Bab 1

Sudah satu tahun lamanya Maha tinggal satu atap dengan suami dan istri pertamanya. Dia akhirnya tinggal bersama karena ibunya sudah tiada, ditambah saat ini ada buah hati yang hadir di tengah keluarga mereka.

Zayn, suaminya tidak mengizinkannya untuk tinggal seorang diri, ditambah suaminya itu tak selalu punya waktu untuk meluangkan waktu untuk datang ke rumahnya, Zayn bilang kalau Alysa harus diutamakan karena istri pertamanya itu sakit-sakitan.

Maha menatap Alysa dan Sarah yang sedang menimang seorang bayi, ya... bayi itu adalah anak yang dilahirkannya delapan bulan bulan yang lalu, tapi mereka lah yang mengurus sang bayi yang Zayn namai ‘Muhammad Faiz Adam’. Kehadirannya seolah hanya sebagai alat untuk melahirkan dan jika Faiz menangis, barulah dia bisa memeluk sang anak.

Belum luka perih kehilangan ibunya, saat ini Maha harus merasakan bagaimana kejamnya dia seperti sengaja dipisahkan dengan darah dagingnya sendiri.

Maha hanya menatap kosong mereka, dia hanya menertawakan garis takdirnya sendiri. Sikap Zayn pun sedikit berubah padanya, suaminya itu hanya peduli pada sang istri pertama yang tengah sakit dan juga jarang menemuinya di kamar. Ditambah ada Nyai Sarah – ibu kandung Alysa yang memang selalu membenci kehadirannya.

“Assalamualaikum... “

Semua orang menatap ke arah sumber suara tersebut dan tampak sosok Zayn yang datang dari balik pintu.

“Walaikumussalam... “

Alysa langsung tersenyum lebar melihat Zayn muncul.

Zayn tersenyum, dia langsung menghampiri Alysa yang sedang menggendong Faiz. Pria itu mengecup pipi istri pertamanya dan juga mencium punggung tangan sang mertua.

“Lho kok Mas Zayn nggak ngabarin kalau pulang? Bukankah Mas masih harus ngurus kantor cabang yang ada di Bandung?” tanya Alysa.

“Kerjaan selesai lebih cepat dan Mas sengaja nggak ngabarin biar jadi kejutan,” balas Zayn. Dia terus saja menatap gemas ke arah anak pertamanya itu.

“Suamimu pasti kangen sama kamu dan anaknya! Wajar kalau maunya pulang cepat,” timpal Sarah dengan sengaja.

Ketiganya berbicara dengan santai, sedangkan Maha seperti tak dianggap keberadaannya. Dia seperti pajangan yang tidak terlihat oleh keluarga bahagia itu. Dia meremas ujung jilbabnya, menahan air matanya agar tidak jatuh lagi... lebih tepatnya, dia tidak mau terus saja menangis. Harusnya dia sudah terlatih dengan luka, bukan? Pemandangan di depannya dan juga luka itu sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya.

Zayn langsung tersentak dan sadar karena di ujung sana ada Maha yang duduk. Istri keduanya itu sedang menatap ke arahnya, rasa bersalah langsung menjalar di hatinya.

“Maha, kenapa di sana? Duduk di sini. Mungkin Faiz ingin dipeluk bundanya,” kata Zayn lembut.

“Maha, kamu ambilkan saja teh hangat buat Zayn, ya!” timpal Sarah. Dia menatap Maha dengan penuh waspada.

Maha tersenyum dan mengangguk. “Baik, Nyai.”

“Maha, kamu di sini saja! Biar Mbak yang buatin teh hangat buat Mas Zayn. Faiz sepertinya mau tidur,” timpal Alysa. Wanita itu siap untuk berdiri dan menghampiri Maha, tapi Maha langsung membalasnya.

“Biar aku saja, Mbak.” Maha tanpa menunggu terlalu lama langsung berjalan ke arah dapur.

Di sisi lain, Zayn menatap punggung istri keduanya dengan tatapan yang dalam. Dia memang terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan juga kurang memperhatikan Maha karena Alysa lebih membutuhkan perhatian darinya. Ditambah dia tidak bisa berbuat apa-apa karena jika dia terang-terangan menunjukkan kasih sayang pada Maha, maka mertuanya itu akan semakin membenci Maha.

***

Maha membuat teh hangat di dapur. Saat selesai, Sarah menghampirinya

“Jangan terlalu banyak memakai gula!”

“Iya, Nyai. Maha hanya memberi gula setengah sendok teh saja,” balas Maha.

“Nanti kamu berikan tehnya sama Zayn dan jangan ikut bergabung denga kami! Biarkan Zayn menikmati waktu santai dengan anak dan istrinya. Meski kamu ikut gabung juga, keberadaan kamu tidak akan dianggap!” tambah Sarah.

Maha menghela napas pendek, dia sudah sabar selama ini dengan hinaan dan juga ucapan pedas dari Sarah beserta keluarga besarnya. Mungkin kesabarannya sudah sampai puncaknya sampai di berani menatap Sarah secara langsung.

“Maaf, Nyai. Tanpa Nyai minta juga, Maha tidak akan merusak kebahagiaan mereka. Dan juga Maha bukan perusak! Maha juga istrinya Mas Zayn, dan Maha lah yang melahirkan anak untuknya. Faiz adalah darah daging Maha yang Maha lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa. Maha berhak atasnya juga."

Sarah tertegun, dia menggelengkan kepalanya karena Maha sudah berani membantahnya. “Kamu ternyata ngelunjak, ya! Hanya karena kamu telah melahirkan seorang anak, jadi kamu menganggap dirimu ratu? Dan harus membuat kamu lebih diutamakan?”

Sarah menggelengkan kepalanya dan menatap marah pada Maha. “Kamu menikah memang untuk melahirkan anak untuk Zayn. Kamu dinikahi Zayn bukan karena dia mencintaimu! Jangan bermimpi untuk menggeserkan posisi anak saya hanya karena telah melahirkan Faiz!”

“Maha tidak pernah berpikir bisa menggantikan posisi Mbak Alysa karena bagaimanapun... posisi Mbak Alysa adalah yang utama untuk Mas Zayn, di sini Maha hanya tidak ingin dianggap pembawa sial. Maha hanya ingin mendapatkan hak Maha untuk ikut mengasuh Faiz, Maha adalah ibu kandungnya dan bukankah Maha juga harus ikut andil dengan tumbuh kembangnya?”

“Faiz tidak boleh diasuh oleh wanita seperti kamu! Kamu adalah ibu yang buruk baginya! Kamu lupa apa yang telah kamu lakukan pada keluarga besar kami?” tanya Sarah. “Kamu datang menghancurkan keluarga kami! Kamu memanfaatkan wajah cantikmu itu untuk menggoda dan juga datangnya kamu ke keluarga ini hanya membawa luka! Raka... dia pada akhirnya harus menderita dan meninggalkan negara ini karena jatuh cinta padamu! Lalu, ada Rayhan... dia masuk penjara karena kamu telah menggodanya!”

Maha terdiam. Dia tidak menyangkal apa yang Sarah katakan. Raka dan Rayhan memang menderita karenanya, tapi itu bukan salahnya! Dia juga tidak ingin kedua pria itu jatuh cinta padanya. Maha sudah semaksimal mungkin membuat kedua pria itu tidak jatuh cinta padanya. Tapi, dia tidak bisa mengendalikan hati manusia.

“Jika kamu memang sadar atas kesalahanmu, pasti kamu tahu apa yang harus kamu lakukan!” Sarah langsung pergi meninggalkan Maha yang masih mematung.

***

Zayn tidak bisa tidur, dia langsung mengetuk pintu kamar Maha dan pintu itu tidak dikunci. Zayn melihat Maha sedang menatap Faiz yang tidur di sisinya.

“Kamu belum tidur?” tanya Zayn pelan, dia duduk di sebelah Maha.

Maha tidak menjawab, dia terus saja menatap Faiz. Ada kesedihan yang mendalam di matanya. Maha hanya ingin puas menatap wajah anaknya itu sebelum kesempatan itu hilang.

“Ada apa?” tanya Zayn.

“Mas, apa kamu bahagia karena saat ini ada Faiz?”

“Tentu saja Mas bahagia! Faiz adalah doa yang paling panjang dan tak pernah lelah untuk Mas minta pada Allah,” balas Zayn.

Maha tersenyum. Dia menatap cincin yang melingkar di jari manis suaminya dan yang jelas itu bukan cincin pernikahan mereka. Sejak awal keduanya menikah, dia tidak pernah melihat Zayn memakainya. Jari manis itu hanya tersemat cincin pernikahan Zayn dengan Alysa.

“Mas, terima kasih untuk semuanya dan aku anggap tugasku sudah selesai,” kata Maha dengan tersenyum.

“Apa yang kamu katakan?” tanya Zayn tak mengerti.

“Aku ingin kita cerai, Mas.”

***

Bab 2

***

Maha dan Zayn akhirnya menghabiskan waktu bersama. Biasanya Maha tak pernah bicara sedekat ini dengan pria itu. Di kantor, meski Maha adalah salah satu asisten Zayn, keduanya pasti menjaga jarak. Terutama Zayn, pria itu selalu menjaga dirinya agar tidak terlalu sering berinteraksi dengan wanita yang bukan mahram-nya.

Maha hanya diam saja, dia pun sesekali mencuri pandang ke arah Zayn. Pria matang yang berusia 35 tahun, pria yang masih saja dia kagumi. Maha sadar kalau perasaan yang tumbuh itu adalah perasaan yang terlarang. Bagaimana dia bisa jatuh cinta pada suami orang? Bagaimana bisa Maha lancang menaruh hati pada suami dari wanita yang seperti malaikat untuknya dan juga ibunya? Maha memang selalu mengutuk perasannya yang entah kenapa masih saja tumbuh dengan indah di hatinya. Dia ingin sekali menghapus perasaan ini, tapi kenapa ingatan tentang Zayn semakin mengikat di hati dan pikirannya?

Saat ini... pria itu terlihat sangat dekat dari pandagan matanya dan itu membuat perasaannya campur aduk. Dia jatuh lagi, jatuh pada perasaan yang terlarang. Semakin jelas Maha melihat Zayn, maka hatinya tidak bisa hanya merasakan tenang. Saat ini, hatinya sangat ramai dengan debaran yang mungkin semakin lama akan terdengar oleh pria itu. “Kamu cantik dengan jilbabmu yang sekarang,” ucap Zayn memecahkan keheningan.

Maha hampir saja tersedak karena dengan jelas mendengar pria itu memuji penampilannya. Dia tidak salah dengar! Beberapa detik yang lalu, pria itu memujinya. Debaran di jantung Maha semakin saja tak karuan. Maha tidak menjawab, dia menunduk melihat mangkok bubur ayam di depannya.

“Maha, apa saat ini sudah punya calon?” tanya Zayn. Pria itu berbicara lagi.

Maha otomatis langsung menatap ke arah Zayn, wanita itu sempat terdiam beberapa detik karena terpesona dengan wajah rupawan pria itu. “Maksudnya Pak Zayn itu calon suami?”

Zayn menggelengkan kepalanya. “Iya, calon suami. Apa kamu masih dengan pria itu?"

Maha hanya menggelengkan kepalanya.

“Jadi kamu sudah putus dengan pria yang selalu kasar padamu?” Zayn menekan suaranya. Dia tahu cerita itu dari istrinya. Alysa- lah yang selalu membicarakan masalah Maha sampai pria itu tahu bagaimana sisi lain dari Maha. Dan dia juga pada saat itu lah yang menolong Maha saat mantan kekasih Maha bersikap kasar.

Kening Maha mengernyit. “Bapak kenapa bisa tahu kalau mantan saya itu kasar?”

“Karena saya yang menolongmu saat kamu pingsan karena pria itu menghajarmu. Kamu tidak ingat?”

Maha menggelengkan kepalanya. “Saya hanya ingat Mbak Alysa yang menolong saya.”

“Sudah, itu tidak perlu dibahas. Say senang karena kamu sudah putus dengan pria itu, satu lagi yang membuat saya senang adalah kamu sudah hijrah dan menutup auratmu. Seorang muslimah yang sudah baligh memang wajib menutup aurat. Kamu itu sangat cantik, jadi alangkah baiknya kecantikan kamu itu tertutup rapat dan hanya kamu lihatkan pada suamimu kelak.”

“Iya, Pak. Saya juga jauh lebih tenang saat ini, pakaian yang saya gunakan ini membuat saya lebih percaya diri, dan saya masih dalam tahap belajar untuk memperbaiki iman saya.”

“Apa yang kamu lakukan untuk terus meningkatkan iman kamu?” tanya Zayn penasaran.

“Saya nonton video kajian di sosial media dan juga baca buku keagamaan, dan ada Mbak Alysa yang selalu jadi mentor saya. Saya sangat kagum padanya,” balas Maha.

“Belajar agama itu harus ada gurunya, Maha. Jangan ngasal karena ilmu juga ada adabnya. Untuk kamu yang baru hijrah perlu bimbingan.”

“Guru? Itu kayak ustadz?”

“Salah satunya itu.”

“Saya merasa Mbak Alysa pun sudah cukup karena pengetahuan agamanya Mbak Alysa itu sangat luar biasa.”

“Mungkin kamu perlu menikah dengan pia yang akan membimbing kamu.” Zayn langsung berbicara ke intinya.

 “M-menikah?” tanya Maha terkejut.

“Iya. Kenapa? Kamu tidak mau menikah?”

“Bukan begitu, Pak. Tapi untuk menikah juga nggak mudah karena saya juga belum bertemu dan berkenalan dengan orang-orang yang paham agama, jadi saya masih belum punya chanel,” balas Maha. “Dan juga... apa wanita seperti saya akan mendapat jodoh yang baik? Para pria sholeh pasti tidak akan mau memilih wanita sembarangan.”

“Tidak perlu. Kamu tidak perlu berkenalan dengan siapapun karena ada pria yang akan menikahimu dan sanggup membimbingmu. Dan juga kamu itu wanita baik, Maha. Jangan merasa kamu itu tidak pantas,” tukas Zayn.

 “S-siapa pria itu?” tanya Maha tak percaya. “Apa saya kenal dengannya?”

Zayn mengangguk. “Iya. Kamu kenal dengan pria itu.”

“Siapa?” tanya Maha semakin penasaran.

“Pria itu adalah saya,” balas Zayn dengan tenang. Pria itu berbicara tanpa melihat ke arah Maha.

“A-apa? P-pria yang mau menikahi saya dan mau membimbing saya itu adalah Pak Zayn?” pekik Maha terkejut. “Bapak nggak bercanda sama saya?”

“Iya. Saya adalah pria yang ingin mengajakmu menikah dan saya juga tidak bercanda untuk meminang wanita,” balas Zayn. 

“Bapak nggak salah bicara, kan?” tanya Maha. Suaranya mulai bergetar.

“Tidak, Maha. Saya sangat sadar mengatakannya, dan saya memang ingin menikah denganmu.”

“Tapi Pak Zayn sudah menikah, saya tidak mau merebut suami orang. Dan juga tidak ada wanita yang ingin diduakan ataupun menjadi yang kedua di dunia ini.” Maha mengatakannya dengan suara pelan.

“Kamu tidak merebut saya dari istri pertama saya, dan dia tahu niat saya yang ingin meminangmu. Alysa... dia bahkan sangat mendukungku untuk melamar kamu dan Alysa lah yang mendoakan agar kamu mau menerima lamaranku ini.” Zayn meyakinkan wanita itu dengan suara pelan.

Zayn menghela napas berat. "Jadi, kamu bukan perebut. Jangan menganggap seperti itu."

“Jadi, saya jadi istri kedua Bapak?” tanya Maha terkejut. Wanita itu mendadak hatinya berdebar tidak karuan.

"Iya. Maaf, mungkin permintaanku ini memang membuat kamu terkejut dan juga mungkin kamu tidak akan menyangka kalau saya yang memintanya. Saya harap kamu tidak langsung menolak permintaan ini dan juga dari Alysa. Kami berdua berharap kamu berpikir dulu dan kalau perlu, kami akan meminta izin pada ibumu, Maha." Zayn mengatakannnya dengan nada suara yang serius.

"Kenapa Pak Zayn mendadak mengatakan ini dan ingin saya jadi yang kedua. Apa ada pertimbangan yang lain? Maksudnya... jadi istri kedua itu. Saya hanya tidak tahu alasannya dan juga kenapa juga Mbak Alysa menginginkannya. Saya... " Maha mendadak linglung. Jelas permintaan Zayn itu aneh dan kenapa bisa pria itu menduakan cinta dari istrinya yang sempurna.

Jadi, istri kedua? Apa Maha sedang bermimpi saat ini?  Dia masih dalam keadaan linglung, dan melihat Zayn hanya menatap padanya dengan tatapan ambigu. Pria itu hanya tersenyum tipis padanya.

Saat ini dia sedang bermimpi, kan?

***

Bab 3

Cinta itu dia seperti air yang menyejukan? Tapi, kenapa cinta ini seperti rasa cemas. Cinta itu datang, tapi aku merasa cinta ini  akan menumbuhkan luka baru. Aku ingin memeluknya meski tahu itu akan jadi lebam.

***

“Maaf, Pak. Saya tidak bisa, dan seumur hidup pun saya tidak mau jadi yang kedua. Mungkin wanita lain pun sama, mereka tidak mau jadi wanita kedua,” ucap Maha dengan tegas.

“Saya sudah memperkirakan kalau kamu pasti akan menolaknya, Maha. Saya tahu kalau permintaan ini mungkin terlalu mendadak dan membuat kamu terkejut. Tapi, saya harap kamu memikirkannya terlebih dahulu, dan jangan langsung menolaknya.” Zayn mengatakannya dengan pelan, “maaf karena aku sudah membuatmu kaget, tapi saya memang harus segera berbicara ini dan saya tidak mau menundanya. Kamu tak perlu menjawabnya saat ini, kamu bisa berpikir dulu dan juga nanti Insya Allah... saya akan datang ke rumahmu bersama Alysa. Kami akan menemui ibumu.”

“Saya tidak akan mengubah keputusan. Mau nanti pun, saya akan tetap menolaknya karena saya tidak mau dipoligami,” kata Maha dengan tegas. “Saya... saya tidak tahu kenapa Pak Zayn mendadak ingin meminang saya, meski itu ada alasan tersendiri, tapi saya tidak mau jadi yang kedua. Bagaimana bisa satu hati dibagi dua, tidak ada namanya manusia normal yang ingin berbagi perasannya. Apalagi wanita... wanita mana yang mau suaminya mencintai wanita lainnya.”

“Jangan menilai poligami itu salah, Maha. Stigma negatif yang melekat selama ini tentang poligami itu salah, mereka hanya menganggap poligami itu memenjarakan wanita, dan menguntungkan kaum Adam. Poligami itu seolah haram, dan juga bahaya bagi umat manusia. Jika memang poligami itu berbahaya, maka Rasulullah tidak mungkin melakukan poligami. Jangan melihat hanya dari satu sisi, semua hal di dunia ini kita langsung patahkan dengan melihat dari satu sisi saja.” Zayn menjelaskannya.

“Poligami memang tidak salah, dan juga bukan sebuah dosa. Saya tahu poligami itu ada dalam salah satu ayat di dalam Al Quran, saya pun tidak akan melanggar ayat-ayat Allah, namun rata-rata yang salah itu para pelakunya, mereka yang melakukan poligami tidak sesuai dengan ajaran Rasululllah, para pelaku poligami saat ini tiak bisa berlaku adil . Rasanya saya belum menemukan dimana rumah tangga yang tentram karena memiliki lebih dari satu istri. Saya juga tidak tahu alasan pasti kenapa para wanita mau saja dijadikan yang kesekian. Bagaimana bisa membayangkan wanita lain bermesraan dengan wanita lain? Kalau saya... itu pasti sakit, dan saya mungkin tidak akan tahan satu atap dengan rumah tangga yang seperti itu.”

“Adil itu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Saya paham dengan rasa cemburu yang dimiliki wanita. Kaum Hawa memang mudah cemburu dan sangat perasa. Saya memang tidak bisa berjanji untuk berlaku adil karena manusia itu tempatnya shalat dan juga khilaf. Tapi, sebagai manusia yang punya iman, saya pasti akan melakukan yang terbaik untukmu nanti. Saat akad terucap nanti, itu artinya diri ini sudah berjanji di depan Allah kalau saya harus menjaga dan membahagiakan kamu, saya akan membimbing kamu dunia dan akhirat.”

“Jika memang Bapak mau menikah lagi dan mau melakukan poligami, kenapa harus saya  wanita yang Pak Zayn pilih? Saya bukan wanita sholehah, saya bukan wanita yang mempunyai didikan agama yang cukup, dan juga masa lalu saya... jadi istri dari Pak Zayn itu rasanya kurang pantas meski saya jadi yang kedua.”

“Karena Alysa yang mengusulkan, dan saya pun tanpa sadar tertarik padamu, Maha. Saya diam-diam memperhatikanmu, kamu wanita yang cerdas, dan juga sederhana. Ditambah kamu sudah hijrah dan tahu batasan bagaimana jadi seorang wanita muslimah. Saya kagum dengan pola pikirmu, saat kamu berbicara, kamu seperti memiliki kecantikan orang lain yang akan betah berada di dekatmu” balas Zayn.

Maha termenung, dia menatap pria di depannya dengan perasaan campur aduk. Zayn menyukainya? Pria itu tertarik padanya? Apa ini bukan khayalannya? Pria sempurna itu diam-diam memperhatikan gadis buruk seperti dirinya? Apa Zayn sedang salah bicara tadi?

Hati Maha sungguh sangat rumit. Dia tidak tahu kenapa situasi saat ini diluar nalarnya. Pria yang sudah dia sukai sejak lama tiba-tiba meminangnya dan memintanya menjadi istrinya. Memang ini mimpinya, tapi mimpi ini akan jadi buruk... bukan hanya mimpi buruk baginya, tapi bagi semuanya, apalagi Alysa. Wanita itu... kenapa menginginkannya jadi adik madu? Alysa masih mencintai suaminya, kan?

Di tengah rasa bingung dan hatinya yang sangat rumit, Maha mencoba menenangkan dirinya. Dia mencoba menghela napas panjang agar bisa berpikir jernih. “Kenapa Mbak Alysa hanya memilih saya? Apa alasannya? Apakah Mbak Alysa tidak lagi mencintai Pak Zayn?” tanyanya hati-hati.

“Saya juga tidak tahu apa alasan Alysa memilih kamu untuk jadi adik madunya. Mungkin saya rasa Alysa tahu kalau kamu memang wanita yang baik dan shalihah. Dia juga sangat mengenal kamu. Alysa pasti sangat tahu bagaimana karakter kamu. Dia sudah menganggap kamu seperti adik kandungnya,” balas Zayn.

“Tapi saya tidak mau, Pak. Bagaimana pun hati wanita mana yang tidak akan terluka dan cemburu kalau suaminya malah merasa dirugikan dengan wanita lain. Meski Mbak Alysa membuka dan memilih saya jadi adik madunya, tapi jauh di lubuk hatinya pasti ada lubang cemburu. Saya tidak mau menyakiti hati wanita sebaik Mbak Alysa, beliau adalah orang yang selalu membantu saya dan juga keluarga saya. Mbak Alysa... dia bidadari penyelamat kami, jadi saya tidak pantas untuk mengambil kebahagiaannya. Saya benar-benar tidak bisa, maafkan saya.”

“Saya tidak meminta jawaban kamu sekarang karena saya tahu kamu pasti terkejut. Hari ini saya hanya menyampaikan niat saya, dan nanti saya dan Alysa akan bicara juga dengan ibumu. Kami akan menemuimu dan bicara lebih jelas, nanti kami akan menghubungi kamu saat kami berdua berkunjung ke rumahmu.”

“Tidak perlu, Pak. Ibu saya pun pasti tidak akan setuju kalau saya jadi istri kedua Pak Zayn,” balas Maha. “Saya tidak tahu kenapa Mbak Alysa rela berbagi suami, dan saya pun tidak tahu alasan Pak Zayn ingin mencari istri kedua. Saya hanya ingin menyatakan kalau saya tidak akan menerima jadi yang kedua. Maafkan saya. Saya juga tidak berpikir untuk segera menikah dalam waktu dekat ini.”

Zayn menghela napas panjang, dia sudah tahu kalau Maha pasti akan menolaknya dengan tegas. Wanita itu pasti tidak mau jadi yang kedua. Sebenarnya Zayn bisa saja mencari wanita lain, dan banyak wanita lain di luar sana yang terang-terangan menyatakan perasaannya dan rela jadi yang kedua. Namun, Alysa sang istri menolaknya, istrinya itu hanya mengajukan syarat kalau wanita yang bisa dia nikahi hanya Maha. Alysa tidak cemburu jika dirinya menikah dengan Maha. Dan juga Zayn, dia memang tertarik dengan Maha. Wanita itu bahkan sampai membuatnya tidak betah untuk terlalu lama berada di perusahaan, Zayn tidak mau terjebak dalam perasaan yang tidak pantas itu. Apa yang dia rasakan pada Maha selalu saja ditepisnya sangat keras. Dia selalu beristighfar agar hatinya tidak kotor. Seringnya bertemu dan berdiskusi dengan Maha membuat hati Zayn tertarik dan itu bahaya bagi Zayn.

Apakah kali ini dia sudah melakukan hal yang benar?

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED