Bab 1

Di ulang tahun pernikahan ke-7, suamiku membatalkan nominasi penghargaan musikku demi adik angkatku yang 'hamil'.

Saat aku memeriksa cincin kawin kami, terukir nama wanita lain di bagian dalamnya: Zara.

Malam itu, aku memutuskan untuk 'mati' dalam kecelakaan pesawat agar bisa menghancurkan mereka semua.

Selama tujuh tahun, aku hidup dalam kebohongan, menjadi penulis bayangan bagi Zara, membiarkannya mencuri jiwaku di bawah sorotan lampu panggung.

Aku mengira Permadi adalah pelindungku, namun ternyata dia hanyalah sipir penjara yang manis.

Tugasnya hanya satu: memastikan aku tetap diam dan terus berkarya untuk kekasih sejatinya, adik angkatku sendiri.

Dia bahkan memberikan lagu cinta yang kuciptakan khusus untuknya kepada Zara, membiarkan wanita itu memainkannya sebagai miliknya sendiri.

Ketika dia meninggalkanku sendirian di puncak gunung yang dingin demi panggilan telepon Zara, hatiku akhirnya membeku.

Cintanya adalah palsu, pernikahanku adalah rekayasa, dan aku hanyalah alat.

Jadi, aku merancang panggung terakhirku.

Berita kecelakaan pesawat itu mengguncang dunia, bersamaan dengan video bukti plagiarisme Zara yang terunggah otomatis tepat setelah 'kematianku'.

Sekarang, saat Permadi menjadi gila mencari jasadku di antara puing-puing dan Zara hancur dihujat publik, aku tersenyum melihat kehancuran mereka dari jauh dengan identitas baruku.

Bab 1

Adinda POV:

Aku tidak percaya bahwa hari ini adalah hari aku memutuskan untuk meninggalkan semuanya. Meninggalkan Permadi, meninggalkan kehidupan yang aku kira adalah kebahagiaanku. Meninggalkan kebohongan yang telah membelengguku selama tujuh tahun. Aku tidak punya banyak waktu. Raka sudah menunggu.

Dalam hati, aku tahu tidak akan ada lagi pria dalam hidupku. Aku sudah terlalu lelah, terlalu hancur. Cinta, bagi Adinda Jauhari, kini terasa seperti racun yang mematikan.

Pintu kamar terbuka tiba-tiba. Permadi, suamiku, berdiri di sana. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang samar.

"Kau sedang bicara dengan siapa?" tanyanya, suaranya lembut tapi ada nada menyelidik.

Aku cepat-cepat menyimpan ponselku. Jantungku berdebar kencang. Aku harus berpura-pura, untuk terakhir kalinya.

"Oh, tidak ada, Permadi. Hanya teman lama, menanyakan kabarku," jawabku, berusaha terdengar sealami mungkin.

Dia melangkah mendekat, matanya menatapku lekat. Aku tahu dia selalu perhatian, selalu ingin tahu apa yang aku lakukan.

"Kau baik-baik saja? Wajahmu agak pucat," katanya, dan sentuhan tangannya di pipiku terasa dingin.

Aku tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai mataku. "Aku hanya sedikit lelah. Mungkin kurang tidur."

"Kau perlu makan sesuatu yang hangat. Aku akan membuatkan sup ayam untukmu," usulnya, membelai rambutku.

"Sup ayam? Itu akan sangat enak," kataku, memaksakan diri agar terlihat senang.

Dia mengangguk. "Ya, sup ayam. Yang ringan dan hangat, agar perutmu tidak kaget."

Aku menatap punggungnya saat dia berjalan menuju dapur. Suara langkahnya terdengar jauh, seperti gema dari masa lalu. Tujuh tahun. Tujuh tahun pernikahan. Tujuh tahun aku mencintainya dengan sepenuh hati.

Dulu, aku selalu berpikir aku adalah wanita paling beruntung di dunia. Permadi adalah suami yang hangat, penuh perhatian. Semua orang di luar sana selalu iri pada kami. Mereka bilang Permadi sangat mencintaiku, tidak pernah melirik wanita lain. Aku percaya itu. Aku bersyukur setiap hari.

Tapi malam ini, semuanya terasa berbeda. Malam ini, aku sadar. Semua kebaikan, semua perhatian, semua cinta yang dia tunjukkan padaku, semuanya adalah kebohongan besar. Cinta Permadi memang tulus. Hanya saja, bukan untukku.

Aku hanyalah alat. Penjaga gerbang. Pengalih perhatian. Penjara emas tempat dia bisa mengendalikan bakatku. Semuanya agar Zara, adik angkatku, tetap menjadi pusat dunianya. Agar Zara tetap bahagia sebagai penyanyi terkenal, meskipun lagu-lagu itu adalah milikku, jiwaku.

Kini, aku tidak merasakan apa-apa kecuali kehancuran. Kebahagiaanku yang dulu kurasa sempurna, hancur berkeping-keping di kakiku. Aku telah ditipu oleh cinta yang bahkan bukan untukku.

Aku menatap kosong ke arah pintu dapur yang terbuka. Permadi bersenandung kecil di sana, seolah tidak ada yang salah. Aku tahu, sekaranglah saatnya. Saatnya untuk pergi.

Bab 2

Adinda POV:

Permadi kembali mendekatiku, tangannya merangkul bahuku. Aroma masakan dari dapur mulai tercium samar. Dia menarikku ke pelukannya. Aku membiarkannya, tubuhku terasa kaku.

"Sayang, ada berita bagus!" katanya riang, suaranya bergema di dadaku. "Zara hamil! Dan itu belum semua, dia juga dinominasikan untuk penghargaan musik internasional!"

Jantungku terasa seperti ditusuk jarum es. Hamil? Zara hamil? Dan dinominasikan penghargaan? Aku menelan ludah, berusaha mati-matian agar tidak menunjukkan reaksinya.

"Kekasihnya akan mengadakan pesta besar untuk merayakannya. Aku sudah minta dia untuk tidak terlalu lelah," lanjutnya. "Kita harus ikut merayakannya nanti malam. Kau mau ikut, kan?"

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap kosong ke depan. Pesta? Merayakan kehamilan Zara dengan lagu-lagu yang aku ciptakan?

Permadi merasakan tubuhku yang menegang. Dia menghela napas. "Mungkin kau sebaiknya di rumah saja. Aku tahu kau tidak suka bertemu Zara."

Aku terkejut. "Zara dinominasikan? Penghargaan apa?" tanyaku, suaraku nyaris tidak terdengar.

Permadi menatapku dengan lembut. "Penghargaan Musik Nasional. Bukankah kau juga mendaftar untuk itu?"

Aku mengangkat pandanganku. "Aku sudah mengirim demo laguku. Bagaimana hasilnya?"

Permadi tersenyum, tangannya membelai pipiku. Matanya begitu lembut, begitu menenangkan. Seperti dulu, saat dia pertama kali menyatakan cintanya padaku.

"Sayang, aku sudah putuskan untuk membatalkan pendaftaranmu," katanya, suaranya melirih.

Aku menatapnya, tidak percaya. "Apa katamu?"

"Aku membatalkannya. Aku hanya ingin fokus dengan keluarga kita sekarang. Kita sudah tujuh tahun menikah, sudah saatnya kita punya anak, bukan?" jawabnya, matanya berbinar.

Aku menunduk, senyum pahit mengembang di bibirku. Anak? Aku menutup mata, mencoba menahan air mata yang mendesak.

Tujuh tahun. Sejak awal pernikahan, aku selalu ingin punya anak. Setiap kali aku mengutarakan keinginanku, Permadi selalu menolaknya. "Kita masih muda, sayang. Ayo nikmati masa berdua dulu," katanya. Atau, "Aku belum siap. Karier adalah prioritas."

Dan sekarang? Dia menggunakan alasan anak untuk membatalkan pendaftaranku? Alasan yang sama yang dia tolak dariku selama bertahun-tahun?

Aku membuka mata, menatap ke sekeliling. Permadi hanya tidak ingin aku bersaing dengan Zara. Dia tidak ingin aku meraih panggung yang sama, tidak ingin aku menyaingi adik angkatku yang rapuh itu. Zara adalah segalanya baginya. Dia akan mengorbankan apa pun demi Zara. Bahkan, menggunakan alasan kehadiran anak, yang dulu dia tolak.

Rasa sakit itu begitu nyata. Perih seperti sayatan pisau tumpul yang mengoyak-ngoyak jiwaku. Aku tahu, ikatan kami sudah lama rapuh. Tapi malam ini, aku melihatnya dengan jelas.

Permadi hanya ingin menjaga Zara. Aku hanyalah bayangan di hidupnya. Aku hanyalah pengarang hantu yang harus tetap tersembunyi.

Dia tidak pernah mencintaiku seperti yang aku bayangkan. Cinta yang dia miliki, perhatian yang dia berikan, semuanya untuk Zara. Aku tidak lebih dari sebuah pelengkap, sebuah penipuan yang sempurna.

Bab 3

Adinda POV:

Permadi melihatku terdiam. Dia menunduk, bibirnya mendekat ke telingaku. Bisikannya terasa seperti hembusan angin dingin.

"Maafkan aku, sayang. Aku tahu aku salah karena tidak berdiskusi dulu denganmu." Suaranya terdengar menyesal, penuh kelembutan yang memuakkan. "Jangan marah, ya?"

Aku tidak bergerak. Dia semakin mendekapku.

"Ini kan peringatan tujuh tahun pernikahan kita. Aku akan menebus semuanya. Aku akan memberikan kejutan terbesar untukmu," janjinya, suaranya meyakinkan. "Aku sangat mencintaimu, Adinda. Aku akan melakukan apa pun untuk kebahagiaanmu."

Kata-kata itu. Kata-kata itu. Dulu, aku akan tersipu mendengarnya. Kini, aku tahu itu semua adalah kebohongan. Kebahagiaan siapa yang dia maksud? Kebahagiaan Zara.

Dia akan melakukan apa pun agar Zara bahagia. Aku hanyalah korban dari skenario rumitnya.

Aku menahan gejolak emosi di dadaku. Membalasnya dengan senyum. Senyum yang penuh kepalsuan.

"Tentu saja aku tidak marah, Permadi. Kita sudah tujuh tahun bersama, kan?" kataku, suaraku bergetar sedikit. "Untuk peringatan pernikahan kita nanti, aku juga punya kejutan besar untukmu."

Aku menatap matanya. "Kau harus datang, lho. Apa pun yang terjadi, kau harus datang."

Permadi tersenyum lega. Dia tidak menyadari apa-apa. Dia senang aku tidak marah karena pendaftaranku dibatalkan. Dia senang aku setuju untuk merayakan peringatan pernikahan kami.

Dia mencium keningku, penuh kasih sayang yang palsu. "Aku tidak sabar menunggu kejutanmu, sayang. Pasti akan sangat spesial."

Aku mengangguk. "Ya, akan sangat spesial. Aku yakin kau akan sangat menyukainya."

Kau akan sangat menyukainya, Permadi. Kau akan kehilangan aku dan mendapatkan kebebasanmu.

Permadi bangkit, meninggalkan aku sendirian di ruang tamu. Dia kembali ke dapur, melanjutkan membuat sup ayam yang katanya untukku.

Aku bangkit, berjalan ke meja kopi. Mataku terpaku pada cincin kawinku yang tergeletak di sana. Aku ingin menangis, tapi air mataku sudah mengering.

Aku mengambil cincin itu. Permadi yang dulu memakaikannya di jariku, dengan janji-janji manis yang kini terasa hampa. Aku membalik cincin itu perlahan.

Sebuah ukiran kecil tersembunyi di bagian dalamnya. Di sana, tertulis nama yang bukan namaku. Nama Zara Yuliana.

Dunia di sekelilingku terasa runtuh. Bukan karena cincin itu, tapi karena kebenaran yang kejam. Permadi tidak pernah mencintaiku. Tidak pernah. Seluruh pernikahan ini, seluruh tujuh tahun ini, adalah sebuah sandiwara besar. Dia mencintai Zara. Dari awal sampai sekarang.

Semua kebaikan, semua ucapan cinta, semua janji-janji itu, semuanya adalah topeng. Aku hanya dimanfaatkan, diperalat. Hatiku hancur, bukan karena patah hati, tapi karena kesadaran yang mengerikan. Aku adalah bodoh, buta, dan naif.

Aku tertawa hampa. Tawa yang pahit, mengiris udara dingin di ruangan ini.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED