Bab 1

Di pagi hari dengan cuaca yang tampak begitu cerah terlihat seorang Queen Azelea wanita cantik dengan pakaian kerjanya yang rapi serta rambut yang diikat pony tail tampak membangunkan seorang anak kecil dengan sangat lembut dan penuh perhatian.

"Lilly sayang ayo bangun ini sudah pagi sayang."suara lembut wanita itu mengalun indah di telinga bocah berumur sepuluh tahun itu yang masih tampak terlelap nyaman hingga dia mengulangi lagi memanggil namanya agar anak itu bangun dari tidurnya."Lilly,ayo bangun nanti kamu terlambat masuk sekolahnya sayang."

"Iya mama,lima menit lagi ya."Lilly Alexandra nama anak kecil itu terlihat masih menutup mata walaupun terbangun dan menanggapi ucapan ibunya.

"Tidak ada lima menit kamu sudah hampir terlambat Lilly!"Queen mulai bertindak tegas agar anaknya itu segera bangun."Apalagi belum mandi,belum sarapan.Ayo bangun Lilly."

Lilly terlihat mulai terganggu tapi matanya tetap masih lengket dan tidak ingin terbuka lebih tepatnya dia masih sangat ingin menikmati tidurnya.

"Iya mama."dan Lilly terlihat masih asyik tidur dengan memeluk boneka beruang berukuran sedang dengan sangat nyaman.

Queen terlihat mulai habis kesabaran dengan sikap anaknya yang selalu sulit untuk bangun pagi dan suka tidur itu dengan sedikit agak kasar dia menarik bonek beruang yang Lilly jadikan sebagai guling hingga anak itu bangun dengan setengah sadar."Lilly,ayo bangun ini sudah siang!"

Cuma dengan cara ampuh itu Lilly langsung bangun dan merebut kembali boneka beruangnya yang dipegang oleh sang ibu dan mengembalikannya ke tempat tidur dengan menatanya begitu rapi,Lilly sangat menyukai dan menyanyangi boneka beruang berwarna cream itu.

"Iya,iya mama aku bangun,merepotkan"ucapnya sambil menguap serta dengan setengah mengantuk.

"Lilly."panggil Queen dengan nada dinginnya agar anaknya itu berbicara lebih sopan.

Mendengar nada suara ibunya yang berubah membuat rasa kantuk Lilly menghilang seketika dan langsung menatap ibunya serta mengulas senyum cantiknya."Maafkan aku Mama sayang,aku janji akan berbicara baik."

Lalu anaknya segera berlari masuk ke dalam kamar mandi dan Queen yang tersenyum miris melihat perilaku anaknya yang selalu mengingatkanya pada laki-laki yang dulu pernah sangat dia cintai.

Lilly sangat suka tidur,menggambar,bermain skateboard,memainkan harmonica dia sungguh gadis yang tomboy dan semua kesukaannya sama persis seperti sang ayah dan membuat perasaan Queen hancur berkeping-keping saat mengingat bagaimana pria itu menolak kehadiran buah hati mereka dengan mentah-mentah.

Dia bahkan juga mengatakan jika dia bukanlah ayahnya ataupun pria yang berhak untuk bertanggung jawab dia justru balik menuduh Queen yang mungkin juga bermain dengan pria lain selain dirinya di belakangnya dan dengan gila pria itu menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya jika masih ingin melanjutkan hubungan mereka.

Sakit tentu saja rasanya sangat sakit saat pria yang dia cintainya setulus hati justru menuduhnya begitu kejam,Queen hanya mengulas senyum penuh kekecewaan lalu berbohong dengan menyetujuhi permintaannya tapi hari itu juga Queen memilih untuk pergi karena untuk apa hubungan seperti itu dipertahankan jika salah satu pasangan sudah menyerah dan tidak mau bertanggung jawab akan perbuatan dosa mereka.

Tanpa Queen sadari air matanya turun ketika mengingat sekelebat bayangan masa lalunya yang menyakitkan dan di masa kini dia selalu membuat anaknya sedih serta menangis karena selalu diejek tidak memiliki ayah meskipun anaknya tidak terlalu peduli dan justru mengajaknya teman-temannya untuk bertengkar agar tidak menghinanya Queen tahu anaknya sangat merindukan sosok seorang ayah.

Tapi apa yang dapat Queen perbuat jika ayahnya saja orang pertama yang menolak kehadirannya,bagaimana Queen dapat mempertemukan mereka.

Bagi Queen,Lilly adalah cahayanya dia bukanlah dosa yang Queen sesali karena Queen dan pria itu membuatnya dengan penuh cinta dan kasih sayang bukan hanya sekedar nafsu ataupun keinginan gairah yang dipaksakan,Lilly benar-benar malaikat yang sangat Queen sayangi di dunia.

"Mama,kenapa menangis?"tanya Lilly yang terkejut serta khawatir saat keluar dari kamar mandi dan menemukan ibunya yang menangis dalam diamnya.

"Tidak,mama tidak menangis hanya saja debu baru saja masuk ke dalam mata mama lain kali Lilly harus membersihkan kamar dan buang sampah pada tempatnya seperti kertas yang sudah tidak digunakan itu."bohong Queen dengan mengalihkan pembicaraan lalu dengan cepat menggosok matanya tanpa berani menatap mata anaknya karena jika dia melihat Lilly maka runtuh sudah pertahanannya,Queen tidak ingin menangis di depan Lilly.

"Jangan digosokkan Mama nanti akan menyebabkan iritasi pada mata Mama."Lilly mengusap pelan mata mamanya dan Queen menikmati sapuan lembut tangan anaknya di matanya membuatnya semakin menangis dan runtuhlah pertahanannya."Jangan menangis Mama,jangan pikirkan hal apapun yang membuat Mama sedih karena nantinya aku juga akan ikut sedih,aku tidak suka jika melihat Mama menangis."

Lalu Lilly memeluk tubuh mamanya dengan sangat erat dan Queen tersenyum haru dengan membalas pelukan anaknya."Tidak mama tidak akan menangis itu janji mama pada Lilly,'kan."

Lalu Lilly melepaskan pelukannya dan mengulas senyum cantiknya dan menghibur mamanya."Seperti itu baru mamaku yang cantik."

"Terima kasih sayang,kamu juga cantik,kamu malaikat mama, Lilly."ucap Queen dengan senyum bahagianya.

Dia sungguh sangat bersyukur memiliki Lilly,Queen tidak pernah sedikitpun menganggap kehadiran Lilly sebagai musibah ataupun sesuatu yang harus disesali baginya Lilly adalah malaikat serta cahayanya untuk membawanya hidup kembali pada jalan kebenaran.

"Iya mama tidak akan menangis,maafkan mama ya."ucap Queen dengan tersenyum lalu memeluk anaknya dengan erat."Mama sangat menyanyangimu."

"Em,ngomong-ngomong Mama bisa lepaskan pelukkanmu Mama membuatku sesak napas."ucap Lilly pura-pura sesak nafas.

"Baiklah,maafkan mama ayo pakai seragamnya dan setelah itu kita sarapan bersama."ucap Queen dengan tersenyum lembut dan melihat anaknya yang masih memakai piyama meski sudah selesai mandi dan sangat harum.

"Baik boss."Lilly memberi hormat layaknya seorang tentara dan membuat Queen tersenyum.

Selesai bersiap-siap dengan seragam sekolahnya yang berwarna biru muda lalu Lilly segera keluar dari kamar untuk sarapan pagi bersama mamanya.

Selesai makan mereka segera berangkat bersama sebelum pergi bekerja Queen selalu meluangkan waktunya untuk mengantar Lilly ke sekolah.

"Sekolah yang benar,jangan nakal dan bertengkar lagi mama tidak ingin kamu kenapa-napa sayang."ucap Queen dengan lembut menasehati anaknya.

"Aku hanya membela diri,mereka sangat menyebalkan Mama andai saja aku memiliki ayah aku juga tidak mungkin akan bertengkar dengan mereka yang mengejekku."ucap Lilly dengan kesal.

Queen terlihat sedih dan mengusap lembut pipi gembil anaknya."Maafkan mama ya."

Lilly memegang tangan mamanya dan menciumnya lalu tersenyum kecil."Tidak,Mama tidak salah aku baik-baik saja."

Lilly dulu pernah bertanya di mana ayahnya,apa dia punya ayah dan bagaimana rupanya dan Queen selalu menjawab dia punya ayah,rupanya sangat tampan dan dia ada di mana Queen selalu mengatakan dia sudah pergi terlalu jauh hingga dia sendiri tidak tahu di mana dia berada.

Lilly tidak pernah mau membalas tentang ayahnya lagi saat dia melihat mamanya selalu menangis dengan mata penuh kesedihan,Lilly tidak mau membuat mamanya sedih dan memikirkan banyak hal.

Queen tersenyum dan memeluk anaknya dengan erat."Terima kasih sayang."

Lalu Lilly tersenyum ke arah ibunya dengan begitu ceria lalu berpamitan pada Queen untuk masuk ke dalam sekolah saat akan memasuki gerbang pintu sekolah ada suara yang memanggil nama anaknya.

"Tunggu aku Lilly!"ucap seorang anak laki-laki dengan berlari kecil menghampiri mereka berdua.

"Alpha jangan lari nanti jatuh."ucap seorang wanita cantik dengan rambut panjangnya.

"Aku tidak akan jatuh Mom aku anak yang kuat,selamat pagi Lilly kelinci dan aunty Queen yang cantik."ucap Alpha bocah laki-laki itu dengan menggoda.

Queen tersenyum kecil dan membalas salamnya sedangkan Lilly merengut sebal."Jangan panggil aku Lilly Kelinci,Lilly saja Alpha menyebalkan."

Alpha tertawa keras."Jika kau tidak suka berlari dan melompat-lompat serta mengajak banyak anak laki-laki bertengkar maka aku akan memanggilmu Lilly saja."

"Alpha!"kesal Lilly lalu mengadu pada ibu Alpha dengan nada manjanya yang menggemaskan."Aunty Hana lihat Alpha mengejekku."

Wanita bernama Hana itu hanya tersenyum kecil lalu menasehati anaknya."Alpha minta maaf tidak boleh seperti itu sayang."

Ucapan ibunya membuat Alpha tersenyum lembut."Baiklah,aku minta maaf Lilly aku hanya bercanda."

Alpha terlihat tulus membuat Lilly tersenyum senang."Baiklah aku maafkan."

"Ya sudah ayo kita masuk ke dalam nanti kita terlambat."ajak Alpha dan Lilly berpamitan pada kedua wanita itu.

"Mama dan Aunty aku masuk dulu ya dengan Alpha."ucap Lilly dengan tersenyum ceria,Queen dan Hana hanya tersenyum lalu mereka berdua segera masuk ke dalam.

"Oh ya nanti tunggu di sini jangan pergi kemana pun Alpha,Lilly kalian mengerti."ucap Hana dengan pesannya.

"Oke Mom."ucap Alpha dengan tersenyum ceria.

"Tentu Aunty."ucap Lilly dengan senyumannya.

"Lilly nanti jika dengan aunty Hana jangan nakal ya dan turuti ucapannya."pesan Queen.

"Iya Mama."ucap Lilly dengan patuh lalu tangannya ditarik Alpha untuk masuk ke dalam sekolah karena bel berbunyi nyaring dan kedua anak itu segera berlari kecil.

"Hana,sekali lagi aku minta maaf jika sering merepotkanmu dengan menitipkan Lilly di rumahmu setiap hari maafkan aku."sesal Queen dengan penuh rasa bersalah karena setiap harinya sering menitipkan Lilly di rumahnya.

Hana tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya pelan."Apa yang kau bicarakan? Aku sama sekali tidak merasa direpotkan aku menganggap Lilly seperti anakku sendiri,dia anak yang baik,pintar dan penurut justru aku senang dengan kehadirannya,Alpha jadi punya teman bermain di rumah."

"Terima kasih Hana,terima kasih banyak."ucap Queen dengan senyumnya senang.

"Sama-sama Queen lagipula kau sahabat baikku dan juga Hans jadi jangan sungkan."ucap Hana dengan tersenyum,sungguh Hana berbicara jujur dia sama sekali tidak merasa direpotkan.

Hana tidak tahu siapa pria yang dengan tega melukai Queen sahabatnya bahkan tidak mau bertanggung jawab dan meninggalkannya begitu saja."Oh ya cepat berangkat sepertinya kau terlambat lihat jamnya sekarang.

Hana terlihat menunjukkan jam tangannya saat tadi dia tidak sengaja melihatnya dan Queen terlihat terkejut lalu buru-buru berpamitan dan pergi.

"Kau benar Hana,sepertinya aku harus berangkat kerja sekarang aku pergi dulu."ucap Queen berpamitan dan membuat Hana tersenyum.

"Hati-hati di jalan Queen."teriak Hana.

TbC

Maafkan typo dan lainnya.

Bab 2

Di sebuah bandara kedatangan internasional terlihat seorang pria berwajah tampan dengan rahang tegas,tatapan mata yang tajam,penuh dengan aura dominan dan kharismatik serta balutan pakaian kerja semi formal yang mahal tampak membalut tubuh kekar dan sempurnanya.

Banyak pasang mata yang mengagumi dirinya tapi pria itu  tetap berjalan penuh aura keangkuhan dan tidak peduli dengan semua tatapan itu karena dia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian.

'Aku pulang saat aku kembali dan aku berharap dapat bertemu dengannya lagi.'batinnya berbicara.

Lalu dia terlihat masuk ke dalam mobil jemputannya yang sedari tadi sudah menunggu kedatangannya.

Beberapa menit berkendara akhirnya dia sampai juga di sebuah rumah besar dengan halaman luas dan banyaknya pelayan yang berbaris berjejer rapi menyambut kedatangannya dengan menunduk hormat lalu dia memberikan kopernya pada salah satu pelayannya.

"Aku pulang,Mommy,Daddy anak kesayanganmu pulang!"teriak pria itu seperti anak kecil dan tidak tahu malu.

"Kau berisik Sean Alexanders kami juga tahu kau pulang tidak perlu berteriak-teriak seperti anak kecil memalukan saja,telinga kakak sakit mendengarnya."ucap seorang wanita cantik dengan asyik menggambar di buku sketsa yang dia bawa.

Pria bernaman Sean Alexanders itu tidak peduli dengan omelan wanita itu dia justru memeluk kakak sulungnya dengan begitu erat dan bermanja-manja."kau tidak merindukanku,Kakakku Stela Alexanders?"

"Tidak,jangan seperti ini kau menjijikkan bagaimana jika para wanitamu di luar sana tahu jika pria yang begitu mereka kagumi sangat manja dan menyebalkan."ucapnya dengan sebal dan mendorong tubuh Sean agar menjauh darinya tapi Sean justru mempererat pelukannya.

"Woh,adik nakalku sudah pulang ternyata."ucap seorang pria dengan nada ceria dan dia terlihat senang bahkan memeluk Sean dengan erat.

"Kakak Samku memang yang terbaik."ucap Sean dengan senang dan mereka berpelukan lucu,Stella menatap jijik.

Lalu tiba-tiba saja Sean merasa kepalanya ditimpuk oleh sesuatu dan membuatnya mengaduh lalu menoleh siapa yang telah berani menimpuknya.

"Ingat pulang juga kau anak nakal!"geram seorang wanita paruh baya itu namun dia masih terlihat cantik diusianya yang sudah tidak muda lagi.

"Mommy,aku merindukanmu."Sean melepaskan pelukannya pada Samuel Alexanders kakak nomer duanya dan memeluk ibunya tapi ibunya justru berusaha melepaskan pelukannya.

"Lepaskan mama,mama marah denganmu Sean."ucap sang ibu dengan ekspresi kesal,sedih namun juga senang semua bercampur aduk.

"Mama kenapa marah? Seharusnya mama senang aku sudah pulang."ucapnya dengan manja.

"Oh jadi masih ingat pulang,dasar anak kurang ajar setelah memutuskan untuk pergi tiba-tiba ke luar negeri lalu jarang memberi kabar dan tidak pulang dan baru pulang sekarang,bagaimana mommy tidak marah dan kesal denganmu?"ucap ibunya dengan suara seraknya dan seperti ingin menangis.

"Maafkan aku Mommy,maafkan aku."ucap Sean dengan penuh sesal.

"Mommy maafkan asal kau tidak pergi lagi."ucap ibunya dengan nada manja dan penuh kebahagian.

"Baiklah aku janji Mommy."ucapnya dengan tersenyum dan mencium pipi ibunya hingga ibunya terlihat tersenyum bahagia dan melupakan rasa kesalnya.

"Sean,akhirnya kau pulang nak mommymu sangat merindukanmu"ucap pria paruh baya yang tak lain ayahnya.

"Daddy,aku juga merindukanmu maaf tidak pernah pulang dan pergi begitu saja."sesal Sean.

"Tidak apa tapi minta maaflah pada mommya dia yang paling tersakiti."ucap daddynya dengan penuh perhatian.

"Maafkan aku,mommy,daddy dan kakak."ucap Sean dengan tulus.

"Kami maafkan ayo sekarang kita makan,kau pasti sangat merindukan masakan mommy."ucap Stella dengan tersenyum dan sangat santai lalu merangkul adik bungsunya itu lalu Samuel juga merangkulnya.

Rein Alexanders dan Sarah Alexanders sangat bahagia melihat bagaimana anaknya kembali dan berkumpul bersama.

Saat Sean pulang ke rumah setelah lima tahun pergi ke luar negeri untuk bekerja padahal Rein rasa tidak ada masalah di perusahaan tapi entah mengapa anak bungsunya itu sangat ngotot untuk pergi bekerja menangani perusahaannya yang berada di luar ngeri.

Sangat aneh,Rein dan Sarah sempat berpikir anaknya seperti sedang menyembunyikan sesuatu dan menghadapai masalah sulit tapi sayang mereka tidak tahu apa itu,Sean sangat menutupinya dan sama sekali tidak mau bercerita.

Sebelum pergi ke luar negeri Sean terlihat sangat frustasi Sarah sebagai seorang ibu juga sering melihat Sean menangis di malam hari dan sering keluar masuk club lalu mabuk dan bermain dengan banyak wanita namun juga sangat menyibukkan diri dengan kuliah serta bekerja hingga terkadang membuat Stella dan Samuel sangat kesal namun juga khawatir melihat keadaan adik bungsunya yang terlihat sangat kacau.

Semuanya sangat membingungkan dan membuat keluarga Sean bertanya-tanya tentang perubahan sikap Sean yang berubah sangat dratis sepuluh tahun lalu padahal sama sekali tidak ada masalah yang serius.

Keluarga Alexanders memang cukup terkenal di kalangan pembisnis sebagai salah satu keluarga kaya dan sukses,yang bergerak dibidang property namun ketiga anaknya sukses dengan bidang yang mereka semua sukai.

Stella Alexanders salah satu designer muda yang terkenal dan semua designnya yang selalu di sukai oleh banyak orang,memiliki senyum yang cantik namun sangat sulit untuk didekati.

Samuel Alexanders salah satu chef terkenal serta aktor populer yang disukai oleh para gadis, terkenal sangat ramah dan baik hati.

Dan terakhir Sean Alexanders si bungsu dan seorang ceo yang bergerak dibidang propety dan meneruskan perusahaan ayahnya seorang Ceo serta seorang model yang memiliki banyak cerita hati serta sensasi yang sangat menarik untuk diulik.

Sekarang di ruang makan terlihat keluarga itu makan siang dengan penuh kebahagian.Selesai makan siang Sean izin untuk pergi ke kamarnya dan beristirahat sebentar.

Di dalam kamarnya terlihat Sean yang menghembuskan napas kasarnya lalu menidurkan dirinya di tempat tidur dengan pikirannya yang melalang jauh ke dalam sepuluh tahun yang lalu.

Membayangkan peristiwa yang sangat sulit untuk dia lupakan serta bayangan wajah cantik seorang wanita yang selama ini sama sekali tidak bisa untuk dia lupakan.

Lima tahun pertama dia sangat frustasi dan merasa sangat bersalah hingga rasanya dia ingin menyiksa dirinya sendiri dan lima tahun terakhir dia berusaha melupakan wanita itu tapi semua usahanya sia-sia karena dia masih sangat ingat bagaimana wajahnya,senyumnya dan ucapan terakhir mereka sebelum memutuskan hubungan mereka.

Nama wanita itu tetap terukir indah di hatinya tidak mudah untuk digantikan dengan nama orang lain,seorang wanita yang dapat menarik perhatian dan dunianya

Meskipun di awal dia hanya ingin sekedar bermain dan menggodanya saja tidak pernah sedikpun terbesit untuk mencintai teman kuliahnya yang jauh dari standar tipe wanita yang disukainya,dia seorang kutu buku namun memiliki hati yang baik.

Dan dengan sikap wanita itu yang selalu menganggap godaannya sebagai angin lalu semakin membuatnya tertantang untuk menaklukkannya hingga dia sendiri yang terjebak dalam perasaannya.

Semua yang awalnya hanya sekedar bermain-main berubah menjadi serius,dia benar-benar menunjukkan kesungguhannya dengan tulus hingga akhirnya dia dapat meluluhkan hati wanita itu dan mereka berdua mendeklarasikan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih.

Hingga Sean melakukan sebuah kesalahan dengan menodai wanita itu meskipun semua yang mereka lakukan atas dasar suka sama suka sama sekali tidak ada pemaksaan,hubungan mereka berjalan baik dan dipenuhi banyak cinta.

Dan hasil dari perbuatan mereka wanita itu hamil dan Sean sangat terkejut dia masih belum siap untuk menjadi ayah,dia tidak ingin terikat dengan pernikahan,dia masih ingin bersenang-senang dan tidak mau bertanggung jawab terlihat cukup brengsek dan pengecut tapi itulah dirinya.

Entah apa yang dia pikirkan dulu Sean bahkan menuduh wanita itu juga bermain dengan orang lain dan tidak percaya dengan bayi yang berada di kandungannya adalah anaknya dan Sean dengan gilanya juga meminta untuk menggugurkan saja janin itu jika masih ingin melanjutkan hubungan mereka.

Tanpa dia duga wanita itu setuju dengan tersenyum penuh rasa kecewa.

Hingga sehari setelah pembicaraan serius mereka tiba-tiba saja dia sudah tidak bisa menemukan wanita itu berada di sekitar lingkungan kampus,dia yang juga menghilang dari kehidupan Sean.

Semuanya berubah dan terbesit rasa bersalah yang menyentuh hati terdasarnya hingga dia kembali mancari keberadaan wanita itu untuk meminta maaf dan memulai semua dari awal,dia juga akan bertanggung jawab akan semua yang telah dia lakukan,menerima bayi dalam kandungannya karena itu memang anaknya dia adalah pria pertama wanita itu tapi semuanya terlambat wanita itu terlanjur kecewa hingga menghilang dari hidupnya.

Sean sangat frustasi dan menyesali segalanya berbagai cara dia lakukan untuk melupakan semua kenangan pahit itu tapi dirinya justru merasakan luka karena perasaan bersalahnya karena ingin menenangkan diri Sean memutuskan untuk pergi ke luar negeri dan menutup semua akses di negera kelahirannya mencoba untuk melupakannya dengan bekerja dan mengencani banyak wanita sesuka hatinya lalu mematahkan hati mereka begitu saja.

Ternyata cara itu tidak cukup berhasil hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang karena merindukan keluarganya dan keluarganya yang tidak henti-hentinya menelphonya untuk segera pulang.

Setelah memikirkan semua kenangan pahit masa lalunya tanpa Sean sadari dia sudah jatuh terlelap dalam alam mimpinya dan matanya yang meneteskan air matanya.

Dia sama sekali tidak berubah dan sering menangis menyesali semuanya jika mengingat peristiwa itu.

TbC

Maafkan typo dan lainnya.

Bab 3

Siang ini di sebuah cafe terlihat Sean yang duduk dengan dua pria tampan yang tersenyum senang menyambut kedatangannya.

"Lama tidak bertemu denganmu kawanku."sambut seorang pria tampan dengan begitu senang dia adalah Evan Ivanders salah satu sahabatnya dan pria terplayboy diantara mereka.

"Iya sudah cukup lama dan di mana Hans,dia tidak ingin menyambut kepulanganku?"tanya Sean dengan tersenyum.

"Dia sedang menjemput anaknya kau tahu bukan dia sudah menjadi seorang ayah begitu cepat daripada kita bertiga,dia sangat bodoh memilih menikah terlebih dulu dan tidak mau menikmati masa bersenang-senangnya."ucap seorang pria tampan yang lainnya dengan terkekeh dan dia Adam Anderson pria dengan senyum memikat namun cukup menyebalkan dengan kata-katanya yang setajam katana.

"Mau bagaimana lagi itu pilihan hidupnya."ucap Sean dengan lirih dan memainkan gelasnya yang berisi kopi karena betapa bodoh dirinya yang dulu menolak kehadiran buah hatinya dan lebih memilih bersenang-senang seandainya saja dia tetap mempertahankannya dia pasti sekarang juga sudah akan menjadi ayah.

Lalu tak lama terlihat seorang pria tampan yang datang dengan menggandeng tangan dua anak kecil disisi kanan dan kirinya menghampiri meja mereka.

"Maaf aku sedikit terlambat kawan karena aku harus menjemput dua malaikat kesayanganku dulu."ucap Hans dengan senyumnya.

"Hai Alpha,Lilly sudah makan?"tanya Evan dengan lembut dan tersenyum tampan seperti biasanya.

"Belum Uncle."jawab Alpha dengan senyum kecilnya lalu mereka duduk dan bergabung.

"Hallo Lilly cantik dan Alpha yang tampan."sapa Adam.

"Hallo juga Uncle."sapa Lilly.

"Pesan apapun yang kalian sukai."ucap Hans dengan tersenyum dan kedua anak kecil itu sangat bahagia lalu mereka melihat menu makanan dan siap memesan.

Sedangkan Sean dirinya hanya menatap gadis kecil itu begitu intens terlalu terkejut saat melihat wajah cantik gadis kecil itu karena dia seperti melihat cerminan dirinya saat waktu kecil ada di diri gadis itu.

"Oh ya Sean kenalkan dia Alpha anak Hans dan dia Lilly anak teman Hans."Adam mengenalkan mereka pada Sean.

"Alpha,Lilly kenalkan diri kalian dia salah satu teman daddy memang kalian tidak pernah melihatnya karena dia sangat lama berada di luar negeri dan baru sekarang pulang."ucap Hans menyuruh kedua anak itu mengenalkan diri mereka.

"Oh Uncle Sean,aku tahu bukankah dulu Daddy pernah mengenalkanku padanya? Aku masih ingat.Hallo Uncle Sean,bagaimana kabarmu?"ucap Alpha dengan senyum cerianya.

"Iya uncle juga masih ingat dengan Alpha kabar uncle baik dan kau sudah semakin besar ya."ucap Sean dengan tersenyum tipis dan dia memang sudah berkenalan dengan Alpha karena jika mereka melakukan video call bersama Hans Alpha selalu menganggu.

Lalu tatapan mata Sean menatap Lilly entah mengapa dia sangat penasaran dengan anak itu,hatinya seolah senang karena dapat bertemu dengan gadis kecil itu."Dan siapa namamu cantik?"

"Perkenalkan Uncle namaku Lilly Alexandra teman Alpha."ucap Lilly dengan sopan serta tersenyum cantik.

"Sangat menggemaskan."ucap Sean dengan mengusap lembut kepala Lilly.

Lilly memang terlihat terkejut tapi entah mengapa dia merasa nyaman dan hangat.

"Kau terlihat seperti ayahnya,Sean."ucap Adam dengan tertawa kecil melihat pemandangan baru itu,apalagi dia rasa wajah Lilly dan Sean itu sangat mirip serta bagi Adam temannya itu sangat aneh dia tidak pernah bisa dekat dengan seorang anak kecil tapi dengan Lilly sikapnya sangat berbeda.

"Apa yang kau katakan? Aku hanya gemas saja dengan Lilly wajahnya sangat cantik seperti boneka jangan berbicara seperti itu jika ayahnya mendengarnya aku bisa habis di tangannya."ucap Sean dengan tertawa.

Ucapan Sean entah mengapa membuat Lilly sedih karena untuk apa Sean takut jika dirinya saja tidak memiliki ayah yang akan peduli.

"Hanya saja wajah kalian sangat mirip satu sama lain,Lilly sangat cocok jadi anakmu jika orang lain tidak tahu mereka mungkin akan menganggapmu sebagai ayahnya Lilly,Sean."ucap Adam dengan tertawa kecil.

Lalu Evan dan lainnya juga mulai memperhatikan wajah Sean dan Lilly secara bergantian.

"Iya memang sangat mirip hanya saja Lilly dalam versi perempuanmu."ucap Evan yang setuju dengan ucapan Adam.

"Hm,mungkin hanya kebetulan ayo kita makan,Lilly dan Alpha tidak boleh melewatkan makan siangnya jika Hana tahu aku pasti akan dicincangnya."ucap Hans dengan cepat mengalihkan pembicaraan saat makanan yang mereka pesan telah datang.

Lilly dan Alpha bersorak bahagia dan mulai menyantap makan siangnya begitupun dengan empat pria itu tapi mata Sean tidak begitu memperhatikan Lilly dia juga merasa gadis kecil itu memiliki yang senyum cantik dan sedikit mirip dengan wanitanya.

"Oh ya Uncle Sean ini sangat pintar bermain harmonica loh Lilly,dia sangat ahli memainkan berbagai alat musik."ucap Alpha memberitahu temannya dan mata Lilly terlihat berbinar lalu menatap Sean.

"Uncle sungguh sangat ahli bermain harmonica,bisa mengajariku cara bermain yang benar?"tanya Lilly dengan minatnya yang sangat tinggi dan membuat Sean tertawa kecil.

"Tentu saja jika uncle punya waktu kita bisa bermain bersama."ucap Sean dengan lembut dan Lilly bersorak bahagia.

Di malam harinya ke empat pria tampan itu memilih untuk bertemu lagi di sebuah club malam karena Sean yang meminta penyambutannya di ulang kembali karena bagainya bertemu di cafe sangat biasa meskipun dia juga senang karena bisa bertemu dengan seorang gadis kecil yang sangat menggemaskan dan menyukai hobby yang sama.

"Oh ya Sean,kenapa kau memilih untuk pergi ke luar negeri apalagi wajahmu waktu itu sangat kacau?"tanya Hans dengan penasaran.

"Iya kau seperti seseorang yang habis putus cinta saja."ucap Adam dengan tertawa dan Evan yang diam,menyimak dengan menikmati segelas minuman beralkohol.

"Iya bisa dibilang seperti itu."jawab Sean dengan menenggak minumannya.

"Sungguh kau pernah putus cinta hingga sekacau itu,aku sangat penasaran seperti apa dirinya hingga bisa membuat dirimu begitu frustasi?"tanya Evan penasaran dan sangat terkejut.

"Dia wanita yang cantik,dingin namun sangat lembut di dalam dia satu-satunya wanita yang dapat menjungkir balikkan kehidupanku."jawab Sean dengan senyum mirisnya.

"Aku tidak percaya kau pernah ditakhlukkan oleh seorang wanita lalu kenapa kalian putus?"tanya Adam dengan penasaran karena jika Sean sudah jatuh vinta kenapa hubungan itu bisa kandas."Apa dia bermain di belakangmu dengan pria lain?"

"Tidak kami putus karena diriku yang menyakitinya."ucap Sean dengan kembali meminum minumannya dengan brutal.

"Sudah hentikan jangan terlalu banyak minum nanti kau mabuk."Hans mengingatkan sahabatnya itu berhenti minum.

"Hans,kenapa kau tidak minum?"tanya Sean penasaran.

"Aku harus menghindari minuman beralkohol karena aku harus mengajarkan hal baik pada anakku dulu memang aku akui aku bukanlah orang yang baik tapi aku ingin mengajarkan banyak hal baik pada anakku agar tidak menjadi pribadi yang buruk seperti diriku dulu."jawab Hans dengan senyum hangatnya.

"Kau ayah yang baik."puji Sean dengan tertawa.

"Tentu saja itulah diriku."Hans terlihat sangat bangga.

"Ngomong-ngomong saat di luar negeri apa kau memiliki kekasih Sean?"tanya Evan dengan senyum jahilnya dan Sean tertawa kecil.

"Jangan ditanya playboy licik itu pasti memiliki banyak koleksi." kekeh Adam.

"Tentu saja tapi untuk sekarang aku sama sekali sedang tidak menjalin hubungan dengan siapapun,aku pria single."ucap Sean dengan tertawa.

TbC

Maafkan typo dan lainnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED