Episode sebelumnya…
“Pergi sana !!” usir gadis Zee sambil menepuk nepuk tangannya.“Dasar wanita tidak punya hati,” gumam gadis itu dan berbalik menghampiri anak baru yang dibully tadi. “Apa kau baik-baik saja ??” tanyanya datar dan dingin sambil mengulurkan tangan.
I
I
I
“I – iya…terima kasih” ucap Al sambil menerima uluran tangan gadis Zee itu dengan gugup.
“Hmmm…,” jawabnya dingin. “Karna kau selera makanku jadi hilang,” gumamnya dan akan beranjak pergi.
“Ma – maaf,” ucap pria itu menunduk merasa bersalah “Sudahlah aku masuk kelas dulu dan yaaa ketika kau dibully kau harus melawan, kau itu laki-laki,” jelas Rain dan menatapnya datarAiishh yang benar saja, kenapa dialemah sekali,” gumam gadis itu kesal sambil berjalan pergi meninggalkan Albert.
“Jika bukan karena daddy, aku tidak mau seperti ini,” gumamnya kesal. Haiiiss badanku jadi sakit - sakit semua, Sial!!! Akan aku balas mereka nanti lihat saja nanti." ujar Albert geram
“Aku harus menelpon Ketrin,” gumam Rain mengeluarkan Hanphone yang berada disakunya sambil berjalan menuju kelas
In Call
“Hallo .,” sahutnya diseberang sana
“Rin aku tidak jadi makan, aku langsung ke kelas saja,” dingin
“Loh Kenapa ??” Tanya Ketrin yang bingung di seberang sana
gadis Zee hanya bisa menghela napas sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya itu. “Nanti aku ceritakan di kelas, aku tutup dulu, bilang juga pada Ken, oh jangan lupa belikan aku makanan juga.” pesannya
“Oh Ok…” balas nya dan menutup sambungan telpon mereka.
End Call
Setelah urusan dengan nyamuk itu gadis Zee ini bergegas menuju kelasnya, saat sedang asik membaca buku,Ketrin tiba–tiba datang membawakanmakanan yang gadis ini pesan tadi.
Rain ini makanan kamu,” ucap ketrin setelah gadis itu masuk dan berjalan menuju meja Rain dan meletakkan beberapa makanan dan minuman di meja gadis Zee itu
“Hmmm… terima kasih,” balas gadis Zee ini dingin dan mulai memakan makanan yang diberikan sahabatnya itu
“Hhmm, oh ya, tadi kata kamu mau ceritakan ?!” Tanyanya penasaran dengan wajah keponya itu.
“Eoh itu, tadi aku habis berkelahi dengan Smith bersaudara, mangkanya aku tidak jadi balik lagi ke kantin,” jelasnya santai sambil memakan makanannya
“What !!! Beneran ?!” membulatkan mata karena kaget “Iyaa, ucapan kamu tadi pagi benar, anak baru itu pasti akan dibully oleh mereka,” sambil melirik Al sekilas dan melanjutkan makannya kembali sebelum bel berbunyi
“Jadi siapa yang menang ??!!” tanyanya antusias sekaligus penasaran meski gadis itu tahu siapa yang akan menang
“Menurut kamu ?!” menaikkan sebelah alis menatap Ketrin Smirk. “Sudahlah jangan dibahas lagi aku sibuk,” membuka bukunya setelah ritual makannya selesai
“Iya-iya,” pasrahnya dengan wajah cemberut dan kembali ke tempat duduknya semula.
Tanpa gadis itu sadari Albert memperhatikannya sedari pelajaran dimulai dan Albert masih memperhatikan gadis Zee dan Ketrin menyadari akan hal itu
“Rain !! ssuutt… Raiiinn !!” panggilnya sambil berbisik.
“Hmmm ?!” jawab gadis Zee itu santai sambil fokus memperhatikan pelajaran.
“Kau tau anak baru itu memperhatikan kamu sedari tadi,” bisiknya lagi
“Biarkan saja,” jawabnya acuh dan ketus
“Haaiiss kau ini, Baiklah,” cumberut.
Setelah 4 jam lamanya pelajaran telah selesai dan bel berbunyi menandakan jam pulang
telah tiba, gadis Zee itu bergegas membereskan semua peralatan yang digunakannya tadi saat belajar.
“Rin, hari ini kamu pulang dengan Ken saja ya, aku ada urusan,” ucap Rain sambil memberaskan alat tulisnya “Baiklah, ” balasnya singkat
“Rin, Rain ayo kita pulang,” ajak kenzo yang baru sampai di kelas “Eoh kau sudah datang, kau pulanglah dulu bersama Ketrin, aku ada urusan sebentar.” beranjak melangkah keluar kelas
“Ok !!! Tapi nanti malam jadikan kita ke club ?” Teriak Ken pada Rain yang mulai menjauh
“Pastinya, setelah urusanku selesai aku akan kabari kalian” balas gadis berteriak karena jarak mereka hampir jauh.
Saat akan menuju parkiran,gadis itu kembali melihattukang bully yang ingin menghampiri anak baru itu, “apa mereka akan buat ulah lagi ? itulah yang ada di dalam benak gadis Zee itu”.
“Aiishhh mereka kembali lagi,” gumamnya muak karena mereka tidak hentinya membuat ulah.
“Hai !! anak cupu kemari kau !!!” panggil Alice dari kejauhan.
“Eoh iya,” sahutnya yang hendak menghampiri geng bully.
Gadis Zee yang melihat itu dengan segera menghampiri Albert, sebelum dia sampai
Di tempat geng sialan itu.
Saat Albert akan melangkah mendekati Alice tiba tiba---
“Kau… cepat masuk !!!” teriaknya dari dalam mobil setelah gadis Zee itu berhenti tepat di depan Albert
Membulatkan matanya kaget. “Eoh ...?!” menatap Rain bingung “Aaiiiss… cepat masuk, kau ingin dibully lagi ?!!” kesalnya dan menatap Al dengan tajam
Mulai tersadar “Ahhh tidak. Aku tidak mau !!” balas pria itu menggelengkan kepalanya.
“Mangkanya cepat masuk !!!” sarkas gadis itu tajam
“I – iya,” segera masuk ke dalam mobil.
Sementara Alice yang melihat Rain membwa mangsanya langsung berteriak kesal. “Yak!! Rain !!!” teriaknya. Dasar gadis sialan !!!” umpatnya kesal.
Rain pun melajukan mobilnya untuk segera menjauhi area kampus, di perjalanan hanya ada keheningan di antara mereka, hingga Albert mulai berbicara untuk memecahkan keheningan tersebut.
Selama perjalanan hanya ada keheningan dan canggung, Albert mencoba memecah keheningan antara mereka. “Te - terima kasih.” sahutnya ragu menatap sekilas gadis Zee itu
“Apa tidak ada selain terimakasih eoh ?” sarkas gadis itu dingin tanpa meliriknya “Eoh ??!” menatapnya bingung
Memutar bola matanya malas. “Aiiishh sudah lupakan saja, di mana alamat kamu biar aku yang mengantarkan kamu pulang ” ucapnya mengalihkan pembicaraan
Masih mode bingung tapi pria itu tetap menjawab pertanyaan yang diajukan rain. “iya, aku tinggal di jalan Bronzeville” jawabnya
Melirik pria itu sekilas “Baiklah,” mulai melajukan mobilnya ke alamat yang pria itu sebutkan tadi
Keheningan tercipta lagi di antara keduanya, tiba tiba albert teringat sesuatu, ya percakapan rain dan sahabatnya di kelas tadi, rupanya pria ini menguping pembicaraan mereka, Albert mulai angkat suara lagi. “A – a – apa aku boleh bertanya ??” tanyanya dengan gugup
“Hhmmm…,” balasnya dingin dan datar “Setelah ini, Kau mau ke mana ?” tanyanya pura-pura tidak tahu dan mencoba sok akrab dengan gadis itu
“Aku ingin latihan, kenapa??” tanya acuh “Apakah aku boleh ikut ?” tanyanya menatap gadis itu dengan mata bulatnya
“Apa !!! Kau mau ikutt ?!” tanya kembali memastikan “Iya, apakah boleh ?” menatap gadis itu ragu-ragu, rain nampak berpikir sejenak. “Hhmmm gimana yaa, baiklah.” jawabnya pasrah entah kenapa gadis ini tidak bisa menolak, rasanya sedikit aneh tapi gadis ini tidak tahu itu apa
“Benarkah boleh ??!!” tanyanya sekali lagi.
“Iya… jangan bawel.” sarkasnya dingin melirik pria itu sekilas.
“Makasih.” tersenyum lebar.
“Aissh anak ini lucu sekali… Astaga!! Rain apa yang kau pikirkan, hilangkan semua ini.” Gumam Rain dalam hati
Bersambung...
Episode Sebelumnya…
“Aissh anak ini lucu sekali… Astaga!! Rain apa yang kau pikirkan, hilangkan semua ini.” Gumam Rain dalam hati
I
I
I
I
Sampai di tempat latihan boxing, ya tujuan gadis ini adalah tempat boxing itu salah satu rutinistasnya jika ada waktu senggang, seperti sekarang dia menyempatkan untuk melakukan latihan, terbukti dengan latihan ini membentuk tubuhnya secara sempurna dengan abs yang membuat lelaki manapun menatapnya dengan kagum.
Back Rain Side
Setelah memasuki ruangan itu gadis ini mulai bersuara “Aku akan berganti baju dulu,” ucapnya beranjak untuk pergi “Iya...” balas Albert sambil melihat sekeliling.
15 menit waktu yang dibutuhkan untuk bergati baju dan bersiap untuk memulai latihan menghapiri teman sekaligus rekan boxing gadis ini
Setelah berganti pakaian gadis ini segera menghampiri rekan yang biasa gadis ini ajak untuk latihan “Hai Toni !” sapa rain sambil berjalan menuju ring di mana pria itu berada.
Yang terpanggil pun segera menoleh ke sumber suara “Yaa Rain…” balasnya kala melihat rekannya itu sedang menghampiri dirinya.
Setelah sampai disana gadis ini mulai bersuara “Aku lagi banyak banget pikiran sekarang, apa kau mau menemaniku di atas ring ?!” Tanya gadis itu memulai percakapan.
Tersenyum hangat “Tentu saja ayo, ” ajaknya dan mendapat anggukan dari Rain.
Saat mereka akan mulai ada yang memanggil gadis Zee itu “Ra – rain,” panggilnya.
Berhenti melangkah dan berbalik “Kenapa??” ucapnya sambil menoleh.
Aku tunggu di mana ?” menatap gadis Zee dengan wajah polosnya
Menatap pria itu datar “Terserah kau saja,” jawabnya santai. “Ayo Toni,” ajaknya yang mulai berjalan ke atas ring.
Albert hanya melihat gadis itu dari kejauhandan memperhatikan semua gerakannya,pria ini terlihat sangat kagum dengan gadis Zee itu, Rain latihan selama 1 jam penuh tanpa jeda dan membuat rekannya kewalahan
Melampaikan tangannya dan terengah-engah “Sudah Rain aku menyerah !” Ucap pria itu mengangkat kedua tangannya ke udara pertanda dia sudah tidak sanggup lagi.
Berhenti dan menatap pria itu kesal “Aiishh kau ini, kita baru saja memulainya, kenapa sudah menyerah sih,” sarkas gadis itu tajam bercampur kesal, karena biasanya dia latihan sampai 2 jam penuh.
Karena kelelahan pria itu terduduk lemas di lantai “Sudah aku sudah lelah” jawabnya sambil bersandar di Ring.
Menghela pafas jengah “Baiklah, aku pergi dulu.” ucapnya mulai pergi meninggalkan Toni dan menghampiri Albert.
Menghela napas lega, akhirnya gadis itu menyerah juga “Iya ... ahh… akhirnya dia pergi juga…” gumamnya merasa lega dan meneguk air minumnya. Kini gadis itu sudah berdiri di hadapan Albert “Ayo kita pulang,” ajaknya “Eoh ayo !”
Setelah urusan gadis itu selesai di tempat latihan, mereka beranjak untuk pulang. Saat di perjalanan Rain menyadari jika mobilnya dibuntuti oleh mobil yang mencurigakan dan sepertinya itu salah satu pesaing yang ingin menyingkirkan gadis Zee itu.
Melihat ke arah spion mobilnya dan bergumam kesal, “Aaiiishh jangan mulai lagi. Aku sedang tidak ingin bermain.” gumamnya merasa kesal sambil terus melirik mobil yang mencurigakan lewat kaca mobilnya, bagaimana tidak kesal, dia baru saja selesai latihan dan pasti merasa lelah dan butuh istirahat dengan segera, tapi ada saja halangannya “Kau bilang apa ? “ tanyanya saat mendengar gumaman gadis itu
Tersentak kaget dan melihat Albert sekilas “Aahh tidak,” jawabnya cepat agar pria itu tidak panik. Gadis itu segera merogoh sakunya dan mulai menelpon seseorang, setelah telpon tersambung---
In Call:
“Halo Rain…” jawab orang di seberang sana setelah telpon tersambung
“Kau di mana !!!”tanya gadis ini dingin dan datar pada bawahannya itu yang tidak lain adalah Felix-nya.
Felix adalah Kaki tangan Rain selain Kenzo.
Back Story
“Aku di kantor Rain. Kenapa? Ada yang bisa aku bantu?” sahutnya lagi "Hhmmm … ada yang mingikutiku segera selidiki siapa itu !!” perintahnya tegas
“Baik, akan aku lakukan,” balasnya tak kalah tegas
End Call
Albert yag sedari mendengar samar-samar percakapan di antara keduanya pun mulai angkat bicara “Ka-kau bilang apa? Ada yang mengikuti kita, siapa ?!” sedikit panik
Menajamkan pandangannya ke arah depan “Ahhiiss kau banyak bertanya. Bisakah kau diam !!” ketusnya tetap waspada
“I – iya… Maaf,” ujar Albert dengan gugup “Apa itu anak buah Daddy?” gumam Albert dalam hati sambil menerka nerka
Rain kembali berucap dengan tegas, “Kencangkan sabuk pengamanmu,” perintahnya tegas yang mulai menambah kecepatan mobilnya.
Rain, gadis itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan itu berhasil membuat orang yang mengikuti mereka kehilangan jejak dan juga bisa menghindar dari mobil mencurigakan itu
20 menit kemudian, mereka sudah sampai di kediaman Albert “Sudah sampai, cepatlah turun !!” perintahnya tegas dan dingin tanpa menatap lawan bicaranya.
Pria itu hanya diam karena takut dan masih shok akibat tingkah gadis itu yang membawa mobilnya seperti orang kesetanan. Merasa dirinya tidak di dengar gadis ini mulai kesal, “Apa kau dengar?Yaa!!!” teriaknya kesal karena merasa diabaikan.
Tersentak kaget. “Kenapa… kenapaa !!” ucapnya terkejut menatap gadis itu panik.
Memutar bola matanya malas, “Dasar, cepat turun atau kau mau aku membawamu ke rumahku, hah !!” kesalnya menatap pria itu tajam.
Yang ditatap hanya menggelengkan kepalanya, “Tidak… Maaf…,” ujarnya sambil turun. “Terima kasih Rain,” ucapnya setelah keluar dari mobil.
“Hhmmmm aku pergi.” mulai melajukan mobil.
“Dia sangat manis aku suka itu, hhmmm tapi siapa yang tadi mengikuti kami tadi ya? Ahh sudahlah lebih baik aku masuk. Astaga aku lupa meminta nomor ponselnya, dasar pelupa.” gumam Albert
Back Rain side
Gadis itu kembali diikuti kembali oleh mobil mencurigakan, tapi sekarang mobil itu berbeda.
Menghela napas kasar, “Aiishh apalagi ini, aku harus segera menghindar.” menancap gas penuh meninggalkan lokasi itu.
Akhirnya selah melewati drama yang pajang untuk menuju kediamannya, gadis itu berhasil sampai di rumahnya dengan selamat dan dia bisa segera beristirahat.
“Kalian !!” menunjuk penjaga. “Perketat penjagaan, aku tidak mau ada orang asing masuk ke sini, apa kalian mengerti ?!” titahnya tegas “baik nona muda,” balas penjaga itu menunduk hormat
Setelah sampai di rumah gadis itu bergegas untuk membersihkan tubuhnya
dan segera beristirahat. Sekarang waktu menunjukkan pukul 19.00 p.m dan gadis Zee itu sudah bersiap-siap untuk pergi.
Setelah kejadian sore tadi gadis itu memutuskan untuk membawa beberapa penjaga untuk menemaninya pergi nanti malam, sebenarnya dia bisa saja menghadapi mereka semua, tapi mengingat kondisi tubuh dan pikirannya, dia lebih baik mencari jalan aman bukan. Setelah bersiap gadis ini segera menghubungi sabahatnya Ketrin.
In Call
“Hallo Rain…,” sahut ketrin di seberang sana
“Apa kalian sudah di sana ?” tanyanya dengan nada dingin
“Iya, kami berada di tempat biasa.” balasnya di seberang sana
“Baiklah aku berangkat sekarang, ada hal penting yang akan aku bicarakan dengan kalian,”ucapnya dengan nada serius dan datar
“ Baiklah kami tunggu,“ balasnya mematikan telpon sepihak
End call.
Setelah gadis ini selesai bersiap-siap, dia membawa tungkainya berjalan meninggalkan kamar dan segera turun ke bawah untuk berangkat ke tempat tujuannya malam ini.
Ruang tamu
19.00 p.m
Setelah sampai di ruang tamu gadis ini menghampiri pengawalnya yang sudah berbaris rapi menanti kedatangan nona muda mereka. “Ayo kita berangkat !!” perintah gadis Zee kepada para pengawal yang akan menemani gadis ini nantinya. Pengawal itu serentak membungkuk hormat, “Mari nona… silahkan.” hormatnya.
Bersambung…