Bab 1

"Mohon maaf, Bu." Dokter menjeda kalimatnya.

"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Allah memiliki rencana lain," sambungnya kemudian.

"Ma-maksudnya, Dok?"

"Mohon maaf, suami Ibu sudah meninggal dunia."

Bagai tersambar petir di siang bolong, hidup Aira hancur seketika. Suami yang sangat ia cintai berpulang lebih dulu dan meninggalkan ketiga anak mereka yang masih kecil-kecil.

Aira Annisa, wanita tangguh yang telah membersamai suaminya sejak sebelas tahun yang lalu hingga akhirnya sang suami menyerah dengan kanker hati yang ia derita sejak tiga tahun terakhir.

Abda Abdillah meninggalkan ketiga anaknya, yakni Amara yang berusia sembilan tahun, Amar enam tahun, dan si bungsu Akbar yang masih berusia tiga tahun.

"Kenapa Ayah bobok terus, Bu?" tanya Akbar polos.

Pertanyaan sederhana, tetapi berhasil membuat Aira hanyut dalam kesedihan yang mendalam. Ia dekap erat tubuh sang anak, kemudian kembali hanyut dalam kehampaan.

Tangis pilu yang begitu menyayat hati siapa saja yang melihatnya. Seorang ibu muda dengan tiga anak ditinggalkan suami untuk selama-lamanya.

Aira menyeka air matanya kemudian menatap dalam wajah sang putra. "Sekarang Akbar belum paham, Sayang, tapi ibu janji suatu hari nanti akan menjelaskan semuanya."

Aira merupakan seorang anak yatim-piatu yang tidak memiliki keluarga, dikarenakan ayah dan ibunya sama-sama anak tunggal dan mereka hanyalah seorang perantau. Untung saja Aira memiliki tetangga serta sahabat yang sangat baik kepadanya.

"Tenangkan dirimu, Ra. Biarkan Akbar bersamaku," pinta Nuraini—sahabat dekat Aira.

"Bagaimana nasibku dan anak-anak ke depannya, Nur? Aku harus bagaimana sekarang?"

Nuraini langsung memeluk tubuh Aira, memberi kekuatan untuk sang sahabat yang sedang rapuh hati dan jiwanya.

"Serahkan semuanya sama Allah, Ra. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kalian."

"Tapi, Nur ..."

"Ssssttt ... sudah, Ra. Percaya sama aku. Kamu pasti bisa lalui ini semua, aku yakin. Kamu harus kuat demi anak-anak, coba kamu bayangkan gimana rapuhnya mereka tanpa kamu, mereka sudah kehilangan satu sayap, Ra! Jangan buat mereka semakin hancur dengan kehancuranmu. Aku tahu ini berat, tapi kamu harus menjalani ini. Kamu nggak sendiri, Ra, kamu punya Allah, kamu punya mereka, dan kamu punya aku."

Keduanya kembali berpelukan, setelah merasa sedikit tenang barulah Aira menghampiri ketiga anaknya yang sejak tadi dijaga oleh beberapa tetangga.

"Yang kuat ya, Ra. Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuanmu," ucap salah satu tetangga.

Aira hanya bisa mengangguk lemah, ia sadar jika kini ada tiga anak yang harus ia tenangkan juga.

Amara yang memang sudah paham dengan keadaan yang terjadi terlihat lebih tegar dari sang ibu, ia terus menjaga kedua adiknya dan menjelaskan kepada Amar tentang kondisi ayah mereka.

"Sekarang Ayah udah nggak ada, Dek. Kita harus sama-sama jagain Ibu dan Akbar, ya," ucapnya.

Gadis cantik berhijab biru muda itu terus menggenggam tangan ibunya, tak sedetik pun ia lepas hingga akhirnya semua proses pemakaman sang ayah selesai.

Sama halnya dengan Amara, Nuraini pun tetap setia mendampingi Aira yang sempat tak sadarkan diri ketika jasad sang suami mulai dimasukkan ke liang lahat.

"Kuat, Ra, kuat. Kasihan suamimu."

Semua orang sudah pergi meninggalkan area pemakaman, bahkan ketiga anak Aira pun sudah dibawa pulang oleh beberapa tetangga, kini tinggal Aira yang masih terus menatap papan yang tertancap di atas pusara sang suami dengan Nuraini yang masih setia mendampinginya.

"Kenapa kamu pergi begitu cepat, Mas? Bukankah kita punya banyak mimpi yang belum sempat kita wujudkan?"

"Bukankah tahun depan kita akan pergi ke tanah suci bersama-sama? Bukankah kau berjanji akan mengantarkan Akbar di hari pertama sekolahnya? Bukankah kau sendiri yang akan menyerahkan Amara kepada suaminya kelak? Kau juga berjanji akan memastikan Amara mendapatkan suami yang salih dan bertanggung jawab. Lupa kah kau dengan janji-janjimu itu, Mas?" Aira memeluk dan mencengkram kuat gundukan tanah di depannya.

Nuraini mengusap punggung Aira. "Sudah, Ra. Tenangkan dirimu."

Aira tidak mengindahkan ucapan Nuraini, ia terus meratapi kepergian sang suami. Tangisnya pecah, tubuhnya berguncang hebat, hingga akhirnya kembali tak sadarkan diri.

Nuraini langsung menghubungi salah satu kerabatnya untuk meminta bantuan sambil terus berusaha membangunkan Aira. Namun sayang, tubuh Aira tetap lunglai di atas pusara sang suami.

Dengan sedikit kesusahan Nuraini mengangkat tubuh Aira kemudian ia peluk dengan erat.

"Kuatkan Aira, Ya Allah," lirihnya.

Tak lama bantuan datang, mereka langsung mengangkat tubuh Aira dan membawanya ke mobil.

"Kamu udah bangun, Ra? Minum dulu gih!" Nuraini menyodorkan segelas teh hangat, tetapi Aira langsung menepisnya.

"Aku nggak haus, Nur."

"Kamu harus minum teh ini, Ra, supaya sedikit bertenaga." Nuraini terus membujuk Aira hingga akhirnya ia mau meneguk sedikit teh hangat tersebut.

"Anak-anak di mana?" Aira berusaha beranjak dari tempat tidurnya, tetapi tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit. Ia meringis sambil memegangi kepalanya.

"Kamu istirahat aja, Ra. Jangan pikirin anak-anak. Anak-anak aman sama mamaku, beliau baru aja sampe."

"Makasih ya, Nur. Aku nggak tahu gimana jadinya aku kalo nggak ada kamu." Kedua perempuan itu kembali berpelukan.

Satu minggu berlalu, para tetangga sudah kembali ke rumah masing-masing setelah beberapa hari bergantian membantu Aira menyiapkan acara tahlilan untuk mendoakan mendiang suaminya, kini tinggal Nuraini juga sang ibu yang masih setia mendampingi Aira serta ketiga anaknya.

Namun, Nuraini pun memiliki aktivitas lain, ia memiliki pekerjaan dan pondok pesantren peninggalan sang ayah yang harus ia perhatikan.

"Aku sama Mama pulang dulu ya, Ra. Kamu baik-baik di rumah, jangan melamun, perbanyak ibadah. Ingat, Ra ada anak-anak yang masih butuh perhatianmu."

"Kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungi ibu atau Nuraini ya, Ra. Ibu sudah menganggapmu seperti anak ibu sendiri, jadi jangan pernah sungkan apalagi malu. Sekarang ibu pulang dulu, insya Allah ibu akan ke sini lagi untuk bertemu cucu-cucu ibu."

"Makasih ya, Bu, Nur. Aira beruntung karena memiliki kalian berdua." Mata indah Aira mulai berembun, ia sangat terharu dengan kebaikan kedua ibu dan anak itu.

Nuraini langsung memeluk sang sahabat. "Udah jangan nangis lagi. Pokoknya kamu harus selalu ingat kalau kamu nggak sendiri, oke!"

"Iya, Nur. Makasih ya."

Sementara Bu Anita, ibunya Nuraini, langsung menghampiri ketiga cucu angkatnya.

"Cucu-cucu nenek yang cantik dan ganteng-ganteng, nenek pulang dulu ya. Ingat selalu pesan nenek, jangan tinggalkan salat, harus rajin belajar, dan jangan lupa untuk selalu mendoakan ayah." Dengan menahan tangis Bu Anita memeluk ketiga anak yang baru saja menjadi yatim itu. Dadanya sesak, kembali teringat ketika sang suami meninggalkan dirinya dan Nuraini untuk selama-lamanya.

"Sekarang Ayah sudah di surga ya, Nek?" celoteh Akbar.

"Iya, Sayang. Ayah sudah tenang di surga, jadi tugas kalian sekarang adalah menjadi anak salih salihah dan selalu mendoakan ayah agar ayah bahagia di sana."

Akbar mengangguk riang, sementara Amar dan Amara yang sudah memahami keadaan yang sesungguhnya justru langsung berubah muram. Mereka sadar jika saat ini tidak bisa lagi menatap dan memeluk orang yang selalu menemani mereka bermain.

Tidak akan ada lagi canda tawa dan senyum indah sang ayah yang kerap mereka saksikan ketika sedang bersenda-gurau bersama, tak ada lagi cinta pertama bagi Amara yang memang belum mengenal cinta.

Bab 2

Enam bulan berlalu begitu saja, tetapi Aira masih terus meratapi kematian suaminya. Dia tahu yang ia lakukan salah dan terkesan tidak menerima takdir tuhan, tetapi itulah Aira dengan segala ke-GAMON-annya, bahkan untuk sekedar bangkit demi anak-anaknya pun ia tidak bisa.

    "Sudahi kesedihanmu, Aira. Anak-anak butuh kamu, kami hanya bisa membantu sekedarnya saja, yang benar-benar mereka butuhkan adalah kamu. Ibunya." Salah satu warga yang biasa datang berkunjung mencoba menasihati Aira, lagi.

    Aira membantah, "Ibu nggak tahu rasanya jadi aku karena Ibu belum merasakannya, nanti kalau suami Ibu meninggal baru tahu rasa!"

    "Plakk!"

    Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulusnya.

    "Maksud kamu apa bicara seperti itu, Aira? Aku peduli padamu. Coba kau lihat anak-anak yang hidup dari belas kasih orang lain, sementara ibu kandungnya sibuk dengan lamunannya sendiri."

    Aira terdiam sambil memegangi pipinya yang terasa sedikit panas.

    "Wanita mana yang mau ditinggal mati suaminya, Ra? Nggak ada, tetapi mau bagaimana lagi, semua sudah takdir. Tugas kita hanya perlu menerimanya dengan ikhlas. Lapangkan hatimu, kasihan mereka. Enam bulan sudah kau telantarkan anak-anakmu, sekarang saatnya kamu bangkit. Sadar, Ra, sadar!!!" Wanita bertubuh gempal itu mengguncang bahu Aira hingga beberapa kali.

    "Ya Allah, ternyata selama ini aku telah menelantarkan anak-anakku. Ampuni aku Ya Allah." Aira mulai menangis, menyesali perbuatannya.

    Selama enam bulan ia sibuk menyendiri, sementara ketiga anaknya di asuh oleh beberapa tetangga. Kematian suaminya benar-benar telah mengubah hidup Aira, ia tidak pernah lagi bergaul dengan para tetangga, tidak pernah mengurus diri , dan menelantarkan anak-anaknya.

    Abda Abdillah sendiri bukanlah orang yang berpunya, ia hanya seorang karyawan biasa sehingga ketika ia meninggal dunia tak meninggalkan banyak harta untuk anak istrinya.

    Amara, Amar, dan Akbar menyambung hidup hanya dengan mengandalkan belas kasihan tetangga serta guru di sekolah mereka, ketika Amar dan Amara harus pergi sekolah biasanya mereka akan menitipkan Akbar kepada Bu Fatimah karena kebetulan rumah mereka berdekatan.

    Bu Fatimah pula yang mengurus semua kebutuhan ketiga anak yatim itu, ia membiarkan Aira tenang dengan lamunannya karena Bu Fatimah sangat menyayangi Aira dan anak-anaknya. Bu Fatimah menganggap mereka seperti anak kandungannya sendiri, tetapi ternyata hal itu menjadikan Aira sosok ibu yang egois dan melupakan tanggung jawabnya.

    Selama enam bulan setelah kepergian Abda Abdillah, baru satu kali Nuraini menghampiri sang sahabat, hal itu terjadi dikarenakan ia sedang sibuk memperbesar pondok pesantren peninggalan ayah tercinta. Itu sebabnya Aira menjadi seperti ini karena lepas dari pengawasan Nuraini.

    "Maaf jika aku menyakitimu, Aira. Aku hanya ingin kamu bangkit, kasihan anak-anakmu," ujar Bu Fatimah.

    "Aku yang minta maaf karena telah banyak merepotkan. Terima kasih atas perhatian dan kasih sayang yang Ibu berikan kepada kami. Aku nggak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikan Ibu."

    "Aku ikhlas, Ra. Aku melakukan semua ini semata-mata karena aku menyayangimu dan juga anak-anak. Bangkitlah, aku akan membantumu."

    Sejak saat itu Aira sadar jika telah banyak waktu yang ia sia-siakan untuk meratap, telah banyak pula waktu bersama anak-anak yang ia lewatkan. Ia juga sadar jika telah egois dan sibuk dengan kesedihannya sendiri.

    Aira menghapus air matanya, kakinya melangkah pasti untuk menemui ketiga anaknya.

    "Maafkan ibu ya, Nak. Maaf karena telah menelantarkan kalian selama ini. Ibu janji akan menebus semuanya mulai dari sekarang."

    "Jangan nangis lagi ya, Bu. Amara sedih lihat Ibu kaya kemarin-kemarin itu." Gadis remaja itu menghapus air mata yang membasahi pipi ibunya, kemudian langsung menghambur ke dalam pelukan yang sangat ia rindukan.

    "Amar juga sedih, Bu," sahut sang adik tak mau kalah.

    Mereka ber empat berpelukan, mencurahkan segala sesal dan rindu yang berbaur menjadi satu.

    Di dalam hati Aira bertekad akan segera bangkit dan menebus kesalahan yang selama ini ia perbuat. Enam bulan bukanlah waktu yang sebentar, terlebih bagi anak-anak seperti mereka. Untung saja Aira memiliki sulung yang cekatan dan pengertian seperti Amara, gadis itu paham bagaimana mengambil sikap dan mengurus kedua adik yang masih kecil-kecil.

****

    Dengan berbekal modal dan ilmu dari Bu Fatimah, Aira mulai berjualan gorengan, ia juga menerima pesanan pembuatan kue-kue basah serta jajanan khas pasar tradisional.

    "Terima kasih atas bantuannya ya, Bu." Aira menggenggam tangan ibu satu anak itu.

    "Ini semua berkat kegigihanmu, Ra. Aku tidak berbuat apa-apa," ucapnya.

    Kegiatan baru itu membuat hidup Aira lebih berwarna, wajah yang selama ini terlihat pucat pun mulai kembali memancarkan aura kecantikannya. Ditambah tubuh yang tinggi semampai membuat siapa saja tidak akan percaya jika dirinya adalah seorang janda dengan tiga orang anak.

    "Hari ini aku akan mencoba resep baru yang kutemukan di internet, Bu. Nanti Bu Fatimah coba ya, kalau enak akan aku jual untuk menambah varian agar lebih banyak jenis kue yang aku jual," ujar Aira bersemangat.

    "Tentu, Aira. Buatlah yang banyak, aku akan mencobanya nanti setelah pulang mengajar."

    Mendapatkan lampu hijau dari sang tetangga baik membuat Aira bersemangat sekali, ia langsung menyiapkan bahan dan mulai mengolahnya menjadi kudapan nikmat seperti yang ia lihat di layar ponselnya.

    "Jangan terlalu capek, Bu. Nanti Ibu sakit," ucap Amar.

    "Nggak nyangka kalau anak ibu udah besar, udah bisa perhatian sama ibunya. Jangan-jangan udah mulai perhatian sama cewek juga lagi."

    "Apaan sih, Bu," jawab Amar malu-malu membuat Aira terbahak karena melihat wajah putranya yang memerah.

    Kemudian ia membelai kepala Amar lembut, "belajar yang rajin dulu ya, Sayang. Bahagiakan Ayah dengan amal salih dan ilmu yang bermanfaat. Ingat, ilmu harus dicari dan dipelajari, tidak didapatkan dengan berpacaran."

    "Apaan sih, Bu. Aku nggak pacaran kok." Amar mengerucutkan bibirnya.

    "Iya, Sayang. Ibu percaya, ibu cuma ngasih tahu aja kok."

    Aira memutuskan untuk mengakhiri obrolannya dan kembali melanjutkan aktivitas yang sempat terhenti tadi.

    Aira sangat bekerja keras demi menghidupi anak-anaknya, ia sadar jika selama ini hanya mengandalkan gaji sang suami yang hanya cukup untuk makan. Sebenarnya sudah sejak lama Aira berencana ingin berjualan kecil-kecilan untuk membantu suaminya, tetapi Abda selalu melarang dengan alasan Akbar masih terlalu kecil untuk ditinggal bekerja.

    Namun siapa sangka, ajal menjemput sang tulang punggung keluarga terlalu cepat, bahkan ketika ia belum memiliki apa-apa untuk diwariskan ke anak istrinya.

    "Andai dulu kami memiliki tabungan, mungkin sekarang aku tidak akan sesusah ini," gumamnya. Namun Aira tetap menjalani pekerjaan barunya sebagai pedagang kue karena ia sadar mengeluh tidak akan membawa perubahan apa pun di dalam hidupnya.

    Aira terus berjuang sebagai orang tua tunggal, ia bertekad ketiga anaknya tidak akan pernah mengalami kepahitan hidup seperti yang ia rasakan saat ini.

Bab 3

Kehidupan Aira mulai sedikit membaik, ia menjadi lebih giat bekerja dan kembali mengurus buah hatinya.

"Alhamdulillah hari ini ibu banyak orderan, nanti Amara bantu ibu jaga Akbar ya, Nak," pintanya kepada si sulung, kebetulan hari ini adalah hari Minggu.

"Iya, Bu," sahut Amara sopan.

Remaja dua belas tahun itu sudah pandai mengurus rumah dan kedua adiknya, Amara tahu apa yang harus ia kerjakan guna membantu sang ibu meringankan pekerjaannya.

Aira dan Amara akan berbagi tugas, begitu pun dengan Amar, ia akan membantu sebisanya.

Seperti Minggu pagi ini, di saat mereka libur sekolah Amara akan membagi pekerjaan rumah dengan sang adik. Ia mencuci piring dan pakaian, sementara Amar menyapu lantai dan membersihkan tempat tidur.

Aira sendiri sudah berkutat dengan tepung terigu dan teman-temannya sejak sehabis subuh, hari ini Aira mendapat pesanan dua ratus boks berisi empat jenis untuk masing-masing boksnya, itu artinya Aira harus membuat delapan ratus buah kue untuk memenuhi pesanan tersebut. Semua Aira kerjakan sendiri tanpa meminta bantuan kepada siapa pun.

Saat ini Aira belum berani mengambil karyawan, ia takut tidak bisa memberikan gaji yang cukup untuk pekerjanya, itu sebabnya ia memutuskan untuk mengerjakan semuanya sendiri.

Tepat pukul tiga sore semua pesanan selesai, tak lama sebuah mobil minibus hitam memasuki halaman rumahnya.

"Rumah Bu Aira, ya?" tanyanya dan Aira langsung menyambut kedatangan tamunya.

"Silakan masuk dulu, Bu."

"Tidak usah repot-repot, Bu. Saya mau ambil pesanan kue aja. Oh ya, tadi Bu Ratna berpesan katanya Bu Aira harus ikut saya ke rumahnya," ucap wanita berhijab putih tersebut.

Karena tidak ada alasan untuk menolak ajakan tersebut akhirnya Aira menurutinya, setelah mengganti daster lusuh dan sedikit memoles wajahnya Aira berangkat menuju kediaman Bu Ratna.

Setibanya di sana keadaan rumah Bu Ratna sudah sangat ramai karena memang wanita kaya itu akan menggelar selematan, sebagian besar tamu memuji kue buatan Aira, mereka mengatakan jika kue buatan Aira adalah kue terenak yang pernah mereka makan.

Tak lama Aira dikejutkan dengan kedatangan seorang pria klimis berkemeja hitam.

"Kuenya enak banget, Mbak. Apa saya boleh minta nomor hapenya? Saya berencana ingin memesan kue dalam waktu dekat," ucapnya.

Tanpa berpikir panjang Aira langsung menyebutkan dua belas angka nomor ponselnya.

"Rencananya saya mau buat kejutan di hari ulang tahun istri saya nanti, Mbak. Istri saya itu suka sekali jajanan pasar seperti ini. Apa Mbak bisa menyusunnya seperti kue ulang tahun?"

"Waduh! Saya belum pernah bikin yang kaya gitu, Pak, tapi kalau Bapak mau insya Allah nanti akan saya usahakan." Aira mengatakan yang sebenarnya.

"Saya yakin Mbak bisa, banyak kok tutorialnya di internet. Soalnya kue Mbak enak banget, saya yakin istri saya akan suka."

"Iya, Pak, akan saya usahakan, tetapi saya nggak bisa berjanji, ya," ucap Aira sebelum meninggalkan rumah Bu Ratna.

Keesokan harinya ketika mendapat pesanan baru, iseng-iseng Aira mencoba menyusun kue-kue basah tersebut menyerupai kue tart dan menghiasnya dengan bunga-bunga yang terbuat dari beberapa jenis sayuran.

"Ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan," gumamnya, setelah itu mulai menghubungi pria yang memperkenalkan diri sebagai Arif itu.

"Alhamdulillah saya bisa membuat pesanan Bapak, kira-kira kapan bisa saya kerjakan?" tanyanya.

"Minggu depan ya, Mbak. Tolong berikan rincian biaya serta nomor rekeningnya, saya akan langsung melunasinya."

"Baik, Pak," jawab Aira cepat, kemudian mulai menghitung jumlah modal dan keuntungan yang akan ia ambil.

Sesuai perjanjian Pak Arif datang berkunjung ke kediaman Aira, ia ingin mengambil kue yang ia pesan satu minggu yang lalu. Namun siapa sangka jika setibanya ia di kediaman Aira, seorang wanita datang menghampiri keduanya.

"Oh jadi ini rumah selingkuhan kamu, Mas. Benar kata Bu Ratna, perempuan pedagang kue ini bukan perempuan baik-baik. Awalnya aku tidak terlalu memikirkan hal ini ketika Bu Ratna mengatakan jika kalian bertukar nomor ponsel, sampai akhirnya aku mendengar sendiri jika hari ini kalian akan bertemu janji," ucapnya berapi-api.

"Mohon maaf, Bu. Maksud Ibu apa?" tanya Aira kebingungan.

"Saya tahu kalian sudah janjian sejak Minggu lalu, saya juga tahu kalau suami saya mentransfer sejumlah uang ke kamu dan hari ini benar dugaan saya." Wanita itu terus berteriak hingga memancing beberapa tetangga Aira.

"Ibu salah paham, tolong kecilkan suara Ibu. Saya malu."

Bukannya mengecilkan suaranya, istri Pak Arif justru semakin mengencangkan suaranya. "Masih punya malu rupanya, tapi kamu nggak malu saat janjian juga minta uang sama saya, hah?"

Pak Arif yang merasa tidak enak mencoba melerai istrinya, ia terus membujuk dan menjelaskan kesalahpahaman itu.

"Mama itu salah paham," ucapnya lembut. "Papa ini minta nomor hape Mbak Aira karena kue yang beliau buat sangat enak, jadi papa berencana untuk memesan kue untuk ulang tahun Mama. Papa yakin Mama akan suka, itu sebabnya hari ini papa datang ke sini untuk mengambil pesanan itu," lanjutnya.

"Tapi kata Bu Ratna ...." Istri Pak Arif terlihat kebingungan.

"Yang dikatakan Pak Arif benar, Bu. Sebentar." Aira ikut menimpali kemudian masuk ke dalam rumah untuk mengambil pesanan yang dimaksud.

"Ini, Bu. Tiga tingkat kue dengan lima jenis kue basah yang menurut cerita Pak Arif kelimanya adalah kue kesukaan Ibu. Jadi komunikasi antara saya dan Pak Arif murni karena beliau memesan kue ini, pun dengan sejumlah uang yang dikirimkan ke rekening saya adalah uang pembayarannya."

"Memang Pak Arif memberi saya lebih, beliau mengatakan kalau itu bonus untuk upah merangkainya karena saya sendiri hanya memberi harga sesuai jumlah dari kue yang saya buat saja, tidak menambah uang merangkainya. Kalau memang Ibu tidak Ridho maka saya akan mengembalikannya," lanjut Aira menjelaskan.

Istri Pak Arif menangkup wajahnya dengan kedua tangan. "Maafin saya ya, Mbak. Saya sudah salah sangka sama Mbak Aira, apa lagi sampai menyebut Mbak yang tidak-tidak."

"Nggak apa-apa, Bu. Namanya juga salah paham. Mungkin nanti bisa ibu tanyakan kepada Bu Ratna maksud dari semua ini." Aira memberi saran.

"Pasti itu, Mbak. Kurang ajar si Ratna sudah bikin saya malu. Makanya kemarin waktu acara dia juga saya malas datang, makanya saya suruh suami saya aja, eh malah kejadian kaya gini."

"Dari sini saya juga belajar, Bu. Mungkin lain kali bisa lebih berhati-hati lagi kalau ada pria beristri yang meminta nomor ponsel saya, takut dikira si istri saya akan menggoda suaminya." Aira terkekeh kecil membuat istri Pak Arif semakin tak enak hati.

Akhirnya setelah berulang kali meminta maaf, pasangan suami istri itu pergi meninggalkan rumah Aira.

"Huffttt! Ada-ada aja," gumamnya.

Aira masuk ke dalam rumah, tetapi sebelum itu ia sempatkan untuk menengok beberapa tetangga yang masih melihat ke arah rumahnya, tetangga kepo yang mungkin saja sudah menyebarkan isu jika Aira bukanlah wanita baik-baik seperti tuduhan istri Pak Arif tadi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED