"Uangmu mana?!"
Suara itu membelah malam seperti petir yang jatuh terlalu dekat ke jantung. Piring di tangan Rania bergetar. Pecah.
Anaknya yang kecil, Hana, tersentak dari tidurnya di sofa. Di sudut lain, si sulung, Rafif, pura-pura tetap tidur. Tapi tubuh kecilnya kaku. Ia tahu... malam ini akan panjang.
Rania mendongak pelan. Emir berdiri di ambang pintu dapur, dengan setelan jas yang masih rapi, tapi wajahnya penuh amarah. Matanya menyala.
"Baru bisa ngeluh sakit, tapi nggak bisa cari uang!"
Ia mendekat. Setiap langkahnya seperti detak bom waktu. Rania mundur setapak demi setapak.
Tangannya menahan perut yang masih terasa nyeri.
"Aku udah bilang," lirih Rania, suaranya hampir tak terdengar. "Aku nggak bisa kerja dulu... badanku-"
PLAKK!
Tamparan itu datang tanpa aba-aba. Tidak keras. Tapi cukup membuat lutut Rania lemas.
"Aku bukan nyuruh kamu kerja!" bentaknya.
"Aku cuma bilang, bilang aja kamu janda. Cowok-cowok itu gampang kasihan. Ngemis dikit, rayu dikit, dapet deh duit!"
Ia tertawa pendek, tajam, getir.
"Emang susahnya di mana sih? Kau udah biasa pura-pura kuat kan?"
Air mata Rania jatuh. Tapi ia tak bersuara. Sudah terlalu sering. Sudah terlalu lama.
"Kenapa kamu tega, Mir?"
Pertanyaan itu keluar lirih. Tapi Emir terdiam. Matanya mengecil. Lalu ia mendekat lebih dekat, hingga napasnya terasa di wajah Rania yang pucat.
"Kamu pikir aku suka ngelakuin ini?! Aku muak! Aku juga capek! Tapi kamu ini beban, Rania. Kanker itu bukan alasan buat kamu jadi mandul dan miskin!"
Hana tiba-tiba menangis. Rania tersentak. Refleks, ia berlari memeluk anaknya yang menggigil.
Rafif menatap dari balik selimut, matanya penuh benci, pada ayahnya, pada dunia, dan mungkin... pada takdir.
Rania menatap dua anaknya. Tubuhnya masih bergetar. Tapi kali ini bukan karena takut. Tapi karena... cukup.
Ia peluk Hana erat-erat.
Lalu ia berkata pelan, tapi tegas,
"Besok aku pergi."
Emir tertawa, dingin.
"Mau ke mana? Rumah siapa? Siapa yang mau nampung kamu dan dua anak itu, hah?"
Rania diam.
Dia tahu, dia tak punya siapa-siapa.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun... dia percaya. Ia masih punya dirinya sendiri.
"Aku bahkan tak tahu harus pulang ke mana."
--
Langit pagi itu abu-abu. Matahari enggan muncul. Udara lembap, seperti paru-paru Rania, berat, penuh sesak.
Ia duduk di bangku halte kosong. Hana bersandar di pangkuannya, masih tertidur.
Rafif duduk di sebelah, diam, memeluk tas plastik berisi dua stel baju anak dan sisa obat kemo murah.
Ponselnya lowbat. Jemarinya gemetar saat mengirim pesan pinjaman uang ke 10 orang yang ada di kontaknya.
Tak satu pun yang mengirim. Yang balas hanya tiga.
Dan tak ada yang benar-benar menolong.
Rania membuka aplikasi tempat ia menjual tulisan. Hanya 8 orang baca novelnya bulan ini.
Aplikasi voice-over tempat ia biasa menjual suaranya juga sepi. Sudah enam bulan tak ada order.
Dokter bilang kankernya makin parah. Kemoterapi harus lanjut beberapa kalilagi. Tapi ia tak punya uang.
Dan ia tak punya siapa-siapa.
Ibunya meninggal waktu SMA. Ayahnya menyusul. Tak ada saudara. Dan sekarang, suaminya pun mengusir.
Tadi malam mereka tidur di mushola pasar. Penjaganya hanya bilang,
"Sebelum subuh, harus pergi."
"Bu, kita ke mana sekarang?" tanya Rafif lirih.
"Apa kita masih punya rumah, Bu?"
Rania mengangguk. Meski bohong.
Lalu di tengah siang yang panas, ia terima chat dari seorang teman lama.
[Maaf, aku nggak bisa bantu. Tapi kamu kuat, Ran. Kamu pasti bisa.]
Rania ingin balas:
[Kuat itu bukan pilihan. Kuat itu keterpaksaan.]
Tapi ponsel keburu mati.
Anaknya lapar. Ia bagi satu biskuit terakhir jadi dua.
Hana makan. Rafif bilang tak lapar, padahal bohong.
Dan saat semua terasa ingin diakhiri, Hana menatap ibunya dan berkata,
"Bu... jangan nangis. Nanti Allah marah."
Rania memeluk Hana.
Lalu berdiri. Pelan. Tapi yakin.
"Pulang itu bukan karena ada rumah. Tapi karena nggak ada pilihan."
"Rania?"
Suara itu datang dari balik mobil putih yang baru parkir.
Elsa.
Kakak ipar Emir. Istri abang kandung suaminya. Wajah licin, senyum plastik.
"Oh ya Allah... kamu beneran kamu?"
Elsa lalu berkata cepat,
"Gini... aku dan Bang Ucok besok mau ke Bandung. Tapi Mamak siapa yang jaga? Kamu kan udah biasa. Pulang aja deh, ya."
Bukan ajakan. Tapi titah.
Bukan karena sayang. Tapi karena butuh.
Rafif menoleh pelan dan berkata,
"Kita pulang aja, Bu. Kita kan nggak punya rumah."
---
Mereka sampai maghrib. Emir duduk di teras, rokok di tangan, tatapan penuh cemooh.
"Balik juga akhirnya si janda hidup segan mati pun ga bisa."
Elsa hanya senyum kecil dan berbisik,
"Kalau mau masak, pinjam dulu ke warung Bu Murni. Bilang aja saya yang suruh."
Malam itu, Rania menyelimuti dua anaknya. Ia tatap ibunya Emir, yang dulu sering menghinanya, yang kini terbaring lumpuh.
Dan ia tetap menyeka wajah wanita itu. Tetap mengganti popoknya. Karena meski hatinya luka, ia tetap manusia.
---
Pagi berikutnya, nasi habis. Anak-anak lapar. Rania ke warung Bu Murni.
"Boleh saya pinjam beras, Bu? Sama sayur seadanya..."
Bu Murni diam sejenak.
Lalu memberi sedikit.
"Kalau ikut hati, aku pengen kasih lebih. Tapi aku masih inget dulu Mamak kamu..."
Rania mengangguk. "Saya ngerti. Terima kasih, Bu."
Ia masak nasi dan kangkung di dapur kecil itu.
Anaknya makan hangat. Perutnya kenyang.
Dan malam itu, meski Rania tidur di lantai, ia tahu anak-anaknya tidak kedinginan
--
Pagi itu sunyi. Hanya suara cicak dan desah napas panjang Rafif yang bangun paling awal.
Hana masih meringkuk di kasur tipis. Rania menggigil di dapur, memasak air demi secangkir teh manis yang sisa gulanya harus dikorek dari kaleng biskuit kosong.
Emir tidak pulang semalam. Sudah dua malam.
Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Tidak ada uang.
Dan seperti biasanya... tidak ada penyesalan.
Saat air mulai mendidih, suara ketukan keras mengguncang pintu depan.
DUG DUG DUG DUG!!
Rafif melonjak kaget. Hana menangis ketakutan.
Rania meletakkan panci, menyeka tangannya, dan berjalan perlahan. Ketukan makin keras.
Pintu seakan mau jebol.
"BUKA!!"
Suara lelaki. Berat. Marah.
Dan bukan satu orang.
Rania mengintip dari sela tirai. Tiga orang. Satu bertato, satu bawa map lusuh, satu lagi pakai topi hitam.
Dan mereka membawa nota hutang.
"BUKA PINTUNYA SEKARANG, KALO NGGAK KAMI DOBRAAK!!"
Rania membuka perlahan. Suara tangis Hana menggema dari dalam. Rafif berdiri di belakang ibunya, mencoba terlihat berani.
"Pak... ada apa ya?" suara Rania gemetar.
Laki-laki bertato melotot.
"Mana Emir? Suruh keluar! Udah tiga bulan nunggak! Tanda tangan, cap jempol, semua ada!"
Yang bertopi menimpali,
"Ini KTA, Bu. 7 juta, sekarang bunganya udah hampir 10 juta. Kalau gak bayar, kita tarik barang!"
"Pak... ini bukan rumah saya... saya cuma... saya cuma numpang..."
Rania mencoba menjelaskan. Tapi mulutnya gemetar. Air matanya menahan di ujung kelopak.
"Pokoknya kita tarik aja barangnya ya!" Lelaki bertato sudah masuk ruang tamu. Matanya liar. Melihat kipas angin, TV, dan kulkas kecil di dapur.
"PAK! JANGAN! Itu... itu bukan punya kami!"
Rania berdiri di depan kipas. Rafif ikut berdiri di depan kulkas. Hana makin keras menangis.
"KAMI ITU CUMA NUMPANG!! SUAMI SAYA HILANG! KALIAN MAU NAGIH APA?!"
Nada suaranya pecah. Bukan karena marah. Tapi karena takut dan lelah. Dan malu.
Karena anak-anaknya melihat semuanya.
---
"Bu, kita bakal diusir ya?" bisik Rafif di kamar.
Matanya merah. Tangannya menggenggam ujung jilbab ibunya.
"Enggak, Nak... enggak... Ibu di sini. Selalu ada."
Tapi Rania sendiri tak yakin.
Karena sore itu, Elsa menelepon. Suaranya ketus.
"Kamu gimana sih?! Rumah kami digerebek tukang utang! Itu aib! Mamak kaget sampe sesak napas! Emir ke mana?!"
Rania tak tahu harus menjawab apa.
Ia ingin bilang:
"Aku nggak tahu. Aku juga korban."
Tapi ia hanya bilang,
"Maaf, Kak. Aku usahakan cari jalan keluar..."
Dan itu... kebohongan paling menyakitkan hari itu.
Karena ia tak tahu jalan mana yang tersisa.
---
Malamnya, Hana demam.
Rania menempelkan tisu basah di kening anaknya.
Listrik sempat padam karena token habis.
Ia harus menyalakan lilin kecil dari kamar mandi. Rafif duduk di dekat jendela, tak mau tidur. Ia merasa harus jaga ibunya.
"Minggu depan kita ke rumah sakit ya, Bu. Biar Ibu kemo lagi. Rafif temenin."
Rania hanya mengangguk.
Tapi hatinya berdarah. Karena biaya kemoterapi belum ada.
Obat nyeri juga sudah habis.
Dan esok harinya, ia berani melakukan hal yang paling menampar harga dirinya.
---
Ia membuka ponsel, dan mulai mengetik status.
[Teman-teman... maaf. Aku Rania. Aku sedang sakit kanker. Anakku dua, dan kami butuh bantuan untuk biaya kemo dan makan. Kalau ada yang mau bantu, ini link Saweria-ku...]
Ia tekan POST.
Lalu menangis.
Bukan karena malu. Tapi karena terlalu lama ia menahan semuanya sendiri.
Sore itu, ada notifikasi masuk.
Seseorang transfer 10 ribu.
Lalu 20 ribu. Lalu satu orang kirim pesan:
[Aku juga pernah jadi ibu tunggal. Kamu kuat. Aku doakan kamu bisa sehat.]
Rania menangis makin kencang. Rafif memeluknya dari belakang.
"Ibu... jangan sedih ya. Kalau nggak bisa beli nasi, kita makan kerupuk juga nggak apa-apa... asal Ibu jangan pergi."
---
Emir belum pulang.
Bu Murni warung bilang dia lihat Emir naik motor boncengan sama perempuan muda, ke arah kosan lama.
Rania tak kaget. Tidak marah. Tidak kecewa. Hatinya sudah lama mati untuk laki-laki itu.
Yang tersisa kini hanya tubuhnya. Dan dua alasan untuk tetap bernapas.
Malam itu hujan. Bocor menetes dari langit-langit dapur. Hana tidur memeluk perut ibunya. Rafif di sebelahnya. Dan Rania menatap langit-langit retak yang dititik air.
Lalu berdoa...
"Ya Allah... aku tahu Engkau tidak tidur. Aku cuma ingin kuat satu hari lagi. Kalau tidak untukku, untuk anak-anakku...
Mereka masih kecil. Jangan ambil aku sekarang."dan
Pukul 02.47.
Langit masih pekat, lampu-lampu jalan padam satu-satu, dan embun malam terasa seperti kabut duka yang menggantung di pundak Rania.
Ia mengenakan jaket tipis warisan almarhum ayahnya, resletingnya sudah rusak, tapi masih cukup menahan gigil.
Hana dan Rafif tidur di dalam, diselimuti kain tipis dan tubuh kecil yang saling mencari hangat. Sebelum berangkat, Rania mencium dahi keduanya.
"Doakan Ibu kuat, ya..."
Pasar masih sepi. Tapi para buruh angkut sudah mulai berdatangan. Mereka duduk di trotoar, sebagian merokok, sebagian rebahan dengan karung sebagai alas.
Rania berdiri di pinggir.
Tak ada yang menyapanya.
Ia pendatang baru di antara wajah-wajah tua yang sudah terbiasa dengan kerasnya dini hari.
"Hai, Mbak. Mau bantuin angkut sayur?"
Suara perempuan berambut pendek. Namanya Bu Aji, 50-an, giginya tinggal separuh. Tapi senyumnya ramah.
"Iya, Bu... kalau boleh."
Bu Aji menepuk bahunya.
"Semua orang boleh di sini, asal kuat. Upahnya dikit, tapi halal."
Pukul 03.15. Truk pertama datang. Sayur dari Lembang. Kembang kol, wortel, dan kol.
Rania mengangkat karung demi karung. Beratnya menusuk perutnya yang masih belum pulih pasca kemo terakhir.
Sesekali ia berhenti. Batuk.
Darah sedikit ikut keluar bersama lendir. Tapi ia lap cepat-cepat. Tak mau terlihat lemah.
"Kalau gak kuat, duduk dulu, Mbak," kata Bu Aji.
"Tapi nanti dibayar setengah ya, kalau kerjanya gak penuh."
Rania mengangguk. Ia tahu aturan. Dan lebih baik dibayar setengah daripada tidak sama sekali.
Jam 04.30, peluh bercampur dingin pagi membasahi seluruh tubuhnya. Ujung jarinya mati rasa.
Kaki pegal seperti diinjak batu.
Tapi ketika ia melihat uang dua lembar, Rp20.000, di tangan, ia tersenyum kecil.
Itu cukup untuk beli nasi bungkus dan segelas teh manis buat anak-anak.
Ia pulang dengan tubuh menggigil, tapi hati sedikit lebih hangat.
Sampai rumah, Rafif sudah bangun dan menyiapkan air hangat seadanya.
"Ibu capek ya?"
Rania hanya tersenyum dan memeluknya.
"Nanti kita makan bareng, ya."
Hana bangun dan langsung tertawa melihat plastik nasi bungkus.
Seolah dunia sedang baik hari itu. Seolah tidak ada kanker, tidak ada hutang, tidak ada suami yang menghilang.
Setelah makan, Rania membuka kotak obat.
Tinggal satu tablet anti-nyeri.
Kemoterapi harusnya hari ini. Tapi ia belum punya uang.
Ia coba buka akun Saweria. Sepi. Belum ada tambahan.
Ia tarik napas panjang.
Lalu buka aplikasi dompet digital. Saldonya Rp 5.200.
Matanya panas. Tangannya dingin. Ia duduk di lantai, memandangi telapak tangannya sendiri.
Kurus, kaku, pecah-pecah. Tapi masih bisa menggenggam dua dunia kecil yang ia lahirkan: Rafif dan Hana.
Siangnya, Bu Murni dari warung datang.
"Ini, Mbak Rania... saya titip kangkung sama tempe. Gak usah ganti. Saya tahu kamu belum bisa bayar."
Rania menolak pelan, tapi air matanya keburu turun.
"Terima kasih, Bu... saya gak akan lupa..."
"Saya juga punya anak perempuan," kata Bu Murni.
"Kalau dia jadi kamu, saya juga pengen ada yang bantu."
Menjelang sore, Rania mencoba kembali bekerja di pasar. Tapi tubuhnya menolak.
Kakinya bergetar. Pandangannya kabur.
Ia terpaksa pulang lebih cepat dan hanya membawa 10 ribu.
Saat duduk di teras, Rafif menghampiri dan memberikan celengan plastik kecil.
"Ini uang tabungan Rafif, Bu. Boleh buat Ibu beli obat?"
Rania tak kuat menahan.
Ia peluk Rafif erat, seakan anak itu satu-satunya tiang rumah rapuh yang sudah hampir roboh.
"Kamu tahu gak... Ibu hidup karena kalian..."
Pukul 21.13.
Rumah sunyi. Hanya suara detik jam dinding dan napas anak-anaknya yang tenang.
Rania buka kembali ponsel dan aplikasi Saweria.
Masih kosong.
Ia buka akun KBM. Bab baru yang ia tulis belum dibaca siapa-siapa. Komentar kosong. Statistik sepi.
Tapi dia tetap menulis. Karena itu satu-satunya cara dia mengusir bunuh diri dari pikirannya.
Ia coba menulis narasi singkat. Satu kalimat yang entah akan dibaca siapa atau tidak:
[Aku tak ingin mati. Tapi aku tak tahu harus hidup dengan cara apa lagi.]
Pukul 23.59.
Rania rebahan. Suhu tubuhnya naik. Tubuhnya menggigil. Ia tahu gejala ini. Ini gejala infeksi dari kemo yang tertunda. Dan kalau terlambat lagi, ia bisa pingsan. Atau lebih buruk.
Ia buka WhatsApp. Tidak ada balasan dari rumah sakit.
Ia lihat daftar nama kontak, semua sudah pernah ia minta bantuan.
Malam semakin larut.
Ia merapatkan selimut, menatap langit-langit, dan berbisik pelan:
[Ya Allah... kalau hari ini aku harus mati, jangan di depan anak-anakku. Biar mereka tetap ingat Ibu yang tersenyum...]
Dan saat ia akan menutup mata, bunyi notifikasi masuk.
Pelan. Tapi cukup untuk membuat hatinya berhenti sesaat.
Transfer masuk: Rp275.000,-
[Buat kemoterapinya, Mbak. Maaf cuma segini. Dari orang yang pernah sama seperti kamu. Jangan berhenti. Tolong tetap hidup.]
Rania duduk.
Matanya membesar.
Tangannya menutupi mulut.
Air matanya jatuh deras.
Dia bisa ke rumah sakit hari itu. Dia bisa kemo.
Dia bisa bertahan satu hari lagi...
Tapi siapa orang itu?
--
Pagi itu, Rania ke rumah sakit. Ditemani Rafif dan Hana. Ia kemo. Duduk di ranjang, menahan dingin cairan yang masuk ke tubuhnya.
Rafif dan Hana menggambar. Tersenyum kecil. Rania menatap mereka penuh cinta.
Setelah selesai, mereka duduk di taman rumah sakit. Rania menatap langit.
Saat itulah...
Seorang pria berseragam tentara berjalan melewati taman. Rania terpaku. Wajah itu... seperti bayangan dari masa lalu.
"Mungkin cuma mirip," ucapnya.
Tapi si pria juga merasakan hal yang sama. Ia melirik. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Mereka tak saling sapa. Belum.
--
Rania menunduk, tangannya menggenggam erat tangan kecil Rafif dan Hana.
Angin pagi di taman rumah sakit membawa aroma rumput basah, tapi tak mampu menghapus rasa sesak di dadanya.
Wajah pria berseragam tadi masih terbayang. Ada sesuatu di matanya, sorot yang familiar, namun asing. Seperti kenangan yang terkubur terlalu dalam, hingga ia ragu apakah itu nyata atau hanya ilusi dari tubuhnya yang lelah.
"Bu, kita pulang sekarang?" tanya Hana, suaranya lembut, hampir tak terdengar di antara deru angin.
Rania tersenyum tipis, mengangguk.
"Iya, Nak. Sebentar lagi."
Rafif memandang ibunya, matanya penuh pertanyaan yang tak pernah ia ucapkan.
Anak itu terlalu kecil untuk memahami sepenuhnya, tapi cukup besar untuk merasakan beban yang Rania pikul. Ia hanya diam, memeluk lengan ibunya lebih erat.
Di perjalanan pulang, bus yang mereka tumpangi sesak dan pengap.
Rania memeluk kedua anaknya, menahan batuk yang kembali mengintai di tenggorokannya.
Setiap guncangan bus terasa seperti pukulan pelan di tulang-tulangnya yang rapuh. Ia menutup mata, mencoba mengingat wajah pria tadi.
Apakah itu dia? Apakah mungkin? Tapi kenangan itu terlalu sakit untuk diungkit.
Ia memilih mengalihkan pikiran, menatap Rafif yang sedang menggambar sesuatu di buku lusuhnya, gambar rumah dengan tiga orang di depannya. Rania, Rafif, Hana. Tak ada Emir.
Sampai di rumah, langit sudah kelabu. Awan tebal menumpuk, seolah siap mencurahkan duka yang sama seperti yang Rania rasakan.
Ia menyiapkan makan malam dari sisa kangkung dan tempe pemberian Bu Murni.
Hana membantu mengatur piring, sementara Rafif menyapu lantai yang berderit.
Mereka makan dalam diam, hanya suara sendok yang berdenting pelan.
Rania memperhatikan anak-anaknya, wajah mereka yang polos, dan hatinya kembali terasa seperti ditusuk.
Berapa lama lagi aku bisa begini? pikirnya.
Malam itu, setelah anak-anak tertidur, Rania kembali membuka ponselnya. Ia cek Saweria, masih sepi. Transfer Rp275.000 tadi seperti keajaiban yang tak akan terulang.
Ia membaca lagi pesan dari pengirim anonim itu: Jangan berhenti. Tolong tetap hidup.
Kalimat itu terasa seperti pegangan terakhirnya, tapi juga seperti beban.
Bagaimana ia bisa berjanji untuk tetap hidup, ketika tubuhnya sendiri seolah menyerah?
Ia membuka aplikasi KBM, menatap tulisannya yang tak kunjung dibaca. Ia menulis lagi, jari-jarinya gemetar di atas layar ponsel yang retak:
[Aku tak tahu apakah besok aku masih di sini. Tapi malam ini, aku ingin kalian tahu: anak-anakku adalah dunia. Kalau aku pergi, tolong ingatkan mereka bahwa Ibu pernah mencintai mereka dengan seluruh jiwa yang tersisa.]
Ia tekan publish, lalu menutup ponsel. Air matanya jatuh pelan, membasahi bantal tipis yang sudah usang.
Di luar, hujan mulai turun lagi, mengetuk atap seng dengan ritme yang sendu.
Pagi harinya, Rania terbangun dengan tubuh yang lebih berat dari biasanya.
Demamnya kembali, lebih tinggi dari sebelumnya. Ia mencoba bangun, tapi kepalanya pusing, dan pandangannya berkunang-kunang.
Rafif, yang sudah terbiasa bangun lebih awal, memandang ibunya dengan cemas.
"Bu, Ibu kenapa?" tanyanya, suaranya kecil tapi penuh ketakutan.
Rania memaksakan senyum.
"Ibu cuma capek, sayang. Bantu Ibu ambilkan air, ya?"
Rafif berlari ke dapur, tapi saat kembali, ia menemukan Rania terduduk di lantai, memegang dadanya.
Napasnya tersengal. Hana terbangun karena suara, dan matanya langsung membelalak melihat ibunya.
"Ibu! Ibu kenapa?!" Hana berlari mendekat, tangannya kecil memegang wajah Rania.
Rania ingin menjawab, tapi kata-kata terjebak di tenggorokannya. Ia hanya bisa meraih tangan anak-anaknya, menarik mereka ke dalam pelukannya.
"Ibu... Ibu baik-baik saja," bisiknya, meski suaranya serak dan penuh kebohongan.
Ia tahu ini bukan sekadar demam. Ini adalah tubuhnya yang mulai menyerah.
Kemo kemarin mungkin terlambat, atau mungkin kankernya sudah terlalu kuat. Ia tak tahu.
Yang ia tahu, ia tak ingin anak-anaknya melihatnya seperti ini.
Dengan sisa tenaga, ia merangkak ke ponselnya, mencoba menghubungi Bu Murni.
Tapi sebelum ia bisa menekan tombol panggil, ponsel itu jatuh dari tangannya. Dunia mulai gelap.
"Ibu! Ibu jangan tidur!" teriak Rafif, mengguncang pundaknya.
Hana menangis, memeluk kaki ibunya. "Ibu, bangun! Jangan pergi!"
Di tengah kabut kesadarannya, Rania mendengar suara langkah mendekat.
Seseorang membuka pintu. Suara itu berat, seperti sepatu kulit di lantai kayu. Ia mencoba membuka mata, tapi kelopaknya terasa seperti ditarik ke bawah.
"Rania?" Suara itu dalam, penuh kejutan dan sesuatu yang sulit didefinisikan, penyesalan, mungkin.
"Paman ... Paman tolong bantuin ibu.. Paman.
"Mas Erlang... Tolong" bisik Rania, hampir tak terdengar.
Erlang, kakak Emir. Baru pulang berlayar. Ia tak tahu kabar terkini adik iparnya. Ia terkejut melihat pintu rumah terbuka dan mendapati Rania dalam keadaan yang kritis .
Pria yang kini berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat melihat Rania yang terkulai di lantai, dikelilingi anak-anaknya yang menangis.
"Ya Tuhan, Rania..."
Erlang berlutut, mengangkat tubuh Rania dengan hati-hati.
"Kamu harus ke rumah sakit. Sekarang."
Tapi Rania hanya menggeleng lemah.
"Terlambat..." katanya, suaranya seperti daun kering yang jatuh. "Jaga... anak-anakku..."
"Kau harus kuat Rania ... Harus. Aku akan membawamu ke rumah sakit.
Erlang memandang Rafif dan Hana, matanya berkaca-kaca. Ia tak tahu cerita penuhnya, tak tahu tentang Emir yang pergi, tentang kanker yang menggerogoti, tentang perjuangan Rania di pasar dini hari. Tapi ia tahu, saat itu, ia tak boleh gagal lagi.
"Aku bawa kamu ke dokter. Kamu harus bertahan," katanya, suaranya gemetar.
Tapi Rania hanya tersenyum, senyum yang penuh kepasrahan.
"Aku cuma minta satu... Jangan biarkan mereka sendirian..."
Hujan di luar semakin deras, seolah langit ikut menangis. Erlang menggendong Rania, berlari ke mobilnya, sementara Rafif dan Hana mengikuti dengan wajah penuh air mata.
Di dalam mobil, Rania memegang tangan anak-anaknya, menatap mereka dengan cinta yang tak akan pernah pudar, meski nyawanya perlahan meredup.
Di rumah sakit, dokter bergerak cepat, tapi wajah mereka penuh keraguan. Infeksi telah menyebar terlalu jauh.
Rania terbaring di ranjang, napasnya semakin pelan. Erlang berdiri di samping, memegang tangannya, berbisik tentang masa lalu yang tak pernah selesai, tentang maaf yang terlambat.
"Rania, aku menyesal... Maafkan Emir yang tidak mengurusmu dengan baik.
Rania hanya mengangguk lemah, tak punya tenaga untuk menjawab.
Matanya beralih ke Rafif dan Hana, yang berdiri di sudut ruangan, memandang ibunya dengan wajah penuh ketakutan.
"Jangan... takut..." bisik Rania, suaranya hampir hilang, namun penuh tekad. "Ibu... selalu ada..."
Erlang memegang tangan Rania lebih erat, matanya basah, namun ia berusaha tegar.
"Kamu kuat, Rania. Kamu harus bertahan untuk mereka," katanya, suaranya penuh harap meski getar ketakutan tak bisa disembunyikan.
Rafif dan Hana berdiri di sudut ruangan, memeluk satu sama lain, wajah mereka pucat, namun mata mereka tak lepas dari ibunya.
Dokter masuk dengan wajah serius, membawa hasil pemeriksaan terbaru.
"Infeksinya parah, tapi kami akan coba antibiotik kuat dan terapi suportif. Kondisinya kritis, tapi masih ada peluang," katanya, suaranya tegas namun hati-hati.
Erlang mengangguk, mencoba mencerna setiap kata, sementara Rania hanya menatap langit-langit, napasnya pelan, seolah ia sedang bernegosiasi dengan malaikat maut untuk satu hari lagi.
Hujan di luar masih deras, tapi kilat sesekali menyelinap, menyinari ruangan rumah sakit yang steril.
Rania merasakan dingin menusuk tulang, tapi kehadiran Rafif dan Hana di sisinya seperti bara kecil yang menolak padam.
Ia memejamkan mata, membayangkan mereka tertawa di taman, berlari di bawah sinar matahari, bebas dari bayang-bayang penyakit dan kemiskinan.
"Paman... janji, ya," bisik Rania, matanya setengah terbuka, menatap Erlang.
"Kalau aku... nggak bisa, jaga mereka. Jangan biarkan mereka sendiri."
Erlang menggeleng, air matanya akhirnya jatuh.
"Kamu nggak akan ke mana-mana, Rania. Aku janji akan bantu, tapi kamu harus janji juga... bertahan."
Rania tersenyum tipis, senyum yang rapuh namun penuh cinta.
"Aku coba... demi mereka."
Di luar ruangan, Bu Murni tiba, membawa plastik berisi makanan hangat dan beberapa lembar uang yang dikumpulkannya dari tetangga.
Ia mendengar kabar dari pedagang pasar dan bergegas datang.
"Rania, kamu harus sembuh. Anak-anakmu butuh kamu," katanya, suaranya bergetar saat ia menyerahkan plastik itu ke tangan Erlang.
Malam itu, Rania terlelap dalam pengawasan ketat dokter.
Infus menetes perlahan, membawa obat yang menjadi harapan terakhirnya.
Rafif dan Hana meringkuk di sofa kecil di sudut ruang rawat, tertidur dengan wajah lelah namun penuh doa.
Erlang duduk di samping ranjang, menatap wajah Rania yang pucat, berjanji dalam hati untuk menebus waktu yang hilang, untuk menjadi paman yang lebih baik bagi Rafif dan Hana, dan untuk membantu Rania melawan bayang-bayang maut.
Pagi menyingsing, sinar matahari tipis menembus jendela.
Rania membuka mata perlahan, napasnya masih lemah, tapi matanya menangkap bayang Rafif dan Hana yang masih tertidur.
Ia merasakan sedikit kehangatan di dadanya, seolah tubuhnya mendengar doa-doa yang tak pernah ia ucapkan keras-keras.
"Satu hari lagi..." bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku harus kuat... untuk mereka."
Erlang tersenyum kecil melihat Rania sadar.
"Kamu keras kepala, ya," katanya lembut. "Tapi itu yang bikin kamu Rania."
Rania tak menjawab, hanya memandang anak-anaknya dengan cinta yang tak pernah pudar.
Di luar, hujan reda, meninggalkan genangan yang memantulkan langit biru.
Hari itu, Rania masih bernapas, masih berjuang, masih menjadi ibu bagi dua dunia kecilnya.
Dan di hatinya, ia tahu, setiap detik yang ia perjuangkan adalah kemenangan kecil melawan waktu.
--