Bab 1

Liana menatap layar ponselnya yang gelap, menunggu pesan balasan yang tak kunjung datang. Uang sewa kost sudah jatuh tempo dua hari yang lalu, dan dia tahu, tak akan ada banyak waktu lagi. Wajah-wajah pemilik kost yang sering menghardiknya muncul dalam ingatannya. "Sudah berapa lama kamu tidak bayar?" kalimat itu masih terngiang jelas, menyiksa hatinya.

Di dunia yang serba cepat ini, setiap hari adalah perjuangan, dan Liana sudah lelah. Berpindah-pindah tempat tinggal adalah rutinitas yang tak terhindarkan, seperti sebuah takdir yang selalu membuntutinya. Dia harus bertahan hidup, dan itu berarti mencari cara untuk menyelesaikan masalah sewa yang tak terbayar.

"Aku harus bisa bertahan," gumamnya pelan, berusaha menenangkan diri. Tangannya meraih tas kecil di samping tempat tidurnya. Hanya beberapa lembar pakaian dan barang-barang pribadi yang dia bawa ke tempat ini. Sebuah perjalanan yang tak berujung-selalu berpindah, tak pernah memiliki tempat yang benar-benar bisa disebut rumah.

Pekerjaan apa pun yang bisa menghasilkan uang, akan dia ambil. Mulai dari menjadi pelayan restoran hingga pekerjaan paruh waktu di kedai kopi, semuanya sudah pernah dijalani. Bahkan, dia terpaksa menjadi pacar kontrak untuk pria-pria kesepian yang menawarkan uang hanya untuk menemani mereka makan malam atau pergi ke acara sosial.

"Tidak ada yang peduli, Liana. Hanya uang yang penting," pikirnya. Di kota besar ini, hanya ada satu aturan: bertahan atau tersingkir. Dan dia sudah terbiasa dengan kenyataan itu.

Hari itu, Liana merasa lelah sekali. Matahari yang terik dan jalanan kota yang penuh hiruk-pikuk membuatnya semakin merasa kecil. Dengan langkah pelan, ia menuju kedai kopi tempatnya bekerja, namun ada sesuatu yang menghalangi langkahnya. Di depan kost yang selama ini dia tempati, sebuah mobil hitam yang tampak mewah berhenti. Pintu mobil terbuka, dan seorang pria dengan penampilan rapi melangkah keluar.

Pria itu menatapnya sekilas, lalu berjalan menuju pintu kost. Liana sempat terpaku, mengenali pria tersebut. Arsen, pemilik kost yang tinggal di lantai paling atas-seorang pria yang dikenal tegas dan tidak banyak bicara. Namun, ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Mungkin hanya perasaan Liana, atau mungkin memang ada sesuatu yang tak bisa dia jelaskan.

"Kenapa dia ke sini?" Liana bergumam, matanya mengikuti langkah pria itu.

Di dalam kost, suasana berubah tegang begitu Arsen memasuki ruang utama. Liana tahu, ini pasti bukan kebetulan. Seperti biasanya, dia harus menghadapi kenyataan bahwa masalah yang satu selesai, tapi yang lain selalu datang.

Setelah beberapa saat, Arsen muncul dari ruangannya dan melihat Liana yang tengah duduk di kursi dekat pintu. Matanya tajam, penuh tanda tanya. "Liana, kamu harus bicara dengan saya," katanya, nada suaranya tak terlalu keras namun penuh tekanan.

Liana mengerutkan kening. "Apa yang harus saya bicarakan, Tuan Arsen?" jawabnya dengan hati-hati, meskipun dalam hatinya, rasa cemas mulai membayangi.

Arsen memandangnya, lalu duduk di kursi di depannya. "Tunggu, kita bicara dengan jelas. Saya tahu masalah kamu dengan sewa kost." Liana terdiam, tak tahu harus berkata apa. "Kamu sudah lama tidak bayar, Liana. Ini bukan sekadar masalah uang," lanjut Arsen.

Liana menundukkan kepala, merasa malu dan terpojok. "Saya berusaha mencari uang, Tuan, tapi semuanya tidak berjalan seperti yang saya harapkan," jawabnya, suara sedikit gemetar.

Arsen menghela napas panjang. "Saya tidak ingin menjadi orang yang memperparah keadaanmu. Tapi, ada hal lain yang perlu kita bicarakan." Matanya menatap tajam, seolah menunggu reaksi dari Liana. "Kamu akan tinggal di sini, bersama saya."

Liana terkejut. "Apa maksud Anda?" tanya Liana dengan suara tercekat, meskipun jantungnya berdegup kencang. Arsen tidak menjawab langsung, melainkan hanya tersenyum dingin. "Tunggu, kamu akan tahu nanti," ujarnya.

Liana merasa ada sesuatu yang tak beres, tapi entah kenapa, dia tak bisa menarik diri. Ada tarikan aneh di dalam dirinya yang membuatnya ingin tahu lebih jauh. Apa yang sebenarnya Arsen inginkan darinya? Apakah ini hanya masalah sewa, atau ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini?

Keputusan yang diambilnya pada malam itu akan mengubah segalanya. Dan dia tak tahu apakah itu keputusan terbaik atau justru kesalahan terbesar dalam hidupnya. Tapi, satu hal yang pasti, hidupnya tak akan pernah sama lagi setelah bertemu dengan Arsen.

Bab 2

Liana berusaha menenangkan dirinya saat Arsen meninggalkan ruangan tanpa memberi penjelasan lebih lanjut. Matanya mengawasi pria itu dengan campuran kebingungan dan kekhawatiran. Apa yang baru saja terjadi? Dia tak bisa memahami apa yang Arsen inginkan darinya. Namun, satu hal yang pasti-dia terjebak dalam permainan yang lebih besar daripada yang bisa dia bayangkan.

Selama beberapa hari berikutnya, suasana di kost terasa berbeda. Arsen semakin sering muncul, entah untuk berurusan dengan urusan administrasi atau sekadar berjalan melewati koridor. Namun, setiap kali mereka bertemu, Arsen selalu mengamati Liana dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada ketegangan yang tak terucapkan di antara mereka, seperti ada sesuatu yang menggantung di udara, menunggu untuk meledak.

Liana tak bisa menghindari kenyataan bahwa hidupnya semakin rumit. Dia selalu berusaha untuk tetap fokus pada tujuan utamanya-mengumpulkan uang untuk menghidupi adik-adiknya-tetapi semakin hari, dia merasa terperangkap dalam situasi yang lebih besar daripada yang dia duga.

Pagi itu, Liana sedang mempersiapkan diri untuk bekerja ketika Arsen tiba-tiba muncul di depan pintu kamarnya. "Kamu tidak perlu pergi bekerja hari ini," katanya dengan nada datar, hampir seperti perintah.

Liana terkejut, bingung. "Kenapa? Ada masalah apa?" tanyanya, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.

"Karena kamu akan membantu saya," jawab Arsen singkat. Liana merasa ada ketegangan di antara kata-kata itu, seolah Arsen mengharapkan sesuatu darinya yang lebih dari sekadar pekerjaan biasa.

"Bantu Anda? Dengan apa?" Liana tak bisa menahan rasa ingin tahunya.

Arsen menatapnya dengan ekspresi tak terbaca. "Ada beberapa urusan yang harus diselesaikan, dan saya membutuhkan bantuanmu. Kamu tinggal di sini, jadi kamu punya kewajiban untuk membantu."

Liana terdiam. Ini bukan hanya tentang uang sewa lagi, pikirnya. Ini lebih dari itu. Ada sesuatu yang sedang dimainkan di sini, dan dia hanya terjebak di dalamnya tanpa tahu jalan keluar.

"Apa yang sebenarnya Anda inginkan, Tuan Arsen?" suara Liana bergetar, meskipun dia berusaha keras untuk tetap tenang. "Apa yang sebenarnya Anda rencanakan?"

Arsen mengamati Liana untuk beberapa saat sebelum akhirnya berkata, "Jangan terlalu banyak bertanya, Liana. Cukup lakukan apa yang saya minta. Saya tidak ingin membuat ini lebih sulit dari yang seharusnya."

Liana merasa seperti terjebak dalam jebakan yang tak bisa dia hindari. Apa pun yang terjadi, hidupnya sudah tak sama sejak dia mengenal Arsen. Ada perasaan gelisah yang terus mengganggunya, tapi entah kenapa, dia tak bisa menolak dorongan untuk tahu lebih banyak.

Hari itu, Arsen membawa Liana ke sebuah ruang pertemuan yang terletak di lantai bawah gedung kost. Suasana ruangan itu terasa asing-rancangan modern, dengan dinding kaca besar yang menghadap ke jalanan kota yang sibuk. Di meja panjang yang terbuat dari kayu gelap, ada beberapa dokumen dan layar komputer yang menyala.

"Duduk," perintah Arsen, menunjuk kursi di seberang meja. Liana duduk dengan ragu-ragu, matanya terus memperhatikan Arsen yang tampak begitu tenang, seolah segala sesuatunya terkendali.

"Apa ini semua?" tanya Liana, suaranya rendah dan penuh kebingungan.

"Ini adalah kesempatanmu untuk membayar hutangmu," jawab Arsen. "Namun, bukan dengan uang. Kamu akan bekerja untuk saya-lebih tepatnya, kamu akan membantu saya dalam urusan tertentu."

Liana semakin bingung. "Apa maksudnya? Saya tidak mengerti," ujarnya dengan nada putus asa.

Arsen menatapnya dengan tatapan tajam. "Kamu akan menjadi bagian dari rencana saya. Kamu akan membantu saya menangani beberapa bisnis yang tidak bisa saya lakukan sendiri. Ini bukan pekerjaan biasa, Liana. Tapi kamu tidak punya pilihan."

Liana terdiam, mencerna kata-kata Arsen. Hatinya semakin gelisah. Dia tahu ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini, sesuatu yang lebih berbahaya dan lebih rumit dari sekadar urusan sewa kost. Namun, dia juga tahu bahwa dia tidak bisa mundur begitu saja. Apa pun yang terjadi, dia harus tetap berjuang.

"Tapi... kenapa saya? Kenapa tidak orang lain?" Liana bertanya, berusaha menemukan alasan di balik keputusan Arsen yang tampaknya penuh perhitungan.

Arsen hanya tersenyum tipis, senyuman yang membuat Liana merasa tidak nyaman. "Karena kamu sudah terjebak dalam dunia saya, Liana. Tidak ada jalan keluar."

Liana merasa terjebak. Tak ada lagi tempat yang bisa dia tuju. Setiap pilihan yang ada hanya mengarah pada satu titik: ketergantungan pada Arsen. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah mengikuti apa yang dia perintahkan.

Namun, meskipun demikian, Liana tahu bahwa di balik semua ini ada rahasia yang belum terungkap. Arsen bukanlah pria biasa, dan dia tak pernah berbuat sesuatu tanpa alasan. Ada kegelapan dalam dirinya yang semakin terasa, dan Liana hanya bisa berharap, dia masih bisa menemukan cara untuk mengendalikan takdirnya sebelum semuanya terlalu terlambat.

Bab 3

Liana merasa terperangkap dalam setiap kata yang keluar dari mulut Arsen. Semakin banyak dia mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, semakin dalam dia tenggelam dalam misteri yang tak bisa dia mengerti. Dia selalu berusaha untuk bertahan hidup, untuk menghidupi adik-adiknya, tetapi di hadapan Arsen, dia merasa seperti seseorang yang dipermainkan dalam permainan yang lebih besar dari apa yang dia bayangkan.

Hari-hari setelah pertemuan itu berjalan dengan cepat. Liana mulai menjalani hari-harinya dengan cara yang sangat berbeda. Arsen memintanya untuk bekerja bersamanya, meskipun pekerjaan yang dimaksud jauh dari yang dia harapkan. Dia dilibatkan dalam beberapa urusan bisnis yang sangat jarang terdengar-transaksi yang sangat besar, pengaturan kontrak yang melibatkan nama-nama besar, dan bahkan pertemuan dengan orang-orang yang sangat berpengaruh.

Namun, yang lebih mengejutkan adalah cara Arsen memperlakukannya. Dia tidak menunjukkan sedikit pun tanda ketertarikan pribadi, tetapi juga tidak menunjukkan sikap acuh tak acuh. Setiap perintah yang dia berikan disampaikan dengan ketegasan, dan setiap kata-kata yang keluar dari bibirnya selalu penuh dengan misteri.

Liana mulai menyadari sesuatu-ada kekuatan yang mengendalikan hidupnya lebih dari sekadar uang dan pekerjaan. Arsen bukan sekadar pria kaya yang memiliki kost. Ada sisi gelap yang lebih besar yang tidak dia ketahui, dan setiap langkah yang dia ambil dalam hidupnya seolah telah diputuskan jauh sebelum dia terlibat.

Suatu malam, setelah bekerja larut malam di kantor Arsen, Liana memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Kelelahan menguasai tubuhnya, dan pikirannya terus dihantui dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Tetapi saat dia melewati koridor, langkahnya terhenti begitu matanya bertemu dengan sosok Arsen yang tiba-tiba muncul di depannya.

Arsen memandangnya dengan tatapan yang tajam, tidak mengungkapkan perasaan apapun. "Kamu terlihat lelah," katanya datar, seolah tidak ada emosi dalam suaranya.

Liana berusaha untuk tetap tenang. "Saya baik-baik saja, Tuan Arsen," jawabnya dengan nada yang lebih rendah dari biasanya.

Arsen mengamati Liana dengan cermat, seolah mencoba menilai sejauh mana kekuatannya bisa mempengaruhi gadis itu. "Kamu sudah cukup lama berada di sini, Liana. Aku rasa kamu sudah mulai memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi," katanya, suara yang lebih dalam, lebih berat dari sebelumnya.

Liana menelan ludahnya. "Apa maksud Anda?"

Arsen tersenyum tipis. "Aku tahu kamu tidak bodoh. Kamu pasti sudah mulai menyadari bahwa ini lebih dari sekadar pekerjaan atau sewa kost." Dia berhenti sejenak, memberi Liana waktu untuk mencerna kata-katanya. "Ada banyak hal yang belum kamu ketahui. Banyak hal yang lebih besar dari apa yang kamu bayangkan. Dan aku rasa sudah waktunya kamu tahu kebenarannya."

Liana merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Semua rasa takut dan kebingungannya mulai mengalir kembali ke permukaan. "Apa yang Anda sembunyikan, Tuan Arsen?"

Arsen tidak menjawab langsung. Sebaliknya, dia berjalan ke arah jendela besar di sisi ruangan dan memandang ke luar. Sepertinya dia sedang mempertimbangkan sesuatu yang sangat penting. "Kamu tahu, dunia ini penuh dengan permainan. Dan tidak semua orang bermain dengan aturan yang sama," katanya pelan.

Liana tetap berdiri di sana, matanya menatapnya dengan penuh kebingungan. "Tuan, saya hanya ingin tahu apa yang terjadi, apa yang Anda rencanakan dengan saya?"

Arsen berbalik, langkahnya mantap dan tegas. "Apa yang terjadi padamu, Liana, bukan hanya tentang kita berdua. Ada banyak orang yang terlibat dalam permainan ini. Aku bukan satu-satunya yang mengendalikan segalanya. Tapi, aku bisa memberi kamu kesempatan untuk memilih."

Liana mengerutkan kening, semakin bingung. "Peluang untuk memilih? Pilih apa?"

Arsen memandangnya dengan tatapan yang lebih dalam, lebih tajam. "Pilih untuk menjadi bagian dari dunia yang lebih besar ini, atau memilih untuk keluar dan menghadapi konsekuensinya."

Liana merasa dunia seakan berputar di sekelilingnya. Apakah Arsen sedang menawarkan jalan keluar, atau justru menjebaknya dalam sesuatu yang lebih gelap? Semua pilihan yang ada terasa menakutkan dan penuh dengan risiko. Dia tahu, apapun yang dipilihnya akan mengubah hidupnya selamanya.

"Tapi kenapa saya? Mengapa saya yang harus terlibat dalam semua ini?" suara Liana bergetar, namun penuh dengan tekad.

Arsen menatapnya lama, seolah menilai karakter dan keberaniannya. "Karena kamu memiliki apa yang tidak dimiliki orang lain, Liana. Kamu punya ketangguhan, kamu punya keberanian untuk bertahan. Tidak banyak orang yang seperti itu."

Liana merasa seolah-olah ada sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata itu. Ada semacam kekuatan tersembunyi di baliknya-sesuatu yang membuatnya merasa lebih tertarik, lebih terikat pada Arsen, meskipun rasa takut terus merayapi dirinya.

Tiba-tiba, tanpa peringatan, Arsen melangkah mendekat. Tatapannya semakin tajam dan dalam. "Liana, aku memberi kamu pilihan," katanya dengan suara serak, seolah-olah setiap kata yang diucapkannya penuh dengan ancaman tersembunyi.

Liana tak bisa menahan diri. Suasana yang tegang dan penuh ketidakpastian membuatnya hampir kehilangan akal. "Saya memilih untuk tahu, Tuan Arsen. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Arsen hanya tersenyum, senyuman itu penuh dengan rahasia. "Maka kamu akan tahu lebih banyak dari yang kamu inginkan, Liana."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED