Bab 2

Malam itu terasa lebih gelap dari biasanya, dan udara seolah berhenti bergerak. Eveline duduk di samping Viktor, tangan gemetar memegang gelas berisi cairan berwarna jernih. Rasa cemas menguasai hatinya, setiap detik yang berlalu semakin menambah beban di dadanya. Viktor duduk dengan tenang di sampingnya, memperhatikan Eveline dengan tatapan yang sulit dibaca. Sejak mereka duduk bersama, ia belum berkata sepatah kata pun. Hanya keheningan yang mengelilingi mereka, membuat Eveline merasa lebih tertekan.

Ia merasa seperti boneka yang dipaksa bergerak sesuai dengan kehendak orang lain. Tangan Eveline menggenggam erat gelas, merasa dunia ini berputar lebih cepat dari yang bisa ia hadapi. Setiap detik yang berlalu terasa semakin panjang, dan ia tahu bahwa malam ini akan menjadi titik balik dalam hidupnya, mengubah segalanya.

Viktor akhirnya membuka mulut, suaranya dalam dan tenang. "Kau terlihat cemas, Eveline. Bukankah ini seharusnya menjadi malam yang membahagiakan untuk kita?"

Eveline menoleh ke arah Viktor, matanya mencari-cari ekspresi di wajahnya, namun ia hanya melihat ketenangan yang memikat. Tidak ada yang bisa ia baca dari ekspresinya-hanya sebuah kedamaian yang menyakitkan. "Aku... hanya sedikit lelah," jawab Eveline pelan, berusaha menghindari tatapan Viktor yang tajam.

"Leha? Kau baru saja mulai menjalani malam ini, dan sudah merasa lelah?" Viktor tersenyum tipis, tapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Eveline semakin tertekan. Ada sesuatu yang ia coba sembunyikan, sesuatu yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Viktor sepertinya tahu ada yang salah, tapi ia memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut.

Eveline merasa wajahnya memanas, seakan rahasia besar yang ia sembunyikan akan terbuka begitu saja. Dalam hatinya, ia berdoa agar Viktor tidak curiga, tapi di sisi lain, ia merasa bersalah karena telah menyembunyikan kebenaran. Viktor tidak tahu bahwa ia bukan kakaknya, bahwa ia hanya menggantikan Mariana, dan bahwa malam ini adalah sebuah pengorbanan yang dipaksakan.

Namun, Viktor tidak berkata apa-apa lagi setelah itu. Mereka duduk dalam keheningan, sampai akhirnya Eveline merasa ia harus melakukan sesuatu agar malam ini berakhir dengan cepat. Waktu terasa melambat, dan pikiran-pikiran yang mengganggu semakin sulit untuk dibendung.

Tiba-tiba, ia teringat pesan yang diberikan oleh Mariana sebelum ia meninggalkan ruangan. "Berikan dia obat tidur. Biarkan dia tertidur, dan semuanya akan selesai," ujar Mariana dengan suara yang begitu penuh rasa khawatir. Eveline menghela napas dalam-dalam. Ia sudah tahu bahwa malam ini bukan hanya tentang menggantikan kakaknya, tetapi tentang membuat Viktor tidur agar ia tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh suami dan istri.

Dengan hati yang berat, Eveline mengambil gelas yang berisi cairan yang sudah ia persiapkan. Ia mengangkat gelas tersebut ke mulut Viktor, berharap ia bisa menyelesaikan malam ini tanpa harus berhadapan dengan kenyataan yang menyakitkan. Namun, saat gelas itu hampir sampai ke mulut Viktor, tangan Eveline berhenti.

Viktor menoleh dengan tajam, mata birunya yang dalam menatap Eveline, seolah menunggu. "Apa yang kau lakukan, Eveline?" katanya perlahan, suaranya rendah, namun penuh dengan makna yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Eveline merasa darahnya berhenti mengalir. Wajahnya memucat, dan jantungnya hampir terhenti seketika. Ia menganggap dirinya cukup pintar untuk menyembunyikan rencananya, tetapi Viktor tidak bodoh. Ia tahu ada yang tidak beres.

"Viktor..." suara Eveline bergetar. "Aku hanya ingin memastikan kita tidur dengan tenang malam ini."

Viktor mengangkat alisnya, menyelidikinya lebih dalam. "Tidur yang tenang? Atau kau hanya ingin memastikan bahwa aku tak akan ingat apa yang terjadi malam ini?"

Eveline menatap Viktor dengan mata yang tidak bisa lagi menyembunyikan kebingungannya. Ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya-rasa takut dan rasa bersalah yang bercampur aduk. Viktor tidak bodoh. Ia tahu ada sesuatu yang salah, dan ia akan mencari tahu apa itu.

"Eveline, apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang kamu sembunyikan?" Viktor akhirnya bertanya dengan suara yang semakin dalam, penuh dengan penekanan.

Eveline terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Rasa takut menguasai dirinya, dan ketakutannya mulai merambat ke setiap sendi tubuhnya. "Tidak ada yang salah, Viktor. Aku hanya merasa sedikit cemas." Ia berusaha mengalihkan perhatian, berharap Viktor akan membiarkannya begitu saja.

Namun Viktor tidak mudah dibohongi. Ia menatap Eveline dengan tatapan tajam yang hampir menusuk jantungnya. "Aku tahu ada yang salah, Eveline. Tidak ada yang membuatmu cemas selain diriku. Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi di sini. Apa yang sebenarnya terjadi antara kita?"

Eveline merasa dinding-dinding yang dibangunnya mulai runtuh. Ia ingin berteriak, ingin mengungkapkan semua yang ada di hatinya, tetapi ia tak bisa. Bagaimana bisa ia menjelaskan bahwa ia bukanlah orang yang seharusnya berada di sini? Bagaimana bisa ia mengatakan bahwa ia hanya pengganti dari sang kakak yang kini sedang hamil dan bersembunyi dari kenyataan?

Namun, sebelum ia bisa menjawab, Viktor berdiri dengan gerakan cepat. "Aku tahu sesuatu yang tidak kau katakan, Eveline. Dan aku akan mencari tahu apa itu, apakah kau suka atau tidak."

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dengan keras, dan sebuah suara yang familiar membuat tubuh Eveline membeku. Mariana muncul, wajahnya pucat, mata merah seperti baru saja menangis.

"Viktor, jangan percaya apa yang dia katakan," kata Mariana dengan suara serak. "Semua ini salah. Jangan biarkan dia memanipulasi kita berdua."

Eveline menatap kakaknya dengan terkejut. Semua yang ia persiapkan, semua yang ia lakukan malam ini, kini hancur. Perasaan yang sudah lama terkubur dalam dirinya mulai muncul, membawa lebih banyak kebingungannya ke permukaan.

Viktor menatap mereka berdua, jelas bingung dan marah. "Apa yang sedang terjadi di sini?" tanyanya dengan suara yang penuh ketegangan.

Mariana melangkah maju, berusaha menenangkan Viktor, tetapi Eveline tahu sudah terlambat. Semua rahasia yang mereka coba sembunyikan kini terungkap. Tidak ada lagi jalan keluar.

Eveline hanya bisa berdiri diam, matanya penuh dengan air mata yang hampir jatuh, tidak tahu apakah ia harus merasa takut atau lega karena akhirnya kebenaran mulai terungkap. Malam ini, segalanya akan berubah-lebih buruk dari yang bisa ia bayangkan.

Bab 3

Keesokan paginya, Eveline terbangun dalam kekosongan yang mencekam. Udara terasa lebih berat, seakan setiap napas yang dihirupnya dipenuhi dengan rasa bersalah yang tak terhindarkan. Matanya membuka perlahan, dan ia mendapati dirinya di kamar yang sama dengan Viktor. Namun, tidak ada Viktor di sana. Hanya keheningan yang menyelimuti ruangan.

Eveline duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya masih lemas dan terasa berat. Malam itu, segala yang ia coba hindari akhirnya terjadi-segala kebohongan yang ia bangun kini mulai runtuh, dan ia tahu, tidak ada yang bisa kembali seperti semula. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Namun, pikirannya langsung teralihkan oleh suara langkah kaki yang terdengar dari luar. Pintu kamar terbuka dengan perlahan, dan sosok Viktor masuk dengan wajah yang tampak lebih gelap dari sebelumnya. Matanya yang biru tajam menatapnya dengan intensitas yang mematikan. Ada sesuatu dalam tatapannya yang menuntut penjelasan.

"Eveline," suara Viktor terdengar rendah, namun tegang. "Kau berhutang penjelasan."

Eveline mencoba untuk berdiri, tetapi tubuhnya terasa lemas. Ia hanya mampu menatap Viktor dengan tatapan kosong. Perasaannya bercampur aduk-takut, bingung, dan juga sedikit lega. Setidaknya, Viktor telah mengetahui sebagian dari kebenaran, meskipun semuanya masih belum sepenuhnya terungkap.

"Viktor, aku..." Eveline memulai kalimatnya, tetapi suaranya begitu pelan dan rapuh, hampir seperti bisikan. "Aku bukan siapa yang kau pikirkan."

Viktor maju selangkah, jarak antara mereka semakin dekat. "Aku tidak peduli siapa dirimu. Yang penting sekarang adalah mengapa kau berbohong padaku." Suaranya semakin menegang, dan tubuh Eveline merasa kian terhimpit oleh keberadaan Viktor yang semakin mendekat.

Eveline ingin menjauh, namun ia tahu ia tidak bisa. Tidak ada tempat untuk lari. "Aku..." Kali ini, suaranya lebih jelas. "Aku adalah pengganti dari kakakku. Aku dipaksa untuk menggantikannya, untuk menyelamatkan nama baik keluarga kita."

Viktor terdiam, wajahnya kaku. Seolah kata-kata Eveline adalah sebuah pukulan yang membuatnya terpukul mundur. Ia tidak bisa percaya apa yang baru saja didengarnya. "Kakakmu? Jadi, siapa yang sebenarnya aku nikahi malam itu?"

Eveline menundukkan kepala, rasa malu menguasai dirinya. "Kau... menikahi aku, tetapi aku bukan yang seharusnya berada di sana. Aku hanya pengganti sementara." Suaranya mulai serak, dan air mata yang berusaha ia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah. "Kakakku hamil, dan ia tidak bisa menikah denganmu, jadi aku yang dipaksa untuk menggantikannya."

Viktor tidak berkata apa-apa untuk beberapa saat, hanya menatap Eveline dengan ekspresi yang campur aduk-antara rasa marah, bingung, dan luka yang dalam. "Jadi, malam itu..." Viktor terhenti, tidak tahu harus melanjutkan kalimatnya atau mengumpulkan pikirannya terlebih dahulu. "Semua yang terjadi adalah kebohongan, kan? Aku tidak menikahi orang yang seharusnya aku nikahi."

Eveline hanya bisa mengangguk pelan, tubuhnya terasa semakin rapuh. "Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf, Viktor. Aku tidak punya pilihan lain."

Viktor berbalik dan berjalan ke jendela, menatap keluar dengan pandangan yang kosong. Ia menghela napas panjang, seolah mencoba meredakan gejolak emosinya yang semakin meningkat. "Kau tahu, Eveline, aku tidak tahu apakah harus marah padamu atau merasa kasihan." Suaranya terdengar lebih tenang, namun penuh dengan kekosongan yang dalam. "Aku tidak tahu siapa yang harus kutuntut dalam hal ini. Kau atau keluargamu? Atau bahkan Mariana yang telah mengatur semua ini?"

Eveline merasakan dada yang sesak, dan ia tahu Viktor benar. Semua ini adalah kekacauan yang diciptakan oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya, tetapi justru memaksanya untuk melakukan hal-hal yang tak pernah ia pilih. "Aku hanya ingin semuanya selesai," ujar Eveline pelan, hampir seperti merintih.

Viktor menoleh dan mengamati Eveline dengan tatapan yang penuh amarah dan kebingungannya sendiri. "Kau ingin semuanya selesai? Lalu, bagaimana dengan aku? Apa yang harus aku lakukan sekarang, Eveline? Apa yang harus aku pikirkan tentang pernikahan kita, yang sejak awal dibangun di atas kebohongan?"

Eveline ingin menjawab, tetapi kata-kata itu terasa begitu berat, seolah tenggelam dalam lubang hitam yang tak bisa ia keluarkan. "Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu."

Di luar jendela, hujan mulai turun dengan deras, seakan mencerminkan perasaan yang membasahi hati mereka. Ruangan itu terasa semakin sempit, dan setiap detik yang berlalu semakin menguji keteguhan hati mereka. Viktor menghela napas panjang, lalu duduk di kursi yang terdekat, matanya masih terpaku pada Eveline.

"Jadi, apa yang kita lakukan sekarang?" Viktor bertanya, suaranya kali ini lebih lembut, namun masih ada kekecewaan yang mendalam di dalamnya.

Eveline tidak tahu harus menjawab apa. "Aku tidak tahu, Viktor. Aku hanya ingin... Aku ingin keluar dari semua ini. Tapi aku tidak tahu caranya."

Viktor terdiam, menatap Eveline dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Kau harus memilih, Eveline," katanya dengan suara yang dalam. "Kau harus memilih apakah kau akan melanjutkan kebohongan ini atau menghadapinya. Karena jika kita terus seperti ini, semuanya akan hancur lebih cepat dari yang kita pikirkan."

Eveline merasa keputusasaannya semakin dalam. Tidak ada jalan yang mudah, dan setiap pilihan yang ada akan membawa konsekuensi yang lebih besar. Namun, ia tahu satu hal-semuanya sudah terlalu jauh untuk mundur sekarang. Kebohongan ini sudah terlalu dalam tertanam, dan ia harus menemukan cara untuk keluar dari perangkap yang ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menghindarinya.

Tiba-tiba, suara pintu terbuka keras, dan sosok Mariana muncul di ambang pintu. Wajahnya tampak marah, dan matanya penuh dengan ketegangan. "Apa yang kalian berdua bicarakan?" suara Mariana terdengar tajam, penuh rasa was-was.

Viktor menatap kakak Eveline dengan pandangan yang mengandung lebih banyak kebingungan dan amarah. "Apa yang terjadi di sini, Mariana? Apa yang kalian rencanakan semua ini? Dan kenapa semua ini harus melibatkan Eveline?"

Mariana terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menatap Eveline dengan ekspresi yang sulit dimengerti. "Kau tak bisa menghindari kenyataan, Eveline. Kita semua terjebak dalam permainan ini, dan tidak ada yang bisa keluar tanpa membayar harga yang mahal."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED