Bab 1

Akad nikahku dan Mas Yusuf digelar di rumah kami. Pernikahan yang terjadi tanpa pacaran. Bahkan hanya taaruf sebulan, aku langsung setuju untuk menikah dengannya.

Mataku menyipit, menajamkan penglihatan kala tampak luka seperti bekas cakaran di tangan suamiku. Bekas yang merah kecoklatan itu sebagian tertutup lengan tuxedo yang dikenakannya.

"Dik Hanna," panggil Mas Yusuf yang membuatku terhenyak.

"Ah, ya." Segera kucium punggung tangan lelaki tampanku itu. Saat melihat senyumnya yang menawan segala pertanyaan mengenai bekas cakaran itu menghilang dari pikiran.

Usai acara yang dilangsungkan, Mas Yusuf pamit pada keluarga, akan memboyongku ke rumahnya.

Sepanjang jalan aku tersipu setiap kali melihat ke arah Mas Yusuf dan ternyata pria itu juga menatap ke arahku. Mungkinkah debar jantung yang kurasa Mas Yusuf juga merasakannya?

Sampai di sebuah rumah besar, mobil yang mengantar kami berbelok. Rumah ini tampak sepi. Di depan pintu pria itu mengeluarkan kunci. Apa iya di rumah sebesar ini Mas Yusuf tidak menyewa pembantu? Atau orang bantu-bantu. Hem. Entahlah, barang kali karena sudah malam, para pekerja sudah pulang.

"Em. Maaf, kunci rumah Mas masih manual. Belum sempat mengurus ini, belakangan memang sibuk sekali," ucap pria itu sambil sibuk memasukkan anak kunci.

"Hem. Santai saja, Mas. Aku biasa hidup susah," kelakarku. Pria itu tertawa renyah.

Ya, aku sudah mandiri sejak SMP. Sejak masuk Pesantren segala hal kuurus sendiri, aku bahkan yang mengurus keperluan sebagian santri setelah menjadi senior dan dipercaya ustazah untuk ikut andil di Pesantren.

"Masuklah." Mas Yusuf tersenyum. Wajahnya makin bersinar saat kuamati lengkungan di bibir itu untuk kali pertama.

Ini juga pertama kali aku menjejakkan kaki di rumah pria yang baru menghalalkanku.

Satu-persatu ruangan di lantai satu diperlihatkan padaku hingga kami naik ke lantai dua. Pria itu memperlihatkan kamar kami yang besar. Namun, sebelum masuk mataku tak sengaja menangkap bayangan pintu di ujung lorong. Gelap. Tak ada jendela atau penerangan di sana.

"Itu ... juga kamar?" tanyaku ragu.

Seketika Mas Yusuf menoleh melihat ruang yang kutunjuk.

"Ehm. Itu hanya gudang," jawabnya tampak gelagapan.

Gudang? Kenapa letaknya di lantai dua? Tak masuk akal. Dan yang membuatku heran ada apa dengan ekspresi itu? Apa dia menyimpan seorang gundik di sana? Apa dia menyimpan monster?

"Sudah, masuklah. Ini malam pertama kita jadi ...."

Aku yang sebelumnya sempat curiga, sontak tersenyum melihat ekspresi malu-malu di wajahnya. Kami canggung. Karena sedari awal perkenalan, ta'aruf sebulan tanpa pertemuan dan interaksi intens, akad segera digelar.

Kami pun masuk. Hatiku semakin berdebar karena ini kali pertama memasuki kamar seorang pria dan melakukan hal yang memang hanya boleh dilakukan pria dan wanita yang telah halal.

"Kita sholat taubat dulu, ya?"

"Hem, sholat taubat?" Mataku melebar.

"Hem, bisa jadi banyak sekali dosa yang sudah kita perbuat sebelum pernikahan ini."

"Ah, ya." Aku menuruti kemauan Mas Yusuf. Tak salah keluargaku menyetujuinya sebagai imamku. Dia pria sholeh dan teliti terhadap amaliyahnya.

Mas Yusuf mengajak sholat dan mendoakanku.

Lelaki itu memuji kecantikanku. Mas Yusuf bertindak seolah sangat menginginkanku sebagai seorang wanita, akan tetapi pria itu memutuskan di tengah-tengah. Saat di mana aku sangat menginginkan menjadi wanita seutuhnya lantaran bisa melayani suaminya.

"Maaf, Dik. Mas letih. Kita kerjakan lain kali saja, ya," ucapnya sambil memijit tengkuk.

Aku yang kecewa mengangguk lemah. Tentu saja tak mungkin sebagai seorang wanita aku menyerangnya duluan. Itu memalukan. Kami pun akhirnya tertidur. Dengan perasaanku yang penuh kedongkolan tentunya.

____________

Tengah malam aku terbangun seperti biasa. Untuk buang air dan membasahi kerongkongan karena haus. Entah, apa sebabnya aku tak bisa jauh-jauh dari air putih. Barangkali hanya karena aktifitas yang kujadikan rutinitas, hingga tak sadar jadi kebiasaan dan merasa aneh jika tidak melakukannya.

Itu juga yang membuatku bisa terbangun beberapa kali saat malam, guna mengeluarkan sisa-sisa metabolisme dalam bentuk air seni.

Kuraih botol yang kusiapkan di nakas. Setelah minum, aku baru sadar Mas Yusuf tak ada di sampingku.

Ke mana dia? Kamar mandi? Tak mungkin. Karena pintu kamar mandi terbuka dan tak ada suara apa pun dari sana.

Kupegangi perut karena tak tahan lagi menahan pipis. Padahal ada keinginan mencari Mas Yusuf, tapi biarlah kubuang dulu hal yang sangat mengganggu ini.

Begitu keluar dari kamar mandi, Mas Yusuf masih belum kembali ke ranjangnya. Penasaran aku pun memutuskan untuk keluar. Barangkali dia sedang kelaparan dan tengah berada di dapur. Atau sedang menonton bola? Apa dia seorang bola maniak? Ah entah. Lebih baik aku langsung memeriksa sendiri.

Namun, baru membuka pintu langkahku terhenti kala melihat sesosok bayangan masuk ke dalam ruangan di ujung koridor yang gelap.

Dari kejauhan aku bisa melihat dia tengah membawa nampan dengan gelas dan piring di atasnya.

Mataku semakin menyipit. Menajamkan pandangan untuk memindai keberadaan sosok itu. Apa itu Mas Yusuf suamiku? Jika iya, apa yang dilakukan tengah malam begini di dalam ruangan yang katanya adalah gudang? Apa ini ada kaitannya dengan penolakannya tadi? Jangan-jangan dia penganut ilmi hitam dan aku adalah tumbal pengantinnya?

Bab 2

Mataku semakin menyipit. Menajamkan pandangan untuk memindai keberadaan sosok itu. Apa itu Mas Yusuf suamiku?

Jika iya, apa yang dilakukan tengah malam begini di dalam ruangan yang katanya adalah gudang? Apa ini ada kaitannya dengan penolakannya tadi? Jangan-jangan dia penganut ilmu hitam dan aku adalah tumbal pengantinnya?

Aku segera menyembunyikan diri dengan menarik tubuh ke kamar kembali. Melihat kenyataan sebelumnya, bahwa Mas Yusuf seolah menyembunyikan isi kamar itu dariku.

Merasa pria itu sudah masuk aku segera mendekat ke arah bilik tersebut untuk mencari tahu. Seiring langkah, perasaan curiga dan kesal karena dibohongi Mas Yusuf berkecamuk memenuhi pikiran. Berbagai prasangka berkelindan dalam benak, bersamaan langkah yang mengikis jarak antara aku dan keberadaan pria itu.

Kini aku sudah berada di ujung koridor. Mengamati pintu yang tertutup rapat di hadapan. Mataku melebar. Ada kotak kecil menempel dengan dereten angka. Pintu itu dikunci dengan pasword.

"Apa? Dipasword?" gumamku sambil menutup mulut. Hal ini jelas menambah hatiku makin penasaran. Kenapa juga dipasword sementara untuk pintu depan saja dia hanya menggunakan anak kunci.

Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan di dalam sana, Mas? Apa kamu sedang melakukan ritual pesugihan? Ngepet jaga lilin misalnya. Mengingat rumah Mas Yusuf sangat besar, megah pula.

"Ah, tidak!" Aku menggeleng menepis pikiran aneh itu.

Sebelum rasa takut menyergap dan menguasai. Dengan begitu jin akan dengan mudah mengendalikan pikiran dan membuatku dikuasai rasa takut. Aku harus mengendalikan itu sejak sekarang dan seterusnya, sebab di waktu-waktu ke depan akan sering sendirian di rumah, sementara Mas Yusuf kerja.

Jika ketakutan terhadap hal yang demikian menguasai hati dan pikiran habislah. Aku punya Allah, sebagai Penjaga dan Maha Berkehendak. Tak ada yang kuasa menyakiti kecuali atas izinnya. Bahkan makhluk halus sekalipun.

Duh, pikiranku jadi ngelantur ke mana-mana gegara membayangkan berbagai kemungkinan.

Kutempelkan telinga. Berusaha mendengar apa yang ada di dalam sana. Siapa tahu ada suara orang berbincang atau suara desahan yang mengerucutkan dugaan bahwa Mas Yusuf memang menyembunyikan seseorang di sana.

Astagfirullah! Kamu tak boleh suudzon Hanna!

Mas Yusuf adalah pria baik, dia bahkan sholat, dan mengajakku bertaubat. Mana mungkin selingkuh dari istrinya?!

Atau dia seorang psikopat? Seseorang yang punya kehidupan sendiri? Ah, ini kemungkinan terbaik. Jika benar, aku masih punya harapan hidup bahagia dengannya. Sudah banyak cerita yang kudengar dan kubaca, tokoh utama psikopat membahagiakan dan membuat baru orang yang dicintainya.

Dan jika benar demikian aku janji akan berusaha keras menyembuhkannya.

Telinga ini sudah sangat menempel. Namun, tak ada yang terdengar sama sekali. Ya, Tuhan. Kamar ini rupanya didesain kedap suara.

Kalau begini tak ada yang kudapatkan. Kecuali aku lancang membuat keributan, Mas Yusuf keluar dan akan menceritakan segalanya meski dalam keadaan marah.

Tidak Hanna! Kalian bahkan belum sehari menikah. Mana bisa kamu membuat suamimu murka hanya karena sangkaan.

Aku mendesah panjang. Tak menemukan apapun dan harus bersabar dengan kondisi ini. Lalu mengedepankan prasangka baik pada suamiku. Akhirnya aku pun memilih kembali ke kamar. Merebahkan diri dan berusaha memejamkan mata meski sulit untuk tidur.

Dalam posisi tidur miring, mataku lurus menatap jam dinding di depan sana. Sejam Mas Yusuf tak kembali, hingga dua jam dia juga tak datang. Kulafalkan istigfar setiap kali hatiku mengeluh, mendapati malam pertama yang tak seindah bayangan ini.

Aku yang terlalu lama menunggu dengan jenuh, akhirnya tertidur.

Namun, antara kenyataan dan mimpi, aku mendengar suara orang berteriak. Suara seorang wanita. Aku terbangun dalam kondisi duduk karena terkejut.

"Allohumma inni a'zubika min 'amalis syaithoni wa sayyi-atil ahlam."

Ya Allah, benarkah itu tadi mimpi? Tapi, kenapa rasanya sangat nyata?

Tak lama suara dari pintu terdengar, aku pun sontak menoleh dan kembali terkejut, rupanya itu adalah Mas Yusuf yang datang.

"Ada apa, Dik?" tanyanya yang berjalan semakin mendekat.

***

Bab 3

Namun, antara kenyataan dan mimpi, aku mendengar suara orang berteriak. Suara seorang wanita. Aku pun terbangun dalam kondisi duduk karena terkejut.

"Allohumma inni a'zubika min 'amalis syaithoni wa sayyi-atil ahlam."

Ya Allah, benarkah itu tadi mimpi? Tapi, kenapa rasanya sangat nyata?

Tak lama suara dari pintu terdengar, aku pun sontak menoleh dan kembali terkejut, rupanya itu adalah Mas Yusuf yang datang.

"Ada apa, Dik?" tanyanya yang berjalan semakin mendekat.

Napasku naik turun. Selain kaget, jujur saja ada rasa takut yang merayap memenuhi pikiran.

"Dik Hanna mimpi buruk?"

Aku menggeleng. Ini terlalu nyata unruk disebut mimpi. Meski aku sendiri tak yakin.

"Aku gak tau, Mas. Mimpi atau nyata?"

"Mas, ke mana? Aku sendirian menunggu Mas di sini?" tanyaku, pura-pura tak tahu apa ada di mana dia sejak jam 12 malam.

Hal itu sengaja kulakukan untuk menghargainya sebagai suami. Tidak mencecar dengan pertanyaan yang menyudutkan. Itulah yang diajarkan ustazahku dulu. Menjadi seorang istri yang mengedepankan prasangka baik dan bicara yang bukan-bukan sehingga suaminya merasa disudutkan.

Lagipula aku tak punya hak menuduh apapun sebelum menemukan bukti.

Aku akan menunggu pria yang Allah pilih sebagai jodohku itu untuk bercerita apa yang sebenarnya terjadi, atas kemauannya sendiri. Aku menunggu kejujuranmu, Mas! Dan kuharap itu bukan sesuatu mengejutkan yang menjadi sumber kehancuran rumah tangga yang baru saja kita bina.

"Em, itu ...." Suara Mas Yusuf tertahan sejenak. "Mas hanya gak bisa tidur, Dik," sambungnya.

Gak bisa tidur? Lalu dia pergi ke kamar lain, membawa makanan dan minuman. Apa itu untuk dirinya sendiri? Apa ada studio di ruangan itu.

"Tunggu sebentar, ya." Mas Yusuf meraih minuman di nakas untuk menenangkanku.

Aku pun meminumnya. "Jadi Mas tidur di mana?" tanyaku sambil mengusap mulut yang basah setelah menenggak air putih tersebut.

"Hem?" Mas Yusuf mengangkat dua alis tebalnya ke arahku.

Kalau kamu bilang sedang di kamar yang tampak aneh itu, aku akan percaya padamu, Mas. Bisa jadi itu hanya ruang me time bagi Mas Yusuf. Namun, kalau Mas Yusuf bohong, berarti aku perlu mencari tahu, apa yang sebenarnya ada di kamar itu?

"Em. Mas tadi ke balkon. Panas, Dik." Lelaki itu bicara dengan senyum yang aneh.

Nah, kan! Dia bohong. Kentara sekali. Aku bisa membaca raut wajah seseorang sejak di Pesantren. Kala menyidak santri-santri bermasalah di asrama. pribadiku yang tegas dan berani membuatku dipilih untuk mengemban amanah mengawasi mereka. Melihat fakta dan mecocokkan ekspresi para santri saat berkata-kata.

Bahkan kalau saja aku tadi tak melihat Mas Yusuf masuk ke bilik itu, aku bisa langsung tahu pria itu tengah berbohong dan menyembunyikan sesuatu.

Tampaknya dia memang bukan laki-laki yang pandai berbohong, tapi kenapa sekarang bohong padaku? Kenapa jika memang tak siap bicara, dia bicara baik-baik meminta maaf dengan mengatakan akan menceritakan di kemudian hari saat waktunya tepat.

Kenapa harus berbohong, Mas?

"Ke balkon? Mas kepanasan? Padahal AC nyala, apa Mas sakit?"

"Ouh, em. Ya. Sedikit." Lagi, pria itu memegangi tengkuk. Apa tidak ada ekspresi lain yang dia buat? Kenapa untuk bohong saja tidak bisa kreatif dan berinovasi, gitu?

Padahal setidaknya aku berharap dia akan mengatakan berada di ruangan itu walau tak mau jujur ada apa di sana. Dengan begitu aku masih bisa berprasangka baik. Misalnya, dia di sana karena menghindariku lantaran gugup belum bisa memberikan nafkah batin.

"Kita tidur saja yuk, Dik," ajak Mas Yusuf yang tampaknya tak tenang telah berbohong padaku.

Kamu pria yang dikenal baik, Mas. Kenapa mesti berbohong? Bagaimana caraku mendapat kejujuran tanpa harus mencecarmu?

Aku sedari tadi memperhatikan ekspresi pria itu, menarik kemeja depannya kala ia bergerak menggeser tubuh akan memposisikan diri untuk tidur. Memaksanya memberiku cinta. Mas Yusuf yang kaget mendorongku.

"Maaf, Mas masih tidak enak badan."

Ah, rasanya malu sekali mendapat penolakan lagi. Hatiku sakit sampai air mata menggenang di pelupuk mata. Seolah dia jijik padaku, tapi apa salahku? Aku bukan wanita ternoda. Atau pun wanita dengan faras buruk rupa.

Sudahlah. Barangkali memang seharusnya aku tak meminta duluan sampai kapanpun. Itu hanya akan menyakiti hatimu sendiri. Boro-boro aku tahu semua tentang Mas Yusuf, menyentuhku saja dia enggan.

Argh! Masa bodoh kamu mau apa, Mas! Aku tak peduli! Namun kalau sudah melewati waktunya, aku akan meminta cerai. Tak peduli seberapa besar hatiku telah jatuh cinta padamu.

Tak berapa lama dalam perasanku yang masih kesal, kudengar suara dengkuran halus dari Mas Yusuf.

Huh! Tidurlah! Jangan pedulikan aku! Mentang-mentang tak ada dalil yang mengatakan malaikat yang melaknat suami yang menolak saat istri mengajak berhubungan, kamu pasti jadi semaumu sendiri, Mas!

Aku terus merutukinya dalam hati. Dasar laki-laki tak peka, dingin dan kejam!

___________

Subuh pun tiba ....

Mataku mengerjap kala mendengar gemericik air dari kamar mandi. Suamiku telah bangun lebih dulu ternyata. Rajin sekali dia. Kami bahkan tak melakukan apapun, tapi di subuh yang dingin begini tetap mandi.

Ini sangat berbeda dengan kebiasaanku. Meski saat di pesantren bangun sebelum subuh dan mandi di rumah, aku memilih hanya mencuci muka dan berganti pakaian yang barangkali najis untuk sholat. Ya, secara teknis aku mandi karena aturan di Pesantren.

Pernah suatu waktu aku kesiangan bangun, langsung wudhu dan gak mandi. Begitu ada razia dari ketua asrama, aku pun ikut terciduk dan kena hukuman karena tak mandi. Hemh. Rasanya seperti wajib militer kalau ingat awal-awal mondok, berat dalam membiasakan diri, tapi menyenangkan saat mengingatnya sekarang.

Saat hendak bangun dan membuka selimut, Mas Yusuf keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Mataku memicing ke arah pria itu.

"Ada apa?" tanya Mas Yusuf yang tampaknya risih reaksiku saat melihatnya.

"Mas keramas?"

"Hah?"

Kenapa dia keramas segala? Kami bahkan tak melakukan apapun. Apa yang sebenarnya kamu perbuat di bilik itu Mas? Bermain dengan wanita lain? Atau kamu sedang melakukannya sendiri? Itu kenapa kamu tak mau menyentuhku.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED