Bab 1

Jari-jemari panjang milik seorang laki-laki berkaos putih tersebut mengetuk-ngetuk meja. Bibirnya bergumam rendah mengikuti iringan musik yang terputar pada ponsel. Retina itu beberapa kali memejam, menikmati merdunya lagu yang tengah menggema di kamar tamu.

Tidak ada yang tahu, tetapi inilah kebiasaan sosok Kenzo Bratadikara. Menyendiri di ruang sepi—kamar tanpa penerangan—dengan hanya berteman satu judul lagu kepunyaan boyband negeri ginseng. Tak ada cahaya di tempat ini, kecuali lampu belajar. Itupun terkadang redup sendiri. 

Kenzo mendesah pelan. Ketukan pintu di luar sana membuatnya beranjak dari duduk. Lekas membuka, didapatinya perempuan berpakaian santai tengah membawa secarik kertas. Laki-laki tersebut mengambilnya.

"Lagu bertema depresi yang kuketik hampir dua jam. Aku sudah memberikannya padamu. Tawarkan pada agensimu dan jika suka, aku ingin segera ditransfer," ujarnya. 

Ia Cashew Alesha, perempuan yang mendadak dijodohkan dengan Kenzo karena janji orang tua mereka untuk menikahkan anak-anaknya ketika sudah dewasa. Hubungan itu tak berjalan baik, Kenzo dan Alesha masih pisah ranjang juga jarang saling sapa.

Perempuan itu berbalik badan hendak pergi, tetapi lengan Kenzo menahannya. "Aku akan memberi ini pada Mr. Zeon sekarang."

"Terserahmu, aku tidak peduli. Kunci pintunya dari luar dan pastikan tak ada jendela yang terbuka. Aku ingin istirahat tanpa gangguan," katanya.

Kenzo melenggang keluar sebelum Alesha. Jika saja ia orang jahat, maka kapan pun laki-laki tersebut bisa membawa pulang perempuan lain sekedar untuk memenuhi hasratnya. Mau bagaimanapun, Kenzo itu normal yang butuh diperhatikan oleh lawan jenis.

Tancap gas melewati jalan raya. Seolah lupa bahwa ia kini berstatus sebagai suami yang meninggalkan tanggung jawab kala mati malam ini, Kenzo menambah kecepatan mesin. Ia tak benar-benar ke rumah CEO perusahaan Entertainment yang menaunginya. 

Kendaraan beroda empat itu berhenti di kawasan yang selama ini tak pernah Kenzo injak. Club, area pelampiasan emosi teman-temannya kala mereka frustasi menghadapi haters atau tekanan dari agensi. Kini, Kenzo pun berniat ikut bergaul di dalamnya.

Kedatangan laki-laki itu disambut heboh oleh keempat orang di pojok ruangan. Ia bahkan dituntun untuk duduk pada tengah-tengah sofa dengan dua orang mengapitnya.

Kenzo tak berekspresi lebih. Laki-laki itu hanya menurut kemudian melepas cekalan sahabat-sahabatnya. Ia memilih mengeluarkan ponsel. Berpura-pura menyibukkan diri.

"Ada masalah apa ke sini?" tanya Yondan.

Kenzo geleng kepala. "Di rumah sepi, aku tak bisa tidur."

"Hanya itu?" Young Jae, laki-laki kelahiran negara Korea itu tertawa kecil. "Let's party tonight, Bro!!!" 

Seruan tersebut membuat mereka berempat mengangkat gelas masing-masing. Sementara Kenzo yang masih kaku, diberi sodoran satu mug berisi cairan bening oleh Niko. Tatapan penuh yakin dadi mereka yang perlahan meskipun ragu menjadikan Kenzo tak bisa menolak.

"Coba sekali saja, Kenzo. Lupakan beban kita sejenak. Besok pagi, bergelutlah dengan pekerjaan dan tugas kampus lagi. Kita perlu bersenang-senang," bisik Reon.

Mengangguk, Kenzo mulai menyicipi minuman pahit tersebut. Tegukan pertama, ia hampir memuntahkannya karena tak tahan dengan rasa aneh itu. Namun, Niko menahan pergerakan ia. Menyuruh Kenzo untuk tutup hidung lalu meminumnya dengan segera.

Berhasil dengan satu gelas kecil, Kenzo diberi tepukan tangan ramai-ramai. Kini, tak ada lagi di antara mereka yang bersih akan alkohol. Kenzo pun tak bisa lama-lama menjadi laki-laki baik. 

Bagi member lain, mungkin sudah biasa. Akan tetapi, rangsangan di tubuh Kenzo berbeda. Laki-laki itu menelengkan kepala beberapa kali karena mendadak pusing. Orang-orang di sekeliling Kenzo menatapnya dengan kernyitan dahi.

"Kenzo, ada masalah?" tanya Young Jae.

Masih dengan menggerakkan kepalanya berharap pening ini hilang, Kenzo mencengkeram erat lengan laki-laki yang baru saja memberinya pertanyaan. Kenzo limbung, pandangannya semakin memburam. Entah mengapa, kakinya seolah menyuruh ia untuk pulang.

***

Tatapan nyalang Alesha tertuju lurus pada laki-laki yang kini tengah berdiri di depan kamarnya. Kenzo terlihat tidak seperti biasanya. Pakaian itu berubah acak-acakan dengan mata beberapa kali terpejam.

"Kenzo, kau ... mabuk?" tanya Alesha ragu-ragu.

Kenzo tertawa remeh sembari berjalan mendekati Alesha. "Aku tidak pernah mengonsumsi alkohol. Aku? Mabuk? Jelas sekali mustahil."

Alesha mencebikkan bibir. Perempuan itu meneliti wajah Kenzo yang tampak sedikit memerah. Ia juga mengendus-endus pakaian laki-laki tersebut. Tidak ada dorongan dari tangan Kenzo meskipun jarak mereka sekarang sangat dekat.

Jari telunjuk Alesha menyentuh tepat di tengah dada bidang Kenzo. Bukannya menampik, laki-laki itu justru terduduk di ranjang milik si istri seolah Alesha baru saja memukulnya kuat yang membuat ia terjatuh begitu saja.

"Mengapa kau mendorong aku? Kau tak suka padaku? Kau benci aku, hah?" Kenzo terkekeh-kekeh. "Aku lelah, Alesha. Pergilah dari sini. Berani sekali kau memasuki kamarku."

Mata Alesha membelalak. Ia menepuk kening Kenzo berharap laki-laki itu cepat sadar. Perempuan tersebut tak ingin tidur malamnya terganggu. Terlebih, ia tahu bahwa Kenzo belum pernah mabuk sebelumnya.

"Jangan memukulku," rengek Kenzo. "Ayah jahat karena mempertemukan aku denganmu, gadis kasar."

"Astaga, kau ini benar-benar menyebalkan. Jika tidak kuat, maka jangan mencoba minuman haram itu!" kesal Alesha. 

Perempuan itu bersedekap lengan sembari menunjuk ke arah jalan keluar. "Pergilah, ruangan ini milikku."

Kenzo tidak beranjak dari sana. Akan tetapi, menarik lengan Alesha hingga perempuan itu yang tak siap terduduk di pangkuannya. Kenzo tersenyum simpul lantas membuat gambar abstrak di telapak tangan Alesha. 

"Kau jahat, aku tak suka. Kau membuatku tak bisa lagi diperhatikan oleh mama," bisik Kenzo.

"Dasar manja, gila, keluar cepat!" bentak Alesha. 

Menghela napas, Kenzo menjatuhkan dirinya pada ranjang dengan Alesha yang masih ia peluk erat. Tubuh perempuan itu, kini menindih di atasnya. 

"Jangan macam-macam!" sentak Alesha. 

Tanpa permisi, Kenzo membalikkan posisi mereka hingga Alesha yang berada di bawah. Sudut bibir Kenzo tertarik, diusapnya kening Alesha yang malam ini tampak menggoda. 

Tangan Kenzo berkepal. Ia letakkan di sisi samping wajah Alesha. Sementara perempuan itu, jantungnya mendadak berdetak lebih cepat. Segala pikiran buruk bergiliran memasuki kepalanya. 

Ia berusaha menyingkirkan Kenzo. Akan tetapi, tubuh laki-laki itu terlalu berat untuknya. Alesha tak bisa berbuat apa-apa. Ia bahkan melayangkan bogeman mentah tepat di rahang Kenzo. Namun, justru ia semakin didekap erat.

"Buatlah aku nyaman, hari ini saja," bisik Kenzo. 

"Kenzo, sadar! Kau ingin nama baikmu runtuh karena ketahuan memiliki istri? Kau ingin dihujat oleh fans dan teman-temanmu? Bagaimana jika aku hamil? Jangan menyentuhku, kumohon," lirih Alesha.

"Sudah terlanjur, Sayang. Kita bisa menyembunyikannya. Percayalah, aku akan menjagamu. Kita akan baik-baik saja," pungkas Kenzo kemudian bergerak meraba dua gundukan di dada Alesha. 

Perempuan itu pasrah. Kakinya di bawah sana benar-benar tak bisa bergerak untuk menghindar. Kenzo semakin lincah mengerayangi tubuhnya. Bahkan, kini bibir mereka sudah menyatu lantaran Kenzo yang terlalu agresif. 

Ciuman pertama ini, Alesha akan mengingatnya. Sesuatu yang sempat terlintas di benak perempuan itu benar-benar terjadi sekarang. Suasana di sekeliling mereka seolah mendukung untuk melakukan lebih lagi. 

Telinga Alesha perlahan tak dapat mendengar apa-apa, di sini hening. Mata pun tak bisa melihat secara jelas. Gravitasi di ruangan ini seakan menghilang. Alesha terbawa oleh permainan Kenzo. Pikirannya tertutup, ia menyerah dengan keadaan.

Mungkin, setelah ini, posisi aktris terfavorit dalam ajang award sudah bukan menjadi milik Alesha. Piala yang ia terima beberapa hari lalu ialah penutup keberhasilannya. Hujatan akan kebohongan yang perempuan itu sembunyikan, tak lama lagi pasti terbongkar.

Sementara profesi Kenzo yang sebagai idol, bisa jadi pupus di tahun ini. Laki-laki kemungkinan akan bergelut dengan cibiran baik dari agensi maupun penggemar karena perusahaan industri hiburan yang merekrutnya sama sekali tak memperbolehkan ia menikah sebelum kontrak selesai. 

Ya, segala kecemasan dan ketakutan pasti keduanya alami entah dimulai besok atau suatu hari nanti. Alesha hanya berharap, semisal terdapat janin yang tumbuh di rahimnya, Kenzo tak menyuruh ia untuk aborsi.

Bab 2

Alesha menatap datar langit-langit kamar. Dadanya naik-turun seolah membutuhkan udara yang lebih banyak lagi. Perempuan itu memejam sesaat, berharap tadi malam hanyalah sebuah mimpi buruk. Namun, kala ia kembali membukanya, Kenzo benar-benar ada di samping ia dalam keadaan masih tertidur pulas.

Air mata Alesha perlahan menetes. Tidak ada isak tangis yang ia keluarkan. Perempuan itu sekedar butuh merenung. Rasanya berat ingin beranjak dari ranjang. Seakan apa pun di luar kamarnya akan menertawakan perbuatan ia dan Kenzo semalam. 

Alesha mengusap kasar sisi dahinya yang mengeluarkan keringat dingin. Perempuan itu bergerak meraba nakas, mengambil ponselnya. Jam menunjukkan pukul 06.30. Ia harus bangun guna bersiap ke kampus. Tak hanya akan belajar, tetapi juga menghibur diri. Berpura-pura melupakan kejadian memalukan ini. 

Ia tak ingin mengganggu Kenzo. Alesha yakin laki-laki itu akan terbebani setelah sadar nanti. Lebih baik, Alesha menghindar beberapa saat saja. Membiarkan Kenzo bergelut dengan pikirannya.

"Tadi, tidak haram untuk kita lakukan. Mungkin, ini memang waktu yang tepat untuk kau meminta hak. Kenzo, jangan membenciku setelah kau bangun, ya? Aku pun tak akan marah padamu. Aku akan menanggungnya sendiri jika benih yang kau tanam benar-benar tumbuh," ujar Alesha.

Menarik napas kemudian mengembuskan perlahan, Alesha tersenyum. Semalam, Kenzo memang berlaku manis meskipun itu dalam keadaan di bawah alam sadarnya. Alesha berharap tidak ada akan terjadi hal buruh setelah ini. 

Alesha beranjak dari tempatnya. Perempuan itu segera menuju kamar mandi. Bersih-bersih badan lalu bersiap melakukan aktivitas seperti biasa. Mengatakan pada dirinya bahwa semalam tak terjadi apa-apa. 

Perempuan itu bergerak meraih pulpen juga secarik kertas untuk Kenzo agar laki-laki tersebut membaca pesannya setelah bangun nanti. Sungguh, Alesha tak sanggup semakin berperang dingin dengan sosok yang ia harap akan berada di sisinya selamanya. 

Dulu, harapan terbesar Alesha adalah tak pernah memiliki mantan kekasih. Sekarang pun tetap. Alesha akan berusaha menyukai Kenzo meskipun itu sulit dan tak tentu akan mendapat balasan. Alesha pasti mengusahakannya. Pernikahan ini terlalu sakral dan haram untuk dihentikan tanpa alasan.

Selesai dengan persiapannya, Alesha segera pergi. Perempuan itu tak bisa berlama-lama di sini sebab takut air matanya akan kembali jatuh. Ia bukan tipe orang cengeng, tetapi ia tahu masalah ini bukan main-main.

Bersamaan dengan itu, Kenzo pun perlahan mengerjapkan mata. Ia menyipit karena sinar terang dari balik jendela sana menyapanya. Gorden yang terbuka, Kenzo menautkan alis kala mengetahui hal tersebut. 

"Siapa yang ... hah?" 

Kenzo mengusap-usap kelopak matanya. Tempat ini bukan kamar pribadinya. Terkesan seperti milik perempuan. Terbukti dengan segala barang yang berwarna putih dan merah muda. Kenzo meneguk saliva. Hatinya mendadak cemas.

Ia hendak beranjak. Namun, dibuat terkejut lagi saat membuka selimut dan terlihat badannya yang tak terbalut apa-apa. Kenzo tidak ingin ambil pusing, ia memilih segera mendekati jendela masih dengan kain tebal itu sebagai penutup tubuh.

Tampak di gerbang sana, mobil Alesha baru saja melaju. Kenzo mengerti sekarang. Laki-laki itu menengok ke samping, tepatnya bagian meja belajar Alesha. Terdapat sebuah surat yang menarik perhatian ia untuk dibaca. 

"Aku bukan menghindar. Hanya ingin mengatakan pada diriku sendiri bahwa setelah ini keadaan pasti baik-baik saja. Berangkatlah ke tempat latihan seperti biasanya. Jangan memikirkan banyak hal. Maaf, aku lemah tak bisa menghentikanmu semalam."

Kenzo terdiam beberapa saat. Laki-laki itu mendadak limbung dan setelahnya terduduk lemas di kursi Alesha. Ia geleng-geleng kepala beberapa kali. Tidak berdosa menurutnya, tetapi mengingat pernikahan mereka yang hanya berawal dari perjodohan membuat ia tak percaya akan melakukan hal tersebut secepat ini.

"Aku? A-aku menyentuhnya? Bagaimana jika ia marah? Wartawan? Agensi?" 

Kenzo menunduk sembari menghela napas lelah. Ia pasti menghadapi masalah besar setelah ini. Baru pertama kali dan Kenzo harap hal yang kemungkinan terjadi, tidak berlaku pada Alesha.

***

Alat pengukur waktu menunjukkan tepat pukul 12.00. Suara bernada tinggi juga beberapa kertas yang dilempar kasar pada lantai sudah menjadi makanan sehari-hari bagi karyawan perusahaan ini. Mereka memilih sibuk bersiap untuk keluar makan siang daripada harus mendengar kemarahan sang CEO pada sekretarisnya. 

Seorang perempuan berpenampilan santai dengan rambut dicepol tinggi memasuki ruangan sumber bising itu. Tersenyum pada atasannya yang baru saja memaki laki-laki berpakaian formal tersebut. Ia tidak takut sama sekali sebab kemari pun memiliki tujuan jelas. 

"Selamat siang, Pak. Ini laporan keuangan dari kafe cabang yang saya pegang. Maaf mengganggu waktunya, permisi."

Hanya kalimat itu yang perempuan tersebut katakan. Setelah mendapat anggukan dan map tadi berpindah tangan, ia pun memutuskan pergi. Tidak ingin ikut mendapat amarah juga tentu saja.

Yoora, perempuan berusia dua puluh satu tahun yang hampir menyelesaikan belajar di kampus terbaik fakultas entertainment dan media. Belum lulus dan seharusnya hanya fokus sebagai aktris, tetapi ia mampu menggarap cabang kafe milik CEO galak tadi.

Semenjak kejadian perceraian orang tuanya, Yoora memutuskan pindah ke Korea Selatan. Bukan tanpa alasan, melainkan itu negara satu-satunya yang sejak dulu ingin sekali ia kunjungi. Bermula dari musik pop, drama dan terakhir ia tertarik dengan sistem pendidikannya.

