn, memiliki perusahaan yang berkembang pesat di tanah air, langsung menjadi trending topik keluarganya pun seakan tak perduli lagi dan mencoreng marga yang ada dibelakang nama Ella, wanita itu semakin terpuruk saja.
.
Wanita itu didorong kedalam sel dengan kasar, hingga dia tersungkur ke lantai, Ella Madelyn yang dulunya begitu dipuja, karena sebagai anak pengusaha dia juga model terkenal, langsung dihina karena tindakannya.
Ella yang jatuh berusaha bangkit, dengar-dengar bahwa dia akan dipenjarakan selama lima tahun, membuat Ella berpikir, jika Evan memang membencinya kenapa tidak seumur hidup saja?
Tiba-tiba saat dia duduk sebuah Jambakan keras membuat kepala kebelakang sambil meringis kesakitan. "Ah aduh, Sakit mbak!"
"Oh ini yang namanya Ella Madelyn itu ya?" tanya salah satu dari mereka, didalam penjara tidak dia sendiri, ada lima orang wanita yang samanya.
Ella berusaha melepaskan Jambakan yang semakin lama, semakin sakit, dia bahkan menangis kesakitan karena hal itu. "Udah, ampun mbak! Saya salah apa sama mbak?"
"Lo gak salah apa-apa sih, cuma kita di suruh buat nyiksa Lo," ucap wanita itu yang melepaskan Jambakan dengan mendorong kepala Ella dengan kasar.
Ella kembali tersungkur kelantai, menyiksanya? "Siapa?"
"Mau tau? Tentu Tuan Grayson. Pria yang orang tuanya Lo bunuh," ucap mereka dengan senyuman jahat, tak lama setelah mereka tertawa sambil kembali menjambak kuat rambut Ella.
Karena sudah tak tahan, Ella memberontak dan berlari kerah para penjaga yang tak minat menatap kesengsaraan Ella di dalam sel. "Tolong pak! Tolong saya pak! Pak polisi!"
Mereka semua seakan tuli dan lebih mementingkan pekerjaan sendiri dari pada menolong wanita cantik itu, pada akhirnya rambut Ella kembali ditarik.
"Ampun mbak! sakit," tangisnya yang penuh pilu, seumur hidup dia baru mendapatkan perlakuan yang amat kasar dari seseorang, kemana semua orang yang dulu memujanya?
"Sakit hah? Kenapa gak ada yang nolong Lo kan? Selamat datang di neraka nona Ella! Karena selama lima tahun Lo disini, maka Lo akan terus disiksa yang lebih banyak dari ini," ucap salah satu dari mereka dengan muka puas, seakan mereka menyimpan dendam yang teramat sangat.
Dan Lima tahun itu adalah tahun-tahun terburuk yang tak pernah dia bayangkan selama ini, Evan benar-benar menjadi iblis atas kesalahan yang sama sekali tidak dia perbuat, dari pada seperti ini kenapa tidak membunuhnya saja? Ella rasa lebih baik mati.
.
.
LIMA TAHUN KEMUDIAN ...
Tubuh kurus penuh lebam itu ditarik pelan keluar dari penjara, polisi kadang kali memberikan obat untuknya tapi orang-orang terus mengusiknya hingga tubuhnya penuh dengan luka.
Tak bisa dibayangkan betapa buruknya, kehidupan Ella selama dipenjara. Ingin sekali dia mati tapi tidak bisa, mereka seakan ingin dia terus di siksa.
Ella seperti seonggok mayat yang masih bernafas, matanya lurus kedepan dengan wajah pucat.
"Kamu sekarang bebas, ini semua baju kamu dan ini Uang yang saya kasih untuk kamu!" ucap polisi wanita itu yang menatap penuh iba pada Ella, selama ini dia ingin membantunya, tapi atasan mereka mendapatkan sogokan dari seseorang hingga tidak ada yang boleh menghentikan penyiksaan Ella.
