Bab 2

Sesampai di ruang meeting, para staff sudah terlihat berdiri rapi di ambang pintu masuk. Suci kembali mengomel. "Tuh kan. Apa gue bilang. Anak-anak udah pada ngumpul. Ayo buruan. Jangan ntar duluan Pak Rajata masuk lagi. Bisa habis kita."

Seiring kalimat yang diucapkan Suci, mereka berdua pun mempercepat langkah. Sayangnya, karena terburu-buru kakinya terpelecok dan nyaris jatuh terjerembab. Ia bersiap menahan rasa sakit dan juga malu. Bayangkan, ia terjatuh seperti nangka busuk di hadapan boss besarnya dan juga para staff. Sakitnya mungkin bisa ia tahan. Namun malunya itu yang tidak bisa ia lupakan.

Syukurnya ada sepasang lengan kuat yang menahan bahunya dari belakang. Sehingga tubuhnya tidak sampai terjerembab. Alhamdullilah.

"Terima kasih---"

Vina membalikkan badan dengan cepat. Berniat mengucapkan terima kasih pada orang yang telah menolongnya. Namun ia kaget saat melihat siapa orang yang telah menolongnya. Ia mendapati sosok Bu Alana dalam versi pria dalam balutan jas mahal. Dan sosok itu kini menatapnya tajam.

Astaga, ini pasti boss besarnya. Rajata Bagaskara!

"... dan se--selamat datang Pak Rajata," lanjut Vina gugup. Ia buru-buru menegakkan tubuh dan mengangguk sopan pada Pak Rajata. Setelahnya ia meper-meper mendekati tempat Suci berdiri. Rajata tidak merespon ucapannya. Ia melanjutkan langkahnya menuju ke depan podium. Di ruangan meeting ini memang disediakan podium kecil, yang berfungsi sebagai tempat para atasan menyampaikan aspirasi seperti saat ini, atau mempresentasikan proposal.

"Yaelah, Vina. Lo ini kalo mau main akrobat liat-liat tempat dong, shay. Jangan di depan mata boss besar. Siap-siap aja lo diceramahin dua hari dua malam," desis Suci dengan suara tertahan.

"Ya, gue nggak sengaja juga kali, Ci." Vina balas berbisik. Ia sama sekali tidak berani melirik ke arah Rajata. Namun sekilas ia sempat melihat Aria memelototinya. Vina pura-pura tidak melihat tatapan Aria. Ia tahu kalau Rajata ini adalah adik kakak ipar Aria. Bisa habis karirnya kalau Rajata mencurigai hubungannya dengan Aria.

"Selamat pagi semuanya. Saya yakin kalian yang bekerja lebih dari dua tahun di PT. Inti Karya Mandiri ini, pasti telah mengenal saya dengan baik. Kalian pasti juga tahu, bahwa sudah dua tahun saya mengurus kantor cabang di Amsterdam. Dan hari ini saya umumkan bahwa saya akan kembali berkantor di sini, karena ada sesuatu hal yang perlu saya bereskan."

Entah mengapa saat Rajata mengatakan bahwa ia kembali karena ada sesuatu hal yang harus ia bereskan, Vina bergidik. Karena Rajata seperti memandangnya lurus-lurus. Atau ini hanya perasaannya saja?

"Hari ini saya kembali ke kantor dan kembali menjadi atasan kalian semua. Dan saya harap kita semua mampu bekerja sama, saling mengadu prestasi dan kerja keras. Bukannya saling menjatuhkan dan sikut kanan kiri. Ingat, saya tidak akan mentolerir kecurangan dalam bentuk apapun. Saya sangat membenci penghianatan dan segala dedengkotnya."

Dan lagi-lagi, Vina merasa Rajata menyambarnya dengan lirikan sinis, saat mengucapkan kata penghianatan dalam bentuk apapun.

"Eh, Vin. Lo ngerasa nggak kalo Pak Rajata terus terusan ngelirik lo. Jangan-jangan ia mengingat lo sebagai karyawati paling ceroboh, karena kasus nyaris ngejengkangnya lo tadi." Suci berbisik pelan di telinganya. Berarti bukan perasannya saja. Suci juga merasakannya.

Mudah-mudahan saja, memang karena kasus nyaris jatuhnya tadi. Dan bukan karena masalahnya dengan Aria yang Rajata ketahui.

"Nggak tau juga, Ci. Mudah-mudahan dia nggak terus nginget tingkah memalukan gue ya, Ci?" Vina balas berbisik.

"Aamiin."

