Galen menemui professor Thomas Mclan. Di ruangannya, terdapat figura professor yang berfoto bersama anaknya. Galen memperhatikan anak professor yang cantik dan tersenyum.
"I'm sorry to disturb your time Mr. Mclan."
"No need."
"Thank you."
Galen menceritakan permasalahannya sekarang.
"Don't worry, you can live with my daugther Emery."
"Sorry Mr?" Galen masih tak percaya, Professor Thomas menyuruh Galen tinggal bersama anaknya.
"Emery tinggal di flat sendirian. Di asrama berbayar, kamu tidak perlu memikirkan uang bulanan, kamu bisa bekerja paruh waktu, jika tinggal di flat. Emery juga kadang berkerja, tapi di lebih banyak meghabiskan uangnya dengan pesta." Galen hanya mengangguk, tidak heran, disini setiap hari jumat, pasti salah satu mengadakan pesta, dan berakhir mabuk-mabukan.
Dan selama dua tahun disini, Galen memecahkan rekor, tidak pernah mabuk, pesta-pesta yang tak ada faedah. Yeah, he act like an innocent girl, and that he was.
"If you want, you can babysit Emery. Maybe like, acompany her to party, or when she bring random guy to her flat."
"I thought, that's not my authority sir."
"Don't worry, I command you."
"I'll try sir." Sebenarnya berat, Galen harus tinggal sama perempuan di flat yang sama. Walau ini negara bebas, hanya Galen sudah terbiasa dengan budaya yang dibawa lahir. Dan Galen juga punya kekasih, walau ia tak mengkhianati Irish. Tapi, siapa tahu ke depan?
"Don't worry, Emery a good girl. Sometimes she act so annoying and became spoiled brat." Galen tersenyum. Demi cita-cita, Galen harus bertekad, apapun yang terjadi ke depan akan Galen arungi, demi masa depan, demi cita-cita, demi janji, akan sebuah kesuksesan.
"I call Emery, she can fetch you. Dia akan menunjukan flat dimana, kamu bisa berkemas dan tinggal sama dia mulai hari ini."
"Thank you for you kindness sir. I don't know, I can't survive without your help." Professor Thomas menelpon putrinya.
"Yo, sup bro." Galen hanya menganga, jika putri, Professor Thomas tidak menghormati orang tuanya, dia menganggap orang tuanya seperti temannya. Walau sudah dua tahun disini, tapi Galen sering melihat, anak-anak disini tetap menghormati orang tua mereka, walau hanya dengan memanggil nama.
"Jemput kawanmu. Dia akan tinggal bersamamu. He will babysit you."
"Are you fucking serious Dad? No! go to the hell, mind your fucking business! I am not a baby, fuck you Dad!" Pekik suara cewek di ujung telpon. Galen merasa tak enak hati, bagaimana ia akan menyerah begini saja? Padahal ia belum berjuang.
"Emery, listen to me. This is for you future, I can control you, when you move."
"Fine! Fuck fine!" Telpon dimatikan. Galen menatap serba salah, pada professornya. Ia berniat membatalkan saja, dan memilih pulang kampung, dengan predikat gagal sebelum finish. Tapi, Galen tak ingin menyerah secepat ini. Ia harus berjuang, seperih apapun itu, walau ia haru terluka-luka dan berdarah-darah.
"Tidak apa-apa. Tempernya kadang jelek, tapi dia anak yang manis." Galen hanya tersenyum serba salah.
"Jika susah cari kerja paruh waktu, bisa hubungi saya. Saya akan membantu, Emery juga banyak uang." Galen meremas tangannya. Kenapa dia harus menyusahkan orang asing ini?
"Dia masih labil, masih 17 tahun. Jadinya, tahu senang-senang aja. Tapi, weekend dia kerja paruh waktu."
"Baik sir."
"Dad! Who the hell, fucking babysit me. I'm adult!" Emery mengamuk, cewek berambut pirang itu berang, karena perlakuan semena-mena sang ayah.
