SUMBER UANG: Bapak dipecat, pulang saja ke rumah. Kuliah bisa dilanjutkan kapan saja, tapi kamu tidak bisa di tanah asing tanpa uang.
Terlanjur kecewa, terlanjur takut, terlanjur gagal, terlanjur sayang. Galen hanya membiarkan pesan itu, dua tahun ia berjuang jungkir-balik, dan mendapat pesan sialan ini? Galen putus asa, tapi ia tak mau menyerah, sudah setengah jalan. Jika ia menyerah, sia-sia tenaga yang ia habiskan, rugi materi, rugi waktu, rugia usia. Galen tak mau rugi, Galen ingin mengejar mimpinya. Sedari dulu, ia ingin mendapatkan pendidikan terbaik.
Untuk sementara Galen termasuk mahasiswa Internasional yang tinggal di asrama. Galen boleh bekerja, karena ia sudah dua tahun disini. Ya, biaya hidup di negara orang sangat mahal.
California State University. Bukan hal gampang, agar bisa di kampus bergengsi di dunia ini, dan sekarang menyerah? Lelucon apa ini?
Galen mengingat saat ia jungkir-balik mengurus dan berbagai macam tes sebelum ia lulus dan menginjakkan kaki di negri Paman Sam. Galen yang rela berpisah dengan kekasihnya, dan merindukan si cewek polos itu setiap saat. Galen harus sukses sebelum pulang, harus membuktikan agar ia bisa dibanggakan, setidaknya penantian Irish selama ini tak sia-sia.
Kalut karena tak bisa mengambil keputusan, Galen duduk di bawah bangku di bawah pohon yang ia tak tahu pasti. Tapi daunnya sejenis daun maple. Sekarang musim semi, waktu yang sangat pas untuk berjemur dibawah matahari. Banyak yang seperti piknik.
Jujur, selama Galen termasuk tidak banyak teman. Ia hanya fokus belajar. Galen mempunyai beberapa teman internasional. Ada dari Pakistan, India, Turki, Jepang, dan teman Asia lainnya.
Ingin meminta tolong, Galen sadar anak rantau sama-sama mempunyai uang yang terbatas.
Galen ingat, ia cukup dekat professor Thomas. Ya, ini yang membuat Galen betah sekolah di luar. Tidak ada batasan antara Professor dan murid. Professor Galen begitu dekat, dan bisa berbagi apa saja, apalagi diskusi masalah sosial yang terjadi di sekitar. Professor Thomas memiliki pandangan yang luas, terhadap isu-isu sosial yang terjadi di masyarakat.
Rencananya, Galen mau bertemu dengan professor ketika jam makan siang. Fokus Galen sekarang bertahan sesulit apapun situasinya. Pantang sukses sebelum pulang.
Galen melihat banyak sekali pesan yang masuk ke ponselnya. Namun, ia sedang tidak fokus sekarang. Daripada berkahir pertengkaran, dan membuat hubungannya merenggang, Galen mengabaikan semua pesan dari Irish.
***
Irish bangun dalam keadaan yang tidak bugar. Gadis itu menangis hinga tengah malam, sungguh Irish rindu Galen. Kenapa Galen mengabaikan semua pesannya? Hati Irish tak tenang, ia yakin Galen sedang dalam masalah. Pesan yang ia kirim sama sekali tak Galen gubris.
Irish ingin Galen mengabarinya, entah hanya kata 'ya' atau sekedar 'ok' . Namun anggan yang sederhana itu, terlalu sulit digapai. Galen mengabaikan semua pesan Irish.
Irish hanya melamun dan tidak bersemangat bersiap kuliah. Namun, pendidikan utama. Segalau apapun, pendidikan tak bisa diabaikan.
Galen dan Irish begitu berambisi, untuk mendapatkan ilmu dan pendidikan terbaik. Dan Irish berakhir di dalam negri. Namun, Irish bersyukur setidaknya ia masih bisa mengenyam pendidikan.
Irish langsung bergegas mandi. Dan masih memikirkan keadaan Galen. Sebenarnya ada apa dengan lelaki itu?
Irish sendirian sekarang. Irish mempunyai dua orang adik laki-laki, semuanya masih kecil duduk di bangku sekolah dasar.
Ibu Irish bekerja dari pagi sampai malam. Bisa dibilang, keluarga Irish pas-pasan, hanya cukup untuk makan. Beruntung, Irish mendapat beasiswa, dari kalangan tak mampu. Irish juga tidak banyak menuntut, untuk hidup hedon seperti yang lain. Memaksa untuk hidup mewah dan dibilang waoh, padahal isi dompet tidak sesuai gaya. Jangan memaksakan untuk dipuji orang, jika kita tidak bahagia sama sekali.
Irish berpakaian seadanya. Hanya memakai kemeja warna pink soft, yang Irish beli diskonan di online shop. Tapi, Irish bahagia dengan hidupnya, ia tak pernah mengeluh. Irish bersyukur dengan apa yang telah ia capai.
Sebelum berangkat, Irish harus makan terlebih dahulu, menghemat pengeluaran. Walau Ibu Irish selalu berpesan, jangan pelit untuk diri sendiri. Namun, Irish tahu bagaimana perjuangan Ibunya untuk menghidupi keluarganya. Ayah, Irish meninggal ketika Irish masih SMP.
Irish membuka tudung saji, dan hanya menemukan telur dadar. Akhirnya Irish makan, mengganjal perutnya sampai sore. Sebelum Ibu Irish berangkat, beliau selalu memasakkan untuk anak-anaknya. Hanya makanan sederhana, seperti telur dadar atau mie goreng.
***
Kesekian kali, Irish memeriksa ponselnya. Dan Galen mengabaikan pesan itu.
"Alen sendiri yang berjanji, buat Ai nunggu dan sekarang Alen lupa sama Ai?"
"Alen punya cewek baru disana? Pasti ceweknya cantik kan? Ceweknya pasti kaya, nggak kaya Ai, orang susah. Alen juga pulang, nggak ingat Ai ini siapa." Irish jadi pesimis dengan hubungannya. Menyerah? Belum saatnya, Irish belum mendapat kabar yang pasti. Irish akan tetap bertahan, Galen sudah berjanji banyak hal manis padanya.
"Dua tahun, nggak jumpa Alen. Pasti, Alen berubah. Alen nggak ingat, dulu pulang sekolah kita ke tepi laut, jajan sampai duit Galen habis, sampai Galen ngutang air mineral." Irish tersenyum. Mengingat masa-masa remaja yang sangat terkenang, Galen cinta pertama Irish.
"Sampai ada bapak-bapak yang marah sama kita, gara-gara kita nggak pulang ke rumah dan masih pakai seragam. Alen selalu membuat Ai tertawa, sambil kita memandang luasnya lautan, dan Alen selalu bilang ingin ke luar negri, sekarang impian Alen terwujud dan Ai rindu disini." Tanpa sadar, sebutir air mata lolos lagi. Entah sudah berapa liter air mata Irish yang ia keluarkan untuk mengingat kekasihnya.
"Apa disana musim salju? Apa Alen kedinginan? Apa Alen suka makan keju? Suka makan burger? Minum soda terus? Ai pingin sekali, diajak kesana. Sehari aja nggak papa, asal sama Alen." Irish tersenyum, sambil mengkhayal sesuatu yang rasanya mustahil. Irish ingin Galen mengajaknya liburan disana. Irish ingin merasakan, bagaimana rasanya musim salju, musim semi, musim gugur.
"Semoga malam ini, Alen udah hubungi Ai. Ai rindu, I love you
Alen." Irish tersenyum manis. Gadis cantik dan kalem itu, berusaha menepis pikiran buruk dan berusaha positif. Karena pikiran yang buruk, akan menghasilkan sesuatu yang buruk, begitu sebaliknya.
Galen menemui professor Thomas Mclan. Di ruangannya, terdapat figura professor yang berfoto bersama anaknya. Galen memperhatikan anak professor yang cantik dan tersenyum.
"I'm sorry to disturb your time Mr. Mclan."
"No need."
"Thank you."
Galen menceritakan permasalahannya sekarang.
"Don't worry, you can live with my daugther Emery."
"Sorry Mr?" Galen masih tak percaya, Professor Thomas menyuruh Galen tinggal bersama anaknya.
"Emery tinggal di flat sendirian. Di asrama berbayar, kamu tidak perlu memikirkan uang bulanan, kamu bisa bekerja paruh waktu, jika tinggal di flat. Emery juga kadang berkerja, tapi di lebih banyak meghabiskan uangnya dengan pesta." Galen hanya mengangguk, tidak heran, disini setiap hari jumat, pasti salah satu mengadakan pesta, dan berakhir mabuk-mabukan.
Dan selama dua tahun disini, Galen memecahkan rekor, tidak pernah mabuk, pesta-pesta yang tak ada faedah. Yeah, he act like an innocent girl, and that he was.
"If you want, you can babysit Emery. Maybe like, acompany her to party, or when she bring random guy to her flat."
"I thought, that's not my authority sir."
"Don't worry, I command you."
"I'll try sir." Sebenarnya berat, Galen harus tinggal sama perempuan di flat yang sama. Walau ini negara bebas, hanya Galen sudah terbiasa dengan budaya yang dibawa lahir. Dan Galen juga punya kekasih, walau ia tak mengkhianati Irish. Tapi, siapa tahu ke depan?
"Don't worry, Emery a good girl. Sometimes she act so annoying and became spoiled brat." Galen tersenyum. Demi cita-cita, Galen harus bertekad, apapun yang terjadi ke depan akan Galen arungi, demi masa depan, demi cita-cita, demi janji, akan sebuah kesuksesan.
"I call Emery, she can fetch you. Dia akan menunjukan flat dimana, kamu bisa berkemas dan tinggal sama dia mulai hari ini."
"Thank you for you kindness sir. I don't know, I can't survive without your help." Professor Thomas menelpon putrinya.
"Yo, sup bro." Galen hanya menganga, jika putri, Professor Thomas tidak menghormati orang tuanya, dia menganggap orang tuanya seperti temannya. Walau sudah dua tahun disini, tapi Galen sering melihat, anak-anak disini tetap menghormati orang tua mereka, walau hanya dengan memanggil nama.
"Jemput kawanmu. Dia akan tinggal bersamamu. He will babysit you."
"Are you fucking serious Dad? No! go to the hell, mind your fucking business! I am not a baby, fuck you Dad!" Pekik suara cewek di ujung telpon. Galen merasa tak enak hati, bagaimana ia akan menyerah begini saja? Padahal ia belum berjuang.
"Emery, listen to me. This is for you future, I can control you, when you move."
"Fine! Fuck fine!" Telpon dimatikan. Galen menatap serba salah, pada professornya. Ia berniat membatalkan saja, dan memilih pulang kampung, dengan predikat gagal sebelum finish. Tapi, Galen tak ingin menyerah secepat ini. Ia harus berjuang, seperih apapun itu, walau ia haru terluka-luka dan berdarah-darah.
"Tidak apa-apa. Tempernya kadang jelek, tapi dia anak yang manis." Galen hanya tersenyum serba salah.
"Jika susah cari kerja paruh waktu, bisa hubungi saya. Saya akan membantu, Emery juga banyak uang." Galen meremas tangannya. Kenapa dia harus menyusahkan orang asing ini?
"Dia masih labil, masih 17 tahun. Jadinya, tahu senang-senang aja. Tapi, weekend dia kerja paruh waktu."
"Baik sir."
"Dad! Who the hell, fucking babysit me. I'm adult!" Emery mengamuk, cewek berambut pirang itu berang, karena perlakuan semena-mena sang ayah.
Galen salah fokus pada pakaian Emery, hanya tanktop abu-abu yang menutupi sebagian perutnya. Dan celana super pendek sebatas paha, tapi ada satu yang lebih menarik perhatian Galen, tato milik Emery. Sebuah tato Winnie The Pooh. Di bawah perutnya, kenapa dia tidak tato Larva saja?
"Oh, that's ma boy. You look so cute, ok come home." Emery langsung duduk di pangkuan Galen.
"Fine dad. Chalenge accepted. He will be my boyfriend. Right baby?" Emery berbalik ke arah Galen dan memegang wajah Galen yang sudah pucat. Keringa dingin, menyucur dari tubuhnya. Mau menepis Emery, ia sudah berhutang banyak sama wanita ini nanti.
"Ok, go get room."
"Bye daddy. Love you." Emery, kiss jauh ayahnya. Dan menarik Galen. Galen ingin kabur dari sana, tapi ia sudah jatuh dalam perangkap iblis betina.
***
Galen melihat flat kecil, yang hanya 1 kamar. Tidak ada sekatnya, bahkan bathtub saja di luar, dan mandi sambil melihat pemandangan keluar.
"I can sleep in the couch."
"You can sleep with me, I don't rape you." Galen tertawa kecil. Sebenarnya Emery orangnya asik, jika kita sudah mengenal dirinya.
"It's ok."
"You have to sleep with me, and no buts." Galen akhirnya mengangguk. Ia harus banyak mengalah, demi masa depan, sekarang Galen bergantung hidup pada perempuan ini, jadi Galen harus menuruti apa keinginan Emery.
Emery Mclan, wanita cantik bermata hijau, sedikit bar-bar dan berhati mulia. Tanpa sadar, Galen tersenyum, ia yakin hari-harinya tak lagi kesepian dan penuh warna jika bersama Emery. Tapi, Galen harus tahu batasnya, bahwa ia punya kekasih dan Irish menunggunya disana.
"Kau bisa mandi dulu." Galen melirik pada bathtub yang terbuka lebar, tak mungkin ia menampakkan auratnya disini.
"Kita bisa memesan pizza setelah ini." Galen hanya diam, dan mengangguk apapun kata Emery.
Galen sudah selesai mandi, dan melihat Emery duduk di sofa, sedang serius dengan ponselnya.
"Oh, Pizza sudah datang. Kau bisa menemaniku, duduk dan makan disini."
"Thank you." Ucap Galen sopan. Ia pun duduk di samping Emery dan mengambil sekeping pizza.
"Kau mau tahu, kau bisa melepas pakaianmu dan itu akan terlihat sexi." Emery menarik kerah kaos oblong Galen berwarna abu-abu.
"Disini dingin." Alibi Galen.
"You're so cute." Emery meloncat ke pangkuan Galen dan mencium bibir tipis lelaki itu. Wajah Galen yang memerah, ia dan Irish tidak pernah berciuman, karena gadisnya begitu polos. Dan sekarang, ada wanita yang menyosor duluan.
"Can you take off from me?" Galen mendorong Emery dan cepat berlari mengambil ponselnya, pura-pura ada yang menelpon. Bagaimana nasibnya ke depan, jika terus seperti ini?
Galen melihat banyak pesan dari Irish. Galen menarik napas panjang, dan membaca satu per satu.
"Hey! Boy, come to mama. C'mon eat pizza with me." Galen dengan berat hati, duduk di samping Emery.
"Kau menelpon siapa?"
"Temanku."
"Temanku sedang mengadakan pesta. Kau bisa ikut bersamaku nanti."
"I'll stay. I rather reading or studying."
"You fucking kidding me?! How on earth, you choose studying over party. Where planet are you from?"
"No, I'm serious. I rather sleep."
"C'mon, we just have fun." Galen mengabaikan ocehan Emery dan menatap ponselnya lagi.
Banyak sekali pesan Irish.
*hi Ai. Aku lagi sibuk bangat, jangan khawatir ya sayang. Aku baik-baik aja. Aku juga rindu kamu, dua tahun lagi. Sabar ya, akhir kita pasti bahagia.*
Galen mengirim pesan itu dan menjanjikan suatu kebahagiaan untuk kekasihnya, tanpa tahu bagaimana nasib mereka ke depan.
Akhir kita pasti bahagia. Bahagia seperti apa yang Galen maksud? Jika ia mengetik pesan saja, diganggu Emery yang bergelayut manja di pangkuannya.
Irish bahagia bukan main, Galen tidak melupakannya. Hari-hari Irish, berubah jadi bahagia dan kembali bersemangat. Gadis itu, tersenyum sepanjang hari, hanya karena pesan sederhana itu.
Irish bahkan, terlalu rajin mengerjakan tugas yang deadline minggu depan. Semua karena Galen. Rasanya Irish secepatnya menyelesaikan kuliahnya dan menyusul Galen kesana. Minimal Irish bekerja, mengumpulkan uang, dan bisa ke negara asing tersebut.
Irish mempunyai satu teman--Monica. Gadis itu tak terlalu tahu masalah pribadi Irish seperti apa, karena Irish itu begitu tetutup. Tapi Monica ingat, Irish pernah bilang ia punya kekasih, hanya saja tidak tahu itu siapa.
Irish dan Monica sedang berada di kantin. Mereka membunuh waktu untuk masuk ke mata kuliah selanjutnya. Irish selalu memikirkan Galen, apa yang lelaki itu lakukan, apa Galen sedang tidur, apa Galen belajar, apa Galen makan, semua hal kecil ia pikirkan. Perbedaan waktu memang bukan hal yang mudah, tapi Irish yakin, jika cinta keduanya telah mengakar, maka, keduanya bisa bersatu kembali.
Irish hanya mengaduk-ngaduk, roti prata-- roti khas india yang dicampur bersama kari ayam. Gadis itu bukannya makan, malah ia tersenyum. Monica yang mentraktir Irish, Monica tahu, hidup Irish pas-pasan, beruntung gadis itu bisa mengenyam bangku kuliah.
"Kenapa? Apa Irish semalam minum obat senyum?" Irish melihat ke arah temannya. Sebenarnya, Monica type sebelas-dua belas sama Irish. Yang akhirnya membuat Mereka berdua bisa berkahir menjadi teman, karena tidak ada yang mau berteman dengan keduanya. Kedua gadis itu dianggap cupu di kelas, dan banyak yang tak ingin satu kelompok bersama keduanya.
"Ah, enggak." Irish memang tak bisa menahan senyumannya. Ia kelewat bahagia. Bayangan wajah tampan Galen yang memberi pesan cinta padanya, membuat Irish seperti tak bisa memijak bumi.
"Um... Monic ada tahu lowongan kerja nggak?"
"Loh kenapa?"
"Um... aku mau coba kerja." Irish rasa, ia bisa menabung sedikit demi sedikit, lama-lama ia bisa menyelesaikan target menabung untuk menyusul Galen di America.
"Nanti aku kabarin ya. Aku sering cari di grup Facebook." Ujar Monica. Hanya ini, pembahasan serius mereka. Biasanya mereka hanya diam-diam. Kecuali, bertanya-tanya masalah kuliah, tugas, dan ujian. Hanya seputar itu.
"Makasih." Monica mengangguk. Monica tahu, semester semakin tinggi, kebutuhan untuk kuliah juga semakin banyak. Ia juga tak bisa banyak membantu untuk masalah keuangan, keluarganya juga pas-pasan, hanya saja lebih baik dari Irish.
"Atau, kita bisa nyari langsung pas pulang? Biasanya di depan toko-toko ada ditulis di depan." Usul Monica.
"Boleh."
Harapan Irish untuk segera menyusul Galen, sudah di depan mata. Irish yakin, menabung dua tahun, ia bisa menyusul kekasihnya. Bahkan, Irish bisa beri kejutan pada Galen di hari wisuda lelaki itu. Membayangkan saja, wajah Irish begitu memanas sekarang.
Irish sudah rindu, ingin mencium parfum Galen, apa masih sama? Apa lelaki itu mengganti parfum. Bagaimana model rambut Galen sekarang, apa lelaki itu makin tinggi, apa Galen masih sereceh dulu.
Irish meremas tangannya kuat. Tak sabar, menantikan hari itu. Ia yakin, cinta mereka takkan pudar.