Bab 1

Hidup tidak bisa dijalani sesuai dengan keinginan kita. Semua ada pilihan-pilihannya dan setiap pilihan itu pasti ada konsekuensinya. Kita yang menjalani hidup itu harus bisa memilih yang terbaik. Apakah kita mau memilih dari salah satu pilihan yang diberikan dengan konsekuensinya masing-masing? Atau kita bisa saja tidak memilih namun pasti akan tetap ada konsekuensinya? Pikirkanlah itu semua, jangan menyesal karena telah salah menjatuhkan pilihan ….

***

“Chel, sudah sampai?” ucap seseorang dari telepon yang digenggam gadis manis itu.

“Aku lagi nungguin barang di bagasi Yadi, nanti kalau aku duluan yang sampai di ruang tunggu pasti aku telpon kamu.” Gadis itu terlihat agak repot dengan koper dan ransel yang dia gendong serta HP yang memenuhi tangannya.

“Oke deh.” Lelaki itu mematikan hpnya dan langsung melesat menuju tempat di mana dia dan gadis itu sudah berjanji untuk bertemu.

Dengan setengah berlari, lelaki itu mendapati gadis manis itu yang ternyata sudah sampai di ruang tunggu duluan, “Sorry Chel, aku tadi bingung jalan masuk ruang tunggunya yang mana makanya agak lama nyampe sini,” ujar lelaki itu ngos-ngosan.

“Ya ampun sampai ngos-ngosan gitu, nggak apa-apa kok, Yadi. Eh kita langsung pulang aja yah, nggak usah singgah-singgah lagi, aku capek banget nih.” Gadis itu masih mengulas senyum manis walau sangat terlihat kalau dia sudah sangat lelah.

“Oke deh tuan putri,” balas lelaki itu lalu membantu gadis itu membawa barangnya ke mobil.

***

Setelah agak lama di perjalanan gara-gara macet, mereka berdua pun sampai di rumah besar yang terlihat mewah tapi tampaknya tidak ada siapa-siapa di rumah itu. “Papa sama mama aku belum pulang dari kerja yah, Yadi?! Nggak sadar apa mereka kalau anaknya pulang hari ini, masih kerjaan aja yang diurusin!” Rachel memasang wajah masam.

“Masuk ajalah dulu Chel, nanti di dalam baru ngobrolnya biar enakan,” jawab Yadi cuek, dia terus berjalan masuk ke rumah itu dengan membawa seluruh barang-barang Rachel. Rachel masih dengan mode ngambek tetap mengikuti Yadi berjalan masuk ke rumahnya.

Terlihat dalam rumah itu sangat gelap, “Yadi nyalain lampunya dong, gelap banget ini nggak bisa lihat apa-apa!” teriak Rachel. Sayangnya nihil, tak ada satu pun balasan dari Yadi atau lampu yang menyala terang, ‘Yadi mana sih?!’ batinya.

Tiba-tiba lampu menyala, “SUPRAISE!!! Selamat datang Rachel … kami semua kangen sama kamu!!!” teriak sahabat-sahabatnya dan langsung memeluk gadis manis itu.

Rachel membalas pelukan sahabatnya itu dengan perasaan senang, dia tidak menyangka kalau sahabat-sahabatnya bakalan menyambut kepulangannya, “Thank you, ya ampun … aku juga kangen banget loh sama kalian. Aku pikir bakalan cuma Yadi aja yang nyambutin aku pulang bahkan aku nggak mikir kalau mama sama papa bakalan sempatin waktu kasih kejutan buat aku.” Rachel melayangkan pandangannya kepada orang tua dan sahabat-sahabatnya itu, sudah berapa lama dia tidak bertemu dengan mereka bahkan hal itu hampir membuat Rachel meneteskan air matanya.

“Kita nggak bakalan mungkin biarin kamu pulang ke rumah sendirian tanpa ada sambutan dari kita kan, sayang. Makanya mama sengaja nyuruh Yadi buat jemput kamu dengan alasan sibuk supaya mama bisa bantu teman-teman kamu untuk nyiapin pesta penyambutan kamu.” Mama Rachel langsung memeluk anaknya haru begitu juga dengan papanya, sudah berapa lama mereka tidak tinggal dalam satu rumah dan membuat papa dan mamanya harus pulang balik untuk menemuinya. Rachel juga tidak kuasa untuk menahan air matanya, jujur dia sangat rindu dengan orang tuanya walau mereka sering pulang balik untuk menemui Rachel tapi tidak akan sama seperti Rachel tinggal bersama mereka.

“Sekarang Chel, kamu bersih-bersih dulu sama ganti baju terus ikut makan yah. Aku dah siapin makanan kesukaaan kamu di halaman belakang,” ujar salah satu sahabatnya yang bernama Liora.

“Emang Liora deh sahabat aku yang paling jago masak, makasih yah, Liora. Semuanya aku tinggal dulu yah bentar, nanti langsung aku nyusulin ke halaman belakang kok.” Rachel segera menuju kamarnya yang sudah sangat lama dia tinggalkan sementara yang lainnya berjalan ke halaman belakang rumah Rachel.

Rachel memasuki kamarnya, tidak ada yang berubah, semua tampak sama seperti terakhir dia meninggalkan kamar itu. Papa dan mamanya sangat mencintainya dan dia yakin kalau mereka sebenarnya berat melepaskan Rachel yang tiba-tiba memutuskan pergi waktu itu karenanya mereka tidak mengubah tatanan kamar Rachel agar mereka masih merasa Rachel selalu ada dekat mereka.

Rachel anak tunggal keluarga itu tapi Rachel sangat merasa kalau orang tuanya tidak pernah memanjakannya. Segala sesuatu yang Rachel inginkan harus diputuskan dengan dibicarakan dulu oleh semua anggota keluarga. Seperti keputusannya yang ingin meninggalkan rumah waktu, dia yakin kalau orang tuanya merasa konyol dengan alasan Rachel untuk pergi tapi melihat Rachel yang sepertinya memang membutuhkan suasana baru, akhirnya mereka sepakat merelakan Rachel berjauhan dari mereka selama tiga tahun lebih.

Rachel membuka kotak berdebu yang selalu dia simpan di laci paling bawah lemarinya, setidaknya itu adalah salah satu tempat yang tidak akan dibuka sama sekali oleh mamanya. Beberapa mainan anak-anak, aksesoris anak-anak serta foto-foto kenangannya bersama sahabatnya selalu dia simpan di kotak itu. Tidak ada yang berubah dari semua sahabat-sahabatnya, tidak ada yang berubah kecuali satu. Ada yang menghilang, memutuskan pergi tanpa berkata apapun dan membuat Rachel juga harus memutuskan untuk pergi menjauh.

***

Setelah makan, Rachel lalu berjalan membawa minumannya dan duduk di bawah pohon rindang di belakang rumahnya. Dia termenung sambil memandang rumah besar yang berada pas di samping rumahnya. Dia tak sadar bahwa ada Yadi, cowok yang tadi menjemputnya di bandara, mendatanginya, “Chel, Rachel … Rachel!!!” teriak Yadi sambil melambai-lambaikan kelima jari tangannya di depan muka Rachel yang sedang termenung.

“Eh, iya Yadi, kenapa?” tanyanya bingung.

“Masih kangen yah sama dia?” Yadi ikut memandang rumah besar yang tadi juga dipandang oleh Rachel.

Rachel menunduk, wajahnya berubah sendu, “Iya tapi aku harus melupakan dia, kan? Aku nggak tau dia di mana tapi di manapun dia, aku tau kalau dia lebih bahagia di sana dibandingkan di sini bersama kita.” Rachel menarik napas dalam, berusaha menenangkan dirinya.

“Aku yakin dia sebenarnya tidak bermaksud seperti itu, dia pasti punya alasan kenapa tiba-tiba berjalan pergi dari kita. Mau alasannya masuk akal atau tidak tapi Chel, aku mau kamu kembali ke sifat ceria kamu yang dulu sebelum dia pergi. Aku sama anak-anak sangat khawatir saat kamu memutuskan untuk pergi juga dan sebenarnya kita tidak ingin kamu pergi tapi kita yakin kalau itu bisa membuat kamu tenang dan kembali seperti dulu lagi, aku rindu Rachel yang dulu.” Yadi mengacak-acak rambut Rachel sambil mengulas senyum, menenangkan hati sahabatnya ini adalah prioritas utama Yadi sekarang.

Rachel tersenyum memandang Yadi, sahabatnya dari kecil ini selalu menjadi orang yang paling sabar untuk menenangkan dan menghibur dia saat sedih. Salah satu sahabatnya yang sudah tiga tahun dia tinggalkan ke Jogja untuk menenangkan diri tapi tidak pernah berubah dari sejak itu. Yadi selalu menelponnya, menanyakan keadaannya bahkan tidak segan-segan ke Jogja kalau Rachel sedang sakit, sedang sedih atau saat Yadi sedang banyak waktu senggang. Sebenarnya sahabat-sahabatnya yang lain juga seperti itu tapi Yadi yang paling sering menanyakan keadaannya. Sebenarnya Rachel menyematkan nama Guardian Angel buat Yadi tanpa Yadi ketahui karena Rachel betul-betul merasa dijaga oleh Yadi, Rachel bahkan tidak peduli entah Yadi suka apa tidak dengan nama itu.

“Tapi Chel, jangan pernah benci sama dia, dia masih tetap sahabat kita dan kita akan berusaha memahami apa sebab dia pergi. Anak-anak yang lain juga selalu kangen kok sama dia dan selalu berharap kalau suatu hari dia memutuskan buat kembali ke kita. Udahlah kita nggak usah bahas itu lagi, kamu udah siap kan buat masuk kampus bareng-bareng kita.” Lihatlah, Yadi mempunyai hati seperti malaikat bukan? Sejahat apapun sahabatnya, meninggalkannnya tanpa alasan apapun bahkan tanpa salam apapun tapi dia akan terus berusaha mengerti semuanya.

Rachel mengulas senyum lebar, “Iya, aku mau rasain ngampus bareng kalian.”

“Woi berduaan mulu, ayo sini, tiramisu bikinan Liora udah jadi ini!” teriak salah satu sahabat mereka, Jovan.

Yadi berdiri dan mengulurkan tangannya ke Rachel, “Ayo, kita isi perut dulu sebelum menghadapi hari-hari selanjutnya.” Rachel tersenyum dan membalas uluran tangan Yadi, mereka kemudian berlari menuju sahabat-sahabatnya.

Bab 2

Pagi itu Universitas Vinza Wacana terlihat heboh, pasalnya ada seseorang yang berjalan bersama sekelompok mahasiswa yang terkenal popular di kampus itu. Walau sangat terlihat banyak yang jelas-jelas berbisik-bisik menggosipi mereka juga menatap mereka heran tapi nyatanya empat gadis manis dan tiga lelaki tampan itu tetap cuek terus berjalan dan berakhir di sebuah ruangan yang langsung ditutup dari dalam.

“Eh-eh, siapa tuh?” tanya salah seorang siswa yang bernama Kenan.

“Kamu nggak baru keluar dari goa kan Kenan?! Masa kamu nggak kenal sama anak popular di angkatan kita, senior aja tau kok tentang mereka,” cetus seorang cewek yang bernama Wulan tapi matanya tetap saja memandang ke HP-nya.

“Makanya jangan main nyeletuk aja, lihat dulu baru ngomong! Aku nanyain cewek yang di antara mereka itu, kayaknya anak baru deh. Setahu aku mereka kan selalu berenam aja, cuma Yadi, Jovan, Tristan, Janetta, Liora sama Jelena aja kan?!” Kenan menjitak kepala Wulan saking gemasnya.

“Aduh, sakit tau!” teriak Wulan sambil membalas jitakan Kenan, setelah itu matanya mengikuti langkah si mahasiswa popular, penasaran dengan cewek baru diantara mereka sampai berakhir dengan mereka mengurung diri di dalam sebuah ruangan.

“Malah berantem coba kayak anak kecil, kalau mau berantem jangan di sini, bikin malu! Kayaknya kamu benar sih Kenan, dia itu pasti anak baru tapi kenapa akrab banget yah sama mereka? Kita aja yang dah lama bareng bahkan sekelas sama mereka tapi nggak pernah akrab-akrab, mau akrab gimana bahkan mau ngomong aja takut!” Daisy, gadis itu, juga menatap gadis yang menggemparkan kampus itu dengan tatapan iri.

“Aku sih yakin kalau cewek itu asal kenal aja sama mereka, kali aja keluarga mereka kenal sama dia dan cewek itu tau kalau mereka popular di kampus ini makanya dia ikut nimbrung sama mereka supaya terkenal juga. Tapi ngomong-ngomong kok kamu yakin banget kalau dia itu anak baru?” Wulan yang ternyata si mulut kompor berusaha memanas-manasi para penggemar anak popular itu.

Semua mata langsung tertuju ke Daisy karena malas dipandang seperti itu akhirnya Daisy menjelaskan, “Kemarin aku ambil jadwal kuliah tambahan dan karena aku cuma sendiri jadi disuruh kerja kuis aja di kantor admin. Terus aku dengar Pak Syam ngomong sama admin kalau bakalan ada anak baru yang masuk, itu aja selebihnya aku nggak dengar lagi.” Daisy kembali memandang ruangan yang dimasuki anak populer tadi.

“Positif thinking aja lah, kali aja itu sepupunya anak FRR, kan,” ujar salah satu penggemar FRR, Jenar, berusaha menenangkan pikirannya juga teman-temannya yang diracuni kata-kata Wulan tadi.

“Nggak mungkin, setahu aku semua sepupu-sepupu anak FRR ada di luar negeri!” Wulan masih tetap memanas-manasi.

“Udah ah nggak usah bahas dia lagi, makin sakit telinga aku bahas dia terus kayak nggak ada bahan lain aja. Kita buruan masuk kelas, aku penasaran banget mau tau dia siapa!” Daisy berjalan meninggalkan teman-temannya yang kebetulan sekelas sama sekelompok anak-anak yang diberi sebutan dengan nama FRR tadi. Dengan setengah-setengah hati, mereka juga ikut berjalan ke kelas walau sebenarnya mereka masih mau menunggu anak FRR keluar dari ruangan itu.

Anak FRR adalah sebutan untuk para sahabat-sahabat Rachel itu sejak mereka menginjakkan kaki di kampus baru mereka. Entah dari mana sebenarnya sebutan itu berasal tapi baik Yadi, Jovan, Tristan, Liora, Jelena, dan Janette tidak mempedulikan tentang sebutan itu. Mereka bukannya sombong tapi karena sejak kecil mereka selalu bersama makanya mereka lebih nyaman bersama gengnya dibandingkan ikut nimbrung dengan teman-teman sekelasnya. Terkenalnya nama mereka bahkan sampai ke senior mereka, tidak banyak juga senior yang ingin ikut bergabung dengan mereka tapi hanya berakhir sebagai teman di kampus saja, tidak lebih.

Mereka baru menyelesaikan semester awal tapi sudah banyak prestasi yang mereka tunjukkan seperti Jovan yang berhasil membawa kemenangan bagi tim basket kampus mereka atau Jelena yang berhasil menang dalam kompetisi cover song dengan memainkan piano andalannya. Itulah salah satu kenapa mereka bisa menjadi popular dan selain itu banyak kontroversi yang beredar mengenai mereka di kampus itu kalau salah satu dari mereka yaitu Liora adalah salah satu anak dari penyumbang investasi terbanyak untuk kampus itu. Banyak yang memuji bahkan ngefans sama mereka tapi tidak sedikit juga yang benci mereka bahkan terkesan tidak peduli dengan mereka. Dan bisa ditebak kalau salah satu dari banyak mereka yang nge-fans sama mereka antara lain adalah Daisy, Wulan dan teman-temannya tadi.

***

Daisy terus memperhatikan jalan di luar kelasnya, dia sudah tidak sabar melihat anak FRR juga cewek yang tiba-tiba terkenal itu tadi. Tak lama dosen mereka masuk bersama anak FRR yang langsung masuk ke kelas tanpa satu cewek yang menjadi kontroversi tadi. “Baik anak-anak, sebelum saya mulai perkuliahan kita pada hari ini, saya mau memperkenalkan sama kalian mahasiswa baru yang akan masuk di kelas kalian. Sebelumnya ibu panggil dia dulu untuk memperkenalkan diri, Rachel ayo masuk Nak.” Tidak menunggu waktu lama, masuklah cewek kontroversi itu dengan menebar senyuman walau dibalas dengan tatapan sinis oleh para mahasiswi yang katanya penggemar lelaki FRR.

“Selamat pagi semuanya, nama saya Rachel Kirana, kalian bisa memanggil saya Rachel atau Achel. Saya sangat berharap kalian semua dapat menerima saya dengan baik dan membantu saya dalam mengejar ketertinggalan saya. Itu saja mungkin perkenalan tentang saya, terima kasih,” ucap Rachel panjang lebar tentang dirinya.

“Baik, terima kasih Rachel, okey baik anak-anak kita mulai perkuliahannya.”

Rachel berjalan dengan pasti dan berakhir dengan berdiri di samping tempat duduk Yadi, “Aku duduk di sini yah.” Rachel dengan senyum genitnya malah menggoda Yadi sampai Yadi tersenyum gemas.

“Udah duduk nggak usah pasang muka manja kayak gitu, nanti ditegur sama dosen di depan loh,” ujar Yadi lembut ketika Rachel sudah duduk di sampingnya.

“Aku nggak pasang muka manja nanti kamu suruh aku duduk sama yang nggak aku kenal lagi. Mana yang lain tempat duduknya udah sebelah-sebalahan nggak ada space buat aku.” Kelakuan Rachel malah semakin menjadi-jadi dengan memanyun-manyunkan bibirnya tanda cemberut.

“Iya udah, terserah Rachel aja.” Yadi mengakhiri adu mulut itu dengan mengacak-acak rambut Rachel gemas.

“Ih, selera Yadi kayak gitu, masih bagus juga aku!” ejek Daisy sambil memandang Yadi dan Rachel iri.

“Rachel, kamu nggak sadar kalau anak-anak cewek di kelas ini pada lihat sinis ke kamu gara-gara deketin salah satu prince di kampus ini,” bisik Janette dan melirik sedikit ke arah Yadi dengan tatapan mengejek.

“Nggak peduli aku, aku sama Yadi dari kecil udah bareng jadi mau aku sok imut di depan dia kek nggak masalah, sahabat aku ini kok. Udah ah malah ngajak ngobrol, mau konsen belajar ini, aku udah ketinggalan banyak terus kalian nggak mau nolongin pula,” pungkas Rachel lalu berbalik ke depan dan kembali fokus ke mata kuliah yang diterangkan. Sementara Janette dan Tristan di belakang hanya tertawa kecil melihat sikap masa bodoh Rachel.

***

Mata kuliah kelas mereka sudah selesai dan tidak sampai lima menit dosen itu keluar bahkan kelas anak FRR sudah kosong karena sebagian sudah lari ke kantin akibat perut yang sudah keroncongan. “Rachel, mau ikutan ke kantin? Kita pada mau ke kantin nih.” Jelena juga ingin beranjak setelah mendengar lagu keroncong dari perutnya.

“Aku nggak ikut ke kantin deh, aku mau catat ini dulu soalnya tadi nggak sempat catat lagian aku nggak lapar juga kok. Nanti sebelum masuk kita ke ruangan biasa yah, ada yang pengen aku bicarain, aku tunggu kalian di sana.” Rachel kembali sibuk dengan catatannya.

“Yah udah, kita duluan yah Rachel.” Mereka meninggalkan Rachel yang akhirnya sendiri di kelas itu.

Sementara asyik mencatat, datanglah tiga cewek centil yang langsung menggebrak meja Rachel membuat Rachel kaget. Rachel yang nggak tau apa-apa hanya menoleh sebentar kemudian melanjutkan kembali aktivitas mencatatnya. Hanya dilihat seperti itu, cewek itu langsung geram tidak terima, “Sok banget yah anak baru, pake acara dekat-dekat sama anak FRR itu buat apa?! Nggak pantas kamu jalan diantara anak FRR kayak tadi!” Rachel hanya diam terkesan tidak peduli, tentu saja membuat cewek-cewek itu tambah murka.

“Woi, kamu emang tuli apa bisu sih, dibicarain malah nggak ada respon sama sekali?! Emang kamu siapanya anak FRR sih? Pakai deket-deket sama Yadi lagi, aku tau kamu pasti dekat-dekat sama anak FRR supaya ikut terkenal kan kayak mereka! Emang kamu bisa apa sih dibandingkan dengan anak FRR yang berbakat dalam segala bidang, nggak punya bakat apa-apa masih berani jalan bareng anak FRR!” Rachel jujur sangat terganggu, dia hanya ingin suasana yang tenang agar bisa mencatat semua mata kuliah yang tadi dijelaskan.

Rachel yang sudah tidak tahan dengan kelakuan gadis-gadis itu lalu berdiri kemudian memandang sinis cewek centil di depannya, “Emang kenapa kalau aku deketin mereka, mereka aja nggak ada yang komplen kok aku deketin begitu kenapa jadi kalian yang sewot? Kalian juga siapanya mereka sih, nggak ada hubungan apa-apa kan?! Jadi mending kalian berhenti gangguin orang deh, masih ada kerjaan lain kan?!”

“Wah, ternyata kamu berani juga yah nyolot sama kita?! Kamu lihat dong diri kamu, nggak ada tampang-tampang yang bisa disandingkan dengan anak FRR tau nggak. Nggak mungkin kan kita sebagai fans dari mereka ngebiarin seseorang macam kamu malah keganjenan dekat mereka!” Daisy menunjuk gaya busana Rachel dari atas sampai bawah, harus Rachel akui kalau mungkin dia tidak sylish. Rachel hanya memakai baju kemeja biasa dan celana jeans biasa ditambah dengan sekarang dia memakai kacamata untuk menghindari paparan sinar dari proyektor maka terlihatlah dia seperti seorang anak culun. Tapi apa yang salah, tujuan Rachel ke sini kan untuk kuliah bukan untuk fashion show jadi rasanya tidak ada yang salah dengan pakaiannya.

Rachel malah memperhatikan Daisy yang ada di hadapannya dari atas sampai ke bawah, dandanan yang sedikit menor dan baju yang sepertinya lebih tepat untuk dipakai ke mall dari pada ke kampus. Hal itu malah membuat Rachel tersenyum tipis menahan tawa yang malah dipandang sebagai mengejek oleh teman-teman Daisy. “Ngapain kamu tertawa?! Nggak ada yang lucu tau!” murka Wulan yang tersinggung melihat Rachel tertawa.

“Kalian kalau mau ngelawak nanti aja kali habis pulang kampus, buang-buang waktu aja,” sindir Rachel malah semakin menjadi-jadi.

“Udah nggak usah panjang lebar, kalau kamu masih punya malu atau masih mau datang ke kampus ini dengan baik-baik mending kamu jauhin anak FRR deh,” terang Camani yang sudah menahan emosi.

“Ngapain mesti jauh-jauh dari dia?! Mereka sendiri fine fine aja tuh kalau aku deket sama mereka! Justru kalian yang mustinya memandang diri kalian sendiri karena malah membully orang lain, kalian pikir anak FRR yang kalian sanjung-sanjung itu bakalan suka dengan kelakuan kalian?” Rachel terus merendahkan diiringi dengan tawa mengejek.

Daisy yang geram melihat kelakuan Rachel makin murka, “Omongan kamu itu musti dikasih pelajaran supaya ngerti tempat!” Niatan Daisy untuk menampar Rachel terhenti karena tangannya yang dihadang seseorang.

“Apa-apaan ini?! Sudah ada yah di dalam kelas ini yang mau jadi jagoan?! Ada yang berani ngelukain Rachel bakalan berurusan sama kita jadi mending kamu turunkan tangan kamu dan kembali ke tempat duduk kamu sebelum kamu menyesal!” Orang itu adalah Yadi. Daisy yang ketakutan melihat sorot mata Yadi langsung menurunkan tangannya, dia kembali ke tempat duduknya dan terus terdiam di sana.

“Ayo kita ke ruang biasa, katanya ada yang ingin kamu bicarakan.” Yadi menatap tajam semua teman kelasnya sambil menarik tangan Rachel.

“Eh tunggu dulu, aku belum selesai mencatatnya nih!” tolak Rachel.

“Udah, kamu lihat catatanku saja.” Jelena yang sedari tadi hanya diam saja di depan pintu kelas mereka akhirnya ikut nimbrung. Tanpa banyak berkata-kata, Yadi langsung menarik Rachel keluar dari kelas itu. Sementara para mahasiswa di kelas itu termasuk Daisy masih terdiam dengan kejadian barusan.

***

Rachel masih saja tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian aneh tadi, dia tidak menyangka kalau penyuka teman-temannya sefanatik itu padahal mereka bukan artis. “Apaan sih Rachel, udah nggak ada yang lucu masih aja ketawa,” tegur Janette dengan mata yang tidak lepas dari HP-nya.

“Aku bingung aja sih Jane, ternyata orang-orang yang suka sama kalian semakin bar-bar dibanding yang SMP dulu. Padahal kalau dipikir-pikir kalian bukan artis dan masalah membawa nama kampus kan mereka juga bisa.” Rachel tertawa lagi setelah mengingat-ingat bagaimana menyebalkannya wajah Daisy melihat tingkah Rose yang tidak takut sama sekali. Janette, Liora dan Jelena pun ikut tertawa melihat tingkah laku Rachel sementara Yadi, Jovan dan Tristan yang notabene menjadi bahan ejekan malah memasang wajah bete.

“Sebenarnya kita ke sini mau bicarain apa sih?!” tanya Tristan yang sudah bosan diejek terus dengan Rachel.

“Sabar kali Tan, nggak berubah-ubah yah sifatnya, aku pikir sifat emosian kamu berangsur hilang pas aku pergi eh malah lengket kayaknya,” balas Rachel tapi masih tetap menggoda Tristan.

“Udah deh Rachel, cepat kasih tau apa yang kamu mau omongin.” Jovan mulai memasang wajah serius.

Rachel sadar kalau Jovan sudah berubah serius berarti dia benar-benar tidak suka kalau Rachel membalasnya dengan main-main lagi, akhirnya Rachel memulai pembicaraan mereka, “Aku rasa banyak teman seangkatan kita yang belum tahu aku siapa, iyakan?” Teman-temannya hanya mengangguk, malas ngomong mungkin.

“Besok papa sama mama mau mengunjungi kampus dan aku mau kita yang langsung jemput mereka ke sini. Mereka ke kampus buat lihat gimana aktivitas aku di kampus baru setelah itu mereka ke Kanada buat urusan kerja. Jadi nanti malam kalian semua nginap di rumah aku supaya besok bisa langsung berangkat sama-sama.”

“Oke deh,” jawab mereka serempak.

Tristan melihat jam tangannya, “Kayaknya kelas kita udah mulai nih, nggak usah masuk sekalian deh sampai jam makul ini habis, udah mata kuliah akhir kan?” mohon Tristan, kelihatan banget anak ini lagi malas belajar. Setelah kejadian tidak mengenakkan tadi membuat anak-anak FRR yang lainnya juga malas mengikuti perkuliahan dan berakhir dengan aktivitas mereka masing-masing.

Bab 3

“Guys bangun, kita udah hampir telat nih jemput papa sama mama aku!” Rachel berusaha membangunkan teman-temannya yang masih tertidur pulas.

“Beneran Rachel?! Kenapa nggak dibangunin dari tadi sih?” protes Tristan yang masih sempat-sempatnya marah dulu sama Rachel.

“Ya ampun Tan, masih sempat-sempatnya kamu ngomelin Rachel sementara yang lain udah langsung ke kamar mandi,” komentar Janetta yang pagi-pagi sudah sibuk dengan HP, barang kesayangannya. Tristan yang melihat dua sahabat cowoknya dah pada masuk ke kamar mandi dengan gercepnya juga memasuki kamar mandi yang kosong.

Rumah Rachel memang besar dengan tersedia kamar mandi yang dikhususkan untuk tamu dan untuk tuan rumah jadi sudah dijamin tidak ada alasan telat karena antri kamar mandi kalau nginap di rumah Rachel. Sementara empat cewek manis yang sudah siap dari tadi itu mulai bergerak menyediakan sarapan buat mereka supaya selesai geng cowok siap-siap mereka bisa langsung makan dan cepat berangkat.

****

“Hai Pa, Ma, gimana perjalanannya lancar-lancar aja kan?” tanya Rachel ketika sudah bertemu dengan ortunya di bandara.

“Iya sayang, kok kalian terlambat jemput mama sama papa?” tanya mamanya balik, papanya masih sibuk dengan HP di tangannya.

“Maaf tante, tadi kita pada telat bangun soalnya mengandalkan alarm dari cewek-cewek tapi mereka juga telat bangunin kita.” Jovan berusaha menjelaskan walau dengan napas ngos-ngosan.

Bagaimana tidak, mereka masih sempat lari-lari menyusuri bandara agar bisa sampai di ruang kedatangan papa dan mama Rachel karena mengira mereka sudah menunggu di sana, “Loh sayang, kok jadi nyalahin kita sih?! Kamu sendiri udah tau kan kalau hari ini kita mau jemput om sama tante terus kenapa semalam kamu masih begadang sampai jam tiga pagi!” gerutu Liora yang nggak mau disalahin dalam acara keterlambatan mereka.

“Ya ampun udah-udah, anak muda jaman sekarang kalau pacaran masih aja main nyalah-nyalahin. Jadi rindu mau muda lagi, pengen ketemu sama orang tua kalian mau bernostalgia jaman kita semua masih seumuran kalian.” Mama Rachel tertawa mengingat-ingat masa lalunya.

“Ini udah selesai belum nostalgianya.” Mama Rachel jadi tersipu malu karena ternyata sedari tadi suaminya mendengarkan pembicaraan mereka. “Rachel, papa minta maaf sekali yah karena papa dan mama harus tinggalin kamu untuk urusan kerjaan papa. Kamu nggak masalah kan tinggal sendirian lagi di rumah, papa sangat minta maaf.” Sebenarnya Rachel sangat sedih karena harus ditinggalkan lagi sama orang tuanya walau sebenarnya dia sudah terbiasa dari kecil tapi tetap saja belum lama Rachel kembali ke rumah dan mereka malah pergi lagi.

“Nggak apa-apa kok Pa, papa juga ke sana karena kerjaan kan dan nggak mungkin mama biarin papa sendirian ngurusin kerjaan papa. Aku di sini ada mereka kok yang bakalan temenin jadi papa tenang aja.” Rachel terus berusaha tersenyum walau hatinya agak tidak enak.

“Makasih yah sayang, kamu memang paling mengerti mama dan papa. Sekarang kita ke kampus kamu yuk, papa udah lama juga nggak lihat-lihat kampus.” Rachel mengangguk, sudah seharusnya ini yang terbaik bahwa Rachel mengalah karena dia tau tidak mungkin orang tuanya meninggalkan dia untuk urusan yang tidak penting dan perusahaan ini sangat penting bagi orang tuanya.

***

Rombongan mobil itu memasuki pekarangan kampus dan disambut dengan dosen dan rektor dari kampus tersebut. “Selamat datang Bapak dan Ibu Hapsari, saya sangat senang anda mau menyempatkan diri ke kampus ini.” Rektor itu menyalami orang tua Rachel.

“Kami ke sini selain ingin melihat perkembangan kampus ini juga mau melihat aktivitas anak kami di kampus. Apa boleh saya ikut sebentar ke kelas anak saya, Rachel?” Papa Rachel memandang rektor itu penuh harap.

“Oh tentu saja boleh Pak, ini dosen yang akan mengajar di kelas anak bapak jadi bapak bisa langsung mengikuti dosen ini.” Dengan mengucapkan terima kasih, papa dan mama Rachel mengikuti dosen tersebut, mereka sangat senang karena diperbolehkan melihat kelas anak semata wayang mereka.

Ruangan kelas kampus itu sangat nyaman dengan adanya AC dan beberapa buku yang disediakan juga jendela yang pada pagi hari dibiarkan terbuka agar ada sinar matahari yang masuk. Sebenarnya anak-anak di kelas Rachel sudah tau berita kalau ada pemilik kampus yang akan mengunjungi mereka pagi ini tapi siapa sangka kalau pemilik kampus itu akan masuk ke kelas mereka. “Ngapain tuh cewek ada di sana?!” Wulan memandang Rachel iri.

“Aku juga nggak ngerti, lagian kenapa juga dari semua kelas yang masuk pagi ini di kampus, si pemilik kampus malah pilih kelas ini.” Daisy malah semakin membuat teman-temannya bingung.

“Baik, kalian pasti sudah dengar tentang berita kalau pemilik dari kampus kita akan berkunjung ke kampus kita hari ini dan suatu kehormatan juga karena mereka memilih kelas ini untuk dikunjungi. Sekali lagi bapak akan mengenalkan kedua pemilik kampus kita ini, mereka adalah Bapak dan Ibu Hapsari.” Sang dosen mulai berbicara memecahkan suasana kelas yang tadinya agak hening.

“Kalau misalnya anak-anak terkenal itu yang ada di depan aku bisa maklumin sih karena kita semua sudah tau kalau mereka itu kenalan pemilik kampus tapi si cewek satu itu ganggu pemandangan banget tau nggak!” Jenar malah jadi kompor buat teman-temannya. Sudah dipastikan kalau geng cewek centil itu makin tambah sinis dengan kehadiran Rachel si anak baru yang kemarin tiba-tiba dekat dengan geng anak popular dan sekarang berdiri berdampingan dengan si pemilik kampus

“Kalau begitu saya persilahkan kepada Bapak atau Ibu Hapsari untuk menyampaikan dua patah kata.” Papa Rachel mengangguk kemudian menggantikan posisi tempat dosen itu berdiri.

“Selamat pagi anak-anak, perkenalkan nama saya Siswo Hapsari dan ini istri saya Ibu Yuna Hapsari. Saya tau kalau saya mungkin kurang terkenal di kalangan anak muda karena saya ini cuma orang tua yang hobi berdagang dan membuka kesempatan kerja baru, saya hanya seorang pengusaha biasa yang juga tertarik dalam dunia pendidikan. Itu adalah salah satu alasan kenapa saya mau membangun universitas ini, alasan kedua adalah karena saya sangat konsen dengan dunia anak remaja. Dunia anak remaja itu sangat rentan karena itu saya ingin membangun dunia yang aman bagi mereka karena saya juga membayangkan bagaimana nantinya kalau anak saya tinggal di dunia yang tidak nyaman pasti akan membuat saya sedih. Oh iya, saya hampir lupa mengenalkan anak saya, namanya adalah Rachel Kirana. Dia anak saya satu-satunya dan baru memulai dunia di sini sama seperti kalian jadi saya harap kalian juga mau mengajak dia untuk menjadi teman yang baik dalam dunia kalian. Saya harap apa yang saya cita-citakan dari awal membangun universitas ini bisa tercapai dengan baik, semangat terus belajar dan nikmatilah dunia kalian.” Dalam sesi perkenalan itu tentu saja papa Rachel akan menarik Rachel untuk berdiri disampingnya dan itu membuat hampir sebagian cewek-cewek di dalam kelas itu menahan napas serasa ingin menghilang dari kehidupan mereka.

“Mampus deh kalian, bentar lagi kalian bakal dikeluarin dari kampus gara-gara tuh anak ngadu tentang semua kelakuan kalian ke dia,” bisik Kenan diikuti dengan tawa mengejeknya.

Sementara ketiga cewek itu tidak mendengar perkataan Kenan, mereka hanya memikirkan masa depannya di kampus tersebut. “Baik anak-anak mungkin sekian perkenalan dari Pak Hapsari, kalian bisa melanjutkan pembelajaran dulu tanpa bapak, kan? Bapak akan mengantarkan Pak Hapsari dulu ke ruang admin.” Hanya anggukan yang diberikan mahasiswa di dalam karena saking shocknya.

“Mama sama papa mau langsung pulang atau gimana?” tanya Rachel setelah mereka keluar dari kelasnya.

“Papa sama mama mau kunjungin ruang admin dulu nanti dari situ baru pulang ke rumah. Pesawat kita sekitar jam tiga sore jadi kalau kamu nggak sempat untuk nganterin nggak masalah kok sayang.”

“Iya benar itu, papa sama mama nggak mau ganggu jam perkuliahan kalian jadi sekarang kalian masuk kelas, sampai ketemu minggu depan yah sayang.” Papa Rachel mencium kening anak gadisnya itu kemudian mereka masuk kembali ke kelas.

***

Rachel CS masuk ke ruang kelas mereka tapi anehnya ruang kelas yang sebelumnya sangat ramai seperti di pasar malah menjadi hening seperti di kuburan. Janetta sangat mengerti kenapa teman sekelasnya malah jadi pendiam seperti itu dan itu membuatnya tertawa yang kemudian disenggol oleh Rachel yang tidak enak dengan keadaan canggung itu.

Keadaan yang semakin tidak enak membuat Rachel langsung turun tangan, “Kalian nggak usah mikir yang aneh-aneh, aku ngerti kok kalau kalian merasa risih ketika anak baru langsung sok akrab dengan geng yang paling terkenal di kampus dan aku memaklumi hal itu,” senyum Rachel membuat hati ketiga cewek centil itu sedikit tenang.

“Makanya kalau nggak tau keadaannya seperti apa nggak usah main bully orang segala, terutama tiga anak yang kemarin sok keren pakai bully Rachel! Untung Rachel baik, kalau nggak kalian semua bisa langsung dikeluarin tanpa sempat salam perpisahan sama anak lain,” sindir Tristan dengan gaya sok coolnya.

Rachel melemparkan tatapan sinis ke Tristan sedangkan Janetta yang ada di samping Tristan langsung menjitak kepalanya. “Aduh sakit tau!” teriak Tristan yang siap-siap ingin menjitak kepala Janetta tapi ditahan oleh Jovan. Janetta menaruh telunjuknya di mulutnya, menyuruh Tristan diam sementara Tristan sudah tidak peduli dengan Janetta lagi.

Sambil tetap tersenyum Rachel berbicara lagi, “Untuk Daisy, Wulan sama Camani kalian nggak usah takut, aku nggak dendam kok sama kalian. Kalian tenang aja, kalian kan teman sekelas aku, masa sekelas berantem justru teman sekelas itu musti kompak.” Cewek-cewek yang terus menunduk gara-gara habis disindir Tristan langsung tersenyum tenang saat mendengar ucapan Rachel. “Aku juga salah satu bagian dari mereka dan kita berteman bahkan sejak kami dari kecil, sebenarnya kita berdelapan tapi .…” Rachel tiba-tiba menghentikan perkataanya.

Mata Rachel tiba-tiba berkaca-kaca dan terlihat tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya, dia membayangkan seseorang yang sudah lama meninggalkannya, sahabatnya, orang yang dia sayangi, “Satu teman kami lagi ada di luar negeri mungkin sebentar lagi bakal pulang.” Liora melanjutkan kata-kata Rachel, dia yang paling cepat menyadari perubahan mood Rachel.

Rachel mengangkat wajahnya lalu tersenyum kepada teman-temannya, senyum yang kelihatan dipaksa. Setelah itu Rachel langsung pergi meninggalkan teman-teman kelasnya dalam kebingungan kecuali geng nya yang sudah mengerti keadaan Rachel. Yadi tidak akan mungkin diam melihat kesedihan di wajah Rachel, tanpa ba-bi-bu dia langsung mengejar Rachel.

“Yadi terlihat sangat perhatian dengan Rachel, kamu bodoh Jelena bukankah itu semua sudah hal yang biasa mengingat kita memang selalu bersama.” Jelena tau kalau hatinya terluka karena tatapan khawatir yang berbeda yang keluar dari mata Yadi ketika tau Rachel sedih tapi dia berusaha membuang semua itu, dia mengerti kalau sekarang keadaan mental Rachel harus mereka jaga.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED