Bab 1

Dara menatap tajam pada sosok pria yang berada tak jauh dari dirinya. Pria yang duduk di sofa yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat tidurnya terlihat serius pada pekerjaannya, hal tersebut terbukti dengan jemari yang masih sibuk menari di atas laptopnya. Lelaki tersebut bahkan tak merasa terganggu dengan mata yang sedari tadi mengintainya. Sesekali Dara menarik nafas untuk menambah sisa-sisa kesabaran.

"Kamu nggak tidur, Ra?" Tanya seseorang di seberang dengan pandangan yang tak berpindah dari laptopnya, jemarinya masih sibuk menari di atas keyboard yang bunyi suaranya masih dapat didengar dari jarak yang lumayan jauh antar keduanya.

"Ini mau tidur." Ujarnya seraya menghempaskan dan segera membungkus tubuhnya dengan selimut yang menutupi hingga sebatas lehernya. Sang pria hanya menatap sekilas pada sang wanita yang tidur dengan membelakanginya, namun hanya sekejap, tiba-tiba tubuh yang tadi terbaring kini terbangun kembali.

"Kamu.... nggak ada niatan ngapa-ngapain aku kan, Al?" Tanya sang wanita dengan tatapan menelisik. Sedangkan yang di tanya hanya mengerutkan kedua alisnya.

"Ngapa-ngapain yang bagaimana maksud kamu?" Bukan sebuah jawaban yang diberikan sang pria melainkan sebuah pertanyaan balik yang terlontar.

"Ya pokoknya kamu jangan ngapa-ngapain aku, jangan dekat-dekat aku, jangan tidur seranjang sama aku." Ucapnya dengan nada suara yang lumayan memekakkan telinga, tak peduli jika suaranya bisa terdengar orang lain.

"Jangan tidur seranjang sama kamu?, terus kamu suruh aku tidur di mana?, sebenarnya aku bisa saja tidur di kamar lain tapi apa kata keluarga kita nanti kalau aku tidur dikamar lain dan kamu tidur di sini, sementara ini malam pertama kita." Ucap sang pria seraya melipat laptop yang tadi berada di pangkuannya lalu kemudian diletakkan di meja yang berada depannya.

Ya pria tersebut adalah Alfan, lebih tepatnya Alfan Rasya Mahendra yang tadi pagi secara resmi mengucapkan ikrar akad atas nama wanita yang saat ini duduk di tempat tidurnya. Wanita yang dia nikahi dengan alasan ingin memberikan sosok ibu pada putri semata wayangnya, sedangkan sang wanita yang memiliki nama Dara Maharani itu pun mempunyai sebuah alasan untuk menerima pinangan darinya jika tak ingin wanita yang biasa disapa Dara harus mengikhlaskan dirinya dinikahkan dengan pilihan ayahnya. Memang benar pernikahan mereka adalah pernikahan berlandaskan simbiosis mutualisme semata bukan seperti kebanyakan pasangan suami istri yang menikah berasaskan saling cinta.

"Ya pokoknya aku nggak mau kita tidur seranjang. Kalau kamu nggak mau tidur di kamar lain, kamu bisa kok tidur di sofa." Ucap Dara.

"Kamu....suruh aku tidur di sofa?" Tanya sang pria tak habis pikir, bahkan keningnya sampai terlihat mengeriput setelah mendengar penuturan dari sang lawan bicara. "Kamu Amnesia, Ra?, kamu nyuruh aku tidur di sofa?" Seraya jari telunjuknya menunjuk pada tempat yang saat ini di duduki. "Kamu nggak lupakan? Kalau ini masih rumah aku?, berarti aku yang tuan rumah disini."

"Terus kamu minta aku yang tidur di sofa gitu?, minta seorang perempuan tidur di sofa sementara kamu yang laki-laki bisa pulas tidur di kasur gitu?" Tanya Dara ketus seraya melipat tangannya di bawah dada.

"Emangnya ada kata-kata aku tadi yang suruh kamu tidur di sofa?" Sang pria masih berbicara dengan sikap tenangnya. "Kita tetap bisa tidur satu ranjang Dara. Kalau kamu takut kamu aku apa-apain kamu, aku bisa jamin kalau nggak akan terjadi sesuatu sama kamu. Kita bisa menempatkan guling di tengah-tengah kita sebagai penyekat." Pria tersebut melangkah mendekat ke arah tempat tidur, namun tanpa di duga saat dirinya sudah semakin dekat dengan tempat tujuan justru dirinya mendapat sebuah hadiah bantal yang melayang dari sang wanita.

"Kita sedang nggak dalam pernikahan yang sesungguhnya, Al. Kamu tolong pahami itu." Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, tubuh Dara pun seketika terjatuh ke kasur dengan arah yang memunggunginya. Sedangkan sang pria yang berdiri dekat tempat tidur akhirnya mengambil bantal yang tadi di lempar Dara, kakinya melangkah ke arah almari untuk mengambil selimut karena tak ada seseorang yang akan menghangatkan tubuhnya jika nanti dia kedinginan. Lalu di baringkan tubuhnya pada sandaran sofa , dan mulai dipejamkan kedua matanya sebab merasakan lelah yang teramat karena seharian menerima tamu yang jumlahnya bisa dibilang tak sedikit.

***

Pagi harinya Alfan terbangun lebih dulu dibanding Dara. Dia menoleh pada wanita yang masih meringkuk di bawah selimut. Dilipatnya selimut yang tadi malam menemani tidurnya, lalu kakinya melangkah menuju almari, dikembalikannya selimut tersebut pada tempat asalnya. Kakinya kemudian melangkah pada tempat tidur, ia mengamati perempuan yang sudah sah menjadi istrinya. Tak sadar dirinya menarik kedua sudut bibirnya menatap betapa polosnya sang istri saat tertidur. Sangat berbeda sekali jika nanti dirinya sudah terbangun. Alfan memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.

"Aaa.....kamu mau ngapain?, awas aja kalau berani macam-macam aku akan teriak." Alfan sampai menutup kedua telinganya akibat mendengar teriakan sang istri yang memekakkan telinga.

"Kamu nggak ada hobi lain apa selain teriak-teriak, Ra?" Alfan terlihat santai berjalan ke arah almari yang terlihat tak mempedulikan pada protes dari Dara.

"Kamu bisa kan ganti bajunya di kamar mandi aja, sengaja banget mau cari perhatian aku." Protes Dara lagi. Bayangkan saja saat bangun tidur Dara langsung disuguhkan pemandangan yang menggugah selera hanya saja dia tak mau mengakui, terlalu gengsi baginya untuk memuji betapa seksinya sang suami yang keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk sebatas paha dengan bagian atasnya yang tak memakai apa pun hingga dirinya dapat melihat roti sobek di perut suaminya.

"Kenapa?, kamu takut kalau kamu khilaf?" Kata Alfan dengan seringaianya.

"Jangan mimpi, udah pagi juga." Ucapnya seraya mengalihkan pandangan, bisa benar-benar khilaf nanti Dara jika terlalu lama menatap Alfan.

"Padahal aku nggak apa-apa loh kalau kamu khilaf." Masih dengan senyum saat Alfan menjawabnya.

"Pernikahan ini bukan pernikahan yang sesungguhnya, jadi kamu jangan banyak berharap sama aku. Kita hanya perlu bersikap sebagai suami istri jika di depan orang tua kita. Satu hal lagi, kamu jangan meminta aku melakukan pekerjaan selayaknya seorang istri, karena aku nggak mau dibebani oleh pekerjaan-pekerjaan itu. Aku juga bebasin kamu kalau mau dekat dengan perempuan lain, begitu pula aku berhak dekat dengan pria mana pun karena aku nggak suka di kekang." Ucap Dara panjang lebar.

"Aku nggak akan minta kamu melakukan pekerjaan rumah, karena aku punya asisten rumah tangga yang aku pekerjakan. Aku nggak akan menuntut banyak hal dari kamu, aku hanya minta satu hal sama kamu." Alfan tak langsung berbicara, dia menarik nafas dalam -dalam sebelum kemudian kembali berkata.

Bab 2

"Aku nggak akan minta kamu melakukan pekerjaan rumah, karena aku punya asisten rumah tangga yang aku pekerjakan. Aku juga nggak akan menuntut banyak hal dari kamu, aku hanya minta satu hal sama kamu." Alfan tak langsung berbicara, dia menarik nafas dalam -dalam sebelum kemudian kembali berkata.

"Aku hanya minta kamu menyayangi Kania." Ucapnya dengan tatapan penuh harap.

"Aku terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan, hingga Kania merasa kurang kasih sayang dari orang tuanya. Itulah sebabnya aku minta kamu agar lebih banyak meluangkan waktu untuk Kania. Setidaknya, ada orang yang menemaninya bermain, atau membacakan cerita dongeng sebelum dia tidur." Penjelasan berhasil membuat Dara merasa terenyuh.

"Deal." Balas Dara seraya mengulurkan tangan kanannya sebagai tanda kesepakan yang dibalas uluran tangan pula oleh Alfan.

"Awalnya aku kira kita butuh perjanjian hitam di atas putih, tapi sekarang kurasa tidak perlu. Karena jika kamu mengingkarinya aku punya bukti ini yang lebih akurat." Yaitu perbincangan antar keduanya yang sudah direkam di dalam handpone Dara.

"Kamu bisa pegang kata-kataku." Ucap Alfan bersungguh-sungguh. Sedangkan Dara hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Ya sudah sekarang kita sarapan dulu, mungkin orang tua aku hari ini bakal di sini sampai besok." Lanjutnya seraya berjalan terlebih dahulu dan Dara hanya mengekor di belakangnya. Tiba di ruang makan Dara sudah melihat banyak makanan yang tersaji di meja makan. Alfan sendiri langsung menarik kursi dan mendudukkan bokongnya hal yang serupa dilakukan oleh Dara.

"Ayo Dara makan yang banyak. Enggak perlu sungkan karena sekarang kamu juga bagian dari keluarga ini." Ucap mama Alfan diiringi senyum di wajah ayu nya dan dibalas dengan senyuman pula oleh Dara.

"Oh iya, Al, kalian ada rencana bulan madu ke mana?" Tanya papa yang berhasil membuat keduanya tersedak. Keduanya saling diam hanya tatapan mata mereka yang berbicara seolah tak begitu penting rencana bulan madu mereka.

"Emmm..... aku sama Dara belum ada rencana bulan madu, Pa. Kerjaan di kantor lagi banyak. Jadi nggak akan memungkinkan kalau harus bulan madu dalam waktu dekat ini. Iyakan, Ra?" Tanya Alfan kepada istrinya yang lebih tepat dibilang sebuah pernyataan. Sedangkan sang istri hanya mengangguk disertai dengan senyuman.

"Ohh kirain bakalan langsung bulan madu, jadi nanti biar mama yang akan jaga Kania." Timpal sang mama.

"Papa emang bulan madu itu apa?" Tanya Kania yang sedari tadi tak mengerti dengan pembicaraan keluarganya.

"Emmm....bulan madu ya sayang?, bulan madu ya..ya.. jalan-jalan." Jawab Alfan tergagap.

"Ohhh... berarti kalau papa dan Kania jalan-jalan namanya kita sedang bulan madu ya, Pa?" Tanya Kania dengan polosnya yang membuat sang ayah menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sedangkan Dara beserta kedua orang tua Alfan hanya tertawa mendengar betapa lucunya Kania.

"Nggak dong sayang. Kalau Kania sama papa tetep namanya liburan." Jelas Alfan lagi.

"Kata papa tadi bulan madu berarti jalan-jalan ,terus kenapa sekarang bilang kalau sama Kania namanya bukan bulan madu. " Protes Kania. Sedangkan orang yang berada di meja makan tersebut hanya geleng-geleng kepala dengan sikap kritis Kania.

"Kalau Kania sudah besar, Kania pasti bakal mengerti sama yang dimaksud papa tadi." Ucap Dara setelah sedari tadi hanya menyimak obrolan antara anak dan sang ayah.

"Ya sudah deh, orang dewasa memang ribet. Kania jadi pusing." Ucapnya yang langsung mendapat cubitan di pipi oleh Dara karena memang posisi makan yang bersebelahan di antara keduanya. Lalu kembali hening suasananya, hanya terdengar dentingan sendok yang bertabrakan dengan piring yang saling menyahut.

"Kania sudah selesai kan makannya?" Tanya Alfan yang dibalas anggukan kepala oleh Kania.

"Oke berarti saatnya kita berangkat sekolah. Oh iya Kania nanti bakal diantar sama papa dan mama. Kania senang tidak?" Tanpa bertanya pun Alfan dapat melihat raut bahagia di wajah sang putri. Akhirnya, setelah sekian lama sang putri kini dapat merasakan kasih sayang layaknya teman sebayanya tak ia dapat dari sosok yang melahirkannya ke dunia.

"Senang dong, pa. Jadi sekarang Kania boleh panggil tante Dara jadi mama dong." Kata Kania tak kalah antusias. Pasalnya dia sudah sangat lama menanti momen di mana dia dapat memanggil seorang wanita dengan sebutan mama yang baru bisa terealisasikan sekarang.

"Kenapa harus tanya?, sekarang Kania bisa panggil tante dengan sebutan mama." Mama....ahhh sampai sekarang aku merasa belum terbiasa dengan panggilan itu, masih terasa seperti...... ahhh yang pasti menggelikan sekali, dan kalian perlu tau bahwa dalam mimpi sekalipun tak pernah aku berpikir bahwa anak yang akan memanggilku dengan sebutan mama adalah anak dari teman sekantorku, Alfan.

"Hore.... akhirnya Kania bisa seperti teman -teman Kania yang lain. Kania sekarang punya mama." Kata Kania yang membuat Dara tersenyum miris. Begitu inginkah Kania memanggil mama?, hingga hanya dengan panggilan tersebut ia dapat melihat sorot mata berbinar di wajahnya.

"Kenapa ada seorang ibu yang tega meninggalkan seorang anak bahkan anak itu belum bisa melakukan apa-apa, bahkan makan dan minum pun harus orang lain yang melakukan?, bahkan seekor hewan pun tak akan tega meninggalkan anaknya sendiri, apa salah kamu nak hingga ibu kamu tega ninggalin anak selucu kamu?" Batin Dara bertanya.

********

Suasana sepi hanya suara dari radio yang diputar yang mengisi perjalanan mereka bertiga ke sekolah Kania. Alfan yang fokus menyetir mobil, sedangkan di jok belakang Dara dan Kania pun tak bersuara. Sesekali Kania bertanya tentang apa pun yang dilewatinya. Seperti saat di lampu merah ia melihat anak kecil yang mengamen atau ada pula mengemis, Kania pasti akan bertanya apa anak-anak tersebut tidak sekolah?, atau mengapa mereka harus mengemis?, lalu ke mana orang tua mereka?, bukankah harusnya mereka masih harus menuntut ilmu.

"Mereka adalah anak-anak yang kurang beruntung, bisa jadi mereka berpisah dengan orang tuanya. Jadi Kania harus lebih bersyukur karena hidup Kania lebih beruntung dari mereka." Begitulah jawaban yang di berikan Alfan, dia tak mau hanya karena Kania sempat berpisah dengan ibunya, Kania menjadi anak yang kurang bersyukur. Dalam kehidupan sehari-hari Alfan sebisa mungkin menanamkan nilai agama bagi putrinya. Ia tak mau apa yang dilakukan ibunya Kania kelak dilakukan oleh Kania. Siapa pula yang bisa menjamin putrinya tak akan melakukan hal serupa dengan ibunya jika sedari kecil tak ia ajarkan pemahaman agama.

Mobil berhenti di halaman sekolah Kania, Alfan turun membukan pintu belakang mobil di mana Kania yang turun lalu disusul oleh Dara. Mereka berjalan bergandengan tangan layaknya sebuah keluarga yang bahagia. Dara memindai sekeliling, sekolah yang lumayan bagus. Dapat Dara lihat bahwa Kania bersekolah di tempat yang bisa dikatakan mewah, terbukti dari banyaknya mobil mewah yang keluar masuk gerbang sekolah. Ya wajarlah namanya juga anak satu-satunya. Begitu pikir Dara. Mereka mengantar Kania hingga memasuki halaman sekolah.

"Kamu yang baik-baik disekolah ya Princess, sekolah yang rajin, nanti papa yang akan jemput Princess pulang sekolah oke." Kata Alfan tersenyum seraya melingkarkan jari telunjuk dengan ibu jarinya ala anak-anak muda.

"Mama Dara nggak ikut, Pa?"

"Mama Dara pasti capek, biar nanti papa saja yang jemput Kania." Kembali Alfan menjawab.

"Oh oke deh, nanti Kania di jemput papa saja. Mama istirahat saja di rumah." Ucap Kania dengan seulas senyum yang tersungging di bibirnya.

"Ya sudah, Kania masuk kelas dulu. Dadah mama, dadah papah, emmuahhh." Kata Kania menyalami kedua orang tuanya disertai ciuman di pipi mereka. Kania semakin melangkah jauh, dalam setiap langkah dapat dilihat sesekali anak tersebut akan menoleh ke belakang dan melambaikan tangan kepada dua orang yang masih menatap ke arahnya. Hingga kemudian keduanya melangkah menuju parkiran setelah tak lagi tampak Kania dari pandangan keduanya.

"Mamanya Kania kenapa pergi meninggalkan kalian berdua?" Tanya Dara yang secara refleks menghentikan gerakan tangan Alfan yang hendak membuka pintu mobil.

Bab 3

Disudut ruangan, Dara tertunduk lesu, selepas menerima panggilan telepon dari keluarganya. Bagaimana tidak, pasalnya sang bunda selalu menanyakan dirinya apakah sudah memiliki pacar atau belum. Karena menurut keluarganya seorang perempuan tidaklah baik jika sampai berumur 25 tahun tapi belum menikah. Bisa jadi bahan gunjingan tetangga. Dara mengembuskan nafas kasar lalu menenggelamkan kepalanya di antara kedua tangannya yang berada di meja.

"Masalah menikah lagi, Ra?" Nita bertanya seraya menarik sebuah kursi yang ada di depan Dara. Sontak saja kepalanya mendongak ke atas hingga bertemu sorot mata teduh sang sahabat. Nita merupakan salah satu sahabat dari Dara yang tahu tentang masalah yang sedang dihadapi perempuan itu. Keduanya tak pernah saling menutupi permasalahan yang sedang di hadapi. Mereka akan bercerita dan saling mencari solusi dari setiap masalah.

"Nggak tahu tuh, perasaan kolot banget pemikiran orang tua gue. Belum juga umur 25 udah ditodong suami aja. Dikira cari suami seperti cari baju kali, ya kali baju kalau gak cocok bisa di tukar atau di kasih ke orang lain. Masa iya suami gue mau gue tukar atau kasih ke orang lain, cari suami bagi gue ibarat bagaikan cari jarum di tumpukan jerami, alias sulit." Cerocos Dara dengan wajah di tekuk. Sedangkan Nita hanya menatap iba pada sang sahabat.

"Hai Beib." Sapa Dion seraya melambai -lambaikan tangannya dan langsung mengambil tempat duduk di samping Dara. Gelas yang berisi minuman Dara pun tak luput dari serangan mendadaknya. Dara yang di sampingnya hanya menatap malas ke arahnya.

"Lecek banget itu muka beib." Canda nya yang langsung mendapat sebuah tatapan horor dari si pemilik mata. Sontak beberapa orang yang ada di sana tak kuasa menahan tawa mereka.

"Masih tentang jodoh, Ra?" Tanya Arga, yang mengambil tempat duduk di samping Nita, sedangkan yang ditanya hanya mengedikkan kedua bahunya. Arga pria satu devisi dengannya, mempunyai wajah tampan dan teduh. Bibir yang sedikit menghitam karena menghisap zat bernikotin, alis tebal dengan bulu mata lentik, dan mata yang aduhai menghanyutkan.

"Kawin sama abang aja yuk, Neng?" Canda Dion yang tak mendapat respon dari lawan bicaranya. Dara sama sekali tak pernah menganggap yang diucapkan oleh Dion sebagai sesuatu yang penting. Karena memang Dion tak pernah bisa diajak serius saat berbicara, hanya buang tenaga saja.

"Nikah Yon, kawin-kawin lue pikir anak kucing apa main kawin-kawin aja." Timbal Nita yang tak terima dengan pemilihan kata dari Dion. Arga sendiri tak banyak berkomentar dengan urusan Dara. Dia termasuk orang yang tak ingin mencampuri urusan orang lain, karena hidupnya sendiri penuh cobaan.

"Kalau nikahin Dara bagaimana kabarnya dengan bebeb Shanaz gue, bisa digantung gue sama orang tuanya karena macarin anaknya tapi nikahnya sama perempuan lain". Tambah Dion sambil tertawa dan seketika dapat pukulan dari Arga, sedangkan Dara hanya diam tanpa berniat untuk menimpali pembicaraan mereka.

"Yee itu mah urusan lho Yon, sekarang yang ada pacaran lama bukan menjamin berlangsungnya ikatan sampai ke pelaminan. Ingat Yon sepertiga malam lebih mujarab di banding pacaran bertahun-tahun ya enggak, Yang?" Timpal Nita seraya mengedipkan satu matanya kepada Arga yang dibalas dengan sebuah senyuman yang menawan oleh pemiliknya.

"Terus loe sudah ada solusi belum, Ra?" tanya Arga yang sedari tadi hanya sebagai pendengar dari mereka. Dara menerawang ke atas, sembari mengaduk minuman yang tidak berkurang sedari tadi. Sibuk memikirkan bagaimana nasibnya membuat Dara tak terlalu bersemangat makan. Beberapa kali bahkan Arga yang membawakan sarapan untuknya.

"Gimana mau dapat solusi mas , pacar saja aku enggak punya. Masa sih aku harus terima pilihan dari Ayah." Ucap Dara dengan wajah Frustasi. Meskipun Dara yakin jika orang tuanya pasti akan memilihkan jodoh terbaik untuknya, namun dirinya terlalu takut untuk menikah dengan seseorang yang tak dikenalnya. Beberapa kali saat dirinya pulang kampung, orang tuanya memintanya untuk menemui anak teman ayahnya yang bekerja sebagai guru lah, ada juga yang pemilik rumah makan, ada pula yang seorang polisi namun dengan seribu alasan Dara selalu menghindar. Hingga beberapa bulan yang lalu maklumat dari orang tuanya yang mengatakan jika tak segera membawa calon suami maka mau tidak mau, suka tidak suka Dara harus menerima jodoh pilihan orang tuanya. Terus menerus memikirkan nasibnya membuat Dara kehilangan berat badannya beberapa kilo.

"Gimana kalau loe nikah aja sama Alfan?" saran Nita. Semua mata otomatis menatap Nita. Arga dengan sikap cueknya hanya menatap bergantian antara Dara dan Alfan, sedangkan Dion dengan kehebohannya langsung memeluk Dara dengan erat. Tak rela jika gadis yang di anggapnya pacar tersebut harus menikah dengan pria lain padahal dirinya sendiri punya kekasih.

"Uhuk - uhuk" Dara menatap Nita dengan pandangan yang seakan hendak membunuhnya hidup – hidup. Sebagai terdakwa Nita hanya memamerkan barisan gigi rapi serta putih seakan tak merasa bersalah dengan sarannya barusan.

"Nggak usah pakai melotot juga itu mata sudah kaya mau copot aja sih. Lagian enggak ada yang salah juga kan loe single dan Alfan juga single". Ucapnya sambil menyendok sebuah steak di depannya. Beberapa kali pandangannya jatuh kepada Alfan yang hanya diam tanpa ekspresi. Alfan memang terkenal sebagai pria dingin yang tak terjamah makhluk lain hingga terkadang orang lain merasa sungkan walau hanya sekedar untuk basa-basi. Meski telah banyak wanita di kantor merela yang terang-terangan mengungkapkan ketertarikannya dengan pria bermata elang tersebut.

"Loe tahu itu saran gila." Ucap Dara.

"Kenapa gila? yang gue katakan benar kan sayang, kalian berdua kan sama - sama single jadi kenapa kalian enggak nikah saja. Loe enggak perlu terima perjodohan dari orang tua loe begitu pun Kania bakal punya Ibu untuk dirinya. Lagian kan Ra, loe juga sudah dekat sama Kania, Kania juga dekat sama loe, jadi apa yang mesti loe ragukan sih?" tambah Nita yang menganggap sarannya sudah benar.

"Gue memang dekat sama Kania, tapi bukan berarti dia berharap gue jadi pengganti ibunya, lagian ya belum tentu dia siap menerima ibu baru untuk dirinya." Elak Dara. Dirinya dan Alfan tak begitu dekat hingga dengan mudahnya menyerahkan sisa hidupnya dengan pria sepertinya.

"Tapi menurut gue yang dibilang Nita ada benarnya juga deh, kenapa tidak kita coba saja dulu, Ra." Tiba - tiba suara Alfan ikut menginterupsi di dalam percakapan mereka. Mata Dara seakan berhenti untuk bekerja hingga hanya bisa memandang ke arah Alfan dengan pandangan tak mengerti.

"Toh kita berdua juga sama -sama single kan? terus apa yang mesti loe takutin, Ra?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED