Bab 2

Rommy menginjakkan kakinya di Bandara kota Jakarta tepat pada jam delapan pagi, laki-laki itu menghirup dalam oksigen kota yang telah lama tidak mengisi rongga paru-parunya.

Gegas ia melangkahkan kaki menuju parkiran menghampiri mobil yang sudah menunggunya sejak tadi. Rommy lantas masuk, dan mobil itu membawa dirinya menuju mansion Antarez.

Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, akhirnya mobil mewah tersebut telah sampai di halaman mansion. Rommy gegas turun dan memutuskan beristirahat sejenak sebelum nanti sore mengunjungi mansion Adhitama.

"Huh, air di sini memang nggak terlalu dingin. Bahkan aku sudah kepanasan sekarang," gumamnya.

"Lebih baik aku tidur saja, biar nanti fresh waktu ketemu Papa sama Mama. Dan ... Melisa," sudut bibirnya tertarik menyinggungkan senyum saat menggumamkan nama itu.

Ada kerinduan yang membuncah di sudut hatinya, kerinduan yang bahkan ia sendiri sulit menjelaskannya. Ini bukan lagi perasaan rindu pada seorang teman, ini adalah kerinduan pada wanita yang di cintai.

**

Di sisi lain, Melisa sudah siap dengan dress polos selutut berwarna putih. Dia berdiri dengan gelisah menanti kedatangan sahabat baiknya. Pagi ini ia berniat menemani sahabatnya mengisi seminar di salah satu hotel berbintang.

Sudah lima belas menit dia disana, menatap gelisah pada gerbang megah itu yang belum menampakan tanda-tanda sahabatnya akan datang.

"Kok belum berangkat?" tanya Natasya.

"Karin belum jemput, Mah. Mungkin kena macet."

Natasya mengangguk.

"Eh, kamu udah tahu kalo Rommy hari ini ke Indonesia?"

"A-Aku," jawabnya gelagapan, "nggak tahu."

"Bunda semalam yang bilang, Mel. Katanya Rommy udah siap pegang Antarez Company, jadi Ayah Marcell ngizinin dia pulang."

"Oh, gitu."

"Kamu nggak mau ketemu?"

Melisa menggeleng.

"Buat apa, Mah? Dia aja beberapa tahun terakhir nggak pernah balas pesanku, berarti dia udah lupain aku, dong."

"Nggak gitu, Mel. Rommy itu sibuk, dia buru-buru selesaiin S2-nya biar bisa cepet pulang."

"Sama aja, intinya Rommy udah lupa sama aku."

Natasya menghela nafas kasar, percuma berbicara dengan putrinya. Karena dia pun tahu bagaimana kecewanya Melisa pada Rommy. Selama ini Melisa selalu menunggu Rommy, namun jangankan datang. Bahkan pesan saja seakan di abaikan.

Maka wajar jika Melisa bersikap seperti ini. Padahal Melisa masih mengingat Rommy, lalu kenapa Rommy melupakannya? Itu yang ada dalam pikiran Melisa selama ini.

Tidak seberapa lama, sebuah mobil sport memasuki gerbang mansion. Melisa segera meraih tangan Natasya dan menyalaminya, gadis itu segera berjalan menuju mobil dan pergi meninggalkan halaman mansion.

"Kenapa murung gitu?"

"Sebel," jawab Melisa singkat, netranya masih memandang lurus pada jalanan di depannya.

"Kenapa lagi?"

"Dia pulang, Rin," lirihnya.

"Bagus, dong. Kenapa malah murung?"

"Bagus apanya?! Aku nggak mau ketemu sama dia, aku masih benci."

"Benci apa? Benar-benar cinta?"

Melisa melirik sebal. Sebenarnya ia bingung, dirinya grogi akan berhadapan dengan seseorang di masa lalunya. Apalagi sekarang pasti penampilan Rommy berubah.

"Jangan ngomong kayak gitu, nanti kamu malah terpesona gimana?"

"Ih, enggak! Kamu nggak tahu aja aku beneran benci sama dia. Selama ini dia lupa sama aku, dan bisa-bisanya semalam dia kirim pesan, katanya hari ini pulang. Nyebelin 'kan?"

Karin terkekeh lirih, "kalo lupa mana mungkin dia kirim pesan, Mel?"

"Tapi itu kenyataannya. Kamu tahu sendiri curhatan aku, Rin."

"Iya, aku tahu. Tapi kamu nggak tahu 'kan penjelasan dari sisi dia? Bukannya aku pernah bilang, dia akan pergi dan akan kembali dengan versi yang lebih baik. Atau akan datang 'dia' yang lain, dengan nama lain, dengan cinta yang lebih dalam buat kamu."

Melisa terdiam mendengar penjelasan panjang Karin, diam-diam dia berpikir. Apakah Rommy kali ini datang dengan versi terbaiknya?

"Apa benar?" lirihnya.

"Nggak ada yang tahu sebelum kamu ketemu sama dia, Mel. Udahlah santai aja."

Melisa melirik sekali lagi pada sahabatnya itu. Karin sudah pernah mengalami kepahitan dalam cinta, ia pasti lebih berpengalaman.

"Kamu bener, Rin. Aku terlalu cepat menyimpulkan."

Karin hanya menimpalinya dengan kekehan. Tanpa di jelaskan pun ia sudah tahu kalau Melisa memendam gengsi tinggi, ia tidak mau ada yang tahu perasaan aslinya.

****

Sore hari | Mansion Adhitama

Dengan gagahnya Rommy berjalan memasuki mansion yang sudah lama tidak ia kunjungi tersebut. Dengan senyum lebar netranya menelisik ke seluruh isi mansion, tidak banyak yang berubah. Hanya beberapa foto saja yang bertambah.

Rommy sangat merindukan mansion ini, mansion tempatnya berpisah dengan Melisa. Sejenak perasaannya menghangat, mengenang kembali masa-masa lucu dua puluh tahun silam.

"Nak, kamu udah sampai?!"

Natasya berlari kecil dan langsung menghamburkan dirinya pada pelukan Rommy, tidak terasa air matanya menetes. Ternyata benar kata orang, pertemuan penuh kerinduan itu mengharukan.

"Udah dari tadi, Rom? Kenapa nggak ke dalem?"

"Papa," gumamnya, "aku baru aja sampai, masih lihat-lihat foto ini."

"Kamu kangen sama Melisa?"

"Selama dua puluh tahun aku menahan untuk hari ini, Pah. Mana mungkin aku nggak kangen?"

Yudis tergelak, dia menggandeng tangan Rommy untuk duduk di sofa. Pertemuan sore itu benar-benar sukses membuat Natasya banjir air mata, apalagi saat ia melihat Rommy tumbuh menjadi sosok tampan nan rupawan.

'Kamu pasti akan terkejut, Sayang. Rommy sekarang jauh berbeda di bandingkan dua puluh tahun yang lalu,' batinnya.

Mereka berbincang banyak hal, hingga tidak terasa waktu sudah memasuki jam makan malam. Pasangan paruh baya itu mengajak serta Rommy menikmati hidangan yang ada, tentu Rommy langsung mengiyakan.

"Oh, iya, Pah. Aku nanti mau bicara hal penting."

"Mau di ruang kerja Papa atau di ruang keluarga saja, Rom?"

"Di ruang keluarga nggak papa, Pah. Cukup Papa dan Mama."

"Tentang apa, Rom?" tanya Natasya penasaran.

"Tentang keinginan yang sudah lama aku pendam, Mah."

Natasya mengulas senyum, "selesaikan dulu makannya, ya. Jangan buru-buru."

Rommy mengangguk dengan senyum manis menghias bibirnya. Sekitar lima belas menit, mereka telah menyelesaikan makan malam. Barulah ketiganya beranjak menuju ruang keluarga.

Ruangan yang biasanya digunakan untuk bersantai ini, entah kenapa saat ini suasana terasa mendebarkan. Apalagi Rommy yang masih bungkam selama hampir sepuluh menit.

"Pah, Mah," ujarnya, "sebelumnya aku mau minta maaf karena jarang telepon."

"Nggak papa, Rom. Kami ngerti sama kesibukan kamu," timpal Natasya.

Rommy menarik nafas dalam. Ia bisa merasakan tiba-tiba tubuhnya mendingin dengan detak jantung tidak beraturan.

"Papa, Mama ... Aku izin meminang Melisa menjadi istriku, aku izin untuk menjadikan Melisa belahan jiwaku. Aku sudah memendam ini sejak lama, Pah. Dan aku sudah memikirkan semuanya dengan matang."

Yudis dan Natasya saling pandang, kedua paruh baya itu merasakan perasaannya menghangat akan permintaan Rommy. Mereka berdua juga mengharapkan hal yang sama.

"Jika dulu Melisa yang menjagaku, izinkan sekarang aku yang menjaganya, Pah. Izinkan aku mencintainya setiap hari, dan izinkan aku meluapkan rasa sayangku padanya dengan cara yang halal."

"Rom, kamu yakin?" tanya Yudis.

"Keyakinanku mungkin yang membawaku kesini, Pah," lirihnya sambil menundukkan kepala.

"Kenapa harus putri Papa? Kalian tidak pernah bertemu selama dua puluh tahun lebih, apa kamu yakin? Sekali lagi Papa tanya, apa kamu yakin?"

"Sekali lagi maafkan aku. Jika dengan adanya aku tiba di sini dengan membawa niat tulusku membuat Papa bertanya tentang keyakinanku. Tapi, satu hal yang harus Papa tahu. Aku tidak pernah bermain-main."

Yudis tersenyum lebar mendengarnya. Ia semakin yakin bahwa karakter Rommy sudah terbentuk sempurna. Rommy telah menjelma menjadi pria dengan pendirian teguh dan pantang menyerah.

Yudis menepuk bahu Rommy, kepalanya mangut-mangut seolah memberikan restu. Begitu pula dengan Natasya yang menatap bangga pada perubahan sifat Rommy.

"Kapan Ayah Bundamu mau ke sini? Bukannya lamaran secara resmi perlu di gelar?"

"Secepatnya. Yeah, aku akan minta mereka pulang secepatnya, Pah."

Yudis tergelak, "rayu dulu Melisa. Dia menahan kesedihan selama dua puluh tahun, mungkin kamu perlu banyak kesabaran nantinya."

"Aku akan berusaha, Pah," jawabnya penuh keyakinan.

Yudis tergelak lagi begitu pula dengan Natasya. Dan tidak terasa malam semakin merangkak larut, Rommy memutuskan pulang setelahnya. Laki-laki itu pulang dengan perasaan lega, restu sudah ada di tangannya. Tinggal melunakkan hati gadisnya saja.

****

Sampai di mansionnya, Rommy langsung menghubungi asisten pribadinya. Asisten yang ia percayakan untuk mengelola perusahaan saat dirinya tidak ada di Indonesia.

"Halo, Bos," ucap seseorang di seberang telepon.

"Halo. Lagi sibuk?"

"Nggak, Bos. Kenapa?"

"Gue ada satu tugas buat, lo. Ini penting banget, awas sampe salah."

Hening! Hanya terdengar deru nafas dari seberang sana.

"Heh, lo tidur?"

"Eh, enggak. Nggak, Bos, cuma mikir mau ada tugas apa."

Rommy menghela nafas sejenak, "nanti gue kirim alamatnya terus besok lo harus datengin, ya. Terus sampe sana lo mintain kerjasama."

"Ha? Gimana, sih?"

"Lo kenapa telmi banget, sih, Boy!"

"Bukan saya, tapi Bos yang nggak jelas ngomongnya."

Rommy meraup wajah kasar, bisa-bisanya si asisten malah menguji kesabarannya.

"Gue minta lo buat kontrak kerjasama sama salah satu konsultan bisnis, besok gue kasih alamatnya. Dan lo harus dateng ke sana, jangan lewat surel."

"Orang apa perusahaan, Bos?"

"Orang. Inget, ya! Harus dapet."

"Oh, gitu. Ngomong gitu lah dari tadi, Bos. Biar saya langsung paham, ngomong kok nggak jelas."

Lagi, Rommy menggeram kesal. Untung asistennya ini sangat berguna, kalau tidak pasti sudah dia pecat.

"Udah, lah, capek gue ngomong sama, lo!"

TUT!

Rommy melempar asal ponselnya, jika tidak karena Melisa malas sekali dia meladeni Boy malam-malam. Akhirnya ia memutuskan mandi sebelum tidur, setidaknya tubuhnya bisa fresh kembali.

Di bawah kucuran shower Rommy memejamkan matanya, pikirannya menerawang jauh membayangkan gadis pujaan hatinya. Ada rasa tidak sabar untuk bisa segera bertemu.

"Aku akan membuatmu tidak bisa juah dariku, Mel. Apapun, apapun akan aku usahakan demi kamu," gumamnya lirih.

Bab 3

"Selamat pagi, Mama..," suara Melisa menggema memasuki ruang makan yang tadinya senyap.

Gadis cantik itu langsung mencium kedua pipi, dan menyalami tangan sang Mama, Natasya. Netranya melirik ke arah meja makan, tersaji banyak hidangan di sana. Tidak biasanya seperti ini jika untuk sarapan saja.

"Banyak banget," gumamnya.

"Mau ada tamu, Sayang."

"Siapa?"

"Ada, deh. Nanti aja kamu lihat, salah sendiri semalam nggak pulang."

"Enggak. Aku 'kan nginep di tempat Karin, nonton drakor sampe pagi."

Natasya mendengus lirih, "ya udah sana mandi. Nanti mungkin Rommy ke sini."

Deg!

Melisa menghentikan gerakan tangannya yang sedari tadi asyik mencomot makanan. Mendengar nama itu benar-benar tidak baik untuk jantungnya. Ada getaran yang tidak biasa di sana, bahkan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

"Ngapain?"

"Mau sarapan bareng katanya."

"Oh, ini untuk Rommy?" netranya melirik pada meja makan.

Natasya mengangguk.

"Rommy semalam ke sini, katanya dia kangen sama kamu. Dia mau lamar kamu, loh, Mel. Seneng nggak?"

"Biasa aja," bohongnya.

'Lamar? Dia mau jadiin gue istri? Gila! Yang bener aja?!' batinnya berkecamuk.

"Kenapa, sih? Bunda Lio dari dulu juga mau kamu jadi mantunya, Mel."

"Nggak mau. Kalo Mama mau, ya Mama aja yang nikah sama Rommy."

Plakkk!

"Aww," Melisa mengaduh saat tangannya di geplak. Panas dan sedikit ngilu.

"Kebiasaan, deh, kalo ngomong nggak ada saringannya. Lagian Papa sama Mama udah seneng."

"Aku 'kan enggak. Aku nggak mau nikah sama dia."

"Kenapa lagi, Melisa?! Dia itu udah berubah, loh. Selain ganteng dia juga pinter."

"Halah, nggak percaya. Namanya culun tetep aja culun, Mah. Mau di apa-apain juga dia itu tetep Rommy yang cengeng, dia nggak akan bisa imbangi aku."

"Jangan ngomong gitu, Mel. Nanti kamu kesengsem baru tahu rasa."

Melisa mengedikkan bahu.

"Terserah, Mah. Aku tetep nggak mau di jodoh-jodohin gini, aku mau nikah sama pilihan aku sendiri."

"Kayak kamu punya pacar aja," sahut Natasya yang langsung menampar Melisa dengan kenyataan.

Hening! Melisa terdiam mengatupkan bibir. Ia baru sadar jika dirinya tidak punya pacar. Gimana mau punya pacar? Sedangkan selama ini hatinya masih tertutup. Hanya ada Rommy di sana, namun sayang sekali gengsinya terlalu tinggi.

"Nah, diem 'kan? Udah nggak usah mikir macem-macem, tinggal bilang iya gitu aja susah amat."

"Ih, Mama ... Aku nggak mau," rengeknya.

"Karena dia culun?"

Melisa menangguk, "aku nggak mau punya suami cul..," ucapan Melisa terjeda saat mendengar suara seseorang mengucapkan salam.

Tidak seberapa lama seorang laki-laki dengan penampilan casual memasuki ruangan tersebut, dengan tangan kirinya menggenggam goodie bag. Senyum di bibirnya melengkung sempurna, apalagi saat tatap matanya beradu pandang dengan gadis pujaan hatinya.

'D-Dia Rommy? Kok jadi ganteng? Dulu 'kan nggak gini, dulu dia culun. Kenapa sekarang jadi ganteng banget, bisa oleng gue,' batinnya.

Pandangan Melisa terus mengikuti pergerakan Rommy. Dia menatapnya dalam, menelisik seluruh penampilan Rommy yang sudah sangat berubah.

'Kamu kelihatan jauh lebih baik, Rom. Kamu benar-benar kembali dengan versi terbaikmu. Duh, kalo gini caranya, bisa hanyut gue!' rutuknya dalam hati.

Melisa mengakui Rommy sangat tampan. Apalagi rahang tegas itu membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangan. Gagal sudah rencananya jual mahal, kalau begini caranya malah dia yang meminta langsung di nikahkan saja.

'Nggak, gue nggak boleh lemah! Enak banget dia ninggalin gue selama ini, terus dateng-dateng ngelamar. Setidaknya Rommy harus berjuang buat gue. Yeah, dia nggak boleh dapetin gue dengan mudah!' tekadnya.

Otaknya sudah menyusun banyak rencana balas dendam. Dia harus menjadi wanita yang sulit di gapai, pantang baginya mudah terbujuk rayuan buaya. Walaupun buaya itu sangat tampan.

"Hai, Mel."

Melisa mengangguk singkat.

"Aku mau naik dulu, belom mandi."

"Kenapa naik? Aku 'kan masih kangen."

"Kangen?" tanyanya bingung, "tapi aku nggak kangen. Gimana, dong?"

Rommy tertawa kecil.

"Ya udah sana kalo mau naik. Tapi jangan lama-lama, aku mau ngobrol banyak sama kamu."

"Ngobrol sama Mama aja, sono!" ketusnya.

Rommy melepas gelak tawanya melihat tingkah menggemaskan Melisa. Dia harus banyak bersabar, apalagi pasti gadis tangguh seperti Melisa malas meladeni gombalan tidak berguna.

****

Beberapa menit kemudian

Melisa menuruni tangga dan mendapati Rommy tampak berbincang akrab dengan Mamanya. Beberapa kali Mamanya melepas gelak tawa, entah apa yang mereka bicarakan.

"Lama benget, Mel? Kamu tidur apa mandi?"

"Mandi, Mah. Biasalah anak cewek."

"Ya udah ini kamu temenin Rommy makan, ya. Mama mau masuk dulu."

"Lah, kenapa nggak makan dari tadi? Harus banget nungguin aku turun?"

"Mel..," sahut Natasya, "makan yang banyak, ya, Rom. Nanti kalo ada yang kurang bilang aja sama Melisa," ucap Natasya kepada Rommy.

"Ada pelayan kok nyuruh aku," gumam Melisa.

Sementara Rommy hanya mengulum senyum. Ia mulai mengalihkan pandangan pada gadis di depannya. Tidak banyak yang berubah, kecantikan masih memancar anggun dari wajah Melisa.

"Kamu nggak makan, Mel?"

"Aku udah makan tadi."

"Kapan?" tanya Rommy sambil menyendokkan nasi ke dalam piringnya.

"Kepo! Makan tinggal makan aja kenapa pake wawancara segala, sih."

Rommy malah tergelak yang semakin membuat Melisa sebal. Namun, ada perasaan senang di sudut hatinya. Entahlah, perasannya kini beradu.

"Nanti malam ayo keluar, aku mau ajak kamu ke rumah pohon. Aku kangen banget sama rumah pohon, dulu kita sering main ke sana 'kan?"

"Nggak ada rumah pohon, pohonnya udah di tebang."

Rommy sekuat mungkin menahan tawanya, "oh, iya? Ya udah kita makan malam aja di luar. Gimana?"

"Nggak bisa, aku ada pekerjaan."

Rommy menghela nafas sejenak, netranya tidak sengaja melirik pada pergelangan tangan Melisa. Sudut bibirnya berkedut saat melihat gelang pemberiannya masih melingkar di sana.

"Mel, kamu masih pake gelang dari aku?"

"Iya, kenapa?"

'Sial! Harusnya gue lepas tadi gelangnya. Huh, sekarang gue harus cool. Nggak boleh kelihatan kalo grogi,' batinnya.

"Nggak papa, aku seneng kamu masih pake."

"Nggak usah kepedean, ini karena Mama nyuruh aku menghargai pemberian orang lain."

Rommy mengangguk, tangannya mengambil selembar tisu dan mengelapkannya ke mulut. Kemudian ia mengambil segelas air dan menenggaknya sampai habis.

Setelahnya laki-laki itu mengalihkan pandangannya pada Melisa, netranya menghunus tajam pada manik indah gadisnya.

"Aku sayang sama kamu, Mel," ucapnya langsung.

Melisa tidak menjawab, ia hanya menatap sayu pada Rommy yang masih belum mengalihkan pandangannya.

"Kamu mau nggak nikah sama aku? Mungkin ini terkesan mendadak, tapi selama kita berjauhan aku selalu memikirkan hal ini."

Demi apapun saat ini jantung Melisa hampir melompat. Di lamar sedemikian rupa walaupun tidak romantis namun mampu membuat perasaanya berdebar.

"Aku nggak tahu harus bilang gimana. Tapi, yang harus kamu tahu adalah, aku mencintai kamu, Mel."

"Kalo aku nggak cinta gimana?"

"Nggak papa, aku bisa membuat kamu cinta sama aku."

'Dia nggak waras apa, ya, pulang dari luar negeri. Udah ngelamarnya nggak romantis, pake maksa-maksa lagi.'

"tiga bulan lagi Ayah sama Bunda pulang, kamu bisa pikirin selama itu. Aku bakal tunggu, kok."

"Nggak usah nunggu. Mending kamu cari calon istri lain, karena aku nggak mau."

"Tapi kamu harus mau, Mel."

Melisa membelalakkan matanya, "maksa banget, sih?!"

"Aku emang sukanya maksa, Melisa. Kalo nggak di paksa, kamu nggak akan mau."

"Kasih satu alasan kenapa aku harus nerima kamu," tantangnya.

"Karena aku mau nikahnya sama kamu. Dan kamu harus nikah sama aku," jawab Rommy dengan rasa bangga.

Melisa semakin membelalakkan matanya, menatap tidak percaya pada sosok laki-laki di depannya. Selain berubah penampilan, ternyata Rommy juga berubah semakin menyebalkan.

"Dah, lah. Aku pokoknya nggak mau!"

Rommy mengulum senyumnya, "masih ada banyak waktu. Nggak usah memutuskan sekarang, Mel."

"Aku udah punya pacar, Rom."

Rommy terdiam. Sekejap kemudian Melisa menyesali ucapannya, dia takut kalau Rommy langsung menyerah. Kenapa juga ia membuat alasan konyol. Lalu, siapa yang akan dia jadikan pacar bohongan?

"Tinggal putusin aja pacarmu, apa susahnya?"

Melisa semakin menganga, "gila!" ketusnya.

"Jangan di buat susah, Mel. Pokoknya kamu itu jodohku."

"Nggak mau! Kamu bukan tipeku!" Melisa langsung beranjak bangkit meninggalkan meja makan.

Ia melangkah dengan menghentakkan kakinya menaiki tangga. Menyisakan Rommy yang masih menatapnya dengan senyuman tipis.

"Menggemaskan," gumamnya.

Akhirnya Rommy memutuskan pulang. Namun, sebelumnya Rommy menghampiri sang Mama, Natasya, di halaman belakang. Ternyata juga ada Yudis di sana.

"Pah, nggak ke kantor?"

"Loh, Rommy," jawabnya, "kamu udah selesai? Melisa mana?"

Bukannya menjawab, Yudis malah balik bertanya. Persis seperti Melisa yang membutuhkan banyak kesabaran saat menghadapinya.

"Aku udah selesai, Pah. Melisa juga udah naik ke kamarnya."

"Gimana, Rom?" tanya Natasya.

"Melisa masih belum luluh, Mah. Mungkin ini terlalu cepat buat dia, tapi nggak papa. Masih banyak waktu sampai nanti Ayah dan Bunda pulang."

"Lebih baik Ayah Bundamu suruh cepet-cepet pulang, biar Melisa cepet mau," sahut Yudis yang membuat Rommy tergelak.

"Aku udah janji nggak akan paksa dia, Pah. Biar dia sadar sendiri dengan perasaannya."

Yudis mengangguk. Selanjutnya ia dan Natasya mengantarkan Rommy sampai teras. Kedua paruh baya itu menaruh harapan besar Rommy bisa meluluhkan hati putrinya, karena hanya Rommy laki-laki yang bisa mendampingi Melisa di masa mendatang.

****

Malam hari

Rommy tengah bersantai sambil menikmati segelas kopi dan sebatang rokok yang tersemat di jarinya. Bibirnya mengulas senyum lebar dan netranya menatap puas pada layar laptop di depannya.

Di sana terdapat salinan kontrak kerjasama yang Boy buat semalam, dan sudah di setujui oleh asisten Melisa tadi pagi. Benar-benar lebih cepat dari perkiraan Rommy, bibirnya tidak henti-hentinya tersenyum mengangumi Boy, sang asisten andalannya. Ia mulai membayangkan akan membuat Melisa terikat dengannya. Mau di luar, ataupun di kantor.

Drrrt!

Tiba-tiba deringan ponsel membuyarkan lamunan Rommy. Gegas tangannya meraih ponsel di dalam saku, membawanya ke depan muka, dan lantas menggeser tombol hijau saat mendapati nomor bodyguard kepercayaannya pada layar ponsel.

"Halo, Tuan, maaf menelepon malam-malam," ucap seseorang di seberang telepon.

"Ada apa?"

"Saya baru saja melihat sebuah mobil sport memasuki gerbang mansion Adhitama, dan tidak seberapa lama mobil itu keluar lagi, Tuan. Ada Nona Melisa dan seorang laki-laki di dalamnya."

Rommy mengangguk. Yeah, ia memang menempatkan bodyguardnya di sekeliling Melisa. Maka wajar jika selama ini dirinya bisa tau perkembangan Melisa. Seperti saat ini, bodyguardnya selalu melapor hal apa saja mengenai gadisnya itu.

"Ikuti saja, nanti kirimkan lokasinya."

"Baik, Tuan."

TUT!

Sambungan telepon tersebut terputus, Rommy masih menggenggam erat ponselnya dengan raut muka serius.

'Siapa laki-laki itu, Mel? Apa dia yang kau maksud kekasihmu?' batinnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED