Dua tahun kemudian.
Hari ini Risa bermaksud memberi kejutan kepada suaminya dengan mendatangi kantornya pada jam istirahat siang. Dengan dandanan yang sederhana tapi kelihatan manis, Risa dengan riang menenteng lunch box yang berisikan makanan kesukaan Danu yang dimasaknya tadi pagi.
Sampai di ruangan kerjanya Danu, Risa celingukan karena tidak menemukan keberadaan suaminya.
"Maaf mas, lihat mas Danu, nggak?" Risa bertanya kepada salah satu rekan sejawatnya Danu.
"Mbak nyari pak Danuarta, ya?" Jawab laki-laki yang ber name tag Rudi.
"Iya, saya istrinya." Yang di tanya kaget dan matanya melotot.
"Kenapa mas? Ada apa, apa terjadi sesuatu dengan suami saya?" Wajah Risa penuh tanda tanya.
"Eng … tidak, tunggu aja di sini, mbak. Paling pak Danu keluar sebentar." Rudi kelihatan gugup.
Namun hingga jam istirahat siang hampir habis, Danu belum juga kelihatan batang hidungnya. Merasa tidak enak karena ruangan kerjanya Danu mulai ramai dengan karyawan yang mulai sibuk membuka kembali komputer masing-masing untuk memulai kembali pekerjaan mereka, Risa berniat pulang ke rumah. Sebelum pulang, Risa menyempatkan diri untuk pergi membuang hajat di toilet kantor. Tapi belum sempat Risa masuk ke toilet, lamat-lamat Risa mendengar dua orang teman Danu sedang menggunjing suaminya.
"Hebat si Danu, udah punya bini cantik gitu, masih main gila di luar." Kata orang yang ditanyai Risa tadi.
"Sebenernya si Danu itu punya bini berapa sih?" Teman yang satunya menimpali.
"Tahu ah, tadi yang di gandeng mesra itu bilang istrinya. Eh ini datang satu lagi bilang juga istrinya."
Risa yang mendengar percakapan tersebut mendadak lemas, pikirannya sangat was-was. Di perusahaan ini ada berapa banyak karyawan yang bernama Danu. Mungkinkah Danu yang lain? Risa akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah dan memendam kecurigaanya.
Danu yang dalam keadaan bahagia berjalan sambil bersiul-siul riang hingga tidak menyadari bahwa ada sepasang mata sedang memperhatikanya di balik pepohonan imitasi yang berada di sebelah lift.
"Hai Dan bro, hepi amat." Celetuk Rudi teman kerjanya Danu.
"Memang kelihatan banget, ya?" Danu mengusap-usap wajahnya.
"Makan siang apa minta jatah siang?" Teman Danu yang terkenal paling rese itu terlihat kepo. "Makan sianglah masa jatah siang, ngaco lo."
"Masak makan siang sampai terlambat gini. Lagian tuh rambut acak-acakkan plus kancing kemeja kamu ngacinginnya asal, berantakan banget. Ngaku aja bro, berapa ronde?" Si biang rese masih usil memancing keributan.
"Bininya bohay gitu, pasti beronde-ronde sampai klimaks." Kelakar teman yang satunya yang berniat untuk tidak memberitahu Danu tentang kedatangan Risa.
"Kalian ini kek emak-emak komplek biang gosip, kurang kerjaan."Danu mendengus kesal.
"Bagi resep bro, udah lama nikah masih hot aja. Sampai disusulin minta jatah."
"Pasti elo kerajinan goyang jadi kualitas sperma elo buruk, sampai sekarang masih belum punya bocil." Cibir Andi si biang rese.
"Ehhhhh kalian berdua jangan ngadi-adi, ya. Kami belum punya momongan karena bini gue kb, lagian kami memang sepakat nunda dulu biar puas- puasin masa romantisnya. Bini bohay gue selalu bikin nagih apalagi musim hujan kek gini nggak lagi terasa dingin yang ada anget terus ha ha ha ha."
"Dasar piktor. "Kedua teman Danu menjawab bersamaan.
"Udah ah, ayo kerja lagi. Mumpung otak gue udah fresh kembali."
Risa membekap mulutnya menahan tangis yang keluar dari mulutnya. Air matanya luruh dengan deras. Ia terduduk di lantai yang dingin dengan hati yang sangat hancur. Suami yang sangat dicintainya telah menghianati pernikahan suci mereka. 'Sejak kapan, suaminya selingkuh?' Cuma itu pertanyaan yang muncul di otaknya.
Jelas sudah kecurigaanya dari tadi ditambah dengan fakta yang selama ini suaminya seperti kelihatan capek saat memberikan nafkah bathin.
'Sayang, mama harus bagaimana, nak? Bisakah mama egois dengan tidak memikirkan perasaan kamu.' Risa terisak, mengelus perutnya yang masih rata. Memikirkan nasib anaknya kelak. Maksud hati ingin memberikan kejutan untuk suaminya, nyatanya ia yang mendapat kejutan balik.
Bersambung
HANI ^^
"Mas. "Risa memanggil Danu yang sedang fokus memandangi ponselnya ketika mereka sedang sarapan bersama.
"Iya sayang. "Danu mengalihkan pandangannya ke arah Risa.
"Di panggil dari tadi, nggak ada respon. Asyik banget. "Risa sudah menduga pasti Danu sedang membaca pesan dari kekasih gelapnya.
"Maaf sayang, tadi teman kantor tulis pesan lokasi meeting. Aku cuma lihat sebentar kok. Mastiin aja." Danu berdiri dan melangkah mendekati Risa.
"Kirain baca pesan calon maduku. "Sindir Risa yang membuat elusan tangan Danu di rambut Risa terhenti.
"Kamu kenapa sih sayang, dari semalam mas pulang kerja kok ngegas mulu bawaanya."
"Terus kamu nggak suka gitu?" Risa ingin melihat sejauh mana pembelaan Danu ketika ia memojokannya.
"Duh kok malah ngelantur sih jawabannya. Kamu ada masalah apa, ngomong sama mas, biar mas bantuin mecahinnya."
'Masalahnya itu kamu, mas.' Batin Risa.
"Atau karena nggak ada jatah malam? Bagaimana kalau mas ganti dengan morning séx." Danu mulai mengecup leher Risa, Risa merinding bukan karena nafsu tapi jijik. Jijik membayangkan suaminya yang telah menggauli wanita lain di luar sana.
"Jangan mas." Risa mengontrol emosinya agar tidak meledak. Ia ingin bermain cantik ke depannya agar tidak merugikan dirinya dan masa depan bayi yang ada di kandungannya.
"Kayaknya meja makan ini asyik juga buat ngasilin keringet pagi-pagi, kita belum pernah nglakuin di sini bukan?" Danu semakin agresif.
"Mas aku lagi datang bulan." Seketika Danu melepaskan pelukannya dari pinggang ramping istrinya.
"Pantesan ngambek mulu. Rupanya lagi PMS, mas yang jadi sasaran." Danu pura-pura sedih.
'Elahhhh munafik.' Risa kembali membatin.
"Ada apa kok diam gitu?" Danu kembali bertanya setelah ia duduk kembali di samping Risa.
"Aku rindu papa, mas, aku ingin ke Jakarta nengok, papa."
"Ya udah, bulan depan mas ambil cuti. Untuk bulan ini kayaknya nggak bisa, jadwal mas untuk meninjau lapangan sangat padat. Bulan depan kita ke Jakarta nengokin, papa."
"Aku maunya sekarang, udah setengah tahun kita nggak pernah ketemu, papa. Aku merasa sangat berdosa, padahal aku nggak sibuk apa-apa. Tiap hari cuma nongkrong di rumah."
"Kok ngomongnya gitu. Kamu udah jadi istri mas, sudah seharusnya di samping, mas. Kamu di sini bukan cuma nongkrong di rumah tapi kamu disini ngerawat, mas. Bukan berarti mas melarang kamu buat berbakti kepada papa, kedepannya kita atur aja waktunya biar kita bisa sesering mungkin nengokin, papa."
'Cih, sok bijak.' Teriak Risa dalam hati.
Melihat Risa yang masih diam saja akhirnya Danu memutuskan untuk menemani Risa mengunjungi mertuanya yang berada di Jakarta. Ia sedikit kalut karena harus membatalkan janjinya dengan sang pujaan hati untuk bersenang-senang di sebuah resort pada malam minggu. Tapi untuk menjaga image di hadapan sang papa mertua, Danu memutuskan akan membujuk kekasihnya agar tidak ngambek, nanti.
"Baiklah sabtu siang sepulang mas kerja, kita langsung ke bandara. Kamu siapin keperluan kita. Sepulang dari kantor mas langsung jemput kamu, oke?"
"Tadi katanya nggak bisa, plin plan banget. Sebenarnya sibuk ninjau lapangan atau sibuk cari kesenangan?" Perkataan Risa begitu menohok Danu. Danu ternganga dengan ucapan istrinya yang mendadak pedas sejak semalam, jauh berbanding terbalik dengan Risa yang dulu di kenalnya sebagai wanita yang lemah lembut dan sopan dalam berbicara.
"Sayang kamu kok--"
"Sudahlah mas, nanti kamu terlambat ke kantor, yang ujung-ujungnya pulang telat lagi." Risa berdiri mengambil gelas dan piring bekas mereka sarapan.
"Lagi-lagi Risa menohok hati Danu dengan kata-kata pedasnya. Merasa di pojokkan oleh istrinya akhirnya Danu berangkat kerja tanpa berpamitan seperti biasa. Karena Risa meninggalkan Danu begitu saja,membawa alat makan yang kotor untuk di cuci di dapur.
***
Risa menatap sebuah rumah megah berlantai dua di kawasan perumahan elit di Jakarta Selatan. Dia sengaja mengunjungi papanya tanpa sepengetahuan suaminya. Setelah Danu pergi ke kantor, Risa bergegas menghubungi taksi online menuju ke bandara, sedangkan tiket pesawat sudah ia pesan sejak kemarin setelah mengetahui fakta bahwa suaminya berselingkuh.
"Papa." Sapa Risa ketika melihat sang papa sedang duduk di tepi kolam ikan, memandang ikan hias warna- warni yang sedang berebut pelet makanan ikan yang baru saja ditaburkan diatas kolam.
Seketika, Hendi Bagaskara berbalik dan merentangkan tangan menyambut kedatangan putri semata wayangnya.
"Papa, Risa kangen, papa." Tangis Risa pecah ketika sang papa memeluknya erat. Pelukan ternyaman dan terhangat yang Risa rasakan sangat tulus tanpa minta balasan ataupun suatu alasan.
"Papa juga, sayang." Hendi, menepuk-nepuk bahu anaknya dengan sayang. "Tumben kesini sendiri, mana suami kamu?"
"Emm … mas Danu sibuk, pa." Risa tidak ingin menceritakan kepada papanya soal masalah rumah tangganya, ia takut sang papa akan syok dan mengakibatkan tekanan darah tingginya naik.
"Sesibuk apa, sampai seorang istri di biarkan sendirian mengunjungi orang tuanya yang berada jauh dari rumahnya?" kesal Hendi yang memang dari pertama mengenal Danu sudah tidak menyukainya. Dengan terpaksa, ia menerima Danu karena putri tercintanya ngotot untuk merestui hubungan mereka.
"Sudahlah pa, jangan bahas itu. Bagaimana dengan kesehatan papa sekarang. Baik- baik saja'kan?"
"Jangan khawatir, papa baik-baik saja. Seperti yang kamu lihat."
"Syukurlah, papa harus selalu sehat buat nemenin Risa." Suara Risa sedikit tertahan.
"Memang suami kamu kenapa?" Hendi melihat ada sesuatu yang janggal, firasatnya mengatakan bahwa pernikahan putrinya sedang bermasalah.
"Nggak kenapa-napa kok, pa. Kami baik-baik aja. Papa nggak usah khawatir." Dusta Risa.
"Ya sudah kalau baik-baik saja, papa ikut senang. Oh ya, kamu kan belum punya momongan. Daripada banyak waktu luang kamu terbuang sia-sia. Gimana kalau kamu ikut kuliah online. Waktunya pasti nggak bakal mengganggu waktu kamu untuk mengurus suami kamu karena waktunya fleksibel."
"Iya pa, Risa juga kepikiran untuk ngambil kuliah online." Risa juga untuk sementara ini ingin menyembunyikan kehamilanya dari sang papa. "Teman papa yang ada di Amerika punya beberapa rekomendasi universitas yang bagus, kamu tinggal pilih saja. Nanti papa kirim ke email kamu dan sisanya biar papa yang urus, kamu fokus belajar saja untuk ujian masuk.
"Terima kasih pa, Risa sayang, papa."
"Apapun akan papa lakukan demi kebahagiaan kamu, princesnya papa." Hendi semakin mantap untuk mendorong putrinya untuk kuliah karena melihat pandangan mata putrinya yang tidak terlihat bahagia. Menurut firasatnya hanyalah Danu sang menantu sebagai biang masalah dari kesedihan putrinya.
***
"Sayang, Mas, pulang! Kemana perginya, Risa?"
Bersambung
HANI ^^