Pagi itu, Risa terbangun bukan oleh hangatnya mentari desa yang menyusup lewat celah bambu, melainkan oleh bias cahaya Jakarta yang menembus tirai tebal. Kepalanya berdenyut hebat, dan seluruh tubuhnya terasa remuk redam. Ada kekosongan yang menganga di sampingnya, di ranjang king size yang terlalu besar untuknya. Udara dingin dari pendingin ruangan menyengat kulitnya yang terbuka, dan aroma aneh yang melekat di seprai putih mengingatkannya pada malam yang terasa seperti mimpi buruk.
Ia membuka mata sepenuhnya, menatap langit-langit kamar hotel mewah yang asing. Ingatan tentang malam kemarin berputar seperti film rusak di benaknya: musik menggelegar, tawa pria-pria aneh, minuman pahit yang menyesatkan, dan kemudian... Arjuna. Pria dengan mata sekelam malam itu. Wajahnya samar, namun sentuhannya, tarikan kasarnya, dan tuduhan pedas yang dilontarkannya masih terngiang jelas.
Arjuna sudah pergi. Tak ada jejak, tak ada pesan. Hanya keheningan yang memekakkan telinga, dan sisa luka yang menganga di hatinya. Ranjang itu rapi, seolah tidak pernah ada yang memakainya. Hanya selimut yang sedikit berantakan dan bantal yang penyok yang menjadi saksi bisu. Ia mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa begitu berat. Tenggorokannya kering, dan rasa mual samar mulai menyeruak.
Risa meraba-raba saku celananya, mencari ponselnya. Kosong. Tas ranselnya tergeletak di lantai, barang-barangnya berserakan. Kartu identitas, uang tunai, dan ponselnya masih ada di sana, syukurlah. Ia mengambil ponselnya, memeriksa. Tidak ada panggilan tak terjawab dari Maya, tidak ada pesan.
Seketika, ia teringat Maya. Sahabatnya. Yang menjebaknya ke tempat mengerikan itu. Yang melihatnya ditarik pergi oleh Arjuna tanpa berusaha menghentikan. Mengapa Maya melakukan ini? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya, menuntut jawaban yang tak kunjung datang.
Dengan langkah gontai, Risa masuk ke kamar mandi. Cermin memantulkan pantulan dirinya yang tampak asing. Rambut acak-acakan, mata sembab, dan wajah pucat pasi. Ia membasuh wajahnya berulang kali, berharap air dingin itu bisa menghapus semua kenangan buruk malam itu. Namun, memori tentang sentuhan asing, bisikan samar, dan rasa sakit yang tak terlukiskan, masih melekat erat. Air mata kembali menetes, membasahi pipinya. Ia merasa kotor, tercemar, dan sangat, sangat sendiri.
Setelah berpakaian seadanya dengan baju yang sama seperti kemarin, Risa memberanikan diri keluar dari kamar hotel. Lobi hotel tampak sepi di pagi hari. Ia berjalan cepat, menghindari kontak mata dengan staf hotel, merasa malu dan ingin segera menghilang. Begitu tiba di luar, ia mencari taksi dan menyebutkan alamat panti asuhan tempat ia dibesarkan di Bogor. Ia hanya ingin pulang, ingin memeluk Bu Retno, ingin melupakan Jakarta dan mimpi buruknya.
Namun, saat ia sampai di depan gerbang panti asuhan, hatinya mencelos. Gerbang itu terkunci rapat, dan papan bertuliskan "Panti Asuhan Kasih Bunda" sudah usang dan berdebu. Beberapa tetangga yang ia temui di sana mengatakan bahwa panti itu sudah ditutup setahun yang lalu, karena masalah dana. Bu Retno? Tidak ada yang tahu persis ke mana ia pergi. Kabarnya, ia kembali ke kampung halamannya di Jawa Tengah.
Dunia Risa runtuh. Satu-satunya tempat yang ia sebut rumah, satu-satunya orang yang ia anggap keluarga, kini lenyap. Ia benar-benar sendirian di dunia ini. Kembali ke Jakarta? Tidak. Kembali ke desa? Untuk apa? Ia tidak punya siapa-siapa lagi di sana.
Dengan hati hancur, Risa kembali ke Jakarta. Ia naik bus ekonomi, menatap kosong pemandangan di luar. Di dalam benaknya, ia terus mencoba mencari penjelasan untuk apa yang Maya lakukan padanya. Apakah ini bagian dari jebakan? Apa yang Maya dapatkan dari ini semua? Dan siapa sebenarnya Maya sekarang?
Ia mencoba menghubungi Maya, namun nomornya tidak aktif. Ia mendatangi alamat kos Maya yang pernah ia tahu, namun penghuni kos baru mengatakan Maya sudah pindah seminggu yang lalu tanpa meninggalkan jejak. Seminggu kemudian, Maya menghilang. Jejak Maya lenyap seperti ditelan bumi. Risa kini benar-benar sendirian di kota yang kejam ini, tanpa arah, tanpa tujuan, dan tanpa siapa-siapa.
Uangnya habis. Tabungannya yang sedikit, yang ia kumpulkan dari upah buruh serabutan di desa, menipis dengan cepat untuk biaya transportasi, makan, dan beberapa malam di penginapan murah. Ia harus segera mencari pekerjaan.
Risa menghabiskan beberapa hari berkeliaran di Jakarta, mencari pekerjaan apa saja. Ia melamar di toko-toko kecil, restoran, bahkan mencoba menjadi asisten rumah tangga. Namun, dengan pengalamannya yang minim dan tidak adanya kenalan, ia terus-menerus ditolak. Hingga suatu sore, dalam keputusasaan, ia menemukan sebuah lowongan di pasar tradisional. Seorang pemilik toko sembako kecil membutuhkan penjaga toko paruh waktu. Gajinya kecil, hanya cukup untuk makan sehari-hari dan sewa kamar kecil nan kumuh di gang sempit. Tapi Risa tidak punya pilihan. Ia harus bertahan hidup.
Ia mulai bekerja sebagai penjaga toko kecil di pasar. Jam kerjanya panjang, dari subuh hingga malam. Ia harus mengangkat karung beras, menimbang gula, melayani pembeli yang tak ramah, dan membersihkan toko. Tubuhnya seringkali pegal linu, dan aroma bawang serta rempah-rempah menempel di pakaiannya. Ia tidur di kamar kosnya yang pengap, terkadang ditemani suara tikus di dinding. Hidupnya jauh dari bayangan indah tentang Jakarta yang ia impikan. Setiap malam, ia merindukan Bu Retno, merindukan kehangatan panti asuhan, dan merindukan kesederhanaan desanya. Sesekali, bayangan mata kelam Arjuna terlintas, bersamaan dengan rasa perih yang masih membekas. Ia mencoba mengubur dalam-dalam ingatan tentang malam itu, berpura-pura itu tidak pernah terjadi.
Waktu berlalu. Bulan-bulan berganti, membawa serta perubahan yang tak terduga. Risa sudah menjalani rutinitasnya sebagai penjaga toko selama hampir tiga bulan. Ia mulai sedikit terbiasa dengan kerasnya hidup di ibu kota. Fisiknya memang lelah, namun hatinya perlahan mulai pulih dari luka pengkhianatan dan kehampaan.
Namun, ada sesuatu yang berbeda.
Awalnya, ia mengira hanya kelelahan biasa. Tubuhnya sering merasa lesu, perutnya mual setiap pagi. Ia mencoba meminum ramuan herbal dari toko jamu di pasar, berharap bisa meredakan. Namun mual itu tak kunjung hilang. Bahkan, semakin parah. Terkadang, ia tak bisa menahan diri untuk muntah di belakang toko, membuat pemilik toko heran dan bertanya-tanya.
"Risa, kamu sakit, Nak? Wajahmu pucat sekali," ujar Bu Siti, pemilik toko, suatu pagi. "Istirahat saja dulu kalau memang tidak enak badan."
Risa hanya tersenyum samar, menggeleng. "Tidak apa-apa, Bu. Cuma masuk angin biasa."
Tetapi di dalam hatinya, ia tahu ada yang tidak beres. Ia mulai memperhatikan hal-hal lain. Perutnya terasa sedikit membesar, meskipun ia mencoba menepisnya dengan berpikir itu hanya karena ia makan terlalu banyak nasi akhir-akhir ini. Pakaiannya terasa sedikit sempit, dan ia sering merasa haus luar biasa.
Dan kemudian, keterlambatan itu tak bisa dihindari lagi. Sudah lewat tiga minggu dari jadwal menstruasinya. Ia selalu teratur. Selalu. Jantungnya mulai berdetak kencang. Pikiran-pikiran yang menakutkan mulai menyeruak, pikiran yang selama ini ia coba singkirkan jauh-jauh. Malam itu. Malam mengerikan bersama Arjuna.
Rasa takut mencekiknya. Ia tidak mungkin... tidak mungkin...
Dengan tangan gemetar, ia pergi ke apotek kecil di sudut pasar. Ia membeli alat tes kehamilan murahan. Penjaga apotek menatapnya dengan pandangan curiga, namun Risa berusaha terlihat tenang. Ia bergegas kembali ke kamar kosnya.
Malam itu, setelah bekerja dan memastikan Bu Siti sudah pulang, Risa mengunci pintu kamar sempitnya. Ia duduk di lantai kamar mandi yang dingin, hatinya berdebar tak karuan. Dengan tangan gemetar, ia membuka kemasan alat tes itu, membaca instruksi dengan mata nanar. Keringat dingin membasahi pelipisnya.
Ia mengikuti instruksi. Menunggu. Setiap detik terasa seperti berjam-jam. Jantungnya berdebar-debar di dadanya, seolah ingin melompat keluar. Nafasnya tercekat.
Lalu, perlahan tapi pasti, garis kedua muncul. Merah terang, jelas, tak terbantahkan.
"Tidak mungkin... tidak mungkin...," gumam Risa, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia menatap nanar dua garis merah di alat tes kehamilan itu. Dunia seolah berhenti berputar. Udara terasa tipis, dan tembok-tembok kamar kosnya seolah bergerak mendekat, hendak meremukkannya.
Alat tes itu jatuh dari genggamannya, tergeletak begitu saja di lantai. Air matanya yang sudah lama ia tahan, kini jatuh deras, membasahi pipinya. Tangisnya pecah, pilu, dan menggema di kamar sempit itu. Ia memeluk lututnya, meringkuk di lantai, merasakan beban dunia menimpanya.
Seorang bayi. Bayi dari malam itu. Bayi dari seorang pria yang bahkan tidak ia kenal namanya. Pria yang menuduhnya wanita panggilan.
Keputusasaan melanda. Ia hanyalah gadis desa miskin yang malang, seorang diri di kota besar ini. Bagaimana ia bisa membesarkan seorang bayi? Bagaimana ia bisa menghadapi ini semua? Siapa yang akan membantunya? Siapa yang akan ia minta pertolongan?
Di tengah isak tangisnya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya, nama yang bahkan ia tak yakin bagaimana mengejanya, nama yang ia dengar samar-samar di malam terkutuk itu.
"Arjuna... kau bahkan tidak tahu namaku!"
Suaranya pecah, dipenuhi kepedihan dan amarah. Arjuna. Pria yang bertanggung jawab atas kehancuran hidupnya. Pria yang telah meninggalkannya begitu saja, tanpa sepatah kata pun. Ia bahkan tidak tahu nama lengkapnya, atau bagaimana mencarinya. Pria itu mungkin sudah melupakan kejadian malam itu, sementara ia harus menanggung konsekuensinya sendirian.
Risa tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Mimpi menemukan orang tua kandungnya, harapan untuk masa depan yang cerah, semua itu kini terasa begitu jauh, tertutup oleh awan kelam sebuah skandal tak terduga. Ia kini bukan hanya harus berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk sebuah kehidupan baru yang tak berdosa, yang tumbuh di dalam rahimnya. Pertanyaan-pertanyaan tentang masa depan menyerbu benaknya, tanpa satu pun jawaban. Apa yang akan ia lakukan? Bagaimana ia akan bertahan?
Arjuna menjalani hidupnya dengan presisi yang sempurna, seperti roda gigi jam Swiss yang mahal dan tanpa cela. Setiap pagi, ia bangun pukul lima, berlari sejauh sepuluh kilometer, sarapan sehat yang disiapkan koki pribadinya, dan kemudian menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor. Ia adalah CEO Aksara Group, sebuah konglomerat properti raksasa yang tentakel bisnisnya membentang luas di seluruh Asia Tenggara. Gedung-gedung pencakar langit, kompleks perumahan mewah, pusat perbelanjaan megah-semuanya adalah bukti nyata dari kerajaan yang ia pimpin.
Wajahnya yang tampan dan dingin, dengan garis rahang tajam dan mata elang yang penuh perhitungan, terpampang di sampul majalah bisnis terkemuka. Artikel-artikel memujinya, dielu-elukan sebagai pengusaha muda paling sukses di generasinya, inovator yang visioner, dan pewaris takhta bisnis yang tak terbantahkan. Ia memiliki segalanya: kekayaan, kekuasaan, dan reputasi yang tak tersentuh. Hidupnya adalah gambaran kesempurnaan, sebuah mahakarya yang dibangun dari kerja keras, kecerdasan, dan sedikit keberuntungan.
Namun, di balik fasad yang kokoh itu, ada sebuah celah, sebuah bayangan yang kadang muncul tak terduga, mengganggu ketenangan malamnya. Malam itu. Malam di klub mewah, aroma alkohol yang memuakkan, dan wajah pucat seorang gadis lugu yang ia tuduh sebagai wanita panggilan. Tatapan polos gadis itu, yang dipenuhi ketakutan dan penghinaan, masih jelas terekam di benaknya. Tangis yang tertahan yang ia dengar samar-samar saat ia meninggalkannya sendirian di kamar hotel. Dan... rasa bersalah yang ia sembunyikan rapat-rapat, terkubur di bawah lapisan kesibukan dan ambisi.
Arjuna benci mengakui hal itu, bahkan pada dirinya sendiri. Ia benci kelemahan. Ia benci rasa penyesalan. Ia adalah pria yang selalu memegang kendali, dan malam itu, ia merasa kehilangan kendali. Terjebak dalam jebakan Revan, dan kemudian melakukan kesalahan yang fatal. Ia sudah mencoba melupakannya. Menganggapnya sebagai insiden tak berarti, noda kecil dalam riwayat hidupnya yang bersih. Ia telah membayar mahal biaya kamar hotel, memastikan tidak ada jejak yang tersisa. Ia berasumsi, gadis itu adalah bagian dari skenario Revan, sengaja disiapkan untuk menjebaknya. Dengan cara berpikir seperti itu, lebih mudah baginya untuk mengusir rasa bersalah.
Tapi terkadang, saat ia sendirian di apartemen mewahnya yang hening, atau saat ia menatap kosong ke luar jendela kantornya di lantai teratas gedung Aksara, bayangan Risa-nama yang ia dengar samar-samar dari Maya-muncul kembali. Ia ingat bagaimana gadis itu gemetar, bagaimana ia mencoba membela diri. Keraguan kecil menyusup: apakah ia benar-benar wanita panggilan? Atau ia hanya korban lain dari kekejaman dunia ini, seperti dirinya yang nyaris menjadi korban jebakan Revan? Arjuna selalu menepisnya, menganggapnya hanya bunga tidur yang tak berarti.
Ia terlalu sibuk untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Agenda hariannya padat merayap: rapat dewan direksi, negosiasi dengan investor asing, peninjauan proyek-proyek besar, dan strategi ekspansi bisnis. Dunia korporat adalah medan perang, dan ia harus selalu siap siaga, mengenakan baju zirah paling kuatnya. Kelemahan sekecil apa pun bisa menjadi celah bagi musuh-musuhnya-terutama Revan, saudara tiri sekaligus saingan terbesarnya.
Hingga suatu hari, badai itu datang. Tidak dalam bentuk gemuruh guntur, melainkan dalam bisikan licik yang mematikan.
Pintu kantor Arjuna terbuka tanpa ketukan, dan sosok Nadine, adik tirinya, muncul di ambang pintu. Nadine, dengan rambut pirang yang baru diwarnai, bibir merah menyala, dan gaun desainer ketat, selalu tampak seperti ular cantik yang siap menerkam. Ia putri dari pernikahan kedua ayah mereka, manja, sombong, dan sama liciknya dengan Revan. Arjuna dan Nadine tidak pernah akur. Ada persaingan dingin di antara mereka, terutama karena Nadine juga haus akan kekuasaan di Aksara Group, meskipun ia tidak memiliki bakat bisnis sedikit pun.
Nadine menyeringai. Senyumnya seperti racun, membuat bulu kuduk Arjuna merinding. "Sibuk sekali, Tuan CEO?" sindirnya, melangkah masuk dan menjatuhkan tubuhnya dengan anggun di sofa kulit mahal di hadapan meja kerja Arjuna.
Arjuna mendesah. "Ada perlu apa, Nadine? Aku sedang sibuk."
"Oh, aku yakin kau akan punya waktu untuk yang satu ini," katanya, suaranya dipenuhi intonasi yang terlalu ceria. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tas tangan mewahnya. "Kau masih ingat wanita desa yang kau tiduri malam itu?"
Jantung Arjuna seolah berhenti berdetak. Matanya menajam. Ia menatap Nadine, mencari tanda-tanda kebohongan. Namun, seringai di wajah Nadine semakin lebar, menunjukkan bahwa ia tahu sesuatu.
"Apa maksudmu?" tanya Arjuna, suaranya tenang, namun ada kilatan bahaya di matanya. Ia tidak suka ada yang mengungkit-ungkit malam itu. Terutama Nadine, yang pasti akan menggunakan informasi itu untuk menjatuhkannya.
Nadine terkekeh kecil, lalu dengan gerakan dramatis, ia melemparkan amplop itu di meja kerja Arjuna, tepat di hadapannya. Amplop itu mendarat dengan bunyi plak yang memecah keheningan ruangan.
"Lihat saja sendiri," Nadine bersandar di sofa, menyilangkan kakinya, menikmati ekspresi wajah Arjuna yang mulai berubah.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Arjuna meraih amplop itu. Ia membukanya, dan mengeluarkan beberapa lembar foto serta selembar kertas bertuliskan sesuatu.
Foto-foto itu... foto-foto itu menampilkan wajah seorang gadis. Wajah yang ia kenali, meskipun kini tampak lebih kurus, dengan mata yang lebih cekung, dan ekspresi yang lelah. Rambutnya sedikit acak-acakan, pakaiannya sederhana. Gadis itu, Risa, tampak keluar dari sebuah klinik kesehatan sederhana di area kumuh. Di salah satu foto, ia terlihat memegangi perutnya yang terlihat sedikit membesar, seperti sedang melindungi sesuatu. Ada juga foto lain yang menunjukkan Risa di sebuah toko kelontong di pasar tradisional. Kertas yang menyertainya adalah salinan hasil tes laboratorium.
Mata Arjuna membaca setiap kata di kertas itu. Positif. Usia kehamilan 3 bulan.
Darah Arjuna berdesir. Rasanya seperti ada tangan dingin yang mencengkeram jantungnya. Gadis itu... dia hamil. Hamil anak siapa? Tidak mungkin... tidak mungkin anaknya. Ia sudah sangat berhati-hati. Tapi wajah Risa, kini lebih kurus, tampak menggenggam perut kecilnya-gambar itu tak bisa bohong.
Amarahnya meledak. Bukan marah pada Risa, melainkan pada dirinya sendiri, pada situasi ini, dan terutama pada Nadine yang seenaknya memata-matainya. "Siapa yang memata-matai aku?!" geramnya, suaranya menggelegar, memenuhi ruangan. Meja kantornya bergetar karena hantaman tangannya. "Ini semua jebakan, 'kan?! Ini semua ulah Revan!" tuduhnya, langsung berpikir bahwa ini adalah bagian dari rencana licik Revan untuk menghancurkannya.
Nadine tersenyum puas. Ia berhasil memancing amarah Arjuna. "Oh, kau selalu saja menyalahkan Revan. Tapi kali ini, aku rasa ini murni kecerobohanmu, Kakakku sayang." Ia bangkit dari sofa, berjalan mendekat ke meja Arjuna, dan menatap dingin ke arah kakaknya. "Siapapun dia, Kakakku, kau harus segera bersihkan namamu. Sebelum media tahu... atau Ayah tahu."
Kata-kata terakhir Nadine bagai petir di siang bolong. Ayah. Ayah mereka, Tuan Dirgantara, adalah seorang pria tua yang sangat menjunjung tinggi nama baik dan kehormatan keluarga. Skandal seperti ini bisa menghancurkan reputasi Aksara Group, dan yang lebih penting, menghancurkan kepercayaan Ayah pada Arjuna. Posisi Arjuna sebagai CEO bisa terancam. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa ia biarkan terjadi.
Arjuna menatap foto-foto di tangannya. Gadis itu, Risa. Hamil. Anak siapa? Jeda waktu tiga bulan... itu sangat mungkin anak dari malam itu. Rasa bersalah yang selama ini ia tekan kembali menyeruak, lebih kuat dari sebelumnya. Bagaimana ia bisa seceroboh ini? Bagaimana ia bisa membiarkan ini terjadi?
"Dari mana kau dapat semua ini?" tanya Arjuna, suaranya rendah dan penuh ancaman.
"Dari informanku, tentu saja," jawab Nadine santai. "Aku punya mata di mana-mana. Dan aku tahu segalanya. Jadi, apa rencanamu, Kakak? Menyingkirkan gadis itu? Atau... kau akan mengakui anak haram itu? Aku bertaruh Ayah tidak akan suka berita ini."
Arjuna mengepalkan tangannya. Ia ingin mencekik Nadine. Namun ia tahu, ia tidak bisa bertindak impulsif. Ini adalah krisis. Krisis yang bisa menghancurkan segalanya.
"Keluar," perintah Arjuna dingin, menunjuk pintu.
Nadine tersenyum mengejek. "Baiklah, baiklah. Tapi ingat, waktu terus berjalan. Dan berita buruk punya sayap. Semakin lama kau menunda, semakin sulit untuk menutupinya." Ia berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan Arjuna sendirian dengan tumpukan foto dan hasil tes yang menghantuinya.
Ruangan itu terasa pengap. Arjuna berdiri, berjalan ke jendela besar, menatap cakrawala Jakarta yang dihiasi gedung-gedung miliknya. Ia adalah penguasa kota ini, namun kini, ia merasa tak berdaya menghadapi konsekuensi dari satu malam yang penuh kesalahan.
Bagaimana ini bisa terjadi? Ia selalu menganggap dirinya rasional, terkendali, dan kebal dari drama pribadi. Ia selalu fokus pada bisnis, pada angka, pada keuntungan. Wanita adalah gangguan, dan ia selalu menghindari ikatan emosional. Tapi sekarang, ada seorang wanita yang ia tiduri dalam kondisi tidak sadar, dan ia mungkin hamil anaknya.
Otaknya bekerja cepat, mencari solusi. Menyingkirkan Risa dan bayinya? Itu adalah pilihan yang paling logis secara bisnis. Bisa ia berikan uang, menyuruhnya pergi jauh, dan memastikan semua jejak terhapus. Reputasinya aman. Masa depannya sebagai CEO Aksara Group terjamin.
Namun, saat bayangan wajah Risa kembali terlintas, terutama tatapan polos dan ketakutannya, Arjuna merasakan keraguan. Apakah ia sekejam itu? Apakah ia bisa tidur tenang setelah menghancurkan hidup seorang gadis dan bayi tak berdosa hanya demi mempertahankan citranya?
Ia teringat kata-kata Ayahnya, "Seorang pemimpin sejati tidak hanya bertanggung jawab atas keberhasilan, tetapi juga atas setiap konsekuensi dari tindakannya."
Ini adalah jebakan. Ini jelas ulah Revan, atau mungkin Nadine sendiri, yang ingin mempermalukannya dan merebut posisinya. Tapi Risa... apakah Risa hanya pion dalam permainan mereka? Atau ia benar-benar korban yang tak bersalah? Dan bayi itu... bayi itu tidak punya dosa.
Arjuna memejamkan mata, mengusap pelipisnya. Ia harus bertindak cepat. Informasi ini bisa bocor kapan saja. Jika media mengetahui, atau yang lebih buruk, Ayah tahu sebelum ia bisa mengendalikan situasi, maka semua yang ia bangun selama ini bisa hancur dalam sekejap.
Ia harus menemukan Risa. Ia harus mencari tahu kebenaran. Dan ia harus memutuskan: apakah ia akan menjadi pria tanpa hati yang mengorbankan segalanya demi reputasi, ataukah ia akan menghadapi konsekuensi dari tindakannya, dan mencoba memperbaiki kekacauan yang telah ia ciptakan?
Pertarungan batin yang hebat dimulai di dalam diri Arjuna. Antara logika bisnis yang kejam dan bisikan hati nurani yang samar. Antara keinginan untuk melindungi dirinya dan kewajiban untuk bertanggung jawab. Badai baru saja dimulai, dan Arjuna tahu, ia harus bersiap menghadapinya, apa pun risikonya.