Bab 1

Eveline Volkov selalu merasa bahwa hidupnya adalah bayangan dari kakaknya, Mariana. Sejak kecil, orang-orang selalu membandingkan mereka, memuji keindahan wajah mereka yang hampir identik, meskipun mereka bukan kembar. Rambut hitam legam yang tergerai lurus, mata biru tajam yang seperti mencerminkan langit yang tenang, serta senyuman manis yang mengingatkan orang pada malam bulan purnama. Tetapi meski wajah mereka serupa, jalan hidup mereka tak pernah sama.

Mariana adalah sosok yang selalu berada di sorotan. Sejak remaja, ia adalah putri kesayangan keluarga Volkov, selalu mendapat pujian karena kecantikannya, kepintarannya, dan cara ia memperlakukan orang lain. Semua orang melihatnya sebagai sosok yang sempurna, dan tidak ada yang menyangka bahwa di balik penampilannya yang anggun, ada rahasia kelam yang disembunyikan dengan rapi.

Sedangkan Eveline? Eveline hanya merasa sebagai bayangan yang hidup dalam kesendirian, jauh dari sorotan. Selalu berada di belakang kakaknya, selalu menerima pelukisan orang lain tentang dirinya sebagai "kakaknya yang lebih muda" atau "Mariana yang lebih pendiam." Eveline tidak pernah mencari perhatian. Ia hanya ingin menjalani hidupnya dalam kesendirian, jauh dari sorotan.

Namun, malam itu, segala sesuatu berubah.

Pada malam pernikahan Mariana dengan Viktor Dubrovsky, seorang pengusaha muda yang kaya raya, Eveline merasakan kegelisahan yang tak bisa ia jelaskan. Sejak pagi hari, keluarga mereka, terutama ibu dan bibi, tampak tegang. Wajah mereka yang biasanya ceria kini terlihat khawatir, dan Eveline bisa merasakan ketegangan yang menggantung di udara. Seakan-akan ada sesuatu yang tak beres, tapi ia tidak tahu apa.

Ketika waktu semakin dekat menuju upacara pernikahan, Eveline menyadari bahwa ada yang berbeda. Tiba-tiba, tanpa peringatan, ibunya dan bibinya menghadapnya dengan ekspresi yang serius, wajah mereka tampak lebih tua dari biasanya, penuh kecemasan yang tampak jelas.

"Eveline," suara ibunya yang berat menggetarkan hatinya, "kamu harus menggantikan Mariana."

Eveline terkejut, matanya terbuka lebar saat mendengar kata-kata itu. "Apa? Menggantikan kakak?"

Ibu dan bibinya saling bertukar pandang, lalu bibinya yang lebih tua mulai bicara dengan nada lembut namun penuh tekanan. "Mariana... dia dalam keadaan yang... tidak seperti yang kita harapkan. Kami tahu ini berat untukmu, tapi demi keluarga, kamu harus melakukannya."

Eveline tidak bisa memproses apa yang baru saja ia dengar. "Tidak mungkin. Kak Mariana? Apa yang terjadi padanya?" suara Eveline hampir bergetar, matanya mulai berkaca-kaca.

Ibu mereka menghela napas dalam-dalam, wajahnya tampak terluka. "Mariana... dia... dia hamil. Dan anak itu bukan dari Viktor."

Kata-kata itu seperti petir yang menyambar kepala Eveline. "Hamil? Tapi... tapi, bagaimana bisa-"

"Bukan Viktor," interupsi bibinya dengan suara rendah. "Itu... anak dari hubungan gelapnya dengan pria lain."

Eveline merasa dunia seakan runtuh di sekitarnya. Semua yang ia tahu, semua yang ia yakini tentang kakaknya, kini terbalik. Mariana, sang kakak yang selalu tampak sempurna, ternyata memiliki sisi gelap yang tidak pernah ia ketahui.

Ibu mereka menatapnya penuh harap. "Eveline, kami tahu ini sulit, tapi kamu satu-satunya yang bisa melakukannya. Demi nama baik keluarga, kamu harus menggantikan Mariana malam ini."

Eveline terdiam, mulutnya terasa kering. "Apa maksudmu menggantikan? Pernikahan ini-"

"Ini adalah pernikahan yang telah dijadwalkan. Semua tamu sudah datang, dan Viktor... dia tidak tahu apa yang terjadi. Kamu harus menggantikan Mariana dan menikah dengan Viktor, hanya untuk malam ini. Setelah itu, semuanya akan kembali normal."

Namun, meskipun kata-kata itu terdengar sederhana, Eveline tahu bahwa hidupnya tak akan pernah sama setelah malam itu.

"Kenapa aku?" tanya Eveline, suaranya hampir tak terdengar, penuh dengan kebingungan dan penolakan. "Kenapa harus aku yang menggantikan kakak? Kenapa tidak ada pilihan lain?"

Ibunya meraih tangannya dengan penuh harap, matanya basah. "Kamu adalah satu-satunya yang bisa melakukan ini, Eveline. Kakakmu, Mariana, sangat takut. Jika kamu tidak melakukannya, keluarga kita akan terhina. Kamu... kamu satu-satunya harapan kami."

Eveline merasa terperangkap. Hatinya penuh dengan pertanyaan yang tidak terjawab, perasaan terhimpit antara rasa kasih sayang kepada kakaknya dan kebencian terhadap tindakan yang harus ia lakukan. Tapi dalam hatinya, ia tahu. Ia tidak punya pilihan. Jika ia menolak, keluarga mereka akan hancur, dan kakaknya akan dihancurkan oleh dosa yang telah ia lakukan.

Akhirnya, Eveline menganggukkan kepala, meskipun hatinya terluka. "Baiklah. Tapi hanya untuk malam ini," ucapnya dengan suara serak.

Malampun tiba, dan Eveline berdiri di depan altar, mengenakan gaun pengantin putih yang sama dengan yang seharusnya dikenakan Mariana. Wajahnya terasa tegang, dan jantungnya berdegup kencang, tidak hanya karena upacara pernikahan yang begitu besar, tetapi karena dia tahu bahwa hidupnya akan berubah selamanya setelah malam ini.

Viktor Dubrovsky berdiri di hadapannya, tampak tampan dan penuh percaya diri seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang membuat Eveline tak nyaman. Tatapan Viktor yang tajam, seolah ia tahu bahwa ada yang tidak beres. Mungkin ia tidak tahu siapa yang berdiri di depannya, tetapi Eveline merasa seperti dia bisa melihat langsung ke dalam jiwanya.

Malam itu, setelah upacara selesai, Mariana yang hamil dan ketakutan mengatur rencana untuk menidurkan Viktor. Ia memberitahu Eveline untuk menyampurkan obat tidur dalam minumannya, agar Viktor tertidur dan Eveline tidak perlu menyerahkan kesuciannya pada seorang pria yang bukan suaminya. Mariana berjanji akan bertukar tempat dengan Eveline keesokan harinya.

Tapi saat Eveline menatap Viktor yang duduk di sampingnya, ada perasaan yang tidak bisa ia hilangkan-perasaan bahwa ia telah membuat pilihan yang salah. Dan dalam hati kecilnya, ia tahu bahwa malam ini akan mengubah segalanya. Sebuah rahasia yang lebih besar akan terungkap, dan tak ada yang bisa kembali setelah itu.

Bab 2

Malam itu terasa lebih gelap dari biasanya, dan udara seolah berhenti bergerak. Eveline duduk di samping Viktor, tangan gemetar memegang gelas berisi cairan berwarna jernih. Rasa cemas menguasai hatinya, setiap detik yang berlalu semakin menambah beban di dadanya. Viktor duduk dengan tenang di sampingnya, memperhatikan Eveline dengan tatapan yang sulit dibaca. Sejak mereka duduk bersama, ia belum berkata sepatah kata pun. Hanya keheningan yang mengelilingi mereka, membuat Eveline merasa lebih tertekan.

Ia merasa seperti boneka yang dipaksa bergerak sesuai dengan kehendak orang lain. Tangan Eveline menggenggam erat gelas, merasa dunia ini berputar lebih cepat dari yang bisa ia hadapi. Setiap detik yang berlalu terasa semakin panjang, dan ia tahu bahwa malam ini akan menjadi titik balik dalam hidupnya, mengubah segalanya.

Viktor akhirnya membuka mulut, suaranya dalam dan tenang. "Kau terlihat cemas, Eveline. Bukankah ini seharusnya menjadi malam yang membahagiakan untuk kita?"

Eveline menoleh ke arah Viktor, matanya mencari-cari ekspresi di wajahnya, namun ia hanya melihat ketenangan yang memikat. Tidak ada yang bisa ia baca dari ekspresinya-hanya sebuah kedamaian yang menyakitkan. "Aku... hanya sedikit lelah," jawab Eveline pelan, berusaha menghindari tatapan Viktor yang tajam.

"Leha? Kau baru saja mulai menjalani malam ini, dan sudah merasa lelah?" Viktor tersenyum tipis, tapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Eveline semakin tertekan. Ada sesuatu yang ia coba sembunyikan, sesuatu yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Viktor sepertinya tahu ada yang salah, tapi ia memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut.

Eveline merasa wajahnya memanas, seakan rahasia besar yang ia sembunyikan akan terbuka begitu saja. Dalam hatinya, ia berdoa agar Viktor tidak curiga, tapi di sisi lain, ia merasa bersalah karena telah menyembunyikan kebenaran. Viktor tidak tahu bahwa ia bukan kakaknya, bahwa ia hanya menggantikan Mariana, dan bahwa malam ini adalah sebuah pengorbanan yang dipaksakan.

Namun, Viktor tidak berkata apa-apa lagi setelah itu. Mereka duduk dalam keheningan, sampai akhirnya Eveline merasa ia harus melakukan sesuatu agar malam ini berakhir dengan cepat. Waktu terasa melambat, dan pikiran-pikiran yang mengganggu semakin sulit untuk dibendung.

Tiba-tiba, ia teringat pesan yang diberikan oleh Mariana sebelum ia meninggalkan ruangan. "Berikan dia obat tidur. Biarkan dia tertidur, dan semuanya akan selesai," ujar Mariana dengan suara yang begitu penuh rasa khawatir. Eveline menghela napas dalam-dalam. Ia sudah tahu bahwa malam ini bukan hanya tentang menggantikan kakaknya, tetapi tentang membuat Viktor tidur agar ia tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh suami dan istri.

Dengan hati yang berat, Eveline mengambil gelas yang berisi cairan yang sudah ia persiapkan. Ia mengangkat gelas tersebut ke mulut Viktor, berharap ia bisa menyelesaikan malam ini tanpa harus berhadapan dengan kenyataan yang menyakitkan. Namun, saat gelas itu hampir sampai ke mulut Viktor, tangan Eveline berhenti.

Viktor menoleh dengan tajam, mata birunya yang dalam menatap Eveline, seolah menunggu. "Apa yang kau lakukan, Eveline?" katanya perlahan, suaranya rendah, namun penuh dengan makna yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Eveline merasa darahnya berhenti mengalir. Wajahnya memucat, dan jantungnya hampir terhenti seketika. Ia menganggap dirinya cukup pintar untuk menyembunyikan rencananya, tetapi Viktor tidak bodoh. Ia tahu ada yang tidak beres.

"Viktor..." suara Eveline bergetar. "Aku hanya ingin memastikan kita tidur dengan tenang malam ini."

Viktor mengangkat alisnya, menyelidikinya lebih dalam. "Tidur yang tenang? Atau kau hanya ingin memastikan bahwa aku tak akan ingat apa yang terjadi malam ini?"

Eveline menatap Viktor dengan mata yang tidak bisa lagi menyembunyikan kebingungannya. Ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya-rasa takut dan rasa bersalah yang bercampur aduk. Viktor tidak bodoh. Ia tahu ada sesuatu yang salah, dan ia akan mencari tahu apa itu.

"Eveline, apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang kamu sembunyikan?" Viktor akhirnya bertanya dengan suara yang semakin dalam, penuh dengan penekanan.

Eveline terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Rasa takut menguasai dirinya, dan ketakutannya mulai merambat ke setiap sendi tubuhnya. "Tidak ada yang salah, Viktor. Aku hanya merasa sedikit cemas." Ia berusaha mengalihkan perhatian, berharap Viktor akan membiarkannya begitu saja.

Namun Viktor tidak mudah dibohongi. Ia menatap Eveline dengan tatapan tajam yang hampir menusuk jantungnya. "Aku tahu ada yang salah, Eveline. Tidak ada yang membuatmu cemas selain diriku. Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi di sini. Apa yang sebenarnya terjadi antara kita?"

Eveline merasa dinding-dinding yang dibangunnya mulai runtuh. Ia ingin berteriak, ingin mengungkapkan semua yang ada di hatinya, tetapi ia tak bisa. Bagaimana bisa ia menjelaskan bahwa ia bukanlah orang yang seharusnya berada di sini? Bagaimana bisa ia mengatakan bahwa ia hanya pengganti dari sang kakak yang kini sedang hamil dan bersembunyi dari kenyataan?

Namun, sebelum ia bisa menjawab, Viktor berdiri dengan gerakan cepat. "Aku tahu sesuatu yang tidak kau katakan, Eveline. Dan aku akan mencari tahu apa itu, apakah kau suka atau tidak."

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dengan keras, dan sebuah suara yang familiar membuat tubuh Eveline membeku. Mariana muncul, wajahnya pucat, mata merah seperti baru saja menangis.

"Viktor, jangan percaya apa yang dia katakan," kata Mariana dengan suara serak. "Semua ini salah. Jangan biarkan dia memanipulasi kita berdua."

Eveline menatap kakaknya dengan terkejut. Semua yang ia persiapkan, semua yang ia lakukan malam ini, kini hancur. Perasaan yang sudah lama terkubur dalam dirinya mulai muncul, membawa lebih banyak kebingungannya ke permukaan.

Viktor menatap mereka berdua, jelas bingung dan marah. "Apa yang sedang terjadi di sini?" tanyanya dengan suara yang penuh ketegangan.

Mariana melangkah maju, berusaha menenangkan Viktor, tetapi Eveline tahu sudah terlambat. Semua rahasia yang mereka coba sembunyikan kini terungkap. Tidak ada lagi jalan keluar.

Eveline hanya bisa berdiri diam, matanya penuh dengan air mata yang hampir jatuh, tidak tahu apakah ia harus merasa takut atau lega karena akhirnya kebenaran mulai terungkap. Malam ini, segalanya akan berubah-lebih buruk dari yang bisa ia bayangkan.

Bab 3

Keesokan paginya, Eveline terbangun dalam kekosongan yang mencekam. Udara terasa lebih berat, seakan setiap napas yang dihirupnya dipenuhi dengan rasa bersalah yang tak terhindarkan. Matanya membuka perlahan, dan ia mendapati dirinya di kamar yang sama dengan Viktor. Namun, tidak ada Viktor di sana. Hanya keheningan yang menyelimuti ruangan.

Eveline duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya masih lemas dan terasa berat. Malam itu, segala yang ia coba hindari akhirnya terjadi-segala kebohongan yang ia bangun kini mulai runtuh, dan ia tahu, tidak ada yang bisa kembali seperti semula. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Namun, pikirannya langsung teralihkan oleh suara langkah kaki yang terdengar dari luar. Pintu kamar terbuka dengan perlahan, dan sosok Viktor masuk dengan wajah yang tampak lebih gelap dari sebelumnya. Matanya yang biru tajam menatapnya dengan intensitas yang mematikan. Ada sesuatu dalam tatapannya yang menuntut penjelasan.

"Eveline," suara Viktor terdengar rendah, namun tegang. "Kau berhutang penjelasan."

Eveline mencoba untuk berdiri, tetapi tubuhnya terasa lemas. Ia hanya mampu menatap Viktor dengan tatapan kosong. Perasaannya bercampur aduk-takut, bingung, dan juga sedikit lega. Setidaknya, Viktor telah mengetahui sebagian dari kebenaran, meskipun semuanya masih belum sepenuhnya terungkap.

"Viktor, aku..." Eveline memulai kalimatnya, tetapi suaranya begitu pelan dan rapuh, hampir seperti bisikan. "Aku bukan siapa yang kau pikirkan."

Viktor maju selangkah, jarak antara mereka semakin dekat. "Aku tidak peduli siapa dirimu. Yang penting sekarang adalah mengapa kau berbohong padaku." Suaranya semakin menegang, dan tubuh Eveline merasa kian terhimpit oleh keberadaan Viktor yang semakin mendekat.

Eveline ingin menjauh, namun ia tahu ia tidak bisa. Tidak ada tempat untuk lari. "Aku..." Kali ini, suaranya lebih jelas. "Aku adalah pengganti dari kakakku. Aku dipaksa untuk menggantikannya, untuk menyelamatkan nama baik keluarga kita."

Viktor terdiam, wajahnya kaku. Seolah kata-kata Eveline adalah sebuah pukulan yang membuatnya terpukul mundur. Ia tidak bisa percaya apa yang baru saja didengarnya. "Kakakmu? Jadi, siapa yang sebenarnya aku nikahi malam itu?"

Eveline menundukkan kepala, rasa malu menguasai dirinya. "Kau... menikahi aku, tetapi aku bukan yang seharusnya berada di sana. Aku hanya pengganti sementara." Suaranya mulai serak, dan air mata yang berusaha ia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah. "Kakakku hamil, dan ia tidak bisa menikah denganmu, jadi aku yang dipaksa untuk menggantikannya."

Viktor tidak berkata apa-apa untuk beberapa saat, hanya menatap Eveline dengan ekspresi yang campur aduk-antara rasa marah, bingung, dan luka yang dalam. "Jadi, malam itu..." Viktor terhenti, tidak tahu harus melanjutkan kalimatnya atau mengumpulkan pikirannya terlebih dahulu. "Semua yang terjadi adalah kebohongan, kan? Aku tidak menikahi orang yang seharusnya aku nikahi."

Eveline hanya bisa mengangguk pelan, tubuhnya terasa semakin rapuh. "Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf, Viktor. Aku tidak punya pilihan lain."

Viktor berbalik dan berjalan ke jendela, menatap keluar dengan pandangan yang kosong. Ia menghela napas panjang, seolah mencoba meredakan gejolak emosinya yang semakin meningkat. "Kau tahu, Eveline, aku tidak tahu apakah harus marah padamu atau merasa kasihan." Suaranya terdengar lebih tenang, namun penuh dengan kekosongan yang dalam. "Aku tidak tahu siapa yang harus kutuntut dalam hal ini. Kau atau keluargamu? Atau bahkan Mariana yang telah mengatur semua ini?"

Eveline merasakan dada yang sesak, dan ia tahu Viktor benar. Semua ini adalah kekacauan yang diciptakan oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya, tetapi justru memaksanya untuk melakukan hal-hal yang tak pernah ia pilih. "Aku hanya ingin semuanya selesai," ujar Eveline pelan, hampir seperti merintih.

Viktor menoleh dan mengamati Eveline dengan tatapan yang penuh amarah dan kebingungannya sendiri. "Kau ingin semuanya selesai? Lalu, bagaimana dengan aku? Apa yang harus aku lakukan sekarang, Eveline? Apa yang harus aku pikirkan tentang pernikahan kita, yang sejak awal dibangun di atas kebohongan?"

Eveline ingin menjawab, tetapi kata-kata itu terasa begitu berat, seolah tenggelam dalam lubang hitam yang tak bisa ia keluarkan. "Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu."

Di luar jendela, hujan mulai turun dengan deras, seakan mencerminkan perasaan yang membasahi hati mereka. Ruangan itu terasa semakin sempit, dan setiap detik yang berlalu semakin menguji keteguhan hati mereka. Viktor menghela napas panjang, lalu duduk di kursi yang terdekat, matanya masih terpaku pada Eveline.

"Jadi, apa yang kita lakukan sekarang?" Viktor bertanya, suaranya kali ini lebih lembut, namun masih ada kekecewaan yang mendalam di dalamnya.

Eveline tidak tahu harus menjawab apa. "Aku tidak tahu, Viktor. Aku hanya ingin... Aku ingin keluar dari semua ini. Tapi aku tidak tahu caranya."

Viktor terdiam, menatap Eveline dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Kau harus memilih, Eveline," katanya dengan suara yang dalam. "Kau harus memilih apakah kau akan melanjutkan kebohongan ini atau menghadapinya. Karena jika kita terus seperti ini, semuanya akan hancur lebih cepat dari yang kita pikirkan."

Eveline merasa keputusasaannya semakin dalam. Tidak ada jalan yang mudah, dan setiap pilihan yang ada akan membawa konsekuensi yang lebih besar. Namun, ia tahu satu hal-semuanya sudah terlalu jauh untuk mundur sekarang. Kebohongan ini sudah terlalu dalam tertanam, dan ia harus menemukan cara untuk keluar dari perangkap yang ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menghindarinya.

Tiba-tiba, suara pintu terbuka keras, dan sosok Mariana muncul di ambang pintu. Wajahnya tampak marah, dan matanya penuh dengan ketegangan. "Apa yang kalian berdua bicarakan?" suara Mariana terdengar tajam, penuh rasa was-was.

Viktor menatap kakak Eveline dengan pandangan yang mengandung lebih banyak kebingungan dan amarah. "Apa yang terjadi di sini, Mariana? Apa yang kalian rencanakan semua ini? Dan kenapa semua ini harus melibatkan Eveline?"

Mariana terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menatap Eveline dengan ekspresi yang sulit dimengerti. "Kau tak bisa menghindari kenyataan, Eveline. Kita semua terjebak dalam permainan ini, dan tidak ada yang bisa keluar tanpa membayar harga yang mahal."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED