Apakah Tuhan butuh alasan ketika menimpakan cobaan kepada seseorang? Ataukah semua manusia memang sudah seharusnya menghadapi cobaan versi masing-masing meskipun dia berusaha menjadi hamba yang baik dan tidak neko-neko? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Davina Zaila Hamidah. Dirinya sudah mencoba menjalani hidup dengan sebesar-besarnya kemampuan menjaga rumah tangganya. Perempuan keturunan Arab-Sunda berhidung mancung dan berkulit putih bersih itu masih memikirkan kenapa bisa semua orang yang dicintai akhirnya berbalik memusuhi dan merebut kebahagiaan yang tengah direguknya.
"Kamu tega sekali melakukan ini kepadaku, Mas! Kamu benar-benar lelaki biadab! Mereka semua sahabatku, tega-teganya kamu berselingkuh dengan sahabat-sahabatku!" jerit Davina sambil menunjuk wajah Fathan, suaminya yang hanya bisa duduk terpekur di kursi sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Fathan hanya terdiam. Dia membiarkan wanita yang telah memberinya seorang anak perempuan itu mengurai kemarahannya. Dia memang pantas menerima semua caci-maki Davina.
"Aku meninggalkan karierku yang sedang berada di puncak untuk menikah denganmu! Aku melupakan keinginan kuliah lagi untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anakmu! Aku rela melepas semua mimpiku demi menjadi istrimu, tetapi begini balasan yang aku terima!"
Suara Davina terhalang tangis yang mulai tak bisa dibendungnya. Hatinya patah oleh sekejam-kejamnya pengkhianatan Fathan.
Seandainya, seandainya saja dia tahu bahwa keempat sahabatnya adalah orang yang tega menusuknya dari belakang, tak akan pernah dia menjadi pencetus ide terbentuknya Geng Cokelat. Kini sesalnya berlapis-lapis. Otak warasnya bahkan nyaris tak mampu menerima kenyataan bahwa sahabat-sahabat yang sangat dia sayangi tak lebih dari burung hantu berbulu cendrawasih.
"Sayang, aku minta maaf untuk semuanya. Aku memang laki-laki bodoh. Seharusnya aku tidak melayani kemauan mereka," sesal Fathan.
"Kemauan mereka? Oh ... jadi cuma mereka yang salah dan kamu yang suci? Jadi ini semua adalah kesalahan mereka dan kamu tidak ada andil di dalamnya?" Davina meradang. Napasnya memburu seperti singa lapar yang hendak menerkam musuh.
"Aku sudah bilang ini juga salahku! Oke, semua ini aku yang salah! Sayang, aku tidak bermaksud mengkhianati kamu. Semua ini terjadi di luar kuasaku. Semua terjadi begitu saja. Saat aku tersadar, ternyata aku sudah tersesat jauh. Maafkan aku, Sayang. Please, maafkan aku. Kita mulai semuanya dari awal lagi. Aku janji setelah ini kita akan baik-baik saja, Sayang." Fathan bangkit dari duduknya lalu bersimpuh di kaki istrinya.
Davina memalingkan wajahnya. Jika suaminya berselingkuh dengan orang yang tidak dikenalnya, mungkin tidak akan sehancur ini hatinya. Jika Fathan menduakannya dengan satu orang, mungkin tak seremuk ini perasaannya. Ini sudah melewati batas kesabaran dan pemaklumannya sebagai istri, sebagai wanita, juga sebagai manusia.
"Aku akan membawa Nafasha ke apartemen. Kami akan tinggal di sana untuk waktu yang tidak ditentukan. Aku butuh sendiri dulu untuk menjernihkan pikiran dari kelakuan busuk kalian."
"Sayang, jangan pergi. Kalau kamu muak sama aku, biar aku saja yang pindah ke apartemen. Kamu tetap di sini sama Nafasya."
"Aku bukan mau pindah ke apartemen kamu, tapi ke apartemenku sendiri. Jangan temui kami sebelum aku izinkan."
Davina bergegas meninggalkan Fathan yang masih meringkuk di lantai. Dia paham sifat istrinya. Jika sedang marah harus dibiarkan sendiri dulu. Iya, untuk kemarahan jika dirinya melakukan kesalahan-kesalahan kecil seperti pulang terlambat atau tak sengaja menyakiti perasaan Davina. Sekarang ... kesalahan yang dilakukannya adalah kesalahan fatal. Empat tahun pernikahan, badai yang dibuatnya terlalu sulit untuk tidak menenggelamkan kapal yang sedang dia kemudikan bersama anak dan istrinya.
Karam. Apakah kapal mereka akan karam? Apakah Davina akan memintanya untuk bercerai? Membayangkan kemungkinan itu Fathan segera berlari menuju kamarnya. Pintu kamar mereka terkunci rapat.
"Sayang, tolong buka pintunya. Buka pintunya!" teriaknya keras. Tidak terdengar jawaban dari dalam kamar. Davina sedang sibuk memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Setelah kopernya penuh, dia merapikan beberapa perlengkapan. Kosmetik, obat-obatan, sepatu dan sandal tak lupa dimasukkan ke dalam tas. Setelah dirasa beres semuanya, dia membuka pintu kamar. Fathan meraih bahunya, tetapi dengan cepat Davina menepisnya.
Perempuan berusia dua puluh tujuh tahun itu melangkah cepat menuju kamar Nafasya, putri kecilnya yang baru berusia tiga tahun.
Terlihat Nafasya masih tertidur pulas. Di sofa kamar Suster Ratna, baby sitter pengasuh Nafasha tampak terkejut dengan kehadirannya. Perempuan itu pucat dan ketakutan mendengar pertengkaran tuan dan nyonya rumah.
"Sus, tolong bantu packing baju-baju Nafasha. Setelah itu baju Suster juga dibawa. Kita akan pindah ke apartemen, tolong cepat sedikit."
"Ba-baik, Bu." Suster Ratna segera mengeluarkan koper dan tas untuk perlengkapan Nafasya. Davina mendekati putri kecilnya yang tidak terganggu dengan teriakannya tadi. Ada sesal menelusup halus ke dalam dadanya. Sesal dan kesal yang membuatnya hilang akal.
Sekali lagi ingatannya menelusuri satu demi satu nama-nama sahabatnya yang menebar luka. Arumi yang pendiam, Faiza sang bintang, Ghina yang dewasa, serta Lulu yang jenius. Kenapa mereka melakukan hal ini kepadanya? Apakah keempat sahabatnya sengaja bersekongkol untuk merebut kebahagiaannya?
Ah, Lulu. Semoga dia berbahagia di alam sana. Meski didera perih dalam hatinya, Davina lirih mendoakan agar Lulu mendapat tempat terbaik dalam keabadian. Lulu wanita paling periang di antara mereka. Kenapa Lulu harus mengakhiri hidupnya dengan cara seperti ini? Lulu diduga memasukkan racun sianida ke dalam minumannya. Jasadnya ditemukan keesokan hari di ruangan kerjanya.
Perlahan bulir bening membasahi pipi Davina. Rasanya tidak mungkin jika Lulu berniat mengakhiri hidupnya. Namun, jelas ada permohonan maaf di file yang tersimpan di dalam komputernya.
"Aku yang akan pergi. Davina, aku yang akan keluar dari rumah ini. Kamu tetap di rumah bersama Nafasya. Aku yang harus dihukum untuk semua kesalahan ini. Tolong jaga Nafasha baik-baik." Fathan muncul di depan pintu dengan wajah kuyu. Davina hanya meliriknya sesaat. Baginya lelaki itu sudah mati. Dia bahkan tak sudi melihat wajah suaminya lagi.
Fathan berlalu menuju kamar dan mengemasi beberapa pakaiannya. Dia menyambar kunci mobil lalu segera meninggalkan rumah mereka. Rumah yang berisi banyak kenangan bersama Davina yang sangat dicintainya. Berkali-kali Fathan memukul kemudi. Pikirannya kacau balau. Ternyata harus begini akhir benang kusut yang membelit tubuhnya.
"Aku memang laki-laki brengsek!" teriaknya sambil memukul kemudi dengan keras lalu kakinya menginjak rem dengan cepat. Mobil berhenti di pinggir jalan. Suara klakson bersahutan membelah jalanan. Fathan tidak peduli. Dia membuka pintu mobil lalu membantingnya keras. Laki-laki tinggi kekar itu berjalan keluar dari mobil sambil meraba sakunya mencari rokok.
Hamparan tanah kering dan pecah-pecah terpampang di hadapannya. Sepertinya areal sawah ini usai dipanen padinya. Tampak batang-batang pohon padi yang terpotong setengahnya, juga banyak bulir padi berjatuhan di tanah kering. Fathan menyalakan rokoknya, lalu mengisapnya dalam-dalam. Kepulan asap segera membumbung di atas kepalanya.
Fathan pernah menduga jika petualangannya dengan para sahabat Davina suatu hari akan terbongkar. Namun, dia tidak pernah menyangka jika Lulu tega mengakhiri hidupnya dengan cara tragis. Lulu meninggal di kantornya. Semua barang di ruangan dijadikan barang bukti oleh polisi. Namun, Davina berhasil mengcopy file-file penting milik Lulu sebelum polisi mengambilnya.
Dari situlah semua bermula. Rahasia yang pada awalnya hanya diketahui Lulu akhirnya sampai ke tangan Davina. Satu tindakan bodoh Lulu benar-benar menghancurkan semuanya. Fathan bahkan sudah berusaha 'membungkam' Lulu dengan mengirimkan 'uang tutup mulut' setiap bulan, meskipun Lulu tak pernah memintanya. Sial!
Tiba-tiba ponselnya berdering. Satu panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Fathan menekan tombol hijau.
"Selamat siang Pak Fathan, bisakah bapak datang ke kantor polisi sekarang? Ada dugaan Ibu Lulu tidak bunuh diri, melainkan sengaja dibunuh. Kami sangat berterima kasih jika Anda mau bekerjasama dengan datang ke kantor kami sekarang juga."
Pembunuhan? Jantung Fathan berdegup lebih kencang. Siapakah yang tega membunuh Lulu?
Davina mulai membuka catatan yang ditinggalkan Lulu.
[Hari ini nyawaku kembali menggenap. Davina sahabat terbaikku menawari pekerjaan di kantor suaminya. Siapa sangka aku bisa menjadi sekretaris seorang bos muda yang tampan dan menawan. Thanks, Davina. Kamu tidak akan menyesal telah memilih aku]
*
Berdiri di atas duri, begitulah yang dirasakan Fathan setelah mendengar kabar bahwa kematian Lulu bukan karena bunuh diri. Ada seseorang yang mengincar kematiannya. Polisi masih mencari barang bukti dan petunjuk yang bisa mengarahkan kepada pelakunya.
"Untuk sementara semua kawan-kawan dan orang dekat korban bisa menjadi tersangka. Saya harap Pak Fathan bisa bekerjasama dengan kami dengan membongkar semua fakta tanpa ada yang ditutup-tutupi. Karena TKP berada di kantor bapak, kami akan mulai dari Anda. Apakah Anda sudah menunjuk pengacara?'" tanya Bripda Estu Saragih yang dijawab Fathan dengan anggukan kepala.
"Kami akan mulai menjadwalkan pekan depan untuk investigasi, termasuk kepada istri Anda, Ibu Davina."
"Kenapa istri saya? Apakah dia juga ...."
Fathan menggantung kalimatnya. Tentu saja Davina termasuk yang dicurigai karena dia adalah sahabat Lulu. Anggota geng Cokelat baru saja bertemu pada malam sebelumnya.
"Semua data orang-orang yang berhubungan dengan korban dalam 24 jam terakhir sudah ada pada kami, dan Ibu Davina termasuk salah satunya. Apakah pengacara Ibu Davina juga sama dengan pengacara Anda?" selidik Bripda Estu Saragih.
"Saya ... Kami belum membicarakannya." Fathan memang belum sempat membahas masalah ini dengan Davina. "Segera setelah ini kami pasti akan berdiskusi," imbuhnya berusaha menutupi gusar di wajahnya.
"Baik Pak Fathan, terima kasih atas kerjasamanya. Jangan lupa Anda dan istri dilarang bepergian ke luar kota maupun ke luar negeri. Selamat siang."
Fathan mengangguk lalu bangkit dari kursinya dan bergegas keluar dari ruangan. Ternyata masalah ini tidak sesederhana yang dia kira. Fathan segera mencari nama Thomas dari list phonebooknya. Dia harus menelpon pengacaranya.
"Pak Thomas bisa ke kantor saya secepatnya? Saya butuh berkonsultasi. Iya, iya betul. Ini tentang sekretaris saya. Baik, saya sedang dalam perjalanan ke kantor. Terima kasih."
Lulu Adzkiya ibu tunggal dari seorang anak laki-laki berusia enam tahun. Davina begitu bersemangat memperkenalkannya ke kantor suaminya. Jika Davina tidak menceritakan tentang latar belakang Lulu, mungkin Fathan tidak menduga jika perempuan berambut ikal itu pernah melahirkan. Lulu masih terlalu langsing untuk ukuran wanita beranak satu. Tubuhnya kurus, tidak terlalu tinggi tapi seksi. Dengan setelan rok pendek dan blazer yang pas sesuai bentuk tubuhnya, penampilan Lulu sangat menarik.
Kulit Lulu tidak seputih Davina. Dengan dua lesung pipi dan gigi kelinci, siapa pun tak akan bosan memandang wanita berusia dua puluh lima tahun itu. Di antara teman-teman yang tergabung dalam geng Cokelat, Lulu anggota termuda. Pertemuan Fathan dan Lulu di kantor Fathan terjadi atas prakarsa Davina.
"Mas kenalin ini Lulu temanku. Aku pikir kamu butuh sekretaris pribadi dan aku tidak bisa mempercayai siapa pun kecuali dia."
Dengan mata berbinar Davina memperkenalkan sahabatnya. Lulu menyodorkan tangannya. Senyum manis dengan dua lekuk lesung pipit memperlihatkan deretan gigi putih Lulu terlihat menawan. Bagaimana bisa Fathan menolak sekretaris pribadi secantik ini?
"Ehm ... terserah kamu saja, Sayang. Kamu memang istri terbaik. Kapan Lulu bisa mulai kerja?" tanya Fathan tak bisa menahan rasa gembiranya.
"Secepatnya mas, eh Pak, maaf." Semburat merah menjalar di pipi Lulu. Fathan memiliki postur tubuh yang tinggi atletis juga membuat Lulu tak bisa menahan senyumnya saat matanya bersirobok dengan calon bosnya.
"Lulu, suamiku ini bos kamu kalau di kantor. Di luar kantor kamu bebas panggil dia semaumu. Tugasmu cuma memastikan suamiku makan teratur, menyusun jadwal pekerjaan yang 'manusiawi' dan menjadi mata-mata khusus untukku." Davina mengedipkan matanya yang disambut gelak tawa Lulu. Tentu saja dia dengan senang hati akan melakukannya.
"What? Maksudmu kamu menyediakan mata-mata di kantorku sendiri?" protes Fathan dengan wajah kesal yang dibuat-buat. Sejatinya hatinya tengah bersorak gembira. Bukankah dengan kehadiran sekretaris ini semua akan menjadi lebih mudah?
"Maaf Pak Fathan, sepertinya Anda tidak punya pilihan lain karena saya digaji tinggi untuk pekerjaan ini. Saya pastikan Davina tidak melewatkan informasi apa pun tentang Anda meski itu cuma satu detik."
Lulu membalas candaan Davina dengan senyumnya yang khas. Hari ini menjadi hari yang menyenangkan seumur hidupnya. Entah mimpi apa dirinya semalam hingga datang satu moment terbaik yang tak bisa dia lupakan. Ada letupan kecil di jantungnya setiap menatap mata teduh Fathan.
"Oke Lulu, tugas perdanamu adalah pesan AC baru, saya mulai merasa kegerahan di ruangan ini." Fathan menarik dasinya, berusaha mengendurkan ikatannya. Davina tersenyum melihat ulah suaminya. Dia memang sudah mempercayai Lulu seperti adiknya sendiri. Di bawah pengawasan Lulu, Fathan pasti akan berpikir ulang jika ingin macam-macam di belakangnya.
"Apakah AC 3 Pk cukup untuk ruangan ini?" tanya Lulu dengan pandangan mengitari ruangan yang berukuran 4x4 meter persegi.
"Cukup Lulu, sangat cukup untuk membuat saya mati membeku," jawab Fathan yang diikuti gelak tawa Davina dan Lulu. Mereka bertiga tertawa lepas seperti seharusnya. Tanpa sengaja Fathan dan Lulu bertemu pandang. Lagi.
Saat itulah Fathan merasa Davina tidak salah memilihkan sekretaris untuknya.
Hari-hari selanjutnya hubungan mereka sebagai bos dan sekretaris tidak menemui kendala. Lulu sangat bisa membawa diri. Selera humornya yang bagus membuat Fathan lebih sering memperlakukannya sebagai teman ketimbang sekretaris. Lulu menghandle semua jadwal pekerjaan Fathan dengan rapi dan berhati-hati. Jika ada hal yang tidak ia ketahui, Lulu tak sungkan bertanya kepada Davina. Hal itulah yang dulu dikuatirkannya sebelum menerima pekerjaan dari sahabatnya.
"Kamu yakin aku bisa jadi sekretaris buat suamimu? Vin, aku cuma lulusan SMA. Aku rasa kamu terlalu berlebihan." Lulu meletakkan gelas berisi lemon jus ke atas meja.
"Lu, nanti sambil jalan aku ajarin. Lagian apa kamu enggak mau kuliah lagi? Keenan sudah bisa kamu tinggal. Ayolah ... aku tahu kamu masih ingin meraih mimpimu. Kamu bisa bekerja lima hari dan ambil kelas weekend. Kelas khusus karyawan."
Davina meyakinkan Lulu yang terlihat mulai terpengaruh dengan omongannya. Mereka berteman sejak SMA. Lulu terpaksa tidak bisa kuliah karena terlanjur hamil duluan dengan pacarnya.
Satu kesalahan yang harus ditebus selamanya. Terkadang memang orang tidak tahu sebesar apa dampak yang ditimbulkan dari satu kecupan selamat malam oleh sepasang muda mudi yang sedang dilanda gelora asmara. Lulu dan Rizal, pacarnya, akhirnya kalah menuruti hawa nafsu. Selanjutnya penyesalan adalah hadiah yang pasti akan mereka terima.
Seiring berjalannya waktu, Fathan dan Lulu menjadi partner kerja dan kawan ngobrol yang menyenangkan. Suatu hari saat Fathan pulang dari Singapura untuk urusan pekerjaan, pria berjenggot tipis itu kelelahan. Davina memberi banyak pesan larangan untuk Fathan menerima tamu. Davina bahkan membekalinya dengan sup daging dan ginseng yang konon bisa membuat kondisi tubuhnya kembali membaik.
"Lulu, kata Davina ada makanan yang ...."
"Sudah saya ambil dari Pak Noto." Belum selesai ucapan Fathan, Lulu sudah memotongnya. Davina sudah lebih dulu memberikan banyak instruksi, termasuk kepada Pak Noto sopir Fathan.
"Saya juga sudah membatalkan semua janji meeting untuk hari ini. Bapak bisa di kantor saja. Namun, jika bapak ingin segera sembuh, saya tahu caranya. Bagaimana?" Lulu tersenyum manis kepada bosnya. Fathan terlihat sedikit pucat. Bukankah Davina mempercayakan Fathan kepadanya untuk dirawat? Maka sebuah ide tiba-tiba hinggap di kepalanya.
"Orang bilang kalau sakit jangan tiduran, tetapi berenang. Saya sudah siapkan bajunya. Dua jam saja waktunya, setelah itu Bapak harus minum obat dan beristirahat."
Lulu membawa Fathan ke hotel yang dilengkapi private pool di lantai 21. Selanjutnya sekretaris seksi itu menyodorkan tas berisi perlengkapan renang. Fathan tidak mengerti apakah benar yang dikatakan Lulu, tetapi melihat kesegaran air di dalam kolam, tubuhnya seperti minta jatah untuk relaksasi.
Lulu masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu kaca setelah memastikan Fathan masuk ke dalam air. Dia melanjutkan pekerjaannya di depan laptop. Masih banyak janji dan acara yang harus dijadwalkan ulang hari itu.
Baru satu jam berlalu, Fathan sudah mulai kelelahan. Setelah berganti pakaian, pria berkulit putih itu kembali ke dalam kamar. Dia melihat Lulu sedang berdiri membelakanginya. Sepertinya Lulu sedang menelepon seseorang. Dengan sangat berhati-hati karena tak ingin menganggu obrolan Lulu, Fathan menggeser pintu kaca lalu menutupnya dengan rapat.
"Ghina, kamu berhak bersenang-senang. Kamu sudah bekerja keras, pergilah ke klub malam, pilih pria yang kamu suka. No relationship, just having fun! Iya, aku tahu. Kamu enggak boleh nyiksa diri terus, Sayang. Kamu manusia biasa, kamu butuh bersenang-senang!"
Suara Lulu terdengar jelas di telinga Fathan. Fathan tersenyum simpul mendengar obrolan Lulu dengan Ghina. Pasti yang dimaksud adalah Ghina sahabat Davina juga. Perlahan dia berbaring di atas sofa.
"Hei kalau kamu enggak percaya cowok di luar, aku bisa mengenalkanmu dengan orang yang bisa kamu percaya. Iya dong, kamu pikir selama ini aku jadi batang pisang? Oh, tentu tidak masalah. Ini hubungan satu malam, ha-ha-ha." Tawa Ghina yang lepas memberi sensasi tersendiri bagi suami Davina. Meskipun dengan mata terpejam, bibir Fathan tersenyum mendengar obrolan sekretarisnya.
Ada yang tidak ia sadari. Lulu sengaja membuat obrolan itu bisa terdengar olehnya. Lulu bisa melihat pantulan dari cermin di depan ranjang, saat Fathan memasuki ruangan. Lulu sengaja membuat obrolan itu untuk melihat reaksi Fathan. Saat menyadari bibir Fathan menyunggingkan senyum dengan mata terpejam, Lulu segera menutup teleponnya.
"Mas, apakah perlu saya pijit kakinya?" tanya Lulu lembut seraya mendekati Fathan.
Fathan tersentak saat mendengar bunyi klakson di belakangnya. Rupanya lampu traffic light sudah hijau. Dirinya terlalu larut dalam putaran ingatan bersama Lulu. Ponselnya berdering, ada nama Davina.
"Mas, aku mendapat panggilan dari polisi. Kabarnya Lulu sengaja dibunuh. Mas, kamu benar-benar jahat! Kamu pembunuh!"
[Davina, bukan hanya aku yang telanjur nyaman dan memiliki nyawa kembali ketika bersama Fathan. Semua sahabat kita memiliki kisahnya sendiri dengan suamimu. Aku harap kamu takkan pernah mengetahuinya. Aku tidak bisa membayangkan reaksimu ketika tahu manis madu pernikahanmu juga menjadi candu bagi kami. Tidak. Itu tidak akan pernah terjadi. Aku akan menyimpan rahasia ini sampai mati.]
*
Sahabat adalah orang yang membangunkanmu meski kamu masih ingin tidur. Itu berarti sahabat adalah orang yang merusak kebahagiaanmu? Setidaknya itulah yang dipikirkan Davina sekarang.
Geng Cokelat sebutan bagi lima sahabat yang merasa terhubung satu sama lain sejak mereka duduk di bangku SMA. Persamaan mereka cuma satu kala itu, sama-sama penyuka cokelat. Dari cokelat merk sejuta umat yang sering dipakai sebagai simbol Valentine's Day, hingga cokelat Godiva paling enak yang mereka cicipi dari luar negeri, oleh-oleh dari orang tua Faiza.
Pada awalnya mereka hanya menikmati hot chocolate di cafe D’Chocco yang terletak di ujung jalan dekat sekolah. Belinya patungan, lalu mereka menikmati kelezatan itu berlima. Faiza yang papanya sering mondar-mandir ke luar negeri untuk mengurus bisnis, tak bosan membawa cokelat mahal ke sekolah. Cokelat luar negeri rasanya tentu saja membuat mereka lemas terhajar banyak senyawa Anandamyne yang efeknya mirip dengan ganja, tentu saja versi aman.
Semakin lama lezatnya cokelat membuat mereka rileks membicarakan semua masalah pribadi, hingga akhirnya Davina, Faiza, Arumi, Lulu dan Ghina menjadi lima sahabat yang saling mendukung satu dan lainnya. Mendukung, menyemangati juga mengingatkan jika ada yang melakukan kesalahan.
Setelah membaca catatan Lulu, Davina merasa menjadi satu-satunya korban yang berhak meminta kejelasan. Sore itu mereka berkumpul di cafe D' Chocco dengan wajah penuh ketegangan. Davina memulai obrolan tanpa basa-basi.
"Kalian sudah tahu Lulu tidak meninggal karena bunuh diri. Ada orang yang sengaja membunuhnya. Kita semua adalah tersangka karena malam sebelum Lulu meninggal, kita bertemu dengan dia. Sebelum membahas itu, aku ingin bertanya kepada kalian, tolong kalian jawab dengan jujur." Davina memandang satu-persatu wajah sahabatnya. Wajah-wajah yang sekarang tak terlihat sama lagi.
Faiza masih mengenakan blazer dan rok selutut biru dongker. Kalung accesories tampak menonjol di lehernya. Rambutnya dibiarkan panjang terurai. Dagunya terangkat serupa harga dirinya. Davina tak menyangka jika Faiza yang selama ini dianggapnya paling dekat, tega merebut perhatian suaminya.
"Aku mau kalian mengakui sejauh apa hubungan kalian dengan Fathan."
Arumi sedikit menggeser tubuhnya, memperbaiki letak duduknya yang sebelumnya terlihat santai. Mengenakan setelan kemeja dan celana jeans hitam, wajah Arumi terlihat misterius seperti biasanya.
Ghina mematikan rokoknya setelah terbatuk-batuk kecil mendengar suara Davina. Wanita berambut pirang itu mengeluarkan bedaknya lalu touch up make up tipis-tipis untuk menutupi keriuhan otaknya yang sedang berpikir keras.
"Aku sudah tahu semuanya. Semua perbuatan yang kalian lakukan di belakangku bersama Fathan. Ternyata cuma segini arti persahabatan kita. Atau mungkin aku yang salah mencerna? Mungkin aku yang bodoh dan tak tahu bahwa sahabat juga harus berbagi pasangan. Betul begitu, Faiza?"
Yang disebut namanya terperanjat saking kagetnya. Gadis cantik yang sekilas wajahnya mirip artis Anya Geraldine itu sedang membetulkan rambutnya yang sudah terlihat rapi.
"Vin, dari mana lu bisa nuduh kita kayak ini? Please, deh, itu cuma omong kosong," sanggahnya cepat.
"Kanada, 7 Juli. Aku ingat betul saat itu hari ulang tahun pernikahan kami. Fathan juga pergi ke Paris. Kalian membuat janji untuk menghabiskan malam berdua. Aku orang bodoh yang menunggu suamiku pulang setelah mendoakannya bermalam-malam.” Davina memandang tajam ke arah Faiza yang semakin salah tingkah.
"Setidaknya Lulu meninggalkan catatan tentang semua kebusukan kalian." Davina melanjutkan kalimatnya tanpa ekspresi. Nada suaranya datar. Arumi dan Faiza saling berpandangan. Sementara Ghina menatap Davina yang terlihat sangat tenang.
"Aku sudah bilang, semua yang kalian lakukan bersama Fathan, aku tahu. Jadi mari kita lanjutkan obrolan ini dengan saling bicara jujur, atau masih ada yang berpikir bisa menyembunyikan sampah meski baunya sudah tercium kemana-mana?"
Davina memajukan tubuhnya lalu menopangkan kaki kanan ke atas kaki kirinya. Perempuan berkerudung ini sudah memegang kartu As dari semua kawan di hadapannya.
"Oke Vin, gue minta maaf. Gue salah karena sempat beberapa kali jalan bareng Fathan." Akhirnya Faiza buka suara setelah beberapa saat mereka dikurung keheningan dalam pikiran masing-masing.
"Empat belas kali," potong Davina cepat. Kali ini nada suaranya terdengar lebih rileks meski masih penuh penekanan. Empat belas kali kamu serong dengan suamiku. Entah apa yang ada di otakmu. Begitu banyak pria bebas di luar sana, tapi kamu memilih Fathan!" teriak Davina ke arah Faiza yang cuma bisa menundukkan wajahnya. Mata Davina menyala, memandang satu-persatu kawan-kawannya yang menurutnya tidak ada otak.
"Oke, gue minta maaf. Gue terima lu mau ngatain gue. Terserah lu. Gue cuma berharap lu bisa maafin gue, Vin." Faiza berkata lirih. Dia tak punya senjata untuk membela diri lagi. Tapi dia tidak rela Davina membuka skandal ini di depan sahabatnya yang lain.
"Gue sebenernya gak ada niat buat nikung lo, hanya saja ...."
"Hanya saja lo gak bisa terima kalau Fathan milih gue, meskipun lo naksir dia duluan?" Tatapan Davina sangat mengintimidasi.
'Kurang ajar sekali Lulu'. Batin Faiza menghardik.
Dia hanya curhat tentang rasa itu kepada Lulu saat mereka berdua sedang bersenang-senang di sebuah klub malam. Rupanya Lulu juga menuliskan ini dalam catatannya. 'Dasar sektetaris sialan! Udah mati juga masih nyusahin!' batinnya kesal.
Sekarang Ghina dan Arumi yang saling bertatapan sambil menarik napas panjang.
"Sabar dulu, Vin. Mungkin ini cuma salah paham." Arumi mencoba menengahi ketegangan yang mulai terasa memanas.
"Iya betul. Gue emang salah paham sama kalian. Terutama sama lo, Arumi. Gimana bisa lo yang seorang ahli hukum, justru menggunakan cara-cara yang melanggar hukum untuk membantu Fathan. Lo pasti senang karena Fathan akhirnya bisa mempercayai lo lebih dari siapa pun untuk urusan legalitas bisnisnya. Apakah imbalan yang lo dapatkan setimpal? Oh... gue lupa, lo hanya pernah pacaran sekali dengan Farid, lalu endingnya dia menghilang. Jadi itu alasan lo mau tidur dengan suami gue?"
Arumi membeku. Kepalanya bergerak-gerak makin lama makin cepat. Pandangannya manatap lurus ke depan. Napasnya memburu.
Faiza segera mengambil segelas air lalu menyodorkannya kepada Arumi. Gadis itu bergeming. Dia masih menggoyang-goyangkan kepalanya. Wajahnya semakin pucat. Ghina beranjak dari kursi lalu mendekati Arumi dan menepuk keras bahu perempuan jangkung itu. Arumi seperti tersadar dari lamunan. Perlahan Ghina menyodorkan gelas ke bibirnya, memaksanya untuk minum. Arumi tergesa-gesa meminum air putih di dalam gelas, hingga air memercik ke arah leher dan membasahi kemejanya. Arumi mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. Sekarang wajah dinginnya terlihat lebih berantakan karena lipstik yang menempel di bibirnya, belepotan kemana-mana. Gadis itu mudah terkena serangan panik saat terpojok. Davina menuduhnya tidur dengan Fathan? Ah, yang benar saja.
"Sudahlah, aku enggak mau berpanjang lebar lagi. Aku tanya sekali lagi, jawab dengan jujur, siapa di antara kalian yang membunuh Lulu?"
Kali ini Davina berbicara dengan nada yang ditekan kuat-kuat hingga membuat ketiga sahabatnya bergidik.
“Sabar, Vin,” pinta Ghina menenangkan sahabatnya.
“Ghina lo gak usah polos di depan gue. Lo bikin gue muak tahu gak? Lo bilang cinta mati sama suami lo. Diayang mati lo segera cari suami orang. Losser!” Davina menuding Ghina dengan kilat kemarahan yang siap menyambar.
Ketiga pasang mata di hadapannya saling memandang bergantian. Baru sekarang mereka tahu bahwa mereka bukan satu-satunya orang yang menjadi selingkuhan Fathan. Mereka berlima ternyata diam-diam mencintai pria yang sama. Fathan, suami Davina rupanya tak lebih dari Don Juan murahan!