Terkadang karena keadaan, terpaksa atau apa pun itu membawa kita pada perjalanan hidup berlika-liku. Seperti aku berada dalam bubble yang tidak ada ujungnya. Entah jam berapa sekarang, mataku tak bisa terlelap dan pikiranku melayang. Dari waktu ke waktu sebenarnya aku berkesempatan untuk kabur di sini, tapi entah mau kemana.
Di luar sana seperti tidak ada tempat untukku. Namun lebih dari itu aku tidak memiliki apa-apa untuk dijadikan pegangan. Hari-hari yang kuhabiskan di tempat ini tidak jauh berbeda dengan keseharian pembantu.
Suara petir mengagetkanku.
Malam ini hujan lebat, aku menyelimuti tubuhku dengan selimut lalu kulapis lagi dengan handuk. Karena selimut saja tidak bisa menghangatkan tubuhku yang berbaring di atas tikar. Dinginnya lantai menebus tikar menusuk hingga ke tulangku.
Sorot lampu dari cela kayu di atap cukup memberi penerangan di kamarku, setidaknya aku bisa melihat walaupun samar-samar. Kata Tanteku hemat listrik makanya kamarku tidak dipasang lampu. Kututup mataku supaya cepat terlelap, berharap malam cepat berlalu dan aku cepat dewasa. Ah, bodoh bukan! Mana mungkin dalam waktu semalam aku langsung dewasa. Umurku sekarang masih 16 tahun tapi aku ingin cepat dewasa.
Suara petir menggelegar membuatku semakin takut. Tante dan Omku belum pulang, mereka pergi ke acara syukuran saudara. Mungkin tidak akan pulang karena hujan sangat lebat. Ya, aku tinggal bersama Tante Gani, adik ayahku. Orangtuaku meninggal karena kecelakaan mobil.
"Milaaa... " suara Om Danu terdengar kuat, kupingku sangat sensitif jika mendengar suaranya. Kenapa dia pulang? Perasaanku tidak enak. Aku memegang kuat selimutku.
Laki-laki itu kelakuannya tidak bisa dibilang manusia. Suka bermain judi, malas bekerja, suka marah-marah di rumah. Kalau makananku tidak enak dia tidak segan melempar ke arah wajahku.
"Milaaa."
Aku tersentak terbuka tepat pada saat suara pintu terbuka. Melihat pria bermata hitam menatapku dengan mesumnya sambil menyeringai. Aku bangkit terduduk. Kuremas selimutku kuat sangking takutnya. Om Danu bukan pertama kalinya datang ke kamarku dengan seringai seperti itu, untungnya waktu itu ada Tante Gani. Dan sekarang siapa yang akan menyelamatkanku, Tuhan tolong..
Aku semakin mempererat selimutku. "Om, ngapain ke sini? Tante mana?"
"Oh, itu Tantemu nginap katanya. Ndak bisa pulang hujannya kuat. Om kasihan sama kamu makanya pulang." Dia menjawab dengan senyum yang membuatku jengkel.
Aku semakin takut, pria itu berjalan dua langkah dari ambang pintu. Samar-samar aku masih bisa melihat dia tersenyum dan menatapku liar ke seluruh tubuhku, padahal masih tertutup selimut. Aku yakin dia berpikiran mesum.
"Mila, pijitin Om ya. Saya capek, Tantemu nggak ada di rumah jadi kamu aja ya."
Aku menggeleng kuat, dia menyebut namaku lembut tapi membuatku jijik. Namaku Karmila, dipanggil Mila. Tapi aku tidak suka kalau pria itu yang memanggil.
Lihat dia sedang meraba-raba bagian tengah celananya. Mataku dingin melihatnya. Aku menarik selimutku semakin ke atas tertutup hingga ke leher. Sekarang aku yakin yang merusak kunci kamarku pria bandot ini. Tangannya menarik selimutku lalu melemparnya asal.
"Om, saya nggak mau. Tolong keluar dari kamar saya sekarang." Aku berucap tegas ditengah-tengah ketakutanku.
Bukannya pergi dia malah semakin dekat dan matanya menatapku lapar. Aku ingin lari dan berteriak tapi suara hujan seperti menenggelamkan suaraku. Aku tidak tahu mau kemana kalau aku lari dari sini.
"Tolong om saya nggak mau," ucapku lagi bernada panik.
Berkali-kali dia berusaha menciumku, tangannya mencekamku saat aku melawannya. Aku tidak akan menyerah, tidak akan rela di sentuh laki-laki bedebah seperti dia. Dia kembali menyentuh tubuhku, bibirnya meluncur ke pelipisku dengan nafas yang bisa kudengar jelas terengah-engah.
"Saya cuma megang bentar, masa nggak boleh." Suara mesumnya membuatku jijik. Dia seperti di rasuk iblis, kekuatannya mencekam tanganku hingga seperti meremukkan tulang tanganku. "Ayolah Mila... kamu jangan ngelawan nanti juga kamu suka."
"Om tolong lepasin saya!" Sekuat tenaga aku melawan hasrat pria brengsek ini.
"Jangan ngelawan kamu! Udah untung saya tampung kamu, ngasih tempat tinggal dan makan. Sekarang saya minta bayarannya."
Dia mendorong tubuhku sampai terbaring di lantai. Tikar yang aku pakai tadi sudah bergeser, bantal juga sudah tergeletak jauh. Aku memukul badannya yang gemuk, tidak ada bau alkohol dalam nafasnya. Dia sadar dengan kelakuannya.
"Om jangan sentuh saya. Mila janji akan bayar biaya hidup Mila di sini." Aku menangis kencang setelah dia menamparku kuat.
"Dari mana kamu duit? Sok mau bayar, udah kamu nggak usah bayar. Cukup kamu puasin saya."
Saat dia sedang membuka bajunya kesempatanku menendang milik berharganya sekuat tenaga. Teriakan kesakitan keluar dari mulutnya dan aku tidak membuang kesempatan. Aku berlari keluar dari kamar itu dengan rambut berantakan menerjang hujan tanpa tujuan.
Tangisku kuat meratapi hidupku, tapi aku yakin tidak ada yang mendengarnya. Tengah malam ditemani hujan seperti ini orang akan lebih memilih untuk tidur. Aku tidak tahu apakah tempatku benar-benar di sini. Aku tidak punya seorangpun untuk diajak bicara.
Aku pernah berharap untuk menghilang saja dari dunia ini. Dunia ini terlihat begitu gelap dan aku menangis sepanjang malam. Apakah aku akan merasa lebih baik jika aku menghilang?
Aku melangkah gontai dikuasai rasa kesal dan lelah, pakaianku mulai mengering di tubuhku. Suara rintik hujan menemaniku hingga ke pondok milik tetangga. Aku sanggup tidur di sini ditemani suara jangkrik tanpa cahaya lampu dari pada kembali ke sana.
"Hidup kok gini banget Tuhan... berat buat Mila," monologku. Menarik kakiku ke depan dada dan memeluknya. Aku tidak mau menjadi objek pelecehan pria hidung belang. Aku bersumpah hanya suamiku yang akan menyentuhku.
Tetanggaku Nia, dia baru pulang dari Malaysia dua bulan lalu. Kami bertemu di pasar pagi tiga hari lalu. Katanya tempatnya bekerja sedang merekrut calon pekerja baru. Belum tahu jelas apa pekerjaan yang akan ditawarkan. Mendengar cerita dia bangun rumah dan punya ATM mastercard, aku berpikir kenapa tidak aku coba.
Perlahan mataku tertutup dan masih sesenggukan. Tapi, entah kenapa aku selalu ingat pesan mama "Mila jangan takut ada Tuhan yang selalu melihat Mila."
POV: Mila
Kuputuskan pulang saat matahari sudah menunjukkan keberadaannya. Semoga saja rumah kosong atau Tanteku sudah pulang dari tempat saudara. Mengingat wajah Om Danu yang buas malam itu membuatku takut untuk bertemu dengannya. Kadang-kadang aku ingin sekali memberi racun tikus di makanannya. Tapi nanti tempatku di neraka.
Kuraba bajuku, sudah kering sendiri setelah semalaman aku memakainya dengan keadaan basah kuyup. Kepalaku terasa sakit dan lemas, ini karena aku tidur di luar pasti. Semalam aku terduduk di pondok kebun orang, hanya tempat itu yang bisa kudatangi.
Aku masuk ke halaman rumah takut-takut. Rumah terbuat dari kayu itu terlihat sepi, jendelanya juga masih tertutup. Takutnya laki-laki brengsek itu masih di dalam rumah. Pintu tiba-tiba terbuka. Dan Tante Gina keluar dengan wajah menyeramkan. Lalu dari belakang pria brengsek itu keluar juga.
"DASAR ANAK TIDAK TAHU DIRI. TIDAK BERGUNA!" pekik Tanteku sembari melempariku dengan benda-benda yang ada di dekatnya. Sendal, sisir, lalu sapu melayang pada tubuhku. Sudut mataku melirik Om Danu yang tersenyum sinis ke arahku.
"BISA-BISANYA KAMU BAWA LAKI-LAKI MASUK KE KAMAR KAMU! UNTUNG SAJA OM KAMU PULANG!" ucapan itu menusuk jantungku. Bedebah itu memfitnahku. Om Danu tiba-tiba menendang tubuhku hingga aku tersungkur.
Belum sempat aku membantah, Tante Gina mengambil sapu lalu memukul tubuhku bertubi-tubi. Amukannya seperti orang yang kesurupan. Tidak perduli orang-orang yang lewat melihat ke arah rumah kami. Aku benar-benar dipermalukan. Aku digeret masuk ke dalam rumah.
"Ampun Tante... Ampun Tante." Isakku dengan tangan menyatu di bawah lututnya. Tangan Tante Gina menarik kuat rambutku, serasa akan terkelupas dari kulit kepalaku. "Sakit Tante... tolong lepasin Tante... "
"Katakan Mila siapa laki-laki itu? Biar kamu saya nikahkan saja daripada jadi beban di rumah saya."
"Gak ada Tante... " Isakanku semakin kuat, lututku bergesek dengan lantai hingga terasa perih di sana.
"Untung semalam saya datangnya cepat. Mungin mereka belum sempat melakukan apa-apa. Kita masih butuh tenaga Mila, sayang."
Aku melotot, pria itu mengarang cerita. Harusnya aku ceritakan saja pria ini berulangkali mencoba memperkosaku, tapi mulutku tak bisa berucap. Kasihan Tanteku bagaimana pun dia pengganti orangtuaku. Satu-satunya keluarga yang aku miliki.
"Mau jadi apa kamu, Mila? Sudah untung saya nampung kamu! Kasih makan mulut kamu! Ternyata kelakuan kamu murahan... sama aja kamu seperti ibu kamu."
Aku tidak menangis, untuk apa? Ibuku tidak melakukan kesalahan. Selama ini Tante selalu bilang ibuku menggoda saudara laki-lakinya. Aku yakin orang tuaku saling mencintai, jadi aku tidak akan menangisi mereka. Hanya saja tubuhku terasa remuk akibat pukulan yang kuterima. Harusnya aku tidak pulang tapi aku tidak tahu mau kemana.
Orang-orang berdatangan ke rumah kami, melihat betapa naasnya diriku. Aku menutup mataku pasrah, Tanteku pasti sudah bicara yang bukan-bukan tentangku.
"Perempuan kayak dia nggak pantas dikasihani. Bikin malu. Buat mesum di rumah orang," pekik Tanteku pada orang-orang di sana.
Aku memegang dadaku, terasa sesak. Kenapa Tanteku tega bicara seperti itu. Bukankah aku sama saja dengan anaknya, apalagi dia belum punya anak setelah bertahun-tahun menikah.
"Bubar semua! Jangan jadi penonton urusan keluarga orang. Kepo aja!" teriakan Om Danu membuatku sedikit lega, setidaknya aku tidak jadi bahan tontonan.
Aku berlutut di lantai, bukan meminta ampun tapi mereka membuatku seperti itu. Tanteku duduk di kursi di depanku. Keningnya mengkerut seperti memikirkan sesuatu. Aku berdoa pada Tuhan, supaya terlepas dari mereka.
"Saya nggak bisa nampung kamu lagi, perbuatan kamu sudah mempermalukan keluarga," ucap Tante Gina, saat aku ingin membuka mulut mata pria itu tajam padaku seakan mengancamku.
"Kamu mau ngusir dia Bu? Kasihan Mila mau tinggal dimana dia. Ingat Bu cuma dia satu-satunya darah daging kamu," ucap Om Danu seperti tidak rela aku pergi. Pintar sekali dia berakting.
Aku tidak berharap macam-macam, cukup Tuhan membawaku ke tempat yang lebih baik dari sini. Mungkin tidak ada lagi kesempatan aku lari dari jerat Om Danu lain kali. Mataku terpejam membayangkan itu.
"Nggak bisa, keputusanku udah bulat. Warisan peninggalan orangtua dia juga sudah habis. Darimana kita mau nafkahin dia?" tanya Tanteku dengan kesal. Aku sedikit meringis mendengar itu. Yang menghabiskan sebenarnya Om Danu yang suka berjudi dan Tante Gina suka belanja banyak-banyak. Sedangkan aku, putus sekolah dengan alasan warisan orangtuaku telah habis. Harusnya setahun lagi aku lulus.
Tiba-tiba Om Danu membisikkan sesuatu di telinga Tanteku, aku tidak tahu apa yang pria itu katakan. Tapi Tanteku mulai tersenyum menatapku. Kali ini wajahnya tidak kesal lagi.
Aku termasuk gadis ramah dan suka membantu pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Saat aku putus sekolah banyak yang berniat melamarku, tapi Om dan Tante menolak dengan alasan aku belum cukup umur. Tapi aku yakin bukan karena itu.
Mereka membuatku seperti pembantu, aku jarang mendapatkan sapaan lembut. Makan makanan sisa dari mereka. Tapi aku tetap bersyukur. Tuhan, kenapa aku mendapatkan perlakuan seperti itu?
🥀🥀🥀
Sudah kuduga, mereka ingin menyingkirkanku dengan timbal balik yang tidak merugikan mereka. Tiba-tiba saja Tante dan Om memanggilku dan makan bersama di ruang makan, hal yang tidak pernah kami lakukan.
Tante juga yang memasak makanan ini. Ayam goreng kesukaanku. Biasanya setahun sekali aku menikmati ayam goreng. Bukan karena tidak pernah memasak ayam goreng hanya saja tidak ada jatahku. Saat aku memasak ayam goreng, yang tersisa hanya tulang-tulangnya saja. Terpaksa aku makan dengan garam dicampur sedikit air hangat. Coba saja, rasanya seperti kalian makan dengan ikan asin.
Di saat teman-teman seumuran denganku sudah berpakaian menarik tidak denganku, pakaianku bekas-bekas yang diberikan tetangga. Mungkin mereka kasihan. Terkadang malah ada yang memberikan aku kue sembunyi-sembunyi. Aku punya teman, dia tetangga kami dulu dia satu sekolah denganku. Terkadang Aina mengajariku pelajaran yang tertinggal. Jadi aku tidak bodoh-bodoh sekali.
"Ayok makan yang banyak Mila, Tante sengaja masakin ini khusus buat kamu. Maaf ya Tante mukulin kamu." Tante Gina meletakkan paha ayam ke piringku, senyumnya lembut sekali.
Aku tersenyum, sedikit curiga. "Iya Tante." Kulirik Om Danu yang menatapku sambil tersenyum, membuatku ingin muntah.
"Om punya kenalan di Jakarta, dia lagi butuh orang buat bantu-bantu. Kamu mau kan kerja ke sana?" tanya Om Danu. Mendengar itu aku sedikit antusias.
"Kerja apa Om?" tanyaku bersemangat. Daripada di sini di mangsa pria bedebah ini. Lebih baik aku memulai hidup baru.
Om Danu menyikut Tante Gina, mataku mengamati kelakuan mereka. Apa yang mereka rencanakan. Kenapa Om Danu berat mengatakan.
"Kerjaannya enak kok, cuma duduk-duduk aja di sana," kata Tanteku. Dia menghentikan makannya dan terfokus pada wajahku. "Di Club malam kamu mau ya? Om kamu sudah bicara sama yang punya. Kamu tinggal berangkat saja."
Mataku melotot, kuletakkan sendok pelan supaya mereka tidak tersinggung. "Tante aku nggak mau kerja di Club malam. Itu tempat maksiat. Bagusan aku kerja jadi pembantu rumah tangga saja. Atau jadi TKW, kalau itu aku mau." Tolakku dengan tegas. Membayangkan dikelilingi laki-laki saja bulu kudukku merinding. Aku pernah nonton TV di rumah Aina, berita tentang penggerebekan club malam. Jauh dari kata positif, apanya yang tinggal duduk-duduk saja.
"Kamu itu nggak ngapa-ngapain di sana. Nggak semua pekerja club malam itu negatif. Otak kamu aja yang negatif!" ucap Om Danu memarahiku. "Kamu kerja di bagian dapur kok. Nuci sama masak."
Andaikan orangtuaku masih ada aku tidak mungkin diposisi sulit seperti ini. Aku tidak mau kerja di tempat seperti itu. Tapi tidak tahu bagaimana menolaknya, Om dam Tante sepertinya sudah merencanakan.
"Hitung-hitung kamu balas budi sama kami, Mila." Tante Gina, adikku ayahku mengungkit.
"Balas budi gimana, Tante? Aku di sini ngerjain semuanya. Masak, nuci, ngepel, malah aku ikut nyangkul di sawah. Semua harta orangtua aku kalian yang ambil alih," ucapku dengan berani. Jantungku seolah berhenti ditatap setajam itu oleh kedua orang itu.
"Jadi kamu mau perhitungan tenaga? Denger ya Mila, harta orangtua kamu itu sudah habis. Mereka ninggalin hutang sama rentenir. Semua harta kalian sudah habis terjual untuk bayarin itu!" bentak Om Danu, dia berdiri tegak dengan matanya masih tajam ke arahku. "Pokoknya kamu harus pergi, kalau tidak kamu terima akibatnya."
Pov: Mila
Kulangkahkan kakiku mengikuti Om-ku, laki-laki bedebah itu. Aku bahkan tidak tahu kemana dia membawaku, untuk pertama kalinya aku pergi dari kampung halamanku. Aku terus mengikuti Omku yang berjalan di depanku. Melewati kerumunan orang-orang yang sedang menari dengan alunan music yang hampir memecah gendang telingaku.
Tanteku memaksaku untuk pergi, orang-orang di kampung mengecapku sebagai gadis liar. Untuk itu aku memutuskan mengikuti kemauan mereka. Kata Omku, aku tidak perlu khawatir tentang tempat tinggal dan isi perutku. Semua sudah tersedia, aku semakin penasaran dengan apa perkerjaanku nantinya.
"Tunggu di sini, saya mau cari bosnya," ucap pria brengsek ini memberi tunjuk kursi kosong. Entah aku ingin sekali memakinya, dia tidak pantas aku sebut pamanku. Tapi ucapan itu tersangkut di tenggorokanku.
"SIALAN! Perempuan murahan ngabisin uang aja." Seorang laki-laki mengumpat di belakangku.
"Yaudahlah... lo kan udah pakek berulang-ulang kali. Ikhlasin ajalah. Dimana-mana gak ada yang namanya free."
Tubuhku gemetar, jantungku seperti berlomba ingin loncat. Suara alunan music semakin kuat, lampu kelap-kelip membuatku pusing. Mataku dari tadi memperhatikan orang-orang di sekelilingku. Ah, inikah tempat terkutuk itu? Yang menawarkan surga dunia.
"Ini bayaranmu, jangan lupa makan pil KB. Lain waktu aku datang lagi. Sama yang dibawah bersihin ya biar harum." Aku tercekat mendengar ucapan laki-laki itu, lalu mengalihkan mataku saat wanita yang menerima uang melirikku. Tapi tetap saja aku penasaran dengan apa yang mereka lakukan di sampingku. Sudut mataku nakal melirik lagi, dan sialnya itu adegan dewasa.
Bagaimana ini, gimana caranya aku bisa kabur dari sini. Aku mulai gusar. Kepalaku menoleh kanan-kiri. Om Danu belum kembali, ini kesempatanku untuk lari.
Aku bangkit dari kursiku, melangkah lebar ke arah pintu yang tadi aku lewati dengan Omku. Persetan dengan Tanteku, aku tidak ingin menjadi wanita pekerja di sini. Saat sudah dekat dengan pintu, suara teriakan mengangetkanku.
"Hei! Mau kemana, jangan kabur kamu!" suara itu milik Om Danu, aku semakin mempercepat gerakannku.
"Karmila! Tangkap dia."
Dengan sekuat tenaga aku berlari kencang, sesekali menoleh kebelakang. Dua orang laki-laki berbadan tegap mengejarku bersama Om Danu, kami seperti sedang main film action. Aku berlari kuat dengan terisak, semoga saja aku tidak tertangkap. Aku pernah berdoa untuk terlepas dari Om dan Tenteku. Tapi kenapa aku malah jatuh ke jurang yang lebih dalam.
"Kena kamu! Mau lari kemana?" seorang laki-laki berkepala botak menangkapku dari depan. Kali ini tamatlah riwayatku.
"Bawa dia ke ruang Tanaka," seorang laki-laki lagi yang tadi mengejarku berucap. Om Danu membiarkan saja aku digeret-geret.
"Om, tolong Mila... aku nggak mau di sini Om!" teriakku dan berharap dia masih punya hati.
"Udah ikutin aja, kamu bakal senang di sini," kata Om Danu, dan aku menoleh mendapati wajahnya tersenyum sambil mencium amplop di tangannya.
🥀🥀🥀
"Barang bagus, tapi sayangnya dia masih bau ikan," ucap seorang wanita berjongkok di depanku dan mendapati mataku menatapnya tajam. Lalu dia menghempaskan kepalaku kasar setelah mengelus pipiku.
"Untuk saat ini suruh dia bantu-bantu dibelakang, sampai dia terbiasa dengan tempat ini," lanjut wanita bermake-up agak tebal itu.
Aku tebak dia adalah pemilik tempat ini, terlihat semua orang tertunduk saat bicara dengannya. Aku masih berlutut, dengan mata berkaca-kaca. Setidaknya dia bilang aku bantu-bantu di belakang. Aku tidak tahu pasti apa itu, tidak ada yang bisa aku perbuat.
"Ayo ikut," laki-laki bertato menarikku kasar. Membawaku keluar dari ruang itu.
"Pak tolong lepasin saya, saya nggak mau tinggal di sini." Aku menyatukan tanganku, memohon padanya. Tapi laki-laki itu semakin keras mencekam lenganku hingga sampai di depan kamar. Tangannya membuka pintu lalu mendorongku ke dalam.
"Pak tolong lepasin saya!" Teriakku terisak.
"Percuma kamu teriak-teriak, nggak akan bisa kamu keluar dari sini. Karena kamu itu sudah dijual," suara gadis di belakang mengejutkanku. Dijual? Laki-laki bedebah itu menjualku. Saat aku menoleh pada wanita itu, ternyata gadis yang di sampingku tadi. Yang menerima uang bayaran.
"Kamu masih beruntung nggak langsung disuruh melayani tamu, malah dijadiin pesuruh. Pasrah aja, ini tempat kamu sekarang. Kalau kamu bersikap baik dan penurut. Tanaka pasti nggak maksa kamu." Wanita berbaju teng top itu menghisap rokoknya, membuat awan putih dari asap rokok.
Aku mengelap air mataku, tapi tetap saja tangisku tak henti malah semakin sesenggukan. "Mbak siapa?" Tanyaku.
"Panggil aku Meira. Kamu kelihatannya masih muda." Dia memandangku dari atas sampai bawah lalu tertawa suram.
Aku menggigit bibirku, berusaha menahan tangisku. Umurku sudah 16 tahun, apa bisa dibilang masih muda. Perempuan ini tertawa seakan pekerjaannya tidak membuatnya malu. Dan inilah tempatku sekarang. Aku terduduk lemas di dekat pintu, bajuku sudah basah karena air mata dan keringat karena main kejar-kejaran dengan algojo tadi.
"Namaku Mila, Mbak. Masih 16 tahun," setelah beberapa detik aku berucap. Dia tersenyum datar. Aku meneliti wajahnya, pembicaraan wanita ini dan pria tadi mengusik pikiranku.
"Ada apa? Kamu mau nanya sesuatu?" Ujar Meira. Dia tahu isi kepalaku? Apa dia paranormal.
"Ta--Tadi," aku ragu-ragu. "Kok Mbak di kasih uang terus disuruh makan pil KB?" tanyaku mengingat peristiwa tadi.
Dia malah tertawa. Lalu bangkit dari duduknya di tepi ranjang. Dan menatapku yang masih bingung dengan pertanyaanku. Apa dia tersinggung? Tapi kenapa dia tertawa? Aku menatapnya terus, dia cantik dan aku pikir dia ramah.
"Nanti juga kamu akan tahu, kalau udah lama tinggal di sini," ucapnya masih tertawa. "Aku masih ada job, ini cuma istirahat bentar. Kamu tidur aja, kalau mau mandi pakai bajuku yang ada di lemari."
Dan aku terharu hingga ingin menangis lagi, dia tahu aku tidak membawa baju. Aku memperhatikannya yang sedang berkaca, menata rambut dan memoles bedak ke wajahnya.
Setelah dia pergi, aku kembali menangis. Air mataku tumpah tanpa bisa kubendung lagi. Aku tidak mau menjadi seperti mereka. Tuhan tolong aku...
🥀🥀🥀
Tidak terasa sudah sebulan aku tinggal di sini, pagi hari aku bersih-bersih di club malam. Mengepel, menyapu, mengelap meja. Bahkan aku jadi tahu merk minuman alkohol, penciumanku sudah terbiasa dengan aromanya. Kalau soal bersih-bersih aku jagonya, tidak perlu dimentor. Aku suka rela mengerjakannya asal di kasih makan dan tempat tinggal. Asrama mereka seperti tempat kost-kostan. Banyak wanita-wanita berlalu-lalang dengan baju kurang bahan.
Terkadang aku dipanggil untuk mengurut wanita-wanita yang bekerja di sini. Jangan panggil mereka pelacur, karena mereka juga tidak mau dengan keadaan seperti ini. Sama sepertiku. Kata mereka pijitanku enak, malah mereka ngasih tips. Lumayan buat beli pembalut dan bakso. Meira sering membawakanku makanan, dia paling banyak jobnya. mereka selalu bilang job kalau dapat pelanggan.
"Mila, kerjaan kamu di kampung tukang pijit ya. Enak banget tahu."
Aku tertawa sambil memijit bahu Meira, gadis itu ternyata masih 20 tahun. Dan dia yang minta sama pemilik pub ini supaya aku tinggal di kamarnya. Aku sangat berterimakasih mendengar itu, mungkin dia melihatku saat dikejar-kejar oleh laki-laki bedebah itu.
"Aku sering mijit Tanteku pas di kampung. Jadi udah terbiasa, Mei." Dia tidak suka kalau aku panggil Mbak, nama saja biar kelihatan seumuran katanya. Meira sama sepertiku dari kampung, bedanya dia mengadu nasib di ibukota. Sedangkan aku dijual.
"Dek, mau bakso nggak. Biar sekalian tak beliin." Aku menoleh ke arah pintu. Melihat Nia lalu mengangguk cepat. Mereka semua baik padaku, karena semua yang mereka suruh aku kerjakan dengan senang hati. Mencuci baju mereka, mijit, bahkan terkadang memasak untuk para hunian.
"Mila pedas ya Mbak, tambahin baksonya," pesanku tak tahu malu. Kedua tanganku masih memikit bahu Meira.
"Aku juga Nia, pedas juga," teriak Meira. "Entar malam aku ada double job jadi butuh banyak tenaga," lanjut Meira. Aku meneguk salivaku. Gila aja double job, dua cowok dong. Nia menaikkan jempolnya tanda mengiyakan pesanan Meira.
"Mei, emang nggak sakit ya? Harus dobule job? Kamu nggak bisa nolak satu aja," ucapku penasaran dan merasa kasihan.
"Udah biasa Mil, mereka maunya aku. Mana bisa aku nolak. Bisa-bisa Tanaka marah. Lagian uangnya lumayan Mil," ujarnya. Aku berpikir sambil tanganku tetap menekan-nekan bahunya. Nih anak cepat kayak dong, pikirku.
"Tapi bayaran aku nggak seberapa Mil dibanding yang masih virgin. Anak perawan kayak kamu bisa puluhan juta, apalagi cakep mulus bisa dilelang sampe ratusan juta," lanjut Meira, aku menggigil mendengarnya. Manusia dilelang?
Semoga saja itu tidak pernah terjadi padaku, aku rela jadi babu di sini seumur hidup asal jangan menjadi pemuas nafsu laki-laki hidung belang.
"Mila...Mila! Kamu denger nggak sih?!"
"I--iya. Aku denger kok Mei."
Aku terdiam sejenak, ragu menanyakan ini. "Kamu nggak menderita ngelakuin perkerjaan ini? Kamu kan punya kesempatan untuk lari dari tempat ini Mei."
Meira menaikan bahunya terasa di tanganku. Lalu aku duduk di sampingnya. Ingin mendengar perasaannya. "Awalnya aku kayak kamu, tapi lama-kelamaan terbiasa. Lumayan hasilnya, Mil. Aku bisa nabung dan ngirim buat bantu adikku sekolah."
"Tapi kan jijik bersentuhan sama orang yang gak kita suka." Mulutku terlalu lancang, untung dia tidak tersinggung. Malah tertawa.
"Gak seburuk itu... kadang aku dapet pelanggan masih muda, ganteng lagi. Kalau kayak gitu kan sama-sama puas." Kata Meira dengan tawa tengilnya. Akupun ikut tertawa dengan gaya cerita Meira. Pemandangan club malam membuatku lebih terbuka, tidak semua di dunia ini indah.
Krekkk
Suara bukaan pintu mengagetkanku juga Meira. Aku pikir Nia dengan baksonya. Ternyata Tanaka. Ia memandangku lalu melihat ke arah Meira. Jarang-jarang Tanaka mendatangi asrama kalau bukan hal penting.
"Meira nanti malam bawa Mila, pinjamkan dia pakaianmu yang bagus," ucap Tanaka lalu pergi tanpa berucap padaku. Tidak pernah dia menyuruhku datang dengan pakaian bagus
Meira menatapku sejenak. Bahasa tubuhnya membuatku tidak nyaman. Tapi aku berfikir positif, selama ini aku tidak pernah dipaksa untuk melayani laki-laki. Teman-temanku di sini bersedia menggantikanku jika ada tawaran itu dari Tanaka. Bagi mereka mendapatkan job sama artinya mengisi pundi-pundi.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan."
"Aku mau berkerja apa pun itu asalkan nggak menjual diri. Tolong Mei, aku nggak mau ngelakuin itu," ucapku dengan bibir gemetar. Meira diam saja tanpa ekspresi. Aku tahu sulit bagiku untuk mencari pekerjaan tanpa mengantongi ijasah apalagi di ibukota.
"Kamu percaya aku, kan? Dateng aja, kalau kamu nggak dateng Tanaka bisa marah. Tenang aja aku bakal gantiin kalau urusannya udah sampai sana." Meira memegang tanganku hangat, aku percaya Meira. Dia satu-satunya yang paling terbuka padaku. Begitu juga sebaliknya.