Bab 1

"Untuk sementara ini kamu tinggal di sini. Aku akan sering datang, sekedar melihat keadaanmu. Ini, uang bulanan untuk kamu, pakai sesuka hati… Anggap saja sebagai bentuk tanggung jawabku terhadapmu, mengerti?"

Diana mengangguk. Walau rasa hati sangat tidak enak, tetapi dia harus menerimanya sejumlah uang tersebut tanpa berkata banyak selain, "Terima kasih," ucapnya dengan nada lembut hampir tidak terdengar.

"Hm. Baik, aku akan pergi. Jaga dirimu baik-baik, ya."

"Iya."

Diana menatap punggung lelaki bertubuh tinggi yang perlahan hilang oleh pintu yang tertutup.

Diana menghela napas, huh… Hari yang cukup melelahkan. Tubuh perempuan itu terjatuh di atas sofa, dan dia menelusuri ruang tengah di dalam apartement yang tidaklah luas, namun cukuplah untuk dirinya sendiri.

Pemikirannya flashback ke masa tiga jam yang lalu.

Dimana Diana berada di kamar kost miliknya tepat di dalam kamar mandi.

Dia membelalakkan mata, antara terkejut sebab tidak percaya akan apa yang dilihatnya.

Dua garis merah.

Jantung Diana memompa sangat kuat. Mendadak ia lemas, seolah seluruh tenaganya terkuras dalam sekejap.

Alhasil tes pack yang memberikan kenyataan sebenar itu terjatuh oleh tangannya yang bahkan tidak bisa menahan benda pipih itu supaya tidak jatuh ke lantai kamar mandi yang dingin dan lembab tersebut.

Dia merasa dunianya sangat hancur!

Diana memang tidak lagi sekolah.

Ia sudah tamat walau hanya tamatan SMA.

Tetapi dia bekerja di sebuah toko dimana pastinya akan menganggapnya gadis yang sangat buruk apalagi mengingat karyawan di sana sangat kritis soal masalah hamil di luar nikah.

Beberapa minggu lalu, dia terbangun di ranjang seorang pria dan menemukan dirinya sudah kehilangan kesucian yang tidak seharusnya hilang sekarang.

Dia belum menikah, dan sungguh… Dia bukan wanita murahan yang mau saja dijual harga dirinya walau masih perawan.

Terakhir kali diingatnya, ia pergi bersama temannya ke sebuah bar untuk menemani sang teman mencari pacarnya yang suka ke tempat itu. Namun ia malah berakhir berada di sebuah kamar dengan seorang pria yang tidak diketahui siapa bahkan latar belakang sang pria pun ia tidak tahu.

Dalam kesedihan, ia mengungkapkan semua perasaannya yang hancur tersebut dengan air mata sampai tersengal-sengal.

Beruntung pria itu datang dan segera menenangkannya. "Aku akan tanggung jawab dan sebagai buktinya, kamu bisa beri alamat tempat tinggalmu untuk membuatku bisa memperhatikan gerak-gerikmu. Tenang saja. Aku tidak akan berkhianat dengan ucapanku sendiri."

Dan Diana memberikannya walau semula Diana menolak dengan keras tetapi ketika melihat kesungguhan dari pria tidak dikenalnya tersebut, ia luluh.

Tepat setelah Diana mengetahui dirinya hamil, pria itu mendatangi rumah kosannya dan langsung menawarkan Diana tinggal untuk sementara ini di sebuah apartemen yang tentunya memiliki letak yang cukup jauh bahkan sekarang Diana sendiri sudah berada di kota lain demi membuat dirinya nyaman dari semua gosipan orang yang mengenal dirinya.

Kruk. Kruk. Krukk.

Suara perut perempuan itu bahkan sudah berbunyi. Sudah hampir dua jam dia duduk terkadang sekedar berjalan-jalan untuk mengenal ruangan tempat tinggal barunya tersebut.

Mengingat ada juga perkataan pria tadi yang berbicara, "Aku melarangmu melakukan pekerjaan berat." maka Diana merasa bosan sendiri.

Diana menatap perut datarnya, sedikit senyum paksa ditunjukkannya.

Karena sebenarnya perempuan itu tidak percaya, ada nyawa lain tumbuh di dalam dirinya.

"Kamu, lapar?" dia berbicara seolah ada orang disekitarnya. "Yah sudah. Ayo, kita makan," perempuan itu perlahan bangkit dari duduk dan mendatangi dapur.

"Ayo kita lihat, apa saja yang bisa dimakan disini," mengingat pria itu juga berkata jika di apartemen tersebut sudah terisi beberapa persediaan, maka Diana melihat terlebih dahulu, apakah benar ucapan pria itu.

Dan ternyata benar.

Diana melihat banyak sekali persediaan makanan. Sayur mayur dan beberapa wadah berisi ikan seger di dalam kulkas, membuat senyuman perempuan itu sangatlah lebar seolah mendapatkan hadiah besar.

Dia mulai memasak makanan yang cukup enak melalui beberapa bahan di dalam kulkas.

Aroma makanan menyeruak ke seluruh penjuru ruangan apartemen… Dia sangat bahagia.

Diana memang memiliki skil memasak yang cukup baik.

Namun hidupnya yang serba pas-pasan setelah dirinya pindah ke kota tempat kostnya berada membuat perempuan itu memilih irit dalam segala hal termasuk makanan.

Dimana Diana lebih sering memakan nasi goreng terkadang telur ceplok, sekarang ia tampaknya bisa lah royal dalam makanan.

Apalagi ketika Diana melihat jumlah lembaran uang berwarna merah tersebut sangat banyak, Diana pikir lembaran uang itu bukanlah lembaran uang untuk belanja sebulan.

Tetapi setahun lebih untuknya mungkin bisa.

"Tampaknya laki-laki itu orang kaya," Diana bahkan menyimpulkan semua atas segala yang dialaminya dengan satu kalimat.

***

Di sisi lain.

Mobil yang dikendarai Dariel, pria yang sempat bersama Diana itu memasuki perumahan elite yang mayoritasnya orang berpenghasilan banyak dimana salah satunya Dariel sendiri.

Rumah nomor 3 dari pintu masuk, sama besar dan luasnya dengan rumah lainnya… Dariel menjalankan mobilnya masuk ke garasi.

Seorang wanita tampak menunggu di teras rumah. Senyuman mengembang teramat lebar, saat matanya mengekor setiap pergerakan Dariel, pria yang tak lain adalah suaminya sendiri dari kejauhan.

"Mas… Kamu sudah pulang?" ucap wanita itu tersenyum lebar menyambut kedatangan suaminya.

"Hm, ya.. Aku sudah pulang," namun hanya dijawab simple terkesan datar.

Bibir wanita itu seketika mayun. "Iiiihh, kamu kenapa sih, Mas! Aneh banget satu bulan ini," Merly, wanita itu bergelayut manja di lengan suaminya.

Namun Dariel sama sekali tidak merespon dengan lembut. Dariel bahkan mengabaikannya. "Aku cape. Mau istirahat, kamu jangan manja kayak gini, bisa!?" diakhiri dengan bentakan.

Lantaran Dariel kesal dengan sikap Merly yang memang sudah sering begitu, namun bagi Dariel sekarang sangatlah aneh dan menyebalkan. Dariel melepas sentuhan dari istrinya tersebut, Ia melangkah mendahului istrinya.

"Kamu punya wanita lain di belakang aku, ya!" tuduh Merly asal namun ungkapan itu berhasil membuat tubuh Dariel seketika terpaku.

Bersambung…

Bab 2

Dariel berbalik badan kembali menghadap istrinya. "Jangan asal nuduh aja kamu, ya!" ucap Dariel tidak terima.

"Siapa yang nuduh!?" sangkal Merly merasa aneh dengan sikap suaminya itu. "Aku hanya tanya, kamu ada perempuan lain ga? Kamu langsung marah… Jangan-jangan benar ya, ada wanita lain selain aku di hati kamu!" Merly menunjuk dada bidang suaminya.

Dariel bungkam untuk sementara waktu. Pria itu berkata memaki dirinya sendiri.

Ya ampun Darieeelll kenapa kamu jadi mudah marah sih! Padahal bisa aja kamu tidak emosi dan terus sembunyikan rahasiamu dengan gadis malang itu sampai waktunya telah tiba. Aduh, sekarang Merly jadi curiga kan? Bodoh, bodoh… Dariel bodoh!

Merly yang melihat kebungkaman suaminya segera berkata. "Kalau benar ada, siapa perempuan itu Mas."

Jawab jujur atau tidak?

Bahkan untuk hal sesimpel itu Dariel masih bertanya. Dengan mencoba tegar ia berkata, "Memangnya kalau memang aku ada perempuan lain, apa yang akan kamu buat?"

Merly seketika terdiam seperti Dariel tadi pada Merly. "Hm, kalau benar kamu ada perempuan lain, aku akan hajar dia dan ga akan biarin dia masuk ke rumah."

Sadis. Itulah kata yang terbesit dalam pikiran Dariel saat ungkapkan Merly usai di tangkapnya. "Kenapa?" namun ia masih berusaha tidak terlalu ketahuan pada istrinya yang paling ia cintainya ini.

"Ya karena rumah ini milik aku, aku ratunya di sini, tiada seorang pun yang boleh ambil hak itu dari aku, sampai kapanpun!" Merly berkata dengan membangga-banggakan dirinya sendiri.

Lalu perempuan itu mendekat dan memeluk suaminya sendiri, menyandarkan pipinya ke dada bidang suaminya, "Tapi semua itu sama sekali ga akan pernah terjadi kan? Kamu cinta aku kan, Mas?" ia masih berusaha menyakinkan diri atas perdebatan cukup singkat tersebut.

"H-hm, iya. Aku cinta kamu kok," jawab Dariel tampak ragu.

***

Hari sudah larut malam.

Masih di rumah besar milik Dariel dan Merly, sepasang suami istri itu baru melakukan kegiatan suami istri mereka dengan penuh kenikmatan tiada tara.

Dariel di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, sedang Merly terkapar lemas, dan seperti biasa suaminya selalu memuaskan dirinya yang senang dengan hal berbau s*x.

Aneh.

Satu kata itu yang terbesit dalam kepala Merly.

Tidak biasanya.

Kemudian dilanjutkan dengan kata yang lain. Ya, aneh dan tidak seperti biasanya.

Merly bingung. Biasa, Mas Riel sama sekali ga pernah mandi setelah bercinta. Sekarang… Merly tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya itu.

Selalu, keanehan suaminya semakin menjadi. Membuat terkadang Merly berpikir kalau sang suami memiliki wanita lain dan rasanya ia tidak merelakan suaminya menjadi milik orang lain selain diriny.

"Sepertinya aku perlu ngawasi pergerakan suamiku," dia memutuskannya sendiri.

***

Huek!

Huek!

Huek!

Di dalam kamar mandi di apartemen tempat Diana berada, tepat pukul 02.00 subuh ia terbangun hanya karena merasa perutnya seolah berguncang di dalam sana.

Rasa tidak enak akan semua bau-bauan sungguh membuat Diana sangat tersiksa dengan keadaannya kini.

Walau hanya terjadi sebanyak tiga kali hingga detik ini, tetapi ia begitu lemas.

Terutama ketidak adaannya Dariel–ayah dari anak yang tengah di kandung Diana itu membuat Diana sangat kesepian sekalipun semua fasilitas diperlengkapi.

Setelah membersihkan mulut dan membasuh wajah, perempuan itu memasuki kamarnya kembali.

Dia menatap satu foto yang dipajang berbingkai daun ukiran di setiap sudutnya, terdapat gambar wajah tampan Dariel yang terpajang.

Senyuman terukir di sudut bibirnya, ntah mengapa melihat wajah Dariel dia sangat tenang.

Bahkan tanpa sadar, dia menyentuh permukaan perutnya yang diselipkan telapak tangannya itu.

Ada segelintir perasaan kehangatan dirasakannya di dalam hati tanpa ia ketahui alasan jelasnya.

Kamar ini kamar Dariel. Semua perlengkapan milik lelaki itu masih saja lengkap di sini.

Bahkan aroma mint lelaki itu masih tercium begitu jelasnya walau sudah sangat lama sejak pernikahan dengan Merly, 5 tahun yang lalu diselenggarakan dan Dariel sudah jarang tidak datang setidaknya menginap.

Bayangan mengenai rupa Dariel yang ntah mengapa malah dirindukan Diana membuat Diana kembali tenang dengan suasana kamar milik Dariel itu.

***

Kembali kepada Dariel.

Dariel masih berada di dalam kamar mandi, lelaki itu menggosok seluruh tubuhnya dengan rupa wajah yang tampak tidak suka, alias jijik.

Ntah mengapa ada dorongan dalam diri supaya tidak melakukan kewajiban tersebut walau kepada istrinya sendiri, Merly.

Dariel seolah sangat kotor setelah melakukannya dengan Merly. Tidak peduli jika Merly adalah wanita pertama yang disentuhnya seumur hidupnya.

Justru bayangan mengenai Diana yang terbesit dalam kepala Dariel.

Karena memang, pria itu selalu memikirkan Diana selama beberapa Minggu ini.

Bagaimana nasip Diana, apa yang dimakan Diana, siapa orang yang bergaul dengan Diana, bahkan sampai titik terkecil dari seseorang, kapan Diana keluar rumah dan kenakan pakaian apa, Dariel teliti semuanya lewat mata-mata miliknya yang sudah sangat lama tidak digunakannya.

Ntah itu cinta atau rasa bersalah atas tindakannya yang sama sekali tidak bermoral itu.

Pokoknya semua tentang Diana, Diana dan Diana. Banyak alasan dibuatnya kala sang istri menginginkannya datang ke rumah dan menikmati setidaknya kebersamaan mereka sebelum akhirnya Dariel kembali bekerja.

Masuk pagi, pulang pagi, kadang tiga hari kemudian baru ingat rumah

Dariel tahu istrinya tersebut geram.

Namun Merly hanya bisa sadar jika suami tidak kerja, istri makan apa?

Sementara Merly tipe wanita pemalas, hanya ingin memiliki uang tanpa bekerja.

Dan celah sempit itu sering dijadikan Dariel sebagai lubang untuk menolak keinginan Merly sebesar apapun harapan wanita itu.

Bersambung…

Bab 3

Tiga hari.

Waktu yang cukup lama bagi Diana karena perempuan itu hanya mengurung diri di rumah tanpa keluar untuk hal yang tidak jelas.. Cukup berjemur di terik matahari pagi, kemudian merapikan rumah, sekedar memastikan semuanya rapih, sekalian mengisi waktu kosong yang mana Diana sendiri tidak tahu sampai kapan hal itu akan berakhir.

Diana, setelah mengemas rumah, perutnya tiba-tiba lapar sementara dua jam yang lalu baru saja ia memakan cemilan.

Jam baru saja menunjukkan pukul 10 pagi, tiba-tiba Diana ingin sekali makan dan ada saja dorongan jika ia harus membuat makanan dalam porsi yang banyak.

Sejam, adalah waktu yang cukup dihabiskannya di dapur. Semua makanan sudah siap, dibuatnya, dia menatanya dengan baik di atas meja makan.. Menutupnya dengan tudung saji, baru saja ingin melangkah keluar dari dapur, ketukan bersamaan dengan pencetan bel oleh orang yang tidak diketahui berbunyi saling bersautan.

"Siapa?" tanyanya penasaran sebelum membuka pintu.

Takutnya orang di balik pintu itu ada orang yang berbahaya, Diana tidak mau melukai anaknya yang masih di dalam kandungan walau untuk saat ini Diana masih saja tidak bisa menerima keadaannya dengan tangan terbuka.

"Aku," suara pria yang selama tiga hari ini ntah menatap terus terbayang-bayang dalam ingatannya.

Diana sontak melompat girang tanpa berusuara sama sekali.

"Diana?" tanya Dariel bingung

Setelah ungkapan singkatnya tadi, Dariel belum mendapatkan respon apapun dari Diana yang berada di dalam ruangan.

Dariel memang memiliki kunci duplikat atas apartement yang diberikannya untuk tempat tinggal sementara Diana, tetapi demi membuat wanita itu tetap tenang, Dariel berpikir lebih baik berlaku sopan dahulu terhadap Diana hingga hati Diana kembali pulih dan kemungkinan ia akan bisa dengan mudahnya mendekati wanita itu.

Tidak memiliki tujuan lain, hanya memastikan anaknya yang masih bertumbuh dalam rahim wanita itu baik-baik saja dengan mengontrol semua kelakuan Diana lewat kamera pengawas yang diletakkannya di tempat simple tapi Diana pasti tidak akan curiga.

Setelah sadar akan kelakuannya, Diana berhenti dari tingkah terbilang konyolnya itu.

"Aku kenapa sih!" Diana bergumam, merasa aneh dengan dirinya sendiri. ‘‘Seperti anak kecil saja…’’ gumamnya kemudian.

Diana segera membukakan pintu, dikala melihat rupa wajah pria yang selalu terbayang dalam ingatannya itu, Diana hanya mampu tersenyum dan menahan diri walau gejolak hati mengatakan Diana harus memeluk pria itu.

Padahal Diana sendiri paling anti berdekatan dengan pria karena sifatnya yang terlalu waspada. Namun satu kekhilafan, dia jatuh, terjerumus dalam hal yang tidak pernah diperkirakannya sejak dahulu, hamil di luar nikah.

"Kamu tidak apa kan?" tanya lelaki itu sembari menempelkan punggung tangannya di kening Diana.

Wajah Diana seketika mendadak panas. Tidak bisa menahan semua keinginannya tersebut, Diana segera menyambar tubuh Dariel dan memeluknya. Hidung perempuan itu mengendus tubuh lelaki itu… Aroma mint dari pewangi pakaian yang digunakan Dariel sungguh menenangkan hatinya.

Namun Dariel yang mendapatkan sambaran pelukan dari wanita yang belum menjadi istrinya tersebut, mendadak tegang, dia tidak tahu mau lakukan apa. Pikirannya saling berdebat di sana. Ada apa dengan Diana? Dia aneh sekali. Sekiranya begitulah ungkapan hatinya.

"D-Diana…" ucap Dariel mencoba kembali sadar dengan menstabilkan semua saraf otaknya yang sudah mulai berpikir aneh itu.

Diana yang mendapati dirinya sungguh kelewatan segera melepas pelukan yang diberikannya tersebut dan menunduk, "Maafkan aku," ucapnya dengan bersungguh-sungguh.

Dariel mengangguk. "Tidak apa. Hm, apa ada yang terjadi selama tiga hari aku tidak datang kemari?"

Diana menggeleng. "Tidak. Semuanya baik-baik saja."

Dariel mengangguk, dia berjalan mendekati sofa. "Sangat nyaman, jauh dari kemarin," gumam pria itu menunjukkan senyum kecilnya.

Diana menatap pria itu dengan berpikir. 'Aku kenapa bisa begini… Aneh, rasanya ingin dekat terus dengan pria ini. Padahal dia sudah jahat padaku. Ambil kesucianku, buat aku hamil sampai keseringan muntah padahal makanan yang kumakan enak-enak langsung main keluar dari mulut bukan dari bawah sana. Apa yang terjadi padaku.

Disaat dirinya bertanya begitu di dalam hati, lagi-lagi ada keinginan untuk membuatkan pria itu makan. Tanpa herpiki panjang, Diana mendatangi dapur dan mulai menyendok lauk, sayur, dan nasi yang dimasaknya tadi ke dalam wadah, piring. Tak lupa gelas berisi air minum.

Aroma yang seketika membuat perut Dariel yang melupakan makan dari istrinya tadi sewaktu di rumah itu seketika bergejolak.

"Apa itu?" tanyanya penasaran, sementara ia sudah tahu sendiri jawabannya.

"Hm, ini. Aku ada buat makanan. Kalau kamu belum makan silahkan, kalau sudah… Aku akan kembalikan semua ke tudung saji," ucap Diana terus terang saja.

"Ah, tidak. Aku lapar. A-aku akan terima."

Senyuman terukir dengan lebarnya dikala Dariel berucap begitu padanya.

"Baik, ini untukmu," Diana meletakkan benda yang semula berada di kedua belah tangannya itu ke atas meja di depan sofa.

Dariel menyantap makanan tersebut dengan senang hati, seolah dirinya sama sekali tidak pernah makan bahkan di rumahnya bersama sang istri, apapun yang dihidangkan sang istri di rumah akhir-akhir ini selalu diabaikannya.

***

Di sisi lain.

Seorang wanita dengan geram menatap hal yang didengarnya lewat pengeras suara di dalam mobil yang ditumpanginya.

"Arghhh, ternyata benar dugaanku, suamiku punya wanita lain!" ucapnya geram.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED