Bab 1

Jakarta, 14 Februari.

Pagi itu, dunia seakan runtuh bagi seorang Jaden Welingstone ketika melihat kekasihnya, Alexa sedang bersama seorang pria di atas tempat tidurnya tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya.

"Alexa!!!"

Suara menggelegar memecah kesunyian kamar mengejutkan wanita cantik dan pria wajah blasteran yang sedang asyik mengejar kenikmatan surga dunia.

"Jaden!"

Betapa terkejutnya Alexa melihat kekasihnya menatap nyalang bak singa yang siap menerkam mangsanya.

"Keparaaat kalian!"

Kemarahan Jaden begitu memuncak. Mewakili suaranya yang menggelegar dengan dua tangan terkepal kuat di antara sisi tubuhnya.

"Ini ,,," Alexa tersadar dari keterpakuannya. Segera diraihnya selimut yang berada di bawah kaki untuk menutupi tubuh polosnya.

Tatapan nyalang Jaden, mata merah menahan amarah yang memuncak beralih pada pria yang sedang berusaha menutupi tubuh polosnya dengan bantal.

"Jaden ,,, i,,ini, ini tidak seperti yang kamu lihat," jelas Alexa turun dari atas tempat tidur.

"Tidak seperti yang aku lihat?!"

"Aa,,aku ,,, bi,,bisa jelaskan semuanya," ucap Alexa terbata.

Napas Jaden naik turun menahan amarah yang sudah sampai diubun-ubun. "Tidak seperti yang aku lihat?!!! Kau pikir aku ini buta, hah?!!"

Alexa terdiam. Bingung dan ketakutan sangat terlihat jelas di wajah dan matanya.

Membela diri adalah hal yang mustahil dan tidak akan mengubah kenyataan dirinya telah tertangkap basah oleh Jaden.

Sementara Bima, pria yang telah tidur dengan Alexa dengan cepat mengambil baju yang ada dilantai.

"Jaden ,,," panggil Alexa meraih tangan Jaden. "Dengarkan penjelasanku."

Jaden menepiskan tangan Alexa. "Singkirkan tangan kotormu!" bentaknya galak. "Dasar perempuan tidak tahu diri!! Murahan!! Menjijikkan!!"

Plak!

Tangan Jaden yang besar dan kuat tiba-tiba menampar wajah Alexa. Emosi yang tidak terbendung telah menguasai hati dan logikanya.

Panas. Rasa panas seketika menjalar di pipi kiri Alexa seiring darah segar keluar dari sudut bibirnya.

"Hei, kau berani menampar perempuan?!" teriak Bima tidak terima.

Tatapan Jaden langsung beralih pada Jaden. "I kill you!"

Buuukh!

Tonjokan telak mendarat di hidung Bima.

Buuukh! Buuukh! Buuukh!

Panas menjalar dikepala Bima saat kepalan tangan besar Jaden bertubi-tubi menghantam kepala dan wajahnya.

Blugkhh!

Tubuh Bima roboh saat kaki Jaden menendang perutnya sangat kuat.

"Bimaaa ,,," teriak Alexa histeris melihat Bima tersungkur di lantai dengan wajah penuh luka serta hidung mengeluarkan darah.

Jaden belum puas. Tubuh Bima yang sudah tersungkur, ditendangnya berulang-ulang tanpa ampun.

"Stop! Stop! Hentikan Jaden!" Alexa menghambur menolong Bima yang telah babak belur.

Jaden tertegun. Pemandangan yang sangat menyesakkan dada. Wanita yang telah bersamanya selama tiga tahun sekarang sedang menangisi pria lain.

Bima mengerang kesakitan. Wajahnya penuh luka lebam. Kedua tangannya memeluk perutnya menahan sakit yang luar biasa.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Alexa bersuara gemetar.

Bima meringis menahan sakit. Dilihatnya Alexa. "Aaku ,,, tidakhh sss,, apa-apa. Jangan khawatir."

Buuukh!

Tendangan keras dari kaki Jaden kembali mendarat di perut Bima.

"Brengsek! I kill you!" teriak Jaden geram.

Buuukh! Bukh! Bukhh!

"Jaden hentikan!" pinta Alexa berusaha menahan kaki Jaden. "Aku mohon hentikan. Kamu bisa membunuhnya."

Jaden menghentikan aksinya. Dadanya bergemuruh hebat menahan marah melihat Alexa memohon demi pria yang ada di depannya. Kilat kemarahan sangat jelas tertera di kedua bola mata merahnya.

"Jaden, maafkan aku," ucap Alexa di antara isak tangisnya. "Aku ,,,"

"Cuiiih! Perempuan murahan!" Jaden menarik kakinya kasar dari pegangan Alexa. "Jangan sentuh kakiku dengan tangan kotormu! Menjijikkan!"

Alexa menangis. Tubuhnya berguncang di samping tubuh Bima yang telentang di lantai. "Maafkan aku ,,,," bisiknya lirih.

Jaden menjauh. Melepas dasi panjangnya yang terasa sangat mencekik leher. Andai membunuh bukan suatu dosa, ingin rasanya membunuh kedua orang yang sekarang ada di depannya.

Isak tangis Alexa mengisi udara di sekitar. Suaranya sangat memilukan, tapi tidak bagi Jaden. Isak tangis Alexa bak suara setan yang sedang mengolok-olok harga dirinya.

"Kenapa kamu mengkhianatiku?" tanya Jaden setelah sesaat hanya diam. Suaranya parau bak tercekik dirongga tenggorokan menahan amarah yang berusaha dipadamkan.

Alexa masih terisak. Berjuta penyesalan memenuhi rongga hatinya.

"Aku selalu memberikan semua yang kamu inginkan," ucap Jaden parau. "Bahkan, aku tidak berani menyentuhmu karena aku menghargai kamu sebagai seorang wanita.

"Maafkan aku, Jaden," bisik Alexa pilu. "Aku ,,, aku tidak tahu apa yang telah ku lakukan."

Jaden tersenyum sinis. "Tidak tahu apa yang telah kau lakukan?"

Alexa hanya bisa menangis. Menyesal? Tentu saja dia menyesal tetapi penyesalan atau penjelasan apapun tidak akan mengubah keadaan, semuanya sudah terjadi.

"Menjijikkan! Murahan!"

"Maafkan aku," hanya kalimat itu yang selalu ke luar dari bibir Alexa dengan suara lirih.

"Dari kapan?" tanya Jaden lirih.

Alexa tak menjawab.

"Sejak kapan kau mengkhianatiku?!" Jaden mengulang pertanyaannya.

Alexa lagi-lagi tak menjawab.

"Jawab!!!" bentak Jaden bersuara kencang, menggelegar mengisi setiap udara kamar.

Alexa melonjak kaget.

"Sejak kapan kalian berdua mengkhianati ku?!" tanya Jaden geram. Amarah yang telah reda sekarang kembali memuncak.

"Du,,dua tahun yang lalu," jawab Alexa gugup.

"What?" tanya Jaden tak percaya. Tatapannya sangat tajam melihat Alexa dan Bima.

Alexa menelan saliva. Aura ketakutan terasa sangat kental memenuhi udara sekitar.

"Dua tahun?" Jaden datang mendekati Alexa dan Bima. Berdiri menjulang di depan keduanya yang duduk di lantai.

Alexa menggeser tubuh lebih dekat pada Bima yang masih menahan sakit di sekujur tubuhnya.

"Haruskah aku membunuh kalian untuk membayar pengkhianatan yang telah kalian lakukan selama dua tahun!!" tanya Jaden penuh penekanan.

Mendengar apa diucapkan Jaden, sontak saja Alexa dan Bima kaget. Wajah keduanya langsung berubah pucat.

"Tapi ,,,," Jaden menjeda kalimatnya, melihat Alexa dan Bima bergantian. "Kematian terlalu enak untuk kalian berdua."

"Jaden, tolong maafkan aku," pinta Alexa serak. "Demi cinta kamu untuk aku, tolong maafkan aku."

"Ha-ha-ha-ha," Jaden tertawa lepas mendengar ucapan Alexa. "Cinta apa, hah?!"

Alexa terdiam, tidak tahu harus memberi jawaban apa. Tatapannya jatuh pada lantai yang ada di depannya.

"Cinta yang telah kau khianati?" ledek Jaden. "Cuiih! Menjijikkan!"

Alexa menelan saliva. Air mata tak hentinya keluar membanjiri pipi. Wajahnya semakin tertunduk, tidak berani melihat Jaden yang berdiri menjulang di hadapannya.

"Wanita jalang seperti kamu tidak pantas mendapatkan cintaku!"

"Aaakhhhh!" Alexa menjerit.

Tangan besar Jaden tiba-tiba menarik rambut Alexa ke belakang sampai wajahnya mendongak ke atas.

"Jaden, sakit!" jerit Alexa meringis, tangannya berusaha memegang tangan Jaden yang berada di belakang kepalanya. "Lepaskaaan!"

"Sakit yang kau rasakan sekarang, tidak sebanding dengan sakit yang kau berikan padaku!" ucap Jaden geram.

"Kumohon lepaskan," rengek Alexa merasakan sakit luar biasa, seakan seluruh rambutnya akan lepas dari kepalanya.

Bab 2

Jaden bak orang kesetanan. Tanpa rasa iba sedikitpun, tangan besarnya menarik rambut Alexa sedemikian rupa. Hati yang telah dihancurkan sekarang menjelma bak manusia tanpa nurani.

"Sakit Jaden!" jerit kesakitan tak henti terlontar dari bibir Alexa.

Napas Jaden memburu. Kilat kemarahan dari mata merah serta amarah yang memuncak tak menghiraukan lagi jerit kesakitan Alexa yang menyayat hati. Diseretnya Alexa tanpa belas kasihan menuju pintu keluar apartemen.

"Sakit, Jaden! Tolong lepaskan!" pinta Evelyn masih berusaha melepaskan rambutnya dari tangan Jaden yang menariknya paksa.

Bima tidak tinggal diam. Melihat wanita yang telah tidur dengannya diperlakukan kasar, Bima berusaha bangun mengesampingkan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

"Lepaskan! Lepaskan ,,," pinta Bima lirih diakhiri batuk yang mengeluarkan cairan kental merah pekat dari mulutnya. "Uhukh ,,, uhukh ,,,."

Jaden terus saja menarik dan menyeret Alexa menuju pintu. Keinginannya saat ini hanya satu yaitu tidak mau melihat lagi Alexa yang telah mengkhianati cintanya. Bahkan dengan tega membawa laki-laki lain dan bercinta di dalam apartemen yang telah diberikan olehnya.

Bima berusaha sekuat tenaga untuk bangun, "Alexa ,,," panggilnya lirih.

Jerit kesakitan, kata-kata memohon yang ke luar dari bibir Alexa sudah tidak Jaden hiraukan lagi. Hatinya membeku bersamaan dengan kebohongan yang telah Alexa lakukan.

"Enyah kau dari tempat ini!" Jaden mendorong Alexa keluar dari pintu apartemen. "Wanita terkutuk!"

Brugkhh!

Tubuh Alexa jatuh tersungkur. Selimut yang menutupi tubuh polosnya sampai tersingkap menampilkan sebagian pahanya.

"Wanita murahan! Enyah kau dari hadapanku!" usir Jaden geram. "Cuiiih!"

Alexa menangis sejadi-jadinya. Mata merah penuh air mata serta penampilan berantakan akan membuat iba siapa saja yang melihat, tapi tidak bagi seorang Jaden Smith yang hatinya telah terkoyak.

"Jangan pernah injakkan kakimu di sini lagi!! Aku tidak sudi melihat wajah murahan kau!! Pergiiii!"

"Alexa ,,," panggil Bima dari dalam, masih berusaha merangkak menuju ke arah pintu keluar.

Tanpa membuang waktu, Jaden menyeret Bima keluar. Dilemparnya hingga jatuh tersungkur disamping Alexa yang masih sesunggukan menangis.

Blughhh!

Pintu ditutup Jaden sekuat tenaga sampai menggetarkan seluruh dinding.

"Brengseeek!" teriaknya kencang.

Praaang!

Vas bunga yang tak jauh dari tempat Jaden berdiri dilemparnya ke arah cermin sehingga menghasilkan suara yang memekakan telinga diakhiri serpihan kaca berserakan di lantai.

Praaang!

Lagi-lagi Jaden melepaskan emosinya melempar televisi penghias ruang keluarga dengan asbak.

***

Tiga tahun, sudah tiga tahun semuanya berlalu. Kejadian itu telah mengubah Jaden menjadi sosok pria dingin dan tak mengenal belas kasihan. Jaden tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta. Baginya, wanita hanyalah barang mainan, pemuas hasrat yang bisa dibeli dengan uang.

Hari kasih sayang, 14 Februari yang akan dirayakan penuh cinta bersama Alexa malah menjadi hari bagai masuk neraka. Hari yang tak mungkin bisa dilupakan seumur hidupnya.

Darah kebencian yang mendarah daging pada Jaden telah membuatnya selalu merendahkan kaum hawa. Bagi Jaden, selain ibunya, tidak ada lagi wanita baik di dunia ini.

Tok! Tok! Tok!

Lamunan Jaden terhenti ketika mendengar suara ketukan di pintu.

"Masuk!"

Kati, sekretaris yang diam-diam sangat mengagumi Jaden masuk. Senyum lebar dari bibir berlipstik merah menyala menghias wajahnya.

"Selamat siang, bos."

Jaden melirik sekilas. "Siang."

"Satu jam lagi, kita ada meeting penting," ucap Kati sambil menaruh map coklat depan Jaden.

Jaden menghela napas, menutup laptop lalu melihat intens Kati dari atas sampai bawah.

"Ada apa bos?" tanya Kati ikut melihat tubuhnya sendiri.

"Seksi sekali kamu hari ini?"

Senyum lebar kembali menghias bibir Kati. "Apa bos menyukai penampilanku?"

"Tentu saja," jawab Jaden sambil menarik tangan Kati agar duduk dipangkuannya.

Dengan gerakan manja, tanpa diminta dua kali, Kati duduk dipangkuan Jaden. Kedua tangannya langsung melingkar di leher Jaden.

"Masih ada waktu satu jam lagi. Bagaimana kalau kita bersenang-senang terlebih dahulu?"

"Bukankah tadi pagi kita sudah melakukannya?" sungut Kati manja.

"Aku menginginkannya lagi," bisik Jaden di telinga Kati. "Siapa suruh, kau memakai baju sangat seksi seperti ini."

"Hi-hi-hi," Kati terkikik manja. "Sabar, bos," ucapnya manja ketika tangan Jaden tanpa basa basi langsung menerobos masuk ke dalam rok mini super ketatnya.

"Aku sudah tak tahan."

"Awww ,,, bos, sabar!" Kati menggeliat begitu jari telunjuk Jaden berhasil menerobos kain berenda yang menutupi aset pribadinya. "Pintunya dikunci dulu bos. Nanti ada orang masuk."

Jaden menekan tombol otomatis yang berada di bawah meja. Pintu pun terkunci sempurna.

"Bos sangat tidak sabaran."

Napas Jaden telah memburu. Balut hasrat telah menyelimuti kedua matanya. "Kita pindah ke sofa."

Kati mengikuti apa yang diinginkan bos besarnya. Melangkah, berjalan melenggak lenggok bak peragawati yang berjalan di atas catwalk.

Keduanya duduk bersebelahan, tapi kali ini reaksi Jaden tidak seantusias tadi sehingga membuat Kati jadi bingung.

"Bos ,,,"

Jaden menatap Kati tajam seakan sedang membaca pikirannya.

"Bos, kenapa?" tanya Kati bingung melihat Jaden.

"Kati, apa kamu menyukaiku?" tanya Jaden.

"Maksud bos?"

"Jawab dengan jujur!" ucap Jaden tegas. "Kau menyukai ku sebagai pria dan wanita atau sebagai atasan dan bawahan?"

Kati diam. Pertanyaan sepele, tapi seakan tahu apa yang ada dalam hatinya.

"Jangan menyukai ku!" sambung Jaden. "Buang jauh-jauh perasaan kau itu! Paham!"

Kati diam seribu bahasa. Ucapan Jaden bak pisau yang menusuk jantungnya. Sakit, sangat sakit.

"Jangan berharap banyak dariku. Apa yang telah kita lakukan selama ini, bagiku itu hanyalah kesenangan semata," sambung Jaden. "Kau menjual tubuh dan aku membelinya. Kau paham?!"

Sakit tidak berdarah. Kata-kata Jaden menusuk tepat di jantungnya, tapi Kati bisa apa selain diam karena memang itu kenyataan yang sebenarnya.

"Kau paham?!" tanya Jaden tegas.

"Iya, bos. Saya sangat paham," jawab Kati. Hatinya bagai tersayat sembilu. Pedih dan sangat perih.

"Sekarang pilihan jatuh di tanganmu! Kau tahu bukan apa yang ku maksud?!"

Sesaat Kati hanya diam, namun kemudian berdiri lalu duduk di pangkuan Jaden. "Aku memilih bersamamu," bisiknya.

Jaden tersenyum puas. "Pilihan yang bagus, boneka cantikku. Sekarang puaskan aku!"

......

"Cantikaaa!"

Gadis cantik rambut panjang berponi melihat ke segala arah. Celingak celinguk mencari arah suara.

"Cantika, aku di sini!"

Lambaian tangan dari arah sebrang jalan menarik perhatian Cantika.

"Tunggu di sana! Jangan kemana-mana, aku akan menyeberang!"

Cantika mengikuti apa yang diminta. Menunggu dan memperhatikan temannya menyeberang jalan.

"Aku memanggil mu dari tadi. Dasar budeg!" omelnya begitu sampai dan berdiri depan Cantika.

"Kamu dari mana, Riri?"

"Cari kamu!" jawab Riri.

"Cari aku? Mau apa?"

Riri tidak menjawab. Malah menarik tangan Cantika agar ikut dengannya. "Ayo, ikut denganku!"

"Eh, eh, mau kemana?" tanya Cantika kaget.

Bab 3

"Kita petik buah jambu air!" jawab Riri riang. "Aku ingin makan rujak!"

"Tapi aku tidak bisa panjat pohon!"

"Tak masalah! Biar aku yang panjat. Serahkan masalah itu padaku!" ujar Riri semangat.

Keduanya kemudian berlari kecil menuju kebun yang tak jauh jaraknya dari rumah Cantika.

"Wah, jambu airnya sudah merah!" seru Riri setelah berdiri dibawah pohon jambu. "Jadi semangat buat panjat!"

"Hati-hati, Ri!"

Tanpa rasa takut, Riri segera memanjat naik pohon jambu air yang tidak terlalu besar tersebut. Satu petik, dua petik berhasil Riri dapatkan.

"Ri, lempar ke bawah!"

"Tangkap ya!" balas Riri. "Jangan sampai buah jambunya hancur!"

Dengan sigap, Cantika menerima buah-buah jambu air yang dilemparkan Riri dari atas pohon. Setelah merasa cukup, Cantika minta Riri turun.

"Bagaimana? Apa sudah banyak?" tanya Riri setelah turun dari atas pohon.

"Sangat banyak! Kita berdua tidak mungkin menghabiskan ini semua," jawab Cantika.

"Tak masalah. Sisanya bisa kita kasih ke tetangga."

Keduanya lalu pergi ke rumah Riri sambil menenteng kantong plastik berisi jambu air.

"Kamu cuci jambu airnya. Aku akan mengambil bahan membuat rujaknya," ucap Riri setelah keduanya sampai di rumah.

"Ok!"

Tidak lama kemudian Riri datang membawa segala macam peralatan.

"Ibu kamu ke mana?" tanya Cantika sambil memotong buah jambu air.

"Tadi pamitnya mau ke pasar, tapi lama sekali. Aku sampai jenuh menunggu ibu pulang."

"Biasalah ibu-ibu, kalau ke pasar pasti lama."

"Ngomong-ngomong, kamu tadi mau pergi ke mana?" tanya Riri.

"Mau ke toko. Ibu minta dibelikan tepung terigu."

"Aku ikut, boleh tidak?" Riri menawarkan diri.

"Boleh, aku malah senang ada teman di jalan," jawab Cantika.

Tidak ada yang bicara lagi. Keduanya sibuk menikmati rujak jambu air yang sangat menggugah selera.

"Segarnya, tapi perutku sudah kenyang," ucap Cantika menahan pedas di bibir.

"Sama, aku juga sudah kenyang!"

Puas menikmati rujak dadakan, keduanya melanjutkan tujuan yaitu pergi ke toko bahan kue. Sepanjang perjalanan tidak hentinya mereka becanda, terkadang terdengar suara gelak tawa mereka memecah kebisingan suara kendaraan yang mereka lewati.

"Tokonya yang mana?" tanya Riri melihat beberapa toko yang ada di depannya.

"Yang itu!" tunjuk Cantika pada satu toko bercat putih.

Di dalam toko nampak seorang ibu paruh baya menyambut kedatangan Cantika.

"Eh,, Neng Cantika, lama tidak pernah ke sini," sapa pemilik toko ramah. "Dengan siapa ini?" sambungnya melihat Riri.

"Teman sekolah," jawab Cantika. "Saya mau beli tepung. Hanya tepung terigu saja. Bahan kue yang lain masih ada."

"Tunggu sebentar, ibu ambilkan di belakang."

Tidak membutuhkan waktu lama, urusan membeli tepung terigu telah selesai. Cantika dan Riri segera beranjak pergi meninggalkan toko.

"Cantika, apa kita mau langsung pulang?" tanya Cantika.

Cantika mengangguk. "Iya."

"Yaelah, jangan dulu pulanglah," keluh Riri. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar. Mumpung kita ada di luar."

"Kemana?"

Riri mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Bagaimana kalau kita keliling pertokoan sekitar sini saja?"

"Ngapain?"

"Aku ingin melihat-lihat baju yang dipajang di etalase," jawab Riri antusias.

"Ih, enggak ada kerjaan banget! Ogah! Malu!!" tolak Cantika gegfak beranjak pergi.

"Cantika, please. Hanya sebentar saja!" rengek Riri memelas.

"Enggak!" tolak Cantika tetap pada pendiriannya.

Riri terus saja merengek sehingga mau tidak mau, akhirnya Cantika mengikuti kemauan Riri.

Senyum lebar langsung menghiasi bibir Riri. "Nah, begitu dong. Ayo!" ajaknya menarik tangan Cantika menuju ke salah satu butik ternama.

"Cukup kita melihatnya di luar saja!" ujar Cantika.

"Tapi di dalam bajunya bagus-bagus! Aku ingin masuk."

"Aku tidak mau masuk!" tolak Cantika tegas. "Jangan bikin malu!"

Akhirnya Riri hanya bisa melihat deretan gaun-gaun yang terpajang dari luar saja. Tak lama kemudian, pintu butik dibuka dari dalam. Pria berwajah blasteran, hidung mancung serta rahang tegas dan bibir tipis berisi keluar dari dalam butik.

"OMG," seru Riri tanpa sadar. Takjub dengan makhluk ciptaan Tuhan yang sangat sempurna.

Pria tersebut berjalan santai melewati Cantika dan Riri.

Deeeg!

Jantung seakan berhenti berdetak pada saat iris mata pria tersebut dan Cantika saling bertemu. Sesaat, roda dunia seakan berhenti berputar.

"Cantika ,,," bisik Riri.

Buyar, tatapan Cantika buyar oleh teguran Riri. Merah merona langsung menghiasi wajahnya. Cantika segera membuang muka melihat ke arah lain untuk menghilangkan kegugupan.

"Mata yang sangat indah," gumam pria tersebut dalam hati.

Setelah itu, pria tersebut pergi tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Langkah kakinya begitu tegas menapaki trotoar yang berdebu menuju mobil yang terparkir.

"Ck, ck, ck, pria itu bagai pangeran dari negeri dongeng. Wajahnya sangat tampan. Ya Tuhan, sempurna sekali ciptaan-Mu," puji Riri.

"Lebay," Cantika mencibir. "Biasa saja kale!"

"Mata kau buta! Pria tampan begitu dibilang lebay," sungut Riri tak terima. "Andai dia mau menjadi kekasihku, akan aku berikan jiwa ragaku untuknya."

Cantika mendengus.

"Hei, lihat! Lihat!!" Riri heboh sendiri. "Pria itu masuk ke dalam mobil sport keluaran terbaru. Waaah,, betapa sempurnanya pria itu!"

"Jangan berlebihan Riri. Di dunia ini banyak pria tampan dan kaya," tegur Cantika. "Mungkin saja, itu mobil punya temannya atau mobil yang dia sewa. Lebih baik kita pulang sekarang. Lihatlah, langit sudah terlihat mendung. Jangan sampai kita pulang kehujanan. Tepung yang ku beli bisa rusak."

"Apa tidak bisa, kita berkeliling satu kali lagi?"

"Tidak!" jawab Cantika tegas. "Kaki ku sudah pegal. Aku ingin pulang!"

Riri mendengus kesal.

"Begitu saja marah," ledek Cantika. "Kalau kamu tidak mau pulang, ya sudah ,,, aku pulang sendiri!"

Setelah itu, Cantika melanjutkan lagi langkahnya.

"Tunggu!"

Cantika semakin mempercepat langkahnya. "Kau tidak usah pulang! Tidur saja di siniii!"

Sementara itu, pria yang dikagumi Riri melajukan mobilnya membelah jalan raya. Pandangannya sangat fokus melihat ke depan. Siapa lagi kalau bukan Jaden Welingstone, CEO muda yang disegani lawan bisnisnya.

Mobil berhenti tepat di depan pagar besi yang menjulang tinggi. Beberapa penjaga rumah nampak sibuk menyambut kedatangan pemilik rumah.

"Bos Jaden pulang, cepat bukakan pintu!"

Pintu terbuka secara otomatis. Perlahan mobil Jaden masuk dengan angkuhnya melewati beberapa penjaga rumah yang berdiri menyambut kedatangannya.

"Bos," pria brewokan kepala plontos segera membukakan pintu begitu mobil berhenti.

Jaden turun. Wajah blasterannya sangat dingin melihat anak buahnya yang datang menyambut.

"Tumben bos sudah pulang," ucap pria kepala plontos.

"Apa ada orang yang mencariku?!"

"Tidak ada, tuan," jawab Rohid sopan.

Jaden melangkah masuk. Kaki panjang yang terbalut sepatu bermerk menapaki marmer mengkilap sehingga menghasilkan irama mengisi setiap udara di dalam mansion.

Rohid, orang yang dipercayakan Jaden untuk mengurus semua keperluannya nampak tergesa-gesa berjalan ke dapur.

"Ada apa, Pak Rohid?" tanya Rani, wanita paruh baya yang sudah cukup lama bekerja di tempat Jaden.

"Tuan Jaden sudah pulang. Tolong buatkan kopi seperti biasa untuk tuan," pinta Rohid.

"Tumben tuan sudah pulang."

"Cepatlah!" pinta Rohid.

Rani mendengus. "Iya!"

Di dalam kamar, Jaden melepas semua yang melekat di tubuhnya, tanpa risih sedikitpun langsung melenggang masuk ke dalam kamar mandi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED