Bab 1

Jam dinding tua di kamar mayat RS. Sarjito berdentang dengan keras sebanyak 12 kali, sudah tepat pukul 24.00. Dokter Jacob baru saja menyelesaikan otopsi jenasah korban pembunuhan kiriman dari Kantor Kepolisian Daerah Depok. Dia sudah terbiasa dengan segala bentuk kekejaman manusia terhadap sesamanya.

Pekerjaannya ini mungkin adalah pilihan yang sangat anti mainstream, rekan-rekan seprofesinya paling alergi dengan istilah 'kamar mayat' yang menyeramkan. Tapi pikir Jacob, bila dia ingin menjadi dokter anak atau dokter bedah atau dokter obsgyn atau semacamnya, stok dokter di profesi itu sudah sangat melimpah. Dia ingin menjadi sosok yang lebih bermanfaat di posisi yang tidak diminati rekan-rekan sejawatnya.

Kedua orang tuanya bekerja sebagai dosen di FKH UGM, sama-sama bergelar profesor, Profesor James Peter Indrajaya dan Profesor Gwendolyn Laura Carson. Saudara kembar non identiknya, Joshua Carson Siregar pun seorang profesor dan dia bekerja sebagai dosen patologist di FKH UGM. Jacob ingin sesuatu yang berbeda dari profesi keluarganya.

Malam ini benar-benar melelahkan, dia ingin cepat pulang setelah membereskan alat-alat pembelah tubuh manusia yang tergeletak di meja otopsi.

"Tuan ... EHMM ...TUAN!" seru suara wanita di ruang mayat itu memanggil Jacob.

Bulu kuduk Jacob meremang, mana ada wanita berkeliaran tengah malam di kamar mayat. Apa dia berhalusinasi karena terlalu lelah bekerja dengan mayat? pikir Jacob seraya menggosok-gosok lehernya dengan telapak tangannya.

Wanita itu pun turun dari tempat tidurnya lalu berjalan ke tempat Jacob yang sedang memunggunginya dan sepertinya sibuk membereskan peralatan di meja. Dia menepuk bahu Jacob dan membuat pria itu melonjak di tempatnya berdiri.

"HUUUAAAAA!" teriak Jacob sambil melotot ketika melihat seorang wanita yang dia tahu sudah meninggal sekitar 48 jam yang lalu berdiri di hadapannya dan sedang tersenyum padanya. Dia sendiri yang menerima jenasah wanita cantik tanpa identitas itu kemarin.

"Kok kaget sih?!" tanya wanita tanpa identitas itu dengan bingung pada Jacob.

Jacob menyentuh wajah wanita di hadapannya yang ternyata hangat, dia memeriksa detak jantung wanita itu dengan stetoskop yang biasa dia bawa di dalam jas labnya. Ada detak jantung yang kuat dan ritmis di dada wanita itu.

Dia menggaruk-garuk kepalanya bingung. Apa wanita ini mati suri? Dia yakin saat menerima jenasah wanita ini, kondisinya sudah tanpa ada tanda vital sama sekali, wajahnya pun pucat membiru seperti mayat biasanya.

"Ehh .... Nona, siapa namamu?" tanya Jacob memberanikan diri berbicara dengan wanita itu.

Wanita itu bersedekap sambil menggigiti kukunya yang termanikur rapi seperti sedang berpikir keras. "Sejujurnya ... aku ... tidak ingat siapa namaku ...."

Jacob menepuk jidatnya sendiri dan menghela napas dengan berat. "Baiklah. Aku akan memanggilmu 'JANE' sama seperti nama mayat wanita tanpa identitas. Nona Jane, selamat datang kembali ke dalam dunia orang hidup."

"Apa aku sebelumnya ... mati?" tanya wanita itu lagi dengan tidak percaya.

"Ya, kamu mati akibat pukulan benda tumpul keras yang meremukkan tulang tengkorakmu dan mungkin juga menyebabkan perdarahan hebat di dalam otakmu. Kau beruntung, aku belum menguliti kepalamu hari ini," ujar Jacob dengan santai tanpa mempedulikan perasaan lawan bicaranya.

Wanita itu melongo mendengar ucapan Jacob yang begitu menyeramkan, pria itu apakah psikopat? pikirnya.

"Tuan apa Anda tidak bercanda?" tanya Jane lagi.

"Ehhh .... Nona, maaf dengan berat hati, saya ingin mengatakan bahwa Anda ... telanjang sekarang," ujar Jacob dengan geli seraya menatap dari ujung kaki ke ujung kepala wanita di hadapannya itu.

"AAAARRRRGGHHHH!" teriak Jane histeris seraya menutupi dada dan organ intimnya.

Hal itu membuat Jacob tertawa berderai, sungguh mayat hidup yang aneh! Dia sudah tidak takut lagi karena nampaknya wanita cantik itu bukan hantu. Jacob sudah terbiasa melihat tubuh telanjang karena pekerjaannya.

Jacob pun berjalan ke arah tempat tidur yang tadi dipakai wanita itu. Dia mengambil selembar kain kafan putih itu lalu membelitkan di tubuh wanita itu menyerupai kepompong untuk menutupi ketelanjangannya.

"Oke, kamu tunggu sebentar di sini, Jane. Aku masih harus membereskan peralatan otopsi sebentar saja. Kurasa sebaiknya kau menginap di tempatku malam ini, daripada harus tidur dengan teman-temanmu yang masih tertidur lelap di sini," ujar Jacob dengan geli sambil meletakkan peralatan otopsi sesuai dengan tempat yang seharusnya di troli peralatan.

"Siapa namamu, Tuan?" tanya Jane pada Jacob sambil mencoba duduk di kursi.

"Aku Jacob, Dokter Jacob, penunggu kamar mayat," jawab Jacob seraya tertawa.

"Aku curiga, kau adalah kekasihku, Jacob," ucap Jane dengan serius.

Jacob mengernyitkan alisnya mendengar perkataan Jane. "Jangan konyol! Kita baru bertemu kemarin. Itu pun kau dalam keadaan tak bernyawa," protes Jacob.

"Wajahmu begitu familiar, Jake. Aku seperti sudah lama mengenalmu. Ada perasaan hangat di dalam dadaku saat melihat senyummu," ujar Jane seraya menatap Jacob.

"Kurasa itu hanya perasaanmu saja Jane ... kita tidak saling mengenal, oke?" balas Jacob dengan datar. "Ayo kita pulang ke apartmentku," ajak Jacob.

Wanita itu mencoba berdiri dan berjalan. Namun, begitu sulit dengan belitan kain kafan di tubuhnya dan dia hampir terjerembap ke lantai kamar mayat. Untungnya Jacob menangkap tubuhnya yang ramping itu dan memeluknya. Mereka pun bertatapan dengan intens satu sama lain.

"Hey, sudah kubilang, kan .... Aku yakin kau kekasihku, Jake!" ucap Jane masih bersikukuh bahwa Jacob adalah kekasihnya.

"Whatever, Miss Jane!" sahut Jacob lelah berdebat dengan nona mayat hidup itu.

Jacob pun mengangkat Jane ke dadanya lalu menggendongnya keluar dari kamar mayat menuju ke mobilnya di parkiran samping kamar jenasah RS Sarjito. Satu-satunya mobil yang berada di parkiran pada dini hari.

Berada di gendongan pria tampan rasanya begitu menyenangkan, pikir Jane. Pria satu ini begitu pemberani, di tengah malam berada di tengah banyak jenasah yang mengerikan kondisinya. Jane tadi sempat melihat mayat-mayat yang terbaring di dekatnya, dia sebenarnya ketakutan. Untunglah ada manusia di ruangan itu.

Jalanan kota Yogyakarta sudah sangat sepi, hanya orang-orang yang memang hidup di dunia malam yang masih bisa ditemui di jam seperti sekarang. Jacob melirik jam tangannya, sudah jam 01.15, pantas matanya sudah 5 watt rasanya.

Pekerjaannya menuntut waktu yang tak terbatas, terkadang dia harus lembur hingga subuh. Namun, dia juga memiliki jam berangkat kantor yang lebih longgar.

Kantornya membutuhkan tambahan dokter forensik, dia sebenarnya baru sebulan pindah ke RS Sarjito, sebelumnya dia praktek di luar pulau Jawa. Tapi memang sudah lama dia ingin pulang ke Yogyakarta, kampung halamannya. Dia sangat rindu pada daddy dan mommynya, juga saudara kembarnya Joshua dan Papa Rey.

"Ehmm!" Jane berdehem memecah keheningan.

"Ya. Ada apa, Jane?" tanya Jacob seraya melirik ke Jane yang duduk di sebelah kursi pengemudi.

"Apa kita akan tidur bersama malam ini?" tanya Jane dengan penasaran.

Jacob pun tertawa, dia masih belum berpikir bagaimana mereka akan tidur nanti. "Ehh ... sebenarnya aku hanya punya 1 ranjang sih. Mungkin kau bisa tidur di ranjang, aku akan mengalah tidur di sofa saja."

"Oohhh so sweet!" seru Jane seraya menangkup pipinya sendiri dengan telapak tangannya. "Aku suka pria sepertimu, Jacob."

"Dasar wanita aneh!" gumam Jacob sambil menyetir.

"Aku lupa bertanya, apa kau tidak lapar? Sepertinya kau sudah tidak makan 48 jam lebih ... atau kau makan kembang?" tanya Jacob dengan bingung. Wanita ini bagaimana pun baru bangkit dari kematian.

Jane tertawa terbahak-bahak mendengar Jacob berpikir dia makan kembang seperti lelembut. "Entahlah kurasa perutku kosong saat ini, apa kau punya mie instant di rumahmu?"

"Tentu aku punya, nanti akan kubuatkan dua bungkus mie instant untukmu," sahut Jacob sambil menyengir. Wanita itu benar-benar manusia, batin Jacob.

Apartment Banteng Village sudah nampak, Jacob pun melambatkan kecepatan mobil CRV putihnya lalu membelok masuk menuju parkiran basement.

Bab 2

Sesampainya di unit apartmentnya, Jacob segera memasak dua bungkus mie instan di dapur. Dia tidak merasa lapar, tapi dia sangat butuh untuk mandi dan tidur. Tubuhnya sangat lelah setelah bekerja lembur.

Wanita itu menghilang entah kemana, batin Jacob. Ketika mie instan itu matang, Jane pun mendekati Jacob di dapur. Dia seperti habis mandi dan dia mengenakan tshirt milik Jacob yang agak kebesaran di tubuhnya.

"Emmm ... maaf, aku meminjam tshirt dan celana boxermu, Jake," ujar Jane sambil meringis.

"Oke. Jane, seharusnya kau mengeringkan rambutmu dengan hairdryer supaya tidak masuk angin," kata Jacob setelah melihat rambut Jane basah kuyup karena keramas.

Jane mengambil mangkuk berisi mie instan yang tampak lezat itu dari tangan Jacob. "Aku akan mengeringkan rambutku nanti, mie ini akan bengkak kalau tidak segera dimakan," balas Jane sambil menghirup aroma mie instan yang menerbitkan air liurnya.

Jacob pun tertawa kecil lalu dia pun berpamitan pada Jane untuk mandi. Tubuhnya terasa penat dan gerah.

Sambil menyantap mie rebusnya, Jane mengedarkan pandangannya ke sekeliling unit apartment milik Jacob. Pria itu tampaknya sangat rapi, barang-barangnya tersusun dengan rapi tanpa ada yang tercecer. Dia sepertinya mulai menyukai pria itu.

Jane berusaha mengingat-ingat siapa namanya yang sebenarnya dan juga bagaimana dia mati. Kepalanya masih terasa pedih ketika terkena air dan shampo tadi, rasanya memar tepat seperti yang tadi dikatakan oleh Jacob. Kepalanya sepertinya dipukul dengan benda tumpul dan keras. Siapa yang ingin membunuhnya?

Tak terasa mie rebus di mangkuknya itu pun tandas tak bersisa. Jane pun terkikik, merasa malu atas kerakusannya. Tapi perutnya sudah kosong 48 jam lebih kata Jacob. Dia pun meminum air mineral dari dispenser untuk mendorong makanannya masuk ke saluran pencernaannya.

Sambil bersiul riang, Jane berjalan ke kamar Jacob. Dia ingin berbaring di ranjang Jacob yang empuk. Kamar Jacob begitu bersih dan rapi, di sisi timur ada kaca lebar yang menampakkan pemandangan kota Yogyakarta. Sayangnya hari masih gelap, matahari belum ada tanda-tanda akan muncul. Unit apartment ini terletak di lantai 8, cukup tinggi.

Seusai mandi Jacob melilitkan handuk di pinggulnya lalu keluar dari kamar mandi untuk mengambil celana boxer dan pakaian bersih.

Kamar itu remang-remang karena Jacob memang tidak terlalu suka lampu yang terlalu terang bila ingin tidur. Dia bersenandung lagu favoritnya "Cry Me A River" sambil memakai celana boxer dan tshirt.

Jane menahan tawanya melihat Jacob yang telanjang memunggunginya sambil bersenandung dengan suaranya yang bariton merdu itu.

"Cry me a river oohh cry me a river oohh ... HUUUAAA! Damn! Kau mengagetkanku!" seru Jacob terkejut melihat Jane bersandar di kepala ranjangnya.

Jane pun akhirnya meledak dalam tawa yang sedari tadi dia tahan-tahan. "Wow! Tadi seksi sekali, Jake," goda Jane.

"Kau membuatku kesal, Jane!" sahut Jacob mencebik.

"Jake, bolehkah aku bercinta denganmu? Kumohon ...," pinta Jane seraya melingkarkan tangannya di pinggang Jacob.

Jacob berpikir sejenak, wanita ini memang sangat cantik sebenarnya. Dia pun sudah lama sekali tidak berhubungan seksual dengan wanita sejak kapan dia sampai lupa karena terlalu sibuk bekerja. Terlalu banyak berinteraksi dengan makhluk tak bernyawa dibanding manusia yang masih bernafas.

"Oke. Lepaskan pakaianmu, Jane. Kita harus cepat, aku capek sekali hari ini," jawab Jacob dengan acuh.

Jane pun melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Sebenarnya Jacob pun sudah melihat tubuh Jane sebelumnya saat berada di kamar mayat, seksi, mulus, cantik tapi sayangnya tak bernyawa waktu itu.

Kini mayat itu hidup dan berdiri telanjang di hadapannya, mengajaknya bercinta. Sungguh situasi yang janggal, apakah dia akan terbangun dari mimpi aneh ini besok pagi? Oohh wanita yang menggairahkan!

Jacob pun melepaskan lagi pakaiannya lalu melumat bibir Jane serta menindih tubuh wanita itu. "Kau serius, Jane? Ingin bercinta denganku?" tanya Jacob memastikan sekali lagi.

"Sangat serius, aku akan meneriakkan namamu, Jake. Come on!" desak Jane tak sabar.

"Oohh baiklah, Miss!" balas Jacob.

Dia pun menggesek-gesekkan batangnya di luar Miss V Jane untuk membuatnya basah. Namun, Jane sepertinya memang menginginkannya. Bagian itu begitu cepat basah. Jacob pun segera mendorong miliknya ke dalam tubuh Jane. Dia pun menghentakkan pinggulnya dengan irama yang konstan dan cepat.

"Kiss me, Baby," ucap Jacob.

Jane pun segera memagut bibir Jacob sambil melingkarkan betisnya ke pinggul Jacob dan bergelanyut di leher Jacob.

Hentakan-hentakan itu sungguh membuat Jane melayang-layang dalam kenikmatan. Tubuh Jacob serasa begitu pas dengan tubuhnya, dia benar-benar merasa pria ini adalah takdirnya.

"Apakah kau menyukainya?" tanya Jacob pada Jane sambil memelankan ritme pinggulnya.

"Ya, aku menyukainya. But ... harder, Babe. I want you ... harder ...," balas Jane tanpa malu-malu.

Jacob menyeringai konyol, wanita ini suka irama percintaan yang keras. Oke! Dia pun menghunjamkan tubuhnya dengan keras dan cepat hingga cairan cinta wanita itu tumpah membanjiri ranjangnya.

Tak lama kemudian ...

"AAARRRGGGHHHH!" Jacob pun meraih puncak kenikmatannya ketika menumpahkan cairan cintanya ke dalam rahim wanita itu.

Dia berbaring sejenak di sebelah Jane karena kelelahan. Jane menciumi leher dan dada Jacob sembari membelai perut Jacob yang berotot.

"Jake, aku menyukaimu," ujar Jane sambil menatap mata biru milik Jacob. "Apa kau bukan orang Indonesia asli? Kenapa matamu biru?" tanya Jane menyelidik.

Masih berbaring telentang sambil menyangga kepalanya dengan tangannya, Jacob berkata, "Mommyku berdarah Australia-Indonesia, dia sangat cantik. Aku mewarisi sebagian besar genetiknya yang dominan. Mata dan rambutku serta kulitku menurun dari genetiknya."

"Wow. Pantas kau sangat tampan, Jake," puji Jane dengan tulus.

"Dulu bahasa Indonesiaku sangat buruk, karena 7 tahun pertama di hidupku tinggal di Australia. Sekarang sudah fasih bahasa Indonesia," ujar Jacob lagi. "Kau pun kurasa bukan keturunan asli Indonesia, warna matamu seperti whiskey dan tulang wajahmu itu termasuk ras Kaukasoid. Aku tak akan salah."

"Well ... mungkin ... Tapi bahasa Indonesiaku bagus. Aku benar-benar tidak ingat siapa namaku dan yang lain ...," balas Jane seraya membelai tubuh Jacob yang kekar.

"Jangan memaksakan dirimu! Itu wajar karena otakmu mengalami trauma berat. Besok aku akan membawamu ke rumah sakit untuk menjalani MRI. Ayo kita membersihkan diri lalu tidur. Aku akan menemanimu tidur karena kita sudah bercinta tadi, aku tak akan sungkan lagi berbagi ranjang denganmu," ujar Jacob lalu menarik Jane ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah membersihkan diri, mereka berdua pun tertidur lelap sambil berpelukan hingga pagi.

Pukul 08.00 Jacob terbangun lebih dahulu, dia mengecek Jane apakah masih bernapas. Ternyata wanita itu normal, masih bernapas dengan tubuh yang lembut dan hangat.

Jacob agak menyesal karena semalam mereka bercinta dengan spontan tanpa pengaman. Bagaimana bila wanita ini hamil? Mungkin nanti dia harus meminta Dokter Emira, koleganya di klinik obsgyn untuk memberikan suntikan kontrasepsi pada Jane.

Mengingat semalam yang berinisiatif terlebih dahulu adalah Jane. Jacob harus lebih berhati-hati, dia belum mengenal siapa Jane sebenarnya. Dia tidak ingin menjadi korban pembunuhan psikopat. Semoga saja Jane adalah wanita baik-baik, pikirnya.

Bab 3

Seusai mandi di bawah shower air dingin, Jacob pun merasa tubuhnya segar kembali. Dia memakai kemeja dan dasi serta celana kain, setelan resminya untuk berangkat kerja. Baju sneli dokternya dia taruh di gantungan di dalam mobil.

Dia pun membangunkan Jane dengan meniupi wajahnya. Akhirnya wanita itu pun terbangun, aroma nafas Jacob beraroma mint seperti pasta giginya.

"Hoaammpphhh." Jane menguap lebar, dia masih merasa mengantuk. "Sudah pagi ya? Tampan sekali kekasihku ini ...," ucap Jane dengan percaya diri.

Ketika dia ingin menyosor bibir Jacob, dengan segera pria itu berkelit dan menutup bibir Jane dengan telapak tangannya. "Gak mau, belum mandi, belum gosok gigi, main sosor aja!" ujar Jacob mencebik, dia suka wanita yang bersih dan wangi seperti mommy-nya.

"Baiklah. Aku akan mandi dan gosok gigi. Oohh ngomong-ngomong aku harus pakai baju apa? Dan aku butuh bra serta panties, Dokter Jake," cerocos Jane dengan sok imut.

Jacob berjalan ke lemarinya dan melihat isi di dalam lemari. "Kau pakai dulu tshirt dan sweater ini, celana boxerku dan celana jeansku yang kekecilan ini. Nanti kita ke Mal dulu sebelum ke rumah sakit, oke?"

Sambil membawa pakaian pinjaman Jacob ke kamar mandi, Jane pun berseru, "Beri aku makan, Dokter Jake, aku kelaparan!" Dia pun mandi dengan cepat di bawah shower lalu menggosok giginya dengan bersih untuk menyenangkan Jacob.

Sepertinya Jacob masih single mengingat pekerjaannya yang menyeramkan, Jane terkikik saat memikirkan Jacob yang begitu tampan. Dia sangat menyukai Jacob.

Setelah berpakaian lengkap dengan baju pinjaman milik Jacob, Jane pun berjalan keluar kamar ke arah dapur. Pria itu sedang membuat sarapan sepertinya sandwich telur.

"Apa kau membuat sandwich untuk sarapan?" tanya Jane penasaran sambil duduk di pantry.

"Yup, kuharap ini cukup meredakan rasa laparmu. Nanti siang aku akan mengajakmu makan yang lebih mengenyangkan," jawab Jacob seraya menghidangkan sarapan di piring ke hadapan Jane.

"Thank you, Dokter Jake! I'm your fan now," ucap Jane dengan ceria.

Jacob tertawa kecil lalu duduk di seberang Jane sambil menikmati sarapannya. "Lumayan enak kan?" tanya Jacob sambil mengunyah sandwichnya.

"Super!" sahut Jane dengan mulut penuh sandwich mengangkat jempol kanannya.

Setelah sarapan, mereka pun berangkat ke Mal, sebentar lagi pukul 10.00, tepat waktunya Mal buka.

Jacob melirik ke Jane yang duduk di sampingnya sambil memperhatikan jalan raya karena dia sedang menyetir mobil. Menurutnya Jane menggemaskan saat memakai baju miliknya, dia pun tersenyum.

Sesampainya di Mal H, Jacob pun menggandeng tangan Jane untuk bergegas menuju ke outlet baju wanita di lantai 2.

"Pilih sebanyak yang kamu perlukan, Jane. Tak usah kau pikirkan harganya, aku yang akan membayarnya nanti," ujar Jacob dengan santai sambil mendorong Jane masuk ke sebuah butik pakaian wanita. Sementara Jacob mencari bangku untuk menunggu Jane memilih baju baru.

Ketiga pramuniaga butik itu pun segera melayani Jane dengan ramah. Mal masih baru saja buka jadi butik masih belum ada pengunjung selain Jane. Tubuh Jane memang proporsional, ramping dengan tinggi 170cm.

Pakaian apa pun tampak bagus ketika dicoba oleh Jane. Dia memilih 2 pasang baju resmi dan 8 pasang baju kasual. Jane berpikir mungkin dia butuh melamar pekerjaan karena tidak mungkin dia merepotkan Jacob terus-menerus.

Dia juga harus mencari pakaian dalam, Jane mengatakan pada Jacob bahwa dia juga butuh bra dan panties karena saat ini dia tidak memakai baju dalam sama sekali.

"Bisa bayar pake debit, kan, Mbak?" tanya Jacob seraya mengeluarkan dompetnya.

"Bisa, Mas," jawab pramuniaga yang menjaga bagian kasir sambil menerima kartu debit Jacob.

"Totalnya dua juta enam ratus ribu rupiah, Mas."

"Oke," jawab Jacob lalu memasukkan pin kartu debitnya ke mesin edc. Kertas nota belanjaan yang panjang pun keluar dari printer nota. Kasir menyerahkannya pada Jacob bersama dengan kartu debitnya.

"Ini barang belanjaannya, Mas, Mbak," ucap pramuniaga butik itu seraya menyerahkan 4 totte bag besar kepada Jacob dan Jane.

Jacob menaikkan alisnya melihat barang belanjaan Jane yang begitu banyak. Namun, dia tidak memprotes apa pun dan membantu membawakan 2 buah totte bag.

"Oke, ayo kita selesaikan belanja underwearnya lalu makan siang," ujar Jacob berjalan beriringan dengan Jane ke outlet pakaian dalam Victoria's Secret.

Outlet itu hanya menjual pakaian dalam dengan harga premium. Jane merasa agak tidak enak hati pada Jacob. "Apakah tidak apa-apa kalau aku menghabiskan isi rekening tabunganmu, Jake?" tanya Jane sambil meringis.

"Tenanglah, isinya masih lebih dari cukup untuk membeli seluruh isi outlet ini. Belilah yang kau perlukan karena aku mungkin tidak memiliki banyak waktu untuk mengantarmu ke Mal lagi. Ayo jangan membuang waktuku, Jane," ujar Jacob sambil membetulkan poni rambutnya yang panjang, sepertinya dia butuh ke barbershop lagi.

Jane memandang Jacob dengan tatapan memuja. Ingin rasanya dia menyusurkan jemarinya di rambut Jacob yang tebal dan berwarna hitam kecoklatan itu

Mereka pun kemudian mencari makan siang di food court Mal H. Jacob begitu terkejut ketika melihat banyak makhluk-makhluk gaib yang menangkring di gerobak dan etalase makanan di food court itu. Dia mengucek-ucek matanya, lalu bertanya pada Jane. "Jane, apa kau juga melihat makhluk-makhluk gaib di resto-resto itu?"

"Haaahh? Mana sih, Jake? Jangan nakut-nakutin deh!" sahut Jane dengan paranoid.

Makhluk-makhluk astral itu seolah tahu Jacob dapat melihat mereka. Ada yang menyeringai, ada yang melambaikan tangannya pada Jacob. Tetapi Jacob mengacuhkan mereka, dia tidak takut hanya merasa agak jijik saja.

Pasalnya, makhluk-makhluk itu sepertinya jin penglaris warung. Ada yang berliur di kuah bakso, ada yang menduduki makanan yang didisplay di etalase. Hal itu membuat Jacob menjadi mual.

Akhirnya Jacob menemukan outlet makanan yang sepi. Tapi justru bersih dari jin penglaris warung. Dia pun memesan makanan di situ bersama Jane.

"Jane, sepertinya setelah kamu bangkit dari kematian dan menemuiku, aku jadi bisa melihat makhluk dari dunia lain. Ini sungguh tidak nyaman!" keluh Jacob seraya mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.

"Maafkan aku, Jake. Aku tidak bermaksud menyusahkanmu ...," balas Jane dengan tidak enak hati. Dia pun menggenggam tangan kanan Jacob dalam kedua tangannya.

"Tenanglah, Jane. Aku bukan pria penakut," hibur Jacob seraya tersenyum pada Jane. "Ohh iya, apa kepalamu masih sakit? Aku mengkuatirkan cedera di dalam otakmu. Setelah makan siang, kita harus segera ke rumah sakit. Kau ganti baju di rumah sakit saja, sesudah menjalani MRI."

Jane pun menganggukkan kepalanya dengan patuh. "Terima kasih untuk segalanya, Jake. Aku merasa beruntung bertemu denganmu." Dia pun menatap Jacob seraya tersenyum.

"Kuharap ingatanmu akan segera pulih, Jane. Mungkin keluargamu sekarang sedang bingung mencarimu," ujar Jacob dengan tulus.

"Ya, aku pun berharap hal yang sama denganmu, Jake," sahut Jane.

Pesanan makan siang mereka pun datang. Mereka segera menyantap menu makan siang itu. Hari masih panjang untuk mereka lalui.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED