Kirana the modell
"Kiran, pagi ini kamu pemotretan di Vagans, jam 1. 30 iklan produk kecantikan Le' mieree. Malam menghadiri fashion show bergengsi perancang batik terkenal. Kamu bintang tamu pakai master piece dari Mba Gayatri. Kamu cuma satu kali Jalan di puncak acara. Jam 23.00 kita finish, sayang!
"Hemm" Kirana malas membicarakan agenda. Jam makan adalah me timenya. Tak boleh ada gangguan. Selera makannya bisa buyar.
Tak ada penolakan bahkan ketika tidurpun jadwal telah tersusun. Baju telah disiapkan. Bangun pagi pun terjadwal kecuali kegiatan modelling minta dilakukan di jam siang. Kirana larasati berumur 22 tahun. Model yang sedang bersinar.
Bukan sebuah kebetulan karena Mama juga mantan model. Masa depan Kirana telah dirancang Mama bahkan semenjak Kirana masuk sekolah SMP kelas satu atau kalau sekarang ini kelas 7. Dunia Kirana tak jauh dari kelas Modelling, agency satu ke Agency lain. Lomba satu ke lomba yang lain. Seperti rancangan Mama Elisa, Kirana selalu salah satu yang terbaik sebagai peserta lomba atau pilihan anggota Agency model yang terlaris. Itu biasa bagi Kirana maupun Mama Elisa. Prestasi maupun sanjungan adalah makanan sehari-hari Kirana.
Di umur 22 tawaran menjadi model internasional sudah masuk ke Mama Elisa sebagai Manajer Kirana larasati. Semua itu hanya tinggal menunggu waktu karena kontrak kerja iklan dengan perusahaan sabun mandi mengharuskan Kirana selama lima tahun tetap berada di Indonesia. Juga kontrak lain berkaitan dengan fashion show tahunan yang sebagian sudah ditanda tangani kontrak. Jadwal Kirana padat bahkan hingga setahun ke depan. Hebat kan Mama Elisa?
"Ma? Aku cuti dong satu hari besok" rengek Kirana.
"Kirana Besok belum bisa sayang, pemotretan sama you tuber Avril kan? Terus kamu lupa ya? Kamu terpilih jadi Duta Narkoba. Talk show sama Pak Menteri pemuda dan olahraga, lo. Masa begitu pentingnya jadwal bisa lupa. 3 hari lagi, Say! Kita libur. Mama juga cape." Imbuh Mama Elisa.
Kirana merengut. "Hff ... baiklah" jawab Kirana malas. Tak ada penolakan semua sudah diatur, sudah tanda tangan kontrak, kadang sudah terima fee, kadang bisa kena denda melanggar perjanjian kontrak. Jadi tak ada pilihan bagi Kirana selain kata “Baiklah.”
Kirana menumpahkan kekesalannya dengan melukis itupun masih belum tentu bisa. Kanvas dan cat air selalu ada di mobil. Suasana tenang itu tak pernah Kirana temui. Gegap gempita dunia model lengkap dengan fans dan wartawan sungguh sangat berisik. Privasi itu tak pernah ada. Apa yang Kirana sandang adalah berita. Apa yang Kirana makan, berapa banyak, caranya menyendok pun bisa jadi berita bila tak sesuai dengan citra seorang model.
Harusnya aku bangga, di usia 22 prestasi modelku dengan bantuan Mama begitu cemerlang. Ah bahkan Mama sedang dirayu sutradara untuk menjadikan aku aktris film, langsung berperan sebagai tokoh utama di film garapannya.
Sayangnya aku begitu lelah dengan segala jadwal itu. Sejak SMP, eh malah sejak SD aku sudah sedikit berkecimpung didunia modelling. Sudah kuturuti mau Mama. Tak adakah kesendirian hanya tentangku dan mauku di benak Mama. Aku malah tidak yakin aku suka Model.
Aku suka dunia akademis. Aku kuliah S1 dengan nilai IP yang lumayan lo 3,8. Kategori cerdas. Tidakkah Mama tahu aku ingin sekolah S2 atau menjadi orang di belakang Kantor seperti Analis perusahaan. Manajer perusahaan atau mungkin juga aku buka usaha dengan brand khusus. Sungguh aku makin muak dengan modelling.
Setiap hari adalah senyum bias kamera. Senyum yang bukan dari hatiku. Senyum sesuai angle kamera. "Kirana, wajahnya kurang ekspresif!" Ujar sang pengarah gaya. Aku cukup menarik nafas sedikit berkonsentrasi dan klik, klik ... jepretan demi jepretan kamera membanjiri poseku.
Majalah on line kadang tidak hanya memintaku berfoto. Berinstrumen dengan produk melalui rekam video juga harus bisa kulakukan. Buat model lain ini tantangan. Buat ku ini kacangan. Bukan meremehkan, tapi itu makananku sejak kecil. Di mana tantangannya? Aku boleh bangga Kirana larasati tetap salah satu model terbaik yang dipunyai Indonesia. Sayangnya, aku tidak bangga dengan predikat itu.
Aku lebih suka menonjolkan kecerdasanku dengan memamerkan kemampuan tiga bahasaku. Ketika kemampuan tiga bahasaku diuji oleh pers dan menjadi berita seminggu terakhir di media gosip pertelevisian disitulah Kirana larasati merasa bangga. Merasa hidup bila itu tentang kecerdasan otak. IQ.
Bukan lenggak lenggok kaki jenjang dengan tubuh diumbar dibagian mana saja terserah perancang. Bukan wajah penuh kepalsuan dari pemotretan selama berjam-jam. Aku menolak taqdirku.
"No, Kirana. Hells hitam. Kau mau ikut meresmikan butik bukan ke mall. Dear, belajarlah menghilangkan sikap sederhana seperti itu. Aku tahu itu dirimu tapi tuntutan pekerjaan menolak selera seperti itu. Kemewahan dan keanggunan itu adalah citra dirimu sayang. Cam kan. Jangan rusak semua dengan bersikap seenaknya." Mama bicara pelan anggun dan jelas. Aku masa bodoh telah terlalu lelah dengan aturan modelling. Citra seorang model. Pantas tidak pantas.
Tak bisa menolak adalah taqdirku yang lain rupanya, yang bisa kulakukan sambil menghabiskan kegiatan iklan dan modelku adalah bersandar pada kursi lipat ternyaman yang ku bawa dari rumah dan selalu ada untuk memanjakanku. Kakiku kuluruskan membiarkan Jane, asisten dan Arden penata rias profesional yang bekerja padaku mengikuti perintah Mama.
Tak perlu banyak kata karena yang lebih penting adalah mencuri privasiku. Mencoba menjadi diriku walau cuma beberapa detik. Ada rasa puas ketika aku sengaja mengenakan flat shoes atau nekat mencicipi jajanan pinggir jalan tetapi Jane lebih senang mengamankanku dengan terlebih dulu menanyakan apakah ingin membeli somay? Apakah ingin batagor? Yang kadang diomeli Mama Elisa karena berat badanku harus di jaga. Kasihan kan Jane. Jane cuma berusaha mengerti mauku yang kadang ingin menjadi diriku. Ingin punya mau tersampaikan. Tidak dijajah oleh jadwal. Malah dia yang kena semprot oleh Mama.
Aku tahu Jane menyayangiku seperti adik. Dia memposisikan diriku adalah putra mahkota. Eh putri mahkota, kali ya. Ah, yang jelas aku membalas kebaikannya dengan tidak mau di asisteni oleh siapapun kecuali Jane. Kadang Jane marah juga jadi tidak bisa ambil cuti karena aku tidak mau asisten lain. Habis bagaimana lagi Jane, karenamu aku bisa tetap kuliah S1. Kau selalu punya strategi meluluskan mauku dengan 1000 alasan tentang kebaikan bagi seorang model yang kau sampaikan pada Mama. Bahkan les bahasa asing yang ku ambil lagi-lagi atas jerih payah Jane, Mama mau mengabulkan.
Mama tak segan menolak mauku bila satu jam yang harusnya dibayar puluhan juta terbuang untuk belajar. "Kau asisten yang terbaik Jane, jangan tinggalkan aku walau cuti sekalipun. “Hihihi ... " jane meringis tersenyumnya seperti tersedak sendok. Aku kadang kelewatan pada Jane atau Mama yang kelewatan?
Tak pernahkah terpikir oleh Mama aku lelah. Aku muak. Aku tak suka takdirku sebagai model. Aku ingin menjadi orang biasa. Aku tak suka eksploitasi wajah maupun tubuh atau lenggok berjalan. Aku mau orang lain menilai kepribadianku, kecerdasanku, ketertarikanku atau kemampuan lukisku yang menurun dari bakat Papa.
Ah ya, mungkin kau belum tahu Papa dan Mama telah bercerai. Aku hanya tahu Papa dari video call, sambungan telepon beberapa kali dan syukurnya Papa selalu mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Itu sedikit menghibur. Karena cukup menyedihkan ketika anak lain diantar Papanya ke sekolah aku diantar Jono sopir kami.
Waktu pers menanyakan tentang Papa hatiku perih menahan tangis. Cukup aneh bukan Papa sekarang tinggal di Belanda dengan istri dan anaknya.
Lalu aku dan Mama siapa? Kenapa Papa tak pernah ke Indonesia sekedar menengokku walau ia berpisah dengan Mama. Harusnya ketika ku telepon Papa, Papa tidak sedang mencuci mobil dengan Rein, anaknya. Rein adik tiriku tapi sungguh aku cemburu kepadanya. Dia pemilik Papa sejati. Aku hanya putrinya di sambungan jaringan komunikasi. Jadi? Kirana tak punya segalanya kan?
"Ini Jam berapa Jane?" Tanyaku pada Jane. Aku terbangun dan mendapati diriku tertidur dikamarku. Iya aku sadar tadi aku digendong oleh Arden seperti biasa atas perintah Mama dari mobil ke kamar. Aku malam menjelang pagi malah bangun. Yah, kebiasaanku manja dan tak mandiri sehingga harus digendong ke kamar. Aku cukup letih membuat iklan jaringan komunikasi hari ini.
"Jam 2 pagi, Kiran. Aku mengantuk. Ah, kenapa tadi tak ku kunci kamarku." Racau Jane masih dengan mata terpejam.
"Mama tak ada, Jane? Kau tahu dimana Mama? Aku sudah mencarinya ke mana-mana bahkan ke kolam renang." Gumam Kirana santai. Tak peduli Jane terganggu.
"Kiran, bukankah sebaiknya kau tidur untuk fashion show pagi ini." Jawab Jane seenaknya.
"Ah jangan mengalihkan pertanyaanku. Mama dimana? Atau aku besok tak mau berangkat.” Ancam Kirana pada Jane.
"Ooh ... aku benar-benar mengantuk dan kau membuat masalah untukku." Keluh Jane menutup kupingnya dengan bantal.
"Aku jamin kau aman. Beritahu aku, aku ingin bicara dari hati ke hati pada Mama." Dalam keadaan sadarpun Jane selalu jujur apalagi setengah sadar seperti ini. Jane akan selalu jujur padaku karena hubungan kami lebih ke kakak adik yang rukun dari pada asisten dan artis.
"Mama ada di apartemen Gading. Sana tidur lagi. Besok Fashion show" usir Jane memeluk guling.
Aku berbalik tersenyum simpul karena baru saja mengikat jempol kaki Jane dengan kursi. Pasti pagi nanti dia akan mengadu pada Mama. "Hihihi ... oke aku tidur lagi" aku tertawa sambil menutup mulutku takut membangunkan Jane lagi.
Aku kembali ke kamar. Ke ruang tengah. Menonton drakor tapi semua tak menarik minatku. Aku ingin bicara pada Mama. Aku ingin mama mengatur cutiku aku ingin ke Belanda menemui Papa. 5 tahun lalu aku bertemu Papa. Itu sangat lama sekali. Suka tidak suka mama harus memberi ijin.
Kepalaku yang selalu punya ide pembangkangan ini memang terlalu cerdas. Aku mau menemui Mama di Apartemen Gading. Kenapa ya Mama kesana? Mama selalu bilang kalau Mama pergi ke Apatemen Gading adalah untuk Menghitung pembukuan pemasukan hasil kerjaku dan jangan diganggu. Pembukuan adalah hal yang rumit. Mama harus mengatur semua pemasukan ke tabungan, investasi dan lain-lain. Aku ingat semua pesan Mama. Tapi malam ini aku benar-benar akan mengganggu mama tampaknya.
Ini sudah menjelang pagi. Harusnya mama pulang. Mungkin Mama terlalu letih hingga memutuskan menginap disana. Kan’ bisa minta jemput Jono supir kami sih.
Jadi ide dikepalaku yang ingin mengganggu kembali hadir. Rencananya adalah mengendarai mobil sendiri ke Apartemen Gading kami. Aku juga punya kok kunci apartemen Gading. Kadang kalau lelah sekali tempat pemotretan di daerah timur Jakarta aku istirahat di sana. Mama marah tapi surprise hebat untuknya bahwa aku sudah besar dan tak perlu terlalu khawatir menyetir tanpa sopir. Ide yang patut dilaksanakan.
Keamanan? Aku pakai mobil matic. Kuncinya sensor tanganku. Spray cabe buat orang jahat dan jangan keluar mobil. Gawai tak ketinggalan. Baju orang biasa. Aku suka sekali sendal jepit karet, kaos oblong dan celana jeans robek lutut. Ah sangat biasa. Ordinary people. Alakadarnya. aku suka gaya ini. Aku tidak merias diri. Cukup konde cepol sederhana. Aku melihat pantulan diriku di cermin. Kirana yang ceria sederhana dan cerdas.
Yes its me. Bukan si lenggak lenggok genit. Entahlah aku makin tidak nyaman dengan pekerjaan modelling. Entah apa yang salah pada diriku.
Mobil sport ku membelah pagi yang menjelang. Sebentar lagi subuh. Aku asik dengan kemudi. Aku suka kebebasanku. Diiin ... mobilku mendadak harus mengerem sambil ku klakson orang di depanku. "Aih gantengnya pakai peci dan baju koko. Sayang, menyeberang ke masjid ngga hati-hati. Eh apa aku yang terlalu ngebut?” tanyaku sendiri.
Ehm ... aku gigit bibirku mengusir kepanikan. Aku yang salah terlalu ngebut rupanya. Ia dokter Randy tetangga didepan Rumah yang hampir kutabrak Aku baru tahu dia rajin kemasjid diujung komplek.
Dr Randy tersenyum padaku. Ih padahal aku hampir menabraknya. Aku membuka jendela mobilku. Sekedar meminta maaf padanya. "Hey, tetangga depan rumah kan? Maaf ya aku ngebut."
"Tidak perlu ngebut sepagi ini, ngga turun ke masjid ?" Tanya Dokter tampan itu sopan.
"Ngga ah buru-buru, sekali lagi maaf ya" Kirana menutup kaca jendela mobilnya siap mengemudikan mobilnya lagi.
Hff ... baru mau keluar komplek rumah udah mau tabrak orang ganteng. Lagian tuh orang aneh, belum adzan subuh juga udah ke masjid mau azan, kali ya? Mau tahajud? Aduh kok jadi kepo hati begindang? Tersenyum-senyum sendiri Kirana di dalam mobilnya.
"Hati-hati, Kirana" seru Dokter bermata teduh, halus dengan senyum yang membuat Kirana berdetak riang.
"aih dia kenal aku? Ah ya Aku model tak salah kalau dia kenal. Setahuku Mama Dr. Radit dulu teman Mama juga. Sayangnya hubungan mereka tak seakrab dulu karena Mamanya Dr. Radith pindah ke kota lain sementara Mamaku asik mengantarku kegiatan modelling setiap hari.
Mobil sudah sampai di parkir Apartemennya. Resepsionis apartemen sudah mengenaliku. Jadi aku ke lantai atas kamar 376 kamarnya tanpa ada kendala. Kamar tertutup. Apa Mama masih disini? Tanya Kirana di hati. Kirana menggesek kartu disisi pintu. Pintu terbuka otomatis.
Kirana agak kaget dengan bisingnya musik di dalam. Musik techno. "Dua gelas ehm ... ini minuman memabukkan." Kirana kenal baunya walau tak pernah meminumnya. Pesta-pesta para model selalu menyajikan minuman itu tapi Mama melarang Kirana untuk mendekati apalagi untuk meminumnya.
Hem ... Kirana setuju pada Mama dalam hal minuman itu. Yang tak dapat Kirana mengerti kenapa di apartemen ada dua gelas minuman memabukkan yang tinggal setengah dan satunya telah tandas. Mama meminumnya? Dua gelas? dengan siapa? Dengan siapa Mama meminumnya?
Mata Kirana menyusuri apartemen itu. Musik keras dan lampu temaram. Pintu salah satu kamar terbuka. Ada suara berdesis. Lirih. Kirana takut melihat ke dalam. Kirana menduga apa yang terjadi dikamar itu. Suara-suara itu semakin jelas ketika Kirana mendekat. Kirana takut sekali dugaannya benar.
"Oh Ronald ... " Suara itu ... suara Mama. “Ronald, siapa Ronald?” Kirana memberanikan diri mengintip ke kamar yang pintunya terbuka itu. Mata Kirana nanar tak percaya melihat pergumulan dua manusia diatas ranjang tanpa busana. Keduanya tak menyadari sepasang mata Kirana menunduk, kecewa dan jijik melihat keadaan mereka.
"Mama ... kenapa Mama berbuat menjijikan seperti itu. Laki-laki bernama Ronald itu tampak lebih muda dibanding Mama. Mungkin seusiaku." Kirana mengigit bibirnya. Kesal. Kirana berbalik menuju pintu semua jelas bagi Kirana. Setelah rasa terkejut, tak percaya kini rasa jijik yang menguasai perasaan Kirana. Jadi Mama tidak menghitung pembukuan keuangan kami. Mama selalu bilang ke apartemen tidak mau diganggu karena ia punya simpanan laki-laki muda.
Ah ... Ma, aku malu melihat perilakumu tadi. Engkau melarangku berdekatan dengan pria atau berpacaran untuk menjaga prestasi dan karirku. Nyatanya kau tak menjaga sama sekali kehormatanmu sebagai ibu dimataku. Seandainya kau menikah lagi itu lebih pantas dari pada .... Kirana mencoba menghapus bayangan yang masih jelas diingatannya.
Pada saat kecewa begini ingin rasanya Kirana lari memeluk Papa. Sungguh makin sedih menghadapi kenyataan Papa Kirana cuma ada dalam jaringan komunikasi gawai. Bukan Papa yang bisa dipeluk.
Bulir air mata Kirana mengalir begitu saja? Untuk apa Kirana bersedih? Mama seorang janda tak punya suami? Harusnya Kirana sedikit mengerti. Ah ... siapa yang sanggup melihat mamanya seperti itu? Mama yang Kirana kenal adalah wanita baik-baik terpelajar sopan dan anggun. Ternyata itu topeng. Mama Elisa larasati adalah penyuka daun muda. Brondong. Gigolo. Apapun nama pekerjaan terhina laki-laki busuk itu Kirana akan menyumpahi laki-laki itu segera mati. Karena bàw5wwerani menggoda Mamanya. Jelas sekali laki-laki itu masih muda dan melakukan dengan mamaku di apartemen. Pasti dia bukan orang baik. Bukan orang berduit pula. Jadi pasti ia gigolo. Laki-laki muda Pemuas nafsu tante-tante kaya. Kirana bergidik membayangkan prasangkanya.
5
Kejadian itu dua tahun lalu. Kirana memergoki Mama tapi terlalu kelu untuk sekedar bertanya atau meminta penjelasan. Buat apa? Bukankah nanti Kirana yang salah karena keluar seorang diri dini hari. Mengendarai mobil sendiri. Mama selalu benar dalam menasihati. Rupanya tak benar dalam bersikap untuk dirinya sendiri.
"Kiran, di film ini kamu harus belajar akting sama Pak Mus. Anak teater Semeru yang terkenal itu di bawah bimbingannya. Beberapa Artis senior juga les akting sama dia. Paham?"
"Jangan kecewakan Mama dan seluruh kru. Bermainlah penuh totalitas."
"Hemm ..." memang ada pilihan jawaban lain untuk Mama?
"Iya jawab iya, yang lantang dong, sayang!"
Mama? Kiran ngga boleh kecewakan Mama? Mama boleh kecewakan Kiran? semua itu cuma bergaung dihati Kirana. Didikan Mama disiplin keras serta jawaban iya untuk semua instruksi adalah rutinitas yang terbenam di otak Kirana.
"Kenapa termenung? ada apa dibenak kamu, Kiran. Cepat minum jus mu. Itu bagus untuk kulitmu. hari ini kita berangkat lebih awal. karena tempat shooting agak keluar kota."
Seharian ini aku terus mendengar cut, action. Berulang-ulang tak aesulit yang kubayangkan karena les akting yang kuterima. Lumayan sih aku lihat bentuk mentah aktingku. Pujian berseliweran lagi buatku. Aku cuma tersenyum. Apasih yang diributkan orang-orang ini. Ada skenario, ada sutradara. Letak sulitnya tak perlu sampai mengerutkan dahi.
Aku masa bodoh dengan aktor bodoh tapi tampan yang harus terus mengulang adegan. Aku heran dia model dari australia katanya walau kewarganegaraan indonesia. Demi untuk film ini dia meninggalkan Aussy. Segitunya demi peran film? Bakat tak ada memaksa menjadi aktor.
Aku searching tentang Sammy aktor yang baru belajar Akting ini. Kesalnya dia lawan mainku di scene 14. Take berikutnya. Oh ... tampan tapi tak berbakat itu? Dari yang kubaca tampaknya dia model yang bergengsi di negaranya. Dia sudah tingkat Asia. Beberapa kali dipakai Dolce Gabana prancis. Sedang berpacaran dengan Yurike. Temanku model yang sekarang merambah sinetron.
"Cut. Break!" Sammy ada apa denganmu? teriak sutradara frustasi.
"Gadis itu berhasil membuatku salah tingkah! Jauhkan dia dariku dulu." Pintanya mengeraskan suara pada sutradara. Dia berbisik kepada sutradara dan asistennya namun aku mengetahui arti bisikannya ketika Asisten sutradara memindahkan singgasanaku. Asisten sutradara itu memohon pada Jane dengan sopan agar posisi dudukku tak mengganggu aktor bodoh itu berakting.
"Hah, apa? Aku mengganggu? Aku tak salah dengar? Dasar tak berbakat!" kataku menyindirnya.
Posisi dudukku mengganggu konsentrasinya. Asisten sutradara memohon dengan sangat dan meminta maaf langsung padaku agar aku memindahkan bangku santaiku yang sedang kududuki ini agak dipinggir agar tidak terlihat oleh si Sammy sialan itu untuk konsentrasi. Heh, berlagak, dasar kacangan ya kacangan. Jane menyiapkan posisi yang nyaman juga tak jauh dari pengambilan gambar. aku menurut tetapi mataku meremehkannya.
Hey ... hati-hati kalau bicara Sam kau berhadapan dengan Kirana larasati. Kira-kira begitulah arti tatapku. Dia memandangku tak bersalah bagai tak ada masalah apapun. Mama asik dengan teleponnya dia mengadakan kesepakatan kerja entah dengan siapa. memenuhi jadwalku. tanpa bertanya padaku. Sedikit sangsi juga sih kesepakatan kerja atau ... dengan kekasihnya. Ah aku kenapa buruk sangka seperti ini.
Syuting berhenti sekitar satu jam lebih karena hujan kebetulan kami mengambil adegan diluar. Mama entah dimana, mungkin ke tempat kostum atau make up. yang jelas dia yang paling susah kuajak bicara karena kesibukannya dengan gawai. Walau gawainya urusan kerjaanku. Jane tertidur kelelahan menungguku dibangku santainya. Arden dengan sesama penata rias sedang asik membicarakan tren make up yang baru dirilis perusahaan make up di penghujung tahun kemarin. Tawa genit maupun candaan konyol begitu saja mengalir. Penata rias adalah kru paling cerewet dan banyak yang kemayu seperti wanita walau banyak juga yang memang wanita. Aku tak menyentuh makan siangku. Kepalaku pusing.
"Kau kelelahan perlu sedikit pijat diatas alis dan leher dengan jarimu. Sedikit tekan jangan berlebihan. Tak nafsu makan bisa kau siasati dengan memijit telinga kiri diatas antingmu itu" Nasihat seseorang tampan yang tadi membuatku kesal. Sammy
"sudah? aku tak butuh nasihatmu?" kataku ketus. Dia berlalu mengedikkan bahunya. tak ambil pusing dengan sikap ketusku.
"Aku tak ingin memujimu, tapi tampaknya kau tak bahagia. Aku iba. Bila butuh teman bicara aku ada. boleh kupinjam gawaimu?" Sammy mencomot gawaiku tanpa ijin. sungguh dia sangat kurang ajar.
"Nomorku, bisa kau hubungi kapan saja. aku suka gadis pintar daripada gadis genit.
Deg! bisiknya langsung mengena dihatiku. Jelas dia mengambil kesempatan dengan bicara sedekat itu ditelingaku. padahal bila ia mau lewat tempat ini masih terlalu lebar dan luas tanpa harus menyenggolku. Gawaiku sudah ada ditanganku. dia berbisik tadi sambil mengembalikan gawaiku. Aku ternganga melihat pose sok kegantengannya di profil aplikasi hijau. Hihihi ... dia tampan tapi dengan bertelanjang dada. Pasti dia mau memamerkan perut six packnya. "Sayang aku biasa saja tuh." Batinku tersenyum.
Jane bangun. "Kiran, belum Take lagi?" kata Jane gelagapan.
"Belum" kataku malas. "Jane aku pusing.
"Kau mau obat? Jane bangkit dari posisi tidurnya tampak khawatir. Tangannya siap merogoh tas besar. Mengambil obat.
"No Jane, aku mau kau pijat dengan jari diatas alis. Sedikit tekanan jangan berlebihan."
"Aneh ... begini Kiran?" Jari Jane mengikuti petunjukku.
"Hemm ... "aku terpejam menikmati jari Jane yang pijatannya mengendurkan semua saraf disekitar kepalaku. Aku salah tampaknya, Sammy tak bodoh dalam hal pijatan. Pusing dikepaku berangsur menghilang.
Ting ... pesan masuk darinya. Aku menggoda Arden penata riasmu sehingga ia mau membocorkan nomormu. Coba trik ini setelah pijat diatas alis berhasil : dari garis hidung tarik kearah ubun-ubun beberapa kali. Kau merasa sedikit segar setelahnya. Pesan dari Sammy.
Konyol, dia aktor apa tukang pijat sih? Tapi sejauh ini berhasil. "Jane coba tarik dari pangkal hidung sampai sini, Jane." Kataku mencontohkan seperti yang diajarkan Sammy. Jane menurut. Berulang-ulang, pijatan Jane benar-benar mengurangi pusingku.
“Jane” kataku lagi
“Hemm apalagi?” tanya Jane masih sibuk dengan pijatannya.
“Sekarang pijat disini Jane!" pintaku pada Jane. Tanganku menunjuk telinga. Diatas anting berlianku jari menunjuk. Tekan agak kuat berulang disini Jane.
"Cukup Jane, terima kasih ya."
Aku ambilkan orange jus mu di mobil. Mau kuhangatkan?
"Hem Jane. Aku mau. Tetapi ... “ entah darimana datangnya seorang kurir on line menyerahkan minuman hangat.
“Siapa yang pesan mas?” tanya Jane heran.
“Pemesan Samny untuk Mba Kirana n freinds.” Jawabnya santai.
“Hahaha ... makasih mas.”
Jane tertawa. “Jadi? Membuka hati nih?” ejeknya menahan gelak. Jane menerima itu minuman itu dengan sumringah.
“Ini minuman apa ya Mas?” tanyaku pada kurir on line tersebut?
“Wedang Jahe, Mba.” Kata kurir itu lagi.
"Waw pas banget momennya." Jane mengangkat gelasnya dan tersenyum pada Sammy di kejauhan dibalik hilir mudik kru film Sammy hanya melambaikan tangan dan wajah ramah itu tampak terlalu tampan bagiku. Deg! Apa yang terjadi padaku.
Aku meminum wedang jahe pemberian Sammy. Hangat menjalar ke tubuhku ketika minuman itu kutelan sedikit demi sedikit. Kurasa aku lapar. Sammy benar lagi masalah pijat telinga. Hem, mungkin aku yang terlalu sombong disini. Sammy tak sebodoh yang kukira. Dengan pijatan beberapa menit sarannya dan wedang jahe ini take film berikutnya aku merasa segar.
Hari-hari berikutnya hubunganku dan Sammy mencair. Akrab bersahabat. Mama tak ambil pusing karena memang harus ada keakraban diluar scene untuk ikatan emosional yang lebih tajam ketika aku beradu akting dengan Sammy.