“Sayang, aku mau itu. Boleh, ya? Ayo kita lakukan sekarang!”
Rayuan manja berbisik tepat di telinga pria berkemeja abu-abu, membuat sang empu sedikit menggeliat. Terlebih saat ini wanitanya duduk di pangkuan dengan mesra, bahkan sengaja menggerakkan pinggulnya untuk memberikan goyangan sensual.
Pria dengan nama lengkap Liam Benjamin itu tampaknya berusaha menghindar, tidak ingin terlibat dalam permainan panas yang sudah setengah jalan.
Mereka sempat bergulat mulut dengan erotis, menciptakan decakan yang menggema dalam ruangan dengan cahaya remang-remang. Tapi hanya Liam yang terlihat tidak ingin melanjutkan.
“Ada apa, sayang? Kali ini kamu mau menghindar lagi?” tangan wanita bersurai panjang itu meraba-raba dada Liam, mulai membuka kancing kemejanya satu per satu.
Tapi dengan segera Liam menahannya, menggenggam lengan kekasihnya tersebut. Lalu memberinya tatapan selembut mungkin.
“Sudah cukup untuk malam ini, Alina. Kamu terlalu mabuk. Aku akan memanggil supir untuk mengan—”
“Hmmph!”
Mulut Liam yang masih sibuk mengoceh langsung dibungkam oleh ciuman panas yang kembali dilakukan Alina. Wanita itu menginginkan hal lebih, tidak cukup jika hanya dengan berciuman saja.
“Alina, aku mohon berhenti!” Liam menggunakan setengah tenaganya untuk berusaha mendorong tubuh Alina agar menjauh.
Dahi wanita cantik itu mengerut. “Ada apa, sayang? Kamu tidak menginginkannya?”
Liam bingung untuk menjelaskan bagaimana kondisinya. Mulutnya jadi terbata-bata saat akan berbicara, “Bu-bukan begitu, Alina. Hanya saja...”
“Hanya saja apa? Kamu bukan bocah yang baru puber. Tahun ini kamu sudah kepala tiga, Liam. Dan hubungan kita sudah berjalan dua tahun, kita sama sekali belum pernah melakukannya. Ketika ada kesempatan kamu selalu saja menghindar, sebenarnya ada apa?” cerocos Alina meminta penjelasan.
Hembusan napas berat dikeluarkan Liam, kepalanya menunduk. Tidak ada kalimat yang terangkai dalam kepala untuk dikeluarkan. Terlanjur menghitam dan Liam tidak bisa berpikir apa-apa.
“Aku tahu rumormu yang pernah meniduri banyak wanita, tapi kenapa denganku sekalipun kamu tidak mau melakukannya? Apa karena tubuhku tidak bagus dan tidak menarik bagimu?”
Liam segera menggelengkan kepala ketika mendengar pertanyaan tersebut. Karena memang bukan itu yang menjadi alasannya. Sebab wanita dengan tipe body macam Alina tentunya digemari banyak laki-laki.
Alina turun dari pangkuan Liam. Menaikan tali dress nya yang melorot, menutup kembali bongkahan dadanya yang sempat terekspos. Membuat pandangan pria itu kini tertuju padanya.
“Aku juga wanita normal, Liam. Aku butuh hal itu untuk memenuhi kepuasanku. Aku memacarimu bukan hanya untuk diberi uang dan uang saja. Tapi juga ingin berbagi kehangatan di atas ranjang,” paparnya dengan nada yang menahan kekesalan.
Lagi, Liam menghela napas. “Aku tahu, Alina. Tapi...”
“Persetan! Aku tidak peduli lagi!” potong Alina, intonasi bicaranya meninggi.
Matanya menyipit seraya mengeluarkan seringaian, “Biar aku yang mengurus ini. Kamu hanya perlu menikmati saja. Jadi perhatikan aku baik-baik!”
Tangannya meraba-raba dan membelai tubuhnya sendiri. Sengaja melakukan gerakan erotis di depan Liam. Berlenggak-lenggok memamerkan setiap lekukan tubuhnya.
Setiap ketukan high heels merah menyala yang beradu dengan lantai membuat Liam meneguk ludah, Alina kian berjalan mendekat padanya. Sebelah kakinya diangkat naik, menginjak sandaran sofa tepat di sebelah bahu Liam. Sengaja ingin mempertontonkan bagian sensitif miliknya.
“Bagaimana? Apa kamu yakin masih bisa menahannya?” Alina tersenyum puas, tapi usahanya tidak akan berhenti sampai di sini.
Tubuh rampingnya masuk dan berjongkok di antara kedua kaki Liam. Ketika pria tersebut berusaha meminta agar Alina menjauh, perintahnya itu tidak ia hiraukan sama sekali.
“Kamu kenapa sih, Liam? Aneh sekali. Padahal hanya disuruh untuk menikmati saja. Tenang, aku sangat handal dalam hal ini, kamu akan menyesal jika memilih berhenti sebelum sempat merasakan kenikmatan yang mampu membuatmu tergila-gila,” ujarnya dengan penuh percaya diri.
Alina begitu beringas tak sabaran membuka resleting dari celana hitam yang dikenakan Liam. Sedang Liam yang tak lagi mampu melakukan pencegahan hanya pasrah saja, matanya terkatup sembari meringis pelan.
“Loh? Apa ini?” Kening Alina mengernyit saat mendapati benda pusaka milik kekasihnya yang begitu lemas tidak berdaya, hal itu tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Dengan berat hati dan perasaan yang campur aduk, Liam menjelaskan, “Beginilah kenyataannya, Lin. Aku sebenarnya impoten. Aku sudah lama merahasiakannya darimu. Dan karena hal ini juga alasan mengapa aku tidak bisa berbagi kehangatan di atas ranjang seperti yang kamu inginkan.”
Alina kecewa dengan pernyataan tersebut. Merasa sudah dibohongi selama dua tahun menjalani hubungan. Jika bukan karena bisa diporoti uangnya, sudah sejak lama Alina mengakhiri hubungan tanpa gesekan nafsu seperti ini.
“Jadi selama ini aku menjalin hubungan dengan pria yang menyedihkan? Lihatlah, Liam. Sayang sekali tubuh dan wajah rupawanmu itu menjadi sia-sia hanya karena barangmu itu tak lagi berfungsi,” ejek Alina sembari beranjak dari posisi jongkok.
Alina merapihkan kembali pakaiannya. “Aku tidak mungkin mau meneruskan hubungan ini. Maka malam ini juga, mari kita akhiri semua ini. Aku menyesal telah membuang waktu berhargaku, mengingat bahwa aku pernah mengemis cintamu. Padahal jika tahu begini, mana sudi aku menjadikanmu sebagai kekasih.”
Liam hanya menunduk mendengarkan. Dadanya bergemuruh hebat, harga dirinya berasa sedang diinjak-injak.
Sebelum benar-benar pergi dari hadapan Liam, Alina kembali berbicara, “Tidak ada wanita manapun yang mau dengan laki-laki sepertimu, Liam. Karena laki-laki yang keok di atas ranjang tidak mampu memberi kepuasan. Lebih baik terima saja takdir senjatamu yang sudah bagaikan terong layu itu.”
Seharusnya Liam tahu, bahwa cepat atau lambat kondisinya yang memang menyedihkan itu akan segera terungkap oleh sang kekasih.
Namun Liam tidak pernah mengira bahwa ternyata rasanya sesakit ini ketika diberi cemoohan tentang hal yang berada di luar kendalinya.
***
Pria dengan kemeja abu-abu tersebut menggulung bagian lengannya sampai batas sikut. Sesekali kepalanya mendongak, menatap bentangan langit malam yang gulita tanpa ada bintang yang bertebaran, hanya ada bulan yang mulai tersaput awan.
Setelah dihunjam oleh ledekan dan makian dari mantan kekasihnya, Liam memutuskan untuk mencari udara segar dengan mendatangi pantai.
Di sela-sela aktivitasnya yang sibuk termenung seraya mengamati gulungan ombak yang naik turun tak beraturan, atensi Liam teralihkan sepenuhnya oleh sesosok manusia dengan pakaian serba putih yang pelan-pelan berjalan ke tengah laut, seolah sengaja ingin menenggelamkan diri.
Karena penasaran, Liam memicingkan penglihatannya, sesekali ia mengucek matanya untuk memastikan bahwa yang sedang ia lihat memang manusia betulan. Dan setelah diamati, Liam amat yakin itu adalah manusia dan dia adalah perempuan, terlihat dari pakaian yang tengah dikenakannya.
“Apa yang sedang dipikirkan wanita itu? Dia tidak mungkin sengaja ingin berenang di tengah malam begini, 'kan? Jangan sampai dia menyerahkan dirinya untuk menjadi makanan ikan di laut,” gumam Liam, naluri pedulinya muncul begitu saja.
Meski dikenal cukup dingin dan berhati batu, tapi Liam memiliki rasa kepedulian yang tinggi. Selain rasa pedulinya, ia juga amat penasaran, tak mungkin menikmati pemandangan menyedihkan itu tanpa berusaha melakukan apapun, jadi Liam memutuskan untuk menolongnya.
Menggulung asal celananya hingga menampakan bulu-bulu halus di betisnya, Liam membuang sembarang puntung rokok yang baru beberapa kali ia hisap. Dengan gerakan tergesa-gesa ia berlari menghampiri wanita yang nyaris hilang dilahap ombak lautan.
Sudah memasuki air hingga menenggelamkan setengah badannya, Liam tanpa babibu langsung menarik lengan wanita yang berjarak sekitar tiga langkah di depannya. Dan untuk pertama kalinya pandangan mereka pun bertemu, selama lima detik Liam membatu tanpa bisa mengatakan apa-apa.
“Kamu siapa?! Lepaskan aku!” teriak wanita berambut bondol tersebut, pipi tirusnya dipenuhi oleh linangan air mata, hidung mancungnya pun sudah memerah layaknya badut dan mata cantik dengan bulu mata yang lentik tampak begitu sembap.
Menggelengkan kepalanya sesaat untuk menepis pikiran yang sempat membuatnya mematung, Liam berusaha untuk fokus. “Aku yang seharusnya bertanya padamu, apa yang akan kamu lakukan? Kamu sedang melakukan percobaan bunuh diri?”
Mencoba menepis lengan Liam yang sudah terlanjur mencekalnya dengan erat, wanita itu terlihat kesusahan, sementara air laut mulai meninggi membuat tubuh pendeknya nyaris tenggelam.
“Bukan urusanmu! Apa pedulimu? Mau aku hidup atau mati, tidak ada sangkut pautnya dengan siapapun!” bentaknya sambil terus meronta-ronta dalam cengkraman.
Liam tidak mau berdebat didalam air, jika ada ombak besar datang bisa saja mereka berdua hanyut dan tenggelam. Maka satu-satunya cara tanpa menerima penolakan adalah langsung membopong tubuh wanita tersebut tanpa aba-aba.
“Hei, sialan! Apa yang kamu lakukan?! Turunkan aku, dasar brengsek!” Wanita tersebut terus meraung-raung seraya mengeluarkan umpatan, tubuh pendek dan kecilnya berhasil Liam gendong ala bridal style.
Ketika mulai beranjak naik dari dalam air, pelan-pelan Liam mengetahui bahwa wanita yang berusaha ia selamatkan ternyata sedang hamil. Dari ukuran perutnya, Liam menebak usia kandungannya sudah di atas lima bulan.
“Jika aku tidak menolongmu, maka ada dua nyawa yang hilang malam ini. Aku tidak tahu apa alasanmu sampai ingin mengakhiri hidup, tapi jika itu karena pria yang tidak bertanggung jawab maka kematianmu hanya berujung sia-sia,” ujar Liam mencoba menceramahi.
Sedang wanita yang sebelumnya sibuk menggelepar-gelepar minta diturunkan, sekarang sudah membeku sambil memasang wajah tanpa ekspresi. Seperti sudah tidak ada lagi tenaga untuk marah, ia terlihat pasrah.
“Dunia tidak butuh penghuni seperti diriku. Justru jika aku memaksa untuk hidup, aku akan terus menderita dan bayi dalam perut ini akan malu karena terlahir dari rahim wanita sepertiku. Atau setidaknya, jika aku memang ditakdirkan untuk tetap hidup aku ingin anak ini menghilang seakan dia tak pernah ada dalam perut ini,” ujar wanita itu dengan mata yang terpejam, kulit pucatnya membuatnya semakin terlihat mengkhawatirkan.
Hampir sampai ke tepian pantai, pasir putih sudah nampak dekat terlihat, Liam mengamati penampilan wanita dalam gendongannya secara lekat. Sekelebat ide gila muncul dalam kepalanya, membuat pikiran Liam langsung membentuk sebuah rencana.
“Lahirkan saja anak itu. Aku akan menanggung semuanya. Bahkan jika kamu mau, aku akan menikahimu juga,” balas Liam kemudian, berhasil membuat wanita itu membuka matanya lebar-lebar dengan memasang wajah kebingungan.
***
“Kamu sudah gila, ya?” tanya wanita itu, ekspresinya nampak kesal. Berpikir bahwa pria yang menggagalkan rencananya tersebut memandangnya sebagai objek yang bisa dipermainkan.
“Jangan main-main! Aku tidak butuh pedulimu. Tidak butuh juga rasa kasihanmu. Hanya orang gila yang tiba-tiba mengajak menikah padahal kita sama-sama belum saling mengenal, bahkan tahu nama satu sama lain saja tidak,” tambahnya kian menyolot.
Memang pantas Liam disebut gila jika rasa simpatinya disalurkan pada keputusan seperti itu. Karena siapapun yang akan berada di posisi sang wanita pastinya akan kebingungan dan mulai mencecari banyak pertanyaan.
Liam menurunkan tubuh wanita yang ia gendong secara hati-hati sesampainya di pesisir pantai, kemudian memandangnya sambil melebarkan senyum penuh arti. “Hei, Nona. Rasa peduli dan kasihanku tidak gratis. Apa yang aku tawarkan, tentunya ada harga yang harus dibayar.”
Wanita berambut bondol dengan dress putih tulang sebatas lutut yang sudah basah, terlihat amat lesu. Ia melepaskan nafas kasar berulang kali sebelum akhirnya memilih untuk duduk seraya menghadap ke arah laut.
Entah mati rasa atau apa, wanita tersebut tidak merasa kedinginan sama sekali, padahal angin malam ini cukup kencang.
“Apa yang bisa kamu dapatkan dari wanita sepertiku? Uang? Kamu seharusnya bisa melihat sendiri untuk menilai apakah aku bisa kamu poroti atau tidak.” Wanita itu melirik pada Liam, menilik dari atas sampai bawah. “Dan rasanya kamu bukan orang yang pantas disebut kekurangan harta.”
Liam menggelak tawa tipis sambil menutup mulut, kepalanya ia tanggahkan sebentar sebelum memutuskan untuk duduk disamping wanita itu. “Kamu benar, yang aku inginkan tentunya bukan uang. Tapi kamu dan anak yang sedang kamu kandung. Bagaimana jika kita melakukan perjanjian kontrak?”
Kening wanita itu mengernyit bingung. “Perjanjian kontrak?”
Kepala Liam mengangguk, tubuhnya sedikit menyamping agar lebih puas memandangi wajah lawan bicaranya. “Kita menikah dengan alasan aku yang sudah menghamili kamu. Aku yang akan mengaku sebagai ayah dari anak itu. Sekaligus aku yang akan bertanggung jawab semuanya. Dan tentunya semua ini ada batas waktu.”
“Terdengar gila dan tidak masuk akal. Tapi sampai kapan batas waktunya?” tanya wanita itu kemudian. Masih ingin tahu sejauh mana tawaran gila itu akan berlangsung.
Bola mata Liam berputar, dagunya ia usap-usap. Tampaknya ia tengah berpikir. “Aku ada rencana tentang hal itu. Lebih jelasnya lagi nanti dalam surat perjanjian akan aku beritahu semuanya. Jadi bagaimana?”
Sepertinya wanita yang entah siapa namanya tersebut tidak tertarik dengan apa yang ditawarkan Liam. Ia tidak melihat ada keuntungan yang bisa didapatkan jika setuju untuk bekerjasama dengan pria itu.
Karena sejak awal, yang diinginkannya hanya mati dan menghilang. Ada luka dan trauma yang terus bersarang dalam jiwanya, mengikis habis raganya sampai tak lagi mampu untuk bertahan, maka jalan satu-satu nya adalah harus mengakhiri hidupnya. Setidaknya begitu pikirnya.
“Bagaimana jika aku katakan bahwa aku adalah mantan seorang PSK?” Wanita itu melirik pada Liam, pancaran matanya menyiratkan kesedihan yang tak bisa dibendung lagi. Juga ada penyesalan yang terselip di sana.
Liam hanya bisa bergeming setelah mendengar pengakuan tersebut. Mulutnya tak bisa berkomentar apa-apa, hanya bisa menunggu wanita itu melanjutkan ucapannya.
Menghembuskan nafas berat, wanita berambut pendek itu menundukkan kepalanya dengan lesu. “Aku pernah melayani banyak laki-laki, hidupku menjijikkan, bahkan aku tidak tahu siapa ayah dari anak ini. Aku begitu rendah, bertahun-tahun hidupku bergantung pada uang yang kudapatkan dari hasil memuaskan para bajingan yang haus akan nafsu.”
“Itu sebabnya aku ingin sekali menghilangkan anak ini. Beberapa obat untuk penggugur kandungan sudah aku minum, berulang kali aku melukainya, tapi dia tetap hidup. Jika kamu mau memberiku sedikit uang untuk melakukan aborsi, aku akan sangat berterimakasih,” imbuhnya kian lirih.
Liam meneguk ludah, membasahi bibir keringnya sebagai ancang-ancang sebelum memberi jawaban, “Aku tidak akan mau ataupun setuju untuk membantumu jika inginmu begitu. Apa yang sudah aku tawarkan sebelumnya tidak akan berubah. Menikahlah denganku, biarkan anak itu hidup. Segala yang kamu inginkan, akan kupenuhi. Akan kujamin kamu tidak akan kekurangan apapun.”
Sebuah tawa jengkel dikeluarkan wanita itu, cekung matanya yang menghitam membuat ekspresi yang dibuatnya saat ini tampak mengerikan. “Kamu benar-benar gila ternyata. Apa yang bisa kamu dapatkan jika kita menikah? Banyak wanita di luar sana yang bisa kamu nikahi, ketimbang memilih perempuan bekas yang sudah dihamili pria lain.”
“Oke, tunggu sebentar. Agar lebih nyaman kita mengobrol, bagaimana jika kamu ikut denganku ke mobil? Tenang, aku tidak akan melakukan hal aneh. Aku murni ingin membantumu, memangnya kamu mau kita mengobrol dengan pakaian basah begini? Sekalian kita cari makan, aku yakin kamu pasti lapar,” ujar Liam mengalihkan pembicaraan.
Wanita itu membuang pandangan ke sembarang arah, tak peduli. “Aku sudah tidak punya tenaga untuk melakukan apapun. Pergi dan tinggalkan saja aku.”
Tanpa menanggapi melalui kata-kata, Liam langsung beringsut dari posisi duduk. Membuat wanita itu berpikir bahwa memang dirinya akan ditinggalkan. Tapi...
Mata wanita tersebut melotot sempurna saat tubuhnya mendadak diangkat oleh Liam. Pria itu menggendongnya kembali. Belum sempat protes, Liam sudah menyambar untuk buru-buru berbicara.
“Namaku Liam, tahun ini aku berumur 30 tahun. Masih melajang walaupun sudah tidak lagi perjaka,” kekehnya sambil berjalan meninggalkan area pantai.
Karena tak kunjung mendapat jawaban, Liam menunduk untuk melihat wanita dalam gendongannya. “Namamu?”
“Sheeta,” jawabnya singkat dengan pandangan yang enggan menatap Liam.
“Sepertinya kamu lebih muda dariku,” tebak Liam, pandangannya amat fokus mengamati paras Sheeta.
“Lebih muda atau tidak, itu tidak ada hubungannya denganmu,” ketusnya.
Liam seketika mengulas senyum tipis. “Tentu ada. Karena aku harus tahu berapa umur calon istriku.” Tawaan recehnya menandakan ia sedang mencoba untuk menggoda.
“Aku tidak muda lagi untuk tersipu karena perkataanmu itu. Selama hidup, aku tidak pernah punya mimpi untuk menjadi istri dari pria manapun,” balas Sheeta masih dengan mimik tanpa minatnya.
“Maka tanpa bermimpi, kamu akan segera menjadi seorang istri juga seorang ibu. Ya walaupun hanya sebatas status tanpa perlu menjalankan perannya.” Liam amat kukuh, begitu menginginkan Sheeta untuk menjadi istrinya.
Padahal jika memang Sheeta hanya dijadikan sebagai alat atau perantara balas dendam, ataupun sebagai pelengkap rencananya, Liam bisa saja mencari wanita lain. Dan pastinya Liam tidak perlu mengemis atau memaksa seperti apa yang ia lakukan untuk Sheeta sekarang ini.
Mendudukan Sheeta pada kursi mobil disamping pengemudi, Liam secara cekatan mengambil jas miliknya untuk diserahkan pada wanita itu. “Pakai ini, setidaknya balut tubuhmu yang basah itu agar tidak kedinginan.”
Sheeta hanya memandang sekilas jas hitam yang Liam berikan tanpa berniat mengambilnya. “Aku sudah terbiasa kedinginan. Terlunta-lunta di jalanan membuatku bersahabat dengan dinginnya angin malam. Jadi—”
Ucapan Sheeta terhenti tatkala Liam sendiri yang menaruh jas tersebut pada perutnya yang besar. “Mulai sekarang jangan terbiasa dengan hal itu lagi.” Liam menutup pintu mobil, memutari moncong mobil untuk masuk dan siap mengemudi.
“Kita langsung ke apartemenku saja, tengah malam begini jarang ada resto yang buka. Ditambah aku tidak mungkin mengajakmu makan dengan pakaian basah begitu,” ujar Liam setelah duduk dan menyalakan mesin mobil.
Sheeta tidak memberi tanggapan. Barangkali wanita itu sudah pasrah menerima apapun yang akan dilakukan Liam. Toh selama ini, Sheeta selalu menjadi budak bagi laki-laki yang sudah membeli dirinya.
Setidaknya untuk saat ini Sheeta tidak perlu luntang-lantung tidak jelas dan berpikir untuk mengakhiri hidupnya lagi.
“Sheeta,” panggil Liam di tengah-tengah keheningan yang menjerat. Sebelumnya mereka berdua sama-sama membisu di sepanjang perjalanan.
Pandangan Sheeta yang semula asik menatap jalanan raya yang lengang, perlahan mulai menatap Liam dengan rasa malas. Menunggu pria itu melanjutkan ucapannya.
“Kamu tidak perlu khawatir apakah setelah menikah nanti kamu perlu melakukan ini dan itu layaknya seorang istri sungguhan. Aku juga tidak akan menyentuhmu, jadi kamu tidak perlu takut. Aku—”
Sheeta memotong ucapan Liam, ia terlahap asumsi sendiri, “Jelas, karena aku adalah wanita bekas yang sudah dijamah banyak laki-laki. Tentunya mana mau kamu melakukan hal itu. Bukankah aku ini menjijikan? Itu sebabnya aku heran, mengapa kamu mau mem—”
“Aku impoten, Sheeta.” Liam menyela, sebelum wanita itu sempat menyelesaikan ucapannya.
Hening beberapa detik. Sheeta mengerjapkan mata sambil berpikir apa yang harus ia komentari terhadap pengakuan yang baru saja didengarnya.
“... Jadi, mana mungkin aku bisa menyentuhmu?” sambung Liam kemudian, sesaat pandangannya menyorot Sheeta yang masih terlihat syok.
***
Di sepanjang perjalanan menuju apartemen Liam, Sheeta tidak banyak bicara. Dalam pikirannya masih terngiang-ngiang soal pengakuan Liam sebelumnya.
Jalanan raya yang lengang, tak jemu Sheeta pandangi. Keheningan yang tercipta membuat suasana dalam mobil sedikit kaku. Sementara Liam sesekali mencuri-curi pandang ke arah Sheeta, ada hal yang membuatnya ingin terus memandangi wanita itu.
“Ada apa? Apa mungkin kamu merasa jijik padaku?” Liam bertanya canggung, sebelah tangannya mengusap-usap belakang lehernya.
Sheeta menggeleng kepala pelan. “Bukan. Aku hanya penasaran mengenai alasan dibalik keinginanmu yang mengklaim ini adalah anakmu. Jika boleh menduga, apa karena kondisimu itu kamu jadi terobsesi untuk memiliki anak?”
Liam termenung sebentar, ia berpikir sebaiknya Sheeta harus tahu sedikit besarnya alasan dibalik semua ini. Jangan sampai wanita itu menduga hal yang tidak-tidak dan berujung salah paham.
“Dugaanmu ada benarnya. Tapi lebih dari itu, aku ingin membuktikan bahwa pria impoten sepertiku tidak seburuk itu untuk direndahkan. Aku memiliki kekasih, dia meminta menyudahi hubungan setelah tahu kondisiku seperti ini. Aku tidak kesal dengan keputusannya, tapi aku hanya merasa diri ini begitu menyedihkan setelah dihujani cemoohan olehnya,” jelas Liam mulai bercerita.
Liam pun menoleh ke samping, pandangannya langsung bertemu dengan manik keabuan milik Sheeta. “Meskipun faktanya aku memang menyedihkan, tapi aku berhak untuk membuktikan bahwa aku juga bisa bahagia, kan?”
“Ya, walaupun, lagi-lagi kebahagiaan itu tercipta dari sebuah kepalsuan. Tapi setidaknya, melalui kamu aku berharap dia bisa tahu aku tidak menderita setelah dihina habis-habisan olehnya.”
Sheeta menggulir matanya, keningnya mengerut tanda sedang berpikir. “Hmm.” Seraya bertopang dagu, Sheeta melanjutkan ucapannya, “Kamu bermaksud membuat hubungan antara kita semacam hubungan mutualisme?”
Liam mengangguk meng-iyakan. Pandangannya kembali fokus ke depan, karena sedang menyetir jadi ia tidak bisa lengah.
“Setelah mendengar ceritamu, aku merasa tidak keberatan jika harus menjalani peran sebagai istri kontrakmu. Koreksi jika aku salah, tapi anak yang kulahirkan ini benar-benar akan menjadi tanggung jawabmu, 'kan? Aku tidak segan membuang anak ini jika kamu menipuku, karena sejak awal aku tidak menginginkannya,” tanya Sheeta memastikan.
“Kamu tenang saja, aku benar-benar akan menerima anak itu dan akan bertanggung jawab selayaknya anak dari darah dagingku sendiri,” timpal Liam dengan mimik meyakinkan.
Sheeta manggut-manggut paham. “Baiklah. Kalau begitu, deal! Aku menerima kesepakatan yang kamu tawarkan.”
Terpaksa atau tidak Sheeta menyetujui kesepakatan tersebut, setidaknya apa yang sudah dipilihnya barusan memiliki peluang lebih baik ketimbang harus mengakhiri hidup. Anggap saja kali ini siklus kehidupan kedua tanpa perlu mengalami kematian terlebih dahulu.
“Aku suka jawabanmu!” Liam menjentikkan jari sembari terkekeh.
“Tapi aku ada beberapa permintaan,” ungkap Sheeta tiba-tiba, memotong ekspresi semringah pria itu.
Kembali memasang wajah serius, Liam melirik sekilas pada Sheeta. “Katakan saja. Aku bukan jin botol yang akan membatasimu dengan tiga permintaan. Mau beribu permintaan pun, selagi aku bisa, aku pasti akan mengabulkannya.”
Kenapa terdengar dramatis? Ah, masa bodo. Sheeta tidak terlalu menanggapi, sebab permintaannya pun tidak neko-neko.
“Pertama, aku ingin kamu membuatkanku identitas baru. Aku tidak mau menggunakan identitas lama. Tapi tidak apa-apa, untuk nama depanku tidak perlu dirubah. Selanjutnya, aku ingin setelah kita menikah, kita tinggal berpisah. Seperti katamu, kamu hanya butuh status saja, 'kan? Jadi, sebaiknya jangan tinggal di dalam satu atap yang sama.”
“Sudah? Itu saja?” Liam melirik-lirik, menunggu jika Sheeta ingin menambahkan permintaan lain.
Sheeta mengangguk mantap. “Itu saja.”
Liam tertawa pelan. “Kenapa kamu tidak meminta hal yang lebih menarik? Seperti perhiasan? Baju-baju cantik dengan merk yang mahal? Sungguh, aku—”
“Kenapa kamu jadi banyak bicara?” sela Sheeta, wajahnya menunjukkan ekspresi sebal. “Apa kamu tidak bisa mengabulkan permintaanku yang lebih sederhana dari omonganmu itu?”
“Oke, oke.” Liam berdeham sebentar, kembali pada mode serius. Sadar bahwa wanita di sampingnya memiliki sumbu pendek. “Tentu, aku akan mengabulkannya. Tapi tidak untuk permintaanmu yang terakhir.”
Sheeta melotot seketika tatkala mendengar kalimat terakhir pria itu. Matanya langsung menghunus tajam, siap menginterogasi. “Kenapa? Hei, ayolah. Yang benar saja. Kita tidak mungkin bisa tinggal berdampingan.”
“Kenapa tidak mungkin?” Liam balik bertanya.
Sheeta memasang ekspresi masam menahan jengkel. “Dasar, bodoh! Tentu saja karena aku tidak nyaman jika harus berbagi tempat tinggal denganmu. Berikan saja aku kontrakan kecil, aku akan mendatangi tempatmu jika peranku sedang dibutuhkan.”
“Nyaman atau tidak nyaman, sayangnya dalam peraturannya kita harus berbagi tempat tinggal,” jawab Liam setenang mungkin, tapi tetap mampu membuat wanita itu menghela napas berulang kali.
“Terserah kamu saja. Aku tidak peduli!” Sheeta menyerah. Ia membuang wajah ke samping, pada kaca mobil, memandangi jalanan dengan bibir mengerucut.
Liam geleng-geleng kepala, sebelah tangannya memegangi pelipis, lalu membuang napas dalam satu hentakan. “Kenapa kamu terlalu sadis pada dirimu sendiri? Pikirkan saja, bagaimana mungkin aku membiarkanmu tinggal di tempat lain sementara aku sudah melihat dengan jelas kamu yang nekat ingin mengakhiri hidup? Bagaimana jika hal itu terulang kembali?”
“Bukan aku yang terlalu sadis, tapi kamu yang terlalu baik hati untuk seukuran pria asing yang baru beberapa menit mengenalku,” balas Sheeta dengan nada datar.
“Lagi-lagi kamu salah menilai. Baik yang kamu maksud tidak gratis, Nona,” bantah Liam, merasa bahwa dirinya tidak pantas mendengar hal tersebut ketika dalam kepala sudah bermunculan macam-macam rencana yang nantinya akan melibatkan Sheeta.
Alih-alih menarik ucapannya setelah diperjelas oleh Liam, justru Sheeta tetap pada pendiriannya, “Setidaknya dari semua pria asing yang aku temui, kamu masih layak dikatakan sebagai pria baik hati. Dari semua pria asing yang aku temui, hanya kamu yang bertanya namaku tanpa memasang tatapan menjijikkan. Dari semua pria asing yang aku temui, hanya kamu yang menggendongku tanpa—”
“Cukup,” potong Liam, dirinya tahu kemana arah pembicaraan tersebut. “Aku mengerti.”
“Aku benci mengakuinya, tapi aku masih punya banyak alasan untuk membuatmu masuk ke dalam nominasi pria asing paling baik hati di dalam hidupku.” Sheeta semakin membuang muka ke samping, menutupi wajah menyedihkannya dari Liam.
“Yeah, sesaat aku merasa terkesan saat mendengarnya. Tapi apapun itu, terima kasih.” Liam tersenyum kikuk, bingung harus memberi tanggapan bagaimana.
Sheeta mendesis dalam gumaman, “Tch, untuk apa dia berterima kasih?”
Hening kembali menyelimuti sepanjang perjalanan. Dan tidak ada percakapan apapun yang terjadi selama itu. Hanya ditemani suara desingan mobil yang berlalu lalang di jalanan malam hari yang lengang.
Sampai akhirnya Liam tiba memarkirkan mobilnya di parkiran dekat apartemennya. Lalu perlahan menuntun Sheeta untuk masuk ke dalam apartemen, wanita itu tidak banyak bicara, patuh saja bahkan ketika tubuh ringkihnya dirangkul penuh perhatian oleh Liam.
“Kamu akan ikut tinggal di sini selama beberapa waktu, sebelum akhirnya kita pindah ke rumah yang sudah aku sediakan. Kamu punya keinginan untuk tinggal di rumah seperti apa?” Liam berbicara sambil terus menuntun Maria sampai akhirnya tiba di atas kasur.
“Terserah. Jangan menanyakan hal seperti itu padaku. Aku hanya ingin tidur untuk malam ini,” balas Sheeta acuh tak acuh, nampak tak nyaman dengan segala perhatian yang ditunjukkan Liam.
“Baiklah. Tapi sebelum tidur kamu harus mengganti pakaian dan sedikitnya mengisi perutmu dengan makanan.” Liam tetap berusaha sebaik mungkin melayani Sheeta, ia amat memaklumi meskipun dalam hati terasa jengkel.
“Berikan saja pakaian apapun untukku, dan aku tidak akan makan malam ini. Kamu tidak boleh memaksaku,” jelas Sheeta tak menerima bantahan.
“Oke. Tunggu sebentar.” Liam lantas melesat ke arah lemari pakaian, mengeluarkan kemeja putih miliknya yang satu-satunya menggantung di sana.
“Tidak ada pakaian lain lagi. Jadi—”
“Tidak masalah.” Sheeta segera menyambar kemeja putih tersebut.
Dan ketika melihat Liam masih bergeming di tempat matanya seketika menyipit sinis. “Kenapa kamu masih belum pergi? Jangan karena kamu impoten, kamu bisa menggunakan alasan itu untuk melihatku saat berganti pakaian.”
“Siapa tahu kamu butuh pembuktian?” Sebelah alis Liam berjengit, sudut bibirnya bergetar nyaris tertawa.
Tapi melihat ekspresi Sheeta yang tak sedap dipandang, Liam pun mengusap batang lehernya dengan rikuh. Pandangannya menyapu ke sembarang arah. “Ah, iya. Aku akan pergi ke ruangan lain. Beritahu aku jika kamu sudah selesai.”
“Ya.”
Liam bergerak mondar-mandir setibanya di ruangan lain, mendadak tubuhnya panas dingin tak karuan. Entah apa yang sedang dipikirkannya, tapi tangannya segera merogoh saku celana. Mengeluarkan dompet cokelatnya yang sudah usang.
Dalam dompet tersebut terdapat beberapa lembar uang yang kotor dan kusut, beberapa surat penting yang mungkin sudah habis masa berlakunya, tapi yang dipandangi lamat-lamat oleh Liam adalah sebuah foto yang terselip rapih meskipun sedikit kotor karena bercak kemerahan.
Foto seorang perempuan di sana membuat dadanya bergemuruh. Menghangatkan perasaan yang sejak lama mati-matian ia kubur. Tapi ternyata tetap saja, sejauh apapun dirinya melangkah, sebanyak apapun wanita yang dikencani, perempuan tersebut memiliki tempat istimewa dalam hatinya.
“Aku tidak mengerti. Tapi setelah beberapa kali mencoba menjalin hubungan dengan wanita lain, kenapa dengannya, dengan wanita yang ingin bunuh diri, baru kali ini aku merasa sedang mengkhianatimu, sayang?” Liam bergumam, mulutnya bergetar.
***