Dia memberikan uang 100 pada Ella, padahal dulu wanita itu memiliki hampir 1 miliar dari hasil kerjanya sebagai model. Tangan kurus itu mengambil uang yang diberikan polisi tersebut. "Terima kasih."
"Kamu mau kemana setelah ini?" tanya wanita itu yang masih merasa kasihan pada Ella.
Wanita termenung. "Pergi sejauh mungkin dari pria bernama Evan Grayson."
"Memang kamu ada masalah apa dengan pria itu?" tanya polisi wanita tersebut yang tidak tau apa masalahnya, dia baru setahun ini pindah bertugas, dan kabar tentang sodokan uang itu ia tahun dari yang lain.
"Hanya masalah kecil," balas Ella sambil menunduk. "Ya sudah, saya pergi ya, bu."
"Kamu ada tempat tinggal? Kamu bisa tinggal dulu sama saya?"
Ella menggeleng pelan. "Tidak, biarkan saja saya perjalanan tanpa arah, karena hidup saya sudah tidak ada harapan lagi, terimakasih atas kebaikan anda Bu polisi."
Ella menunduk saat berdiri pada wanita itu, sedangkan yang lain hanya membicarakan dari belakang, ada yang kasian ada yang tertawa dan jijik. Ella pergi meremas tali tas yang berisikan bajunya serta uang 100 rb tersebut.
Pulpen itu terus membuat garis bergelombang, seperti sedang melukis sehelai rambut, lagi dan lagi dengan jarak yang sangat dekat. Wajahnya datar dengan bulu-bulu halus yang menyelimuti bawah hidung, kedua rahang serta dagingnya.
Padahal ini jam kerja sempat-sempatnya dia menggambarkan, walau hanya dengan satu alat saja, Evan yang dulunya pemenang berbagai lomba menggambar, menjadikan setiap garis itu maha karya yang indah.
Tiba-tiba pintu diketuk, membuat konsep ide yang ada di otaknya sedikit buyar, sorot mata tajam itu menatap kearah pintu tanpa minat sama sekali. "Ada apa?"
"Saya tidak boleh masuk, pak?" tanya orang diluar sana.
"Tidak! Katakan diluar saja!" ucap Evan yang kembali menajamkan tatapan matanya dikaryanya itu.
"El--ah tidak, Maksud saya Nona Ella sudah dikeluarkan dari penjara hari ini." Ucapan itu sontak membuat Evan meletakkan pulpennya, digambarkan itu terlihat seorang wanita cantik yang tersenyum begitu indah.
Evan berjalan keluar dan membuka pintu, membuat sekertarisnya terkejut dengan kemunculan bosnya yang tiba-tiba. "Dari mana kamu tau?"
"Kantor polisi menelpon saya tadi," ucap sekertarisnya itu, raut wajahnya tetap sama tapi Evan terdiam membuat pria yang mengikuti bosnya selama 7 tahun itu sedang menebak-nebak apa yang sedang sang bos pikiran.
"Ikut aku! Kita cari wanita itu!" ujar Evan, yang membuat sang sekertaris termenung.
"Tapi bos! Bagaimana dengan pekerjaan?"
Evan menatap sang sekertaris dengan sorot mata yang tajam, sontak itu membuat para karyawan yang sedang berlalu-lala langsung merasa Suasana menjadi mencekam. "Apa kamu mau dipecat Jack Anthony?"
"Tentu tidak, Presdir Grayson!" balas Jack sambil berlari kecil kearah Evan yang masih menatap tajam kearahnya. "Maaf Bos."
"Saya bos disini, jadi terus turutin apa yang saya katakan!" ujar Evan yang membuat Jack langsung mengangguk kaku.
"Baik bos."
"Kamu menyetir nanti!" ujar Evan sambil memberikan kunci mobil pada sekertarisnya itu dan Jack hanya bisa melangkah pasrah.
.
Sedangkan jauh dari sana Ella memperhatikan jalan, banyak orang yang melihat aneh juga iba, tapi Ella hanya terdiam tak tau mau kemana, dia sudah makan di kantor polisi tadi, salah satu dari mereka memberikan jatahnya padanya Ella, tanpa pikir panjang wanita itu langsung memakannya.
Dulu semua orang yang melihatnya akan langsung tau siapa dirinya, tapi mungkin karena dia sudah jelek kurus, tidak seperti dulu lagi membuat semuanya tampak asing bagi mereka.
Dia juga nona yang cukup disegani karena keluarganya yang kaya, tapi sekarang ia sudah seperti jalan dibawah tangga tapi tanpa sebab benda panjang itu jatuh kearahnya.
Saat sedang berjalan biasa, sebuah mobil yang cukup ia kenali terlihat dari kejauhan. Mobil hitam dengan plat nomer yang begitu dia hafal membuat matanya membulat, dia berlari mencari persembunyiannya.
Tidak kalau Evan mengetahui dia sudah bebas, dia pasti akan mengirimkan kembali ke neraka itu. Tidak! Dia tidak mau.
Ella menyembunyikan dirinya didalam tanaman hias besar yang bisa menyembunyikan dia baliknya.
Kala mobil itu lewat, membuat dia berdiri perlahan-lahan, memastikan kalau Evan sama sekali tak melihatnya, lagipula apa dia masih mengenali dirinya yang begitu buruk seperti ini.
Tapi rupanya Ella salah sangka, Evan turun dari mobil saat wanita itu sembunyi dan dia sudah ada berada dibelakang Ella sekarang.
Saat matanya berbalik alangkah terkejutnya Ella melihat Evan yang mantap tajam kearah, seperti masih menyimpan dendam.
Wanita itu hendak kabur tapi tangan kecilnya sudah diraih oleh Evan. "TIDAK! TOLONG AMPUNI AKU TUAN EVAN! JANGAN PENJARA AKU LAGI! LEPASKAN!"
Teriakan itu mengundang mata semua orang itu melihat keributan apa yang terjadi.
"LEPASKAN! LEPASKAN AKU! KALAU KAMU MAU BUNUH SAJA AKU SEKARANG JUGA! JANGAN PENJARA AKU LAGI AKU MOHON." Rintihan dan tangisan itu tak membuat Evan merubah ekspresinya, dia masih saja menatap Ella dengan wajah tak bersahabat miliknya.
Karena Ella terus memberontak membuat Evan melepaskan tangannya, hingga wanita itu tersungkur ke tanah. Tubuhnya bergetar hebat seakan melihat malaikat maut yang ada di depannya.
"DIAM! SUARAMU YANG SAMA SEKALI TIDAK BAGUS ITU, HAMPIR MEMECAHKAN GENDANG TELINGAKU, SIALAN!" bentak Evan dengan lantang, Jack yang sudah turun dari mobil menghampiri keduanya, alangkah terkejutnya ia melihat Ella yang begitu tak terurus dengan tubuh yang begitu memperihatinkan.
"Bos! Dia---" ucap Jack yang tak percaya.
Ella merangkak dengan linangan air mata yang memenuhi pipinya, tak lama dia mendekati sepatu Evan bersujud seakan itulah satu-satunya cara agar pria itu mengampuninya. "Aku mohon! Biarkan aku bebas! Aku bersalah ya aku mengakui kesalahanku, aku membunuh kedua orang tuamu, tak puaskan kamu melihatku begini? Apa tidak ada sedikit sisi kemanusiaanmu, Evan? Aku mohon lepaskan aku!"
Tangan Evan mengepal kencang, bahkan karena kukunya tajam, membuat tangan berdarah tanpa terlihat. Tak lama langkah kakinya berjalan Pergi! "Kita kembali kekantor!"
"Tapi pak! Nona Ella?"
"Biarkan saja dia!" ujar Evan yang semakin lama semakin menjauh, membuat Ella semakin keras dalam tangisnya orang yang melihat itu langsung mendekat.
"Nak! Kamu gak apa-apa? Kamu diapain sama orang itu?" tanya salah satu wanita paruh baya Yanga dan di sana.
"Iya, kok kamu ketakutan gitu? Kamu gak lapor polisi aja?" tanya yang lain.
Ella berusaha menghentikan tangisannya. "Percuma Bu! Bahkan dipenjara juga keadilan hanya bagi orang yang berkuasa."
Mendengar hal itu membuat mereka iba, semua orang berusaha membawa Ella untuk diobati ke salah satu rumah mereka, beruntung mereka begitu baik padanya membuat Ella sedikit merasa tenang.
.
Sedangkan diperjalanan pikiran Evan melayang, Jack yang melihat tak tau apa yang sedang dipikirkan bosnya tapi sungguh dia penasaran, Evan sulit sekali kembali keluh kesahnya pada orang terdekat sekalipun.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, terlihat dikaca sepion yang ada diatas, memperlihatkan tangan bosnya yang berwarna merah.
Tiba-tiba mobilnya berhenti, membuat Evan langsung menatap sekertarisnya dengan wajah kesal. "Brengsek! Apa kamu lakukan, Jack?"
Mendengar suara dengan nada lantang itu membuat, hawa khawatir Jack seketika berganti menjadi ketakutan. "Anu pak! Tangan anda."
"Lalu?" tanya Evan yang sepertinya tak perduli.
"Apa tidak sebaiknya kita kerumah sakit saja?" tawar Jack, ia takut bosnya ini infeksi kalau dia mati siapa yang akan mennggajinya nanti?
"Aku yakin kamu tidak tuli," balas Evan yang seperti membuat Jack mengingat ucapan dijalan tadi.
"Tapi saya takut anda kenapa-kenapa," bantah Jack yang membuat Evan menghembuskan nafas kasar.
"Ada dua pilihan! Lanjut menyetir, atau turun disini dan aku yang lanjut menyetir," ucapnya dengan horor membuat Jack sontak menginjak pedal gas kembali dengan kecepatan sedang.
Pria ini, tidak mau sekali diberi perhatian, kalau bukan Bosnya mungkin dia sudah menendang-nendang wajah yang amat jauh dengannya itu.
"Aku dengar apa kamu ucapakan itu, Jack!"
Mendengar hal itu sontak Jack mantap sekilas ke Evan. "Sungguh? Apa bos keturunan peramal atau kain semacamnya?"
"Rautmu memperlihatkan semuanya!" ucap Evan dengan tak minat, dia mulai melihat jendela tapi gerimis menerpa mobil mereka, menciptakan tetesan air yang semakin lama semakin banyak di kaca mobilnya, melihat ini Evan seperti melihat tangisan Ella kembali, Sial.
Ella diajak kerumah sakit untuk diperiksa, padahal dia menolak karena tak punya uang tapi mereka tetap memaksanya dan bilang akan membayar seluruh pengobatannya.
Dokter memberikan obat penghilang rasa sakit juga beberapa salep, yang terpenting dokter menyarankan untuk perbanyak istirahat dan juga sering mengompresnya dengan air dingin.
Ketiga wanita itu berjalan berbarengan bersama Ella, rasa tak enak hati merasuki jiwanya. "Makasih ya Bu, udah bawa saya ke dokter, tapi beneran ini gak apa-apa kok."
"Udah neng! Terima aja! Lagian kita kasian ngeliat kamu babak belur gitu, sebenarnya apa yang kamu alami sih? Dia jahat banget ya sama kamu?" tanya salah satu dari mereka penasaran.
Ella menunduk sedih. "Ceritanya panjang, Bu."
"Oh gitu ya," ucap salah satu dari mereka yang paham, mungkin dia terlalu tertekan membuat dia enggan membuka sedikit tentang kehidupannya.
"Oh iya, kamu mau tinggal dimana?" tanya yang lain.
Ella menggeleng. "Gak tau, Bu."
"Kamu tinggal bareng saya aja," ucap wanita yang bernama Saromah yang tiba-tiba.
Ella yang mendengar itu menggeleng, dia sudah dibantu, dia tidak mau lagi merepotkan mereka. "Gak, gak, udah bu. Saya nyari tempat lain aja, saya takut ngerepotin."
"Ih gak apa-apa lagi, neng! Nih ibu saromah teh baik, dia itu janda yang tinggal suami sama anak, pergi entah kemana. Jadi sekalian aja kamu nemenin dia!" ucap salah satu dari mereka, membuat wanita paruh baya yang di tunjuk mengangguk.
"Saya turut sedih ya, Bu," ucap Ella yang iba mendengar kisah hidupnya, tapi teman-temannya ini seakan tak punya hati.
"Iya gak apa-apa, jadi kamu mau?" tanyanya yang membuat Ella mematung sebentar.
"Saya mau, tapi apa ibu percaya kalau saya orang baik?" tanya Ella yang ingin mematikan, dia ini narapidana dengan kesalahan yang tidak dia perbuat.
"Iya, saya percaya. Lagipula rasa gak enak kamu membuat kita percaya kamu orang baik, gimana sebagai gantinya kamu bisa bantu ibu di rumah nanti," ucap Saromah dengan senyuman lembut, Lihatlah Evan! Kami baru kenal tapi wanita paruh baya ini lebih percaya aku dari pada dirimu.
Ella tertawa kecil. "Itu pasti bu, sekalian saya juga mau kerja, biar gak ngerepotin ibu."
"Tuh keliatan anak baik banget, tapi nanyanya aneh banget," ucap yang lain dengan senyuman.
.
Jarak rumah sakit dan rumah ibu itu tak terlalu jauh, terlihat rumah sederhana berwarna biru tua, dengan atap yang masih memakai bambu. Saromah melihat Ella yang terus memperhatikan rumahnya lantas tersenyum.
"Maaf ya rumahnya jelek," ucap wanita paruh baya itu.
"Oh gak apa-apa Bu, malah saya bersyukur dapet tempat tinggal. Jarang sekali ada orang sebaik ibu," ucap Ella yang sekalian memuji wanita yang hidupnya sebatang kara itu seperti dirinya saat ini.
"Ah kamu bisa aja, ya udah ayo masuk!" ujarnya, Ella masuk lebih dalam ternyata tidak terlalu buruk, baiklah mungkin ini jalan Tuhan dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
Besok paginya Ella sudah rapi dengan baju yang cukup bagus, saromah yang selama ini bekerja sebagai gorengan keliling menatap wanita yang baru saja tinggal dirumahnya.
Ella anak yang rajin, walau dia tidak tau tapi dia bertanya dan berusaha agar dia tidak merepotkan, membuat Saromah menjadi senang dengan kehadiran anak itu.
"Loh nak, kamu mau kemana? Kok sudah rapih sekali?" tanyanya yang heran.
"Mau cari kerja, Bu. Aku kan gak mungkin terus ngerepotin ibu," ucap Ella yang sudah siap dengan tas besar yang dia gendong menyilang.
"Tapikan kamu masih sakit, Ella."
"Ini cuma luka kecil kok, kan sama ibu diobatin terus jadi mendingan," ucap Ella dengan penuh keyakinan dan semangat.
Wanita paruh baya itu hanya menghembuskan nafas kasar, anak ini keras kepala sekali. "Ya sudah kalo itu sudah keputusan bulat kamu, tapi kalau tidak dapat juga magrib pulang! Oh iya kami ingat-ingat jalan pulang dan ini!"
Saromah memberikan uang 200 rb pada Ella yang membuat, wanita itu mendorongnya karena tak enak hati, uang kemarin dari ibu polisi pun masih ada. "Gak usah bu! Ella ada uang kok!"
Ella memperlihatkan uangnya yang yang sepertinya berkurang beberapa puluh ribu. "Sekalian untuk tambah-tambah Ella! Jangan tolak rezeki gak baik!"
Pada akhirnya Ella menerima uang itu dengan berat hati, padahal dia merasa tak enak. Mereka baru saja kenal tapi Ella sudah banyak merepotkannya. "Ya sudah makasih Bu, Ella pergi dulu."
"Iya hati-hati!" ujar Saromah yang melihat kepergian Ella, ia harap anak itu tidak apa-apa walau tidak dapat pekerjaan juga.
.
Sedangkan jauh dari sana, Evan baru saja keluar dari rumahnya dengan baju berwarna silver yang membuat dirinya semakin bercahaya saja, Style Evan tidak pernah gagal Dimata siapa pun.
Tapi Jack menghembuskan nafas lega, akhirnya Evan selesai juga. Dia sudah menunggu hampir 2 jam hanya untuk membangunkan, menyuruhnya Bekerja, serta mandi dan hal lain.
Evan bukan orang yang gila kerja, dia bekerja semaunya tapi mungkin karena Tuhan selalu memberikan dia keberuntungan, jadi dalam apapun dia akan dengan mudahnya mencapai apa yang menjadi targetnya, dan itu juga didukung karena Grayson Grub, adalah pengusaha yang terbesar di Asia juga disegani karena asetnya yang tak main-main.
Seperti sekarang dia kembali membangun perusahaan dengan dua pabrik yang akan meluncurkan produk baru, mereka akan pergi ke perusahaan baru itu, kebetulan hari mereka membuka lowongan besar-besaran.
Jadi karena Evan bosnya, dia yang harus menentukan tentang karyawannya nanti, jadi Jack lantas membangunkan tadi.
"Berikan aku satu alasan, kenapa harus yang melihat orang-orang yang melamar kerja pada kantor baruku?" Pertanyaan konyol itu membuat Jack menoleh menatapnya, kadang pria ini menyeramkan tapi terkadang dia juga bertingkat agak gila.
"Karena anda bosnya pak! Anda mau kami asal menerima karyawan dan produk anda bangkrut begitu?" tanya Jack yang kembali duduk, dia memasang sabuk pengaman, karena akan berangkat.
Lihatlah sekarang jam 9 pagi.
"Itu artinya kalian tidak becus kerja! Aku juga heran kenapa sekertarisku harus orang bodoh sepertimu, Jack?" ucapan itu seakan menusuk relung hati yang terdalam, Lihatlah betapa tajamnya mulut si mata elang itu.
"Lalu kenapa anda tidak memecah saya saja, pak?"
"Oh jadi kamu menatangku begitu?" tanya Evan yang mulai memperlihatkan raut marahnya, membuat Jack tak bersuara kembali, orang ini memiliki selera humor yang buruk, dia bahkan tau tau candaan.
Evan memasang sabuk pengaman dan tak berbicara lagi, dia ini hanya orang malas yang ditakdirkan Bekerja, dan walau hal ini hanya keisengannya tapi hal ini akan menghasilkan pundi-pundi uang yang beberapa kali lipat yang dia keluarkan.
Masalah tentang Ella akhir-akhir ini terus mengacaukan pikirannya, dia juga terus bertanya kenapa wanita yang begitu indah bak Dewi dari kayangan menjadi tak terurus seperti juga luka lebam. "Jack!"
"Ya pak!"
"Tolong kamu nanti pergi ke penjara tempat Ella dihukum dulu!"
"Hah untuk apa?"
Evan tak menjawab, dia melipat tangannya di dada dengan pandangan keluar jendela seperti biasa.