"Ingat, rekan-rekan sekalian. Sebatang lidi sudah pasti tidak akan mungkin membersihkan halaman rumah yang kotor. Akan tetapi jika lidi tersebut terkumpul dalam jumlah yang besar, serta terkemas dan menjadi sebuah benda yang dinamakan sapu lidi, maka jangankan hanya satu sampah. Tapi beratus-ratus sampah pun akan disapu bersih tak bersisa. Demikianlah perumpamaan yang saya jabarkan tentang sebuah kerjasama. Untuk itu mari kita jaga rasa tanggung jawab kita dan kita pelihara bersama-sama agar menuju kekuatan yang besar pula. Demikianlah kata-kata sambutan singkat dari saya, agar kalian semua lebih termotivasi. Sekarang kalian boleh kembali ke ruangan kalian masing-masing."

Vina, Suci berikut semua staff, tetap diam di tempat hingga kelebat bayangan tubuh Rajata menghilang di ambang pintu. Setelahnya terdengar helaan napas panjang berjamaah. Sepertinya para staff juga mengalami kegelisahan sama seperti dirinya.

Tatapan Rajata tadi, mungkin hanya perasaannya dan Suci saja. Insyallah.

"Ayo kita segera kembali ke kubikel kita, Vin. Pokoknya setelah hari ini, suasana kantor kita akan berbeda atmospherenya." Sembari berjalan Suci terus berbicara. Beginilah Suci apabila ia sedang gelisah. Mulutnya akan mengoceh tiada henti. Empat bulan mengenalnya membuat Vina kurang lebih mengetahui karakternya.

***

Vina memindai pergelangan tangannya. Pukul 12.00 WIB. Waktunya makan siang. Vina melirik ke kanan dan ke kiri. Ia menunggu rekan-rekannya meninggalkan kubikel masing-masing dulu, barulah ia berniat menikmati makan siang. Bukan apa-apa. Sudah seminggu ini ia tidak pernah lagi makan di luar atau di kantin seperti dulu. Ia sekarang selalu membawa bekal dari rumah. Ia harus berhemat, agar mampu mencukupi pengeluaran keluarga. Apalagi sekarang ibunya sakit-sakitan akibat ulah Dina. Kakaknya itu memang tidak pernah berubah. Selalu membuat mereka sekeluarga sakit kepala.

"Vin, kita makan di kantin, yuk? Tenang aja, gue yang traktir. Kan kita baru gajian?" Suci muncul di sampingnya, sembari menggesek-gesekkan jempol dan jari telunjuknya. Mengisyaratkan kalau dirinya tengah memiliki banyak uang.

"Nggak usah deh, Ci. Gue udah bawa bekal. Sayang kalau nggak dimakan."

"Yaelah, siapa bilang kagak usah lo makan? Lo makan aja bekal lo. Tapi makannya di kantin. Ntah ditambah lauk lain lagi. Gue takut lo bisulan tiap hari makan telur. Senin telur ceplok. Selasa telur dadar. Rabu telur balado. Jumat telur orak-arik. Nah ini telur apaan?" Suci memanjangkan lengannya. Bermaksud membuka kota bekalnya di atas meja. Vina bermaksud menyembunyikan bekalnya. Namun tangan Suci lebih cepat menyambarnya.

"Astaga, telur rebus tok! Vina... Vina... irit boleh. Tapi ini lo udah keterlaluan. Gue yakin kalo lo buang angin, pingsan semua orang seruangan."

"Apa boleh buat, Ci. Kan lo tau keadaan gue sekarang bagaimana." Vina mengangkat bahu pasrah. Ia memang menceritakan keadaan keluarganya sekarang pada Suci. Suci tahu semuanya, kecuali satu hal. Soal hubungan terlarangnya dengan Aria. Untuk hal yang satu itu, ia akan menyimpannya rapat-rapat.

"Makanya sekarang gue ada rezeki ayuk kita ke kantin. Gue tambahin lauk apa kek nanti. Entah ayam, ikan, pokoknya makanan bergizilah. Udah cepetan kita jalan. Ntar keburu habis lagi jam makan siang kita.

Walau tidak enak hati, Vina mengikuti juga langkah kaki Suci menuju kantin kantor. Satu hal yang tidak mereka berdua duga adalah. Rajata, Aria dan Alana ada di dalam kantin. Kaki Vina seakan-akan terpaku di lantai kantin. Drama apa lagi yang akan terjadi ini, ya Allah?

Bab 3

Waduh, ada trio macan pula di depan, Vin. Kagak sari-sarinya petinggi-petinggi perusahaan makan di mari. Pantesan tadi gue lihat ini kantin sepi amir. Rupanya temen-temen kita yang lain pasa ngiser gegara ada nih trio macan bertiga."

Bisik Suci pelan. Vina tidak menjawab. Ia terlalu takut kalau rahasianya ketahuan, hingga jantungnya jedag-jedug tidak karuan. Kedua kakinya seperti menolak bekerjasama untuk melangkah.

"Etdah, lo ngapain berdiri kayak patung begini? Ayo kita langsung jalan ke ibu kantin. Kita jalan dari pinggir aja, belagak kagak ngeliat mereka bertiga," bisik Suci setengah menyeret pergelangan tangannya. Dan lagi-lagi Vina merasa kalau ketiga atasannya memperhatikannya. Perasaannya makin tidak karuan saja.

Vina mengabaikan perasaannya. Seperti usul Suci tadi, ia berpura-pura tidak melihat ketiga atasannya. Ia pun mempercepat langkah di samping Suci. Tepat pada saat itu seseorang yang juga baru masuk, menyenggol tangannya keras, hingga kotak makanannya terlepas. Detik berikutnya nasi, telur rebus dan tumis kangkung terasinya berserakan di lantai kantin. Putri, staff bagian keuangan pura-pura kaget. Padahal Vina yakin, Putri memang sengaja melakukannya. Sudah menjadi rahasia umum kalau Putri membencinya. Putri kerap menyebarkan gosip kalau dirinya ada main dengan Aria. Karena karirnya dengan cepat melejit padahal ia baru bekerja empat bulan.

"Yah, tumpah. Maaf ya, Vin. Gue nggak sengaja. Gue ganti deh lauk lo dengan makanan yang lebih bergizi di kantin ini. Terserah lo mau pake lauk apa."

Putri pura-pura kaget dan prihatin. Namun air mukanya seperti mengejek. Belum lagi gerakan tangannya yang melambai-lambai di udara, seperti mengejek kesialannya. Walau geram, Vina berusaha menahan diri. Ia tidak mau membuat keributan untuk hal sepele. Terlebih lagi ada tiga orang atasannya yang memperhatikan.

"Nggak usah, Put. Hari ini emang gue berencana nraktir Vina. Kalo lo niat banget nyumbang makanan bergizi, noh lo sumbangin aja ke panti asuhan depan. Kali-kali aja perbuatan baik lo nanti bisa ngurang-ngurangin dosa lo dikitlah," cetus Suci sinis.

"Eh Suci. Maksud gue baik ya? Gue mau bersedekah dengan orang susah. Karena gue tahu keluarga si Vina ini udah bangkrut gara-gara selingkuhan kakaknya yang pelakor itu, ketahuan nipu selingkuhannya. Tapi kok lo malah nyolot sih?" Putri kini berkacak pinggang. Sepertinya Putri tidak melihat tiga orang atasannya. Wajar karena Putri baru saja masuk. Selain itu pandangan Putri pasti hanya fokus padanya, karena berniat untuk mempermalukannya. Putri memang selalu mencari pasal padanya.

Ketika Suci membuka mulut, bermaksud untuk mencuci otak Dinda, Vina segera menyenggol lengannya. Ia memperingati Suci dengan lirikan mata ke meja samping. Karena kalau mereka ribut-ribut untuk hal yang sepele begini, kreadibilitas mereka akan buruk di mata para atasan. Apalagi kini Aria terlihat berdiri dari kursinya. Namun akhirnya Aria kembali duduk. Pasti Aria teringat pada posisinya sebagai seorang suami. Vina sempat melirik sekilas tadi ke samping. Sebagai gantinya, malah Rajata yang berdiri dan menghampiri mereka bertiga. Matilah mereka kali ini.

"Ada apa ini?" Vina tidak mampu menjawab. Lagi pula apa yang harus ia katakan? Bahwa Putri dengan sengaja menjatuhkan kotak bekalnya begitu? Kesannya ia seperti anak kecil tukang mengadu bukan? Makanya ia bungkam. Sementara Putri menoleh cepat pada asal suara, dan seketika memucat. Putri pasti tidak mengira kalau atasannya ada di kantin.

"Itu... anu... tidak ada apa-apa kok, Pak. Saya hanya tidak sengaja menumpahkan bekal Vina. Tapi saya bermaksud menggantinya kok, Pak."

Putri dengan cepat mengubah nada suara dan gestur tubuhnya. Air mukanya berubah menjadi penuh penyesalan. Berikut suaranya yang diturunkan dalam nada terendah. Di depannya Suci mencebikkan bibirnya. Pasti temannya ini muak melihat sikap Putri.

"Saya tidak tuli dan juga tidak buta. Saya minta kalian berdua ke ruangan saya setelah jam makan siang berakhir." Rajata meninggalkan mereka berdua setelah memberi perintah.

"Baik, Pak." Vina dan Putri menjawab bersamaan.

"Dasar adek pelakor nggak tahu diri. Gue yakin lo pasti juga ada main dengan Pak Aria, makanya karir lo melesat sampai seperti ini. Kakak adek sama saja." Putri melontarkan makian dengan wajah prihatin. Putri ini memang benar-benar bertalenta seperti artis sinetron. Aktingnya sempurna.

"Daripada waktu lo habis digunakan untuk menduga-duga hal yang tidak berguna, better lo manfaatkan untuk hal yang lebih penting. Mengevaluasi kinerjo lo sendiri misalnya. Pikirkan, kenapa lo yang udah kerja hampir lima tahun, tidak pernah dipromosikan."

Vina membalas sembari tersenyum manis. Inilah dirinya. Ia tidak suka keributan atau memaki-maki dalam bahasa yang frontal. Cukup dengan sepatah dua patah kata. Tapi langsung mengenai sasaran rasanya lebih memuaskan bukan?

"Tjakep! Gue suka pembalasan ala ala sarkasme begini. Rasanya langsung nyessd ke hati. Senep... senep lo sono." Suci menyambung sembari mengacungkan jempolnya. Putri menjauh sambil melotot. Terlihat sekali kalau ia dongkol, namun tidak berani membalas. Ada Rajata masih duduk di belakangnya dengan secangkir kopi di tangan.

Dengan berjalan beriringan bersama Suci, Vina menghampiri ibu kantin. Ia memesan makanan yang sama dengan Suci. Setelahnya ia meminjam sapu dan pengki. Ia bermaksud membersihkan tumpahan bekalnya. Namun sang ibu kantin mengatakan agar salah seorang pekerjanya saja yang membersihkan. Syukurlah. Dan waktu makan siang itu terasa sangat pendek. Karena tanpa bisa ditahan Vina kerap melirik ke seberang meja. Belum lagi jika teringat bahwa ia harus menemui Rajata setelahnya. Makin-makin sajalah kegelisahannya.

***

"Apakah kalian berdua tahu bahwa prilaku kalian berdua itu mencerminkan karakter kalian?"

Inilah kalimat pertama yang dirinya dan Putri terima, saat berdiri di hadapan Rajata. Saat ini mereka memenuhi panggilan Rajata ke ruangannya.

"Tahu, Pak," jawabnya dan Putri serempak.

"Kalau tahu, mengapa kalian berdua mempertontonkan ketidakdewasaan kalian di tempat umum?!" Kuatnya suara Rajata membuatnya dan Putri nyaris melompat kaget. Namun mereka berhasil tetap berdiri di tempat, tanpa memperlihatkan reaksi yang berlebihan. Hanya bahu mereka berdua yang sedikit bergetar.

"Maaf, Pak. Kami berdua salah. Kami berjanji bahwa kami berdua tidak akan mengulangi kesalahan kami lagi," ikrar Putri takzim. Vina mengamini dengan menganggukkan kepalanya. Jujur, memang sudah seharusnya Putri yang menjawab. Toh dirinyalah yang mencari gara-gara. Ia hanya hanya sekedar menanggapi provokasi Dinda.

"Bagi saya, perilaku staff-staff saya itu sama pentingnya dengan pekerjaan. Karena apa? Karena kemampuan kalian untuk bekerjasama dengan rekan kerja akan mempengaruhi hasil kerja kalian. Bagaimana proyek bisa goals kalau staff-staff di dalamnya saling gontok-gontokkan. Ingat, saya tidak akan pernah mempromosikan jabatan kalian jika kalian tidak bisa bekerjasama dengan baik dan positif."

"Kami mengaku bersalah dan kami benar-benar minta maaf, Pak. Kami juga menyesali insiden memalukan saat berada di kantin tadi. Kami bersumpah, Pak!" Lagi-lagi Putri kembali meminta maaf."

"Baik. Ini adalah kesempatan pertama sekaligus terakhir kalian. Kalau kalian mengulangi kesalahan yang sama, saya tidak akan berpikir dua kali untuk menyingkirkan kalian berdua!" tegas Rajata.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED