Seorang gadis berjalan di koridor sekolah. Dia seperti sedang kebingungan mencari sesuatu. Sekolah memang sangat sepi, hanya ada suara beberapa guru dari dalam ruang kelas, karena KBM sedang berlangsung. Tampaknya, dia seorang murid baru. Terlihat dari penampilannya yang mengenakan seragam dari sekolah lain.
Melihat ada seorang lelaki sedang berjalan jauh di depannya, ia mempercepat langkah. Namun lelaki itu malah berbalik badan mengakibatkan mereka menjadi bertabrakan.
"Sorry," ucap lelaki tersebut. Sang gadis malah berdecak.
"Murid baru?" tanya lelaki itu lagi. Gadis yang ditanya hanya mengangguk.
"Langit," sergah cowok tersebut, lalu mengulurkan tangan.
"Naya," balas cewek tadi tanpa menerima uluran tangan dari Langit.
"Ke mana?" tanya Langit.
"Ruang administrasi," jawab Naya tanpa menatap Langit.
Langit hanya membalasnya dengan, "oh."
"Anterin," pinta Naya kemudian. Langit hanya berdehem. Setelahnya mereka berjalan tanpa mengeluarkan suara.
"Udah sampe," kata Langit.
Tanpa sepatah kata, Naya masuk. Sedangkan Langit hanya menatapnya, lalu masuk ke ruang kantor guru. Jadi, ruang administrasi dan ruang kantor guru itu bersebelahan. Ruang administrasi terletak di sebelah kanan ruang kantor guru.
"Saya murid baru, Pak. Mau ngurus administrasi," jelas Naya setelah ditanya Pak Riswan tentang keperluannya datang ke sini.
"Oh, yang namanya Maya itu, ya?" tanya Pak Riswan sok tau.
"Naya," jawab Naya singkat.
"Hmm, iya iya saya salah. Wanita memang selalu benar," celetuk Pak Riswan sambil mengangguk-angguk kan kepalanya.
"Sinting," umpat Naya dalam hati.
"Oh iya. Ini, Pak, berkas yang mau dikumpulin." Naya menyodorkan map biru yang berisi berkas-berkas pendaftaran.
Pak Riswan menerimanya, Naya melepaskan genggamannya pada map. Namun Pak Riswan ikut melepaskan map itu, membuatnya jatuh dan berakhir berantakan di atas meja. Naya dengan sigap membereskan map tersebut, tetapi lagi-lagi Pak Riswan mengikuti gerakannya, sehingga tangan mereka saling bersentuhan. Otomatis Naya menarik tangannya. Sedangkan Pak Riswan tersenyum lalu mengedipkan sebelah mata ke arah Naya, kemudian membereskan map milik Naya yang berserakan diatas meja. Membuat Naya bergidik merinding.
"Pak, saya boleh keluar?" tanya Naya yang mulai risih dengan kelakuan Pak Riswan.
"Sebentar," sahut Pak Riswan.
"Nih, kamu tanda tangan di sini." Pak Riswan menunjuk sisi pojok kanan bawah kertas yang disodorkannya.
Tanpa bantahan, Naya pun melakukannya. Ternyata setelah ia amati, kertas itu berisi peraturan tata tertib yang harus ditaati oleh semua warga sekolah.
Naya menyerahkan kertas tatib yang telah ditanda tanganinya kepada Pak Riswan.
"Nah, setelah ngasih tanda tangan. Kamu ngasih tanda di sini ya," cetus Pak Riswan sambil menunjuk ke arah lehernya sendiri.
Mata Naya di buat melotot oleh kelakuan Pak Riswan tersebut. Sedangkan Pak Riswan hanya tertawa.
"Brengsek banget lo jadi guru!" emosi Naya meluap.
"Santai kali, becanda doang. Ini ada peraturan sekolah, jangan lupa nanti dibaca dan dipelajari.
Administrasinya udah diurus sama wali kamu. Untuk seragam nanti menyesuaikan yang lainnya, ya," jelas Pak Riswan panjang lebar tanpa menghiraukan amarah Naya. Naya menerima kertas yang diberikan oleh Pak Riswan dengan kasar.
"Nanti seragamnya ambil di koperasi aja sekalian atributnya. Bilang sama yang jaga, kalau seragamnya udah dibayar ke Pak Riswan." Naya berdiri setelah mendengar ocehan Pak Riswan. Membalikkan badan, ia berjalan keluar dari ruangan laknat itu.
"Mau kemana?" tanya Pak Riswan. Sontak membuat langkah Naya terhenti.
"Ke kelas lah," jawab Naya yang sudah membalikkan badannya menghadap Pak Riswan.
"Emang kamu tau kelas kamu di mana?" tanyanya sambil menaik turunkan alisnya.
Naya kicep. Memalukan. Bagaimana bisa dia melupakan fakta bahwa dirinya adalah murid baru di sini.
"Naya!" panggil seseorang dari luar ruangan yang membuat Naya menoleh ke belakang.
"Apa?" tanya Naya bingung karena tiba-tiba Langit memanggilnya.
Tanpa permisi, Langit masuk ke dalam ruangan itu, untuk menemui Naya pastinya.
"Udah?" tanyanya kepada Naya. Naya menautkan alisnya.
"Apany--" ucapannya terpotong ketika mendengar deheman.
"Eh, Pak Riswan." Langit menyapa lalu menghampiri Pak Riswan.
"Jadi gimana? Ini anak urusannya udah beres?" tanya Langit kepada Pak Riswan.
"Udah. Bawa pacar lo itu ke kelas dia," jawab Pak Riswan.
"Lah, kelasnya yang mana?" tanya Langit.
"Ya ke kelas lo lah. Dimana lagi? Kursi MIPA yang kosong kan cuma kelas lo doang," jawab Pak Riswan.
"Oh, iya. Bener juga," balas Langit lalu keluar dari ruangan tanpa menunggu balasan Pak Riswan, dan menghiraukan Naya yang berdiri mematung di tempatnya.
"Keren ya, guru bisa seakrab itu sama muridnya," pikir Naya.
Setelah sadar dari pikirannya sendiri, dia yang sudah tertinggal dari Langit langsung lari keluar ruangan.
"Laaang, tungguin gue!" teriak Naya yang tertinggal cukup jauh. Yang dipanggil berhenti. Naya pun berlari-lari kecil dan mensejajarkan langkahnya dengan Langit.
"Santai dong. Jangan ngebut," ucap Naya sambil mengatur nafasnya.
"Lo aja yang jalannya lemot. Cilik," balas Langit.
"Gue gak kecil. Lo aja yang kegedean," sahut Naya tak terima dengan ledekan Langit.
Sebenarnya Naya bingung, bagaimana bisa Langit tau julukannya waktu masih kecil. Tiba-tiba sekelebat ingatan masa lalu lewat di kepalanya. Padahal sudah lama ia menguburnya. Tapi entah kenapa ingatan itu datang lagi.
♠♠♠
"Lala! Tunggu!" aku melirik ke belakang, ternyata Anan sedang mengejarku.
Entah apa yang kupikirkan, aku semakin cepat berlari. Padahal aku melihat dia sudah sangat berkeringat.
"Lala! Tunggu aku, cilik!" teriaknya dari belakang. Aku semakin cepat berlari.
Aku mulai lelah, kulirik di belakang, Anan sudah tidak mengejarku. Aku duduk di tepi danau yang berada di taman kota. Memandang langit yang berwarna oren dengan semburat merah jambu, kupikir langit telah luntur terbakar sinar matahari terlalu lama. Sehingga yang tadi siang berwarna putih penuh dengan awan, sekarang menjadi oren kemerahan karena terbakar sinar matahari. Indah sekali suasana sore hari di kota Bandung.
"Dorrr!" aku terlonjak kaget saat ada seseorang yang menepuk pundakku sambil meneriakkan itu.
Aku menoleh, ternyata Anan. Dasar usil.
Dia duduk di sampingku. Menatapku, lalu menatap langit, kembali menatapku dan menatap langit lagi.
"Cilik, kamu ngapain?" tanyanya. Entah sejak kapan dia memanggilku cilik, padahal tubuh kami sama kecilnya. Tapi dia memanggilku cilik, dan itu sudah berlangsung lama sekali.
"Aku liat langitnya terbakar," jawabku seadanya. Dia tampak bingung.
"Mana langit terbakar?" tanya Anan dengan melihat seluruh bagian langit.
"Itu yang kaya api," jawabku dengan menunjuk arah matahari terbenam.
"Itu langit sore, Cilik," ucapnya dengan nada greget.
"Iya, tadi siang kan panas. Pas udah sore langitnya mulai terbakar matahari siang," sanggahku.
"Itu bukan terbakar, itu tanda-tanda matahari mulai terbenam, nanti langitnya ganti jadi ada bulan sama bintang. Aku lupa namanya. Nanti aku tanya ke mama. Besok kita ketemu lagi di sini, aku kasih tau," jelas Anan panjang lebar. Kemudian dia berdiri.
"Anan mau ke mana?" tanyaku.
"Pulang," jawab Anan, lalu mengulurkan tangannya.
Aku menerima uluran tangannya, dan berdiri. Kami pun berjalan bersama, bergandengan tangan dan melompat-lompat sambil bernyanyi.
Kami sangat senang, hingga kami berpisah di perempatan jalan. Aku berjalan ke arah kiri, dan dia ke kanan.
"Besok kita ketemu di tempat tadi ya! Aku bawain kue sama susu coklat kesukaanmu!" teriakku saat Anan sudah berjalan cukup jauh dariku.
Sepertinya Anan mendengar, dia mengacungkan jempolnya kepadaku tanpa menolehkan kepalanya.
**
Esok harinya, aku dengan riang berjalan ke taman kota. Tepatnya di tempat aku dan Anan melihat matahari sore. Kali ini aku membawa kue yang kubuat bersama mama dan susu coklat hangat kesukaan Anan. Meski mama tidak kenal keluarganya Anan, tapi mama sangat menyayangi Anan. Seperti menyayangiku.
Aku menunggu Anan sangat lama. Dia bilang dia akan memberitahu nama langit sore itu, tapi dia dimana?
Langit terlihat belum memerah, dia masih memancarkan sinarnya. Jadi kuputuskan untuk tetap menunggu.
Lama-lama langit mulai memerah. Seperti terbakar, tapi kata Anan itu adalah tanda-tanda matahari tenggelam dan berganti menjadi bulan.
Aku tetap menunggu Anan, sampai langit menjadi gelap. Aku tahu, ini namanya malam. Seperti kata Anan, bulan dan bintang jauh lebih bagus daripada langit sore.
Aku tetap menunggunya, aku melihat begitu banyak bintang dan satu bulan yang berbentuk bulat juga bercahaya.
Memang bagus, tapi udara malam yang sangat dingin membuatku lapar. Aku ingin memakan kue yang kubawa, tapi teringat itu untuk Anan. Jadi aku menahannya.
Aku sudah tidak kuat lagi, aku hampir pingsan sebelum aku mendengar teriakan Mama.
"Lalaa!" teriak Mama yang tidak kutahu dari mana, karena sangat gelap.
"Mamaaa!" teriakku. Sepertinya Mama mendengar.
Tak lama kemudian dia datang, lalu membawaku pulang. Sejak saat itu, aku tidak pernah bertemu Anan lagi. Setiap aku mendatangi rumahnya, selalu sepi. Aku benar-benar kesal pada Anan. Aku membencinya, apa pun yang terjadi.
♠♠♠
Tiba-tiba Langit berhenti. Naya yang sedang beradu dengan memorinya pun menabrak punggung Langit yang ada di depannya.
"Ck, tabrak terus!" sinis Langit. Naya tidak membalasnya, ia menatap Langit bingung.
"Kenapa berhenti?" tanya Naya. Tanpa menjawab, Langit memasuki ruangan. Naya berdecak, dan mengikuti Langit ke dalam ruangan itu yang ternyata ruang kelas mereka.
"Kento," panggil Naya. Kento adalah teman sebangku Naya. Baru beberapa jam saja, dia sudah tidak betah duduk dengan Kento. Pasalnya cowok itu sangat dingin, irit suara, dan tukang tidur. Tapi anehnya, dia tidak pernah ditegur gurunya ketika tertidur di dalam kelas.
"Hm," sahut Kento yang tertidur di meja. Matanya saja masih tertutup.
"Kantin, yuk!" ajak Naya yang berani ambil resiko ditolak mentah-mentah oleh Es Batu.
"Males." Sudah Naya duga, Kento akan menolak ajakannya.
"Sombong banget lo jadi orang. Udah ngerasa paling berkuasa?!" emosi Naya kembali meluap. Kento hanya menatapnya malas, kemudian kembali memejamkan matanya. Naya menggeram dibuatnya. Ia mengangkat tangannya hendak menggampar Kento. Namun sebuah tangan menahannya, ternyata tangan Langit.
"Ngapain lo?" Naya menatap tajam Langit. Tanpa berkata apa-apa, Langit menyeretnya keluar kelas tanpa memedulikan rontaan Naya. Ia membawa cewek itu ke kantin.
Mereka duduk di pojokan, karena memang hanya di sana kursi yang kosong. Terdengar banyak siswa yang bisik-bisik sambil menatap mereka berdua.
"Lang, pesenin dong!" pinta Naya.
"Pesen sendiri, manja," balas Langit.
'Allahuakbar Allahuakbar...'
Belum juga Naya membalas ucapan Langit dengan binatang yang ada di pikirannya, adzan dhuhur dari seseorang di mushola sekolah berkumandang.
"Ayo sholat," ajak Langit. Naya tidak tau harus bagaimana, karena dia sudah lama tidak sholat, jadi mungkin ia sudah lupa caranya.
"Emm, gue lagi enggak," ucap Naya.
"Oh, pantes. Jangan pergi sebelum gue balik," kata Langit lalu pergi keluar kantin.
"Sialan, belum juga pesen udah ditinggal," gerutu Naya. Akhirnya ia memutuskan untuk memesan sendiri. Belum sampai di tempat Bu Kantin yang melayani para siswa yang jajan, dia tersandung kaki seseorang dan berakhir jatuh tersungkur. Orang-orang di sekitarnya bukannya menolong malah tertawa. Saat ia akan bangkit, tiba-tiba ia diguyur teh hangat oleh seseorang. Naya pun segera bangkit.
"Ups, maafin. Aku nggak sengaja," ucap seorang cewek dengan nada suara yang dibuat-buat.
"Najis Sis, omongan lo kayak orang cupu," ledek salah satu temannya yang bernama Tasya.
"Siska mah gitu, lagi ngadepin orang cupu harus pake logat cupu juga dong. Ye gak Sis?" ucap Viola, temannya yang lain menanggapi Tasya.
"Udah cupu, miskin, belagu, hidup lagi. Sampah," timpal Ara.
Orang-orang di sana pun tertawa.
Naya yang merasa dirinya direndahkan tak bisa tinggal diam. Dia mengambil jus mangga yang ada di sebelahnya, lalu melemparkannya beserta gelasnya ke arah Siska.
Semua orang di kantin terkejut, terutama Siska, Tasya, Viola dan Ara. Untungnya gelas yang dilempar ke arah Siska tadi gelas plastik, jadi tidak akan pecah. Kalau pun pecah tidak akan terlalu sakit.
"Impas," ucap Naya akhirnya. Saat ia hendak melangkahkan kakinya keluar kantin, ia dicegah oleh Siska.
"Bangsat lo," umpat Siska.
"Woy ganti itu minuman gue," teriak Ara.
"Lo harus tanggung jawab," ucap Siska.
"Buat?" tanya Naya.
"Semuanya, lo udah numpahin jusnya Ara, yang terpenting lo udah ngotorin badan gue. Lo udah ngotorin sepatu mahal gue, lo udah ngotorin seragam gue, dan lo-" ucapan Siska terpotong oleh Naya
"Lo butuh berapa?" tanya Naya dengan ekspresi datar. Dia tahu, yang dihadapinya bukanlah levelnya, jadi dia terlalu malas untuk berdebat ataupun mengotori tangannya dengan orang dihadapannya.
"Orang miskin aja belagunya selangit," celetuk Ara.
Naya hanya memutar bola matanya malas.
"Bagi nomer rekening kalian," ucap Naya.
"Lo pikir kita bakal ngasih," balas Tasya.
"Bacot kalian," ucap Naya, lalu merogoh sesuatu dalam saku dibajunya. Ternyata sebuah beberapa lembar uang merah.
"Kalian butuh ini kan?" tanya Naya sambil mengacungkan uangnya. Lalu dia melemparkannya pada Siska.
Sekali lagi, orang-orang di kantin dibuat terkejut karena ulah Naya. Ini adalah pertama kalinya, ada orang yang berani melawan Siska CS.
"Kalo lo pada minta lebih, bilang aja gak usah pake drama," ucap Naya lalu pergi keluar dari kantin.
Ketika sampai di depan pintu, dia menabrak dada seseorang. Cowok. Naya pun langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat orang yang ditabraknya.
"Langit?" pekik Naya.
"Ke mana?" tanya Langit.
"Keluar, " jawab Naya.
"Udah makan?" tanya Langit lagi tanpa ekspresi. Menggeleng, Naya melangkahkan kakinya keluar.
"Makan dulu," cegah Langit dengan menahan lengan Naya.
"Ishh, lepasin," ucap Naya.
"Eh, Astaghfirullah. Maafin gue," ujar Langit yang imannya baru diisi.
"Minggir lo!" ketus Naya lalu berjalan meninggalkan kantin tanpa bisa dicegah Langit. Namun Langit berhasil mengejar Naya.
Sementara itu orang-orang didalam kantin tidak percaya dengan yang mereka lihat sekarang, terutama Siska cs.
"Eh, itu tadi beneran Langit?" tanya Tasya.
"Kayaknya iya deh," jawab Ara.
"Dia bener-bener Langit. Gue gak mungkin salah liat," sambung Siska.
"Sejak kapan Langit gak dingin sama cewek?" tanya Tasya.
"Sejak kenal sama Naya," jawab Viola.
"Lo kalo ngomong pikirin dulu kek perasaan sahabat lo ini," celetuk Ara sambil menepuk-nepuk pundak Siska.
"Loh kan bener. Sebelum Naya di sini, kan Langit gak pernah kaya gitu sama cewek. Jangankan nyentuh cewek, ngobrol aja gak pernah," ucap Viola.
"Stop, La!" teriak Siska.
"Lah gue salah?" balas Viola.
"Mending lo diem deh La," ucap Ara.
Viola hanya manyun. Sedangkan Siska hanya bisa menahan emosi dan berpikir bagaimana cara menyingkirkan Naya dari sekolah ini, atau lebih parahnya dari dunia ini.
♠♠♠
Ketika orang-orang di kantin sibuk membicarakan Langit dan Naya, dua orang yang dibicarakan publik itu malah bersantai-santai di taman baca depan perpustakaan. Ralat, bukan mereka berdua yang santai. Langit saat ini sibuk membersihkan rambut Naya yang tertumpahi teh hangat saat di kantin tadi.
"Nay, gue laper," keluh Langit.
"Makan," balas Naya.
"Lo gak laper apa?" tanya Langit.
"Gak," jawab Naya. Tiba-tiba perutnya berbunyi. Dia hanya bisa mengumpat dalam hati.
"Tuh, cacing lo pada demo," ledek Langit.
"Gue mager ke kantin," ucap Naya.
"Bentar, gue ke kelas dulu ambil bekal. Lo jangan kemana-mana," pamit Langit, lalu berlari menuju kelasnya.
Baru saja Langit meninggalkannya, ia dihampiri oleh seorang cowok.
"Anan," batin Naya ketika menatap mata cowok itu.
"Hai!" sapa cowok itu.
"Oh, hai," balas Naya.
"Gue Levi. Lo Naya bukan?" tanya Levi.
"Iya," jawab Naya.
"Lo ngapain di sini? Bentar lagi masuk loh," tanya Levi.
"Nungguin Langit ambil makanan," jawab Naya.
"Oh, kalo gitu ambil aja makanan gue," ucap Levi sambil menyodorkan rotinya yang baru saja ia beli.
"Ini enak dimakan gak?" tanya Naya yang meragukan pemberian Levi.
"Enak lah," jawab Levi.
"Lo makan dulu, baru gue percaya," ucap Naya.
"Ini gue makan," kata Levi lalu membuka bungkus roti itu dan memakannya secuil.
"Aman gak?" tanya Naya.
"Aman nih, gue gapapa kan," ucap Levi meyakinkan.
"Buat gue," ujar Naya lalu hendak merampas roti milik Levi. Namun Levi berhasil mencegahnya.
"Katanya buat gue," protes Naya.
"Ada syaratnya. Lo harus ngasih tau dulu nama panjang lo," ucap Levi.
"Hmm oke." Karena sudah kelaparan, Naya akhirnya menyetujui.
Levi hanya tersenyum dan menunggu jawaban Naya.
"Nayaaaaaa-ap!" ucapan Naya terhenti karena mulutnya disumpali pakai roti oleh Levi. Meskipun kesal, tapi akhirnya Naya juga mencerna roti itu.
Levi hanya tertawa sedangkan Naya manyun sambil mencerna roti didalam mulutnya.
"Itu mulutnya, kode mau dicipok apa gimana?" tanya Levi dengan menahan tawanya.
"Enak aja. Eh suapin lagi dong, gue mager," ucap Naya. Levi yang mendengarnya cukup terkejut. Tetapi akhirnya Levi menyuapi Naya juga.
"Anjir, rejeki nih nyuapin cewek cantik," batin Levi.
"Seru nih, hari pertama udah dapet babu," batin Naya.
Tanpa mereka ketahui, Langit sedari tadi menyaksikan mereka. Dia melihatnya dengan wajah datar dan rahang mengeras, sedang salah satu tangannya mengepal kuat.
"Harusnya gue tadi lari lebih kenceng," gumam Langit. Lalu membuang bekal yang tadinya untuk Naya dan kembali ke kelasnya karena bel masuk sudah berbunyi.
Ini benar-benar pertama kalinya Langit membuang bekal buatan ibunya dan juga pertama kali Langit mau berinteraksi dengan cewek. Naya benar-benar membuatnya berubah.
Bel pulang sudah berbunyi dari tadi. Tetapi, Langit dan anak-anak ekskul pramuka kelas 11 belum juga pulang. Mereka harus berlatih untuk persiapan kemah pelantikan bantara bagi kelas 10. Selain berlatih, mereka juga menyiapkan agenda dan kegiatan pada saat perkemahan.
"Lang!" panggil Levi.
"Ya?" balas Langit yang tetap fokus menyatukan tongkat-tongkat dibawahnya dengan tali.
"Gue punya saran buat kemah minggu depan," ucap Levi.
"Gimana?" tanya Langit yang sudah menyelesaikan kegiatannya.
"Gue rasa kalo minggu depan kok kecepetan," ujar Levi.
"Gue mikirnya juga gitu. Tapi mau gimana lagi, waktu yang luang ya cuma minggu depan. Lagian kan anak-anak kelas 10 udah di kasih tau jauh-jauh hari," ucap Langit panjang lebar.
"Ya gue sih punya saran. Kan yang tahun ini murid baru banyak banget tuh. Kalo dihitung-hitung sampe 20 orang. Nah saran gue, gimana kalo para murid baru itu juga ikut kemah. Tapi judulnya bukan pelantikan bantara," ujar Levi menggantungkan kalimatnya.
"Terus apaan?" tanya Langit.
"Perkemahan penegak buat peserta didik baru. Dulu gue juga diginiin. Padahal pas disekolah lama gue udah pernah ikut perpegak udah dapet bantara malah, eh pas masuk sini disuruh ikut perpegak lagi." Levi bercurhat tentang pengalaman saat awal masuk disekolah ini.
"Ya mampus sih. Tapi saran lo boleh juga," ucap Langit sambil terkekeh.
"Jadi gimana? Nanti kegiatan buat para murid baru disesuaikan aja sama kegiatan perpegak pada umumnya, biar gak ribet." tutur Levi.
"Iya, nanti gue bilang ke Pak Riswan." Fyi aja, Pak Riswan tuh salah satu pembina pramuka di SMA Diponegoro, yah walaupun kelakuan agak sinting dan tidak mencerminkan Dasa Darma.
"Woy, akang teteh. Semua kumpul di sini ayo." Panjang umur. Baru juga diomongin, Pak Riswan sudah teriak-teriak memberikan intruksi kepada semua anggota pramuka yang ada di sana untuk berkumpul di depan sanggar pramuka.
"Yah Bapak, kalau manggil jangan pake sayang atuh, saya jadi baper ini," celetuk Rina, sang pradana putri.
"Ya kamunya jangan baperan atuh," ucap Pak Riswan menanggapi celetukan Rina.
Celotehan mereka membuat anak-anak di sana tertawa.
Ketika semua sudah berkumpul dan membereskan semua peralatan yang digunakan setelah berlatih. Mereka berkumpul membuat lingkaran. Di tengah-tengah lingkaran para anggota pramuka, Pak Riswan selaku tetua di sana, memberikan beberapa masukan untuk pramuka kelas 11.
"Kalian anak kelas 11 tuh harus bisa menghormati kakak kelas kalian. Meskipun mereka itu istilahnya ya udah purna, kalian harus tetep jaga sikap sama mereka. Mengerti?"
"Siap mengerti!!"
"Terus kalau sama anak kelas 10 juga harus jaga sikap. Jangan semena-mena. Kalau ngelatih mereka jangan sampai ada bentakan. Jangan galak-galak, bikin mereka itu suka sama pramuka. Paham?"
"Siap paham!!"
"Satu lagi, kelakuannya dijaga. Jangan malu-maluin pramuka. Jangan bikin nama pramuka itu jelek. Jangan ikutin kelakuan saya, diambil yang baik-baik aja. Pokoknya jangan sampai nama pramuka di sekolah kita ini jadi jelek. Kalau saya sampai dengar ada kasus yang melibatkan nama pramuka, saya sendiri yang akan turun tangan. Ngerti kan?"
"Iya, Pak. Ngerti." Kali ini sahutan mereka sudah melemah.
"Oke, saya kira cukup. Ada yang mau nambahin?" tanya Pak Riswan.
Tidak ada yang menyahut.
"Langit?" tanya Pak Riswan. Langit menatap teman-temannya yang juga menatapnya dengan tatapan memohon untuk tidak menambahkan masukan ataupun usulan.
Tapi Langit tetap bangkit untuk berdiri. Samar-samar, ia mendengar keluh kesah dari teman-temannya.
"Saya disini ingin menambahkan sesuatu," ucap Langit.
"Pertama, besok kita adakan rapat, jam 8 pagi. Tempatnya seperti biasa di sanggar pramuka. Pakaian bebas pantas," lanjutnya.
"Lang, besok kan tanggal merah!" protes Rina yang mewakili protes teman-temannya.
"Rapat tetap dilaksanakan!" tegas Langit. Akhir-akhir ini, pramuka memang sering mengadakan rapat. Bukan apa-apa, tapi supaya persiapan perkemahan bisa matang sehingga perkemahan dapat berjalan dengan baik.
Anak-anak semakin mengeluh. Jika sudah berhadapan dengan cewek, Langit akan lebih tegas dan bersikap dingin. Hal itu membuat anak-anak tidak berani melawan.
"Yang kedua," Langit menghentikan ucapannya karena diprotes oleh teman-temannya.
"Lang, udah sore ini. Buruan napa, toh besok masih rapat."
"Iya Lang, udahan dong."
Namun Langit malah tersenyum tipis menikmati kejahilannya. Tidak ada yang menyadari senyumannya, kecuali Rina.
"Lo kalo senyum ternyata ganteng juga Lang," batin Rina.
"Gue lanjutin," ucapnya. Keluh kesah semakin terdengar oleh telinga Langit.
"Kedua, untuk mengakhiri pertemuan hari ini. Berdoa mulai," lanjutnya. Wajah-wajah temannya berubah menjadi sumringah. Mereka bahagia karena bisa pulang. Sesederhana itukah bahagia mereka? Dan Langit senang bisa membuat teman-temannya bahagia, walaupun pada awalnya mereka kesal sama Langit.
"Selesai," ucapnya.
Setelah itu mereka bersalaman untuk menguatkan tali persaudaraan, dan akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
♠♠♠
Langit melaju keluar dari area parkir sekolahnya, namun ia melihat cewek di depan gerbang sekolahnya. Dia menebak itu adalah Naya, terlihat dari tas dan postur tubuhnya yang persis. Tapi kenapa dia belum pulang, padahal jam sekolah sudah berakhir dari tadi. Ia juga sempat berkumpul dengan anak pramuka cukup lama, sekitar satu setengah jam. Saat sampai di depan Naya, dia menghentikan motornya.
"Nay, lo belum pulang?" tanya Langit.
"Kalo udah gue gak bakalan di sini," jawab Naya.
"Tapi, kok lo belum pulang?" tanya Langit.
"Gue nunggu dijemput," jawab Naya.
"Rumah lo di mana?" tanya Langit.
"Lo nanya mulu daritadi. Anterin kek, daripada nanya mulu," bukannya menjawab, Naya malah ngomel.
"Yah maunya nganter sih. Tapi kasihan Ratu," ucap Langit.
"Siapa Ratu?" tanya Naya.
"Ini nih," jawab Langit sambil menepuk-nepuk motor CB nya.
"Gak nyangka. Ternyata lo bisa se-alay itu," cibir Naya.
"Nggak alay, cuma menghargai pemberian mama," balas Langit.
"Yaudah bodo amat. Trus sekarang gue mau pulang sama siapa?" rengek Naya.
"Bentar," ucap Langit sambil celingak-celinguk ke berbagai arah. Dia tersenyum saat melihat Levi di belakang yang sedang mengendarai motor ninjanya ke arah mereka.
"Hoi Lev!" panggil Langit dengan melambaikan tangannya pada Levi.
Levi segera menghampiri mereka.
"Apaan Lang?" tanya Levi ketika sudah sampai ditempat Langit.
"Eh ada Naya juga," sambungnya, lalu tersenyum ke arah Naya dan dibalas senyum oleh Naya.
"Ini, gue minta tolong buat anterin Naya ke rumahnya," ucap Langit.
"Oke," sahut Levi singkat.
"Yaudah gue pamit dulu. Anterin sampe rumahnya," ucap Langit lalu kembali menjalankan motornya.
"Naik Nay!" perintah Levi. Naya pun menurutinya.
"Kasih tau jalannya ya," pinta Levi, Naya mengangguk
Sepanjang perjalanan, Naya memberi arah jalan pulang ke rumahnya.
Saat memasuki kawasan kompleks, Levi memperlambat jalan motornya.
"Udah sampe Lev," ucap Naya mengintruksi.
Levi segera menghentikan motornya. Sedangkan Naya turun dari motor Levi.
"Makasih ya Lev," ucap Naya.
"Iya sama-sama," balas Levi.
"Mampir dulu gih." Naya menawarkan.
"Nggak usah. Udah kesorean ini," ucap Levi.
"Yaudah, hati-hati," pesan Naya.
"Iya. Duluan Nay," pamit Levi lalu kembali menjalankan motornya.
Naya membuka pintu rumahnya, benar-benar sepi. Tidak ada siapapun di sini. Orang tuanya pasti belum pulang bekerja. Pembantu lamanya yang juga ikutan pindah ke Bandung sedang pulang kampung, dan orang tuanya tidak menyewa pembantu sementara.
Setelah menutup pintunya kembali, ia berjalan ke arah saklar lampu, dan menghidupkan lampu dirumahnya. Rumahnya menjadi sangat terang, namun tetap sepi. Setelah itu, ia memutuskan untuk mandi lalu tidur di kamar barunya. Dia berjanji akan marah pada mamanya besok.