Bab 1

"Ma, aku berangkat dulu," teriak Nasyira yang masih berada di tangga untuk menuju lantai bawah. 

Mahasiswa semester lima itu sedang terburu-buru untuk menghadiri kelas, karena dia bangun sedikit siang karena kemarin malam terlalu lama menonton film. Nasyira masih sedikit repot dengan lipastiknya sambil terus menutuni setiap anak tangga.

Melly yang mendengar teriakan dari putri satu-satunya itu langsung muncul dari arah dapur, dia menatap Nasyira yang lagi-lagi seperti itu. Wanita setengah baya itu langsung melipat tangannya di dada.

"Kamu ini kebiasaan banget ya, makanya kalo tidur itu jangan malem-malem. Udah tau kalau hari ini ada kelas pagi, jadi nggak sarapan lagi," omel Melly.

"Aku bisa sarapan di kantin kampus nanti. Dadah, Mama." Nasyira langsung melenggang pergi begitu saja sambil melambaikan tangan kepada mamanya.

Saat di luar, Nasyira langsung menyalakan mesin mobil dan langsung meninggalkan pekarangan rumah. Untung saja jarak antara kampus dan rumahnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar sepuluh menit dengan menggunakan mobil. Dalam perjalanan Nasyira terus mengingat apa ada tugas yang belum dibawa atau tidak, karena hari ini adalah mata kuliah dosen yang sedikit killer.

Sesampainya di kampus, Nasyira langsung berlari menuju lantai dua untuk masuk ke dalam kelasnya. Gadis itu sangat bersyukur karena kelas belum dimulai, dia langsung duduk di kursi.

"Buru-buru amat," tegur Shani, teman Nasyira.

"Takut telat. Tapi untung aja nggak," jawab Nasyira dengan napas yang memburu.

"Santai aja kali. Kelas jam pertama diundur setengah jam, kamu nggak lihat chat grup?"

Nasyira mengerutkan alisnya, dia langsung merogoh tasnya untuk melihat pinselnya dan ternyata benar kalau ada pemberitahuan kelas diundur setengah jam. "Hah? Tau gini tadi aku nggak buru-buru," ucap Nasyira kecewa.

Shani yang mendengar itu hanya bisa menertawakan temannya itu. 

Setelah itu, Nasyira melihat lagi tugas-tugas yang akan ia kumpulkan nantinya. Dia tidak ingin kalau sampai ada kesalahan karena itu akan mempengaruhi nilainya.

Setelah kelas selesai, Nasyira dan Shani langsung menuju kantin. Mereka berdua berjalan beriringan, Shani memang adalah teman baik Nasyira sejak dulu sampai sekarang. 

"Aku sangat lapar, tadi tidak sempat sarapan," gerutu Nasyira sambil menggandeng tangan Shani.

Gadis dengan rambut keriting itu hanya menggeleng pelan, ini sudah biasa dia dengar saat kelas pagi seperti ini. "Makan apa pun sepuasnya di kantin nanti, sekarang jangan menggerutu terus," balas Shani.

"Iya."

Sesampainya di kantin, Nasyira langsung memesan semua makanam yang dia inginkan. Dia juga tidak melupakan Shani, Nasyira menyuruh temannya itu memesan sesukanya. Dia selalu saja royal kepada siapa saja, itu sudah biasa bagi Nasyira karena anak orang kaya.

Tentu saja keberuntungan bagi Shani bisa berteman dengan Nasyira. Dia selalu dimanjakan oleh temannya, Nasyira juga tidak pernah memperhitungkan apa pun saat mengeluarkan uang kepada Shani.

"Pesan apa pun yang kamu inginkan. Seperti biasa kamu tidak perlu memasalahkan uang," ucap Nasyira sambil menyeruput kuah bakso pesanannya.

* * *

Saat ini Melly sedang sibuk di rumah, karena setelah ini ada teman-teman arisan yang akan berkumpul di rumahnya. Dia tidak mau melewatkan apa pun, jamuan yang disajikan juga terlihat sangat enak dan mahal. Melly tidak mau repot dengan memasak, dia memesan semua masakan itu di restoran mewah.

Saat ini, wanita setengah baya itu sedang menunggu kedatangan temannnya sambil terus memperbaiki riasannya agar terlihat tetap cantik. Melly sangat modis dengan dress brokat hitanm selutut yang ia kenakan, perhiasan yang di kenakan juga tidak terlalu berlebihan tapi harga setiap bijinya sangatlah mahal.

"Halo, Jeng," sapa seorang wanita dari balik pintu rumah Melly.

Melly yang mendengar hal itu langsung membalikkan badannya dan menyambut kedatangan semua temannya dengan senang hati. "Eh, kalian sudah datang semua. Mari silahkan masuk," ucap Melly.

Empat perempuan dengan perhiasan yang sangat mencolok itu langsung masuk, mata mereka liar mentap keseluruh rumah Melly. Mereka semua terlihat sangat terpukau degan semua interior yang ada di rumah besar itu.

"Sendirian aja, Jeng, di rumah?" tanya ibu dengan sanggul besar itu.

"Iya. Si Nasyira juga lagi ada kelas pagi, suami juga sudah berangkat kerja," jawab Melly sambil mendararkan bokongnya di sofa.

Tak lama setelah itu, seorang pelayan datang dengan membawakan minuman dan beberapa cemilan. Semuanya terlihat antusias untuk bisa mencicipi cemilan itu.

"Silahkan dinikmati dulu makanan ringannya. Setelah itu kita beralih ke makanan berat yang sudah aku siapkan di meja makan," ucap Melly mempersilahkan.

Sehari-harinya Melly memang dihabiskan untuk bertemu dengan para teman-temannya itu. Apalagi yang bisa dilakukan oleh Melly selain itu, menjadi seorang pemilik perusahaan besar membuat dirinya mampu malakukan apa pun tanpa memikirkan uang lagi.

Mereka berlima selalu berkumpul di tempat-tempat yang mewah biasanya, tapi untuk kali ini mereka memilih rumah Melly sebagi markas berkumpulnya mereka.

* * *

Disisi lain, Hendra, suami Melly, sedang berusaha untuk mempertahankan perusahaan peninggalan orang tuanya dari kakaknya yang selalu saja ingin merebutnya. Tapi, Hendra selama ini bisa mengendalikan hal itu. Dia menjaga amanah dari orang taunya dulu agar perusahaan tidak jatuh ke tangan kakaknya, karena mereka tahu kalau Revo tidak akan bisa membuat perusahaan itu maju. Sejak kecil Revo memang selalu malas dan iri dengan semua pencapaian Hendra.

Pria berkacamata itu menghembuskan napasnya jengah, hari ini sudah ada dua investor yang mundur dari proyeknya. Entah apa yang menyebabkan hal itu, padahal Hendra sendiri yang bernego dengan mereka saat itu dan investor itu juga terlihat sangat senang degan kerja sama ini, tapi tiba-tiba saja mereka mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas.

Hendra harus menggali masalah ini dengan jelas, jika terus seperti ini nama perusahannya akan diperbincangkan karena banyak investor yang mengundurkan diri. Hendra memijit kepalanya karena lelah memikirkan hal itu.

"Aku harus melakukan apa lagi sekarang ini," monolog Hendra sambil menyenderkan kepalanya ke punggung kursi. Pria itu menatap langit-langit ruang kerjanya, memikirkan cara apa yang harus ia tempuh untuk bisa menggait kembali para investor itu.

Dia sebenarnya ingin sekali melupakan hal ini dengan orang lain, kepada Melly misalnya, tapi dia takut membuat istrinya itu merasa khawatir kepadanya. Hendra tidak suka jika harus membuat orang rumah merasa khawatir, karena masalah pekerjaan itu adalah masalah yang harus ia selesaikan sendiri.

Sebenarnya Hedran sedikit mencurigai permasalahan ini adalah campur tangan dari kakaknya, Revo. Tapi dia tahu kalau saat ini kakanya itu sedang berada di luar kota, entah melakukan apa. Hal itu membuat dirinya tidak bisa menuduhkan hal ini secara langsung kepada Revo, karena tidak ada bukti apa pun untuk bisa membuktikan kalau Revo ada hubungannya dengan masalah ini.

Bab 2

Tawa dari pria paruh baya itu mengisi ruangan itu, aroma minuman beralkohol  menyeruak di indra penciuman. Tapi, lima pria yang ada di sana tampak sangat menikmati menuman itu, beberapa dari mereka sudah terlihat sudah sedikit teler karena enam botol sudah habis mereka teguk.

Revo, kakak dari Hendra itu sedang merayakan keberhasilannya yang telah membuat investor berhasil mundur dari proyek perusahaan adiknya. Dengan dibantu oleh orang-orang kepercayaan dari Hendra, dia bisa berhasil melaksanakan tugasnya. 

"Besok kita harus berpesta lebih besar daripada ini. Karena besok akan menjadi hari kehancuran Hendra," ucap Revo dengan suara yang sedikit serak. Tangan pria itu masih setia memegang gelas yang berisi alkohol.

"Tentu saja, Bos. Besok adalah hari di mana kau akan mengambil seluruhnya dari Hendra," balas pria berkemeja biru, dia adalah pengelolah keuangan di perusahaan Hendra. 

Pria itu memang sudah cukup lama berada dipihak Revo, menurutnya Revo lebih bisa diajak kerja sama ketimbang Hendra yang kaku. Dengan Revo dia bisa menggelapkan beberapa uang perusahaan demi kesenangannya, sedangakan Hendra selalu saja bersikap jujur.

"Besok akan aku traktir kalian semua. Tenang saja, cukup berakting lagi sebentar saja dan kita aka mendapatkan semuanya." Revo mengatakan hal itu dengan percaya diri.

"Aku sudah siap dengan semua berkas-berkas di atas meja itu." Suara itu berasal dari salah satu pengacara yang dulu mebacakan warisan peninggalan dari orang tua Revo. Entah bagaimana caranya, Revo akhirnya bisa membuat pengacara itu berpihak kepadanya dan menuruti setiap keingannya.

"Kau sangat bisa diandalkan," ucap Revo sambil mengacungkan jempolnya.

Setelah itu mereka semua menikamati momen itu, tak lupa mereka juga membahas rencana besok agar berjalan dengan sangat lancar. Yang paling tampak sangat antusias adalah Revo, dia sudah tidak sabar melihat wajah adiknya terkejut dengan semua perbuatanya.

* * * 

Pagi ini, Hendra sudah bersiap berangkat ke perusahaan. Namun, pria itu terlihat sangat lemas karena teruas memikirkan masalah yang ada di perusahaannya.

"Pa ... kenapa makanannya nggak dimakan," tegur Melly saat melihat suaminya sejak tadi diam saja.

"Eh? Papa sedang malas untuk makan sebenarnya," jawab Hendran.

Melly menatap mata suaminya dalam, dia bisa melihat kalau ada yang disembunyikan oleh suaminya. Akhirnya Melly berdiri dari duduknya dan menyentuh bahu Hendra dengan lembut. "Papa sedang ada masalah apa? Sepertinya sedang memikirkan sesuatu," tanya Melly.

Hendra menunjukkan senyum palsunya, pria itu menyentuh balik tangan istrinya yang ada di bahunya. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit lelah karena pekerjaan yang sangat menumpuk di perusahaan," jawab Hendra beralibi.

"Benarkah?" tanya Melly lagi memastikan. "Kalo ada sesuatu coba ceritakan ke aku, mungkin dengan seperti itu bisa sedikit mengurangi beban pikiran papa."

"Mama tidak perlu khawatir, ini bukan masalah besar," jawab Hendra, "sepertinya papa harus berangkat sekarang juga karena masih banyak yang harus dikerjakan di kantor." Pria itu berdiri dari kursinya.

"Makanannya tidak di makan?"

"Tidak. Nanti papa bisa makan di kantor saja."

"Baiklah. Tapi jangan sampai lupa makan ya," pesan Melly.

Hendra mengangguk sebagai jawaban, setelah itu dia berpamitan untuk pergi. Melly sebenarnya sedikit kahwatir dengan suaminya, meskipun Hendra tadi menjawab kalau hanya masalah kantor biasa. Tapi Melly menangkap hal lainnya, ada banyak hal lainnya yang sedang disembunyikan oleh suaminya.

Sepeninggal Hendra, Melly menyesal karena tadi kenapa dia tidak membekali suaminya makanan. Wanita itu akhirnya memutuskan untuk pergi mengantarkan makana untuk Hendra.

*

Hendra baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran. Dahinya sedikit berkerut saat melihat beberapa pemegang saham sedang berkumpul di depan kantornya. 

"Lihat! Hendra sudah datang." Suara itu berasal dari salah satu kerumunan orang itu. Detik berikutnya semua atensi semuanya tertuju kepada Hendra, setelah itu semua kangkah mendekat ke arahnya.

Hendra bisa melihat wajah marah dari semua orang itu, dia langsung menghentikan langkahnya. "Ada apa ini?" tanya Hendra bingung.

"Dasar pria brengsek! Ke mana kau bawa uang kami?"

"Kami sangat berharap penuh pada perusahaanmu, tapi uangnya malah kau korupsi dan sekarang perusahaanmu akan mengalami kebangkrutan!"

"Kembalikan uang kami!"

Teriakan-teriakan itu terus terdengar di pendengaran Hendra, tapi tubuh pria itu sedang diselamatkan oleh security untuk dibawa masuk ke dalam gedung. Hendra bingung dengan tuduhan yang dilontarkan oleh para pemegang saham itu.

"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Hendra.

Pengelolah keuangan langsung maju ke depan, dia membawa sebuah bukti laporan yang menyatakan kalau selama ini Hendra sudah melakukan penggelapan uang perusahaan, dan imbasnya kepada pemegang saham tidak mendapatkan keuntungan.

"Apa-apaan ini! Aku tidak pernah melakukan hal ini, laporan ini pasti salah! Ada yang menfitnahku!" teriak Herdra histeris.

Bersamaan dengan itu, suara benda jatuh terdengar menggema. Melly sangat kaget mendengar hal itu, sampai-samapi rantang yang sedang ia bawa langsung jatuh. Semua atensi orang yang ada di sana langsung tertuju pada Melly, tak terkecuali Hendra. Dia snagat terkejut dengan kedatangan istrinya.

"Hendra tidak mungkin melakukan ini semua. Kalian semua salah jika harus menuduhnya seperti ini, karena selama ini dia menjalankan perusahaan ini dengan sebaik mungkin," ucap Melly membela. Wanita itu kini sudah berdiri di samping sang suami dengan menahan gejolak amarah.

"Ini semua ti--"

"Tapi semua bukti sudah mengarah kepada suamimu." Ucapan Melly harus terhenti saat Revo datang untuk menyela. Wajah pria itu terlihat memandang remeh Hendra dan Melly.

Revo juga tidak datang sendiri, dia sudah bersama dengan pengacara keluarga. Ini semua adalah bagian dari rencananya.

"Aku sengaja mengajak pengacara kita untuk membacakan suarat wasiat lagi. Karena ada hal yang belum dijelaskan secara jelas," ucap Revo. kemudian pria itu memerintahkan pengacara itu untuk membacakan surat wasiatnya.

Pengacara itu langsung patuh, lalu melangkahkan kakinya tiga langkah lebih dekat ke arah Hendra. Membuak lembaran tipis dokumen wasiat itu, Hendra sedikit curiga karena sebelumnya surat wasiat itu sudah pernah dibacakan. Jika masih ada kekurangan, kenapa pengacara itu tidak membacakannya sejak dulu?

"Kalau ada beberapa kejanggalan yang telah dilakukan oleh Hendra pada suatu hari nanti saat memimpin perusahaan, maka cabut semua fasilitas yang dia punya kecuali rumah. Biarkan Revo yang melanjutkan kalau ada masalah apa pun," jelas pengacara itu sambil melihat dokumen di tangannya.

Hendra yang mendengar hal itu langsung terkejut. Dia membantah kalau tidak pernah melakukan tindakan seperti itu. Karena tidak percaya, Hendra langsung mencabut paksa oleh pengacara. Matanya berbinar saat membaca dokumen itu, Melly yang ada di sana langsung ikut membaca dokumen itu. Dia juga sampai membulatkan mata membacanya.

"Ini tidak mungkin!" teriak Hendra sambil membanting dokumen itu ke lantai.

"Terima saja semua ini. Kau memag sudah tidam pantas lagi di sini, aku yang akan menggangangikanmu," balas Revo dengan memperlihatkan senyumnya.

Hendra dan Melly yang mendengar hal itu merasa sangat kesal. Dia tidak menyangka kalau Revo akan malakukan hal ini dengan sangat bagus seperti ini.

Bab 3

Setelah melakukan banyak perdebatan, akhirnya perusahaan jatuh ketangan Revo. Hendra merasa sangat sakit hati melihat kelakuan kakaknya sendiri, dia sudah menduga kalau sebenarnya Revo sudah merencanakan hal ini semua.

"Papa yang sabar, ya. Ayo kita bertahan untuk menghadapi semua ini," ucap Melly menenangkan suaminya.

Saat ini mereka berdua sudah berada di rumah dan Hendra juga masih diam saja sejak kedatangannya. Melly yang melihat sikap suaminya itu menjadi sangat khawatir, dia bisa tahu bagaimana sekarang perasaanya. 

Hendra sendiri tidak mempermasalahkan kalau kakaknya juga ingin menjadi bagian dari perusahaan, tapi cara yang dilalakukannya ini salah.

"Aku tidak menyangka kalau kak Revo melakukan hal ini kepadaku," ujar Hendra sambil memegangi dadanya yag sedikit nyerii.

"Kita harus mencaru cara untuk bisa mngembil alih perusahaan hal itu lagi. Revo tidak boleh memipinnya seperti wasiat dari orang tua kamu, surat wasiat itu hanyalah kebohongan Revo saja." Melly berusaha untuk terus menyemangati suaminya.

Setelah itu, Melly menyarankan Hendra menenangkan dirinya dulu ke kamar. Tapi tiba-tiba saja langkah kaki pria itu memelan, dan tak lama tubuhnya ambruk ke lantai sambil tangannya memegangi dada.

"Papa!"

"Papa!"

Dua teriakan khawatir itu beradal dari Melly dan Nasyira yang baru saja pulang dari kampus. Gadis itu sampai menkatuhkan buku yag sedang ia pegang dan berlari menolong sang papa.

"Papa kenapa?" Melly sangat khawatir, dia membawa kepala suaminya ke pangkuannya.

"Papa kenapa, Ma? Apa yang terjadi?" tanya Nasyira khawatir. Air mata gadis itu tidak bisa tertahankan lagi.

"Tolong telfonkan dokter sekarang juga, dan setelah itu kita bawa papamu masuk ke dalam kamar," perintah Melly. 

Nasyira sendiri langsung menurut, gadis itu langsung menelfon dokter keluarga untuk menyuruhnya segera datang. Gadis itu terus berpikir negatif kalau papanya tidak baik-baik saja, tapi Melly selalu meyakinkannya kalau Hendra tidak kenapa-kenapa.

Kedua wanita itu dengan susah payah membawa tubuh lemas Hendra masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di kasur. Nasyira langsung telapak tangan papanya terus untuk menciptakan rasa hangat ditubuhnya.

"Papa sadar, sebentar lagi  dokter ke sini untuk memeriksa papa. Jadi tolong sedikit bersabar," ucap Nasyira dengan suara yang bergetar akibat menangis.

Melly yang melihat itu merasa tidak tega, dia takut menceritakan semua permasalahan yang sedang menimpa keluarga mereka kepada Nasyira. Melly takut karena hal ini membuat Nasyira menjadi sedih dan semakin mengkhawatirkan kondisi papanya, karena gadis itu selalu menempel papanya.

Tak lama setelah itu dokter datang, pria itu langsung memeriksa Hendra. Melly dan Nasyira menunggu hasil diaknosis dari dokter itymu, dia sangat berharap kalau Hendra baik-baik.

"Ini adalah tumpukan beberapa stress yang selama ini dia pendam. Dan sepertinya hari ini adalah titip puncak dari semua masalah yang pak Hendra hadapi," jelas dokter itu setelah memeriksa Hendra. "Saya sudah menyuntikkan obat openenang agar paka Hendra bisa beristirahat. Tapi ... sepertinya saya menyampaikan hal ini."

"Hal apa, Dok?" tanya Melly dengan raut wajah yang sangat terkejut.

"Karena serangan jantung, sehingga ada beberapa syaraf yang masih tegang. Hal ini membuat tangan kanannya tidak akan bisa digerakkan, saya tidak tahu sampai kapan hal ini bisa terjadi," jawab dokter itu.

Tangisan Nasyira tidak bisa lagi ditahan olehnya. Gadis itu memeluk sanga mama untuk menumpahkan semuanya. Dia tidak menyangka kalau akan melihat papanya terbaring lemas begini, rasanya dia ingin menggantikam posisi papanya saja. 

"Terima kasih, Dok. Sudah mau datang ke sini," ucap Melly, wanita itu terus berusaha untuk tetap tegar saat ini.

"Sama-sama. Ini sudah tugas saya debagai dokter, semoga pak Hendra bisa sembuh. Saya permisi dulu," pamit dokter itu.

Melly hanya menanggapinya dengan anggukan. Setelah itu, kedua wanita itu langsung duduk memdekat ke Herndra.

Melly yang sejak tadi menahan tangisaanya sangat besar, akhirnya runtuh juga. Wanita itu menangis sejadi-jadinya sambil memegang tangan milik Hendra, suaminya. 

"Ma, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa papa jadi seperti ini?" tanya Nasyira sambil menatap mata mamanya dalam.

Gadis itu menyesal karena tidak mengetahuinya hal apa pun yang dialami oleh papanya, selama ini dirinya hanya sering pulang sedikit malem. Melly yang mendengar pertanyaan itu langsung merasa bingung harus memjawab seperti apa.

Dan pada akhirnya, Melly pun menceritakan semuanya kepada Nasyira, dia berpikir anaknya itu juga perlu tahu. Saat ini Nasyira bukanlah anak kecil lagi yang tidak bisa mencerna semua permasalah. 

Air mata Melly terus keluar saat menceritakan kronologi yang sampai membuat Hendra tidak sadarkan seperto sekarang. Nasyira tentu saja sangat kaget degan semu cerita itu, dia tidak menyangka kalau selama ini papanya mengalami hal yang sangat berat seperti ini.

"Selama ini papa menyimpan masalah itu dari kita. Aku jadi merasa seperti anak yang tidak ada gunanya karena sama kali tidak bisa menjadi tempat curhat papa," ucap Nasyira. Gadis itu lagi-lagi menangis.

Melly yang melihal hal itu langsung memeluk tubuh sang putri. "kita harus lebih kuat, Nak. Karena hanya kita harus bertahan menghadapi ini semua, papamh juga memerlukan bantuan kita," ucap ibu satu anak itu.

Nasyira mengangguk, dia merasa harus menurut kepada mamanya. Karena dia adalah putri satu-satunya yang ada, dia tidak boleh mengecewakan orang tuanya.

* * *

Dua bulan berlalu, kondisi Hendra sama saja. Pria itu belum ada perubahan sama sekali, bahakan kondisinya setiap hari semakin memburuk saja. Mellu dan Nasyira bingung harus bagaimana, mereka bahkan tidak bisa membawa Herndra untuk pergi ke ruma sakit karena tidak ada uang sama sekali.

Bahkan beberapa perhiasan Melly juga sudah dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kehidupam keluarga Hendta berubah total, mereka yang dulu hidup dengan bergelimang harta kini harus hidup secara sederhana dan menghemat.

Nasyira baru saja mendapat notifikasi kalau ada beberapa peunasan yang harus ia bayar. Tapi dia tahu kalau mamanya pasti tidak mempunyai uanh sebanyak itu, diam-diam Nasyira memutuskan untukk mengambil cuti panjang karena tidak ada lagi biaya untuk kuliah.

Gadis itu ingin membantu mamanya untuk bisa mendapatkan uang, untuk membantu biaya pengobatan papanya. Selama ini Nasyira memperhatikan mamanya yang selalu trerlihat seperti bersedih, padahal saat ditanya dia selalu menjawab baik-baik saja.

"Ma, Nasyira mau mencari pekerjaan. Siapa tahu ada pekerjaan, kan lumayan untuk membantu menambah uang berobat papa," ucap Nasyira.

"Itu tidak perlu, Nak. Biar mama aja yang kerja. Kamu kan harus kuliah."

"Saat ini Nasyira ambil cuti panjanh, Ma. Mau biaya dari mana kalau aku masih tetap lanjut, jadi sebaiknya aku ambil cuti aja," jawab Nasyira dengan sendu.

Melly yang mendengar itu hanya bisa diam, dia merasa sangat bersalah karena putrinya harus berhenti kuliah karena permasalah ekonomi ini. Karena ulah Revo, kehidupannya menjadi berubah drastis.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED