Langit malam kali ini begitu membuat hati semakin tenang ketika menatapnya, terlebih saat ia melihat bintang bertaburan bak lampu kamar yang menghiasi temaramnya malam ini.
“Langit, lo mau kemana?” Tanya Rendi sahabat Langit yang menganggetkan pria yang tengah melamun itu.
“Lo ternyata, gak ada sih. Gue mau pergi dinner ama Vanya,” jawab Langit dengan semringahnya.
“Malam ini?”
“Iya jelas malam ini,”
Pria yang di panggil Rendi itu hanya manggut-manggut mendengar sahabatnya itu. Lalu, bersamaan masuk ke dalam rumah. Langit berniat, bersiap untuk mengambil motor dan juga helmnya untuk menjemput kekasih hatinya itu. Tapi ternyata gerakan Langit terlalu lamban, hingga akhirnya Vanya yang datang lebih dulu menghampiri Langit ke kostnya.
Tiiinn!
Tiiinn!
Suara klakson mobil Pajero putih telah terparkir tepat di halaman rumah kostnya.
“Kok pake helm sih?” Tanya Vanha saat ia membuka kaca mobilnya dan menatap Langit yang tersenyum simpul ke arahnya.
“Enggak, tadi itu aku mau jemput kamu ke rumah,” jawab Langit lembut pada kekasihnya itu.
“Gak usah deh, jangan nyari malu aku! Masa pake motor itu sih, gak banget!” cela Vanya pada Langit yang tertegun mendengar kalimat yang di ucapkan kekasihnya. Bahkan dalam diamnya, Langit menangis dalam diam tanpa berkutik sepatah kata.
“Iya udah, aku ke dalam bentar ya,” tukas Langit.
“Iya cepetan! Gak pakai lama!” Titah Vanya dengan gaya pongahnya, lalu merapikan rambutnya dengan kaca yang ada dalam mobil. Langit yang tadi berada di dalam, kini telah menghampiri. Membukakan pintu untuk gadis itu turun dan berganti posisi dengan Langit yang akan mengendarai mobilnya malam ini.
Oh iya, sedikit perkenalan Langit Aksara adalah mahasiswa akhir di salah satu universitas ternama yang ada di ibu kota. Ia rela menjadi seorang anak kost demi pendidikan yang ia harapkan dapat mewujudkan semua impiannya.
Langit bukan berasal dari anak orang kaya, melainkan dari sebuah keluarga sederhana. Di ibu kota juga, Langit di pertemukan dengan seorang pria yang bernama Rendi Agaskara, dia adalah sahabat satu-satunya yang di miliki Langit selama berada di kota orang. Rendi memiliki orang tua yang bisa terbilang kaya, karena memiliki beberapa perusahaan dan itu berjalan dengan lancar. Tapi ia juga memilih untuk hidup mandiri.
Kehidupannya menjadi anak kost bukanlah hal yang mudah, karena ia harus mulai dari nol tanpa bantuan dari siapapun. Berbanding terbalik dengan Vanya yang merupakan anak dari sebuah pengusaha terkenal di ibu kota ini.
“Ayok kita berangkat!” ajak Langit pada Vanya, kemudian Langit mengendarai mobil gadis itu menuju cafe dimana mereka akan mengadakan makan malam hari ini.
Sesekali, sambil menyetir Langit mencuri pandang hanya untuk menatap wajah Vanya yang masih sama, terlihat manis dan anggun. Bahkan baju apapun yang ia kenakan pasti akan tampak indah di tubuhnya. Tubuh dan wajah yang bisa di bilang perfect, dan juga sangat cantik.
Dalam hati, Langit bergumam.
‘Mimpi apa gue? Bisa punya pasangan sesempurna Vanya,'
Namun lamunan Langit buyar saat Vanya melontarkan pertanyaan.
“Ngapain sih liatin aku terus?” tanya Vanya ketus saat sadar di perhatikan oleh Langit.
“Hah? Pacar Langit cantik,”
“Baru tau, kemaren liatin cewek lain aja sih! Makanya baru sadar kalo pacarnya cantik!” celetuk Vanya yang membuat Langit hanya tersenyum simpul.
“Dasar cowok!”
Langit hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban kekasihnya itu.
Karena selama ini, Langit selalu memperhatikan Vanya dalam diamnya. Yah meskipun Vanya gak pernah sadar akan hal itu.
***
Setelah beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya mereka tiba juga di tempat tujuan di mana banyak orang yang telah berada di sana, bahkan berpasangan hingga akhirnya Vanya turun lalu bersapa dengan salah satu wanita yang jika di lihat Vanya dekat dengannya
Sementara itu, selama Langit menjadi pasangan Vanya, ia baru kali ini di ajak dinner dengan bareng dengan temannya Vanya. Gadis itu selalu menolak untuk membawa Langit.
“Hai Tania, udah dari tadi ya datangnya?” sapa Vanya pada Tania, yang merupakan sahabat dekat Vanya.
“Enggak lama kok, baru aja lima menit sebelum lo dateng, eh btw partner lo mana?” tanya Tania lagi pada Vanya, dan membuat mata Tania tak berhentinya menelesir semua penjuru untuk melihat siapa pasangan sahabatnya itu. Sontak dengan tatapan malas, Vanya melihat ke arah Langit yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Sementara itu, Langit tengah terdiam menatap ramainya manusia yang ada di sini, bahkan style mereka lebih kece jika dibandingkan dengan dirinya yang apa adanya itu. Bahkan terlintas dalam benaknya, jika Langit tak pantas untuk berada di sini.
“Ini pacar gue,” lirih Vanya pada Tania seraya menatap Langit lagi dengan malas, yang sontak membuyarkan pandangan Langit yang tak fokus kali ini.
“Oh ini pacar lo?” Tanya Tania seakan tak percaya.
“Kenalin, ini Tania, sahabat aku!” Ujar vanhay pada Langit.
“Langit,” ujar pria itu seraya membungkukkan badannya, dan Tania yang mengulur tangan namun tak di jawab oleh Langit.
“Pacar lo alim banget ya Anya, masa gue jabatan tangan aja gak mau,” ujar Tania dengan nada mengejek Vanya karena sikap Langit yang tak ingin terlalu dekat dengan wanita lain selain pasangannya. Akan tetapi, pria itu tak menghiraukan dirinya dianggap seperti apa.
“Kamu tuh yah! Bikin aku malu aja!” gerutu Vanya berbisik lirih ke arah Langit yang kemudian menghela nafasnya berat.
Sementara Tania, udah berjalan lebih dulu menghampiri yang lain. Karena memang, yang mengadakan acara makan malam Tania.
“Ya udah yok Vanya, kita makan lagi aja. Tadi gue udah pesen ini loh,” ajak Tania menuju sebuah meja yang ada di hadapannya.
Sementara Langit? Di abaikan begitu saja, seakan Langit tak ada, yah walaupun dia di minta untuk duduk dengan Vanya, tapi ia tak diajak berbicara seasik pasangan sahabat Vanya, dan juga tak seasik pria lain.
Ketika menatap itu sendirian, Langit merasa enggan, bahkan untuk menelan makanan pun tak berminat.
“Lo itu itu yakin milih dia jadi pasangan lo? Enggak banget loh Vanya!” bisik Tania pada Vanya pelan, dan menatap ke arah Langit.
“Tau deh Tan, gue gak tau juga kenapa gue bisa milih di jadi pasangan gue,” jawab Vanya setengah berbisik juga.
“Lah terus kenapa lo mau jadi pacarnya dia? Secara lo itu cantik Vanya, lo juga model, famous pula. Please deh, jangan pacaran sama orang yang gak selevel ama lo, yang ada bikin malu aja tau gak!” bisik Tania pada Vanya yang kemudian terdiam mencerna kalimat yang di ucapkan oleh Tania barusan padanya.
Emang sih Vero itu gadis yang terlahir dari keluarga pengusaha kaya, selain dia jadi model dia juga paling disayang. Dan apapun maunya pasti bakalan di kabulin. Dia cantik dan juga jadi idola banyak pria, tapi hanya sikapnya yang kurang patut di contoh.
“Gue juga betah sama dia! Liat aja gayanya, kampungan banget tau gak?”
Langit yang merasa dirinya di perbincangkan merasa tak nyaman, dan akhirnya menghentikan makannya. Dalam benaknya, Langit berpikiran untuk meninggalkan tempat ini, karena ia merasa tempat ini udah gak nyaman lagi baginya. Akan tetapi, ia berpikir dua kali jika ia melakukan hal bodoh itu demi harga dirinya. Lantas meninggalkan Vanya gitu aja? Pria pecundang macam apa dirinya ini? Pikir Langit.
“Vanya, kita pulang aja yok,” ajak Langit.
“Kenapa sih? Kok buru-buru banget pulangnya?” Tukas Vanya pada Langit.
“Iya kita pulang aja, udah kemaleman banget loh,” Tania yang mendengar kalimat itu, tertawa geli mendengarnya.
“Huh, ini itu kota Langit! Enggak kampung yang jadwal pulangnya harus di batasin. Udah deh Lang, kalo lo mau pulang, pulang aja sendiri!” Timpal Vanya pada Langit yang tertegun mendengarnya. Bahkan ia merasa jika dirinya tak ada arti apa-apa di mata pasangannya itu.
Langit mencoba untuk meredam amarahnya.
“Iya gak enak by, aku udah gak nyaman!”
“Kamu itu gimana sih, gak bisa sekali aja liat aku seneng! Giliran di ajak minta pulang, giliran gak diajak di tanyain kenapa, maunya apa sih? Ya udah, kalo gitu kita putus!” teriak Vanya yang kemudian mendengus kesal.
Deg
Perasaan aneh kembali menyesakkan dada dan pikiran Langit.
_______
Akhirnya, mereka berdua sampai juga di kost-an sederhana milik Langit, sontak Langit menatap wajahnya Vanya seraya menggenggam tangan gadis itu dengan penuh rasa. Terpancar jelas dari wajahnya, jika rasa sendu bercampur harap itu tengah menggerogoti hati dan tubuhnya. Ingin menangis, tapi ia sadar jika berada di hadapan wanitanya, gak boleh layaknya pecundang yang kalah dalam memenangkan pertarungan.
“Langit turun dulu ya, hati-hati pulangnya,” tutur Langit pada Vanya yang masih menatap keluar jendela dan enggak untuk menatapnya sedikit pun. Bahkan menggubris omongan Langit pun gak.
Dengan rasa kecewa dan sedikit luka yang tertoreh, Langit turun dari mobil Vanya, yang juga turun mengganti posisi duduknya, karena dia akan mengemudikan mobilnya sendiri menuju rumah. Sebelum Vanya hilang dari pandangannya, Langit enggan untuk masuk ke dalam.
Seseorang menganggetkan Langit yang masih berada di depan rumah.
“Woy bro! Pulang dinner nih yeee,”
Rendi, teman satu kostnya Langit sekaligus teman dekat Langit yang selalu ada disaat susah maupun senang. Pria itu datang disaat gak tepat dan menggoda Langit yang lagi gundah.
“Iya dinner,” lirih Langit lesu, dan berjalan memasuki kamar.
“Yaelah lo! Pulang dinner bukannya bahagia malah lesu, woles bro, woles! Lo berantem ya ama Vanya?” ujar Rendi antusias dan menguntit Langit masuk ke dalam untuk mendengarkan cerita sahabatnya itu hari ini.
“Gue lagi pengen istirahat Ren, kalo lo masih belum mau tidur, depan tv noh,” bantah Langit mengusir Rendi yang mengganggu dirinya yang kali ini gak mood buat berbicara apalagi bercanda untuk hal yang tidak penting.
“Idih, lebay banget lo! Gitu aja marah,” ujar Rendi dan keluar dari kamar Langit dan membiarkan sahabatnya itu untuk beristirahat sendirian.
Langit yang bukannya tidur, tapi malah melamun. Matanya terasa sulit untuk di pejamkan padahal ia berusaha untuk memejamkannya, Langit lebih memilih untuk melirik ponselnya untuk menanyakan pujaan hatinya itu, sebelum ia sampai di rumah hati Langit gak bakalan bisa tenang, bahkan tidur pun juga gak bakalan nyaman.
Langit massage: “Nanti kalo udah nyampe rumah bilang ya,” centang dua abu langsung terbaca olehnya.
Berjam lamanya, pesan itu tak kunjung di baca apalagi di balas oleh Vanya hingga akhirnya membuat Langit yang menunggu harus tertidur.
Waktu yang sekarang menunjukkan pukul 23.30, menyadarkan Langit dari buah mimpinya jika ia tengah menunggu jawaban dari kekasih hatinya itu, namun tak kunjung jua ia dapatkan, hingga rasa khawatir menyeruak sesak di dadanya, ia menatap ke sebelahnya Rendi, ia pun juga udah ikut tertidur pulas karena waktu udah makin larut.
‘Nomor yang anda tuju sedang diluar jangkauan, cobalah untuk beberapa saat lagi,’
Jawaban operator semakin membuatnya gelisah, bahkan juga membuatnya semakin gak tau harus berbuat apa lagi, secara Vanya belum juga mengabarinya bahkan sudah berkali-kali ia mencoba menghubungi, entah itu melalu telepon biasa dan juga melalui WhatsApp masih di luar jangkauan dan gak aktif lagi, padahal terakhir ia menghubunginya Vanya masih aktif.
***
Pagi Kembali menyambut, dengan resah gelisah Langit yang bergegas bersiap menuju kampus dan bertemu dengan Vanya, karena biasanya ia akan datang lebih awal daripada Langit, tapi kali ini Langit ingin lebih awal untuk menunggunya.
“Woy! Buru-buru amat lo, jadwal ngampus itu masih lama cuy,” ujar Rendi pada Langit yang udah membabi buta cepetnya dan gak sadar kalo Rendi juga akan berangkat kampus siang.
“Gue bukannya mau datang lebih awal Ren! Tapi gue mau nemuin Vanya karena dari semalam dia itu gak ngabarin gue sama sekali,” tutur Langit seraya mengikat tali sepatunya.
“Iya positif thinking aja kali Langit! Bisa jadi aja Vanya semalam itu ketiduran dan baterai handphonenya low,”
“Tapi gak akan mungkin Ren! Gue tau banget Vanya, dia gak bakalan pernah ngebiarin handphonenya habis baterai! Ya udah, gue duluan ya, ntar kalo lo udah otw kampus kabarin gue!” pamit Langit pada Rendi yang kemudian melajukan sepeda motornya hingga hilang dari pandangan Rendi.
“Ckckck, anak jaman sekarang itu ya, kalo udah cinta. Bucinnya kebangetan,” gumam Rendi sendiri dan masuk ke dalam rumah untuk bersantai sebelum waktu kuliah tiba.
Hidup penuh dengan kekhawatiran, dan rasa takut kehilangan. Begitulah Langit.
Tak perlu memakan waktu yang lama seperti biasa, karena mungkin alam dan keadaan juga bersahabat pagi ini dengannya, Langit tanpa berlama lagi memarkirkan motornya di tempat biasa dan menunggu kedatangan Vanya.
Dua puluh menit berlalu, Langit belum juga melihat tanda-tanda kedatangan kekasihnya itu.
Hingga akhirnya, ia melihat Vanya dari kejauhan di antar oleh sebuah mobil yang belum pernah Langit lihat sebelumnya, dan juga ada pria yang jauh lebih tampan dari Langit turun dari mobil itu membukakan pintu untuk Vanya yang tampak bahagia, sebelum sesaat mereka berdua berpelukan dan pria itu mencium mesra dahi Vanya, saat dengan Langit belum pernah rasanya ia menyentuh pipi apalagi dahi wanitanya. Dengan perasaan yang berkecamuk, Langit mendekati mereka berdua dan menanyakan apa sebenarnya yang terjadi pada mereka berdua di belakangnya.
“Vanya,” panggil Langit.
Sontak gadis itu membelalakkan matanya, dan kaget apa yang terjadi.
“Loh, La-langit kok lo datang pagi? Bukannya jadwal lo siang ya?” tanya Vanya panik dan berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
“Enggak, tadi mau ketemu kamu dulu. Makanya datang cepat, soalnya dari semalam aku hubungin kamu gak balas, jadi khawatir. Oh iya ini siapa?” jawab Langit yang masih tenang menghadapi keadaan yang sakit baginya ini.
“Ini siapa Vanya?” tanya pria itu pada Vanya.
Namun ia hanya bisa terdiam sebelum sesaat Vanya menjawab, jika Langit adalah,
“Sahabat deket aku,”
Deg
Setega itu?
“Oh gitu, kenalin gue Arya, pacarnya Vanya salam kenal ya,”
Ingin rasanya marah, menangis dan membentak tapi Langit berhasil mengontrol semua itu daripada memecahkan emosinya di hadapan mereka.
“Iya salam kenal, oh iya aku pergi dulu ya. Maaf gangguin,” pamit Langit pada mereka berdua terutama pada vanya seraya melemparkan senyum kecut pada wanita itu.
“Langit,” panggil Vanya yang kali itu merasa bersalah. Tapi Langit masih melihatkan senyumnya, meskipun Vanya berhasil menancapkan sembilu tajam tepat pada sasaran, ke arah jantungnya.
Pergi sulit, bertahan sakit. Itulah kalimat yang cocok di berikan pada Langit.
Berpura-pura bahagia, atas pengkhianatan nyata yang dilakukan oleh orang yang dia cinta. Padahal ia selalu berusaha untuk mencintainya dengan sepenuh hati dan gak pernah bermain api. Tapi nyatanya, orang yang dia anggap tulus, menyakitinya.
Dengan hati yang remuk, Langit mengendarai motornya kembali ke rumah kost. Ia tau, jika ini adalah sebuah hukuman yang harus ia terima.
***
Suara motor Langit terdengar kembali menambah suasana sumringah pagi ini, karena waktu masih menunjukkan pukul 08.00 pagi. Sementara itu, jadwal kuliah mereka pukul 10.00. Dengan wajah yang kusut dan mata yang sembab Langit masuk ke dalam rumah tanpa membuka sepatunya terlebih dahulu.
"Eits, Kenapa balik lagi? Gak ketemu ama Vanya?" tanya Rendi yang masih bersantai dengan gaya ala anak kostnya, di mana mie instan hangat dengan asap yang masih mengepul terhidang di hadapannya. Gak seperti Langit yang kali ini harus menelan rasa pahitnya sendiri.
"Ketemu kok," singkat Langit dengan suara yang berat.
"Lo nangis? Hahahaha jiailah Lo! Cemen banget deh! Masa gara-gara itu aja lo nangis sih," ejek Rendi pada Langit yang menertawakan pria itu dengan sangat-sangat puas.
"Puas ketawanya?" bentak Langit pada Rendi yang sontak membuatnya terdiam.
Deg
'Hah? gak biasanya Langit bentak gue? Pasti ada sesuatu nih!' pikir Rendi dalam diamnya karena di bentak sama Langit.
Dengan buru-buru, Rendi menyantap mi yang ia masak tadi, dan menemani Langit yang ada di kamar dan terlihat sedang tidak baik-baik saja hari ini.
Cklek!
"Langit, lo gak makan? Gue masak dua mi tu," ujar Rendi basa basi pada Langit, karena ia harus waspada dulu sebelum Langit kembali emosi dengan dirinya itu.
"Lo aja yang makan, gue lagi males," tukas Langit pada Rendi yang duduk di meja yang ada di kamarnya seraya memainkan gitar.
"Kalo kata emak gue nih ye Langit, jangan sedihin orang yang bikin lo sakit. Jangan mikirin orang yang lagi bahagia, karena semua yang lo lakuin itu bakalan sia-sia," celetuk Rendi lagi pada Langit yang masih melamun.
Rendi masih menunggu jawaban dari Langit, namun yang ia tunggu, tak juga kunjung merespon dirinya, dan kembali memetik senar gitar yang ada dalam pangkuan.
"Gue gak habis pikir, wanita yang gue percaya dan gue sayang main api di belakang gue, jujur hancur jadi gue," ujar Langit pada Rendi dengan suara berat menahan tangis yang akan membuncah, padahal sebelumnya Langit adalah pria yang paling tegar yang pernah ia kenal.
"Jangan sedih gitu bro! Lo percaya kan kalo kehidupan itu ada feedback-nya? Dan lo pernah denger kan, Allah pernah bilang kalo orang baik akan di jodohkan dengan yang baik pula. Tapi kalo orang itu buruk dia bakalan dapat pasangan ya sama. Jadi lo jangan sedih gitu dong bro! Jangan jadi Langit yang gak gue kenal," tutur Rendi pada Langit yang masih berusaha melihatkan jika dia baik-baik saja. Meskipun air mata sudah terlanjut keluar dan ia menyeka air matanya tanpa di lihat oleh Rendi.
Langit yang kali ini menghela nafas panjang lalu menghembuskanya dengan kasar. Meskipun air matanya masih keluar tapi setidaknya ia berusaha untuk tidak terlihat lemah, karena menurutnya hidup ini keras pada waktunya. Akan ada saatnya ingin menyerah tapi itu gak mungkin untuk di lakukan.
"Ya udah, sekarang tampilkan Langit yang gue kenal! Karena bentar lagi kita kuliah, jadi gue harus mandi dan prepare dulu, okey! Tungguin gue, kita berangkat bareng!" celoteh Rendi pada Langit seraya menunjuk sahabatnya itu hingga ia keluar dari kamar.
"Bacot lo, buruan aja sono mandi!" tukas Langit pada Rendi lagi.
***
Waktu yang di tunggu pun tiba, jam menunjukkan pukul 10.00 pagi teng. Rendi dan Langit yang udah nyampe di kampus dan bergegas menuju ruang kelas, karena dosennya lima menit lagi bakalan masuk ke ruangan, jadi gak boleh sampe telat. Mereka berdua yang dari kantin langsung aja berjalan menuju ruang kelas.
"Eh, Langit lo liat itu deh! Itu Vanya kan?" colek Rendi pada Langit yang masih menggunakan earphone di telinganya. Langit hanya menatap datar Rendi, karena Langit gak denger apa yang di bilang Rendi padanya.
"Woi Langit! earphone lo buka! Gue lagi ngomong," teriak Rendi ke telinga Langit, yang sontak membuat pria itu melepas earphonenya.
Langit memang tampan, tapi tampan aja itu gak bakalan bikin orang tertarik. Karena seperti yang di lihat kebanyakan, kalo gak ada uang, gak bakal ada yang mendekat, dan itu yang sekarang di rasakan Langit.
"Apaan sih Ren? Gue lagi gak mau bercanda ya! Bisa gak usah tarik earphone gue!" bentak Langit pada Rendi yang usil banget.
"Gue gak ngajak lo bercanda Langit! Tapi gue lagi ngasih tau lo, kalo itu ada Vanya di sana," tutur Langit seraya melempar kan tunjuknya ke sebuah lorong kampus yang gak terlalu rame orang yang berada di sana.
Langit yang langsung melihat ke arah yang di tunjuk oleh Rendi dan mendapati Vanya tengah ciuman di sana dengan pria yang bertemu dengannya tadi pagi. Kali ini, Langit ingin memberi kan pelajaran pada pria itu yang lancang menyentuh wanita yang dia sayang.
"Woy lo! Berhenti!" teriak Langit dan bergegas berlari menghampiri mereka, Rendi yang panik mengejar Langit yang terbakar oleh api emosi yang membuncah dan panas yang seakan membakar ubun-ubunnya, karena itu bukan hanya perselingkuhan yang ia dapatkan, tapi juga ada hal yang seharusnya ia lakukan dari sekarang.
Seketika mereka berdua berhenti, dan Vanya yang lagi-lagi kaget dengan kedatangan Langit membelalakkan matanya, dan malah menghardik Langit yang udah melayangkan pukulannya terlebih dahulu pada pria itu.
Brugh!
Untuk kali ini, Langit bener-bener gak bisa lagi menahan emosinya yang udah memuncak.
"Langit stop! Jangan terusin lagi! Langit stops, or we break up!" teriak Vanya yang kala itu membuat Langit menghentikan hajarannya yang bertubi-tubi pada selingkuhan wanita yang ia percaya.
Langit menatap ke arah Vanya dengan tajam. Dan Rendi juga gak nyangka kalo yang ia lihat kali ini itu nyata. Vanya seorang yang terlihat begitu mencintai Langit, tapi ternyata dengan mudahnya merusak hati sahabatnya.
"Kalo memang itu yang lo mau," jawab Langit dan berlalu meninggalkan Vanya dan pria itu di tempat, rasa sakit, kecewa dan benci kini berkecamuk menjadi satu dalam dadanya.
"Eh Langit, Langit tungguin gue! Jangan tinggalin gue!" seru Rendi padanya yang kemudian berlari menuju kelas pagi ini.
***
Langit dan Rendi berada dalam kelas, tapi Langit masih larut dalam lamunan dan kegundahannya, ia tau kalo yang ia lakukan itu adalah kesalahan. Tapi sampai kapan ia harus menutupi rasa sedihnya itu dengan sebuah rasa yang begitu membuatnya terluka. Sementara menutupi kesedihan dengan topeng kebahagiaan adalah hal yang paling sulit dan gak mesti terjadi. Tapi sekarang semua telah usai, tidak adalah topeng kebahagiaan yang akan menyiksa langit lagi.
***
Yuks tap selanjutnya..