Wanita bergamis hijau dengan tentengan tas bermerek salah brand ternama asal Paris itu berjalan dengan anggun mengikuti lelaki setengah baya yang sebagian rambutnya sudah kelabu. Namanya Damayanti, usianya sudah 57 tahun, tetapi terlihat sepuluh tahun lebih muda. Wajahnya sebenarnya tak cantik, hanya terlihat bersih dan berkilau khas seperti ibu-ibu sosialita yang biasa muncul di Instagram.
Bu Damayanti berjalan mengikuti Sapto Hadi–lelaki berambut kelabu yang terkenal sebagai pengusaha kuliner Ayam Goreng Bu Hadi. Tiga sebelumnya Bu Damayanti sudah menyelidiki keluarga itu. Kesempatan untuk mengenal datang ketika rumah lelaki itu dipasang di salah satu situs jual-beli.
Sapto Hadi sibuk menjelaskan kelebihan rumah yang dijualnya. Rumah dengan luas bangunan 75 m2 itu terletak di hook dengan luas lahan 200 m2. Bu Sosros sebenarnya tak perlu membeli rumah baru, karena perusahaan suaminya bergerak di bidang properti. Ada alasan khusus yang tentu saja tak mungkin ia ceritakan kepada si pemilik rumah. Alasan yang bersifat pribadi.
“Bagaimana Bu Damayanti? Rumah ini sudah saya renovasi. Ini saya hendak jual beserta isinya. Bisa nego, kok, Bu. Yaaa … kurang-kurang dikit dari yang saya patok.” Sapto Hadi berusaha meyakinkan wanita di sampingnya. Sudah hampir enam bulan belum ada satu pun yang melihat rumahnya. Banyak yang menghubungi via telepon, tetapi semuanya perantara alias calo. Dia ingin berhubungan langsung dengan calon pembelinya agar tak perlu menyiapkan fee saat rumah terjual.
“Rumahnya saya cocok, perabotannya sebenarnya saya tak perlu, Pak. Bagaimana, ya?” Bu Damayanti menjeda kalimatnya. Pandangannya menyapu sekeliling. Model mebelnya sudah tua dan ketinggalan zaman. Jelas tak cocok dengan gaya putra sulungnya yang elegan. Namun, bahan kayu yang terlihat kokoh menarik perhatiannya.
Sapto Hadi yang menyadari arah pandangan Bu Damayanti segera menghampiri meja makan dan mengelus permukaannya. “Ini kayu jati asli, lho, Bu. Saya datangkan langsung dari Jepara. Beberapa perabot lain juga sama,’’ujarnya mantap. Ia berharap harganya cocok dan hari ini juga pembayaran diselesaikan. Bank tutup kas sekitar jam tiga, jadi masih ada waktu beberapa jam lagi.
“Pak Sapto mau buka harga pasnya berapa?’’ Bu Damayanti lalu menghela napas. Sebenarnya ia selalu menggunakan jasa asisten untuk membantunya mengurus transaksi. Demi misi pribadi, kali ini ia turun tangan langsung. “Saya yakin rumah ini memiliki banyak kenangan,” lanjutnya.
Bu Damayanti bukannya tak tahu berita gonjang-ganjing usaha Ayam Goreng Bu Hadi. Lelaki di hadapannya terlilit utang sejak meninggalnya sang istri. Segala informasi tentang itu telah ia kantungi.
Sapto Hadi terdiam sesaat. Ia ingat mendiang istrinya. Rumah itu memang ia beli sebelum menikah, tetapi pemilihan perabot semua dilakukan sang istri. Tentu saja banyak kenangan. Mereka sudah tinggal selama dua puluh tahun lebih. Namun, kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk mempertahankan asetnya. Selain modal usaha kuliner yang dibawa lari rekannya, beberapa usahanya juga mengalami kerugian karena ulah orang-orang yang tak bisa dipercaya. Ditambah lagi ada saudara-saudara orang tuanya yang menginginkan bagian warisan dari Keluarga Hadi.
Audia Melodita, putri semata wayangnya telah menentang habis-habisan saat mengetahui rumahnya hendak dijual. Namun, itu satu-satunya jalan keluar terbaik sebelum pihak bank menyitanya. Salah satu kesalahan besarnya adalah menggunakan suntikan modal dari bank karena ambisinya untuk membesarkan usaha dan begitu mudah percaya kepada orang lain untuk membantu mengelola bisnisnya. Namun, nasi sudah menjadi bubur, Sapto Hadi harus cepat mencari solusi terbaik untuk mengatasi kerugian yang lebih besar.
“Saya buka harga satu delapan, Bu. Kalau deal, hari ini juga transaksinya,’’ jawab Sapto Hadi. Semakin lama tawar-menawar, semakin ragu hinggap. Ia bertekad suatu saat akan membeli rumahnya kemabli meskipun nanti harganya jauh lebih mahal dari harga saat ini.
“Satu enam, Pak. Saya berani segitu,’’ ujar Bu Damayanti sambil menatap sekeliling. Tak ada satu pun foto terpajang, padahal ia berharap ada foto keluarga atau foto lain yang memperlihatkan orang yang ia cari.
“Satu tujuh setengah beserta segala isinya, Bu. Tolong jangan ditawar. Kalau satu enam, terpaksa beberapa barang saya keluarkan dari rumah,’’ timpal Sapto Hadi.
Bu Damayanti membetulkan letak kacamatanya. Seharusnya ia tak menawar, karena niat awalnya bukan mendapatkan aset dengan harga miring. “Kalau satu tujuh beserta segala isinya saya bayar hari ini juga. Tanda jadi 500 juta saya transfer sekarang, sisanya kita selesaikan di Bank. Bagaimana?’’
Pak Sapto menggosok-gosok dagunya. Selama dua menit ia terdiam. “Baik, Bu. Satu tujuh bila transaksi pembayarannya hari ini,’’ ujarnya menyerah.
Bu Damayanti mengeluarkan ponsel lalu melakukan panggilan. “Man, masuk ke sini jadi saksi,’’ ujarnya kepada asisten yang menunggunya di mobil.
Beberapa menit kemudian seorang laki-laki berusia awal empat puluhan yang dipanggil Man masuk lalu menghampiri Bu Damayanti. “Saya, Bu,’’ sapanya sambil mengangguk.
“Kamu jadi saksi deal harga rumah ini, ya. Nanti kita ke bank untuk sisa transaksinya,’’ perintah Bu Damayanti.
Lelaki bernama Herman itu mengangguk.
Sapto Hadi mempersilakan Bu Damayanti duduk berhadapan dengan dirinya. Sebentar lagi kalimat ijab transaksi diucapkan. Putrinya pasti sedih saat tahu rumahnya hari ini dijual. Mereka baru sebulan pindah ke rumah yang lebih kecil. Pakaian dan barang-barang pribadi sudah mereka pindahkan. Audia awalnya hendak membawa tempat tidur kesayangannya, tetapi kamarnya di rumah baru hanya berukuran 3x3 meter.
Bu Damayanti mengeluarkan alat token bank berwarna biru. Melakukan transfer via mobile banking dengan nilai besar hanya bisa menggunakan PIN dari token. Itulah kenapa ia membawanya hari ini.
“Pak Sapto punya nomor rekening bank yang ini, ‘kan? Kalau banknya sama, cepat masuk dananya,’’ tanya Bu Damayanti.
Sapto Hadi mengangguk lalu mengeluarkan ponsel dan bersiap mengeja nomor rekeningnya.
Beberapa menit kemudian transfer berhasil. Uang muka telah sampai ke rekening Sapto Hadi. Wajahnya seketika semringah. “Alhamdulillah, sudah masuk, Bu. Kita bisa mulai ijabnya sekarang.”
Tiga puluh menit sebelum kedatangan Sapto Hadi dan Bu Damayanti.
Audia turun dari motor ojek daring lalu bergegas membuka gerbang rumah yang di depannya ada spanduk kecil dengan tulisan ‘Dijual TP. Hub. 08xx xxxx xxxx’. Selain ayahnya, ia pun memegang kunci duplikat. Ada barang pribadi yang lupa ia bawa. Album foto lama yang berisi foto-foto kenangan almarhum ibunya.
Gadis berparas manis itu langsung masuk ke kamarnya. Dadanya terasa sesak saat menyadari akan berpisah dengan segala kenangan di rumah masa kecilnya. Dengan tangan gemetar ia membuka laci di dalam lemari pakaiannya yang sudah kosong. Sebuah album foto lama berbentuk persegi dengan perpaduan hitam-emas ia ambil dari dalam laci.
Hari ini, Audi sengaja cuti sehari dari tempat kerjanya, karena rindu ingin tidur di kamarnya. Sebelumnya ia memastikan gerbang dan pintu utama dikunci kembali agar tak ada orang lain masuk di saat ia tertidur nanti.
“Mah, Audi janji suatu saat akan mendapatkan rumah ini kembali entah bagaimana caranya. Pokoknya Audi janji,’’ lirih Audi sambil memeluk album itu. Ia melangkah perlahan menuju tempat tidurnya yang kasurnya sudah polos tanpa dilapisi sprei.
Foto-foto masa muda ibunya hingga memiliki dirinya tersusun rapi dari halaman pertama hingga akhir. Audia tersisak sambil semakin erat memeluk album foto itu. Ia merebahkan diri di samping kasur lalu tertidur.
***
Sapto Hadi menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan. “Saya jual rumah beserta isi di dalamnya kepada Bu Damayanti dengan harga satu miliar tujuh ratus juta dibayar tunai hari ini,’’ ujarnya lantang. Tangannya ia letakkan di atas kuitansi bermaterai yang barus saja ia tanda tangani dengan Bu Damayanti.
“Saya terima rumah beserta isinya dengan harga tersebut, dibayar tunai hari ini juga,’’ balas Bu Damayanti mantap.
Mereka tidak bersalaman, hanya menyentuh kuitansi penjualan saja.
“Sah!’’ Herman berseru lalu mengangguk.
Audia terlonjak saat mendengar kata sah berkumandang. Kesadarannya masih timbul tenggelam saat kedua matanya terbuka. Apa mungkin ada yang melakukan ijab kabul di dalam rumah ini? Setelah tiga menit duduk, gadis itu beranjak lalu melangkah ke luar.
Bu Damayanti dan Sapto Hadi sama-sama menoleh saat mendengar suara kamar pintu dibuka.
“Audi ….” Sapto Hadi melongo saat menatap putrinya.
“A-ayah ngapain? Kenapa sah-sahan? Jangan-jangan Ayah nikah lagi, ya?’’ Audia syok menatap ayahnya yang sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita cantik yang berpenampilan mewah. Gadis itu lalu menutup mulutnya. “Ayah jual rumah ini untuk menikah dengannya!’’ serunya sambil menunjuk Bu Damayanti.
“Hush! Ngawur kamu, Di. Ini Bu Damayanti yang mau membeli rumah kita,’’ timpal Sapto Hadi.
Bu Damayanti tersenyum. “Tadi di dalam ijab, Pak Sapto menyebut rumah beserta isi di dalamnya, ‘kan? Apakah itu termasuk gadis ini?’’ tanyanya.
Audia tertegun. Suara wanita di hadapannya mirip dengan seseorang yang ia kenal. Ia berjalan mendekat untuk melihat wajahnya dengan jelas. “Tan-tante …,” lirihnya.
“Lho, Audi kenal dengan Bu Damayanti?’’ Sapto Hadi menatap keduanya dengan heran.
***
Audia masih belum percaya dengan apa yang telah terjadi. Bagaimana bisa rumah berserta isinya dibeli oleh Bu Damayanti?
“Maafkan Ayah, Di. Suatu saat rumah itu akan Ayah beli lagi.” Sapto Hadi menggenggam tangan putrinya. “Pegang janji Ayah,’’ lanjutnya.
Bukan itu, Yah. Audia memijit pelipisnya. Di dalam ijab disebutkan dengan jelas bahwa yang dijual adalah rumah beserta isinya. Itu berarti termasuk dirinya yang sedang tertidur di dalam kamar.
“Ayah tahu apa yang Ayah lakukan?’’ tanya Audia. “Mana ada seorang ayah yang menjual putrinya sendiri,’’ lanjutnya dengan bibir gemetar.
“Mana ada jual-beli manusia, Di. Bu Damayanti juga paham itu,’’ timpal Sapto Hadi.
“Ayah juga kenapa mengiyakan saat Bu Damayanti menjodohkan Audi dengan putranya,’’ protes Audia.
“Ah, itu A-ayah ….” Sapto Hadi menggaruk kepalanya. “Tapi rumah itu nanti bisa menjadi milikmu kembali, Di. Ingat pesan Bu Damayanti, rumah itu katanya akan diberikan kepada putra dan menantunya. Di, daripada jatuh ke tangan orang lain, makanya Ayah refleks mengiyakan saja,’’ lanjutnya membela diri.
“Aih, Ayah ini.” Audia merasa kepalanya pusing. Pertama, soal bos yang suka seenaknya di kantor. Siapa lagi kalau bukan Affangga, CEO yang ketus dan dingin. Ia berencana mengajukan surat pengunduran diri karena tidak tahan bekerja dengannya, tetapi melihat kondisi sang Ayah, niat itu ia urungkan.
Apakah perjodohan antara dirinya dan putra sulung Bu Damayanti adalah jalan keluar terbaik saat ini? Bukankah ia selain mendapatkan rumahnya kembali juga bisa keluar dari perusahaan milik Affangga?
Setahun sebelumnya.
Audia Melodita–lengkap dari gadis berkulit kuning langsat dengan gigi ginsul dan sepasang mata besar berbulu lentik yang sedang menanti keputusan penting di dalam hidupnya. Ia mengenakan blus berwarna hijau pastel dengan motif bunga-bunga mungil berwarna putih. Kulot panjangnya berwarna senada, begitu juga dengan hijabnya. Secara keseluruhan penampilannya menarik. Senyumnya mengembang dan gesturnya menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi.
“Mbak Audia lulus setahun lalu?’’ Seorang lelaki berusia awal lima puluhan dengan kumis tipis menatap portfolio yang dipegangnya. Namanya Wirawan–Manajer HRD perusahaan tempat Audia melamar, PT Puri Sasra Property, salah satu perusahaan milik Raharja Group yang fokus di pembangunan mal, hotel, dan apartemen.
“Benar, Pak.” Audia mengangguk. Setahun menganggur bukan tanpa alasan. Ia merupakan salah satu lulusan terbaik di Jurusan Arsitektur sebuah universitas ternama di Jakarta. Ia juga pernah menjadi juara dalam sayembara desain yang diadakan oleh perusahaan telekomunikasi terbesar di masa kuliah dulu.
“Ini desain-desain yang Mbak kerjakan?’’ tanya Pak Wirawan sambil membolak-balik lembaran kertas di dalam map.
“Iya, Pak. Masih ada beberapa desain proyek pribadi bila menurut Bapak itu masih kurang meyakinkan,’’ jawab Audia. Jantungnya berdegup. Saat ini ia membutuhkan pekerjaan dengan gaji tetap.
Sejak ibunya meninggal, usaha sang ayah mengalami penurunan. Sebuah pukulan berat di saat seorang Sapto Hadi sedang berjaya dengan usaha kulinernya selama lima tahun terakhir. Setahun sebelumnya banyak peristiwa tak masuk akan terjadi, dari mulai bahan-bahan makanan yang membusuk, sampai pegawai yang sakit tiba-tiba. Cabang-cabang di luar kota terpaksa ditutup dan hal ini berimbas kepada Audia.
Putri tunggal Sapto Hadi itu awalnya berencana mendirikan perusahaan kecil di bidang desain. Menjadi pegawai di perusahaan orang lain tidak ada di dalam kamus keluarga besarnya. Namun, terkadang kenyataan tak sejalan dengan keinginan. Roda kehidupan berputar dengan cepat. Di sinilah kedewasaan Audia diuji. Ia yang sejak kecil tak pernah kekurangan harus menerima kenyataan bahwa sudah saatnya berdiri di atas kaki sendiri.
Pak Wirawan manggut-manggut. “Sebenarnya Mbak Audia sudah diterima di sini. Hasil tes dan wawancara tempo hari sudah memenuhi standar kami. Hari ini saya memberitahukan tentang aturan di perusahaan ini,’’ ujarnya.
Wajah tegang Audia perlahan mencair. Kedua matanya berbinar bahagia. “Alhamdulillah. Terima kasih, Pak ….”
“Wirawan.” Manajer HRD itu menyebutkan namanya.
“Terima kasih, Pak Wiarwan. Saya senang sekali bisa bergabung di perusahaan ini,’’ timpal Audia dengan senyum merekah.
“Training selama tiga bulan. Setelahnya ada evaluasi untuk menentukan apakah nanti layak menjadi pegawai tetap atau tidak. Untuk gaji, pegawai training berbeda dengan tetap, ya. Tunjukkan yang terbaik di sini, karena itu akan menentukan berapa besar kami akan menggaji Mbak Audi. Sekali lagi saya ucapkan selamat bergabung dengan Puri Sasra,’’ jelas Pak Wirawan.
Audia mengangguk mantap. “Terima kasih, Pak. Insyaallah saya akan memberikan yang terbaik untuk perusahaan.”
***
Audia diangkat sebagai Arsitek Junior di Divisi Manajemen Properti setelah berhasil melewati tiga bulan masa training dengan hasil yang memuaskan. Divisi itu dipimpin oleh Santi Atmaja, seorang arsitek senior yang mumpuni. Selain orangnya low profile, ia juga pemimpin yang andal dan ramah.
Hanya dalam tempo setahun, Audia bisa menyesuaikan dengan ritme kerja di Puri Sasra. Sifatnya yang supel dan ceria membuat ia cepat membaur dengan rekan-rekan kerjanya. Salah satu yang dekat dengannya adalah Hernina Luisa yang biasa dipanggil Nina.
“Bu Santi dapat promosi, Di,’’ ujar Nina yang meja kerjanya di samping Audia. Ia menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tak ada yang memperhatikan.
Audia yang sedang menggambar detail fasad proyek mal baru langsung menoleh. “Bu Santi diangkat jadi direktur?’’ Dahinya mengernyit. Sudah seminggu lamanya Audia belum berjumpa dengan atasannya.
“Sssttt … jangan keras-keras. Aku dengar Bu Santi bakal dipindah ke Surabaya. Beliau pegang proyek di sana. Kata Pak Wirawan gantinya belum ada, jadi bakal di-handle langsung sama putra Husein Sasra yang baru pulang dari Jerman,’’ bisik Nina.
“Yaaah padahal aku cocok banget dengan Bu Santi, Nin. Banyak ilmu yang kudapat pula. Kenapa arsitek senior di sini enggak dipromosiin aja buat gantiin? Ada Mas Banu dan Mbak Ayas yang sudah lamaan di sini,’’ timpal Audia.
Nina hanya mengangkat bahu. Ia mencari tahu profil putra sulung Husein Sasra pemilik Puri Sasra yang merupakan generasi ketiga keluarga Sasra Raharja. Keluarga itu jarang diberitakan di media. Kecuali soal perusahaan yang muncul di media bisnis, kehidupan pribadi setiap anggota keluarganya benar-benar tertutup dari publik.
Saat ulang tahun perusahaan tiga tahun lalu, ia pernah berjumpa dengan putra sulung Husein Sasra, Affangga Sasra Raharja. Kabar bahwa ia akan menikah membuat banyak hati di Puri Sasra patah. Cinderella hanya ada di dalam dongeng. Seorang pangeran tentunya menikahnya dengan seorang putri juga.
“Namanya Affangga Sasra Raharja, Di. Ini aku nemu profilnya. Barangkali kamu mau tahu. Nanti pas orangnya datang, jangan sampai enggak tahu.’’ Nina menyikut lengan Audia.
Audia menoleh. “Bikin kaget aja, sih. Lihat, nih, sampai salah ngasih simbol, deh,’’ ujarnya kesal. Gadis bergigi ginsul itu melirik sekilas ke layar laptop Nina. Wajah putra pemilik Puri Sasra di matanya biasa saja–datar dan terlihat kaku. Mungkin karena itu foto formal untuk keperluan perusahaan.
“Mas-mas dan nona-nona tolong hentikan sejenak aktivitasnya. Ada pengumuman penting. Segera merapat ke ruang rapat sekarang. Sekian terima gaji.” Bu Tika, asisten Pak Wirawan menepuk tangannya tiga kali. Ciri khasnya saat memberitahukan bila ada rapat dadakan.
Nina dan Audia bangkit dari kursi lalu berjalan mengikuti rekan-rekannya yang lain menuju ruang rapat. Kedua gadis itu memilih duduk di sisi samping pintu ruang rapat agar lebih cepat keluar bila pengumuman penting selesai disampaikan.
Ruang rapat telah terisi, ada satu kursi kosong yang biasa diisi oleh Direktur Utama yang juga menjabat sebagai CEO. Pada sisi samping berderet pimpinan masing-masing divisi.
“Pak Husein yang mana?’’ bisik Audia.
Nina menggeleng. “Katanya Pak Husein kembali ke kantor pusat Sasra Raharja, makanya anaknya yang gantiin. Jangan-jangan hari ini juga bos baru kita masuk,’’ lirihnya.
Lima menit kemudian datanglah seorang lelaki mengenakan setelan jas lengkap diikuti oleh Pak Wirawan dan salah satu direksi. Aura bos memang berbeda. Setiap langkahnya begitu mantap, pandangannya lurus ke depan dengan bahu tegap yang membuat siapa pun serentak bangkit dari duduk lalu menunduk sebagai tanda hormat.
Audia satu-satunya yang tetap menatap. Ia lupa menunduk seperti yang lain. Rasa penasarannya lebih besar, karena sosok itu berbeda dengan foto yang diperlihatkan oleh Nina. Tingginya sekitar 180 cm dengan berat badan seimbang. Rambutnya hitam tebal dan tampak rapi seperti diolesi minyak rambut sejenis Pomade. Kulitnya kuning langsat cenderung gelap. Ia memiliki sepasang mata sipit yang dinaungi sepasang alis tebal. Bagi sebagian orang wajahnya good looking, tetapi bagi Audia tidak, karena gadis itu tak menyukai lelaki berjambang.
Affangga tersenyum formal saat Pak Wirawan mengarahkannya ke ruang rapat. Sudah hampir tiga tahun ia tak masuk ke Kantor Puri Sasra. Semua mengira ia pergi ke Jerman untuk melanjutkan S-3. Padahal dia hanya menyingkir jauh dari tempat yang meninggalkan jejak menyakitkan. Saat ini, hatinya telah tenang dan siap bekerja kembali membesarkan Puri Sasra.
Langkah Affangga terhenti ketika pandangannya sampai kepada seraut wajah tak asing. “Ashayla …,’’ lirihnya dengan jantung berdegup kencang saat menatap Audia.
Pak Wirawan yang menyadari Audia tak memberi hormat segera memberi kode dengan jarinya kepada gadis itu. “Mbak Audi,’’ bisiknya.
Audia terkejut lalu buru-buru menunduk.
“Maaf, Pak Affa, ini pegawai baru stafnya Bu Santi,’’ jelas Pak Wirawan. “Namanya Mbak Audi, Arstitek Junior.”
Affangga hanya mengangguk lalu kembali memasang ekspresi seperti semula. Wajah pegawai baru itu mirip sekali dengan mantan tunangannya. Kenapa bisa ada kebetulan seperti itu? Tiga tahun meninggalkan segala kenangan pahit, kembali lagi malah berjumpa dengan gadis yang begitu mirip.
Setelah Affangga duduk, yang lain mengikuti.
“Assalamu’alaikum, selamat pagi menjelang siang rekan-rekan Puri Sasra. Kami memanggil tiba-tiba, karena ada pengumuman penting yang akan mengubah wajah perusahaan kita ke depannya. Seperti kita ketahui bersama, Pak Husein telah kembali ke Sasra Raharja Group dan hari ini, Dewan Direksi akan memperkenalkan pengganti beliau. Kepada Pak Affangga, kami persilakan,’’ jelas Pak Wirawan.
Audia merasa pandangan bos barunya kurang bersahabat saat menatap dirinya. Apa sikapnya tadi membuat sang bos marah?
***
“Di, dipanggil Pak Affa!’’ Nina menepuk bahu Audia.
Audia mengernyitkan dahi. Apa ada kesalahan yang ia lakukan sampai seorang pimpinan perusahaan memanggilnya?
“Kira-kira ada apa, ya, Nin?’’ tanya Audia. Apa mungkin gara-gara ia lupa memberi hormat saat perkenalan seminggu lalu?
Nina mengangkat bahu. “Tanyain proyek yang dipegang sama Bu Santi kali. Penggantinya, kan, belum ada, makanya tanya ke timnya,’’ jawab Santi menebak.
Audia baru saja menyelesaikan desain mal baru milik Puri Sasra di daerah Sawangan. Mal yang terintregrasi dengan apartemen yang telah dibangun sebelumnya. Gadis itu lalu bergegas menuju ruangan Affangga. Kenapa bukan arsitek senior yang dipanggil?
“Bapak ada?’’ Audia menyapa Bu Linda, sekretaris Pak Husein yang usianya menjelang kepala lima. Sekarang ia menjadi sekretaris Affangga.
Bu Linda mengangguk. “Masuk saja, Mbak,’’ jawabnya ramah.
Setelah mengetuk pintu, Audia melangkah perlahan. Baru kali ini ia masuk ke ruangan pimpinan tertinggi Puri Sasra. Biasanya yang dipanggil setidaknya sekelas jabatan Bu Santi.
“Maaf, Bapak memanggil saya?’’ sapa Audia hati-hati.
Affangga yang sedang serius dengan dokumen di mejanya terlonjak. Akibat melamun, ia sampai tak mendengar ada suara langkah kaki mendekat. “Kalau masuk ke ruangan saya, tolong ketuk pintu dan baru masuk setelah saya bilang masuk,’’ ujarnya untuk menutupi keterkejutannya.
“Sudah, kok, Pak. Saya ketuk tiga kali, salam juga, kok,’’ timpal Audia.
“Saya enggak dengar. Tolong kamu keluar dulu, lalu ulangi lagi seperti yang saya minta,’’ perintah Affangga.
What? Audia melongo.
“Jangan membuat saya mengulang kembali apa yang saya perintahkan.” Affangga berkata dingin.
Audia menghela napas lalu berkata. “Baik, Pak.”
Bu Linda mengernyitkan dahi saat melihat Audia keluar lalu membalikkan badan dan mengetuk pintu.
“Kenapa, Mbak?’’ Wanita yang mengenakan setelah abu-abu itu menatap heran.
“Replay, Bu,’’ jawab Audia sambil nyengir. Apa ada pimpinan yang seaneh Affangga? Ia yang melamun, kenapa stafnya yang disalahin.
“Masuk!’’ seru Affangga sesaat setelah mendengar suara salam dari Audia.
“Saya, Pak.” Audia melangkah perlahan lalu menyunggingnya senyum formal.
“Ketuk pintu tiga kali oke, salam oke, tapi tanpa ngobrol dengan sekretaris saya. Tolong ulang lagi!’’
Eitdah! Si bos satu ini!
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?’’ Audia tersenyum formal setelah selesai menyapa. Ada sedikit rasa takut sekaligus kesal yang membaur menjadi satu. Seumur hidup belum pernah ada orang yang memerintahkannya melakukan adegan yang sama sampai tiga kali.
Audia tak boleh lupa saat ini posisinya adalah pegawai dan bukanlah putri bos Ayam Goreng Bu Hadi seperti lima tahun yang lalu. Sebuah kenyataan yang beberapa tahun belakangan berusaha ia terima dengan lapang dada. Putri tunggal Sapto Hadi yang dulunya memiliki belasan cabang restoran, kini tinggal kenangan. Saat ini, ayahnya berusaha bangkit dari keterpurukan dan sebagai putri yang berbakti sudah saatnya mandiri dan tak lagi bergantung. Puri Sasra memberikan gaji di atas rata-rata dengan bonus tahunan cukup besar. Jangan sampai dia salah langkah lalu terpaksa mencari pekerjaan lain.
Affangga mengalihkan pandangan ke tumpukan dokumen di sisi kanan mejanya. Audia dan mantan tunangannya tak mungkin orang yang sama. Sudah seminggu ini, ia diam-diam memperhatikan gerak-gerik gadis itu selama di kantor. Audia itu supel, murah senyum, dan cekatan. Selain wajah dan postur tubuh, sifatnya sama sekali berbeda. Ashayla memiliki kepribadian introver sedangkan Audia tampaknya sebaliknya.
Affangga jatuh cinta kepada Ashayla sejak pertama berjumpa saat dikenalkan temannya. Hanya hitungan bulan, dia menyatakan perasaannya lalu memutuskan bertunangan. Terlalu terburu-buru memang, sehingga ibunya mengancam tak akan hadir di hari pernikahannya. Namun, gadis itu tiba-tiba menghilang begitu saja seolah ditelan bumi. Pesan terakhir yang ia kirim via WhatsApp hanya ucapan perpisahan dengan alasan tak bisa menikah dengannya. Sejak itu, nomor ponselnya tak bisa dihubungi.
Anehnya, keluarga Ashayla sama terkejutnya dengan dirinya. Gadis itu benar-benar pergi tanpa pamit. Affangga sudah berusaha mencari tahu dari melacak ponselnya dan menghubungi teman dekatnya sampai memerintahkan orang untuk mencari, tetapi nihil.
Setahun sejak hilangnya Ashayla, ia mendapat kabar dari salah satu kawannya yang tinggal di Singapura. Mantan tunangannya itu terlihat bersama seorang laki-laki muda. Affangga tak menyangka gadis yang lemah-lembut seperti Ashayla tega meninggalkannya.
“Duduk!’’ perintah Affangga. Seharusnya ia tak perlu bersikap arogan di depan Audia. Namun, entah kenapa saat menatap wajah gadis itu, semuanya muncul begitu saja.
“Di sini?’’ Audia menunjuk kursi di depan meja kerja Affangga dengan hati-hati. Ia khawatir melakukan kesalahan dan diminta mengulang sampai si bos merasa puas.
“Ya, di situ, masa di sini.” Affangga memberi kode dengan dagunya ke kursi dengan angkuh lalu mengetuk meja. Apa takdir sedang mempermainkan dirinya? Setelah berhasil melupakan Ashayla, kini muncul gadis yang mirip dengannya.
Audia merasa aneh dengan cara Affangga menatap. Ia menangkap ada rasa kesal dan tak suka. Ini sulit dijelaskan, mengingat mereka baru saja bertemu.
“Bapak ada perlu dengan saya?’’ tanya Audia lalu tersenyum setelah duduk. Posisinya saat ini adalah pegawai di perusahaan lelaki di hadapannya. Salah bersikap bisa berakibat fatal. Sifat dan sikap Affangga berbeda dengan ayahnya. Pak Husein Sasra lebih ramah kepada semua pegawai, termasuk kepada office boy sekalipun.
“Kalau tak ada perlu buat apa saya panggil kamu.’’ Affangga menjawab tanpa menoleh.
Suhu di ruangan mendadak turun beberapa derajat bagi Audia. Selain arogan, sikap Affangga dingin dan ketus.
“Pak Affa itu baik sama stafnya. Dulu pas awal-awal masuk Puri Sasra, enggak terlihat berbedaan antara pegawai dan putra bos. Dia membaur gitu tanpa batasan. Awalnya kami canggung, tapi melihat dia ramah dan asyik, kita jadi ikutan,’’ jelas Mba Ayas beberapa hari yang lalu.
Audia menatap kedua mata Affangga lalu mengangguk. “Apakah ada yang bisa saya bantu, Pak?’’ Senyum formalnya mengembang dengan terpaksa. Ada rasa dongkol yang tertahan di tenggorokan. Saya salah apa, sih, Pak? Ingin rasanya Audia bertanya.
“Tolong jelaskan kenapa konsep Sawangan Great Mall berubah.” Affangga mendorong dokumen di mejanya ke arah Audia.
Gadis yang bermata besar itu menghela napas sejenak. Seharusnya soal konsep yang berubah bukan kapasitasnya untuk menjelaskan. Konsep ditentukan di dalam rapat tim, tugasnya hanyalah mengeksekusi desain interior.
“Sawangan Great Mall adalah mal yang ramah keluarga dan bukan hanya sebuah pusat perbelanjaan dengan fasilitasi standar saja. Contohnya fasilitas ibadah, bila di mal-mal lain musala terletak di basement, di sisi tersembunyi dan terkesan di anak tirikan, mal baru ini menempatkan sebuah masjid di lantai teratas yang di kelilingi area bermain anak, food court, dan sudut-sudut Instagramable. Toilet juga di letakkan di sisi yang jauh dari masjid dengan tujuan untuk membedakan antara area suci dan najis. Kita juga menyediakan toilet difabel dan toilet keluarga,’’ jelas Audia mantap. Beruntung ia telah mempelajari proyek itu sebelumnya. Ia lalu melanjutkan penjelasan yang ia pahami dari Bu Santi.
Affangga dibuat terkagum-kagum dengan penjelasan Audia yang penuh percaya diri.
“Isu responsif gender kita jawab dengan Sawangan Great Mall. One Stop Shopping for All Familly. Pada basement, kami juga menyediakan ladies parking dan priority parking for diffable. Lift dibagi menjadi tiga, lift penumpang umum, lift barang, dan lift khusus untuk difabel. Ruang laktasi sesuai standar Permenkes juga ada pada setiap lantai,’’ lanjut Audia.
Affangga menggut-manggut. Awalnya ia ingin mendebat, entah kenapa justru tertarik dengan penjelasan gadis itu. Namun, wajahnya tetap sama–datar.
“Apa alasan konsepnya berubah? Puri Sasra cukup membangun mal standar saja seperti yang lain, misalnya Margo City. Konsep masjid di mal sudah dilakukan dulu oleh Pesona Square,’’ tanya Affangga. Sebenarnya ia sudah tahu, hanya ia butuh berlama-lama untuk memastikan seberapa mirip Audia dengan Ashayla dan adakah hubungan antara keduanya.
Audia terdiam. Pada rapat pergantian konsep dengan Pak Husein, Bu Santi dan arsitek senior yang hadir. Ia sendiri baru masuk Puri Sasra.
“Bukan kapasitas saya menjawabnya, Pak. Jobdesk saya sebatas interior design. Konsep adalah wewenang Bu Santi, tetapi saya bisa menjelaskan tentang fasilitas apa saja yang membedakan mal kita dengan mal-mal lain,’’ jawab Audia.
Affangga mengangguk. Dengan jarak kurang dari dua meter, dia sudah merekam jelas wajah Audia. Ada perbedaan sedikit, Ashayla tak memiliki gigi ginsul seperti gadis di hadapannya. Sementara itu, Audia memiliki suara yang jelas, lantang, dan penuh percaya diri. Jelas ini berbeda dengan suara mantan tunangannya yang lembut.
“Ada lagi, Pak?’’ tanya Audia saat menyadari ada jeda lama.
“O-oh, Puri Sasra adalah perusahaan pertama tempatmu bekerja, ‘kan? Sebelumnya apa yang kamu lakukan setelah lulus kuliah?’’ Affangga sedikit tergagap.
Audia mengernyit. Apa kemampuannya diragukan?
“Saat kuliah saat ikut sayembara desain dan mengerjakan proyek pribadi,’’ jawab Audia. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Dulu saat awal-awal kuliah, usaha ayahnya sedang berjaya. Hobinya mendesain pun bisa ia terapkan pada interior restoran yang mereka miliki. Itulah yang membuatnya bermimpi memiliki perusahaan desain sendiri.
“Ada lagi, Pak?’’ tanya Audia. Dadanya terasa sesak, bila roda berputar ke atas lagi, ia tak perlu menjadi pegawai di perusahaan orang. Paling berat adalah menekan ego bahwa kini ia hanyalah seorang bawahan.
“Sementara cukup. Dengan nama apa kamu biasa dipanggil?” Affangga sedikit bingung harus memanggil apa, dari tadi ia hanya menyebut kamu.
“Di atau Audi, Pak. Nama lengkap saya Audia Melodita,’’ sahut Audia dengan sopan.
“Ya, sudah, Mbak Audi, silakan kembali ke ruangan. Jangan lupa tutup pintu perlahan dan tolong panggilkan Bu Linda,’’ ucap Affangga lalu kembali menekuni dokumen-dokumen di mejanya.
Audia bangkit lalu mengangguk ke arah Affangga. “Permisi, Pak.”
Saat gadis itu membalikkan badan, Affangga kembali menatap ke arahnya. Gerakan gadis itu cepat dan mantap. Jelas berbeda dengan Ashayla. Apakah ada dua orang gadis yang begitu mirip wajahnya, tetapi tak ada hubungan darah? Kenapa Affangga menebak demikian? Tentu saja karena saudara Ashayla tak mungkin bekerja di perusahaan orang lain.
Keluarga Ashayla adalah keluarga pengusaha turun-temurun. Tak sebesar Sasra Raharja Grup memang, tetapi usahanya bisa bertahan puluhan tahun di segala kondisi ekonomi yang naik-turun. Namun, sejak hilangnya mantan tunangannya, Affangga mendengar perusahaan mantan calon mertuanya itu diakusisi oleh saingan Sasra Raharja Grup. Ia sendiri tak mau ikut campur apalagi kejadiannya saat ia ada di Jerman.
***
“Disuruh ngapain, Di?’’ tanya Nina penasaran saat Audia duduk di kursinya.
“Disuruh jelasin proyek mal baru, Nin,’’ jawab Audia dengan wajah ditekuk. Ia masih penasaran dengan sikap Affangga.
“Wajahmu kenapa?’’
Audia mengangkat bahu. “Kesal aja. Replay tiga kali hanya karena aku masuk, Pak Bosnya enggak dengar ketukan pintu dan salamku. Sudah mirip syuting film aja, nih,’’ jawabnya.
Nina memutar tubuhnya menghadap Audia. “Ah, yang bener, Pak Affa enggak gitu orangnya, kok,’’ ucapnya heran. “Kata senior di sini, lebih asyik beliau yang gantiin Pak Husein daripada cucu Sasra Raharja yang lain.”
“Auk, deh.” Audia mengangkat bahu.
“Pak Affangga ganteng, enggak? Sekali-kali, aku juga mau dipanggil biar bisa lihat wajahnya lebih dekat. Dia kembali dari Jerman tanpa tunangannya artinya available again , ‘kan? Siapa tahun mendadak jadi Cinderella, kayak di cerita-cerita platform menulis gitu, deh, misalnya Cinderella CEO Tampan, My Boss My Husband, terus apa lagi, ya.” Nina mencoba mengingat judul-judul novel yang pernah ia baca sambil mengetuk pipi dengan jari telunjuknya.
“Kalau bos yang satu ini judul paling cocok adalah … Pak Bos Masa Gitu,’’ lirih Audia.