Yoora itu cerdas. Satu hari setelah surat pernyataan orang tuanya resmi bercerai keluar, beasiswa yang selama ini ia harapkan akhirnya terwujud. Tanpa perlu meminta persetujuan dari pihak mana pun, perempuan tersebut meninggalkan tanah airnya.

Di sinilah Yoora sekarang, berdiri menunggu si kekasih untuk makan siang bersama. Hari ini, kelasnya selesai pagi sehingga ada waktu untuk mereka dapat bertemu sebelum kembali sibuk dengan pekerjaan sampingan masing-masing. 

Baru saja Yoora akan mengambil ponsel guna bertanya laki-laki itu sudah sampai di mana, ia yang ditunggu pun muncul tentu dengan mobil bercat putih miliknya. Yoora tersenyum lalu memasuki kendaraan tersebut tanpa harus dibukakan pintu.

Yoora itu mandiri bahkan sampai kini sudah bersuami. Tidak ada trauma yang ia rasakan akibat insiden empat tahun lalu. Pikirnya, jalan hidup ia dan orang tuanya pasti berbeda. Yoora akan menemukan kebahagiaan baru di sini, di negara ini bersama keputusan-keputusan yang ia ambil secara sepihak.

Pernikahan Yoora dengan Kim Jung Yong tidak diketahui oleh keluarga si perempuan di Indonesia, kecuali adik kandungnya. Apa pun tentangnya, Kenzo selalu tahu. Namun, Yoora menekankan untuk tidak dibocorkan pada orang lain. 

Perempuan itu tersenyum menyambut suaminya. Mengatupkan mata sekilas kala laki-laki tersebut mengecup keningnya singkat. Suatu kebiasaan yang dulu tak Yoora dapati pada kehidupan orang tuanya.

"Terima kasih, sudah datang tepat waktu," bisik Yoora.

Kim Jung Yong membalas senyum manis tersenyum sembari kakinya bergerak menginjak gas. "Iya, aku tahu kau sangat benci dengan segala yang tertunda. Hari ini, aku ingin mie dingin. Kau juga menginginkannya?"

Yoora mengangguk. "Iya, apa pun terserahmu. Anyway, tadi manager menelponku. Dia menyuruh untuk aku ke kafe sebentar saja sebelum pulang. Apakah boleh?"

"It's okey, asal kau izin dan tempat tujuannya positif, aku tidak akan pernah melarang."

"Terima kasih, Oppa." 

"Berapa kali harus kukatakan, jangan memanggilku oppa. Aku hanya beberapa bulan lebih tua darimu. Bukan sampai bertahun-tahun," tegur Kim Jung Yong sedangkan Yoora tertawa pelan saja.

"Oh, aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Apa ada pekerjaanmu yang perlu aku bantu sekarang? Kukira, setiap hari kau selalu kesulitan dengan tugas kampus. Kasihan sekali rasanya."

"Kau baru saja menertawakanku dalam hati? Apa aku sebodoh itu?" Kim Jung Yong geleng-geleng kepala. "Kurasa, tidak."

"Bukan," tampik Yoora, "aku hanya ingin tahu kabar terbaru tentangmu saja."

"Semua berjalan lancar hari ini. Aku harus bertemu ayah lalu membantunya menyambut klien. Maaf, aku akan sangat sibuk." Kim Jung Yong bergerak mengelus punggung tangan Yoora yang kala itu tengah memegangi tasnya.

Senyum Yoora lagi-lagi timbul. "Tidak apa-apa, aku paham. Aku juga akan pulang sedikit terlambat. Mungkin pukul sembilan malam nanti."

"Kita akan melewati ini sama-sama. Jangan pernah berpikir aku membebaskanmu bahkan tidak peduli padamu. Aku selalu memikirkanmu kapan dan di mana pun itu." Diliriknya Yoora, perempuan itu belum juga menurunkan sudut bibirnya.

"Iya, aku percaya kita bisa tetap bersama meskipun saat siang ada saja pemisahnya. Kau tahu latar belakang keluargaku, aku tidak ingin itu terjadi pada kita."

Kim Jung Yong menciumi jemari lentik itu. "Tidak akan pernah, Sayang."

Perjalanan kali ini dipenuhi tawa kecil keduanya. Bersama iringan musik Korea yang tayang di YouTube beberapa hari lalu, menjadi pelengkap suasana mereka. 

***

"Sore, Tante," sapa Alesha begitu ia memasuki toko kue bernuansa klasik ini.

Seorang wanita dengan pakaian rapinya tersenyum menyambut kedatangan Alesha. Memeluk erat perempuan itu lalu menggiringnya pada ruangan khusus ia memantau perkembangan keuangan. 

Diberikannya segelas air putih juga kue basah yang baru dibuat. Tampak masih hangat, Alesha menunda untuk memakan itu. Hanya minum lalu menyilangkan kaki hendak mendengar apa yang ingin wanita di hadapannya ini katakan.

"Bagaimana? Apa kau sehat-sehat saja?" tanya Lisa, "maaf, Alesha. Tante tidak bisa ke tempatmu akhir-akhir ini."

Alesha menyunggingkan senyum. "Tidak apa-apa, Tante. Aku paham, tenang saja. Aku ingin bercerita sedikit hari ini."

Lisa menyuruh keponakannya itu untuk duduk. Sementara ia, bergerak mengambil kue di depan. Bolu lembut dipadu krim cokelat yang meleleh juga secangkir teh hangat menjadi teman cocok dalam segala perbincangan.

Konsep toko ini memang serba menggunakan cokelat, tidak ada rasa lain sebagai penguat dan pembeda dengan toko lainnya. Alesha menyambut makanan dan minuman gratis itu dengan senyum manisnya.

"Hm, ini enak sekali. Jangan hapus, bisa-bisa aku ke mari setiap hari hanya untuk memintanya," kekeh Alesha begitu selesai mencicipi.

"Sudah Tante duga. Resep ini, Tante sendiri yang membuat. Oh, iya, kau ingin mengatakan apa? Rumah tanggamu dengan Kenzo baik-baik saja, bukan?"

Alesha tertunduk sesaat. Air mukanya merubah cemberut. "Aku tidak tahu setelah ini akan bagaimana. Aku bingung apakah aku masih laku di dunia perfilm-an atau tidak."

Menghela napas, Alesha meraih kedua tangan tantenya. "Kenzo mabuk semalam. Ia yang seharusnya menuju kamarnya justru ke kamarku. Kami melakukan hal itu, Tante. Sedikit frontal aku mengatakan ini, tetapi aku butuh pendapat."

"Agensi yang menaungi Kenzo tidak memperbolehkan ia untuk menjalin pernikahan. Aku takut ini merugikan Kenzo. Bagaimana jika aku hamil? Orang-orang akan bertanya siapa ayahnya, bukan?"

"T-tante pun sulit akan mengatakan apa. Belum tentu kau hamil, Alesha. Tenang saja, Tante percaya meskipun itu terjadi kalian masih aman," balas Lisa sembari tersenyum memberi semangat.

"Cara satu-satunya yang bisa kau lakukan adalah membagi waktu. Bagaimana kau harus menyelesaikan satu judul film sebelum perutmu membesar jika benar kau hamil. Mintalah sutradara untuk mempercepat proses shooting," lanjutnya. 

Baru juga Alesha akan membuka mulut lagi, deringan ponselnya menarik perhatian. Ia harus ke tempat shooting sebab alarm sudah menyuruhnya ke sana. Benar kata tante Lisa, ia harus membagi waktu dengan baik.

"Terima kasih atas usulnya, Tante. Namun, aku harus pergi ke tempat shooting. Orang-orang di sana pasti mencariku," ucap Alesha.

Lisa memeluk singkat keponakannya. "Kau tidak sendiri, Alesha. Tante pasti membantumu. Kemarilah jika kau butuh sesuatu. Jangan menyalahkan Kenzo atas kejadian ini."

Bab 3

Kenzo mendesah pelan begitu ia sampai di ruang latihan. Laki-laki tersebut meletakkan tas ranselnya pada kursi samping ia duduk kemudian menyandarkan tubuh ke belakang. Sekarang, masih pagi. Namun, sudah terasa melelahkan untuknya.

Kejadian semalam benar-benar masih membuatnya kepikiran. Kenzo memang mabuk, tetapi ia ingat separuh dari apa saja yang ia lakukan. Terlebih saat bersama Alesha dan laki-laki itu tidak bisa menahan hasratnya. 

Biasanya, jika sedang kesal, Kenzo memilih memukul sesuatu atau menghibur otak dengan berlatih, mendengarkan musik dan bernyanyi atau iseng mengerjakan tugas kampus.

Namun, kini ia memilih merenung. Seolah, Kenzo adalah laki-laki lemah. Tak heran sebab bisa saja semua orang menjauhinya karena ia berbohong tentang sesuatu yang bukan main-main.

Young Jae menepuk pundaknya. Kenzo hanya melirik ia sebentar kemudian kembali pada pikirannya. Semangat ia untuk latihan hari ini turun drastis.

"Mr. Zeon memanggilmu, pergilah menemuinya. Setelah itu, kita akan melanjutkan video trailer kemarin yang belum selesai. Kalau bisa, besok mulai full MV," ujar Young Jae. 

Kenzo mengangguk. Ia beranjak dari duduk. Tidak terlalu berat menemui Mr. Zeon meskipun laki-laki itu akan memarahi ia habis-habisan ketika mengetahui hal yang ia lakukan bersama Alesha tadi malam. 

"Kau baik-baik saja, Kenzo?" tanya Young Jae saat Kenzo akan melangkah ke ambang pintu.

Tersenyum, Kenzo berbalik badan. "Ya, aku tidak apa-apa. Pergilah makan dengan yang lain lalu sisakan untukku. Aku akan segera kembali."

Usai mengatakan kalimat tersebut, Kenzo pun meninggalkan tempat ini. Ia harus profesional, ia laki-laki dan ia akan siap jika dikeluarkan dari group band itu dalam waktu dekat. Toh, Kenzo pasti menemukan pekerjaan lain nantinya.

Ruangan dengan pintu hitam ini dibuka oleh Kenzo kala beberapa bodyguard yang menjaga di depannya sudah mempersilakan ia masuk. Dengan menarik napas, laki-laki itu mendekati Mr. Zeon—sang pemilik perusahaan industri hiburan ini.

"Pagi, Mr. Zeon," sapa Kenzo menundukkan kepala sekilas.

"Pagi, Kenzo. Silakan duduk, ada yang ingin saya tanyakan padamu," suruh Mr. Zeon sembari menunjuk kursi tamu.

Kenzo pun mengangguk. "Ada apa? Tentang Reviger?"

"Ya, beberapa waktu lalu ada yang memberitahu saya bahwa salah satu penggemar mengetahui letak rumahmu. Saya takutnya, ia adalah salah satu penggemar fanatik atau admin akun fanbase. Ia bisa saja memasang CCTV di rumahmu, Kenzo." Mr. Zeon menjeda kalimatnya. 

"Bagaimana jika kau pindah rumah saja atau apartemen agar kejadian tidak terguda di suatu hari nanti bisa dicegah sejak sekarang," usul Mr. Zeon.

"Saya bisa membantu kau untuk perpindahan itu. Akan saya tanggung sebagian biaya beli tanah tempat barumu," lanjutnya.

Kenzo berpikir sejenak. "Ada baiknya, tetapi saya harus meminta izin kakak-kakak saya terlebih dahulu, Mr. Meskipun selama ini saya tinggal sendiri, tetapi keputusan mereka berpengaruh dalam hidup saya."

"Iya, silakan. Kalau bisa dalam waktu cepat. Penggemar ini tidak main-main. Mereka bisa menyebar rekaman CCTV itu jika ada ke grup yang mereka buat dan akan membuat ricuh social media."

"Tentu, kau memiliki privasi yang tidak harus diumbar, bukan? Demi ketenanganmu," sambungnya.

"Baik, saya akan pikirkan hal ini. Oh, iya, saya ada titipan lagu milik Alesha. Semoga Mr. Zeon suka." Kenzo mengambil secarik kertas di saku bajunya lalu memberikan benda itu pada Mr. Zeon.

"Ngomong-ngomong, Kenzo. Sedekat apa kau dengan musisi muda itu? Ia memang terkenal karena bakatnya berakting dan membuat lagu, tetapi kau tidak berhubungan dengannya, bukan?" tanya Mr. Zeon. 

Kenzo menggeleng cepat. "Tidak, saya dan Alesha hanya sebatas rekan bisnis antara pembuat lagu dan penyanyi. Tidak lebih dari apa pun."

"Baiklah, kau tentu sudah tahu peraturan saat tanda tangan kontrak dulu." Mr. Zeon tersenyum lantas menyuruh Kenzo untuk kembali keluar.

Ditutupnya pintu tinggi tersebut dengan pergerakan lesu. Sungguh, Kenzo seolah ingin melakukan sesuatu untuk menyakiti tubuhnya lagi. Ia terbiasa melakukan hal itu kala sedang ada masalah. 

Kenzo bukan menuju ke ruang latihan guna mengambil pesanan makanan yang ia katakan pada Young Jae tadi, melainkan ke dapur. Ya, tempat ini sekarang masih pagi dan Kenzo rasa tak akan ada yang mencegahnya.

Sebuah pisau diambil Kenzo secara diam-diam. Laki-laki tersebut beralih ke area wastafel. Di sana, ia menyayat lengan kirinya beberapa kali. Tak peduli ada bekas goresan. Kenzo butuh pelampiasan.

Ia tersenyum, hal ini menyenangkan untuk Kenzo. Setelah darah itu mengalir perlahan, Kenzo cepat-cepat membilasnya hingga ia dapat merasakan perih di sana. Tak lupa membersihkan pisau tersebut lalu mengembalikan di tempat semula. 

Tidak ada yang mengetahui kebiasaan buruknya ini dan Kenzo berjanji akan menyimpannya sendiri. Tak semua harus diketahui orang lain, menurutnya.

"Good boy," pungkas Kenzo sembari menatap bekas sayatan tersebut lalu menurunkan jaketnya.

***

"Mengapa CCTV-nya harus rusak? Memangnya tidak ada staff yang bertugas memperbaiki? Mempersulit saja," kesal Yondan sembari mengusap wajahnya kasar.

"Selama ini, tempat itu selalu aman-aman saja sehingga yang selalu dicek hanyalah ruangan lain," sahut Young Jae. 

"Ada apa?"

Kenzo yang baru dari ruang rekaman mengernyit. Obrolan sahabat-sahabatnya ini tampak serius sehingga ia tertarik untuk tahu. Kenzo menepuk pundak Niko di sampingnya sebab belum ada yang menjawab pertanyaan ia.

"Ada bercak darah di pinggiran wastafel dapur. Kameramen menemukannya saat akan mencuci tangan, tetapi mereka tidak bisa menemukan itu penyebabnya apa karena CCTV rusak," jelas Niko.

Raut Kenzo tidak terkejut. Laki-laki itu pandai menetralkan ekspresi. Ia hanya mengangguk-angguk seolah tak tahu apa-apa. "Oh, begitu. Biarlah, bukan urusan kita."

"Jika itu tindak kejahatan akan merugikan perusahaan, Kenzo," tambah Reon.

"Daripada pusing? Lebih baik kita pikirkan tentang promosi lagu baru itu. Mr. Zeon menyetujui lirik dari Alesha yang aku beri padanya tadi pagi. Jadi, ada dua lagu yang harus kita kuasai," jelas Kenzo merubah suasana.

"Baiklah, kuyakin masalah ini segera diketahui. Mr. Zeon pun pasti sudah mendengarnya dan ia akan bertindak segera." Yondan mengajak berdiri usai mengatakannya.

"Kita harus memantapkan koreografi. Bukan hanya suara yang terpenting," sambungnya.

"Akan tetapi, juga rupa." 

Timpalan kalimat dari Young Jae membuat telapak tangan Yondan melayang begitu saja di bokong laki-laki keturunan luar itu hingga ia meringis sakit. Kenzo juga yang lain dibuat tertawa karenanya.

Young Jae itu paling tampan sementara Yondan, beberapa orang menyebutnya cantik. Kenzo sendiri memiliki nilai tambah dari perawakannya yang kekar dan tinggi. Sementara Niko, laki-laki itu penguasa koreografi tarian.

Reviger, nama group band mereka memang diisi oleh member dengan keunggulan masing-masing. Kenzo yang sudah tak perlu diragukan meraup semuanya terutama rap, Young Jae menarik penggemar dengan wajah rupawannya, Yondan sang vokal bersuara emas dan terakhir Niko terlalu pintar dalam melakukan dance bahkan dijuluki laki-laki tanpa tulang sebagai pembentuk tubuhnya.

"Sudahlah, lebih baik kita lanjut latihan. Katanya, Alesha akan kemari hari ini guna menandatangani kontrak dengan Mr. Zeon. Kita harus menunjukkan padanya bahwa layak bekerja sama dengan ia," pungkas Niko.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED