Bab 2

Akhirnya, mereka berdua sampai juga di kost-an sederhana milik Langit, sontak Langit menatap wajahnya Vanya seraya menggenggam tangan gadis itu dengan penuh rasa. Terpancar jelas dari wajahnya, jika rasa sendu bercampur harap itu tengah menggerogoti hati dan tubuhnya. Ingin menangis, tapi ia sadar jika berada di hadapan wanitanya, gak boleh layaknya pecundang yang kalah dalam memenangkan pertarungan.

“Langit turun dulu ya, hati-hati pulangnya,” tutur Langit pada Vanya yang masih menatap keluar jendela dan enggak untuk menatapnya sedikit pun. Bahkan menggubris omongan Langit pun gak.

Dengan rasa kecewa dan sedikit luka yang tertoreh, Langit turun dari mobil Vanya, yang juga turun mengganti posisi duduknya, karena dia akan mengemudikan mobilnya sendiri menuju rumah. Sebelum Vanya hilang dari pandangannya, Langit enggan untuk masuk ke dalam.

Seseorang menganggetkan Langit yang masih berada di depan rumah.

“Woy bro! Pulang dinner nih yeee,”

Rendi, teman satu kostnya Langit sekaligus teman dekat Langit yang selalu ada disaat susah maupun senang. Pria itu datang disaat gak tepat dan menggoda Langit yang lagi gundah.

“Iya dinner,” lirih Langit lesu, dan berjalan memasuki kamar.

“Yaelah lo! Pulang dinner bukannya bahagia malah lesu, woles bro, woles! Lo berantem ya ama Vanya?” ujar Rendi antusias dan menguntit Langit masuk ke dalam untuk mendengarkan cerita sahabatnya itu hari ini.

“Gue lagi pengen istirahat Ren, kalo lo masih belum mau tidur, depan tv noh,” bantah Langit mengusir Rendi yang mengganggu dirinya yang kali ini gak mood buat berbicara apalagi bercanda untuk hal yang tidak penting.

“Idih, lebay banget lo! Gitu aja marah,” ujar Rendi dan keluar dari kamar Langit dan membiarkan sahabatnya itu untuk beristirahat sendirian.

Langit yang bukannya tidur, tapi malah melamun. Matanya terasa sulit untuk di pejamkan padahal ia berusaha untuk memejamkannya, Langit lebih memilih untuk melirik ponselnya untuk menanyakan pujaan hatinya itu, sebelum ia sampai di rumah hati Langit gak bakalan bisa tenang, bahkan tidur pun juga gak bakalan nyaman.

Langit massage: “Nanti kalo udah nyampe rumah bilang ya,” centang dua abu langsung terbaca olehnya.

Berjam lamanya, pesan itu tak kunjung di baca apalagi di balas oleh Vanya hingga akhirnya membuat Langit yang menunggu harus tertidur.

Waktu yang sekarang menunjukkan pukul 23.30, menyadarkan Langit dari buah mimpinya jika ia tengah menunggu jawaban dari kekasih hatinya itu, namun tak kunjung jua ia dapatkan, hingga rasa khawatir menyeruak sesak di dadanya, ia menatap ke sebelahnya Rendi, ia pun juga udah ikut tertidur pulas karena waktu udah makin larut.

‘Nomor yang anda tuju sedang diluar jangkauan, cobalah untuk beberapa saat lagi,’

Jawaban operator semakin membuatnya gelisah, bahkan juga membuatnya semakin gak tau harus berbuat apa lagi, secara Vanya belum juga mengabarinya bahkan sudah berkali-kali ia mencoba menghubungi, entah itu melalu telepon biasa dan juga melalui WhatsApp masih di luar jangkauan dan gak aktif lagi, padahal terakhir ia menghubunginya Vanya masih aktif.

***

Pagi Kembali menyambut, dengan resah gelisah Langit yang bergegas bersiap menuju kampus dan bertemu dengan Vanya, karena biasanya ia akan datang lebih awal daripada Langit, tapi kali ini Langit ingin lebih awal untuk menunggunya.

“Woy! Buru-buru amat lo, jadwal ngampus itu masih lama cuy,” ujar Rendi pada Langit yang udah membabi buta cepetnya dan gak sadar kalo Rendi juga akan berangkat kampus siang.

“Gue bukannya mau datang lebih awal Ren! Tapi gue mau nemuin Vanya karena dari semalam dia itu gak ngabarin gue sama sekali,” tutur Langit seraya mengikat tali sepatunya.

“Iya positif thinking aja kali Langit! Bisa jadi aja Vanya semalam itu ketiduran dan baterai handphonenya low,”

“Tapi gak akan mungkin Ren! Gue tau banget Vanya, dia gak bakalan pernah ngebiarin handphonenya habis baterai! Ya udah, gue duluan ya, ntar kalo lo udah otw kampus kabarin gue!” pamit Langit pada Rendi yang kemudian melajukan sepeda motornya hingga hilang dari pandangan Rendi.

“Ckckck, anak jaman sekarang itu ya, kalo udah cinta. Bucinnya kebangetan,” gumam Rendi sendiri dan masuk ke dalam rumah untuk bersantai sebelum waktu kuliah tiba.

Hidup penuh dengan kekhawatiran, dan rasa takut kehilangan. Begitulah Langit.

Tak perlu memakan waktu yang lama seperti biasa, karena mungkin alam dan keadaan juga bersahabat pagi ini dengannya, Langit tanpa berlama lagi memarkirkan motornya di tempat biasa dan menunggu kedatangan Vanya.

Dua puluh menit berlalu, Langit belum juga melihat tanda-tanda kedatangan kekasihnya itu.

Hingga akhirnya, ia melihat Vanya dari kejauhan di antar oleh sebuah mobil yang belum pernah Langit lihat sebelumnya, dan juga ada pria yang jauh lebih tampan dari Langit turun dari mobil itu membukakan pintu untuk Vanya yang tampak bahagia, sebelum sesaat mereka berdua berpelukan dan pria itu mencium mesra dahi Vanya, saat dengan Langit belum pernah rasanya ia menyentuh pipi apalagi dahi wanitanya. Dengan perasaan yang berkecamuk, Langit mendekati mereka berdua dan menanyakan apa sebenarnya yang terjadi pada mereka berdua di belakangnya.

“Vanya,” panggil Langit.

Sontak gadis itu membelalakkan matanya, dan kaget apa yang terjadi.

“Loh, La-langit kok lo datang pagi? Bukannya jadwal lo siang ya?” tanya Vanya panik dan berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.

“Enggak, tadi mau ketemu kamu dulu. Makanya datang cepat, soalnya dari semalam aku hubungin kamu gak balas, jadi khawatir. Oh iya ini siapa?” jawab Langit yang masih tenang menghadapi keadaan yang sakit baginya ini.

“Ini siapa Vanya?” tanya pria itu pada Vanya.

Namun ia hanya bisa terdiam sebelum sesaat Vanya menjawab, jika Langit adalah,

“Sahabat deket aku,”

Deg

Setega itu?

“Oh gitu, kenalin gue Arya, pacarnya Vanya salam kenal ya,”

Ingin rasanya marah, menangis dan membentak tapi Langit berhasil mengontrol semua itu daripada memecahkan emosinya di hadapan mereka.

“Iya salam kenal, oh iya aku pergi dulu ya. Maaf gangguin,” pamit Langit pada mereka berdua terutama pada vanya seraya melemparkan senyum kecut pada wanita itu.

“Langit,” panggil Vanya yang kali itu merasa bersalah. Tapi Langit masih melihatkan senyumnya, meskipun Vanya berhasil menancapkan sembilu tajam tepat pada sasaran, ke arah jantungnya.

Pergi sulit, bertahan sakit. Itulah kalimat yang cocok di berikan pada Langit.

Berpura-pura bahagia, atas pengkhianatan nyata yang dilakukan oleh orang yang dia cinta. Padahal ia selalu berusaha untuk mencintainya dengan sepenuh hati dan gak pernah bermain api. Tapi nyatanya, orang yang dia anggap tulus, menyakitinya.

Dengan hati yang remuk, Langit mengendarai motornya kembali ke rumah kost. Ia tau, jika ini adalah sebuah hukuman yang harus ia terima.

***

Bab 3

Suara motor Langit terdengar kembali menambah suasana sumringah pagi ini, karena waktu masih menunjukkan pukul 08.00 pagi. Sementara itu, jadwal kuliah mereka pukul 10.00. Dengan wajah yang kusut dan mata yang sembab Langit masuk ke dalam rumah tanpa membuka sepatunya terlebih dahulu.

"Eits, Kenapa balik lagi? Gak ketemu ama Vanya?" tanya Rendi yang masih bersantai dengan gaya ala anak kostnya, di mana mie instan hangat dengan asap yang masih mengepul terhidang di hadapannya. Gak seperti Langit yang kali ini harus menelan rasa pahitnya sendiri.

"Ketemu kok," singkat Langit dengan suara yang berat.

"Lo nangis? Hahahaha jiailah Lo! Cemen banget deh! Masa gara-gara itu aja lo nangis sih," ejek Rendi pada Langit yang menertawakan pria itu dengan sangat-sangat puas.

"Puas ketawanya?" bentak Langit pada Rendi yang sontak membuatnya terdiam.

Deg

'Hah? gak biasanya Langit bentak gue? Pasti ada sesuatu nih!' pikir Rendi dalam diamnya karena di bentak sama Langit.

Dengan buru-buru, Rendi menyantap mi yang ia masak tadi, dan menemani Langit yang ada di kamar dan terlihat sedang tidak baik-baik saja hari ini.

Cklek!

"Langit, lo gak makan? Gue masak dua mi tu," ujar Rendi basa basi pada Langit, karena ia harus waspada dulu sebelum Langit kembali emosi dengan dirinya itu.

"Lo aja yang makan, gue lagi males," tukas Langit pada Rendi yang duduk di meja yang ada di kamarnya seraya memainkan gitar.

"Kalo kata emak gue nih ye Langit, jangan sedihin orang yang bikin lo sakit. Jangan mikirin orang yang lagi bahagia, karena semua yang lo lakuin itu bakalan sia-sia," celetuk Rendi lagi pada Langit yang masih melamun.

Rendi masih menunggu jawaban dari Langit, namun yang ia tunggu, tak juga kunjung merespon dirinya, dan kembali memetik senar gitar yang ada dalam pangkuan.

"Gue gak habis pikir, wanita yang gue percaya dan gue sayang main api di belakang gue, jujur hancur jadi gue," ujar Langit pada Rendi dengan suara berat menahan tangis yang akan membuncah, padahal sebelumnya Langit adalah pria yang paling tegar yang pernah ia kenal.

"Jangan sedih gitu bro! Lo percaya kan kalo kehidupan itu ada feedback-nya? Dan lo pernah denger kan, Allah pernah bilang kalo orang baik akan di jodohkan dengan yang baik pula. Tapi kalo orang itu buruk dia bakalan dapat pasangan ya sama. Jadi lo jangan sedih gitu dong bro! Jangan jadi Langit yang gak gue kenal," tutur Rendi pada Langit yang masih berusaha melihatkan jika dia baik-baik saja. Meskipun air mata sudah terlanjut keluar dan ia menyeka air matanya tanpa di lihat oleh Rendi.

Langit yang kali ini menghela nafas panjang lalu menghembuskanya dengan kasar. Meskipun air matanya masih keluar tapi setidaknya ia berusaha untuk tidak terlihat lemah, karena menurutnya hidup ini keras pada waktunya. Akan ada saatnya ingin menyerah tapi itu gak mungkin untuk di lakukan.

"Ya udah, sekarang tampilkan Langit yang gue kenal! Karena bentar lagi kita kuliah, jadi gue harus mandi dan prepare dulu, okey! Tungguin gue, kita berangkat bareng!" celoteh Rendi pada Langit seraya menunjuk sahabatnya itu hingga ia keluar dari kamar.

"Bacot lo, buruan aja sono mandi!" tukas Langit pada Rendi lagi.

***

Waktu yang di tunggu pun tiba, jam menunjukkan pukul 10.00 pagi teng. Rendi dan Langit yang udah nyampe di kampus dan bergegas menuju ruang kelas, karena dosennya lima menit lagi bakalan masuk ke ruangan, jadi gak boleh sampe telat. Mereka berdua yang dari kantin langsung aja berjalan menuju ruang kelas.

"Eh, Langit lo liat itu deh! Itu Vanya kan?" colek Rendi pada Langit yang masih menggunakan earphone di telinganya. Langit hanya menatap datar Rendi, karena Langit gak denger apa yang di bilang Rendi padanya.

"Woi Langit! earphone lo buka! Gue lagi ngomong," teriak Rendi ke telinga Langit, yang sontak membuat pria itu melepas earphonenya.

Langit memang tampan, tapi tampan aja itu gak bakalan bikin orang tertarik. Karena seperti yang di lihat kebanyakan, kalo gak ada uang, gak bakal ada yang mendekat, dan itu yang sekarang di rasakan Langit.

"Apaan sih Ren? Gue lagi gak mau bercanda ya! Bisa gak usah tarik earphone gue!" bentak Langit pada Rendi yang usil banget.

"Gue gak ngajak lo bercanda Langit! Tapi gue lagi ngasih tau lo, kalo itu ada Vanya di sana," tutur Langit seraya melempar kan tunjuknya ke sebuah lorong kampus yang gak terlalu rame orang yang berada di sana.

Langit yang langsung melihat ke arah yang di tunjuk oleh Rendi dan mendapati Vanya tengah ciuman di sana dengan pria yang bertemu dengannya tadi pagi. Kali ini, Langit ingin memberi kan pelajaran pada pria itu yang lancang menyentuh wanita yang dia sayang.

"Woy lo! Berhenti!" teriak Langit dan bergegas berlari menghampiri mereka, Rendi yang panik mengejar Langit yang terbakar oleh api emosi yang membuncah dan panas yang seakan membakar ubun-ubunnya, karena itu bukan hanya perselingkuhan yang ia dapatkan, tapi juga ada hal yang seharusnya ia lakukan dari sekarang.

Seketika mereka berdua berhenti, dan Vanya yang lagi-lagi kaget dengan kedatangan Langit membelalakkan matanya, dan malah menghardik Langit yang udah melayangkan pukulannya terlebih dahulu pada pria itu.

Brugh!

Untuk kali ini, Langit bener-bener gak bisa lagi menahan emosinya yang udah memuncak.

"Langit stop! Jangan terusin lagi! Langit stops, or we break up!" teriak Vanya yang kala itu membuat Langit menghentikan hajarannya yang bertubi-tubi pada selingkuhan wanita yang ia percaya.

Langit menatap ke arah Vanya dengan tajam. Dan Rendi juga gak nyangka kalo yang ia lihat kali ini itu nyata. Vanya seorang yang terlihat begitu mencintai Langit, tapi ternyata dengan mudahnya merusak hati sahabatnya.

"Kalo memang itu yang lo mau," jawab Langit dan berlalu meninggalkan Vanya dan pria itu di tempat, rasa sakit, kecewa dan benci kini berkecamuk menjadi satu dalam dadanya.

"Eh Langit, Langit tungguin gue! Jangan tinggalin gue!" seru Rendi padanya yang kemudian berlari menuju kelas pagi ini.

***

Langit dan Rendi berada dalam kelas, tapi Langit masih larut dalam lamunan dan kegundahannya, ia tau kalo yang ia lakukan itu adalah kesalahan. Tapi sampai kapan ia harus menutupi rasa sedihnya itu dengan sebuah rasa yang begitu membuatnya terluka. Sementara menutupi kesedihan dengan topeng kebahagiaan adalah hal yang paling sulit dan gak mesti terjadi. Tapi sekarang semua telah usai, tidak adalah topeng kebahagiaan yang akan menyiksa langit lagi.

***

Yuks tap selanjutnya..

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED