Bab 2

Ia membuka ponsel, dan mulai mengetik status.

[Teman-teman... maaf. Aku Rania. Aku sedang sakit kanker. Anakku dua, dan kami butuh bantuan untuk biaya kemo dan makan. Kalau ada yang mau bantu, ini link Saweria-ku...]

Ia tekan POST.

Lalu menangis.

Bukan karena malu. Tapi karena terlalu lama ia menahan semuanya sendiri.

Sore itu, ada notifikasi masuk.

Seseorang transfer 10 ribu.

Lalu 20 ribu. Lalu satu orang kirim pesan:

[Aku juga pernah jadi ibu tunggal. Kamu kuat. Aku doakan kamu bisa sehat.]

Rania menangis makin kencang. Rafif memeluknya dari belakang.

"Ibu... jangan sedih ya. Kalau nggak bisa beli nasi, kita makan kerupuk juga nggak apa-apa... asal Ibu jangan pergi."

---

Emir belum pulang.

Bu Murni warung bilang dia lihat Emir naik motor boncengan sama perempuan muda, ke arah kosan lama.

Rania tak kaget. Tidak marah. Tidak kecewa. Hatinya sudah lama mati untuk laki-laki itu.

Yang tersisa kini hanya tubuhnya. Dan dua alasan untuk tetap bernapas.

Malam itu hujan. Bocor menetes dari langit-langit dapur. Hana tidur memeluk perut ibunya. Rafif di sebelahnya. Dan Rania menatap langit-langit retak yang dititik air.

Lalu berdoa...

"Ya Allah... aku tahu Engkau tidak tidur. Aku cuma ingin kuat satu hari lagi. Kalau tidak untukku, untuk anak-anakku...

Mereka masih kecil. Jangan ambil aku sekarang."dan

Pukul 02.47.

Langit masih pekat, lampu-lampu jalan padam satu-satu, dan embun malam terasa seperti kabut duka yang menggantung di pundak Rania.

Ia mengenakan jaket tipis warisan almarhum ayahnya, resletingnya sudah rusak, tapi masih cukup menahan gigil.

Hana dan Rafif tidur di dalam, diselimuti kain tipis dan tubuh kecil yang saling mencari hangat. Sebelum berangkat, Rania mencium dahi keduanya.

"Doakan Ibu kuat, ya..."

Pasar masih sepi. Tapi para buruh angkut sudah mulai berdatangan. Mereka duduk di trotoar, sebagian merokok, sebagian rebahan dengan karung sebagai alas.

Rania berdiri di pinggir.

Tak ada yang menyapanya.

Ia pendatang baru di antara wajah-wajah tua yang sudah terbiasa dengan kerasnya dini hari.

"Hai, Mbak. Mau bantuin angkut sayur?"

Suara perempuan berambut pendek. Namanya Bu Aji, 50-an, giginya tinggal separuh. Tapi senyumnya ramah.

"Iya, Bu... kalau boleh."

Bu Aji menepuk bahunya.

"Semua orang boleh di sini, asal kuat. Upahnya dikit, tapi halal."

Pukul 03.15. Truk pertama datang. Sayur dari Lembang. Kembang kol, wortel, dan kol.

Rania mengangkat karung demi karung. Beratnya menusuk perutnya yang masih belum pulih pasca kemo terakhir.

Sesekali ia berhenti. Batuk.

Darah sedikit ikut keluar bersama lendir. Tapi ia lap cepat-cepat. Tak mau terlihat lemah.

"Kalau gak kuat, duduk dulu, Mbak," kata Bu Aji.

"Tapi nanti dibayar setengah ya, kalau kerjanya gak penuh."

Rania mengangguk. Ia tahu aturan. Dan lebih baik dibayar setengah daripada tidak sama sekali.

Jam 04.30, peluh bercampur dingin pagi membasahi seluruh tubuhnya. Ujung jarinya mati rasa.

Kaki pegal seperti diinjak batu.

Tapi ketika ia melihat uang dua lembar, Rp20.000, di tangan, ia tersenyum kecil.

Itu cukup untuk beli nasi bungkus dan segelas teh manis buat anak-anak.

Ia pulang dengan tubuh menggigil, tapi hati sedikit lebih hangat.

Sampai rumah, Rafif sudah bangun dan menyiapkan air hangat seadanya.

"Ibu capek ya?"

Rania hanya tersenyum dan memeluknya.

"Nanti kita makan bareng, ya."

Hana bangun dan langsung tertawa melihat plastik nasi bungkus.

Seolah dunia sedang baik hari itu. Seolah tidak ada kanker, tidak ada hutang, tidak ada suami yang menghilang.

Setelah makan, Rania membuka kotak obat.

Tinggal satu tablet anti-nyeri.

Kemoterapi harusnya hari ini. Tapi ia belum punya uang.

Ia coba buka akun Saweria. Sepi. Belum ada tambahan.

Ia tarik napas panjang.

Lalu buka aplikasi dompet digital. Saldonya Rp 5.200.

Matanya panas. Tangannya dingin. Ia duduk di lantai, memandangi telapak tangannya sendiri.

Kurus, kaku, pecah-pecah. Tapi masih bisa menggenggam dua dunia kecil yang ia lahirkan: Rafif dan Hana.

Siangnya, Bu Murni dari warung datang.

"Ini, Mbak Rania... saya titip kangkung sama tempe. Gak usah ganti. Saya tahu kamu belum bisa bayar."

Rania menolak pelan, tapi air matanya keburu turun.

"Terima kasih, Bu... saya gak akan lupa..."

"Saya juga punya anak perempuan," kata Bu Murni.

"Kalau dia jadi kamu, saya juga pengen ada yang bantu."

Menjelang sore, Rania mencoba kembali bekerja di pasar. Tapi tubuhnya menolak.

Kakinya bergetar. Pandangannya kabur.

Ia terpaksa pulang lebih cepat dan hanya membawa 10 ribu.

Saat duduk di teras, Rafif menghampiri dan memberikan celengan plastik kecil.

"Ini uang tabungan Rafif, Bu. Boleh buat Ibu beli obat?"

Rania tak kuat menahan.

Ia peluk Rafif erat, seakan anak itu satu-satunya tiang rumah rapuh yang sudah hampir roboh.

"Kamu tahu gak... Ibu hidup karena kalian..."

Pukul 21.13.

Rumah sunyi. Hanya suara detik jam dinding dan napas anak-anaknya yang tenang.

Rania buka kembali ponsel dan aplikasi Saweria.

Masih kosong.

Ia buka akun KBM. Bab baru yang ia tulis belum dibaca siapa-siapa. Komentar kosong. Statistik sepi.

Tapi dia tetap menulis. Karena itu satu-satunya cara dia mengusir bunuh diri dari pikirannya.

Ia coba menulis narasi singkat. Satu kalimat yang entah akan dibaca siapa atau tidak:

[Aku tak ingin mati. Tapi aku tak tahu harus hidup dengan cara apa lagi.]

Pukul 23.59.

Rania rebahan. Suhu tubuhnya naik. Tubuhnya menggigil. Ia tahu gejala ini. Ini gejala infeksi dari kemo yang tertunda. Dan kalau terlambat lagi, ia bisa pingsan. Atau lebih buruk.

Ia buka WhatsApp. Tidak ada balasan dari rumah sakit.

Ia lihat daftar nama kontak, semua sudah pernah ia minta bantuan.

Malam semakin larut.

Ia merapatkan selimut, menatap langit-langit, dan berbisik pelan:

[Ya Allah... kalau hari ini aku harus mati, jangan di depan anak-anakku. Biar mereka tetap ingat Ibu yang tersenyum...]

Dan saat ia akan menutup mata, bunyi notifikasi masuk.

Pelan. Tapi cukup untuk membuat hatinya berhenti sesaat.

Transfer masuk: Rp275.000,-

[Buat kemoterapinya, Mbak. Maaf cuma segini. Dari orang yang pernah sama seperti kamu. Jangan berhenti. Tolong tetap hidup.]

Rania duduk.

Matanya membesar.

Tangannya menutupi mulut.

Air matanya jatuh deras.

Dia bisa ke rumah sakit hari itu. Dia bisa kemo.

Dia bisa bertahan satu hari lagi...

Tapi siapa orang itu?

--

Pagi itu, Rania ke rumah sakit. Ditemani Rafif dan Hana. Ia kemo. Duduk di ranjang, menahan dingin cairan yang masuk ke tubuhnya.

Rafif dan Hana menggambar. Tersenyum kecil. Rania menatap mereka penuh cinta.

Setelah selesai, mereka duduk di taman rumah sakit. Rania menatap langit.

Saat itulah...

Seorang pria berseragam tentara berjalan melewati taman. Rania terpaku. Wajah itu... seperti bayangan dari masa lalu.

"Mungkin cuma mirip," ucapnya.

Tapi si pria juga merasakan hal yang sama. Ia melirik. Jantungnya berdetak lebih cepat.

Mereka tak saling sapa. Belum.

--

Bab 3

Rania menunduk, tangannya menggenggam erat tangan kecil Rafif dan Hana.

Angin pagi di taman rumah sakit membawa aroma rumput basah, tapi tak mampu menghapus rasa sesak di dadanya.

Wajah pria berseragam tadi masih terbayang. Ada sesuatu di matanya, sorot yang familiar, namun asing. Seperti kenangan yang terkubur terlalu dalam, hingga ia ragu apakah itu nyata atau hanya ilusi dari tubuhnya yang lelah.

"Bu, kita pulang sekarang?" tanya Hana, suaranya lembut, hampir tak terdengar di antara deru angin.

Rania tersenyum tipis, mengangguk.

"Iya, Nak. Sebentar lagi."

Rafif memandang ibunya, matanya penuh pertanyaan yang tak pernah ia ucapkan.

Anak itu terlalu kecil untuk memahami sepenuhnya, tapi cukup besar untuk merasakan beban yang Rania pikul. Ia hanya diam, memeluk lengan ibunya lebih erat.

Di perjalanan pulang, bus yang mereka tumpangi sesak dan pengap.

Rania memeluk kedua anaknya, menahan batuk yang kembali mengintai di tenggorokannya.

Setiap guncangan bus terasa seperti pukulan pelan di tulang-tulangnya yang rapuh. Ia menutup mata, mencoba mengingat wajah pria tadi.

Apakah itu dia? Apakah mungkin? Tapi kenangan itu terlalu sakit untuk diungkit.

Ia memilih mengalihkan pikiran, menatap Rafif yang sedang menggambar sesuatu di buku lusuhnya, gambar rumah dengan tiga orang di depannya. Rania, Rafif, Hana. Tak ada Emir.

Sampai di rumah, langit sudah kelabu. Awan tebal menumpuk, seolah siap mencurahkan duka yang sama seperti yang Rania rasakan.

Ia menyiapkan makan malam dari sisa kangkung dan tempe pemberian Bu Murni.

Hana membantu mengatur piring, sementara Rafif menyapu lantai yang berderit.

Mereka makan dalam diam, hanya suara sendok yang berdenting pelan.

Rania memperhatikan anak-anaknya, wajah mereka yang polos, dan hatinya kembali terasa seperti ditusuk.

Berapa lama lagi aku bisa begini? pikirnya.

Malam itu, setelah anak-anak tertidur, Rania kembali membuka ponselnya. Ia cek Saweria, masih sepi. Transfer Rp275.000 tadi seperti keajaiban yang tak akan terulang.

Ia membaca lagi pesan dari pengirim anonim itu: Jangan berhenti. Tolong tetap hidup.

Kalimat itu terasa seperti pegangan terakhirnya, tapi juga seperti beban.

Bagaimana ia bisa berjanji untuk tetap hidup, ketika tubuhnya sendiri seolah menyerah?

Ia membuka aplikasi KBM, menatap tulisannya yang tak kunjung dibaca. Ia menulis lagi, jari-jarinya gemetar di atas layar ponsel yang retak:

[Aku tak tahu apakah besok aku masih di sini. Tapi malam ini, aku ingin kalian tahu: anak-anakku adalah dunia. Kalau aku pergi, tolong ingatkan mereka bahwa Ibu pernah mencintai mereka dengan seluruh jiwa yang tersisa.]

Ia tekan publish, lalu menutup ponsel. Air matanya jatuh pelan, membasahi bantal tipis yang sudah usang.

Di luar, hujan mulai turun lagi, mengetuk atap seng dengan ritme yang sendu.

Pagi harinya, Rania terbangun dengan tubuh yang lebih berat dari biasanya.

Demamnya kembali, lebih tinggi dari sebelumnya. Ia mencoba bangun, tapi kepalanya pusing, dan pandangannya berkunang-kunang.

Rafif, yang sudah terbiasa bangun lebih awal, memandang ibunya dengan cemas.

"Bu, Ibu kenapa?" tanyanya, suaranya kecil tapi penuh ketakutan.

Rania memaksakan senyum.

"Ibu cuma capek, sayang. Bantu Ibu ambilkan air, ya?"

Rafif berlari ke dapur, tapi saat kembali, ia menemukan Rania terduduk di lantai, memegang dadanya.

Napasnya tersengal. Hana terbangun karena suara, dan matanya langsung membelalak melihat ibunya.

"Ibu! Ibu kenapa?!" Hana berlari mendekat, tangannya kecil memegang wajah Rania.

Rania ingin menjawab, tapi kata-kata terjebak di tenggorokannya. Ia hanya bisa meraih tangan anak-anaknya, menarik mereka ke dalam pelukannya.

"Ibu... Ibu baik-baik saja," bisiknya, meski suaranya serak dan penuh kebohongan.

Ia tahu ini bukan sekadar demam. Ini adalah tubuhnya yang mulai menyerah.

Kemo kemarin mungkin terlambat, atau mungkin kankernya sudah terlalu kuat. Ia tak tahu.

Yang ia tahu, ia tak ingin anak-anaknya melihatnya seperti ini.

Dengan sisa tenaga, ia merangkak ke ponselnya, mencoba menghubungi Bu Murni.

Tapi sebelum ia bisa menekan tombol panggil, ponsel itu jatuh dari tangannya. Dunia mulai gelap.

"Ibu! Ibu jangan tidur!" teriak Rafif, mengguncang pundaknya.

Hana menangis, memeluk kaki ibunya. "Ibu, bangun! Jangan pergi!"

Di tengah kabut kesadarannya, Rania mendengar suara langkah mendekat.

Seseorang membuka pintu. Suara itu berat, seperti sepatu kulit di lantai kayu. Ia mencoba membuka mata, tapi kelopaknya terasa seperti ditarik ke bawah.

"Rania?" Suara itu dalam, penuh kejutan dan sesuatu yang sulit didefinisikan, penyesalan, mungkin.

"Paman ... Paman tolong bantuin ibu.. Paman.

"Mas Erlang... Tolong" bisik Rania, hampir tak terdengar.

Erlang, kakak Emir. Baru pulang berlayar. Ia tak tahu kabar terkini adik iparnya. Ia terkejut melihat pintu rumah terbuka dan mendapati Rania dalam keadaan yang kritis .

Pria yang kini berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat melihat Rania yang terkulai di lantai, dikelilingi anak-anaknya yang menangis.

"Ya Tuhan, Rania..."

Erlang berlutut, mengangkat tubuh Rania dengan hati-hati.

"Kamu harus ke rumah sakit. Sekarang."

Tapi Rania hanya menggeleng lemah.

"Terlambat..." katanya, suaranya seperti daun kering yang jatuh. "Jaga... anak-anakku..."

"Kau harus kuat Rania ... Harus. Aku akan membawamu ke rumah sakit.

Erlang memandang Rafif dan Hana, matanya berkaca-kaca. Ia tak tahu cerita penuhnya, tak tahu tentang Emir yang pergi, tentang kanker yang menggerogoti, tentang perjuangan Rania di pasar dini hari. Tapi ia tahu, saat itu, ia tak boleh gagal lagi.

"Aku bawa kamu ke dokter. Kamu harus bertahan," katanya, suaranya gemetar.

Tapi Rania hanya tersenyum, senyum yang penuh kepasrahan.

"Aku cuma minta satu... Jangan biarkan mereka sendirian..."

Hujan di luar semakin deras, seolah langit ikut menangis. Erlang menggendong Rania, berlari ke mobilnya, sementara Rafif dan Hana mengikuti dengan wajah penuh air mata.

Di dalam mobil, Rania memegang tangan anak-anaknya, menatap mereka dengan cinta yang tak akan pernah pudar, meski nyawanya perlahan meredup.

Di rumah sakit, dokter bergerak cepat, tapi wajah mereka penuh keraguan. Infeksi telah menyebar terlalu jauh.

Rania terbaring di ranjang, napasnya semakin pelan. Erlang berdiri di samping, memegang tangannya, berbisik tentang masa lalu yang tak pernah selesai, tentang maaf yang terlambat.

"Rania, aku menyesal... Maafkan Emir yang tidak mengurusmu dengan baik.

Rania hanya mengangguk lemah, tak punya tenaga untuk menjawab.

Matanya beralih ke Rafif dan Hana, yang berdiri di sudut ruangan, memandang ibunya dengan wajah penuh ketakutan.

"Jangan... takut..." bisik Rania, suaranya hampir hilang, namun penuh tekad. "Ibu... selalu ada..."

Erlang memegang tangan Rania lebih erat, matanya basah, namun ia berusaha tegar.

"Kamu kuat, Rania. Kamu harus bertahan untuk mereka," katanya, suaranya penuh harap meski getar ketakutan tak bisa disembunyikan.

Rafif dan Hana berdiri di sudut ruangan, memeluk satu sama lain, wajah mereka pucat, namun mata mereka tak lepas dari ibunya.

Dokter masuk dengan wajah serius, membawa hasil pemeriksaan terbaru.

"Infeksinya parah, tapi kami akan coba antibiotik kuat dan terapi suportif. Kondisinya kritis, tapi masih ada peluang," katanya, suaranya tegas namun hati-hati.

Erlang mengangguk, mencoba mencerna setiap kata, sementara Rania hanya menatap langit-langit, napasnya pelan, seolah ia sedang bernegosiasi dengan malaikat maut untuk satu hari lagi.

Hujan di luar masih deras, tapi kilat sesekali menyelinap, menyinari ruangan rumah sakit yang steril.

Rania merasakan dingin menusuk tulang, tapi kehadiran Rafif dan Hana di sisinya seperti bara kecil yang menolak padam.

Ia memejamkan mata, membayangkan mereka tertawa di taman, berlari di bawah sinar matahari, bebas dari bayang-bayang penyakit dan kemiskinan.

"Paman... janji, ya," bisik Rania, matanya setengah terbuka, menatap Erlang.

"Kalau aku... nggak bisa, jaga mereka. Jangan biarkan mereka sendiri."

Erlang menggeleng, air matanya akhirnya jatuh.

"Kamu nggak akan ke mana-mana, Rania. Aku janji akan bantu, tapi kamu harus janji juga... bertahan."

Rania tersenyum tipis, senyum yang rapuh namun penuh cinta.

"Aku coba... demi mereka."

Di luar ruangan, Bu Murni tiba, membawa plastik berisi makanan hangat dan beberapa lembar uang yang dikumpulkannya dari tetangga.

Ia mendengar kabar dari pedagang pasar dan bergegas datang.

"Rania, kamu harus sembuh. Anak-anakmu butuh kamu," katanya, suaranya bergetar saat ia menyerahkan plastik itu ke tangan Erlang.

Malam itu, Rania terlelap dalam pengawasan ketat dokter.

Infus menetes perlahan, membawa obat yang menjadi harapan terakhirnya.

Rafif dan Hana meringkuk di sofa kecil di sudut ruang rawat, tertidur dengan wajah lelah namun penuh doa.

Erlang duduk di samping ranjang, menatap wajah Rania yang pucat, berjanji dalam hati untuk menebus waktu yang hilang, untuk menjadi paman yang lebih baik bagi Rafif dan Hana, dan untuk membantu Rania melawan bayang-bayang maut.

Pagi menyingsing, sinar matahari tipis menembus jendela.

Rania membuka mata perlahan, napasnya masih lemah, tapi matanya menangkap bayang Rafif dan Hana yang masih tertidur.

Ia merasakan sedikit kehangatan di dadanya, seolah tubuhnya mendengar doa-doa yang tak pernah ia ucapkan keras-keras.

"Satu hari lagi..." bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku harus kuat... untuk mereka."

Erlang tersenyum kecil melihat Rania sadar.

"Kamu keras kepala, ya," katanya lembut. "Tapi itu yang bikin kamu Rania."

Rania tak menjawab, hanya memandang anak-anaknya dengan cinta yang tak pernah pudar.

Di luar, hujan reda, meninggalkan genangan yang memantulkan langit biru.

Hari itu, Rania masih bernapas, masih berjuang, masih menjadi ibu bagi dua dunia kecilnya.

Dan di hatinya, ia tahu, setiap detik yang ia perjuangkan adalah kemenangan kecil melawan waktu.

--

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED