Jakarta. Nama itu terdengar seperti sihir di telinga Risa, janji akan awal yang baru, tempat di mana kepingan masa lalu yang hilang mungkin bisa ditemukan. Dengan ransel usang di punggung dan hati penuh debar, Risa melangkah keluar dari Stasiun Pasar Senen. Udara ibu kota terasa lebih panas dan lebih padat dari yang ia bayangkan, namun semangatnya tak surut. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat selembar foto buram dari panti asuhan-potret sepasang suami istri dengan senyum samar yang mungkin adalah orang tua kandungnya. Di saku bajunya, terlipat rapi secarik surat tua yang menyebutkan sebuah alamat di sudut Jakarta Selatan. Itulah satu-satunya petunjuk yang ia miliki, satu-satunya benang merah menuju akar dirinya.
Sudah dua puluh tahun Risa hidup tanpa pernah mengenal wajah kedua orang tuanya. Dibesarkan di panti asuhan sederhana di kaki Gunung Salak, ia tumbuh menjadi gadis desa yang lugu, namun memiliki tekad sekuat baja. Cita-citanya sederhana: menemukan keluarganya, lalu bekerja keras agar bisa hidup mandiri dan membalas budi pada Bu Retno, pengasuh panti yang sudah seperti ibunya. Kini, impian itu terasa begitu dekat.
"Risa!"
Sebuah suara melengking memecah keramaian. Risa menoleh, dan senyum lebar langsung mengembang di bibirnya saat melihat sosok Maya melambai-lambai di antara kerumunan. Maya, sahabatnya sejak kecil, tetangga di desa, yang setahun lalu sudah lebih dulu merantau ke Jakarta. Maya terlihat jauh lebih modis dengan celana jins ketat, blus modern, dan riasan tebal di wajahnya. Ada aura kota yang memancar darinya, sesuatu yang membuat Risa merasa sedikit minder dengan kemeja katun lusuh dan sandal jepitnya.
"Maya!" Risa berseru gembira, bergegas menghampiri. Mereka berpelukan erat, tawa Risa pecah dalam pelukan hangat Maya. Aroma parfum Maya yang kuat menyeruak, menusuk hidung Risa, sedikit berbeda dengan wangi bunga melati yang biasa ia hirup di desanya.
"Astaga, Risa! Akhirnya sampai juga! Gimana perjalananmu? Capek banget, ya?" tanya Maya dengan nada ceria yang Risa rindukan.
Risa mengangguk, melepaskan pelukan. "Lumayan, May. Tapi senang banget bisa ketemu kamu. Kamu apa kabar? Kelihatan sukses banget, loh!" pujinya tulus, mengamati penampilan Maya yang begitu berbeda.
Maya terkekeh, mengibaskan tangannya. "Ah, biasa aja kali. Jakarta memang begini, Ris. Harus pintar-pintar cari celah." Matanya berbinar, sorotnya sedikit sulit diartikan oleh Risa. "Yuk, kita langsung ke tempat kosmu aja. Pasti capek banget kan habis naik bus seharian?"
Risa mengangguk setuju. Ia menyerahkan tas ranselnya yang berat pada Maya. Maya dengan sigap mengambilnya, seolah sudah terbiasa membawa barang berat. Mereka melangkah beriringan keluar dari stasiun, menembus lautan manusia dan hiruk pikuk klakson kendaraan. Jakarta terasa begitu asing dan mendebarkan. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi, seolah menusuk awan, dan lalu lintas tak pernah berhenti bergerak. Risa terkesima, matanya tak henti-hentinya menatap sekeliling.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan taksi online-yang juga pengalaman pertama bagi Risa-mereka tiba di sebuah area yang tampak lebih ramai dan modern. Lampu-lampu kelap-kelip dari gedung-gedung tinggi membius mata Risa.
"Apa ini tempat kosnya, May?" tanya Risa polos, menatap sebuah bangunan tinggi dengan fasad kaca yang memantulkan cahaya lampu kota, dihiasi tulisan-tulisan neon yang menyala terang. Suara musik dentuman keras samar-samar terdengar dari dalamnya. Jauh berbeda dari bayangannya tentang kos-kosan sederhana seperti di sinetron.
Maya tersenyum miring, senyum yang entah mengapa membuat Risa sedikit tidak nyaman. Ada sesuatu yang Risa tidak mengerti dari senyum itu. "Iya, Ris. Tapi sebelum itu, kita makan dulu, ya? Ada bos yang mau kenalan. Sekalian bantu kamu cari kerja." Nada suara Maya terdengar meyakinkan, penuh persahabatan, sehingga Risa tak sedikit pun menaruh curiga. Tawaran makan dan bantuan mencari kerja adalah tawaran yang tak bisa ia tolak. Ia memang sangat membutuhkan pekerjaan, secepatnya.
Naif dan lelah, Risa menuruti.
Mereka tidak pergi ke warung makan sederhana seperti yang Risa bayangkan. Maya justru membawanya masuk ke dalam bangunan itu. Semakin masuk, suara musik semakin menggelegar, lampu-lampu sorot berwarna-warni berputar liar, menyapu setiap sudut ruangan. Bau alkohol dan asap rokok tebal menusuk hidung Risa, membuat kepalanya sedikit pusing. Ini bukan tempat makan, pikir Risa. Ini adalah klub malam mewah.
Risa mulai merasa tidak nyaman. Ia menarik lengan Maya. "May, ini bukan tempat makan, kan? Ini tempat apa?" suaranya sedikit bergetar, khawatir.
Maya menoleh, tersenyum menenangkan. "Sstt, Risa. Jangan berisik. Ini memang klub, tapi di sini juga ada restorannya kok. Ini tempat keren, Ris. Bos aku sering makan di sini." Maya setengah menyeret Risa melewati kerumunan orang-orang yang menari dan berteriak, menuju ke sebuah area yang sedikit tersembunyi.
Mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan VIP yang kedap suara. Begitu pintu terbuka, Risa disambut pemandangan yang membuatnya terkesiap. Asap rokok mengepul tebal, memenuhi ruangan. Beberapa pria berjas mahal tertawa terbahak-bahak, sebagian lagi sibuk dengan ponsel mereka. Di tengah ruangan, ada meja panjang penuh dengan botol-botol minuman berwarna-warni dan gelas-gelas kosong.
"Nah, ini dia Risa!" Maya berseru riang. "Bos, kenalin ini Risa, teman lamaku dari kampung. Dia lagi cari kerja di Jakarta."
Seorang pria gemuk dengan kumis lebat yang duduk di ujung meja melambaikan tangannya. "Oh, ini toh Risa yang kamu ceritakan? Cantik juga ya," katanya, menatap Risa dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan yang membuat Risa merinding. Pria itu menyeringai, menampilkan gigi-gigi yang agak kuning. "Ayo, Risa, duduk di sini. Jangan sungkan. Minum dulu." Ia menggeser segelas minuman berwarna merah ke arah Risa.
Risa ragu-ragu. Ia tidak pernah minum alkohol seumur hidupnya. "Maaf, Pak, saya tidak minum," katanya pelan.
"Ah, jangan begitu! Sekali-kali saja, untuk perkenalan. Anggap saja ini minuman selamat datang di Jakarta," desak pria itu dengan nada yang tak bisa dibantah.
Maya menepuk bahu Risa, memberi isyarat agar ia menurut. "Ayo, Ris. Nggak apa-apa, sedikit saja. Biar lebih akrab."
Risa yang naif dan tak ingin mengecewakan, akhirnya meraih gelas itu dan menyesap sedikit. Rasanya pahit dan membakar tenggorokan, namun ada sensasi hangat yang menyebar di tubuhnya. Satu teguk, lalu teguk kedua, dan ketiga. Entah mengapa, ia merasa lebih rileks. Percakapan di sekitarnya mulai terdengar kurang jelas, dan kepalanya terasa ringan, seperti melayang.
Seorang pria lain menuangkan minuman lagi untuknya. Risa tidak menolak. Ia hanya ingin merasa nyaman, ingin diterima, dan ingin segera mendapatkan pekerjaan agar bisa memulai hidup barunya. Maya sesekali menemaninya minum, namun Risa melihat Maya minum dengan lebih berhati-hati, tidak seperti dirinya yang tanpa sadar sudah menghabiskan beberapa gelas.
Waktu berlalu tanpa Risa sadari. Ruangan itu terasa semakin panas, semakin bising. Tawa miring para pria berjas mahal terdengar seperti dengungan aneh. Matanya mulai berkunang-kunang, dan ia merasa mual. Pria gemuk itu mendekat, mencoba merangkulnya. Risa mencoba menghindar, namun tubuhnya terasa lemas, tak bertenaga.
"Pak, saya... saya pusing..." gumam Risa, mencoba berdiri namun kakinya terasa seperti jeli.
Senyum pria itu semakin lebar. "Ah, Risa, kamu ini lucu sekali. Ayo, biar Bapak antar ke tempat yang lebih nyaman."
Risa panik. Ia menatap Maya, berharap sahabatnya akan menolong. Namun Maya hanya tersenyum samar, dan di matanya Risa melihat sesuatu yang dingin, sesuatu yang asing. Ada kilatan rasa bersalah? Atau justru kepuasan? Risa tidak bisa lagi membedakan. Kesadarannya menipis, penglihatannya mengabur. Ia merasa dunia berputar, dan tubuhnya nyaris ambruk-
Seorang pria datang seperti bayangan, tinggi dan gelap. Pakaiannya rapi, jas hitamnya pas di tubuh atletisnya. Wajahnya tampan, namun rahangnya tampak mengeras, dan matanya sekelam malam, memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. Arjuna.
Arjuna baru saja tiba di klub itu, dipaksa oleh saudara tirinya, Revan. Revan tahu betul Arjuna paling membenci tempat-tempat seperti ini. Dia tahu Arjuna benci dengan kegaduhan, benci dengan aroma alkohol yang menyengat, benci dengan wanita-wanita yang mengejar uang. Revan sengaja menjebaknya, ingin menciptakan skandal yang bisa menjatuhkan reputasi Arjuna di perusahaan warisan keluarga.
"Arjuna, ke sini!" Revan melambai dari kejauhan, dengan senyum licik di bibirnya. Di sampingnya, beberapa wanita muda tertawa genit, dan salah satunya mengenakan gaun merah mencolok yang sengaja Revan pilih untuk "kencan" kakaknya.
Arjuna mendesah. Ia benci permainan kotor Revan. Ia melangkah malas, matanya menyapu sekeliling ruangan VIP yang penuh sesak. Dan kemudian, matanya terpaku pada seorang gadis. Rambutnya tergerai acak, wajahnya pucat pasi, dan matanya memancarkan ketakutan yang jelas. Gadis itu terhuyung, nyaris jatuh ke pelukan pria gemuk berhidung belang. Ada sesuatu dalam tatapan gadis itu yang memancing insting pelindung dalam diri Arjuna. Ia melihat kepolosan yang dikotori, kerapuhan yang dieksploitasi.
Tanpa berpikir panjang, Arjuna melangkah cepat. Ia mengabaikan panggilan Revan, mengabaikan wanita bergaun merah yang kini tersenyum padanya.
"Minggir," suara Arjuna dalam dan dingin, membuat pria gemuk itu terkesiap.
"Eh, Anda siapa?" Pria gemuk itu menatap Arjuna dengan sebal, terganggu.
Arjuna tidak menjawab. Ia menarik lengan Risa dengan kasar, hampir membuatnya terhuyung. "Kau ikut aku," perintahnya, suaranya tak terbantahkan.
Risa, dalam keadaan setengah sadar, tak mampu melawan. Ia hanya merasa tangan yang dingin itu mencengkeram lengannya, menariknya keluar dari ruangan berasap itu, menjauh dari tawa miring dan tatapan cabul. Samar-samar ia mendengar suara Maya berteriak, "Arjuna! Dia temanku! Mau kau bawa ke mana dia?" Tapi suara Maya terdengar seperti desiran angin di telinganya.
Arjuna menyeret Risa keluar dari klub, menembus keramaian yang memekakkan telinga. Ia tidak tahu siapa gadis ini, mengapa ia bisa berada di sini, atau apa perannya dalam rencana busuk Revan. Yang ia tahu, ia harus menjauhkan gadis itu dari keramaian, dari intrik kotor yang sedang terjadi. Mungkin gadis ini sengaja dipersiapkan Revan untuk menjebaknya, mungkin juga tidak.
Mereka tiba di lobi hotel mewah yang terhubung dengan klub itu. Arjuna meminta kunci kamar dari resepsionis, yang langsung disiapkan dengan sigap oleh staf yang mengenali dirinya. Ia menarik Risa masuk ke dalam lift, lalu mendorongnya masuk ke dalam kamar hotel yang luas dan mewah.
Risa ambruk di sofa empuk, kepalanya berdenyut tak karuan. Bau alkohol dan parfum murahan dari klub masih melekat kuat di hidungnya. Ia merasa begitu lemah, begitu tak berdaya. Ia membuka mata sedikit, melihat Arjuna berdiri di depannya, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dingin, marah, namun ada sedikit kilatan kepedulian di sana.
"Siapa yang menyuruhmu masuk ke ruangan itu?" tanya Arjuna dengan nada curiga, suaranya menusuk dalam keheningan kamar.
Risa berusaha fokus, namun kata-kata itu terasa seperti gema. "Aku... aku cuma diajak temanku..." jawab Risa lirih, tubuhnya gemetar kedinginan dan ketakutan. Ia mencoba menjelaskan, namun lidahnya terasa kelu. Maya? Maya yang melakukannya? Mengapa?
Tatapan Arjuna menyipit, tajam seperti elang. Ia tidak percaya begitu saja. Wajah gadis ini memang terlihat polos, tapi ia sudah terlalu sering melihat kepura-puraan di dunia malam. "Kau wanita panggilan, ya?" tuduhnya, nadanya dipenuhi penghinaan. Ia sudah sering melihat taktik seperti ini. Gadis-gadis lugu yang berpura-pura polos untuk menjerat pria kaya.
Tamparan verbal itu menghantam keras. Kata-kata itu seperti pisau dingin yang menusuk tepat ke ulu hati Risa. Wanita panggilan? Ia? Risa ingin berteriak, ingin membantah, ingin menjelaskan bahwa ia sama sekali tidak seperti itu. Ia gadis baik-baik, ia hanya ingin mencari orang tuanya dan bekerja. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Penghinaan itu terlalu berat untuk ditanggung.
"Bukan... bukan seperti itu..." isaknya, suaranya nyaris tak terdengar.
Namun Arjuna sudah tidak peduli. Ia sudah terlalu lelah dengan permainan Revan dan segala drama di sekitarnya. Otaknya dibanjiri amarah, dan sedikit alkohol yang sempat ia minum membuatnya kehilangan kendali. Ia ingin mengakhiri malam ini secepat mungkin, tanpa peduli konsekuensinya. Ia hanya ingin semua ini berakhir.
Malam itu, dalam kabut emosi dan alkohol, keduanya menghabiskan malam yang tidak mereka inginkan-dan tidak pernah mereka lupakan. Sebuah malam yang diawali dengan penipuan, berlanjut dengan kesalahpahaman yang menyakitkan, dan berakhir dengan konsekuensi yang akan mengubah hidup mereka selamanya. Jakarta yang awalnya adalah gerbang harapan bagi Risa, kini menjelma menjadi neraka yang menelan kepolosan dan mimpinya, meninggalkan luka yang mungkin tak akan pernah sembuh. Dan bagi Arjuna, malam itu adalah awal dari badai yang akan mengguncang pondasi hidupnya yang teratur dan sempurna.
Pagi itu, Risa terbangun bukan oleh hangatnya mentari desa yang menyusup lewat celah bambu, melainkan oleh bias cahaya Jakarta yang menembus tirai tebal. Kepalanya berdenyut hebat, dan seluruh tubuhnya terasa remuk redam. Ada kekosongan yang menganga di sampingnya, di ranjang king size yang terlalu besar untuknya. Udara dingin dari pendingin ruangan menyengat kulitnya yang terbuka, dan aroma aneh yang melekat di seprai putih mengingatkannya pada malam yang terasa seperti mimpi buruk.
Ia membuka mata sepenuhnya, menatap langit-langit kamar hotel mewah yang asing. Ingatan tentang malam kemarin berputar seperti film rusak di benaknya: musik menggelegar, tawa pria-pria aneh, minuman pahit yang menyesatkan, dan kemudian... Arjuna. Pria dengan mata sekelam malam itu. Wajahnya samar, namun sentuhannya, tarikan kasarnya, dan tuduhan pedas yang dilontarkannya masih terngiang jelas.
Arjuna sudah pergi. Tak ada jejak, tak ada pesan. Hanya keheningan yang memekakkan telinga, dan sisa luka yang menganga di hatinya. Ranjang itu rapi, seolah tidak pernah ada yang memakainya. Hanya selimut yang sedikit berantakan dan bantal yang penyok yang menjadi saksi bisu. Ia mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa begitu berat. Tenggorokannya kering, dan rasa mual samar mulai menyeruak.
Risa meraba-raba saku celananya, mencari ponselnya. Kosong. Tas ranselnya tergeletak di lantai, barang-barangnya berserakan. Kartu identitas, uang tunai, dan ponselnya masih ada di sana, syukurlah. Ia mengambil ponselnya, memeriksa. Tidak ada panggilan tak terjawab dari Maya, tidak ada pesan.
Seketika, ia teringat Maya. Sahabatnya. Yang menjebaknya ke tempat mengerikan itu. Yang melihatnya ditarik pergi oleh Arjuna tanpa berusaha menghentikan. Mengapa Maya melakukan ini? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya, menuntut jawaban yang tak kunjung datang.
Dengan langkah gontai, Risa masuk ke kamar mandi. Cermin memantulkan pantulan dirinya yang tampak asing. Rambut acak-acakan, mata sembab, dan wajah pucat pasi. Ia membasuh wajahnya berulang kali, berharap air dingin itu bisa menghapus semua kenangan buruk malam itu. Namun, memori tentang sentuhan asing, bisikan samar, dan rasa sakit yang tak terlukiskan, masih melekat erat. Air mata kembali menetes, membasahi pipinya. Ia merasa kotor, tercemar, dan sangat, sangat sendiri.
Setelah berpakaian seadanya dengan baju yang sama seperti kemarin, Risa memberanikan diri keluar dari kamar hotel. Lobi hotel tampak sepi di pagi hari. Ia berjalan cepat, menghindari kontak mata dengan staf hotel, merasa malu dan ingin segera menghilang. Begitu tiba di luar, ia mencari taksi dan menyebutkan alamat panti asuhan tempat ia dibesarkan di Bogor. Ia hanya ingin pulang, ingin memeluk Bu Retno, ingin melupakan Jakarta dan mimpi buruknya.
Namun, saat ia sampai di depan gerbang panti asuhan, hatinya mencelos. Gerbang itu terkunci rapat, dan papan bertuliskan "Panti Asuhan Kasih Bunda" sudah usang dan berdebu. Beberapa tetangga yang ia temui di sana mengatakan bahwa panti itu sudah ditutup setahun yang lalu, karena masalah dana. Bu Retno? Tidak ada yang tahu persis ke mana ia pergi. Kabarnya, ia kembali ke kampung halamannya di Jawa Tengah.
Dunia Risa runtuh. Satu-satunya tempat yang ia sebut rumah, satu-satunya orang yang ia anggap keluarga, kini lenyap. Ia benar-benar sendirian di dunia ini. Kembali ke Jakarta? Tidak. Kembali ke desa? Untuk apa? Ia tidak punya siapa-siapa lagi di sana.
Dengan hati hancur, Risa kembali ke Jakarta. Ia naik bus ekonomi, menatap kosong pemandangan di luar. Di dalam benaknya, ia terus mencoba mencari penjelasan untuk apa yang Maya lakukan padanya. Apakah ini bagian dari jebakan? Apa yang Maya dapatkan dari ini semua? Dan siapa sebenarnya Maya sekarang?
Ia mencoba menghubungi Maya, namun nomornya tidak aktif. Ia mendatangi alamat kos Maya yang pernah ia tahu, namun penghuni kos baru mengatakan Maya sudah pindah seminggu yang lalu tanpa meninggalkan jejak. Seminggu kemudian, Maya menghilang. Jejak Maya lenyap seperti ditelan bumi. Risa kini benar-benar sendirian di kota yang kejam ini, tanpa arah, tanpa tujuan, dan tanpa siapa-siapa.
Uangnya habis. Tabungannya yang sedikit, yang ia kumpulkan dari upah buruh serabutan di desa, menipis dengan cepat untuk biaya transportasi, makan, dan beberapa malam di penginapan murah. Ia harus segera mencari pekerjaan.
Risa menghabiskan beberapa hari berkeliaran di Jakarta, mencari pekerjaan apa saja. Ia melamar di toko-toko kecil, restoran, bahkan mencoba menjadi asisten rumah tangga. Namun, dengan pengalamannya yang minim dan tidak adanya kenalan, ia terus-menerus ditolak. Hingga suatu sore, dalam keputusasaan, ia menemukan sebuah lowongan di pasar tradisional. Seorang pemilik toko sembako kecil membutuhkan penjaga toko paruh waktu. Gajinya kecil, hanya cukup untuk makan sehari-hari dan sewa kamar kecil nan kumuh di gang sempit. Tapi Risa tidak punya pilihan. Ia harus bertahan hidup.
Ia mulai bekerja sebagai penjaga toko kecil di pasar. Jam kerjanya panjang, dari subuh hingga malam. Ia harus mengangkat karung beras, menimbang gula, melayani pembeli yang tak ramah, dan membersihkan toko. Tubuhnya seringkali pegal linu, dan aroma bawang serta rempah-rempah menempel di pakaiannya. Ia tidur di kamar kosnya yang pengap, terkadang ditemani suara tikus di dinding. Hidupnya jauh dari bayangan indah tentang Jakarta yang ia impikan. Setiap malam, ia merindukan Bu Retno, merindukan kehangatan panti asuhan, dan merindukan kesederhanaan desanya. Sesekali, bayangan mata kelam Arjuna terlintas, bersamaan dengan rasa perih yang masih membekas. Ia mencoba mengubur dalam-dalam ingatan tentang malam itu, berpura-pura itu tidak pernah terjadi.
Waktu berlalu. Bulan-bulan berganti, membawa serta perubahan yang tak terduga. Risa sudah menjalani rutinitasnya sebagai penjaga toko selama hampir tiga bulan. Ia mulai sedikit terbiasa dengan kerasnya hidup di ibu kota. Fisiknya memang lelah, namun hatinya perlahan mulai pulih dari luka pengkhianatan dan kehampaan.
Namun, ada sesuatu yang berbeda.
Awalnya, ia mengira hanya kelelahan biasa. Tubuhnya sering merasa lesu, perutnya mual setiap pagi. Ia mencoba meminum ramuan herbal dari toko jamu di pasar, berharap bisa meredakan. Namun mual itu tak kunjung hilang. Bahkan, semakin parah. Terkadang, ia tak bisa menahan diri untuk muntah di belakang toko, membuat pemilik toko heran dan bertanya-tanya.
"Risa, kamu sakit, Nak? Wajahmu pucat sekali," ujar Bu Siti, pemilik toko, suatu pagi. "Istirahat saja dulu kalau memang tidak enak badan."
Risa hanya tersenyum samar, menggeleng. "Tidak apa-apa, Bu. Cuma masuk angin biasa."
Tetapi di dalam hatinya, ia tahu ada yang tidak beres. Ia mulai memperhatikan hal-hal lain. Perutnya terasa sedikit membesar, meskipun ia mencoba menepisnya dengan berpikir itu hanya karena ia makan terlalu banyak nasi akhir-akhir ini. Pakaiannya terasa sedikit sempit, dan ia sering merasa haus luar biasa.
Dan kemudian, keterlambatan itu tak bisa dihindari lagi. Sudah lewat tiga minggu dari jadwal menstruasinya. Ia selalu teratur. Selalu. Jantungnya mulai berdetak kencang. Pikiran-pikiran yang menakutkan mulai menyeruak, pikiran yang selama ini ia coba singkirkan jauh-jauh. Malam itu. Malam mengerikan bersama Arjuna.
Rasa takut mencekiknya. Ia tidak mungkin... tidak mungkin...
Dengan tangan gemetar, ia pergi ke apotek kecil di sudut pasar. Ia membeli alat tes kehamilan murahan. Penjaga apotek menatapnya dengan pandangan curiga, namun Risa berusaha terlihat tenang. Ia bergegas kembali ke kamar kosnya.
Malam itu, setelah bekerja dan memastikan Bu Siti sudah pulang, Risa mengunci pintu kamar sempitnya. Ia duduk di lantai kamar mandi yang dingin, hatinya berdebar tak karuan. Dengan tangan gemetar, ia membuka kemasan alat tes itu, membaca instruksi dengan mata nanar. Keringat dingin membasahi pelipisnya.
Ia mengikuti instruksi. Menunggu. Setiap detik terasa seperti berjam-jam. Jantungnya berdebar-debar di dadanya, seolah ingin melompat keluar. Nafasnya tercekat.
Lalu, perlahan tapi pasti, garis kedua muncul. Merah terang, jelas, tak terbantahkan.
"Tidak mungkin... tidak mungkin...," gumam Risa, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia menatap nanar dua garis merah di alat tes kehamilan itu. Dunia seolah berhenti berputar. Udara terasa tipis, dan tembok-tembok kamar kosnya seolah bergerak mendekat, hendak meremukkannya.
Alat tes itu jatuh dari genggamannya, tergeletak begitu saja di lantai. Air matanya yang sudah lama ia tahan, kini jatuh deras, membasahi pipinya. Tangisnya pecah, pilu, dan menggema di kamar sempit itu. Ia memeluk lututnya, meringkuk di lantai, merasakan beban dunia menimpanya.
Seorang bayi. Bayi dari malam itu. Bayi dari seorang pria yang bahkan tidak ia kenal namanya. Pria yang menuduhnya wanita panggilan.
Keputusasaan melanda. Ia hanyalah gadis desa miskin yang malang, seorang diri di kota besar ini. Bagaimana ia bisa membesarkan seorang bayi? Bagaimana ia bisa menghadapi ini semua? Siapa yang akan membantunya? Siapa yang akan ia minta pertolongan?
Di tengah isak tangisnya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya, nama yang bahkan ia tak yakin bagaimana mengejanya, nama yang ia dengar samar-samar di malam terkutuk itu.
"Arjuna... kau bahkan tidak tahu namaku!"
Suaranya pecah, dipenuhi kepedihan dan amarah. Arjuna. Pria yang bertanggung jawab atas kehancuran hidupnya. Pria yang telah meninggalkannya begitu saja, tanpa sepatah kata pun. Ia bahkan tidak tahu nama lengkapnya, atau bagaimana mencarinya. Pria itu mungkin sudah melupakan kejadian malam itu, sementara ia harus menanggung konsekuensinya sendirian.
Risa tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Mimpi menemukan orang tua kandungnya, harapan untuk masa depan yang cerah, semua itu kini terasa begitu jauh, tertutup oleh awan kelam sebuah skandal tak terduga. Ia kini bukan hanya harus berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk sebuah kehidupan baru yang tak berdosa, yang tumbuh di dalam rahimnya. Pertanyaan-pertanyaan tentang masa depan menyerbu benaknya, tanpa satu pun jawaban. Apa yang akan ia lakukan? Bagaimana ia akan bertahan?
Arjuna menjalani hidupnya dengan presisi yang sempurna, seperti roda gigi jam Swiss yang mahal dan tanpa cela. Setiap pagi, ia bangun pukul lima, berlari sejauh sepuluh kilometer, sarapan sehat yang disiapkan koki pribadinya, dan kemudian menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor. Ia adalah CEO Aksara Group, sebuah konglomerat properti raksasa yang tentakel bisnisnya membentang luas di seluruh Asia Tenggara. Gedung-gedung pencakar langit, kompleks perumahan mewah, pusat perbelanjaan megah-semuanya adalah bukti nyata dari kerajaan yang ia pimpin.
Wajahnya yang tampan dan dingin, dengan garis rahang tajam dan mata elang yang penuh perhitungan, terpampang di sampul majalah bisnis terkemuka. Artikel-artikel memujinya, dielu-elukan sebagai pengusaha muda paling sukses di generasinya, inovator yang visioner, dan pewaris takhta bisnis yang tak terbantahkan. Ia memiliki segalanya: kekayaan, kekuasaan, dan reputasi yang tak tersentuh. Hidupnya adalah gambaran kesempurnaan, sebuah mahakarya yang dibangun dari kerja keras, kecerdasan, dan sedikit keberuntungan.
Namun, di balik fasad yang kokoh itu, ada sebuah celah, sebuah bayangan yang kadang muncul tak terduga, mengganggu ketenangan malamnya. Malam itu. Malam di klub mewah, aroma alkohol yang memuakkan, dan wajah pucat seorang gadis lugu yang ia tuduh sebagai wanita panggilan. Tatapan polos gadis itu, yang dipenuhi ketakutan dan penghinaan, masih jelas terekam di benaknya. Tangis yang tertahan yang ia dengar samar-samar saat ia meninggalkannya sendirian di kamar hotel. Dan... rasa bersalah yang ia sembunyikan rapat-rapat, terkubur di bawah lapisan kesibukan dan ambisi.
Arjuna benci mengakui hal itu, bahkan pada dirinya sendiri. Ia benci kelemahan. Ia benci rasa penyesalan. Ia adalah pria yang selalu memegang kendali, dan malam itu, ia merasa kehilangan kendali. Terjebak dalam jebakan Revan, dan kemudian melakukan kesalahan yang fatal. Ia sudah mencoba melupakannya. Menganggapnya sebagai insiden tak berarti, noda kecil dalam riwayat hidupnya yang bersih. Ia telah membayar mahal biaya kamar hotel, memastikan tidak ada jejak yang tersisa. Ia berasumsi, gadis itu adalah bagian dari skenario Revan, sengaja disiapkan untuk menjebaknya. Dengan cara berpikir seperti itu, lebih mudah baginya untuk mengusir rasa bersalah.
Tapi terkadang, saat ia sendirian di apartemen mewahnya yang hening, atau saat ia menatap kosong ke luar jendela kantornya di lantai teratas gedung Aksara, bayangan Risa-nama yang ia dengar samar-samar dari Maya-muncul kembali. Ia ingat bagaimana gadis itu gemetar, bagaimana ia mencoba membela diri. Keraguan kecil menyusup: apakah ia benar-benar wanita panggilan? Atau ia hanya korban lain dari kekejaman dunia ini, seperti dirinya yang nyaris menjadi korban jebakan Revan? Arjuna selalu menepisnya, menganggapnya hanya bunga tidur yang tak berarti.
Ia terlalu sibuk untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Agenda hariannya padat merayap: rapat dewan direksi, negosiasi dengan investor asing, peninjauan proyek-proyek besar, dan strategi ekspansi bisnis. Dunia korporat adalah medan perang, dan ia harus selalu siap siaga, mengenakan baju zirah paling kuatnya. Kelemahan sekecil apa pun bisa menjadi celah bagi musuh-musuhnya-terutama Revan, saudara tiri sekaligus saingan terbesarnya.
Hingga suatu hari, badai itu datang. Tidak dalam bentuk gemuruh guntur, melainkan dalam bisikan licik yang mematikan.
Pintu kantor Arjuna terbuka tanpa ketukan, dan sosok Nadine, adik tirinya, muncul di ambang pintu. Nadine, dengan rambut pirang yang baru diwarnai, bibir merah menyala, dan gaun desainer ketat, selalu tampak seperti ular cantik yang siap menerkam. Ia putri dari pernikahan kedua ayah mereka, manja, sombong, dan sama liciknya dengan Revan. Arjuna dan Nadine tidak pernah akur. Ada persaingan dingin di antara mereka, terutama karena Nadine juga haus akan kekuasaan di Aksara Group, meskipun ia tidak memiliki bakat bisnis sedikit pun.
Nadine menyeringai. Senyumnya seperti racun, membuat bulu kuduk Arjuna merinding. "Sibuk sekali, Tuan CEO?" sindirnya, melangkah masuk dan menjatuhkan tubuhnya dengan anggun di sofa kulit mahal di hadapan meja kerja Arjuna.
Arjuna mendesah. "Ada perlu apa, Nadine? Aku sedang sibuk."
"Oh, aku yakin kau akan punya waktu untuk yang satu ini," katanya, suaranya dipenuhi intonasi yang terlalu ceria. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tas tangan mewahnya. "Kau masih ingat wanita desa yang kau tiduri malam itu?"
Jantung Arjuna seolah berhenti berdetak. Matanya menajam. Ia menatap Nadine, mencari tanda-tanda kebohongan. Namun, seringai di wajah Nadine semakin lebar, menunjukkan bahwa ia tahu sesuatu.
"Apa maksudmu?" tanya Arjuna, suaranya tenang, namun ada kilatan bahaya di matanya. Ia tidak suka ada yang mengungkit-ungkit malam itu. Terutama Nadine, yang pasti akan menggunakan informasi itu untuk menjatuhkannya.
Nadine terkekeh kecil, lalu dengan gerakan dramatis, ia melemparkan amplop itu di meja kerja Arjuna, tepat di hadapannya. Amplop itu mendarat dengan bunyi plak yang memecah keheningan ruangan.
"Lihat saja sendiri," Nadine bersandar di sofa, menyilangkan kakinya, menikmati ekspresi wajah Arjuna yang mulai berubah.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Arjuna meraih amplop itu. Ia membukanya, dan mengeluarkan beberapa lembar foto serta selembar kertas bertuliskan sesuatu.
Foto-foto itu... foto-foto itu menampilkan wajah seorang gadis. Wajah yang ia kenali, meskipun kini tampak lebih kurus, dengan mata yang lebih cekung, dan ekspresi yang lelah. Rambutnya sedikit acak-acakan, pakaiannya sederhana. Gadis itu, Risa, tampak keluar dari sebuah klinik kesehatan sederhana di area kumuh. Di salah satu foto, ia terlihat memegangi perutnya yang terlihat sedikit membesar, seperti sedang melindungi sesuatu. Ada juga foto lain yang menunjukkan Risa di sebuah toko kelontong di pasar tradisional. Kertas yang menyertainya adalah salinan hasil tes laboratorium.
Mata Arjuna membaca setiap kata di kertas itu. Positif. Usia kehamilan 3 bulan.
Darah Arjuna berdesir. Rasanya seperti ada tangan dingin yang mencengkeram jantungnya. Gadis itu... dia hamil. Hamil anak siapa? Tidak mungkin... tidak mungkin anaknya. Ia sudah sangat berhati-hati. Tapi wajah Risa, kini lebih kurus, tampak menggenggam perut kecilnya-gambar itu tak bisa bohong.
Amarahnya meledak. Bukan marah pada Risa, melainkan pada dirinya sendiri, pada situasi ini, dan terutama pada Nadine yang seenaknya memata-matainya. "Siapa yang memata-matai aku?!" geramnya, suaranya menggelegar, memenuhi ruangan. Meja kantornya bergetar karena hantaman tangannya. "Ini semua jebakan, 'kan?! Ini semua ulah Revan!" tuduhnya, langsung berpikir bahwa ini adalah bagian dari rencana licik Revan untuk menghancurkannya.
Nadine tersenyum puas. Ia berhasil memancing amarah Arjuna. "Oh, kau selalu saja menyalahkan Revan. Tapi kali ini, aku rasa ini murni kecerobohanmu, Kakakku sayang." Ia bangkit dari sofa, berjalan mendekat ke meja Arjuna, dan menatap dingin ke arah kakaknya. "Siapapun dia, Kakakku, kau harus segera bersihkan namamu. Sebelum media tahu... atau Ayah tahu."
Kata-kata terakhir Nadine bagai petir di siang bolong. Ayah. Ayah mereka, Tuan Dirgantara, adalah seorang pria tua yang sangat menjunjung tinggi nama baik dan kehormatan keluarga. Skandal seperti ini bisa menghancurkan reputasi Aksara Group, dan yang lebih penting, menghancurkan kepercayaan Ayah pada Arjuna. Posisi Arjuna sebagai CEO bisa terancam. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa ia biarkan terjadi.
Arjuna menatap foto-foto di tangannya. Gadis itu, Risa. Hamil. Anak siapa? Jeda waktu tiga bulan... itu sangat mungkin anak dari malam itu. Rasa bersalah yang selama ini ia tekan kembali menyeruak, lebih kuat dari sebelumnya. Bagaimana ia bisa seceroboh ini? Bagaimana ia bisa membiarkan ini terjadi?
"Dari mana kau dapat semua ini?" tanya Arjuna, suaranya rendah dan penuh ancaman.
"Dari informanku, tentu saja," jawab Nadine santai. "Aku punya mata di mana-mana. Dan aku tahu segalanya. Jadi, apa rencanamu, Kakak? Menyingkirkan gadis itu? Atau... kau akan mengakui anak haram itu? Aku bertaruh Ayah tidak akan suka berita ini."
Arjuna mengepalkan tangannya. Ia ingin mencekik Nadine. Namun ia tahu, ia tidak bisa bertindak impulsif. Ini adalah krisis. Krisis yang bisa menghancurkan segalanya.
"Keluar," perintah Arjuna dingin, menunjuk pintu.
Nadine tersenyum mengejek. "Baiklah, baiklah. Tapi ingat, waktu terus berjalan. Dan berita buruk punya sayap. Semakin lama kau menunda, semakin sulit untuk menutupinya." Ia berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan Arjuna sendirian dengan tumpukan foto dan hasil tes yang menghantuinya.
Ruangan itu terasa pengap. Arjuna berdiri, berjalan ke jendela besar, menatap cakrawala Jakarta yang dihiasi gedung-gedung miliknya. Ia adalah penguasa kota ini, namun kini, ia merasa tak berdaya menghadapi konsekuensi dari satu malam yang penuh kesalahan.
Bagaimana ini bisa terjadi? Ia selalu menganggap dirinya rasional, terkendali, dan kebal dari drama pribadi. Ia selalu fokus pada bisnis, pada angka, pada keuntungan. Wanita adalah gangguan, dan ia selalu menghindari ikatan emosional. Tapi sekarang, ada seorang wanita yang ia tiduri dalam kondisi tidak sadar, dan ia mungkin hamil anaknya.
Otaknya bekerja cepat, mencari solusi. Menyingkirkan Risa dan bayinya? Itu adalah pilihan yang paling logis secara bisnis. Bisa ia berikan uang, menyuruhnya pergi jauh, dan memastikan semua jejak terhapus. Reputasinya aman. Masa depannya sebagai CEO Aksara Group terjamin.
Namun, saat bayangan wajah Risa kembali terlintas, terutama tatapan polos dan ketakutannya, Arjuna merasakan keraguan. Apakah ia sekejam itu? Apakah ia bisa tidur tenang setelah menghancurkan hidup seorang gadis dan bayi tak berdosa hanya demi mempertahankan citranya?
Ia teringat kata-kata Ayahnya, "Seorang pemimpin sejati tidak hanya bertanggung jawab atas keberhasilan, tetapi juga atas setiap konsekuensi dari tindakannya."
Ini adalah jebakan. Ini jelas ulah Revan, atau mungkin Nadine sendiri, yang ingin mempermalukannya dan merebut posisinya. Tapi Risa... apakah Risa hanya pion dalam permainan mereka? Atau ia benar-benar korban yang tak bersalah? Dan bayi itu... bayi itu tidak punya dosa.
Arjuna memejamkan mata, mengusap pelipisnya. Ia harus bertindak cepat. Informasi ini bisa bocor kapan saja. Jika media mengetahui, atau yang lebih buruk, Ayah tahu sebelum ia bisa mengendalikan situasi, maka semua yang ia bangun selama ini bisa hancur dalam sekejap.
Ia harus menemukan Risa. Ia harus mencari tahu kebenaran. Dan ia harus memutuskan: apakah ia akan menjadi pria tanpa hati yang mengorbankan segalanya demi reputasi, ataukah ia akan menghadapi konsekuensi dari tindakannya, dan mencoba memperbaiki kekacauan yang telah ia ciptakan?
Pertarungan batin yang hebat dimulai di dalam diri Arjuna. Antara logika bisnis yang kejam dan bisikan hati nurani yang samar. Antara keinginan untuk melindungi dirinya dan kewajiban untuk bertanggung jawab. Badai baru saja dimulai, dan Arjuna tahu, ia harus bersiap menghadapinya, apa pun risikonya.