Bab 2

Sinar matahari menembus sela-sela jendela. Dua pasangan yang tertidur pulas dalam kondisi tubuh telanjang dan hanya terselimuti oleh selimut tebal itu—perlahan mulai membuka kedua mata mereka.

Saat mata mereka sudah terbuka. Raut wajah keduanya sama-sama menegang melihat satu sama lain tubuh mereka telanjang dan hanya terselimuti oleh selimut tebal. Wajah mereka menunjukkan jelas memucat terkejut.

“Kau—” Marcel hendak berucap, namun satu demi satu kepingan memori di dalam diri Marcel terkuak. Pria itu mengingat tentang kejadian tadi malam. Kejadian di mana ada yang menjebak dirinya.

“Shit!” Marcel mengumpat seraya mengusap wajah kasar. Sialnya, wanita yang dia tiduri adalah Joice. Bukan jalang yang bisa dia bayar. Semua semakin rumit membuat emosinya terpancing.

Joice menarik selimut menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Raut wajahnya muram di kala melihat reaksi kemarahan di wajah Marcel. Dia pikir kalau Marcel akan langsung mengakui kesalahan dan meminta maaf padanya. Bahkan Joice berharap kejadian tadi malam membuat Marcel bisa bersikap baik padanya.

“Kenapa kau tidak menahanku, Joice?! Atau kau sengaja melakukan ini semua demi agar aku bisa bersimpatik padamu?!” Mata Marcel menyalang tajam, menatap Joice penuh tuntutan. Pria itu menyalahkan Joice yang tak menahan dirinya.

Mata Joice berkaca-kaca mendengar ucapan menusuk Marcel. Kalimat yang Marcel ucapakan layaknya pisau tajam yang menusuk jantungnya. Tak pernah dia sangka kalau Marcel akan mengatakan seperti itu.

“Kau bilang aku sengaja, Marcel? Apa kau lupa ingatan berkali-kali aku memintamu untuk berhenti, tapi kau tidak bisa mengendalikan dirimu!” seru Joice dengan air mata yang sudah tak lagi bisa tertahankan.

Ya, tadi malam Joice murni mendatangi klub malam hanya demi mengilangkan penat di pikirannya. Marcel De Luca adalah seorang pria yang sejak dulu dia hindari. Tidak pernah Joice sangka semesta kembali mempertemukannya dengan Marcel De Luca.

Kejadian tadi malam murni Joice ingin membantu Marcel. Akan tetapi, semua niat baiknya kacau di kala Marcel lepas kendali. Sungguh, tak pernah terbesit sedikit pun dalam pikiran Joice untuk menjebak Marcel.

Lebih dari satu tahun sudah Joice tak pernah melihat pria yang menjadi cinta pertamanya itu. Sekarang semesta kembali mempertemukannya dalam kondisi serumit ini. Padahal terakhir Joice sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dirinya tidak akan pernah menaruh harapan apa pun lagi pada Marcel De Luca.

Marcel mengumpat dalam hati mendengar apa yang dikatakan oleh Joice. Pria itu menyibak selimut, dan segera memakai celananya yang berserakan di lantai kamar. Emosi dan kemarahan telah menyelimutinya membuatnya tak lagi bisa terkendali.

“Aku tahu kau hanya mencari-cari alasan agar aku iba padamu, Joice! Kau pikir aku tidak mengenalmu, hah?! Kau selalu melakukan banyak cara agar bisa berada di dekatku! Kau tahu? Kau membuat dirimu seperti wanita murahan di luar sana!” sarkas Marcel yang begitu amat menusuk hati Joice.

Sepasang iris mata cokelat gelap Marcel berkilat tajam penuh amarah yang membakarnya. Pria itu tak mengira kembali bertemu dengan Joice. Dia sangat yakin bahwa pasti Joice sengaja mengambil kesempatan dirinya yang tak berdaya akibat obat sialan yang membuat otaknya tak mampu berpikir jernih.

Satu demi satu air mata Joice sudah tidak lagi bisa tertahankan. Kata-kata Marcel layaknya cambuk yang memukulnya dengan sangat keras dan menusuk jantungnya. Detik itu juga Joice bangkit berdiri seraya menutupi tubuhnya dengan selimut. Mata wanita itu memancarkan jelas kekecewaan yang mendalam.

“Fine, aku memang wanita murahan! Aku memang jalang! Lalu apa urusannya denganmu? Jika kau menganggapku mengambil kesempatan atas kejadian tadi malam, silakan, Marcel De Luca! Kau berhak menghakimiku! Bahkan sekalipun kau menganggapku wanita paling rendah di dunia ini, aku pun akan tetap menerima semua hinaanmu itu. Kau tahu kenapa? Karena aku sadar di matamu, aku tidak pernah memiliki sedikit saja sela kebaikan. Di matamu, aku selalu menjadi wanita paling buruk! Sekalipun aku berbuat baik, tetap di matamu aku adalah wanita busuk!” Nada bicara Joice bergetar menahan pilu di kala mengatakan itu.

Joice tak lagi membela diri tentang kejadian tadi malam. Malah wanita itu membiarkan Marcel menghina dirinya sesuka hati pria itu. Karena dia tahu sekeras apa pun dirinya membela diri, tetap tidak akan menuaikan hasil apa pun. Marcel De Luca akan tetap memandang rendah Joice. Pembelaan yang dilakukan Joice akan tetap percuma jika orang tersebut tak menggubrisnya.

Rahang Marcel mengetat mendengar semua perkataan Joice. Tangannya mengepal begitu kuat. Dia memakai kemejanya asal dan hendak meninggalkan tempat itu, namun seketika raut wajah Marcel berubah melihat bercak darah yang ada di sprei ranjang kamar hotel.

Joice yang masih menahan sakit di titik sensitive-nya menatap bercak darah di sprei ranjang. Senyuman rapuh dan kecewa terlukis di wajahnya. Selanjutnya, dia menatap wajah Marcel yang sejak tadi menegang terkejut tak bisa berkata apa pun.

Bercak darah di sprei ranjang sebagai bukti di mana Joice masih perawan. Hal tersebut yang membuat wajah Marcel membeku akibat keterkejutan. Tadi malam, Marcel hilang kendali dan beberapa potongan memori tentang tadi malam tak sepenuhnya diingatnya.

“Kenapa kau terkejut, Marcel? Tenang saja, aku tidak akan meminta pertanggung jawabanmu. Kau menganggapku pelacur, kan? Jadi tidak usah terkejut seperti itu. Aku ini pelacur yang bisa tidur dengan pria mana pun. Sekarang kau boleh pergi. Anggap saja kejadian tadi malam tidak pernah terjadi,” ucap Joice dengan air mata yang tak henti bercucuran membasahi pipinya.

Mengatakan hal seperti itu, bukanlah hal mudah bagi Joice Osbert. Tapi dia membiarkan dirinya dianggap seperti pelacur. Jika itu yang membuat Marcel senang dan puas, maka dia akan melakukannya.

Marcel membeku diam di tempatnya. Raut wajah pria itu nampak begitu amat campur aduk. Segala kemarahan, kesal, dan emosi telah melebur menjadi satu. Joice bukan lagi anak kecil. Usia Joice bukan lagi usia anak-anak. Wanita itu bahkan hampir 30 tahun. Bagaimana mungkin seorang wanita yang usianya hampir 30 tahun tapi masih perawan? Semuanya sulit dicerna oleh Marcel.

Napas Marcel memburu. Pria itu berusaha untuk tenang dan tidak langsung murka. Selanjutnya, pria itu memberikan tatapan dingin dan tajam pada Joice. “Kau sudah tahu di mataku kau tetap sama. Tidak bernilai sama sekali. Kejadian tadi malam hanya kesalahan. Aku senang kalau kau berpikir demikian. Jadi aku tidak perlu banyak menjelaskan, kalau kau tidak berharga sama sekali di mataku!” Setelah mengatakan kalimat tajam itu, Marcel berbalik melangkah pergi meninggalkan tempat itu dan tak mau lagi melihat ke arah Joice.

Tubuh Joice ambruk ke lantai di kala Marcel sudah pergi. Air matanya satu demi satu membasahi pipinya. Tangis Joice kali ini semakin pilu dan menyakitkan. Semua kata-kata Marcel terus teringiang di dalam pikirannya.

“Kau jahat, Marcel. Kau jahat,” ucap Joice lirih dan pilu.

Bab 3

Satu bulan berlalu …

Milan, Italia.

“Good, Joice. Angkat dagumu dan lihat ke arah kanan.” Sang fotografer memberikan interuksi pada Joice yang tengah dipotret. Tentu Joice langsung menuruti interuksi sang fotografer itu.

“Ya, good, Joice. Gerakan sedikit pinggulmu ke kanan. Sesuaikan dengan lekuk tubuhmu,” ucap sang fotografer lagi. Tampak Joice bergaya di depan kamera dengan begitu professional.

Joice bukanlah seorang model baru. Wanita itu sangat tahu bagaimana berpose tetap sempurna di depan kamera. Nama Joice Osbert sudah tak perlu lagi diragukan dalam dunia modelling.

“Oke, selesai. Thanks, Joice,” ucap sang fotografer pada Joice.

Joice tersenyum merespon fotografer itu. Selanjutnya, wanita itu memutuskan untuk melangkah menuju ke ruang istirahatnya. Raut wajahnya sedikit lelah. Memiliki banyak aktivitas dalam pekerjaan kerap membuat Joice melupakan kehidupan pribadinya.

“Joice, apa kau ingin makan?” Hana—sang manager—berucap di kala Joice memasuki ruang istirahat.

Joice menggeleng pelan. “Tidak, Hana. Aku sedang tidak lapar.” Dia duduk di sofa sambil memeluk bantal kecil sofa.

Hana duduk di samping Joice. “Joice, beberapa hari ini kau jarang sekali makan. Kau juga sering mual. Apa kau sedang sakit?” tanyanya khawatir.

Sudah beberapa hari ini, nafsu makan Joice menurun drastis. Pun Joice kehilangan beberapa kilo berat badannya. Setiap kali Hana bertanya selalu Joice mengatakan bahwa dia baik-baik saja.

“Tidak, aku tidak sakit. Mungkin aku sedikit lelah karena jadwalku yang padat,” jawab Joice berusaha untuk tersenyum walaupun pancaran matanya menunjukkan kerapuhan. “Hana, kapan aku kembali ke London? Aku tidak ingin berlama-lama di kota ini.”

Setelah dari Las Vegas, Joice memiliki jadwal pemotretan di Milan. Akan tetapi, dia tidak ingin berlama-lama berada di Milan. Milan adalah kota yang dia hindari karena tak ingin bertemu lagi dengan pria yang telah menorehkan luka begitu dalam padanya.

Hana mengembuskan napas panjang. “Joice, kau masih belum bisa pulang. Kemungkinan tiga hari lagi baru kau bisa pulang. Malam ini saja kau memiliki jamuan makan malam.”

Joice berdecak kesal. “Aku tidak mau ikut di acara jamuan makan malam. Kau saja yang datang mewakiliku.”

Sejak dulu, Joice paling malas menghadiri jamuan makan malam. Pasti para model dan artis hanya memamerkan kekasih mereka yang hebat. Itu yang membuat Joice sangat malas. Biasanya jika acara-acara ajang pamer, Joice selalu meminta Hana untuk mewakilinya. Sedangkan Joice lebih memilih untuk tidur di kamar. Wanita itu sudah memiliki jadwal yang sangat amat padat.

Hana mendengkus tak suka. “Joice, kali ini kau harus hadir. Namamu sudah terdaftar sebagai tamu special. Acara ini bukan murni jamuan makan malam saja, tapi juga pelelangan berlian langka dan mahal. Di akhir acara, akan ada fashion show berlian termahal, dan kau wajib memakai berlian termahal itu. Kau akan menjadi bintang penutup acara.”

Mata Joice menatap jengkel Hana. “Kenapa kau tidak diskusi padaku lebih dulu, Hana?” tanyanya kesal.

Joice paling malas menjadi model di acara pelelangan berlian. Pastinya dia hanya akan bertemu dengan para wanita manja yang merengek meminta dibelikan berlian pada kekasihnya. Joice sedang malas melihat drama-drama murahan.

“Joice, kau mendapatkan bayaran mahal. Selain itu, kau juga akan mendapatkan salah satu koleksi berlian langka yang dipamerkan nanti. Jadi aku pikir kau akan setuju dengan niatku. Come on, Joice. Kau jangan menolak tawaran yang menggiurkan. Kalau kau malas bertemu dengan banyak orang, kau bisa menunggu di dalam ruang khusus para model. Kau bisa menghindari para tamu undangan.” Hana menatap Joice penuh dengan permohonan agar Joice menerima tawaran ini.

Joice memejamkan mata lelah. Dia malas sekali mengambil tawaran yang dimaksud oleh Hana. Tapi manager-nya itu sudah terlanjur menerima. Jika dia membatalkan, maka itu sama saja dengan tidak professional. Joice tidak mau sampai sikapnya ini berdampak buruk untuk karirnya.

“Oke, fine. Aku akan ikut,” ucap Joice dingin dengan raut wajah tanpa ekspresi.

Hana tersenyum manis. “Ya sudah, aku harus siapkan pakaianmu untuk nanti malam. Kau makanlah. Jangan sampai tidak makan. Terlalu kurus juga tidak bagus.”

Joice mengangguk merespon ucapan Hana. Detik selanjutnya, Hana bangkit berdiri melangkah meninggalkan Joice di ruang istirahat sendirian. Tepat di kala Hana sudah pergi, Joice memutuskan menyandarkan kepalanya ke sofa.

Namun, tiba-tiba perut Joice seakan benar-benar diaduk. Rasa mualnya tidak lagi bisa tertahankan. Dia segera bangkit berdiri—berlari menuju ke toilet yang letaknya tak terlalu jauh darinya.

Hueekkk

Hueekkk

Cairan bening keluar dari mulut Joice. Wanita itu memuntahkan semua isi perutnya. Perut Joice seakan diaduk. Kepalanya pusing luar biasa. Bahkan tubuh Joice nyaris tumbang. Kalau saja Joice yang memegang kuat wastafel—maka sudah pasti Joice akan tumbang.

Joice memutar keran wastafel, membasuh bibirnya dengan air bersih. Wanita itu menyandarkan tubuhnya ke dinding dan memijat keningnya yang sedikit pusing. Raut wajah Joice begitu bingung. Joice tak mengerti kenapa dirinya belakangan ini sering sekali mual hebat.

Seketika sesuatu hal menyelinap masuk ke dalam otak Joice di kala dirinya mengingat akan sesuatu. Kepanikan dan rasa cemas melingkupi wanita cantik itu. Debar jantungnya berpacu dengan kencang—namun buru-buru dia segera menepis rasa khawatir dan takut dalam dirinya.

“Tidak mungkin!” seru Joice seraya meremas perutnya dengan wajah yang masih berusaha menutupi rasa panik.

***

Sebuah pelelangan berlian di pusat kota Milan dihadiri oleh banyak pengusaha, model ternama, bahkan artis kalangan atas. Yang bisa hadir di acara pelelangan itu bukanlah orang sembarangan.

Pelelangan berlian langka yang didominasi dengan acara jamuan makan malam. Banyak sekali pasangan yang hadir. Pasangan yang tentunya selalu memamerkan harta dan paras kecantikan serta ketampanan.

Joice mengembuskan napas panjang. Selama acara berlangsung, dia duduk di kursi tengah. Tak sedikit para pengusaha muda yang sudah memiliki pasangan berusaha menggoda Joice.

Bagaimana tidak? Paras Joice yang cantik luar biasa, membuat para kaum adam bertekuk lutut padanya. Namun, tentu Joice tak pernah sedikit pun tertarik pada pria yang sudah memiliki pasangan.

Hati Joice sekarang seperti kepingan puzzle yang tak tersusun rapi sempurna. Semuanya hancur dan kacau. Tapi wanita itu berusaha sekeras mungkin untuk tetap menjadi sosok yang utuh.

Joice tak ingin orang lain melihat kelemahannya. Hal tersebut yang membuat Joice selalu memiliki tameng untuk dirinya sendiri agar tidak rapuh sama sekali. Memang itu tidak mudah, tapi wanita itu selalu berjuang untuk tetap bisa berdiri di kedua kakinya sendiri.

“Joice, kau di sini?” Hana menghampiri Joice.

Joice menatap Hana. “Aku sedang malas di depan. Di sana ramai sekali.”

Joice sengaja tidak memilih kursi paling depan karena kondisi di depan sangat ramai. Terlebih banyak sekali teman-teman sesama model yang tengah pamer pasangan mereka yang hebat. Sungguh, Joice sangat muak akan itu.

“Kau mau minum?” Hana menawarkan vodka pada Joice.

Joice menerima vodka itu. “Thanks,” jawabnya sambil menyesap perlahan.

“Sebentar lagi akan fashion show berlian langka. Puncaknya adalah dirimu. Kau harus segera bersiap. Konsep gaun sudah dipilihkan. Nanti kau tinggal ganti gaunmu,” kata Hana memberi tahu.

Joice mengangguk terpaksa. Tak ada pilihan lain bagi Joice, selain menuruti perkataan sang manager. Walau sebenarnya dia sangat malas. Tapi apa boleh buat. Demi menjaga nama baik, dia harus bersikap professional.

Joice hendak berbalik, namun tanpa sengaja tatapan Joice teralih pada pasangan yang memasuki tempat acara. Tampak seluruh mata tertuju pada pria tampan yang datang bersama dengan seorang wanita cantik dan seksi.

Raut wajah Joice berubah. Sepasang iris mata abu-abunya berkilat penuh perasaan campur aduk. Pun hatinya seakan terbakar oleh bara api, namun mati-matian dirinya berusaha untuk mengendalikan diri.

‘Marcel.’

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED