◤─────•~❉✿❉~•─────◥
~ Chronophile ~
"Chrono" dalam bahasa Yunani berarti waktu. Selain akhiran “phile”, digunakan juga akhiran “philia” dan "philic" untuk menyatakan suatu kecintaan. Hal tersebut merujuk pada perasaan suka, tertarik, dan mencintai sesuatu. Maka chronophile adalah orang yang menyukai waktu. Chronophile sangat menghargai waktu, mereka juga suka pada hal-hal yang berhubungan dengan waktu seperti jam dan juga arloji.
⏰⏰⏰
Di sebuah Sekolah Menengah Pertama, terlihat siswa-siswi yang sedang memeriahkan pesta seni sekolah tahunan yang biasa dilaksanakan oleh beberapa sekolah dalam rangka kenaikan kelas.
Beberapa perwakilan kelas satu per satu menunjukkan bakat mereka di stage. Tidak hanya bernyanyi dan menari, ada juga yang membaca puisi, storytelling, bahkan ada yang live painting di depan para penonton, dan masih banyak lagi.
Terlihat tiga orang gadis bersiap di belakang stage.
"Kita akan tampil setelah Kelas 7-D," kata salah satu dari ketiga gadis itu sambil menunjukkan kertas pada kedua temannya. Tertera nama Evelyn di seragamnya.
Dua gadis lainnya, yaitu Lyra dan Aprilla melihat ke kertas di tangan Evelyn.
Laki-laki yang sedari tadi berdiri di tangga menuju stage menoleh pada ketiga perempuan itu. Lebih tepatnya ia menatap Lyra. Ia tersenyum kecil.
"Wah, penampilan yang luar biasa dari perwakilan Kelas 9-B. Baiklah, mari kita berikan tepuk tangan untuk Kelas 9-B," kata MC.
Semua murid yang menonton bertepuk tangan.
"Selanjutnya adalah perwakilan dari kelas 7-D," lanjut MC.
Laki-laki itu pun naik ke stage. Dari tanda mengenalnya tertera nama Aero.
"Aku gugup sekali. Setelah ini giliran kita," bisik Aprilla.
Evelyn menarik napas dari hidung lalu menghembuskannya perlahan dari mulutnya untuk mengurangi rasa gugup.
Lyra merangkul kedua temannya itu. "Kita pasti bisa, kita bisa."
MC menghampiri ketiga gadis itu. "Lyra, bisakah kau ke depan sebentar?"
"Aku?" Lyra menunjuk dirinya sendiri. "Tapi, kenapa?"
MC mengangguk. "Iya, sebentar saja. Tolong berdiri di depan stage bersama para penonton, ya."
Lyra tampak berpikir. Ia akan mengeluarkan suaranya lagi, tapi MC sudah pergi.
"Ada apa, ya? Kenapa aku disuruh ke depan?" tanya Lyra kebingungan.
"Entahlah, tapi mungkin itu penting," ujar Aprilla.
"Benar, mungkin saja itu penting. Kalau kau mau, aku akan menemanimu ke depan," sahut Evelyn.
Lyra menggeleng. "Tidak, tidak perlu. Kalian harus latihan vokal agar nanti suara kalian stabil. Aku pergi ke depan sendirian saja."
Setelah itu, Lyra pun pergi ke depan bergabung bersama para penonton. Gadis itu melihat ke stage di mana Aero sedang bernyanyi dengan suara merdunya.
Para penonton tampak terhanyut ke dalam lagu. Mereka menggerakkan tangan ke kiri dan ke kanan mengikuti melodi.
MC memberikan buket bunga pada Aero. Laki-laki itu menuruni tangga depan stage dengan tatapan tertuju pada Lyra. Para gadis berteriak histeris melihat itu.
Lyra berpikir kalau Aero sedang melihat pada seseorang di sampingnya atau mungkin di belakangnya, sebelum ia menyadari kalau Aero benar-benar tengah menatap padanya saat laki-laki itu berdiri tepat di depannya.
Aero menyodorkan buket bunga tersebut pada Lyra membuat Lyra membeku seperti mati kutu. Ia tidak segera menerima buket bunga itu bahkan ketika lagu berakhir. Lyra menatap Aero dengan tatapan penuh tanya.
"Terima, terima, terima!" Semua orang menyatukan suara mendukung Aero yang menyatakan perasaannya secara tersirat pada Lyra.
Lyra melihat laki-laki yang berdiri di antara para penonton. Laki-laki itu tampaknya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, tapi kemudian laki-laki tersenyum tipis.
Tangan Lyra perlahan bergerak menerima bunga tersebut dari Aero. Semua penonton bersorak.
Aero tersenyum senang, karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Peluk, peluk, peluk!" Semua orang bersorak untuk Aero dan Lyra.
Aero dan Lyra menunduk, karena malu. Mereka tidak mungkin berpelukan di depan umum. Apalagi ada dua orang guru yang mengawasi kegiatan tersebut.
"Sungguh indah percintaan mereka. Ini adalah PENSI (Pentas Seni) yang berkesan dan tidak akan terlupakan," ucap MC. "Baiklah, selanjutnya perwakilan dan 9-A."
Lyra segera pergi ke belakang stage meninggalkan Aero tanpa mengatakan apa pun. Aero menatap punggung Lyra yang terlihat buru-buru.
Saat Lyra menemui Aprilla dan Evelyn, kedua temannya itu menatap agak lama padanya, kemudian mereka tersenyum senang.
"Selamat, ya." Keduanya memeluk Lyra.
"Kau benar-benar menerima cinta Aero? Oh, manis sekali. Bukankah laki-laki itu sangat tampan dan imut?" ucap Evelyn.
"Lyra yang cantik berpacaran dengan laki-laki tampan dan imut. Kalian benar-benar serasi," sahut Aprilla.
"Kita melupakan stage-nya," ucap Lyra yang terlihat sangat gugup.
"Ah! Benar! Ayo!" Aprilla dan Evelyn tampak semangat, sementara Lyra tampak murung.
Di stage, Lyra duduk sambil memainkan gitarnya, sementara Evelyn dan Aprilia bernyanyi.
Aero yang berdiri bersama penonton tersenyum melihat Lyra yang kini resmi menjadi pacarnya.
Lyra menatap ke arah penonton, tepatnya laki-laki yang tadi dilihatnya sewaktu Aero memberikan bunga di depan para penonton. Dari pin nama di seragamnya, tertulis nama Gavin.
Tatapan Aero tertuju ke arah pandang Lyra. Gavin melambaikan tangannya saat Lyra menatapnya. Lyra tersenyum kecil.
"Apa mungkin mereka saling menyukai? Jika iya, mana mungkin tadi dia menerimaku," gumam Aero dengan tatapan tertuju pada Lyra.
"April dan Eve memang penyanyi yang bersuara emas dari kelas 9-A. Dan Lyra juga seorang multitalenta, ingat guys, Lyra sudah memiliki pacar, jangan ada yang mendekatinya," kata MC.
Semua murid menyambut dengan gembira ucapan MC. Gavin tersenyum kecut, sementara Aero tersenyum senang.
Lyra sendiri tidak memberikan respon apa pun.
"Kalian bertiga sangat luar biasa. Baiklah semuanya, ayo bertepuk tangan untuk perwakilan 9-A," ucap MC.
Semua penonton bertepuk tangan riuh.
Setelah penampilan Lyra dan teman-temannya di stage selesai, ia menemui Aero di perpustakaan. Pentas seni masih berlangsung, bahkan suara musik dari lapangan basket sampai terdengar ke perpustakaan.
Lyra mengembalikan buket bunga yang diberikan Aero padanya. Aero menatap Lyra dengan ekspresi penuh tanya. Namun, ia pun menerima kembali buket tersebut.
Tanpa mengatakan apa pun, Lyra pergi, tapi Aero segera meraih tangan Lyra membuat gadis itu menghentikan langkahnya.
"Tapi, kenapa? Kenapa bunganya dikembalikan padaku?" tanya Aero. "Kenapa berubah pikiran?"
Lyra kembali menatap Aero. "Maafkan aku, Aero. Aku bukan berubah pikiran."
Aero terdiam setelah mendengar jawaban Lyra. Ia masih menatap gadis yang dicintainya itu.
"Aku menerima bungamu, karena aku tidak ingin membuatmu malu di depan orang-orang. Aku tidak ingin kau terluka saat aku mengatakan tidak di depan mereka," kata Lyra.
Aero melepaskan tangan Lyra. Gadis itu pun melanjutkan langkahnya meninggalkan Aero yang masih berdiri mematung.
◣─────•~❉✿❉~•─────◢
09.36 | 10 Maret 2022
By Ucu Irna Marhamah
◤─────•~❉✿❉~•─────◥
Dua belas tahun kemudian.
Los Angeles, Amerika Serikat.
Gedung pencakar langit bernama Fernanda Gold berdiri di antara gedung-gedung tinggi lainnya di pusat kota.
Pria tampan berjas hitam itu memasuki ruangan rapat sambil membenarkan dasinya. Dua orang karyawan mengikutinya di belakang.
Para karyawan yang sudah berada di ruangan rapat segera berdiri kala pria itu datang. Pria itu duduk di kursi utama.
Melihat bos mereka duduk, karyawan lainnya pun duduk.
Pria bermata setajam elang itu melihat dua kursi kosong di meja rapat. "Ke mana Tuan Fred dan Nona Christina?"
Para karyawan tampaknya tidak ada yang berani menjawab.
Pria itu menunggu jawaban. Ia melihat ke arah salah seorang karyawannya yang mengangkat tangan.
"Tuan Fred dan Nona Christina sepertinya terlambat," kata wanita itu.
Pria itu menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kita lanjutkan rapat tanpa mereka. Orang yang tidak menghargai waktu tidak pantas berada di sini."
Para karyawan saling pandang setelah mendengar ucapan menohok bos mereka.
Selesai rapat, pria itu memasuki ruangannya. Di meja kerjanya ada tanda nama yang terbuat dari kaca. Tertera tulisan Aero Altarezel L. Fernanda.
Pintu ruangan diketuk.
Aero duduk di kursi kebersarannya lalu menoleh ke pintu. "Masuk."
Seorang wanita berambut sebahu dan berkacamata memasuki ruangan. Ia adalah sekretaris Aero yang tadi juga ikut rapat. "Tuan Fernanda memanggilku?"
"Emma, jika Tuan Fred dan Nona Christina datang, beritahu aku," kata Aero.
"Baik, Tuan."
"Hmm, kau boleh kembali," ucap Aero.
Wanita bernama Emma itu keluar dari ruangan Aero sambil menutup pintu dengan pelan. Ia membuang napas pelan.
"Fred dan Christina akan berada dalam masalah. Kenapa mereka selalu terlambat, sementara mereka tahu kalau Tuan Fernanda sangat menghargai waktu. Dia membenci orang yang tidak pernah tepat waktu," gumam Emma.
Jam menunjukkan pukul 6 sore.
Aero tampak mengendarai Ferrari GTB 488 merahnya. Mobil tersebut masuk ke kawasan rumah elit dan berhenti di pelataran rumah besar.
Aero tinggal sendirian di rumah itu tanpa pelayan mau pun bodyguard. Pelayan akan datang seminggu sekali untuk membersihkan rumah.
Bukan tanpa alasan, Aero sangat menyukai kesendirian dan kesunyian. Ia juga tipe orang yang sangat disiplin dan tepat waktu.
Saat memasuki rumah, ponselnya berdering. Ia merogoh benda persegi berwarna putih itu dari saku celananya lalu ia mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa, Bu?" tanya Aero yang ternyata ditelepon oleh ibunya.
"Besok siang Ibu akan tiba di Los Angeles. Apa ayahmu di sana?" jawab wanita paruh baya di seberang sana.
"Iya, ayah di Los Angeles, tapi tinggal di mansion, bukan di rumahku," jawab Aero sambil menaiki tangga ke lantai dua. Tangan satunya melepaskan dasi.
"Baiklah, semoga Ibu tidak bertemu dengannya."
Aero memasuki kamarnya sambil membuang napas kasar. "Ayah tidak akan datang ke mari. Kemarin dia baru saja datang ke sini. Jadi, untuk apa besok datang ke sini lagi."
Tidak ada respon dari ibunya. Aero pun bersuara, "Kalau Ayah datang ke mari, dia pasti menelepon. Saat itu juga aku akan mengatur waktunya agar Ayah dan Ibu tidak bertemu."
"Baiklah, sekarang aku merasa tenang mendengar jawabanmu."
"Tumben Ibu datang ke mari mendadak tanpa mengabariku?" tanya Aero sambil membuka jasnya.
"Ibu hanya ingin bertemu denganmu setelah sekian lama. Kau tidak pernah ke Indonesia sejak dua tahun terakhir untuk mengunjungi Ibu."
"Belakangan ini aku sibuk. Lain kali aku akan datang," ucap Aero. Pria itu melemparkan jasnya ke sofa di kamar.
"Bersama seorang istri?"
"Bu, usiaku baru 24 tahun," gerutu Aero.
"Di sini pria seusiamu sudah menikah dan memiliki anak."
"Jangan samakan dengan mereka. Aku harus bekerja keras untuk masa depan istri dan anakku nanti. Jadi, aku belum memikirkan pernikahan," ucap Aero sambil masuk ke kamar mandi. Ia meletakkan ponselnya di tepi bath up.
"Kapan kau akan menikah?"
Aero tampak berpikir. "Mungkin usia 30 atau 35 tahunan."
"Baiklah, aku tidak akan buru-buru mati kalau begitu," celetuk ibunya Aero.
Aero tersenyum kecil. "Iya, Ibu harus panjang umur dan sehat selalu kalau ingin menimang cucu."
Setelah berbicara panjang lebar, panggilan pun berakhir. Aero membuka kemejanya menampilkan tubuhnya yang kekar dan berkeringat.
Rambutnya juga basah karena keringat. Keringatnya menetes ke hidungnya yang lancip dan tegas.
Aero memiliki sepasang mata elang yang tajam. Alisnya yang hitam dan lebat menukik seperti lereng bukit. Bibirnya yang merekah berwarna merah gelap. Rahang kokoh dihiasi rambut-rambut halus. Kulitnya yang awalnya berwarna putih, kini menjadi cokelat eksotis. Namun, hal tersebut membuat penampilan Aero terlihat lebih maskulin.
Ia benar-benar berubah sejak dua belas tahun terakhir. Dulu ia adalah pria yang tampan dan imut, tetapi seiring berjalannya waktu, ia tumbuh besar dan terlihat lebih garang.
Shower dinyalakan. Rintik air dari lubang-lubang kecil di shower membasahi rambutnya.
Selesai membersihkan diri, Aero keluar dengan jubah mandi yang menutupi tubuh kekarnya. Tidak dengan dadanya bidangnya yang terekspos.
Aero mengambil kemeja putih lalu memakainya. Pria itu bercermin sambil menyentuh dagunya. Ada rambut-rambut halus di sekitar sana.
"Kau tampan, Aero. Jika ada yang menolakmu, bukan berarti kau jelek," ucapnya pada dirinya sendiri.
⏰⏰⏰
"Sakit?" tanya Lyra.
Aero menatap Lyra. "Iya, sakit sekali."
Dengan telaten, Lyra mengobati dan melilitkan perban pada luka di telapak tangan Aero.
"Kalau mau mandi, tapi lukanya masih perih, lebih baik jangan dibuka dulu perbannya. Seandainya lukanya sudah tidak terlalu perih, kau boleh membuka perbannya dan mandi seperti biasa lalu tetesan obat ini. Kau bisa menemuiku di ruangan PMR untuk memasang perban lagi agar lukanya tidak terinfeksi," jelas Lyra.
Aero mengangguk. "Terima kasih."
Lyra tersenyum sambil mengusap tangan Aero yang kini dibalut perban. "Cepat sembuh, ya. Tangan ini sangat berharga bagi tim basket."
Aero tersenyum melihat tingkah menggemaskan Lyra.
"Aero!" teman-teman Aero datang. Mereka mamakai jersey basket yang sama dengan yang Aero pakai.
"Tanganmu baik-baik saja? Bagaimana bisa berdarah?"
"Sekarang aku baik-baik saja," kata Aero sambil tersenyum membuat kedua matanya yang bulat menjadi segaris.
"Jangan memaksakan diri," kata Lyra pada Aero. Lalu ia beralih menatap teman-teman Aero. "Kalian jaga dia dengan baik, ya. Dia baru saja terluka."
"Baik, Kak."
"Terima kasih, Kak Lyra."
Lyra mengangguk.
Kedua mata Aero perlahan terbuka. Ternyata yang barusan itu adalah mimpi. Bukan mimpi, lebih tepatnya kejadian yang sudah lama berlalu dan ingatan itu kembali dalam bentuk mimpi.
Aero bangkit sambil menyibakkan rambutnya ke belakang. Pria itu membuang napas kasar.
"Hanya mimpi bodoh," gumam Aero. Pria itu bangkit dari ranjang lalu pergi ke dapur.
◣─────•~❉✿❉~•─────◢
16.19 | 10 Maret 2022
By Ucu Irna Marhamah
◤─────•~❉✿❉~•─────◥
Aero membuka lemari es lalu mengambil kotak susu. Ia meneguknya sampai habis.
Dibukanya lemari makanan. Aero mengambil roti dan mengolesinya dengan mentega lalu melahapnya.
"Oh iya, hari ini ibuku datang," gumam Aero yang mulutnya masih penuh dengan roti.
Siang harinya, para pelayan tampak sibuk membereskan rumah.
"Tolong bereskan piala di lemari juga, Bibi. Ibuku sangat teliti," ucap Aero.
"Baik, Tuan."
Aero mendengar suara mobil berhenti di depan pelataran rumahnya. Ia berjalan gontai menuju ke depan. Seorang wanita paruh baya berambut cokelat curly keluar dari mobil.
"Putraku." Wanita itu memeluk Aero.
Aero membalas pelukan ibunya. "Ibu langsung datang dari Indonesia?"
"Sebenarnya Ibu sudah di sini sejak kemarin. Ibu menginap di hotel. Tapi, Ibu takut bertemu ayahmu, makanya Ibu meneleponmu terlebih dahulu semalam," jawab wanita paruh baya itu.
"Kalau begitu, masuklah." Aero merangkul ibunya dan berlalu memasuki rumah.
Para pelayan menatap ibu dan anak itu.
"Dibalik ekspresi dan sikap dinginnya, ternyata Tuan Muda Fernanda berhati lembut dan memperlakukan ibunya seperti seorang Ratu."
"Iya, Tuan Muda memang gambaran seorang pangeran di dunia nyata."
Pelayan senior menghampiri kedua pelayan yang sedang bergosip itu. "Apa yang sedang kalian bicarakan? Bekerja dengan benar, Nyonya sudah tiba."
Kedua pelayan muda itu pun segera melakukan tugas mereka.
Ibunya Aero menatap piala-piala di lemari. Semua piala itu tampak berkilau. "Wah, pelayan melakukan pekerjaannya dengan baik kali ini."
Ada banyak hidangan di meja.
"Kau menyiapkan semua ini untuk Ibu?" Wanita paruh baya itu tampak senang.
"Iya, tadi aku memesannya," jawab Aero. "Ayo, kita makan."
"Spageti dan steak. Kau pasti sudah terbiasa dengan makanan-makanan barat. Apa kau tidak merindukan masakan Indonesia?" tanya ibunya.
"Aku merindukan masakan Indonesia, tapi di sini tidak ada restoran Indonesia," jawab Aero.
Mereka pun makan siang bersama. Saat menikmati makan siang, terdengar suara mobil berhenti di pelataran rumah.
Ibunya Aero tampak panik. "Itu ayahmu."
"Benarkah? Bagaimana bisa Ibu tahu kalau itu Ayah? Aku saja tidak yakin," tanya Aero.
"Aku mencium baunya dari sini," jawab wanita paruh baya itu.
Aero memundurkan wajahnya.
Ternyata benar, pria paruh baya berjas biru gelap memasuki ruang makan. Langkahnya terhenti melihat mantan istrinya duduk di meja makan bersama putra tunggal mereka.
"Jessica? Kau di sini?"
"Nicholas?"
Aero melirik kedua orang tuanya bergantian.
Kini Aero duduk di kursi utama, sementara kedua orang tuanya duduk berhadapan sambil menyantap hidangan di meja makan.
"Kau tidak pergi ke kantor?" tanya Nicholas pada putranya. Tampaknya ia ingin berbasa-basi untuk memecahkan kesunyian.
"Seperti yang Ayah ketahui, ini hari Sabtu. Itu sebabnya aku dan juga Ayah tidak pergi ke kantor, kan?" jawab Aero diakhiri dengan pertanyaan.
Nicholas tersenyum kaku. "Sebenarnya aku ada janji temu dengan teman lamaku, jadi aku tidak ingat kalau sekarang hari Sabtu."
Jessica melirik mantan suaminya dengan sinis lalu ia bertanya pada putranya, "Aero, kau terlihat kurus sejak dua tahun terakhir. Apa kau nyaman tinggal di Amerika? Kau terlihat lebih sehat saat tinggal bersamaku di Indonesia."
Nicholas mendelik mantan istrinya.
"Sebenarnya berat badanku bertambah empat kilo. Aku juga ingin menambah berat badanku lagi untuk memperbesar otot di tubuhku," kata Aero.
Jessica tertawa kaku. "Begitukah? Kalau begitu, Ibu mendukungmu."
Nicholas mendecih pelan.
Jessica melirik kesal pada Nicholas lalu ia menatap Aero. "Kau bilang, kau akan mengatur agar aku tidak bertemu dengan ayahmu. Kenapa kau tidak melakukan apa pun? Kau sama saja seperti ayahmu suka melanggar janji dan tidak bertindak sesuai perkataan."
Aero tidak merespon. Ia tetap menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Nicholas tampaknya tidak senang dengan ucapan Jessica. "Aero, katakan pada ibumu kalau aku juga tidak ingin bertemu dengannya."
Jessica tidak mau kalah. "Bilang pada ayahmu, aku benci padanya."
"Aero, katakan pada wanita di sampingmu, kalau aku lebih membencinya," gerutu Nicholas sambil menatap kesal pada mantan istrinya.
Jessica mendelik tajam pada Nicholas. "Aero, bilang pada pria di sampingmu, kalau setelannya hari ini sangat buruk membuat penampilannya terlihat jelek dan tua."
Nicholas menatap jas dan kemeja yang dikenakannya. Ia kembali mendongkak menatap Jessica. "Aero, katakan pada ibumu kalau rambut cokelat kritingnya seperti jagung."
Seketika Jessica menyentuh rambutnya sendiri.
Aero tidak peduli sama sekali. Ia hanya menonton pertengkaran yang tidak berguna itu sambil terus makan.
Nicholas dan Jessica sama-sama membuang muka.
Aero meneguk air sampai setengah gelas lalu ia mengambil camilan dan memakannya.
"Berhenti makan camilan, kau sudah operasi amandel berapa kali?" gerutu Jessica.
Seperti anak kecil, Aero meletakkan kembali camilan ke meja melihat ibunya yang marah.
"Kau harus makan sayuran. Ibu akan membuat capcay atau tumis buncis," kata Jessica.
"Aero, ada yang ingin Ayah bicarakan denganmu empat mata," kata Nicholas.
Greedd.
Aero dan Nicholas terkejut mendengar suara kursi bergeser. Kedua pria itu menatap Jessica yang beranjak dari kursinya dan berlalu pergi menaiki tangga.
"Ibumu tidak berubah, dia masih menyebalkan," kata Nicholas.
Aero menyandarkan punggungnya ke kursi. "Ayah dan Ibu sama saja, tidak berubah sama sekali. Sama-sama seperti anak kecil."
"Aero, apa kau punya pacar?" tanya Nicholas mengalihkan pembicaraan.
Aero mengernyit. "Kenapa Ayah tiba-tiba menanyakan itu?"
"Ada perusahaan besar yang sedang dalam masalah. Perusahaan pusat kita, Fernanda King akan menyuntikkan dana ke perusahaan itu. Kau tahu itu adalah keuntungan besar?" jelas Nicholas diakhiri dengan pertanyaan.
Aero mencondongkan tubuhnya ke depan. "Perusahaan besar? Mana ada perusahaan besar yang memiliki kesulitan sampai membutuhkan dana?"
"Mau perusahaan besar, mau perusahaan kecil, semuanya bisa saja terkena masalah," kata Nicholas.
"Lalu, kenapa Ayah membicarakan masalah ini denganku? Ayah 'kan mengurus Fernanda King. Itu terserah Ayah," ucap Aero.
Nicholas menepuk bahu Aero. "Karena kau putra tunggalku, artinya kau akan mengambil alih Fernanda King suatu hari nanti. Jadi, kau berperan penting dalam hal ini."
"Lalu, apa hubungannya aku sudah punya pacar atau belum dengan masalah perusahaan?" tanya Aero yang memiliki firasat buruk.
"Pemilik perusahaan besar itu memiliki anak perempuan. Aku ingin kau dan gadis itu menjalin hubungan. Aku harap sampai kalian menikah," kata Nicholas.
Aero tampaknya tidak senang. Ia menatap kesal pada ayahnya. "Kenapa Ayah seperti sedang menjualku untuk bisnis?"
"Gadis itu cantik dan memiliki kepribadian yang baik. Aku sebenarnya mengkhawatirkanmu juga, karena kau tidak pernah terlihat bersama perempuan. Aku hanya takut kau menjadi berubah setelah dua belas tahun lamanya tinggal di Amerika," kata Nicholas.
"Aku akan mencari pasanganku sendiri. Ayah tidak perlu repot-repot ikut campur dalam hidupku."
◣─────•~❉✿❉~•─────◢
08.52 | 10 Maret 2022
By Ucu Irna Marhamah