“Fokus!" Sebuah hentakan keras dari laki-laki yang berusia senja itu mengejutkan ratusan mahasiswa baru dan mahasiswa lama yang berada di ruangan itu. Perhatian mereka yang sebelumnya terpencar ke berbagai penjuru, beralih ke sumber hentakan.
“Saya tidak suka kalau kalian main-main! Fokus atau keluar dari ruangan ini!” teriakan bernada tinggi itu keluar dari mulut laki-laki berusia senja itu. Seorang perempuan di antara ratusan mahasiswa baru itu berzikir pelan, menenangkan diri dari efek kejut itu.
“Saya di sini hanya mengingatkan seperti tahun-tahun sebelumnya. Jika kalian meremehkan praktikum pemograman ini, kalian akan menyesal! Kami punya mahasiswa yang gagal lulus karena praktikum ini, jadi jangan diremehkan!” teguran lantang beliau itu di dengarkan dengan seksama oleh ratusan mahasiswa yang akan menjadi peserta praktikum pemograman, sebuah praktikum wajib untuk ditunaikan sebagai syarat kelulusan kuliah pemograman dan kuliah kompetensi teknologi elektro dan informatika.
“Asisten!” teriak beliau lagi. Mahasiswa yang memakai baju khusus laboratorium mereka semua langsung menghadap kepada bapak itu, “jika mereka melanggar peraturan praktikum, segera laporkan kepada saya! Saya akan pastikan nilai mereka E di mata kuliah pemograman!”
Seluruh mahasiswa baru hanya diam hening, Sebagian menelan air liur mereka untuk mengurangi rasa tegang dan takut. Salah seorang asisten laki-laki segera memberikan jawaban.
“Siap Pak Arianto. Akan kami pastikan semuanya lancar,” ucap laki-laki yang di pakaian laboratorium berwarna biru dongker yang dia kenakan terdapat tulisan Legendaria.
“Baiklah. Sekian dulu dari saya. Asisten, ambil alih dari sini!” perintah Pak Arianto. Beliau lalu turun dari podium di ruangan itu dan berbisik kepada beberapa asisten sebelum meninggalkan ruangan. Entah apa pesan yang beliau sampaikan kepada para asisten.
Setelah beliau keluar, seorang asisten perempuan segera naik ke podium dan mengaktifkan proyektor. Tulisan Smile.Princess terlihat rapi di pakaiannya. Asisten lainnya menyebar di seluruh ruangan, mengelilingi para calon praktikan, mereka yang menjadi peserta praktikum.
“Saya akan bacakan peraturan selama praktikum dasar pemograman. Harap diperhatikan dengan seksama dan siapkan catatan kalian. Saya hanya akan membacakan seluruh ini peraturan sebanyak satu kali,” ucap perempuan itu. Semua peserta praktikum menyiapkan kertas catatan mereka. Perempuan itu lalu menyebutkan satu per satu peraturan yang harus dipatuhi praktikan, apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum, saat, dan sesudah praktikum, serta sanksi untuk pelanggaran selama praktikum. Semua mahasiswa mencatat dengan seksama.
“Demikian semua peraturan, ada yang ditanyakan?” tanya perempuan itu. Tidak ada yang menaikkan tangannya, sehingga perempuan itu menyimpulkan tidak ada yang ditanyakan.
“Baiklah. Karena tidak ada yang ditanyakan, saya cukupkan.”
Setelah pertemuan selama satu jam yang menegangkan itu, semua mahasiswa membubarkan diri dari ruangan tersebut. Mahasiswa baru langsung menuju ke papan pengumuman laboratorium X-106. Di sana, mereka mencari nama anggota kelompok mereka serta asisten yang akan membimbing mereka selama praktikum.
Salah seorang perempuan berjilbab hitam tampak sibuk mencari namanya yang dia temukan di daftar kelompok di sana. Perempuan lain di dekatnya yang memakai jilbab merah maroon menyapa temannya yang terlihat kebingungan itu.
“Zihan! Zihan!” teriaknya. Perempuan berjilbab hitam yang bernama Zihan itu segera menuju ke tempat yang memanggilnya.
“Ada apa, Riris?” tanya Zihan. Temannya yang dipanggil Riris itu langsung memeluk dirinya. Zihan tampak sedikit terkejut.
“Kita sekelompok Zih!” teriak temannya itu girang. Zihan tampak tidak percaya, namun tangan temannya yang mengarah ke salah satu kertas di papan membuatnya senang.
Shadox [kontak]
Karim Hakim (7)
Chen Da (5)
Anastasia von Annika (3)
Daniel Anton (3)
Zihan Azizah (1)
Haris Rahma (1)
Alsya Nuraini (1)
Haris Mustaqim (1)
Alif Muttaqien (1)
“Sama Alsya juga,” ucap Riris senang. Zihan juga tersenyum. Tiga sekawan semenjak SMA, Zihan, Riris, dan Alsya, kembali dipertemukan sebagai satu kelompok di praktikum perdana kuliah mereka. Melihat lebih lengkap nama yang ada, Zihan menyadari sesuatu yang salah.
“Sebentar, asisten kita Shadox ya?” tanya Zihan. Riris mengangguk. Zihan tampak berpikir sejenak. Dia pernah mendengar nama itu sebelumnya, tetapi lupa dimana.
“Ada apa dengan Shadox?” tanya Riris. Zihan menggelengkan kepalanya. Bagi Zihan, itu hanya perasaannya saja bahwa dia mengenal nama alias itu. Zihan lalu menatap ke arah Riris.
“Ayo, kita pulang dulu. Aku akan hubungi Alsya juga. Untuk kakak-kakaknya mungkin nanti bisa kita cari,” komentar Zihan. Riris mengangguk setuju dan mereka berdua pergi dari tempat itu.
Sementara itu, beberapa asisten yang menyaksikan mahasiswa berkerumun di depan laboratorium mereka hanya menggelengkan kepala. Salah satu asisten laki-laki yang dipakaiannya bertulisan Faux_Wave memberikan komentarnya.
“Sepertinya mereka bersemangat sekali ya. Gak boleh kalah sama maba, ya kan, Shadox?” komentar laki-laki itu dengan nada bertanya seraya menepuk pundak temannya yang sedang fokus. Laki-laki yang ditepuk pundaknya itu mengabaikan gangguan yang menurutnya menjengkelkan itu.
“Eh, lagi fokus ya? Maaf Dox,” ucap laki-laki itu.
“Mas Faux, mohon jangan diganggu Mas Shadox,” pesan laki-laki dengan kode nama Legendaria.
“Siap bos.” Pesan itu dibalas dengan lantang dan laki-laki yang sedang fokus dengan pekerjaannya itu.
“Menyebalkan,” gumam laki-laki dengan kode nama Shadox itu. Dia kembali mengerjakan pekerjaannya. Dia lalu menarik nafas.
“Ini masa praktikum lagi ya? Sudah ketiga kalinya. Entahlah. Rasanya melelahkan.”
Setelah tiba di tempat kos, aku segera mengganti pakaianku dengan pakaian santai lalu membuka ponsel. Di sana, aku mulai berselancar di dunia maya. Aku membaca beberapa pesan di grup angkatan.
‘Eh, kalian tau gak kalo kepala asisten praktikumnya killer?’
‘Seriusan njing. Aku dapat dia coba.’
‘Yang cewek di depan tadi pelit nilai, Cuma enak ngajarnya.’
‘Oh ya. Aku browsing di internet ketemu cerita ini (link)’
‘Yang bener. Asisten mati? Dafuq.’
‘Itu beneran sih katanya. Yang cewek ama ketua labnya itu adik dia katanya.’
‘Asisten killer katanya.’
‘Turunan njir. Gak kakak gak adik sama-sama bangke.’
‘Sumpah? Yang bener tot.’
‘Sumpah.’
‘Bluk gubluk, ribut trus.’
‘Eh, yang cewek cantik sih cuy.’
‘Ribut kalian.’
‘Padahal asisten dicerita itu tampan ih, apalagi kalo dari dekat’
[mengirim foto]
Eh, cakep nih cowok. Kok bisa sih cakep banget? Masa kayak oppa-oppa Korea sih?
‘Eh, makasih banget lho fotonya. Idola banget uy. Kayak oppa.’
‘Eh, minta oi.’
‘Save aja langsung pintar.’
‘Sudah-sudah. Kok ribut amat. Ini lagi bikin laporan.’
‘Jangan lupa dikontak seniornya.’
‘Oh ya, ini aku kasih kontak senior-senior yang udah tanya lewat aku buat kontak kalian. Masukin grup kalian ya.’
[berbagi kontak]
‘Oke.’
Entahlah. Waktu aku membaca nama-nama di sana, ada nama yang asing. Apakah mahasiswa internasional? Sebuah undangan masuk.
[Alsya membuat grup]
[Alsya mengundang Zihan, Riris, Haris, Alif, Daniel, Chen, Anastasia, Karim]
Alsya: Selamat malam kakak-kakak semua.
Chen: Umm… what is this group for?
Karim: programming, programming lab.
Chen: Ah. I see. So, this is the team.
Karim: Yes. We are one team.
Anastasia: With new students?
Daniel: Yeah. X-106 always mix the students. Eh, sayang, siapa asistennya?
Alsya: Kak Shadox, say.
Riris: Belum apa-apa sudah mulai. Hadeeh.
Alsya: Iri ya say?
Riris: Iya say 😊
Daniel: Shadox? Sumpah dia?
Alsya: Eh? Kenapa Kak Shadox?
Daniel: Waduh. Mampus deh.
Zihan: Kenapa Kak?
Daniel: Itu pelit nilai, killer lagi.
Zihan: Katanya ketuanya killer, cewe tadi pelit, sekarang asisten ini killer. Kok isinya jahat semua itu lab?
Daniel: Ku kira dapat Faux_Wave ☹
Chen: We are doing this the usual, right?
Daniel: Yeah. Though don’t hope much. The assistant is shitty.
Chen: Seriously? Who is it this time?
Daniel: Shadox.
Chen: Ah, I remember that name mentioned quite often. They say that he’s annoying. I find him have a pretty cool appearance. I envied his appearance personally.
Anastasia: Shadox? I think I’ve heard the name somewhere.
Chen: That guy who gives 0 to one of the groups I recall. You know, the time we see a big fat zero on one of the teams last year?
Anastasia: Him!? The hell! I don’t wanna be under his tutelage. Mom! Save me!
Chen: Might be a time to know him a bit better from different sight.
Daniel: Fuck it!
Karim: Calm
Daniel: I cannot be calm!
Aku menghela nafas berat. Sepertinya ini tidak akan berjalan baik bagiku. Oh ya, lebih baik dihubungi dulu.
Zihan: Siapa yang sudah menghubungi Kak Shadox?
Alsya: Sudah ku hubungi Zih, tapi gak dibales ☹
Alsya: Di read doang ama doi
Daniel: Emang kampret orangnya. Nanti tiba-tiba balas. Liatin aja.
Riris: Tapi bukannya kita perlu Kak Shadox buat kasih pra-praktikumnya? ☹
Daniel: Paling dikasih tiga jam sebelum mulai, liatin aja. Tuh orang hafal banget ama jadwal, trus kasih soal dadakan. Bangsat emang.
Karim: Setauku Kak Shadox itu emang rada susah dicari di kampus. Sibuk banget orangnya.
Daniel: Nah itu masalahnya Kak Karim. Kak Shadox ini gak tau diri banget. Sok banget.
Anastasia: I WANNA A CHANGE!
Daniel: Nope. You’re stuck.
Anastasia: DAMN!
Anastasia: Fine. I’ll do it as usual. Hope he’ll be kind enough to us to at least spare us with a PASS button.
Daniel: Hope so.
“Susah dicari, berbahaya, gak ada kasihan, dadakan… ini makhluk sepertinya pengen disumpah,” gumamku kesal. Aku melihat ke arah jendela kos. Satu hela nafas berat aku hembuskan.
“Kenapa harus seperti ini? Ya Allah, salah Zizih apa?” gumamku lemah. Sebuah pesan masuk dari Alsya ke grup aku, Alsya, dan Riris. Grup bernama Trio Bebek.
Alsya: Eh, aku iseng buka wp. Tebak apa yang aku temukan?
Zihan: Fanfic baru?
Alsya: Kalian gak bakal percaya deh.
[Alsya mengirim foto]
Riris: SERIUSAN!?
Zihan: Masa!? Masa!? Itu aku gak salah baca kan?
Alsya: Aku juga gak percaya masih loh gaes! Ini gila!
Zihan: Pantesan aku ngerasa aneh pas liat nama aslab kita!
Riris: Gila! Gila! Aku gak percaya kalo dia sampe orang yang sama lho. Aku yakin beda! Gak! Gak mungkin sama!
Zihan: Gak mungkin! Kebetulan aja itu!
Alsya: Aku suka cerita-cerita dia, tapi gak sadar pas tadi di papan entah kenapa. Shadox.
Riris: GAK MUNGKIN DIA SAHDOX ASISTEN KITA.
Alsya: Shadox Ris.
Riris: Iya, Shadox. Maaf typo. TAPI TETAP GA MUNGKIN.
Alsya: Udah, kita bahas lagi nanti. Ini dari yayang Daniel.
[Alsya mengirim foto]
Aku mulai mengerjakan laporan wajib yang perlu ditulis. Hanya tugas pra-praktikum asisten aku kosongkan. Sisanya aku kerjakan semampuku, tentunya dengan bantuan Alsya, yang dibantu sama pacarnya, Kak Daniel.
Saat pekerjaan itu selesai, jam menunjukkan 4 sore. Aku memutuskan untuk salat Ashar. Setelahnya, aku mengambil perlengkapan mandi dan pergi ke kamar mandi. Air sejuk yang dibarengi dengan suasana hujan di sore hari membuat tubuhku lebih rileks setelah semua pekerjaan menyiksa tadi.
Setelah selesai, aku memutuskan untuk keluar dari kamar kos ku. Kos ini adalah kos campuran, yang notabene jarang di Indonesia karena masalah norma. Tapi, karena harganya lebih murah dengan fasilitas yang sangat bagus. Ortuku dengan berat hati mengizinkanku di sini demi fasilitas supaya belajarku nyaman, meski posisi sangat jauh dengan jurusan. Aku dapat ceramah karena ini kos campuran. Alhasil, sekarang aku keluar dengan jilbab meski di daerah kos. Jika tidak di kamar, wajib berjilbab.
Saat aku keluar, aku melihat seorang laki-laki dengan pakaian asisten X-106 yang berwarna biru dongker mencolok melewati kamarku. Dia tampak mengabaikan keberadaanku dan terus berjalan ke kamarnya yang berada di ujung lorong panjang di lantai dua tempat kos ini.
“Asisten,” gumamku pelan. Aku akhirnya mengabaikan dan berjalan ke teras kos. Sayangnya aku tidak bisa olahraga karena hujan. Aku tidak suka olahraga dalam ruangan. Aku memutuskan untuk duduk di satu dari dua kursi di teras. Sambil duduk, aku membuka ponselku, dengan irama hujan menemani.
Asyik melakukan browsing membuatku tidak sadar kalau seseorang duduk di kursi lainnya. Namun, aku menyadari saat laki-laki berbicara yang mengejutkanku.
“Melelahkan.”
“Eh?”
“Oh. Aku mengejutkanmu?” tanyanya datar. Bagaimana tidak, kamu seperti-
“Asisten praktikum?” ucapan itu keluar tanpa sensor dari otakku. Laki-laki itu menaikkan sebelah alisnya. Dia sepertinya tidak bergeming dengan kalimat itu.
“Lebih tepatnya laboratorium,” jawaban itu keluar tanpa emosi. Di tangan kirinya ada sebuah buku, sementara tangan kanannya ada sebuah bolpoin.
“Menulis apa kak?” tanyaku mencoba mengalihkan topik. Aku tidak ingin ketahuan sebagai maba di jurusan yang sama dengan dia.
“Cerita,” jawabnya datar. Cerita? Aku melihat sekilas ke pakaiannya lebih teliti, dan hanya bisa terdiam tidak percaya.
“Shadox?”
“Itu nama aliasku,” komentarnya datar. Aku masih terpaku tidak percaya. Ini asisten killer yang disebut-sebut oleh Kak Daniel dan senior-senior lainnya. Dia gak terlihat killer di sini. Ingin aku katakan dia asistenku, tapi aku tidak ingin terbongkar kalau aku praktikan sekarang. Mungkin aku bisa sedikit kenal lebih dekat dengan orang ini. Aku ingin membuktikan, apa benar dia Shadox yang menulis karya-karya itu? Apa benar Shadox ini orang yang sama?
“Ah, maaf Kak Shadox,” ucapku sedikit tersipu. Sepertinya dia sadar aku bengong.
“Tidak apa. Aku hanya orang lain di dalam keramaian kok,” komentarnya. Aku berpikir sejenak sebelum memberi komentarku. Aku ingat salah satu tokoh di novel karya Shadox ada kalimat itu.
“Kak. Maaf kalau mengganggu, apa benar Kakak adalah Shadox yang terkenal itu?” tanyaku hati-hati. Laki-laki itu tampak diam, tidak memberikan jawaban.
“Aku hanya orang lain di dalam keramaian,” jawabnya. Dia seperti mengelak dari menjawab. Apa dia benar Shadox itu? Aku memutar otak untuk mencari cara supaya dia bicara.
“Cahaya merahnya membentang seluruh penjuru dalam keabadian,” ucapku. Dia tampak sedikit terkejut, namun segera menyembunyikannya. Untung saja aku menangkap reaksi cepat itu. Berterima kasih karena aku fokus memperhatikan responsnya.
“Kalimat yang indah, mungkin bisa aku pertimbangkan untuk tulisanku,” komentarnya tenang. Ya, dia mengelak. Tapi, reaksi kejut itu cukup untuk menyatakan kalau dia tahu kalimat itu.
“Itu dari salah satu novel yang lagi ramai dibaca saat ini,” komentarku. Dia hanya diam untuk beberapa saat. Apakah aku salah bicara?
“Oh,” ucapnya. Hanya dua huruf yang keluar dari mulutnya. Ini orang ngomongnya irit banget ya?
“Dia tak menjamah dunia, membentuk kenyataannya sendiri,” komentarku lagi.
“Apa kamu suka kalimat-kalimat seperti itu?” tanya Shadox lagi. Aku menganggukkan kepala.
“Aku harus akui, seleramu bagus. Perkenalkan, namaku… Yahya... Yahya Hakim,” komentar Shadox, memperkenalkan dirinya. Dia terlihat ragu menyebut namanya, entah mengapa. Aku menawarkan jabatan tangan.
“Tidak perlu. Jangan mencoba menghormatiku, aku hanyalah orang lain di dalam keramaian,” komentarnya menolak jabatan tangan itu. Dia menatap ke arahku, “siapa namamu, wahai gadis muda nan cantik?”
Tidak mungkin bukan! Salah satu karakter favoritku di novelnya mengucapkan itu pada perempuan yang dia sukai! Aku yakin dia Shadox penulis itu! Meski dia tidak menunjukkan ekspresi hipnotik seperti orang di karyanya, kalimatnya sempurna sama.
Tunggu… Gak. Kontrol dirimu Zihan. Kamu lagi kesulitan membedakan kenyataan dan mimpi terbangmu. Aku menatap Kak Yahya dengan tatapan serius.
“Manis sekali pujian Kakak. Namaku Zihan,” ucapku dengan senyumannya. Dia tidak tersenyum.
“Zihan ya… Nama yang bagus,” komentarnya datar. Dia membuka bukunya dan mengalihkan pandangannya ke buku itu. Isinya hanyalah tulisan yang tidak sepenuhnya tersusun. Sesuatu masuk ke ingatanku. Sebuah ingatan di grup daring komunitas pembaca.
‘Aneh kan, Shadox gak pernah kasih kontak dia sama sekali.’
‘Cuma bisa dihubungi lewat wp, tapi gayanya bagus sih responnya. Cepat dan bersahabat.’
‘Aku penasaran lho dia sebenarnya siapa.’
‘Aku yakin banyak juga yang kayak kamu.’
‘Aku nyari IG, LINE, dan apapun yang berhubungan dengan nama itu gak menghubungkan ke Shadox di WP’
‘Aneh kan? Aku gak ngerti kok dia gitu’
‘Kayak dia sembunyiin dirinya’
“Oh ya Kak-” kalimat itu dipotong oleh Kak Yahya.
“Panggil aku Yahya saja. Aku hanyalah orang lain dalam keramaian,” komentar Kak Yahya lagi.
“Boleh minta kontak Ka- Yahya?” tanyaku langsung menyambung dari pertanyaanku yang terpotong sebelumnya. Yahya menggelengkan kepala.
“Aku tidak terlalu suka media sosial. Hanya menggunakannya setiap akhir minggu atau untuk komunikasi labo-,” komentar itu terpotong oleh sebuah dering pesan ponsel Kak Yahya.
“Sebentar,” komentarnya. Dia tampak sibuk mengetikkan sesuatu dengan cepat, lalu kembali mengantongi ponselnya.
“Aku ada keperluan lab, jadi cukup sampai sini dulu ya. Sampai bertemu lagi,” ucap Yahya dengan lembut, meski wajahnya datar. Aku hanya menganggukkan kepala, meskipun berat karena aku belum mendapatkan kontak Kak Yahya. Dia berdiri, namun sebelum berjalan dia mengambil tangan kananku dan meletakkan sesuatu di sana.
Kertas. Sensasi kasar benda itu adalah sensasi kertas.
“Jangan berikan kepada siapapun. Itu kontak telponku. Terima kasih atas percakapan kecilnya, Zihan,” ucapnya dengan sebuah senyuman kecil yang singkat, sebelum kembali mendatar. Satu titik air jatuh di mata kanannya yang dia abaikan. Dia beranjak pergi, sementara aku hanya bisa terdiam, menyaksikan tubuhnya menghilang di balik pintu masuk kos.
Itu Shadox kan? Asisten killer kan? Aku nggak salah lihat kan? Shadox si asisten killer adalah Shadox sang penulis kan? Semua ini benar terjadi kan? Ada yang bisa beri aku cek kenyataan?
Aku melihat ke tanganku. Sebuah kertas yang berisi nomor ponsel. Aku segera menambahkan nomor itu. Segera, aplikasi LINE memberikan informasi bahwasanya kontak ditambahkan.
“Kak Yahya...,” gumamku pelan. Dia seperti menyimpan sesuatu. Orang bisa mengatakan ada luka yang dia sembunyikan.
“Aku melihat di matamu, airmata mulai berjatuhan,” ucapku pelan. Aku pun kembali ke kamar.
Ingin aku katakan kepada teman-temanku apa yang aku temukan, tetapi rasanya, seperti dia entah mengapa percaya kepadaku. Aku ragu untuk memberitahu, dan akhirnya, aku memutuskan untuk menutup rapat pertemuan ini.
“Aku tidak tahu lukamu apa, tetapi aku akan berada di sisimu,” ucapku pelan seraya membuka pintu kamarku. Aku merebahkan diriku pada kasur di kamarku. Ingatanku masih berputar di pertemuan tadi.
Aku menerima sebuah pesan di grup Trio. Sepertinya Alsya atau Riris.
Alsya: Eh eh, Shadox nulis sesuatu yang menarik di berandanya lho.
Riris: Ini Shadox yang mana?
Alsya: WP, masa yang asisten. Tuh orang LINE aja kagak ada status apa-apa. Kayak mati akunnya.
Zihan: Apa isinya Sya?
[Alsya mengirim foto]
Senja sore menyelimuti ruh ini. Hujan yang bercampur dengan duka membilas bersih mimpi. Dalam mimpi ruh kecil ini, pintaku bertemu pada bidadari kecil. Haturan kasih hamba curahkan pada Nan Agung.
Untuk cerita terbaru saya, rilis bagian ke 21 sudah saya laksanakan. Moga kasih pena menghias dalam mimpi indah pembaca semua.
-Shadox
Alsya: Menarik sih pilihan katanya, tapi baru kali ini dia pake kata bidadari kecil buat status dia.
Riris: Biasanya gak gitu. Paling kalimatnya mendayu, tapi bidadari kecil jelas level berbeda.
Apakah karena percakapan kecil tadi? Aku menggelengkan kepala. Tidak. Seharusnya tidak.
Alsya: Menurutmu gimana Zizih?
Zihan: Aku setuju sama Riris. Jujur gak biasa itu.
Aku menutup grup lalu melihat grup-grup kepenulisanku ikut heboh. Aku memutuskan untuk mengabaikan, karena sepertinya ada sesuatu yang tak kalah penting di grup angkatanku.
‘Woi, yang ngontak asisten Shadox, kalian semua dapat balasan penugasan. Aku diinfokan dari senior semester 3’
‘Eh, seriusan?’
‘Katanya suka detik terakhir’
‘Tenan ta?’
‘Iya, serius.’
[mengirim foto]
Shadox: Selamat malam. Berikut penugasan pertama untuk yang asistennya saya. Harap selesai sebelum praktikum [pranala]
‘nih linknya [pranala]’
‘Wadaw, aku cek tuh link soalnya mampus.’
‘Mending sih, daripada Legendaria’
‘Kak Faux dong, enak cuy’
‘Bangke, enak betul situ.’
‘Udah-udah, kerjain sono kalian tuh tugas.’
“Ribut terus,” komentarku kesal. Aku menutup grup itu setelah menyalin pranala itu. Selanjutnya, aku membuka isi soal yang diberikan Kak Yahya. Soal-soal yang sulit segera menampilkan diri ke permukaan.
“Aduh, apa ini!? Baru praktikum pertama lagi,” keluhku kesal. Aku mencoba menulis semua soal itu, namun tidak ku jawab. Masih ada hari sabtu dan minggu sebelum praktikum. Setidaknya dua hari itu cukup. Aku memutuskan untuk salat maghrib. Setelahnya, aku mulai memikirkan jawaban dari pertanyaan Kak Yahya dengan apa yang telah ku pahami. Hanya satu pertanyaan berhasil ku jawab seadanya, sementara lima lainnya masih belum bisa ku jawab.
“Sepertinya cukup dulu,” keluhku pelan. Pertanyaan ini di atas dari kemampuanku. Aku memutuskan untuk menutup kertas-kertas hasil tulis tangan laporanku itu dan merapikannya. Segera ku ambil wudu, melaksanakan isya, lalu rehat untuk hari jum’at yang melelahkan itu.