Galen salah fokus pada pakaian Emery, hanya tanktop abu-abu yang menutupi sebagian perutnya. Dan celana super pendek sebatas paha, tapi ada satu yang lebih menarik perhatian Galen, tato milik Emery. Sebuah tato Winnie The Pooh. Di bawah perutnya, kenapa dia tidak tato Larva saja?
"Oh, that's ma boy. You look so cute, ok come home." Emery langsung duduk di pangkuan Galen.
"Fine dad. Chalenge accepted. He will be my boyfriend. Right baby?" Emery berbalik ke arah Galen dan memegang wajah Galen yang sudah pucat. Keringa dingin, menyucur dari tubuhnya. Mau menepis Emery, ia sudah berhutang banyak sama wanita ini nanti.
"Ok, go get room."
"Bye daddy. Love you." Emery, kiss jauh ayahnya. Dan menarik Galen. Galen ingin kabur dari sana, tapi ia sudah jatuh dalam perangkap iblis betina.
***
Galen melihat flat kecil, yang hanya 1 kamar. Tidak ada sekatnya, bahkan bathtub saja di luar, dan mandi sambil melihat pemandangan keluar.
"I can sleep in the couch."
"You can sleep with me, I don't rape you." Galen tertawa kecil. Sebenarnya Emery orangnya asik, jika kita sudah mengenal dirinya.
"It's ok."
"You have to sleep with me, and no buts." Galen akhirnya mengangguk. Ia harus banyak mengalah, demi masa depan, sekarang Galen bergantung hidup pada perempuan ini, jadi Galen harus menuruti apa keinginan Emery.
Emery Mclan, wanita cantik bermata hijau, sedikit bar-bar dan berhati mulia. Tanpa sadar, Galen tersenyum, ia yakin hari-harinya tak lagi kesepian dan penuh warna jika bersama Emery. Tapi, Galen harus tahu batasnya, bahwa ia punya kekasih dan Irish menunggunya disana.
"Kau bisa mandi dulu." Galen melirik pada bathtub yang terbuka lebar, tak mungkin ia menampakkan auratnya disini.
"Kita bisa memesan pizza setelah ini." Galen hanya diam, dan mengangguk apapun kata Emery.
Galen sudah selesai mandi, dan melihat Emery duduk di sofa, sedang serius dengan ponselnya.
"Oh, Pizza sudah datang. Kau bisa menemaniku, duduk dan makan disini."
"Thank you." Ucap Galen sopan. Ia pun duduk di samping Emery dan mengambil sekeping pizza.
"Kau mau tahu, kau bisa melepas pakaianmu dan itu akan terlihat sexi." Emery menarik kerah kaos oblong Galen berwarna abu-abu.
"Disini dingin." Alibi Galen.
"You're so cute." Emery meloncat ke pangkuan Galen dan mencium bibir tipis lelaki itu. Wajah Galen yang memerah, ia dan Irish tidak pernah berciuman, karena gadisnya begitu polos. Dan sekarang, ada wanita yang menyosor duluan.
"Can you take off from me?" Galen mendorong Emery dan cepat berlari mengambil ponselnya, pura-pura ada yang menelpon. Bagaimana nasibnya ke depan, jika terus seperti ini?
Galen melihat banyak pesan dari Irish. Galen menarik napas panjang, dan membaca satu per satu.
"Hey! Boy, come to mama. C'mon eat pizza with me." Galen dengan berat hati, duduk di samping Emery.
"Kau menelpon siapa?"
"Temanku."
"Temanku sedang mengadakan pesta. Kau bisa ikut bersamaku nanti."
"I'll stay. I rather reading or studying."
"You fucking kidding me?! How on earth, you choose studying over party. Where planet are you from?"
"No, I'm serious. I rather sleep."
"C'mon, we just have fun." Galen mengabaikan ocehan Emery dan menatap ponselnya lagi.
Banyak sekali pesan Irish.
*hi Ai. Aku lagi sibuk bangat, jangan khawatir ya sayang. Aku baik-baik aja. Aku juga rindu kamu, dua tahun lagi. Sabar ya, akhir kita pasti bahagia.*
Galen mengirim pesan itu dan menjanjikan suatu kebahagiaan untuk kekasihnya, tanpa tahu bagaimana nasib mereka ke depan.
Akhir kita pasti bahagia. Bahagia seperti apa yang Galen maksud? Jika ia mengetik pesan saja, diganggu Emery yang bergelayut manja di pangkuannya.
Irish bahagia bukan main, Galen tidak melupakannya. Hari-hari Irish, berubah jadi bahagia dan kembali bersemangat. Gadis itu, tersenyum sepanjang hari, hanya karena pesan sederhana itu.
Irish bahkan, terlalu rajin mengerjakan tugas yang deadline minggu depan. Semua karena Galen. Rasanya Irish secepatnya menyelesaikan kuliahnya dan menyusul Galen kesana. Minimal Irish bekerja, mengumpulkan uang, dan bisa ke negara asing tersebut.
Irish mempunyai satu teman--Monica. Gadis itu tak terlalu tahu masalah pribadi Irish seperti apa, karena Irish itu begitu tetutup. Tapi Monica ingat, Irish pernah bilang ia punya kekasih, hanya saja tidak tahu itu siapa.
Irish dan Monica sedang berada di kantin. Mereka membunuh waktu untuk masuk ke mata kuliah selanjutnya. Irish selalu memikirkan Galen, apa yang lelaki itu lakukan, apa Galen sedang tidur, apa Galen belajar, apa Galen makan, semua hal kecil ia pikirkan. Perbedaan waktu memang bukan hal yang mudah, tapi Irish yakin, jika cinta keduanya telah mengakar, maka, keduanya bisa bersatu kembali.
Irish hanya mengaduk-ngaduk, roti prata-- roti khas india yang dicampur bersama kari ayam. Gadis itu bukannya makan, malah ia tersenyum. Monica yang mentraktir Irish, Monica tahu, hidup Irish pas-pasan, beruntung gadis itu bisa mengenyam bangku kuliah.
"Kenapa? Apa Irish semalam minum obat senyum?" Irish melihat ke arah temannya. Sebenarnya, Monica type sebelas-dua belas sama Irish. Yang akhirnya membuat Mereka berdua bisa berkahir menjadi teman, karena tidak ada yang mau berteman dengan keduanya. Kedua gadis itu dianggap cupu di kelas, dan banyak yang tak ingin satu kelompok bersama keduanya.
"Ah, enggak." Irish memang tak bisa menahan senyumannya. Ia kelewat bahagia. Bayangan wajah tampan Galen yang memberi pesan cinta padanya, membuat Irish seperti tak bisa memijak bumi.
"Um... Monic ada tahu lowongan kerja nggak?"
"Loh kenapa?"
"Um... aku mau coba kerja." Irish rasa, ia bisa menabung sedikit demi sedikit, lama-lama ia bisa menyelesaikan target menabung untuk menyusul Galen di America.
"Nanti aku kabarin ya. Aku sering cari di grup Facebook." Ujar Monica. Hanya ini, pembahasan serius mereka. Biasanya mereka hanya diam-diam. Kecuali, bertanya-tanya masalah kuliah, tugas, dan ujian. Hanya seputar itu.
"Makasih." Monica mengangguk. Monica tahu, semester semakin tinggi, kebutuhan untuk kuliah juga semakin banyak. Ia juga tak bisa banyak membantu untuk masalah keuangan, keluarganya juga pas-pasan, hanya saja lebih baik dari Irish.
"Atau, kita bisa nyari langsung pas pulang? Biasanya di depan toko-toko ada ditulis di depan." Usul Monica.
"Boleh."
Harapan Irish untuk segera menyusul Galen, sudah di depan mata. Irish yakin, menabung dua tahun, ia bisa menyusul kekasihnya. Bahkan, Irish bisa beri kejutan pada Galen di hari wisuda lelaki itu. Membayangkan saja, wajah Irish begitu memanas sekarang.
Irish sudah rindu, ingin mencium parfum Galen, apa masih sama? Apa lelaki itu mengganti parfum. Bagaimana model rambut Galen sekarang, apa lelaki itu makin tinggi, apa Galen masih sereceh dulu.
Irish meremas tangannya kuat. Tak sabar, menantikan hari itu. Ia yakin, cinta mereka takkan pudar.