"Mirah! Mirah! Buka pintunya!" Suara gedoran dari arah pintu rumahku itu terdengar begitu keras hingga membuat aku dan Mas Danu terkejut dan bangun tiba-tiba.
Aku melirik jam dinding yang bertengger di atas meja rias, menunjukkan pukul sebelas malam.
"Siapa malam-malam bertamu, Mas?" tanyaku.
"Nggak tahu, aku cek dulu, ya, Sayang." Mas Danu langsung turun dari tempat tidur dan berjalan cepat keluar kamar.
Perasaanku tidak tenang, aku pun berjalan mengikuti Mas Danu sambil menutupi tubuhku dengan selimut tebal.
Semakin lama, suara dari arah luar rumah itu terdengar semakin familiar.
"Sepertinya itu suara Mbak Lina, Mas," ucapku.
"Benarkah?" Mas Danu buru-buru membuka pintu.
Benar saja, Mbak Lina tengah berdiri di depan rumah kami dengan penampilan yang tak biasa. Ia membawa tas besar di tangannya, sementara rambutnya tampak sangat berantakan.
"Mirah!" Mbak Lina berjalan cepat menghampiriku lalu memelukku dengan erat. Ia menangis tersedu-sedu hingga kedua bahunya berguncang hebat.
"Ada apa, Mbak? Kenapa malam-malam kesini?" tanyaku heran.
"Aku di usir, Mir. Aku nggak tahu harus pergi ke mana. Tolongin Mbak Lina, Mir," jawabnya.
"Kenapa di usir, Mbak? Mbak Lina salah apa?"
Mbak Lina menggeleng cepat. "Tolong izinkan Mbak tinggal di sini sementara, Mir. Tolong, ya," pintanya memohon.
"Sayang, biarkan Mbak Lina tenang dulu. Jangan diintrogasi gitu, kasihan," sela Mas Danu.
Suamiku itu lantas memegang kedua pundak Mbak Lina dan membantunya duduk di kursi ruang tamu kami.
"Mbak Lina boleh tinggal di sini, kok. Kami nggak keberatan. Iya, kan, Sayang?" Mas Danu menoleh ke arahku.
Aku tak kuasa menolak, namun aku juga tidak mungkin tega membiarkan Mbak Lina terombang ambing di jalanan di tengah malam begini.
"Baiklah, tapi tolong jelaskan pada kami kenapa Mbak tiba-tiba di usir gini. Siapa tahu kami bisa bantu, Mbak," ujarku.
"Kita bahas besok aja, Sayang. Biarin Mbak Lina istirahat dulu," pinta Mas Danu.
Suamiku itu memang laki-laki yang baik hati. Ia tak pernah tega membiarkan siapapun dalam kesulitan. Tak peduli pada dirinya sendiri, Mas Danu selalu membantu orang lain dengan tulus dan ikhlas.
"Ya sudah! Sini, aku antar ke kamar," ajakku.
"Kamu istirahat aja, Sayang. Biar aku yang antar Mbak Lina," sela Mas Danu.
Laki-laki itu lantas membawakan tas besar milik Mbak Lina dan berjalan lebih dulu menaiki anak tangga.
Di lantai kedua rumah kami, hanya ada satu kamar kosong dan ruang santai. Sementara aku dan Mas Danu lebih suka memilih kamar di lantai dasar karena tak perlu repot naik turun tangga.
Hanya berselang lima menit, Mas Danu langsung kembali ke kamar kami untuk menyusulku.
"Mbak Lina gimana, Mas?" tanyaku.
"Kelihatannya masalah Mbak Lina serius, Sayang. Kasihan dia," gumamnya.
"Iya, kasihan." Aku menganggukkan kepala pelan.
Baru satu tahun yang lalu Mbak Lina menjada. Mas Yanto, suaminya meninggal secara tiba-tiba. Orang bilang karena serangan jantung. Tapi anehnya, Mas Yanto adalah orang yang sangat sehat. Selama menjadi suami Mbak Lina, aku tak pernah mendengar Mas Yanto sakit.
Kabar kematiannya mengejutkan semua orang, bahkan orang tuanya sendiri. Kami tak menyangka, Mas Yanto yang usianya masih tiga puluhan itu meninggal secara tiba-tiba.
Mbak Lina tampak tegar dan sabar saat ditinggalkan oleh suaminya. Kami memang yatim piatu. Meskipun aku dan dia adalah saudara dari ibu yang berbeda, kami tak tetap saling menyayangi.
...
Pagi-pagi sekali aku menyiapkan sarapan sebelum berangkat bekerja. Mas Danu adalah laki-laki pengertian, ia selalu membantuku melakukan semua pekerjaan rumah tanpa rasa canggung.
"Mas, tolong panggilin Mbak Lina dong. Udah siap, nih, sarapannya!" pintaku.
"Ah, iya. Sebentar, ya, Sayang."
Laki-laki itu mencuci tangan setelah membantuku memasak, lalu segera pergi menyusul Mbak Lina ke kamarnya.
Sambil menunggu, aku kembali ke kamar untuk mengganti pakaianku.
Setelah berganti pakaian, aku lantas kembali ke ruang makan. Aku pikir Mas Danu dan Mbak Lina sudah menunggu, nyatanya mereka tak terlihat batang hidungnya.
"Mas!" Aku memanggil Mas Danu dari ujung tangga paling bawah karena enggan naik ke lantai atas.
Katanya cuma panggil Mbak Lina, tapi kok lama?
"Maaf, Sayang. Tadi bantu Mbak Lina beresin lemari," ucap Mas Danu sambil berjalan menuruni anak tangga.
"Oh, Mbak Lina mana?"
"Mandi."
"Ya sudah, kita sarapan dulu, udah siang. Nanti biar Mbak Lina sarapan sendiri, " ajakku.
Mas Danu mengangguk setuju, kami akhirnya sarapan bersama lebih dulu karena khawatir telat ke kantor.
Saat kami berdua hendak berangkat, Mbak Lina turun dari kamarnya. Jika diperhatikan lebih dekat, kakakku itu kini semakin gemuk, tubuhnya lebih berisi dari terakhir kali kami bertemu.
Ia menuruni anak tangga sambil tersenyum, bersenandung pelan menyanyikan sebuah lagu, rambutnya basah digerai panjang sepinggang.
Wajah sedih dan pilu semalam telah hilang, pagi ini Mbak Lina tampak sangat segar dan ceria.
"Kalian mau berangkat?" tanyanya.
"Ah, iya, Mbak. Aku udah masak buat sarapan pagi sama makan siang. Kalau butuh apa-apa, telepon aja," jawabku.
"Terima kasih, ya, Mirah. Hati-hati di jalan." Mbak Lina tersenyum sambil melambaikan tangan.
Aku hanya mengangguk dan berbalik, menyusul Mas Danu yang sudah masuk ke dalam mobil lebih dulu.
"Mas, Mbak Lina cerita sesuatu nggak sama kamu?"
"Cerita apa, Dek? Nggak tuh!"
"Aneh deh, masa semalam nangis-nangis sedih, pagi ini udah biasa aja."
"Apanya yang aneh sih, memangnya kamu lebih suka kalau Mbak Lina sedih kayak semalem?"
Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiranku begitu tidak tenang.
Apa yang membuat Mbak Lina diusir oleh kedua mertuanya, padahal rumah yang ia tempati itu seharusnya telah menjadi haknya?
....
Liam tidak bisa berkata-kata. Ia menatap gadis itu dengan tubuh mematung. Ia bahkan tidak bisa membayangkan tentang apa yang baru saja terjadi di kamar ini.
"Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau?" tanya balik Liam. Ia mendekati si pelayan sambil duduk berjongkok di depannya.
Liam menatap gadis itu dengan tatapan menyelidik. Ia bisa merasakan ketakutan yang terlihat jelas di mata gadis itu. Tubuhnya bergetar, ia ketakutan, juga kesakitan.
"Pakai pakaianmu. Kita harus bicara," lanjut Liam. Ia menghela napas berat.
Liam bangkit, menatap Keanu yang terlelap dengan sebagian tubuh tertutup selimut. Liam menelan ludah kasar. Kali ini ia cukup kesal dengan apa yang Keanu perbuat.
Dengan tubuh sempoyongan, si pelayan menyeret kakinya masuk ke kamar mandi sambil mengenakan selimut. Ia pun segera memakai kembali pakaian yang sudah dirusak oleh Keanu.
Saat gadis itu keluar, Liam menatapnya. Laki-laki itu menarik napas panjang. Ia melepas jas hitam yang melekat di tubuhnya dan memberikannya pada pelayan tersebut.
"Pakai ini," ucap Liam.
Tanpa penolakan, gadis itu segera memakai jas pemberian Liam untuk menutupi tubuhnya dengan sempurna.
Liam mengajak pelayan itu keluar dari kamar Keanu dan berpindah ke kamar yang letaknya bersebelahan dengan kamar Keanu. Namun saat tiba di depan pintu, gadis itu menghentikan langkahnya.
"Aku hanya ingin bicara. Kau bisa mempercayaiku," ucap Liam menenangkan. Ia tahu gadis itu ketakutan.
Setelah masuk ke dalam kamar Liam, si pelayan duduk di sofa panjang. Liam membawakannya segelas air putih dan duduk di sofa lain yang letaknya tidak berjauhan.
"Siapa namamu?" tanya Liam setelah pelayan tersebut meneguk habis segelas air putih pemberiannya.
"Isabella," jawabnya singkat.
"Apa yang kau lakukan di kamar itu? Kau bisa bicara santai denganku."
"Aku pelayan, aku datang mengantar minuman sesuai permintaan," jawab Isabella dengan suara bergetar.
"Lalu?"
"Aku tidak tahu, laki-laki di kamar itu tiba-tiba ...." Gadis yang akrab disapa Bella itu tidak melanjutkan kata-katanya. Ia bahkan tidak sanggup menggambarkan kengerian yang baru saja ia alami.
Liam menarik napas dalam-dalam. Kepalanya mendadak terasa sakit. Sudah tugasnya untuk membereskan segala kekacauan yang Keanu timbulkan. Namun ia sungguh kesal mengurus hal semacam ini.
"Baiklah, Isabella. Aku tahu apa yang terjadi, aku minta maaf atas apa yang menimpamu. Jika mungkin, aku harap kau bisa melupakan kejadian ini, dan aku akan memberikan segala hal yang kau inginkan sebagai balasan," terang Liam dengan jelas.
Isabella mendongak, menatap Liam dengan mata merah dan basah. Apa yang baru saja laki-laki itu katakan? Melupakan? Bagaimana bisa ia melupakan kejadian yang telah merenggut kesuciannya? Apa dia gila?
"Hmm." Liam lagi-lagi menghela napas.
"Apa yang kau inginkan? Uang? Berapa banyak? Rumah? Villa? Apa saja yang kau sebutkan, aku bisa mewujudkannya. Asalkan, kau keluar dari masalah ini dan melupakan semuanya! Anggap hal ini tidak pernah terjadi. Maka semuanya akan baik-baik saja," jelas Liam sekali lagi.
Isabella bangkit dari tempat duduknya. Melepas jas pemberian Liam dan membiarkannya jatuh ke lantai.
"Maaf, tapi aku tidak sedang menjual diri," ucap Isabella dengan penuh penekanan. Ia berjalan perlahan keluar meninggalkan kamar Liam dengan perasaan hancur. Seperti inikah cara orang kaya menyelesaikan masalah?
Bella tidak pernah bermimpi, bahwa kesialan semacam ini akan menimpa dirinya.
Isabella, gadis berusia dua puluh tujuh tahun itu telah menjadi yatim piatu sejak beberapa tahun silam. Ia memutuskan untuk merantau ke kota dan bekerja sebagai office girl untuk mencari nafkah demi kehidupan yang lebih layak. Ia bahkan bekerja sangat keras agar bisa segera melunasi hutang yang ditinggalkan orang tuanya di desa asal mereka.
Berkat kerja keras dan kegigihannya dalam bekerja, Bella pun bisa menjadi pegawai tetap hotel meski hanya berstatus sebagai pelayan.
Naas, pekerjaan yang sangat ia nikmati ini, nyatanya merenggut kebahagiaannya dalam sekejap mata.
Karena kejadian yang menimpanya malam ini, Isabella bergegas meminta izin ke atasannya untuk segera pulang. Ia tidak mungkin bisa melanjutkan bekerja di shift malam jika pikirannya sedang kacau dan keadaannya sedang tidak baik-baik saja.
Keesokan paginya, Liam langsung datang ke kamar Keanu. Ia ingin melihat kondisi Keanu serta menanyakan perihal peristiwa semalam.
"Ah, Liam. Kepalaku terasa berat, aku merasa tidak enak badan," keluh Keanu sambil menatap Liam dengan mata menyipit. Laki-laki itu baru saja terbangun dari tidur lelapnya, dan nampaknya ia melupakan apa yang semalam terjadi di kamar ini.
Liam hanya diam, ia menghela napas panjang. Laki-paki itu memijat pelipisnya sambil memejamkan mata sesaat.
"Kau yakin tidak ingat sesuatu, Bos?" tanya Liam.
"Memangnya terjadi sesuatu?" Keanu bertanya balik.
"Kau tidak ingat apa yang terjadi semalam? Di kamar ini? Sebenarnya, berapa banyak minuman yang kau habiskan?" Liam mencerca Keanu dengan banyak pertanyaan, membuat Keanu mengernyitkan dahi.
Keanu duduk di sofa, menatap jendela kaca besar yang menghadap ke pemandangan kota yang penuh dengan gedung-gedung tinggi pencakar langit.
"Aku ingat jika semalam kepalaku terasa nyeri, tubuhku terasa panas dan aneh. Lalu kau mengantarku ke kamar. Tidak berselang lama, seorang wanita datang membawa minuman, lalu ...." Keanu tidak melanjutkan kalimatnya. Laki-laki itu terdiam setelah ingatan semalam samar-samar terlintas di kepalanya.
"Baguslah, Bos. Kau ingat," ujar Liam sambil menghela napas panjang.
"Liam, apa aku sungguh melakukannya?"
"Saat aku masuk, pelayan itu sudah menangis di lantai dengan tubuh tertutup selimut. Dia terlihat sangat ketakutan, aku yakin kau membuatnya trauma," jelas Liam.
"Sial!" Keanu mengumpat pelan. "Bereskan dia, berikan apa saja sebagai imbalan. Anggap saja itu kesalahpahaman," pinta Keanu.
"Baik, Bos." Liam mengangguk.
Setelah Keanu bersiap, mereka berdua menuju ke sebuah gedung tinggi yang merupakan kantor tempat Keanu dan Liam bekerja.
Keanu adalah anak tunggal sekaligus pewaris dari seorang pengusaha senior yang kaya raya. Keanu berasal dari keluarga konglomerat dan menjadi salah satu orang terkaya di kota itu.
Di usianya yang sudah menginjak tiga puluh dua tahun, Keanu tak kunjung menikah meski orang tuanya sudah terus menuntut dan mendesaknya agar segera memperkenalkan seorang wanita sebagai calon istrinya.
Pasalnya, Keanu adalah anak tunggal. Ia dituntut untuk lekas menikah agar segera memberikan pewaris selanjutnya. Terlebih, sang ayah adalah seorang duda. Ia semakin geram karena bosan menjalani masa tua tanpa cucu dari putra semata wayangnya.
Namun Keanu adalah laki-laki yang tidak percaya akan cinta. Ia membenci orang-orang yang terus berbicara tentang cinta, seolah cinta adalah hal paling penting di dunia ini. Sementara bagi Keanu, uang adalah segalanya. Karena dengan uang, ia bisa mendapatkan segalanya dengan mudah.
"Aku sudah meminta orang untuk mencari informasi tentang pelayan hotel itu. Aku akan segera membereskannya," ujar Liam saat mereka baru saja menyelesaikan meeting pagi.
"Bagus."
"Ah, setelah aku pikir-pikir, pelayan itu lebih baik daripada Elizabeth. Jika semalam aku tidak menahan wanita itu di ruang pesta, mungkin saja dia yang akan menari indah bersamamu di atas ranjang, Bos," terang Liam.
Sejenak Keanu terdiam, lalu menghela napas kasar.
"Sepertinya ini memang rencana wanita gila itu. Aku hampir saja masuk ke dalam perangkapnya," ujar Keanu. Liam mengernyitkan dahi tidak mengerti.
"Apa ini ulah Elizabeth, Bos?" tanya Liam. "Kau mabuk bukan hanya karena minuman?" tebak Liam.
"Sepertinya begitu. Semuanya terjadi begitu cepat. Kau mengenalku, aku tidak mungkin tidur dengan wanita sembarangan."
"Ah!" teriak Keanu sambil membanting dokumen di tangannya ke atas meja. "Sial sekali, wanita gila itu!"
Liam pun turut merasa geram. Sekarang, ia juga yang harus membereskan semua kekacauan yang Elizabeth timbulkan. Rupanya, ia sudah memiliki perasaan curiga semalam. Tidak biasanya Keanu mabuk berat saat menghadiri pesta besar. Terlebih, ia bahkan meniduri seorang pelayan dalam keadaan tidak sadar. Itu benar-benar bukan kebiasaan Keanu.
Sebagai laki-laki normal, Keanu sering menghabiskan malam yang panjang bersama wanita yang ia inginkan. Namun ia hanya perlu memuaskan keinginannya tanpa menjalin hubungan.
Sebagai laki-laki tampan dengan segudang pesona serta kekayaan yang menyilaukan, banyak wanita rela mengantre serta menawarkan diri agar bisa menghabiskan malam bersama Keanu. Namun, Keanu sangat pemilih. Ia tidak pernah sembarangan dalam memilih wanita meskipun hanya sebagai partner di atas ranjang.
Sayangnya, kejadian semalam benar-benar tidak terduga. Keanu tidak menyangka, bahwa ia akan memperkosa seorang pelayan hotel.
"Bagaimana dengan Elizabeth? Haruskah aku mengurusnya?" tanya Liam.
"Untuk saat ini, biarkan saja. Aku masih membutuhkannya. Kau tahu, keluarganya memiliki saham yang besar di perusahaan kita," jawab Keanu.
"Baiklah." Liam mengangguk paham.
Setelah membicarakan beberapa hal penting, Liam keluar dari ruangan Keanu. Namun saat langkah kakinya belum jauh, suara dentingan sepatu hak terdengar nyaring mendekat.
"Mau apa kau kemari?" tanya Liam.
"Menemui Bosmu!" jawab Elizabeth.
"Sebaiknya kau pergi, suasana hatinya sedang buruk," saran Liam.
"Benarkah? itu bagus, karena aku akan membantu memperbaikinya," ucap Elizabeth dengan penuh percaya diri.
"Terserah!" cibir Liam. Ia mengabaikan Elizabeth dan melanjutkan pekerjaannya.
Sebelum masuk ruangan Keanu, Elizabeth mengeluarkan sebuah cermin kecil dari dalam tas jinjingnya. Ia bercermin sesaat untuk memperbaiki riasan wajahnya. Setelah itu, ia pun melenggang masuk tanpa mengetuk pintu.
Keanu menatap tajam saat wanita itu masuk.
"Bagaimana tidurmu semalam? Apa kau bermimpi buruk?" tanya Elizabeth sambil duduk di sofa, sementara Keanu berada di kursinya sendiri sambil menatap layar laptopnya.
Setelah mendengar pertanyaan Elizabeth, Keanu memutar kursinya dan menatap wanita itu dengan senyum miring.
"Aku bermimpi indah, sangat indah," jawab Keanu.
"Sungguh?" Elizabeth tersenyum. Ia bangkit lalu mendekati Keanu. "Sayang sekali, padahal aku sangat ingin menemanimu," lanjutnya.
Keanu menghela napas kasar, ia menatap Elizabeth dengan tatapan dingin.
"Benar, sayang sekali. Berkat kau, aku bisa bermalam dengan wanita yang luar biasa," ucap Keanu dengan senyum miring.
"What?" Elizabeth membulatkan matanya lebar, kedua bibirnya terbuka. Apa ia tidak salah dengar?"
Elizabeth terdiam, menatap Keanu dengan sungguh-sungguh. Wanita itu paham, Keanu tidak pernah membual atau berbohong tentang apapun. Meski laki-laki itu sangat menakutkan, namun Keanu selalu mengatakan hal yang sebenarnya.
"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Elizabeth memastikan.
"Hmm, tidak." Keanu menggeleng cepat. "Kau pikir aku tidak tahu apa yang sudah kau lakukan padaku? Aku beruntung, karena tidak masuk ke dalam perangkapmu." Keanu tersenyum miring.
"Siapa wanita itu?"
"Bukan urusanmu."
Elizabeth merasa kesal, namun ia tidak bisa mengekspresikan kemarahannya di depan Keanu. Ia selalu bertindak hati-hati, namun tidak menyangka jika rencananya malam itu malah membuatnya semakin kesal.
Namun tidak apa, bagi Elizabeth ini bukanlah masalah besar. Ini bukan pertama kalinya. Ia bahkan tahu jelas sifat Keanu. Elizabeth pun sudah tahu wanita mana saja yang pernah bermalam bersama laki-laki itu. Dan sudah pasti, ia akan memberikan pelajaran berharga bagi siapa saja yang berani menyentuh miliknya.
"Bukankah sudah cukup memalukan bagimu untuk bertindak sejauh itu? Akhiri saja permainan ini dan katakan apa yang kau mau dariku!" tegas Keanu.
"Apa yang ku mau? Sudah jelas aku menginginkanmu. Aku mencintaimu, Keanu!"
"Hah!" Keanu menahan tawa.
"Cinta? Kau sedang membicarakan cinta seolah kau adalah wanita berperasaan!" ucap Keanu pelan.
"Orang tua kita sudah sepakat bahwa kita harus bersama. Ini bukan hanya soal hubungan antara kau dan aku. Tapi ini juga menyangkut dua perusahaan besar yang akan bergabung menjadi keluarga. Apa kau tidak menginginkan lebih dari ini?" tanya Elizabeth.
Keanu terdiam sesaat, ia berpikir sejenak.
Memang benar, menikahi wanita itu jelas memberikan banyak keuntungan untuknya. Elizabeth adalah anak tunggal, sama seperti dirinya. Mereka akan menjadi pewaris bagi keluarga masing-masing dan menjadikan perusahaan sebagai bisnis raksasa yang mendunia.
"Bagaimana? Kau tertarik untuk bergabung?" tawar Elizabeth.
"Kau pikir aku akan tertarik dengan keuntungan yang tidak sebanding itu? Aku bahkan bisa melakukan banyak hal lebih besar tanpamu!" tegas Keanu.
"Aku tidak peduli, aku akan pastikan kau akan jadi milikku!" seru Elizabeth. Ia berjalan keluar dari ruangan Keanu dengan amarah membumbung tinggi.
Sudah beberapa waktu terakhir ia tidak mendengar Keanu meniduri seorang wanita. Ia merasa cukup lega dengan hal itu. Namun, kabar ini membuatnya sangat muak. Terlebih, Keanu menyebutnya sebagai wanita luar biasa.
Keanu sengaja mengatakan hal seperti itu agar Elizabeth marah, Keanu berharap wanita itu berhenti mencampuri urusannya.
Namun Keanu salah, kemarahan Elizabeth justru akan membuat masalah menjadi semakin rumit.
Bagi sebagian orang, Elizabeth adalah wanita gila. Ia penggila Keanu sejak lama. Wanita itu selalu menghalalkan segala cara untuk mendekati Keanu, hingga membuat keluarganya harus turun tangan untuk mendekatkan mereka.
Meski tahu betul bagaimana sifat dan watak Keanu, Elizabeth seakan menutup mata dan tidak peduli. Cintanya begitu menggebu hingga membuatnya hilang akal dan pikiran.
Setelah keluar dari ruangan Keanu, Elizabeth bergegas kembali ke hotel. Ia adalah CEO dari hotel tempat pesta semalam di adakan.
Elizabeth meminta sekretarisnya untuk mengumpulkan informasi tentang wanita mana saja yang hadir di pesta semalam. Elizabeth berpikir, jika salah satu diantara mereka pastilah wanita yang menghabiskan malam bersama Keanu.
"Aku akan menyingkirkan siapa saja yang berani menyentuh milikku!" gumam wanita itu.
Setelah menunggu cukup lama, Elizabeth menerima daftar yang ia inginkan. Namun, tidak satupun diantara mereka patut dicurigai.
Elizabeth semakin geram, dari mana datangnya wanita itu? Siapa dia? Ataukah, itu hanya akal-akalan Keanu saja untuk membuatnya menyerah?
Untuk sementara, Elizabeth tidak bisa melakukan apapun. Ia hanya bisa meminta bantuan sekretarisnya untuk mencari tahu lebih banyak, karena khusus gedung lantai kamar VVIP di hotel ini tidak di lengkapi CCTV di lorongnya demi privacy pengunjung yang terjamin.
Sementara di tempat lain, Keanu merasa cemas. Bagaimana jika Elizabeth tahu bahwa wanita yang tidur bersamanya adalah pelayan di hotelnya?
Keanu tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Elizabeth mengetahuinya. Karena selama ini, Elizabeth selalu berusaha mencari tahu tentang wanita mana saja yang bersamanya.
Merasa resah, Keanu segera menghubungi Liam. Ia meminta Liam untuk memastikan bahwa Elizabeth tidak akan menemukan pelayan itu.
"Jika hanya memecat pelayan itu dari pekerjaannya, mungkin tidak akan jadi masalah. Tapi Elizabeth itu gila, bagaimana jika dia membunuhnya?" ungkap Liam melalui sebrang telepon.
Keanu gelisah. Lenyapnya pelayan itu dari dunia ini memang bukan masalah besar. Namun bagaimana jika Elizabeth tertangkap? Lalu masalah itu terungkap ke publik?
Keanu tidak sedang mengkhawatirkan pelayan itu. Ia sedang mengkhawatirkan reputasinya dan nama baiknya.