Tawa dari pria paruh baya itu mengisi ruangan itu, aroma minuman beralkohol menyeruak di indra penciuman. Tapi, lima pria yang ada di sana tampak sangat menikmati menuman itu, beberapa dari mereka sudah terlihat sudah sedikit teler karena enam botol sudah habis mereka teguk.
Revo, kakak dari Hendra itu sedang merayakan keberhasilannya yang telah membuat investor berhasil mundur dari proyek perusahaan adiknya. Dengan dibantu oleh orang-orang kepercayaan dari Hendra, dia bisa berhasil melaksanakan tugasnya.
"Besok kita harus berpesta lebih besar daripada ini. Karena besok akan menjadi hari kehancuran Hendra," ucap Revo dengan suara yang sedikit serak. Tangan pria itu masih setia memegang gelas yang berisi alkohol.
"Tentu saja, Bos. Besok adalah hari di mana kau akan mengambil seluruhnya dari Hendra," balas pria berkemeja biru, dia adalah pengelolah keuangan di perusahaan Hendra.
Pria itu memang sudah cukup lama berada dipihak Revo, menurutnya Revo lebih bisa diajak kerja sama ketimbang Hendra yang kaku. Dengan Revo dia bisa menggelapkan beberapa uang perusahaan demi kesenangannya, sedangakan Hendra selalu saja bersikap jujur.
"Besok akan aku traktir kalian semua. Tenang saja, cukup berakting lagi sebentar saja dan kita aka mendapatkan semuanya." Revo mengatakan hal itu dengan percaya diri.
"Aku sudah siap dengan semua berkas-berkas di atas meja itu." Suara itu berasal dari salah satu pengacara yang dulu mebacakan warisan peninggalan dari orang tua Revo. Entah bagaimana caranya, Revo akhirnya bisa membuat pengacara itu berpihak kepadanya dan menuruti setiap keingannya.
"Kau sangat bisa diandalkan," ucap Revo sambil mengacungkan jempolnya.
Setelah itu mereka semua menikamati momen itu, tak lupa mereka juga membahas rencana besok agar berjalan dengan sangat lancar. Yang paling tampak sangat antusias adalah Revo, dia sudah tidak sabar melihat wajah adiknya terkejut dengan semua perbuatanya.
* * *
Pagi ini, Hendra sudah bersiap berangkat ke perusahaan. Namun, pria itu terlihat sangat lemas karena teruas memikirkan masalah yang ada di perusahaannya.
"Pa ... kenapa makanannya nggak dimakan," tegur Melly saat melihat suaminya sejak tadi diam saja.
"Eh? Papa sedang malas untuk makan sebenarnya," jawab Hendran.
Melly menatap mata suaminya dalam, dia bisa melihat kalau ada yang disembunyikan oleh suaminya. Akhirnya Melly berdiri dari duduknya dan menyentuh bahu Hendra dengan lembut. "Papa sedang ada masalah apa? Sepertinya sedang memikirkan sesuatu," tanya Melly.
Hendra menunjukkan senyum palsunya, pria itu menyentuh balik tangan istrinya yang ada di bahunya. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit lelah karena pekerjaan yang sangat menumpuk di perusahaan," jawab Hendra beralibi.
"Benarkah?" tanya Melly lagi memastikan. "Kalo ada sesuatu coba ceritakan ke aku, mungkin dengan seperti itu bisa sedikit mengurangi beban pikiran papa."
"Mama tidak perlu khawatir, ini bukan masalah besar," jawab Hendra, "sepertinya papa harus berangkat sekarang juga karena masih banyak yang harus dikerjakan di kantor." Pria itu berdiri dari kursinya.
"Makanannya tidak di makan?"
"Tidak. Nanti papa bisa makan di kantor saja."
"Baiklah. Tapi jangan sampai lupa makan ya," pesan Melly.
Hendra mengangguk sebagai jawaban, setelah itu dia berpamitan untuk pergi. Melly sebenarnya sedikit kahwatir dengan suaminya, meskipun Hendra tadi menjawab kalau hanya masalah kantor biasa. Tapi Melly menangkap hal lainnya, ada banyak hal lainnya yang sedang disembunyikan oleh suaminya.
Sepeninggal Hendra, Melly menyesal karena tadi kenapa dia tidak membekali suaminya makanan. Wanita itu akhirnya memutuskan untuk pergi mengantarkan makana untuk Hendra.
*
Hendra baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran. Dahinya sedikit berkerut saat melihat beberapa pemegang saham sedang berkumpul di depan kantornya.
"Lihat! Hendra sudah datang." Suara itu berasal dari salah satu kerumunan orang itu. Detik berikutnya semua atensi semuanya tertuju kepada Hendra, setelah itu semua kangkah mendekat ke arahnya.
Hendra bisa melihat wajah marah dari semua orang itu, dia langsung menghentikan langkahnya. "Ada apa ini?" tanya Hendra bingung.
"Dasar pria brengsek! Ke mana kau bawa uang kami?"
"Kami sangat berharap penuh pada perusahaanmu, tapi uangnya malah kau korupsi dan sekarang perusahaanmu akan mengalami kebangkrutan!"
"Kembalikan uang kami!"
Teriakan-teriakan itu terus terdengar di pendengaran Hendra, tapi tubuh pria itu sedang diselamatkan oleh security untuk dibawa masuk ke dalam gedung. Hendra bingung dengan tuduhan yang dilontarkan oleh para pemegang saham itu.
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Hendra.
Pengelolah keuangan langsung maju ke depan, dia membawa sebuah bukti laporan yang menyatakan kalau selama ini Hendra sudah melakukan penggelapan uang perusahaan, dan imbasnya kepada pemegang saham tidak mendapatkan keuntungan.
"Apa-apaan ini! Aku tidak pernah melakukan hal ini, laporan ini pasti salah! Ada yang menfitnahku!" teriak Herdra histeris.
Bersamaan dengan itu, suara benda jatuh terdengar menggema. Melly sangat kaget mendengar hal itu, sampai-samapi rantang yang sedang ia bawa langsung jatuh. Semua atensi orang yang ada di sana langsung tertuju pada Melly, tak terkecuali Hendra. Dia snagat terkejut dengan kedatangan istrinya.
"Hendra tidak mungkin melakukan ini semua. Kalian semua salah jika harus menuduhnya seperti ini, karena selama ini dia menjalankan perusahaan ini dengan sebaik mungkin," ucap Melly membela. Wanita itu kini sudah berdiri di samping sang suami dengan menahan gejolak amarah.
"Ini semua ti--"
"Tapi semua bukti sudah mengarah kepada suamimu." Ucapan Melly harus terhenti saat Revo datang untuk menyela. Wajah pria itu terlihat memandang remeh Hendra dan Melly.
Revo juga tidak datang sendiri, dia sudah bersama dengan pengacara keluarga. Ini semua adalah bagian dari rencananya.
"Aku sengaja mengajak pengacara kita untuk membacakan suarat wasiat lagi. Karena ada hal yang belum dijelaskan secara jelas," ucap Revo. kemudian pria itu memerintahkan pengacara itu untuk membacakan surat wasiatnya.
Pengacara itu langsung patuh, lalu melangkahkan kakinya tiga langkah lebih dekat ke arah Hendra. Membuak lembaran tipis dokumen wasiat itu, Hendra sedikit curiga karena sebelumnya surat wasiat itu sudah pernah dibacakan. Jika masih ada kekurangan, kenapa pengacara itu tidak membacakannya sejak dulu?
"Kalau ada beberapa kejanggalan yang telah dilakukan oleh Hendra pada suatu hari nanti saat memimpin perusahaan, maka cabut semua fasilitas yang dia punya kecuali rumah. Biarkan Revo yang melanjutkan kalau ada masalah apa pun," jelas pengacara itu sambil melihat dokumen di tangannya.
Hendra yang mendengar hal itu langsung terkejut. Dia membantah kalau tidak pernah melakukan tindakan seperti itu. Karena tidak percaya, Hendra langsung mencabut paksa oleh pengacara. Matanya berbinar saat membaca dokumen itu, Melly yang ada di sana langsung ikut membaca dokumen itu. Dia juga sampai membulatkan mata membacanya.
"Ini tidak mungkin!" teriak Hendra sambil membanting dokumen itu ke lantai.
"Terima saja semua ini. Kau memag sudah tidam pantas lagi di sini, aku yang akan menggangangikanmu," balas Revo dengan memperlihatkan senyumnya.
Hendra dan Melly yang mendengar hal itu merasa sangat kesal. Dia tidak menyangka kalau Revo akan malakukan hal ini dengan sangat bagus seperti ini.
Setelah melakukan banyak perdebatan, akhirnya perusahaan jatuh ketangan Revo. Hendra merasa sangat sakit hati melihat kelakuan kakaknya sendiri, dia sudah menduga kalau sebenarnya Revo sudah merencanakan hal ini semua.
"Papa yang sabar, ya. Ayo kita bertahan untuk menghadapi semua ini," ucap Melly menenangkan suaminya.
Saat ini mereka berdua sudah berada di rumah dan Hendra juga masih diam saja sejak kedatangannya. Melly yang melihat sikap suaminya itu menjadi sangat khawatir, dia bisa tahu bagaimana sekarang perasaanya.
Hendra sendiri tidak mempermasalahkan kalau kakaknya juga ingin menjadi bagian dari perusahaan, tapi cara yang dilalakukannya ini salah.
"Aku tidak menyangka kalau kak Revo melakukan hal ini kepadaku," ujar Hendra sambil memegangi dadanya yag sedikit nyerii.
"Kita harus mencaru cara untuk bisa mngembil alih perusahaan hal itu lagi. Revo tidak boleh memipinnya seperti wasiat dari orang tua kamu, surat wasiat itu hanyalah kebohongan Revo saja." Melly berusaha untuk terus menyemangati suaminya.
Setelah itu, Melly menyarankan Hendra menenangkan dirinya dulu ke kamar. Tapi tiba-tiba saja langkah kaki pria itu memelan, dan tak lama tubuhnya ambruk ke lantai sambil tangannya memegangi dada.
"Papa!"
"Papa!"
Dua teriakan khawatir itu beradal dari Melly dan Nasyira yang baru saja pulang dari kampus. Gadis itu sampai menkatuhkan buku yag sedang ia pegang dan berlari menolong sang papa.
"Papa kenapa?" Melly sangat khawatir, dia membawa kepala suaminya ke pangkuannya.
"Papa kenapa, Ma? Apa yang terjadi?" tanya Nasyira khawatir. Air mata gadis itu tidak bisa tertahankan lagi.
"Tolong telfonkan dokter sekarang juga, dan setelah itu kita bawa papamu masuk ke dalam kamar," perintah Melly.
Nasyira sendiri langsung menurut, gadis itu langsung menelfon dokter keluarga untuk menyuruhnya segera datang. Gadis itu terus berpikir negatif kalau papanya tidak baik-baik saja, tapi Melly selalu meyakinkannya kalau Hendra tidak kenapa-kenapa.
Kedua wanita itu dengan susah payah membawa tubuh lemas Hendra masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di kasur. Nasyira langsung telapak tangan papanya terus untuk menciptakan rasa hangat ditubuhnya.
"Papa sadar, sebentar lagi dokter ke sini untuk memeriksa papa. Jadi tolong sedikit bersabar," ucap Nasyira dengan suara yang bergetar akibat menangis.
Melly yang melihat itu merasa tidak tega, dia takut menceritakan semua permasalahan yang sedang menimpa keluarga mereka kepada Nasyira. Melly takut karena hal ini membuat Nasyira menjadi sedih dan semakin mengkhawatirkan kondisi papanya, karena gadis itu selalu menempel papanya.
Tak lama setelah itu dokter datang, pria itu langsung memeriksa Hendra. Melly dan Nasyira menunggu hasil diaknosis dari dokter itymu, dia sangat berharap kalau Hendra baik-baik.
"Ini adalah tumpukan beberapa stress yang selama ini dia pendam. Dan sepertinya hari ini adalah titip puncak dari semua masalah yang pak Hendra hadapi," jelas dokter itu setelah memeriksa Hendra. "Saya sudah menyuntikkan obat openenang agar paka Hendra bisa beristirahat. Tapi ... sepertinya saya menyampaikan hal ini."
"Hal apa, Dok?" tanya Melly dengan raut wajah yang sangat terkejut.
"Karena serangan jantung, sehingga ada beberapa syaraf yang masih tegang. Hal ini membuat tangan kanannya tidak akan bisa digerakkan, saya tidak tahu sampai kapan hal ini bisa terjadi," jawab dokter itu.
Tangisan Nasyira tidak bisa lagi ditahan olehnya. Gadis itu memeluk sanga mama untuk menumpahkan semuanya. Dia tidak menyangka kalau akan melihat papanya terbaring lemas begini, rasanya dia ingin menggantikam posisi papanya saja.
"Terima kasih, Dok. Sudah mau datang ke sini," ucap Melly, wanita itu terus berusaha untuk tetap tegar saat ini.
"Sama-sama. Ini sudah tugas saya debagai dokter, semoga pak Hendra bisa sembuh. Saya permisi dulu," pamit dokter itu.
Melly hanya menanggapinya dengan anggukan. Setelah itu, kedua wanita itu langsung duduk memdekat ke Herndra.
Melly yang sejak tadi menahan tangisaanya sangat besar, akhirnya runtuh juga. Wanita itu menangis sejadi-jadinya sambil memegang tangan milik Hendra, suaminya.
"Ma, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa papa jadi seperti ini?" tanya Nasyira sambil menatap mata mamanya dalam.
Gadis itu menyesal karena tidak mengetahuinya hal apa pun yang dialami oleh papanya, selama ini dirinya hanya sering pulang sedikit malem. Melly yang mendengar pertanyaan itu langsung merasa bingung harus memjawab seperti apa.
Dan pada akhirnya, Melly pun menceritakan semuanya kepada Nasyira, dia berpikir anaknya itu juga perlu tahu. Saat ini Nasyira bukanlah anak kecil lagi yang tidak bisa mencerna semua permasalah.
Air mata Melly terus keluar saat menceritakan kronologi yang sampai membuat Hendra tidak sadarkan seperto sekarang. Nasyira tentu saja sangat kaget degan semu cerita itu, dia tidak menyangka kalau selama ini papanya mengalami hal yang sangat berat seperti ini.
"Selama ini papa menyimpan masalah itu dari kita. Aku jadi merasa seperti anak yang tidak ada gunanya karena sama kali tidak bisa menjadi tempat curhat papa," ucap Nasyira. Gadis itu lagi-lagi menangis.
Melly yang melihal hal itu langsung memeluk tubuh sang putri. "kita harus lebih kuat, Nak. Karena hanya kita harus bertahan menghadapi ini semua, papamh juga memerlukan bantuan kita," ucap ibu satu anak itu.
Nasyira mengangguk, dia merasa harus menurut kepada mamanya. Karena dia adalah putri satu-satunya yang ada, dia tidak boleh mengecewakan orang tuanya.
* * *
Dua bulan berlalu, kondisi Hendra sama saja. Pria itu belum ada perubahan sama sekali, bahakan kondisinya setiap hari semakin memburuk saja. Mellu dan Nasyira bingung harus bagaimana, mereka bahkan tidak bisa membawa Herndra untuk pergi ke ruma sakit karena tidak ada uang sama sekali.
Bahkan beberapa perhiasan Melly juga sudah dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kehidupam keluarga Hendta berubah total, mereka yang dulu hidup dengan bergelimang harta kini harus hidup secara sederhana dan menghemat.
Nasyira baru saja mendapat notifikasi kalau ada beberapa peunasan yang harus ia bayar. Tapi dia tahu kalau mamanya pasti tidak mempunyai uanh sebanyak itu, diam-diam Nasyira memutuskan untukk mengambil cuti panjang karena tidak ada lagi biaya untuk kuliah.
Gadis itu ingin membantu mamanya untuk bisa mendapatkan uang, untuk membantu biaya pengobatan papanya. Selama ini Nasyira memperhatikan mamanya yang selalu trerlihat seperti bersedih, padahal saat ditanya dia selalu menjawab baik-baik saja.
"Ma, Nasyira mau mencari pekerjaan. Siapa tahu ada pekerjaan, kan lumayan untuk membantu menambah uang berobat papa," ucap Nasyira.
"Itu tidak perlu, Nak. Biar mama aja yang kerja. Kamu kan harus kuliah."
"Saat ini Nasyira ambil cuti panjanh, Ma. Mau biaya dari mana kalau aku masih tetap lanjut, jadi sebaiknya aku ambil cuti aja," jawab Nasyira dengan sendu.
Melly yang mendengar itu hanya bisa diam, dia merasa sangat bersalah karena putrinya harus berhenti kuliah karena permasalah ekonomi ini. Karena ulah Revo, kehidupannya menjadi berubah drastis.